Guanlin mengamuk.

Samuel jadi kebingungan sendiri, memang salahnya yang meninggalkan pasangan JinHoon. Guanlin memang sudah menyuruh Daehwi untuk terus membuntuti sepasang sejoli itu karena Guanlin sudah ada janji untuk melamar Seonho sialnya Daehwi sakit dan Samuel terpaksa mengantarkan Daehwi ke dokter hanya untuk mengetahui Daehwi hamil dan si manja itu benar-benar tidak mau melepas Samuel seharian.

"duh, maafkan aku hyung. Sumpah Daehwi kemarin tidak mau melepaskanku!" Samuel bahkan sudah berdiri di lututnya karena Guanlin yang dari tadi sudah menatapnya dengan tatapan mematikan sambil memegang pisau yang ada di dapur apartemen Jihoon.

Apartemen Jihoon?

Ya apartemen Jihoon. Masalahnya Jinyoung dan Jihoon sedang berdebat, lebih tepatnya Jinyoung yang sedang memohon pada Jihoon untuk membiarkannya masuk dan setidaknya tahu kenapa Jihoon jadi marah kepadanya.

"Oke kenapa kau tidak pergi saja? Paling dia hanya mengamuk sebentar!"

"Hyung mana bisa aku meninggalkannya kalau dia mengancam akan menggugurkan janinnya!" teriak Samuel yang lama-lama jengah.

Guanlin mengerjap sebelum mulutnya terbuka lebar. "Wah….kau….kau dan Daehwi pasti sangat produktif tiap malam ya" Guanlin mendesah panjang sebelum tersenyum dan menjabat tangan Samuel.

"Maafkan aku. Dan selamat ya, kita harus meraya—"

"BRENGSEK! Kau memperlakukanku semanis itu dan saat aku mulai berharap kau ternyata sudah berencana menikah dengan orang lain?!" Jinyoung menatap Jihoon bingung.

Guanlin dan Samuel juga sama bingungnya. Karena sepengetahuan mereka kehidupan Jinyoung sangat membosankan. Hanya ada teman-teman bodohnya, orang tuanya, dan kakak tiri tersayangnya yang selalu memanjakannya. Benar-benar tidak ada orang lain yang terlibat dengan Jinyoung secara romantis.

"Hyung, kau dengar dari mana kalau aku menikah? Hey tenang dulu Park Jihoon."

Jihoon berdecih. "Aku melihatmu di toko perhiasan di daerah Gangnam kemarin! Dan kau dengan senyum bahagiamu tentu saja dengan senang hati memilih cincin untuk pernikahanmu dengan wanita cantik itu!"

Bukannya memberikan Jihoon penjelasan, Jinyoung justru tertawa. Jihoon banar-benar sibuk sampai tidak pernah lihat berita sepertinya.

"Jihoonie, kau tahu ayahku seorang senator kan?" Jihoon masih kesal namun ia mengangguk. Jinyoung tersenyum lalu memegang kedua tangan Jihoon.

"Lalu kau tahu kan kalau Senator Bae punya 2 istri?" Jihoon mendecak sebal.

"Lalu?! Bicara langsung ke intinya Bae Jinyoung! Aku tidak mau tahu silsilah keluarga kayamu yang rumit, aku hanya ingin tahu kenapa kau mempermainkanku."

"Hey tenang. Akan kujelaskan. Baiklah, Ayahku punya 2 istri, istri pertamanya punya seorang anak perempuan yang usianya 7 tahun diatasku. Menurut media memang katanya ibu kami berdua tidak akur, padahal nyatanya keluarga kami sangat harmonis. Dan orang yang kau lihat kemarin itu adalah Bae Suzy, kakak tiriku, masa kau tidak tahu? Dia kan pemegang saham di banyak perusahaan, dia sudah sering masuk tv bersamaku dan keluargaku!"

Eh?

Jihoon mengerjap kemudian tanpa sadar air matanya keluar membuat Jinyoung jadi tambah panik.

"hey hey kau kenapa? Jihoonie? Hey sudah jangan menangis!"Jinyoung membawa yang lebih tua kepelukannya dan menepuk-nepuk punggung Jihoon dengan lembut.

