Chapter 2


10 tahun kemudian...

.

.

"Tadaima." ucap Tetsuya sambil menaruh sepatunya dalam rak sepatu yang terbuat dari kayu.

Suara lembut dari anak beriris aquamarine itu menggema di setiap ruangan yang ada dalam rumah minimalis tersebut. Rumah tersebut merupakan satu-satunya rumah yang paling sederhana di antara deretan rumah-rumah lainnya.

Tidak ada jawaban atau balasan dari sapaannya itu. Ia lalu berjalan menuju ke ruang makan. Matanya langsung tertuju pada secarik kertas yang terletak di atas meja makan.

'Tetsuya-kun, hari ini ibu kerja sampai jam 9 malam. Berhubung karena teman sekerja ibu lagi sakit, jadi ibu yang diminta tolong untuk menggantikannya. Ayahmu akan pulang jam 7 malam. Jadi pastikan kalau kamu akan kembali sebelum jam 7 atau dia akan marah. Makanan sudah ibu sediakan dalam lemari pendingin. Tinggal kamu panaskan saja sebelum kamu makan. Maafkan ibu, ya sayang..'

Anak berambut biru muda itu menghela napas. Ia lalu melangkah menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.

Setelah berganti pakaian, Tetsuya langsung keluar dari rumahnya, mengambil sepedanya, kemudian mulai mengendarainya ke suatu tempat. Ke tempat di mana ia memperoleh tambahan uang untuk membantu kedua orang tuanya, meskipun orang tuanya sendiri tidak tahu akan hal ini.


"Ah, Kuroko-kun! Akhirnya kau datang juga! Ini, tolong antarkan makanannya ke alamat-alamat ini, ya? Semua sudah kutulis di bagian luar kantongnya. Jangan sampai telat ya!"

''Hai." balasnya sambil mengangguk. Ia lalu meletakkan bungkusan-bungkusan yang berisi makanan tersebut dalam keranjang sepedanya. Kemudian ia duduk di atas sepeda dan mulai mengayuhnya secepat mungkin yang ia bisa.

Kuroko mulai bekerja di sana sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Hal ini mulai ia sadari ketika kedua orang tuanya tidak memiliki uang yang cukup untuk melunasi uang sekolahnya pada saat ia masih kelas 4 di semester ke-2. Untung saja karena prestasi Kuroko yang sangat baik, di mana ia selalu meraih ranking 1 di sekolahnya dan juga telah berulang kali memenangkan beberapa olimpiade khusus untuk anak SD se-Tokyo, kepala sekolahnya memberikan keringanan padanya dengan cara memberikan beasiswa sampai ia lulus SMU nanti.


4 rumah sudah berlalu. Kini tinggal 2 kantong lagi yang harus ia antarkan. Namun sayangnya, diperjalanan menuju ke rumah kedua sebelum terakhir itu, ia dihadang oleh 2 orang pemuda yang sama sekali tidak ia kenal. Kuroko menghentikan ayunan sepedanya.

Baru saja saat Kuroko menghentikan sepedanya, tiba-tiba sebuah pukulan yang sangat keras dan cepat melayang dengan bebas di pipi kirinya, membuat tubuhnya terpental sampai di tembok jalan yang tidak jauh dari tempat Kuroko tadi. Ia meringis kesakitan seraya berusaha untuk bangkit kembali.

"Ke-kenapa? Kalian si-siapa?" tanyanya sambil memegang pipi kirinya yang telah dihantam oleh salah satu dari mereka tadi.

"Diamlah, anak payah! Kau tidak perlu tahu siapa kami! Sama sekali tidak penting, bodoh!"

"Ne~ ne~ Takagi! Aku menemukan makanan! Kau mau satu?"

"JA-!"

Satu tendangan melayang kembali pada tubuh mungil Kuroko. Membuatnya kembali terpental beberapa senti. Setelah menendang tubuh Kuroko, pemuda yang bernama Takagi itu, langsung menginjak dada anak beriris aquamarine itu.

"Ugh."

"Sudah kubilang diamlah! Sialan kau! Hoi, Shin! Kemarikan makanannya!"

"Hai hai~. Kau beruntung Takagi, di sini tempatnya sangat sepi. Tidak ada yang akan melihatmu melakukan atraksi itu. Ahahha~"

"Diam dan cepatlah, Shin!"

