chap 2 =_=

ngebut euy~

padahal lagi bikin FF YeWook =_=

kapan bisa muncul ide bikin FF SJ with 17

huft

oke ditunggu komennya

gomawo~^^

########################################################################


########################################################################

FIRE & WATER

Cast

- Kim Heechul

- HanGeng

Othercast

- SJ member

(real story belong to LadyVampAsia)

########################################################################


########################################################################

Hangeng membuka matanya perlahan, cahaya putih menyilaukan matanya. Dia berbaring ditempat tidur yang lembut dengan seprai sutra halus. Apa dirinya telah mati? Apakah ini adalah surga? Seorang pria berwajah imut dengan rambut pirang panjang menatap ke arahnya dengan senyuman lembut. Matanya berwarna coklat gelap dengan iris merah muda. Dia mengenakan pakaian putih dengan banyak bunga dan sulur-sulur melilit rambut dan tubuhnya.

"Apakah kau merasa lebih baik, Hangeng-ssi?" orang itu bertanya. "Pertama kali teleport dengan Heechul, aku muntah. Kau tidak mual kan?"

"Tidak," bisik Hangeng

"Aku minta maaf tentang ibumu." Ucap pria imut itu sambil menunduk. "Heechul hyung merasa sangat sedih tentang hal itu. Dia mengunci diri di kamarnya dan menolak untuk keluar, bahkan luka ditubuhnya tak mau diobati."

"Siapa kau?" tanya Hangeng. "Dan dimana aku? Terakhir yang aku ingat aku diterjang ombak besar dan bagaimana aku masih bisa hidup?"

"Dia tidak bilang apa-apa?" pria imut itu menggigit bibir bawahnya. "Maaf, aku Sungmin dan kau akan aman disini. Itu adalah hal yang perlu kau tahu sekarang."

"Kau sudah sadar?" sebuah suara terdengar, menyebabkan Hangeng duduk dan mengamati ruangan.

Segala sesuatu di ruangan ini tampak bersinar. Dindingnya terbuat dari marmer putih serta lantainya. Pilar-pilarnya menjulang tinggi dan memiliki tirai besar. Elegan dan indah. Ada perapian di sebelah kanan. Seorang pria dengan rambut pirang pasir dan mata jernih seperti malaikat berdiri di ujung tempat tidurnya.

"Bagaimana perasaanmu, Hangeng-ssi?" tanya pria itu, "Maaf tentang ibumu, tapi kau aman sekarang dan itulah yang benar-benar penting."

"Dimana aku?" tanya Hangeng penuh emosi. "Aku tidak mengerti semua ini."

"Heechul tidak mengatakan apapun padanya?" tanya pria itu kepada Sungmin

"Tidak," jawab Sungmin, ia mengambil segelas air dan menawarkan kepada Hangeng."Ini, kau pasti haus."

"Jika kau tidak memberitahuku sesuatu yang berguna, maka biarkan aku pergi. Aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepada ibuku untuk yang terakhir kalinya."

"Baiklah. Namaku Leeteuk. Dan tempat ini adalah rumahmu sekarang." Jelas pria itu. "Sungmin dan aku akan meninggalkanmu disini, kami akan kembali saat makan malam."

Hangeng menutup matanya saat kedua pria asing itu meninggalkan dirinya. Kepalanya kini penuh pikiran. Kehilangan ibunya sangat membebani hatinya. Kini ia tak bisa menahan air matanya lagi. Dia benar-benar sendirian di dunia ini sekarang.

Ia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu. Ia tak begitu percaya dengan orang-orang asing itu. Bagaimana kalau mereka yang telah menciptakan api dirumahnya? Bagaimana kalau mereka juga ingin membunuhnya?

Hangeng berjalan menyusuri lorong. Sayup-sayup terdengar suara lembut datang dari ujung sana. Mereka terdengar kesal, seakan sedang berlangsung argumen yang tak ada habisnya. Hangeng penasaran dengan penghuni dari tempat aneh ini, ia berjalan pelan lebih dekat ke arah suara-suara.

Hangeng mengintip dari sudut dinding, ia melihat meja marmer berukuran besar dikelilingi kursi dan diujung meja terdapat singgasana putih bercahaya. Orang-orang disana tengah berdebat satu sama lain. Setiap kursi diduduki sosok yang memikat, kecuali salah satu kursi berwarna merah, hanya kursi itu yang kosong.

"Apakah kau yakin ini adalah keputusan yang benar?" tanya pria yang memiliki otot yang sangat sempurna.

"Apa pilihan lain yang kita miliki, Siwon-ah?" Leeteuk mendesah di singgasananya sendiri. "Kita harus melindunginya. Dia salah satu dari kita."