"Maaf…hiks….aku kira kau hanya..hiks..mempermainkanku." Jihoon meremas kemeja Jinyoung sambil terus menangis di dada yang lebih muda. Tapi tidak sampai 5 menit Jihoon sudah berhenti dan kembali merengut.

'Dasar uke' batin Guanlin dan Samuel yang sudah sering melihat siklus ngambek uke mereka masing-masing. Apalagi Guanlin yang dulu pernah diamuk Seonho sampai si mungil itu bersikeras untuk menahan napas yang berakhir dengan Guanlin yang panik karena Seonho yang pingsan setelah 5 menit menahan napasnya. Uke bodoh memang, tapi Guanlin tetap sayang.

"Tapi kau mau apa kesana? Pesan cincin? Untuk siapa?!" Jihoon kembali dengan wajah marahnya yang menggemaskan dan masih dengan air mata di pipi tembamnya menambah kesan imutnya. Guanlin dan Samuel bahkan cemas kalau kalau Jinyoung khilaf kan mereka jadi harus nonton liveporn mendadak.

Jinyoung gelagapan.

'Sial! Itu kan buat melamarmu. Aduh bagaimana ya'

"Mampus, rencana melamar pas wisuda bisa ketawan nih. Sam bisikkan sedikit ide padanya" Samuel hanya mengangguk sebelum menutup matanya dan menyampaikan beberpa alasan bodoh yang bisa Jinyoung pakai lewat pikirannya.

"E-eh itu emm sebenarnya Suzy-nuna dan aku ingin memberikan cincin untuk ulang tahun ayah kami, kami ingin memberinya cincin dengan ukiran nama anak-anak tersayangnya hehe…" Jihoon menyipit dan menatap Jinyoung tajam untuk memastikan bahwa Jinyoung tidak bohong.

"Huh. Baiklah aku percaya! Hmph tapi aku mau es krim dulu baru berhenti marah!"

Dan lagi Samuel dan Guanlin mengatakan hal ini untuk kesekian kalinya.

"Dasar uke."


"Ngh… J-Jinyoungh" Jinyoung semakin bersemangat memakan bibir plum Jihoon, lenguhan Jihoon barusan justru membuatnya jadi dengan mudah memasukkan lidahnya kedalam mulut yang lebih tua.

Tangan Jinyoung sejak tadi tidak berhenti mengelus kulit Jihoon yang lembut dibalik sweaternya dan pinggulnya sejak tadi bergerak liar dengan sengaja menggesek-gesekkan miliknya yang sudah tegang dengan milik Jihoon yang sama tegangnya dibalik celana jeansnya.

Sebenarnya Jinyoung dan Jihoon hanya ingin cuddling saja malam ini. Mereka berencana pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli dasi untuk wisuda mereka nanti, namun sialnya ada kecelakaan di dekat apartemen Jihoon dan membuat macet berkepanjangan, jadi mereka memutuskan untuk menunda belanja mereka tapi sialnya Jinyoung khilaf dan disinilah Jihoon sekarang. Terbaring lemah di ranjangnya dengan Jinyoung yang menjulang diatasnya.

Jinyoung menggigit bibir bawah Jihoon sebelum melepaskan tautan bibir mereka. Ia menatap wajah Jihoon yang memerah. Napas Jihoon terengah-engah dengan saliva mengalir disekitar bibirnya membuat kejantanannya menjadi keras bukan main dibalik jeans ketat yang ia kenakan.

Jinyoung yang sudah kepanasan melepaskan kancing celananya dan menurunkan resletingnya membiarkan miliknya menyembul dibalik boxernya. Jinyoung menjilat bibirnya sebelum menyunggingkan seringaian seksi yang membuat Jihoon hampir datang karenanya.

"Selamat makan~" Jinyoung menggigit daun telinga Jihoon setelah mengatakan hal tersebut membuat Jihoon kembali mengerang. Telinganya memang sensitive.

Jinyoung mengangkat sweater Jihoon sebatas dadanya, tangannya menelusuri tubuh mulus Jihoon hingga ia berhenti di puting pink milik Jihoon yang sudah menegang. Jinyoung kembali menyeringai saat Jihoon tanpa sadar menggerakkan pinggulnya karena jemari Jinyoung yang menjentik putingnya.

