Seorang ibu berlari cepat menaiki tangga. Kimono yang ia kenakan sedikit kotor pada bagian bawah karena terseret bersama langkah cepatnya.

"Ku mohon hentikan Fugaku-kun! Jangan sakiti Itachi lagi!" ucap Mikoto menghentikan seorang pria dewasa sedang mencambuk punggung bocah remaja. ' Uchiha Fugaku' gambaran sosok ayah yang kejam. Hanya karena Itachi tak sengaja menumpahkan kopi yang ia buat, Fugaku menghukum dengan cambukan.

"Ck!" Fugaku melangkah pergi setelah puas menghajar Itachi. Cambuk yang ia gunakan dilempar begitu saja. "Dasar bocah tidak berguna!"

"Hiks, I-Itachi maafkan Ka-chan, maaf tidak bisa melindungimu!"

Itachi membalas ucapan Mikoto dengan senyuman di wajahnya penuh lebam. Pakaian hitam yang ia kenakan robek di bagian punggung, sehingga memperlihatkan beberapa luka menganga bekas cambukan. Sudah biasa bagi dirinya menjadi pelampiasan emosi kepala keluarga. Terkadang hati Itachi menerka, kesalahan macam apa yang telah ia perbuat hingga menimbulkan kebencian di hati sang ayah.

"Oni-chan..."

Panggilan Sasuke mengembalikan atensi Itachi. Suara cempreng khas anak kecil ia dengarkan. Tapi baginya suara Sasuke merupakan 'oase' di tengah neraka yang saat ini ia rasakan. Sungguh betapa sayang Itachi pada makhluk mungil yang berjalan mendekatinya.

"Apa sakit Itachi-ni?" tanya Sasuke seraya mengelap darah di pelipis dan sudut mulutnya. Bocah kecil ini menangis tanpa suara saat melihat punggung penuh luka dihadapannya.

"Kemarilah Sasuke, hiks.. hiks!" pecah sudah tangisan Itachi. Hanya bersama Sasuke ia memperlihatkan kelemahan.

.

.

Step Sister

.

.

Desclaimer: Naruto miliknya Masashi Kishimoto.

.

.

Selamat membaca.

.

Pemakaman, Korea Utara.

"Eomma... Apa kabar? Baikkah keadaan Eomma di surga? Sakura kangen Eomma. Sakura tidak akan menangisi Eomma lagi, karena Sakura tahu Eomma bahagia di surga. Ne Eomma , bisakah Eomma jewer telinga Itachi-Oppa? Oppa makin menyebalkan!" kata Sakura sambil memberikan sebuket bunga tulip putih kesukaan sang ibu. Emerald itu melirik sinis saat mendengar dengusan dari pemuda di sampingnya.

"Hai Ka-chan, apa kabar!"

"Baik!" gumam Sakura di sampingnya.

Itachi kembali mendengus, menghiraukan sikap menyebalkan dari sang adik ia melanjutkan"Ku harap Ka-chan bahagia di surga-"

"Tadi kan sudah aku bilang!" bantah Sakura sewot.

"- Ck, hiraukan dia Ka-chan! Makin cerewet saja dari hari ke hari. Seperti kemarin, waktu aku lupa minum obat, Saki-chan sudah kayak nenek lampir yang- AWW! Apa-an sih, nah beginilah kelakuan putrimu Ka-chan!" adu Itachi setelah mendapatkan cubitan maut dari sang adik.

"Jangan dengarkan Itachi-Oppa, Eomma. Dirinya gak nyadar kalau lebih mirip nenek lampir tuh dia, rambut hitam panjang apalagi kalau bangun tidur kayak 'sadako' dengan rambut panjang acak-acakan. Hiiii...seram Eomma - AWW!" kini giliran Sakura yang mendapat cubitan maut di pipinya.

"Benarkan... Mana ada nenek lampir yang rambutnya pink, yang ada tuh..."

"….."

"…"

30 menit kemudian.