"Untuk apa? Dia itu anak haram yang dibuang ke bumi. Ayahnya saja tidak menginginkannya. Mengapa kita harus perduli?" ketus seorang pria yang memiliki rambut hitam, iris mata yang tajam, dan kuku jarinya di warnai hitam.

"Kyuhyun-ssi, jaga ucapanmu."

"Hanya karena ayahnya meninggalkannya, bukan berarti dia tak harus dilindungi." Sela pria dengan rambut hitam pekat dan memiliki iris mata ungu. "Ibuku meninggalkanku."

"Ibumu meninggal karena ia sakit, Yesung hyung." Sindir Kyuhyun, "Ini bukan hal yang sama."

"Mungkin ayahnya meninggalkannya di bumi karena suatu alasan?" tanya pria mungil dengan rambut berwarna merah gelap dengan daun merah sebagai hiasan kepalanya. "Kau dengar kata Heechul hyung."

"Jadi apa masalahnya? Dia dapat mengontrol air kan?" seorang pria dengan rambut pirang cerah tertawa.

"Tapi, Eunhyuk hyung..." Ryeowook cemberut, "Tidak mungkin dia mengendalikan lautan samudera kemarin, kau lihat kan? Hampir seluruh lautan disana ia kendalikan."

"Mengendalikan air? Aku?" Hangeng ternganga, ia tak sengaja menyenggol salah satu vas bunga yang ada di belakangnya.

"Siapa itu?" Sungmin bertanya sambil melirik ke ujung ruangan. "Apakah kalian mendengar sesuatu juga?"

Hangeng mundur perlahan, ia tak ingin dilihat oleh mereka. Hangeng kembali menyusuri lorong, ia mencoba membuka pintu-pintu yang ia lewati untuk melihat apakah ada sesuatu yang bisa ia jadikan petunjuk. Kebanyakan dari mereka terkunci dan yang lain hanyalah kamar kosong. Mendekati akhir lorong yang berbelok, ia berhenti di depan sebuah pintu hitam besar dengan ukiran merah didalamnya. Simbol dipintu ini sama dengan simbol yang ada di bangku merah di ruang sana.

Hangeng membuka pintunya dan masuk ke dalamnya. Dindingnya dihiasi oleh marmer merah dengan ukiran api yang menakutkan. Hangeng kembali teringat akan kematian ibunya. Ia lalu menoleh ke perapian, sesuatu disana seolah memanggilnya.

"Aroma ini, seperti kelopak bunga," bisik Hangeng.

Puluhan lilin meleleh menghiasi perapian. Hangeng berdiri terdiam, ia memandangi lilin yang terbakar. Suara api yang lembut dari pojok ruangan terdengar seperti senandung. Hangeng mencoba menemukan sumber suara tersebut. Seperti senandung yang lambat dan sedih. Akhirnya mata Hangeng mendarat di api yang menyala di bawah tempat tidur layaknya perapian. Seorang pria terbentang di tengah tempat tidurnya yang terbungkus sutra hitam. Pria itu tidak mengenakan pakaian apapun, kulit putih susunya sangat kontras dengan tempat tidurnya yang gelap. Lututnya disandarkan disatu sisi, itu menghalangi pandangan Hangeng dari wilayah intim, dan pria itu memegang api kecil ditelapak tangannya.

Api di telapak tangannya tumbuh lebih besar dan mengeluarkan aroma kelopak bunga. Hangeng tak bisa menahan diri untuk tidak bergerak menuju ke pria berambut merah yang sedang duduk di tempat tidur.

"Bagaimana kau bisa melakukan hal itu?" tanya Hangeng, pria berambut merah itu terkejut dan langsung menarik selimut sutra hitam untuk menutupi tubuhnya.

"Kau seharusnya tak disini," ucap Heechul tegas. "Apakah Leeteuk hyung tahu kau disini?"

"Maafkan aku," Hangeng memelankan suaranya, "Aku bisa mencium aroma tubuhmu dan aku tak bisa menahan diri untuk tidak kesini."

"Sial," umpat Heechul, asap merah yang berkilauan keluar perlahan dari tubuhnya. "Aku melakukannya lagi."

"Melakukan apa?"

"Dengar, kau tidak benar-benar tertarik kepadaku. Jadi, silahkan pergi dari sini, sebelum kita berdua terluka."

"Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku tertarik kepadamu," Hangeng membela. "Aku bahkan tak tahu dimana aku berada. Dan orang-orang disana berpakaian sangat aneh, dan kau juga, bagaimana mungkin kau bisa mengeluarkan api seperti itu."

"Oke, tenang. Ayo duduk dan aku bicarakan semua ini. Seharusnya Leeteuk yang memberitahumu..."

"Aku lebih suka berbicara kepadamu," Hangeng mengakui, "Aku tidak kenal orang itu."

"Kau tidak mengenalku dengan baik."