Jihoon membalas ciuman Jinyoung dengan semangat saat yang lebih muda kembali membawanya dalam ciuman panas. Ia bahkan tidak sadar kalau Jinyoung sudah menelanjangi bagian bawahnya membuat miliknya terekspos bebas. Tangan nakal Jinyoung yang tadinya sibuk menggoda putingnya perlahan turun menuju ke kemaluannya yang sudah basah karena pre-cum. Jinyoung mengusap ujung kemaluannya dengan jempolnya.

"Wanitaku sudah sangat basah." Jinyoung berbisik ditengah ciumannya dengan Jihoon. Jihoon yang juga sudah termakan oleh nafsu hanya balas menyeringai mengikuti permainan Jinyoung. Tangannya mulai melepas kancing baju Jinyoung satu persatu sebelum menelusuri bentuk tubuh Jinyoung yang atletis.

"Hmm, Jinyoung-oppa membuatku manjadi sangat basah."

Shit.

Jinyoung melepas kemeja dan celana Jeansnya dengan cepat dan hanya meninggalkan boxernya saja. Mulut Jihoon memang sangat bermasalah kalau sudah terbawa nafsu begini. Jinyoung membawa bibirnya untuk meninggalkan banyak jejak-jejak keunguan di sekitar leher dan dada Jihoon membuat empunya melenguh.

Lidah Jinyoung menjilat puting mencuat itu dengan jahil, sedikit mengigitnya dan tersenyum penuh kemenangan karena junior Jihoon yang menyentak perutnya saat ia menggoda putingnya. Tubuh Jihoon sungguh menarik. Mulut Jinyoung bergerak kebawah, memberikan ciuman-ciuman lembut di perut rata Jihoon membuat Jihoon terkikik kegelian, sungguh, Jihoon sangat-sangat menggemaskan dan seksi pada saat yang bersamaan.

"Ah! B-bae!" tangan Jihoon meremas seprai saat Jinyoung memasukkan juniornya kedalam mulut Jinyoung dan mulai menggerakkan kepalanya naik turun.

"hmhh~ ngh~ B-Bae" Pinggul Jihoon bergerak dengan sendirinya, Jinyoung hampir saja tersedak namun untungnya dia memiliki reflex yang baik. Tangan Jinyoung memegang pinggul Jihoon membantunya bergerak. Jinyoung semakin bersemangat menghisap junior Jihoon saat ia merasa kemaluan milik si manis itu berkedut di dalam mulutnya.

"J-Jinyoung a-aku— ngh! AH!" Sekujur tubuh Jihoon menegang, pandangannya putih saat ia datang di mulut Jinyoung. Jinyoung menelan cairannya dan kembali mencium bibirnya, mengeksploitasi mulut Jihoon dengan lidahnya membuat Jihoon sedikit mengerenyit saat merasakan cairannya sendiri.

Jihoon mendorong Jinyoung dan mendudukan pantatnya yang berisi tepat diatas kejantanan Jinyoung yang sudah sekeras batu, dengan sengaja menggesekkan belahan pantatnya disana untuk menggoda Jinyoung.

Jihoon menunduk dan kembali mencium bibir Jinyoung yang membuatnya kecanduan, tangan mungilnya mencoba melepas boxer Jinyoung, dia sudah gemas dari tadi melihat kejantanan Jinyoung yang menonjol di balik boxernya. Dia merindukan benda itu dalam dirinya, ini kedua kalinya mereka melakukan ini, dan walaupun baru seminggu tapi Jihoon sudah merindukan bagaimana sensasi saat milik Jinyoung menumbuk titik manisnya dan membuatnya melayang.

Jihoon menggerakkan tangannya naik turun di kejantanan Jinyoung, memberikan sedikit handjob untuk oppa tersayangnya membuat Jinyoung menggeram rendah.

"Cukup Park Jihoon, aku menginginkanmu." Jihoon tersenyum dan menghentikan gerakan tangannya pada milik Jinyoung. Ia menduduki perut Jinyoung dan mengemut tiga jarinya sebelum menungging dan bertumpu pada sikunya membuat putingnya berada tepat di wajah Jinyoung.

Jihoon memasukkan jarinya sendiri kedalam liangnya, nafasnya terputus-putus karena sensasi geli diperutnya saat ia menggerakkan jarinya dan Jinyoung yang terus saja menjilati putingnya seperti orang kesetanan.