"Haaaii~. Uh, kenapa kau tidak sabaran sekali, Takagi? Dasar, kau ini."

"Hum, mari kita lihat. Udon dan Yakiniku, heh? Payah!" Ucap Takagi yang kemudian mulai menjatuhkan makanan-makanan tersebut di atas aspal, lalu menginjaknya dengan semangat.

"Ups, maaf! Aku tidak sengaja~. Huahahhahah~!"

"TIDAK!"

"Diamlah! Dasar kau, anak sialan! Kau dan ayahmu sama saja! Sama-sama tidak berguna! Hanya sampah! Kapan ayahmu akan membayar hutangnya, hah?!"

Tepat saja saat akan ia mengayunkan tangan kanannya ke arah wajah Kuroko, tiba-tiba muncul sebuah tangan yang mencengkram pergelangan Takagi dengan erat. Belum sempat pemuda tersebut melihat siapa pemilik tangan yang kuat itu, sebuah tangan kembali melayang dengan cepat, tepat pada pipi dan hidung Takagi. Hal itu membuatnya merasa sedikit pusing, sehingga ia terjatuh di atas aspal. Ia juga dapat merasakan bahwa hidungnya mengeluarkan liquid berwarna merah. Ya, mengeluarkan darah.

"TAKAGI!"

"Jangan sekali-kali kau berani menyentuh anak ini lagi." kata remaja berkulit tan itu dengan tatapan sinisnya.

"Ceh! Kau pikir kau siapa?! Ini tidak ada hubungannya denganmu! Minggirlah, bocah ingusan!"

"Heh? Bocah ingusan? Jangan meremehkan ku!"

Takagi mulai mengepalkan tangannya dan berniat untuk memukul remaja itu. Namun sayangnya, gerakannya masih terasa lambat sehingga remaja berkulit tan itu berhasil memblokir gerakan Takagi. Malahan, Takagilah yang terkena beberapa pukulan dari remaja tersebut. Dan lagi-lagi, pukulan dari remaja tersebut mengenai wajahnya. Belum sempat ia menyimbangkan tubuhnya, kedua tangan remaja berkulit tan itu mulai mengenggam lengan kirinya dan dengan cepat, ia terbanting di atas aspal.

Bukan hanya di wajahnya saja, melainkan rasa sakit itu kini menyelimuti seluruh tubuhnya. Kerasnya benturan pada belakangnya membuatnya meringis kesakitan. Melihat temannya babak belur seperti itu, Shin yang sejak tadi hanya diam menyaksikan perkelahian mereka, kini mulai takut dan berusaha untuk melarikan diri.

Namun sia-sia saja. Remaja berkulit tan itu lebih cepat bergerak daripada Shin. Dan sama seperti Takagi, ia juga terbanting di atas aspal.

"Kalian harus membayarnya. Jika tidak, kalian akan menerima resikonya!" ucap remaja berkulit tan itu, yang kini sedang berdiri di samping mereka berdua.

"Ugh! Sialan ka-!"

Satu pukulan lagi mendarat di wajah Takagi, pukulan yang berhasil membuatnya berhenti bicara.

"Sudah ku bilang, bukan? Yang ku minta hanyalah kalian membayarnya saja! Aku tidak ingin dengar kata-kata lain yang keluar dari mulut kalian!"

"Cih!" seru Takagi, seraya berusaha berdiri kembali.

"SUDAH, HENTIKAN TAKAGI! Dan kau! Ini! Ambillah saja! Kau puas sekarang?!"

"Selama kalian menghilang dari hadapanku dan membayar ganti ruginya, aku puas."

"Huh, ayo kita pergi, Takagi." ujar Shin yang memilih untuk pergi dari hadapan remaja berkulit tan itu. Sebenarnya hal itu merupakan pilihan yang bagus. Ya, itu lebih baik dibandingkan dengan harus babak belur karena diserang oleh seorang remaja saja.

"Ceh! Lihat saja, kami akan datang lagi di lain waktu!"

Kedua pemuda itu mulai mengendarai motornya. Dan tak berapa lama kemudian, sosok mereka sudah menghilang dari hadapan remaja berkulit tan itu.