"Aku tahu, tapi aku merasa nyaman di sekitarmu." Jawab Hangeng, "Aku tidak bisa menjelaskan mengapa."

"Aku bisa." Heechul menghela nafasnya. "Berapa banyak yang kau ketahui dari Leeteuk hyung?"

"Tidak ada. Dia hanya mengatakan aku aman disini dan ia menyesali kematian ibuku. Meskipun, ia tidak terdengar menyesal."

"Dia benar, kau aman disini. Dan kita semua menyesal tentang apa yang terjadi pada ibumu. Hanya saja sulit bagi kami untuk memahami kehidupan manusia. Tak satupun dari kami dibesarkan di bumi seperti kau."

"Di bumi?" ulang Hangeng, "Apakah kau pikir kau itu alien atau sejenisnya? Apakah kalian semua gila? Haruskah aku khawatir...?"

"Dunia yang kau sebut rumah bukanlah satu-satunya wilayah di planet ini. Ada makhluk hidup di antara kita yang mengawasi dan mengontrol setiap hal yang terjadi."

"Makhluk apa?"

"Dewa." Jawab Heechul singkat. "Tempat ini adalah salah satu alam para dewa, sebagian besar adalah Demigods."

"Manusia setengah dewa?"

"Seorang anak yang lahir dari perpaduan Dewa dan manusia. Misalnya, ayah Leeteuk adalah pemimpin para dewa disini, dan ibunya adalah manusia biasa, pelayan restoran yang baik hati. Kebaikan hatinya diwarisi dari ibunya, dan jiwa pemimpinnya ia warisi dari ayahnya. Leeteuk memang bukan pemimpin disini, dia hanya suka memberitahu kami apa yang harus kami lakukan, apakah tindakan kami benar atau salah."

"Apakah kau juga demigod?"

"Ayahku adalah Dewa api." Ucap Heechul, ia mengeluarkan api dari telapak tangannya dan memainkannya layaknya bola. "Aku bisa mengontrol api. Dan aku juga memiliki temperamen yang mengerikan, yang aku dapatkan darinya."

"Dan ibumu?" bisik Hangeng

"Ibuku adalah Dewi Penggoda, Temptation. Disitulah aroma semerbak yang memikat berasal." Heechul tersenyum dan sedikit malu. "Kau merasa nyaman di sekitarku karena feromon yang keluar dari tubuhku, terutama ketika aku emosional. Aku tidak bisa mengendalikan feromon ku, maaf."

"Mengapa kau ada dipantai ketika aku terseret ombak dan mengapa kau ada dirumahku ketika rumahku terbakar?"

"Aku berada disana karena aku mengawasimu, itu saja."

"Kenapa?"

"Dewa laut memiliki seorang putra bertahun-tahun lalu." Jelas Heechul. "Tapi dia menyembunyikannya dan pergi."

"Tunggu, kau mengawasiku? Untuk apa? Harusnya kau mengawasi anak dewa laut itu."

"Anak itu adalah kau, bodoh." Heechul tertawa kecil. "Ayahmu bukan perenang, dialah pemilik laut."

"Tidak mungkin, ayahku..."

"Han~ kau itu seorang..."

"Demigod. Iya kan?" sela Hangeng. "Tapi aku tidak memiliki kekuatan, aku cuma seorang pria biasa..."

"Kau membuat sebagian air laut dipantai meninggi dan menerjang api." Heechul menatap Hangeng yang kebingungan. "Itu sudah cukup bukti bagiku. Hidup di bumi membuat kau tidak sadar akan kekuatanmu. Aku menyelamatkan mu semalam, seharusnya aku tidak gegabah melakukan itu, aku lemah terhadap air, kekuatanku akan hilang jika terkena air."

"Aku...tidak percaya ini."

"Aku akan membuktikannya kepadamu."

"Bagaimana?" tanya Hangeng

"Pikirkanlah laut. Bayangkan terjangan ombak, asinnya, dan kesegaran udaranya dalam pikiranmu."

"Kau bercanda,"

"Lakukan saja," bentak Heechul sambil menendang kaki Hangeng pelan

"Baiklah~ Hangeng mendesah, ia mulai berkosentrasi.

Hangeng mengisi pikirannya dengan laut, membayangkan ia kembali kerumah dan duduk ditepi pantai. Dia melihat ombak dan menghirup aroma asin lautan. Tiba-tiba Hangeng merasa tangannya melembab, dan mengeluarkan air hingga membasahi lantai marmer yang gelap. Kini air berada dimana-mana dan meredupkan api diperapian.

"Oke, kau bisa berhenti sekarang, Han." Heechul panik karena air adalah kelemahannya. Heechul menaikkan kakinya ke tempat tidur karena kamarnya sudah dipenuhi air.