"ouh! Ah!" Jihoon menjerit nikmat saat Jinyoung ikut memasukkan jarinya dan menekan titik manis Jihoon. Walaupun baru dua kali melakukannya Jinyoung sudah hapal dimana saja letak titik sensitive Jihoon.

Jihoon menarik jari-jarinya keluar, ia tidak berhenti mendesahkan nama Jinyoung saat jari panjang Jinyoung terus saja menekan titik terlemahnya hingga ia datang lagi di perut Jinyoung.

"Hmm~ Jinyoungie~" Jihoon merengek di ceruk leher Jinyoung yang masih saja menekan-nekan prostatnya, dia masih sensitive dan setuhan Jinyoung membuatnya menjadi kembali terangsang.

Jinyoung tersenyum dan membalik posisi mereka, ia membuka paha Jihoon dan mengecup paha mulus tersebut sekilas. Jinyoung menunduk dan mencium bibir Jihoon dengan lembut, tangannya mengarahkan miliknya ke liang Jihoon. Dengan jahil ia menggesekkan kejantannya pada hole sensitive tersebut membuat Jihoon mengerang karena tak sabar.

"ngh!" Jihoon melenguh pelan saat milik Jinyoung masuk sebagian, ada sedikit rasa tidak nyaman, namun dia suka saat dirinya terasa penuh oleh Jinyoung. Jinyoung kembali mendorong miliknya didalam Jihoon membuat Jihoon menjerit kesakitan karena ukurn junior Jinyoung yang cukup besar.

"sshh, tidak apa, aku akan pelan-pelan sayang" Jinyoung mengecup kening Jihoon dan menunggunya sebentar sampai Jihoon terbiasa dan mulai menggerakkan pinggulnya. Sungguh Jinyoung ingin bergerak dengan cepat, lubang Jihoon sangat sempit dan meremas-remas kejantannya, namun ia tidak ingin membuat Jihoon kesakitan karenanya.

"J-Jinyoung! Cepat!" Jihoon mulai melenguh nikmat setelah beberapa saat dan itu merupakan tanda bagi Jinyoung bahwa ia dapat menggerakkan pinggulnya lebih cepat dan membuat Jihoon terhentak-hentak dibawahnya sambil mendesah karena nikmat.

"Ah! Ah! J-Jinyoung!" Kedua lengan Jihoon melingkar manis di leher Jinyoung. Kakinya memeluk pinggang Jinyoung berusaha memasukkan milik Jinyoung lebih dalam lagi. Sesekali Jihoon akan meraup bibir Jinyoung yang sibuk menggeram sambil menggerakan pinggulnya dengan cepat.

"Angh! Ummmmh! Disana! Jinyoung! Lagi!" Jeritan Jihoon menjadi semakin keras saat Jinyoung mengenai titik sensitifnya, ia menggerakkan pinggulnya berlawanan dengan Jinyoung dan kembali membawa Jinyoung dalam ciuman panas.

Jinyoung memainkan tangannya di kejantanan Jihoon membuat si mungil melenguh disela ciuman mereka. Ia bisa merasakan Jihoon sebentar lagi akan datang karena liangnya yang semakin menyempit.

"Shit. Baby, kau sungguh nikmat." Geram Jinyoung disela ciumannya dengan Jihoon. Gerakan pinggulnya menjadi semakin cepat membuat Jihoon menjadi semakin hilang akal.

"Bae aku— mmh! Bae!" Jinyoung mempercepat gerakan tangannya pada junior Jihoon. "hmm, bersama sayang." Ujarnya.

"nnh! Bae—ah! Jinyoung mmhh" sperma Jihoon menyembur di perut Jinyoung bersamaan dengan Jinyoung yang keluar didalamnya.

Jinyoung membawa Jihoon dalam dekapannya dan mengecupi kening Jihoon berkali-kali, membiarkan miliknya tetap didalam Jihoon. "Aku mencintaimu." Ujarnya. Jihoon menatapnya dengan matanya yang sayu karena kelelahan, ia melingkarkan lengannya di pinggang Jinyoung dan mencium dada telanjang Jinyoung, menggigit dan mengemutnya hingga tercipta warna keunguan disana.