"Hufft. Mereka bodoh. Kalau dari awal mereka langsung membayarnya, 'kan tidak akan jadi seperti ini. Ah ya!... Etoo.."

Kuroko, yang sejak tadi duduk sambil menyandarkan tubuhnya di tembok jalan, hanya bisa memperhatikan remaja berkulit tan yang kelihatannya kebingungan akan posisi keberadaannya saat ini. Padahal saat ini, ia sedang duduk di belakang remaja itu.

"Aku di sini, Aomine-kun."

"U-Uwaaaah! Se-sejak kapan kau di situ?! Ah! Kau baik-baik saja?"

Remaja berkulit tan, yang bernama Aomine itu, mulai memperhatikan anak beriris aquamarine tersebut dari ujung rambut sampai pada ujung sepatunya. Ia bisa melihat bekas lebam kebiruan pada pipi kiri Kuroko.

"Pipimu memar. Sebaiknya kau kompres sekarang juga, atau dia akan bengkak. Dan ini, uang ganti ruginya. Bosmu pasti akan marah kalau kau menjatuhkan pesanan orang lain. Jadi kau bilang saja kalau ada orang yang tidak sengaja menabrakmu. Dan sebagai permohonan maafnya, orang itu memberikanmu uang ini. Yah, kurang lebih begitu saja." jelasnya panjang lebar.

"Hai."


"Bagaimana?"

"Tidak apa-apa. Yang terjadi malah sebaliknya."

~Flashback . . .

.

.

"Miu-san.."

"Ah, Kuroko-kun, kau sudah kemba-HYAAA! KUROKO-KUN! KENAPA WAJAHMU SEPERTI ITU?!"

"Miu-san, anda terlalu ribut. Para pengunjung jadi memperhatikan kita." ucap Kuroko datar.

Dengan segera, wanita bersurai hitam itu menutup mulut dengan kedua tangannya. Kemudian menundukkan kepalanya seraya meminta maaf pada para pengunjung yang ada.

Setelah meminta maaf, kembali ia memfokuskan dirinya pada Kuroko.

"Nah, sekarang beritahu aku. Apa yang terjadi?" tanyanya sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.

Anak beriris aquamarine itu langsung menundukkan kepalanya di hadapan wanita bersurai hitam itu, yang merupakan bos Kuroko selama ini.

"Maafkan aku, Miu-san. Karena aku tidak berhati-hati, aku jadi keserempet mobil dan akhirnya aku terjatuh. Begitu juga dengan makanannya. Tapi pengendara mobil itu mengganti rugi kok. Ini, uangnya." ujarnya berbohong. Sesuai dengan saran remaja berkulit tan itu.

"BODOH! Seharusnya kau berhati-hati!"

Mendengar amarah dari bosnya itu, sontak, Kuroko semakin menundukkan kepalanya. Dia benar-benar tidak ingin membuat bosnya yang satu ini, marah besar padanya.

"Ma-maaf-kan a-"

"Kau bodoh, Kuroko-kun! Seharusnya kau juga mengobati lukamu dulu!"

"E-eh?"

"Ya ampun! Soal uang ganti rugi, itu tidak penting! Toh, kau 'kan tidak sengaja. Tapi bagaimana kalau waktu itu kau.. Ugh! Pokoknya! Kau harus obati lukamu sekarang juga! Kau pakai saja uang itu untuk beli obat. Sisanya, anggap saja uang ?!"

"H-Hai..."

.

.

~End of flashback . . .

"Kurang lebih seperti itulah." ujarnya dengan wajah datar sambil membawa sepedanya itu.

"Ahaha! Baguslah kalau begitu."

Kuroko lalu menghentikan langkahnya.

"Aomine-kun. Yang tadi itu, terima kasih banyak. Maaf aku menyusahkanmu."

"Itu sama sekali tidak masalah buat- EHH YA?! AKU LUPA! Darimana kau tahu namaku?! Apa kita pernah bertemu sebelumnya?!" tanya si remaja berkulit tan itu pada Kuroko.

"Kau belum pernah bertemu denganku sebelum ini, Aomine-kun. Tapi aku biasa melihatmu. Dan wajar saja kalau aku tahu namamu. Aomine-kun 'kan salah satu pemain basket yang masuk di first string di sekolah kita?"