"Aku tidak tahu bagaimana menghentikannya!" seru Hangeng, jantungnya berdebar panik karena air terus meninggi.

"Hangeng~ kumohon hentikan air nya." Suara Heechul terdengar parau, nafasnya mulai sesak, perlahan air mulai menyelimuti Heechul, seolah air itu ingin melenyapkannya.

Heechul mencoba melepaskan diri dari air. Seharian ini ia sudah berhubungan dengan air, dan tubuhnya tak bisa menahan air lebih banyak lagi.

"Aku tidak bisa!"

"Pikirkan tentang kebalikan dari air,"

Hangeng mencoba memikirkan api. Ia berpikir tentang kebakaran rumahnya dan rasa sakit kematian ibunya.

"Sial! Han, aku tak bisa bertahan lebih lama, hentikan airnya!" Heechul merasa suhu tubuhnya menurun, lemas dan sesak. Hangeng menghampirinya dan mencoba berusaha berkosentrasi untuk menghentikan air.

"Aku...aku..." Hangeng tergagap sebelum kata-katanya selesai, tiba-tiba ia ditarik oleh Heechul dan langsung mencium bibirnya.

Seketika pikiran Hangeng kosong, hanya ada aroma kelopak bunga yang memabukkan. Heechul menciumnya makin dalam dan menggairahkan. Perlahan air mulai menyurut dan air sudah lenyap dari kamar itu. Heechul menyudahi ciumannya, dan terjatuh lemas dipelukan Hangeng, tubuhnya basah kuyup dan memucat.

"Merasa lebih baik?" bisik Heechul

"Ya,"

"Kau hanya perlu konsentrasi." Heechul tersenyum lemah, "Kau harus belajar mengontrol kekuatanmu."

"Kau baik-baik saja? Kau sangat pucat,"

"Apa yang terjadi disini!?" teriak Leeteuk sambil membuka pintu dengan kasar. "Heechul kau baik-baik saja?"

"Hyung, kau basah kuyup." Eunhyuk panik dan langsung memegang denyut nadi Heechul. "Leeteuk hyung, kekuatan Heechul hyung melemah."

"Hangeng-ssi, kau yang melakukan ini?" tanya Eunhyuk sambil menunjuk ke air yang masih menggenang sedikit di lantai. "Kau seharusnya tahu api itu tidak bisa bertahan di air. Dia bisa mati dengan mudah dengan kekuatan air mu. Kau paham itu?!"

"Maaf," Hangeng merasa sedih melihat Heechul yang lemah. "Aku tidak tahu bagaimana menghentikannya."

"Tidak apa-apa, Eunhyuk bisa membersihkan ruangan ini, ayo kau ikut aku, aku akan memperkenalkanmu dengan yang lain." Leeteuk tersenyum dan kembali melihat Heechul dengan kening mengerut. "Heechul-ah, kau bisa berpakaian? Aku tahu kau mencintai anak ini, tapi kau bisa menahan diri kan untuk tidak menggodanya dengan tubuhmu, kau hampir mati karena nya tadi."

"Cinta...dengan..." Hangeng melirik Heechul yang tengah berusaha berdiri. "Kau mencintaiku?"

"Dia jatuh cinta denganmu Hangeng-ssi selama bertahun-tahun." Eunhyuk melambaikan tangannya ke lantai dan sekejap ruangan itu kering seperti semula. "Dia seperti penguntit.."

Heechul melotot kepada Eunhyuk, sayang kekuatannya sedang lemah. Kalau tidak, mungkin Heechul tak akan segan untuk membakarnya hidup-hidup.

"Heechul adalah pelindung Hangeng." Ucap Leeteuk.

Eunhyuk tersenyum dan berbalik menatap Hangeng. "Aku Eunhyuk. Ibuku adalah Dewi Alam. Dia memiliki kuasa atas tumbuhan, hewan serta cuaca."

"Sangat menyenangkan bertemu denganmu," Hangeng membungkuk sedikit dan melirik Heechul yang kini tengah melotot ke arah Leeteuk yang menyembunyikan senyumnya.

"Kita akan makan malam, Eunhyuk dan aku akan membawa Hangeng ke meja makan. Heechul kau bisa menyusul atau lebih baik kau istirahat saja."

"Ayo Hangeng-ssi," Eunhyuk menarik tangan Hangeng dan berjalan keluar kamar Heechul. "Nanti ada pria yang bernama Kyuhyun. Ayahnya adalah Dewa Keonaran dan ibunya manusia bermulut tajam. Jadi, apapun yang dikatakannya jangan dianggap serius."

"Baiklah." Hangeng mengangguk dan menyentuh bibirnya. Ciuman hangat dari Heechul masih terasa nyata di bibirnya. Apakah ini karena feromon? Hangeng pikir, tidak.

TO BE CONTINUED...

########################################################################


########################################################################