"Aku juga mencintaimu Jinyoungi"


14 Februari

Hari ini Jinyoung dan Jihoon wisuda. Ada sedikit rasa bangga dalam diri Jihoon saat melihat Jinyoung menyampaikan pidatonya selaku lulusan dengan nilai terbaik tahun ini. Sungguh kalau bisa Jihoon ingin rasanya tidak melanjutkan sekolah dokternya dan langsung menikah dengan Jinyoung. Dulu ia sering bercanda tentang hal ini, tapi belakangan sifat dewasa Jinyoung dan karir Jinyoung yang mapan membuatnya benar-benar ingin menikahi lelaki itu.

"Selamat padamu Jihoonie, maaf ibu dan ayah tidak datang saat yudisium kemarin." Ibu Jihoon memeluknya saat acara telah selesai. Jihoon hanya tersenyum sambil mencium pipi ibunya tersayang.

"Hanya ibu saja? Lupa ya sama ayah?" Jihoon tertawa kemudian memeluk ayahnya dan mencium pipinya.

Saat Jihoon sedang asyik mengobrol suka dukanya saat kuliah dengan orangtuanya tiba-tiba ayahnya tersenyum dan sedikit menunduk saat melihat orang yang berdiri dibelakang Jihoon.

"Ah Senator Bae, ternyata anda datang kemari." Ujar ayah Jihoon. Jihoon terkejut melihat Jinyoung dan keluarganya yang tiba-tiba sudah bergabung, Jinyoung membisikkan sesuatu ke ayahnya yang dibalas anggukan.

"Tuan Park, kurasa kita harus meninggalkan kedua bocah ini sebentar, aku juga ingin membicarakan sesuatu denganmu" Ayah Jinyoung menepuk bahu Jinyoung sebelum mengajak ayah dan ibu Jihoon berjalan kearah parkiran.

"Selamat, Park Jihoon, kau sudah jadi sarjana kedokteran hmm?" Jihoon tertawa, ia memeluk Jinyoung senang dan mencium pipi kekasihnya tersebut.

"Selamat padamu juga Bae Jinyoung sarjana hukum." Jinyoung tersenyum, sebelum melepaskan pelukan Jihoon yang membuatnya sedikit bingung karena tingkah Jinyoung.

"Hyung kau ingatkan kalau waktu itu aku berjanji akan memberi hadiah untukmu saat wisuda?" Jihoon mengangguk senang sambil tersenyum manis membuat Jinyoung harus menahan dirinya agar tidak menerkam Jihoon saat itu juga.

Jinyoung menarik tangan Jihoon ketempat yang sepi dan hanya ada mereka berempat. Empat karena Guanlin dan Samuel masih dalam tugas mereka. Guanlin sudah memegang map putih ditangannya, dia hanya perlu mencentang data Jinyoung dan Jihoon saat Jinyoung sudah melamar Jihoon.

Jihoon yang masih belum mengerti hanya menatap sekelilingnya kebingungan. "mm, Bae kau mau apa?" Jinyoung hanya tersenyum sebelum berlutut didepan Jihoon.

Jihoon yang radarnya mulai tersambung membelalakkan matanya. Ya tuhan dia belum siap dilamar. Detak jantungnya tambah tidak karuan saat Jinyoung mengeluarkan kotak kecil berwarna hitam dari sakunya.

"Park Jihoon, kita baru memang baru mengenal satu sama lain secara resmi 4 bulan yang lalu, dan ini baru 2 minggu pertama setelah kita resmi sebagai sepasang kekasih. Namun tahu kah kau? Sebelum kita mulai berkenalan takdir seolah-olah membawaku kepadamu dan terus memaksaku untuk mengenalmu," Guanlin dan Samuel tertawa mendengarnya.

"takdir terus saja mempertemukan kita berdua seolah-olah memaksa kita untuk bersatu. Entah berapa kali kita terjebak situasi aneh bahkan sebelum kita mengenal satu sama lain. Katakan aku gila, tapi aku senang kita terjebak dalam situasi-situasi canggung itu. Aku tidak pernah menyesal pergi ke café itu tengah malam dan mengantarmu pulang. Sungguh aku tidak akan pernah menyesali semua hal tentangmu. Kau tahu Park Jihoon. Kau Cerewet."