"Sekolah kita? Kau juga bersekolah di Teiko?"

"Hai. Itu benar."

"EEEHHHH?"

"Kenapa, Aomine-kun?"

"Ti-tidak. Aku baru tahu kalau kau sekolah di sana juga. Kau anak kelas satu atau kelas dua? Atau kelas tiga? Kau ambil klub apa?" Tanyanya panjang lebar.

"Aku masih kelas satu sepertimu, Aomine-kun. Dan aku juga mengikuti klub basket."

"HEEEEEEEEEEEE?! SEJAK KAPAN?!"

"Aomine-kun, kau terlalu berisik."

"Diamlah!"

"Seharunya kau yang diam, Aomine-kun."

"Ugh! Sudahlah! Kau lanjutkan saja!"

"Aku sudah masuk dalam klub basket sejak hari pertama tes masuk dalam tim basket. Hanya saja, kemampuanku memang tidak seperti kalian semua. Jadinya aku masuk third string. Itu keinginan pelatih. Yah begitulah."

"Hmm.." Gumamnya seraya mengangguk kecil.

"Ah ya! Nama... mu-"

Ucapannya berhenti seketika. Ia kembali melihat sekelilingnya untuk memastikan, namun anak beriris aquamarine itu benar-benar sudah menghilang dari pandangannya.

**Setting skip**

Remaja bersurai crimson itu, secara perlahan mulai melangkahkan kakinya keluar dari mobil limousine berwarna hitam pekat. Tanpa membuang waktu, ia mulai berjalan lagi, menelusuri jalan yang berada di tengah-tengah pekarangan tersebut. Sesampainya ia di depan pintu yang berwarna merah maron, ia mulai menekan tombol bel yang berada di samping kanan pintu itu. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu tersebut dibuka.

"Selamat sore, tuan muda." sapa pelayan tersebut ramah.

Pelayan tersebut mulai berjalan mendekati anak beriris heterocrom itu, seraya meminta izin padanya untuk mengambil tas sekolah yang ia bawa saat ini. Tapi anak itu menolak.

"Tidak perlu, Eiji-san. Aku bisa melakukannya sendiri."

"Tapi, tuan.."

"Kaa-san dan Tou-san ada di mana? Apa mereka sudah pulang?" tanyanya pada pelayan yang ternyata bernama Eiji, tanpa memperdulikan perkataan pelayannya yang terpotong oleh pertanyaannya itu.

"Nyonya sudah pulang sejak tadi bersama dengan nona Eru. Beliau sekarang berada di ruang keluarga. Sedangkan Tuan besar masih belum pulang."

Anak itu mengangguk setelah mendengar penjelasan dari pria yang berdiri tak jauh dari hadapannya itu.

"Kalau begitu, aku naik dulu, Eiji-san."

"Baiklah, tuan muda."

Anak bersurai merah itu mulai berjalan kembali, menelusuri lorong yang ada dalam gedung, -yang ia sebut dengan sebutan 'rumah' itu. Tak jauh dari tempat tadi ia berdiri, terdapat tangga yang lebar, di mana 7 orang yang gemuk dapat berbaris sejajar dengan rapi di setiap anak tangga tersebut. Ia lalu menaiki anak tangga tersebut satu per satu. Di anak tangga kedua sebelum terakhir, ia sudah bisa melihat 2 orang sosok perempuan bersurai merah yang sedang duduk membaca. Bedanya, yang satu sudah dewasa, yang satunya lagi masih anak-anak berumur 5 tahun.

"Aku pulang."

Mendengar suara khas sang anak dan kakak tercinta, sontak, keduanya langsung berbalik ke arah asal suara.

"Onii-chan!" seru anak perempuan itu. Ia lalu berlari ke arah remaja bersurai merah tersebut dan kemudian memeluknya. Anak remaja itu pun, membalas pelukan adik kecilnya itu.

"Ah, kau sudah pulang, Sei-kun. Bagaimana sekolahmu?" ujar Keiko, yang merupakan ibu dari kedua anak tersebut, seraya mengatur buku-buku tersebut di dalam rak buku yang ada di samping sofa tempat mereka duduk.

"Seperti biasa. Tidak ada yang spesial, Kaa-san." jawabnya santai.

"Oh, jadi hari pertamamu sebagai kapten tim basket juga termasuk hal yang biasa?"

"Mungkin."

"Mungkin? Apa kau tidak merasa gugup, Sei-kun? Ini 'kan hari pertama!"

"Tidak, itu hanya hal biasa, Kaa-san."

"Ibu heran, kenapa sifat tenang ayahmu juga ada padamu? Ya ampun! Seharusnya kau sepenuhnya memiliki sifat yang sama denganku. Toh, tampangmu benar-benar mirip denganku."

"Supaya adil. Mungkin itu jawabannya?"

"Terserah. Ah, apa kau sudah makan? Sebentar malam kau mau makan apa?"

"Aku sudah makan, Kaa-san. Untuk makan malam, terserah Eru saja. Seleraku sama dengannya. Benar 'kan, Eru?" tanyanya pada anak perempuan yang sejak tadi hanya memperhatikan keduanya bicara. Anak itu menggangguk setuju, lalu tersenyum.

Eru yang nama lengkapnya Akashi Eru, merupakan adik dari Akashi Seijuurou dan anak ketiga dari pasangan suami-istri, Yutaka dan Keiko. Eru masih berumur 5 tahun, bersurai warna merah seperti Keiko, namun memiliki iris mata yang sama dengan Yutaka. Benar-benar perpaduan yang bagus.

"Apa Tou-san pulang telat?"

"Ya. Dia sedang memimpin rapat di perusahaan. Mungkin pulang jam setengah 11, seperti biasa."

"Hm."

"Ah ya! Sei-kun, tadi pagi kau menjatuhkan benda ini. Untung ibu melihatnya." ujarnya sambil tersenyum lembut pada Seijuurou, seraya menyerahkan benda tersebut padanya.

"Ini..."

Ia mengambil benda tersebut lalu menunduk sambil tersenyum kecut.

"Terima kasih, Kaa-san." ujarnya, di balas dengan senyuman khas sang ibu.

"Aku akan pergi ke kamarku. Tolong jangan ganggu aku dulu, Kaa-san, Eru." ujarnya lagi seraya melangkahkan kakinya secara perlahan menuju ke kamar tidurnya, sambil memegang erat benda itu.

"Tunggu, Sei-kun. Apa kau.. masih beranggapan kalau semuanya itu adalah salahmu? Sehingga kau berubah seperti ini?"

Anak beriris heterocrom itu tetap saja berjalan. Menghiraukan pertanyaan ibunya barusan.

Keiko hanya bisa mendesah melihat sifat Seijuurou saat ini. Sejak kejadian yang menimpa adik dan bibinya sepuluh tahun yang lalu, ia mulai berubah menjadi anak yang pendiam dan jarang menunjukkan emosinya, apalagi tersenyum. Sudah berulang kali ia dan Yutaka memberitahu anak beriris heterocrom itu, bahwa hal itu bukan salahnya ataupun bibinya. Melainkan hanya kecelakaan semata. Namun tetap saja, ia terus menerus menggumam bahwa semuanya itu salahnya, benar-benar salahnya karena ia tidak dapat menyelamatkan Tetsuya, adik kecilnya itu.


Seijuurou menutup pintu kamarnya secara perlahan dan melepaskan sepatunya. Kemudian menaruhnya di dalam rak sepatu yang terbuat dari kaca. Ia lalu melangkah menuju ke kamar mandi yang ada dalam kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.

Seusai mandi dan berganti pakaian, Seijuurou lalu mengambil benda yang sejak tadi ia taruh di atas meja belajarnya, kemudian duduk di atas spring bednya yang empuk dan bersandar dengan menggunakan bantal yang sudah ia susun sedemikian rupa, agar ia bisa duduk dengan nyaman. Ia lalu memandang benda tersebut, benda yang merupakan hadiah dari bibinya, Kiyomi. Benda yang merupakan kalung di mana hanya ia dan adiknya saja yang memiliki kalung seperti itu.

"Tetsuya..."


(Yo minna~ XD
Seicchin kembali~~
Gomen nee, updatenya laaama sekali..
*Lagi musim ulangan sih.. -_-''
Sekarang Seicchin lagi libur, jadi yah, bisa nge-update dah :D
Makasih udah mau menunggu, membaca, nge-follow n nge-favo!)

RnR Please?