Jihoon mengerenyit, bukankah Jinyoung akan melamarnya? Kenapa dia tiba-tiba jadi menyebalkan? Apa Jihoon salah membaca situasi? Bahkan Guanlin dan Samuel juga bingung karenanya.

"Kau juga cemburuan, cepat sekali marah, pendek, gendut, makanmu sangat banyak, hobi bergosip, kau selalu membuatku pegal-pegal saat kau belanja—"

"Ck!" Jihoon berdecak sebal karena Jinyoung yang menyebutkan semua hal jelek tentang dirinya.

Jinyoung tertawa sebelum melanjutkan omongannya, jujur lututnya sakit karena terlalu lama berdiri dengan lututnya. "Tapi Jihoonie. Ketahuilah, aku mencintai semua hal tadi. Aku ingin terus bersamamu yang cerewet ini. Aku ingin kau memarahiku setiap hari kalau aku salah bertindak. Aku ingin kau bersamaku setiap harinya hingga aku menua nanti."

"Jadi. Park Jihoon, kekasihku yang manis. Maukah kau menikah denganku?" Jinyoung membuka kotak kecil yang ia pegang dan memperlihatkan dua buah cincin emas dengan ukiran namanya dan nama Jihoon disana.

Jihoon tersenyum, ada sedikit air mata menetes di sudut matanya, ia menunduk dan memeluk Jinyoung. "ya! Ya! Tentu saja Bae, aku akan menikahimu!" Jinyoung tertawa, ia berdiri dan memeluk Jihoon, sedikit membuat Jihoon terangkat dalam pelukannya.

"Aku sungguh mencintaimu Park Jihoon."

"Hm..Aku pun juga begitu Bae Jinyoung"

Guanlin mencentang lembaran-lembaran dalam map putih ditangannya sambil tersenyum senang. Samuel yang bodoh hanya bertepuk tangan menyaksikan lamaran Jinyoung tadi. Akhirnya tugasnya selesai.

"Sebaiknya kita kembali, dan membicarakan pernikahan kita dengan ayahmu dan ayahku hmm?" Jihoon tersenyum malu mendengar kata-kata Jinyoung barusan, ia mengangguk.

"Jihoon hyung duluanlah, aku mau ke toilet sebentar" Jihoon mengangguk dan meninggalkan Jinyoung sendirian.

Jinyoung mengamati sekelilingnya. Ia pasti akan merindukan kampusnya suatu saat nanti. Tatapan berhenti kearah Samuel dan Guanlin yang sedang sibuk menandatangani beberapa dokumen dalam map putih mereka.

Jinyoung berjalan mendekati kedua Cupid tersebut kemudian menepuk bahu kedua orang yang seharusnya tidak terlihat itu membuat keduanya terkejut.

"Terimakasih, ngomong-ngomong rencana kalian agak bodoh. Ah dan selamat ya Samuel-sshi atas kehamilan cupid yang satunya!" Jinyoung mengedipkan sebelah matanya sebelum meninggalkan Guanlin dan Samuel yang menganga lebar.

"Guan, jaket kita bolong ya?" Tanya Samuel yang kebingungan. Guanlin yang juga sama bingungnya menggeleng. Mereka berdua membuka jas mereka dan memastikan tidak ada yang bolong.

Guanlin menjentikkan jarinya dan membuka map biru yang berisi data Jinyoung dan Jihoon. Tapi tidak ada pemberitahuan khusus disitu. Guanlin mengeluarkan kertas datanya dari map dan membelalak saat mengetahui bahwa dibelakang kertas itu ada tulisan dengan tinta merah.

Note :

Bae Jinyoung, keturunan Cupid dan dapat melihat Cupid, berhati-hatilah karena dia sedikit jahil dan tidak mau menuruti keninginan cupid.

"Brengsek kau BAE JINYOUNG!" Guanlin berteriak, untungnya tidak ada yang bisa mendengar selain Samuel dan Jinyoung yang sedang terbahak-bahak sekarang.

FIN


A.n : Ini pertama kalinya gue nulis adegan rated dan pasti awkward banget. but semoga suka dengan ceritanya! kritik dan sarannya diterima, kalo bisa ajarin gue buat adegan enaena dah -_-