"...ya kan... ya kan! Apalagi Itachi Oppa sudah keriput, ha ha ha!" Sakura yang sejak tadi keukeuh pada argumen tentang 'siapa diantara mereka yang lebih mirip nenek lampir' tidak dapat membendung tawanya ketika membayangkan muka Itachi memerankan tokoh kakek lampir.

"Puas... Kau puas Saki-chan, Hm? Rasakan!" ucap Itachi menarik pipi mulus Sakura ke kanan dan kiri.

"Ha ha ha, sangat puas. AWW! Lepaskan Itachi-Oppa, sakit!"

"Biar..., ha ha ha!"

Ah, beruntung sekali Itachi sekarang. Mempunyai adik manis yang selalu membuatnya tertawa lepas dan ayah yang menyayanginya dengan tulus. Meski sang ibu sudah berada di surga, Itachi tetap bersyukur karena meninggalkannya bersama keluarga yang penuh kehangatan cinta. Keluarga seperti inilah yang selalu ia inginkan dari dulu.

"Ne Ka-chan, kami pulang dulu. Sudah semakin siang, nanti putrimu ini takut hitam jika lama terkena sinar matahari -Itachi melirik Sakura jahil- Kami akan sering mengunjungi Ka-AWW! Sakit tahu!" ucapan Itachi terpotong berkat cubitan maut Sakura untuk ke dua kalinya.

"Biarin, wee!" jawab Sakura sambil menjulurkan lidahnya.

"Da Eomma, aku harus memberi pelajaran sama Itachi-Oppa dulu!" bisik Sakura diakhir kalimat.

Kedua kakak - beradik inipun meninggalkan makam Mikoto. Sakura bergelayut manja dengan tangan mendekap erat lengan sang kakak. Gadis cantik ini sedang menyusun strategi untuk membalas kelakuan pemuda tampan di sampingnya.

"Aa, Oppa ayo kita mampir di Cafe biasanya!"

"Ha..., tapi kan kita sudah sarapan roti tadi pagi sebelum berangkat, Saki-chan!"

"Oh, yang tadi hanya camilan! Lagi pula hanya tinggal beberapa jam sebelum makan siang, sekalian saja. Traktir ya Oppa….!"

"Heee!"

Nyatanya sekarang baru jam 10 pagi. Bukan sekali ini Sakura mengajak Itachi 'mampir' di Cafe. Jangan lupakan fakta, bahwa nafsu makan Sakura sebesar porsi lima orang tentara. Itachi sudah memprediksi apa saja yang bakal dipesan oleh Sakura. Yang pasti isi dompet dalam saku celana hitamnya terancam deposit. "Semoga masih cukup untuk kuliah selama seminggu" keluh Itachi dalam hati.

"Aku heran Saki-chan, bagaimana tubuhmu tetap langsing sedangkan nafsu makanmu guedhe banget, hm?" tanya Itachi penasaran.

"Sudah gak usah banyak protes deh, jangan makin merusak moodku atau nanti ku kuras dompet Oppa hingga tak bersisa. Ayooooooo!" seret Sakura dengan cengiran mencurigakan.

.

.

Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan.

Seorang pemuda tampan berpostur tegap melangkah keluar dari pintu kedatangan. Wajah putih mulus dengan garis rahang nan tegas membuat para wanita menjerit girang melihatnya. Tak lupa juga rambut hitam bergaya harajuku makin menambah WAW, serta tatapan tajam dari mata onik gelapnya memberikan kesan misterius. Hem hitam dipakainya pas di badan, berlengan panjang yang digulung se-sikut serta celana jin's hitam kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih mulus khas orang Jepang. Di tangan kiri pemuda, tampak menyeret koper kecil berwarna serupa. Tak lebih sepuluh langkah ia berjalan, sudah berdiri tiga orang pria berseragam tentara khas Korea Selatan menghampiri, kemudian memberi hormat secara formal.

"Tuan Uchiha, saya bertugas menjemput anda. Selamat datang di Korea Selatan. Perkenalkan nama saya Kim Kabuto, Pemimpin Divisi 1 Inteligent Korea Selatan!" ujar Kabuto memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.

"Hm!' jawab sang pemuda dengan wajah angkuh tanpa menjabat balik tangan di depannya.

Kabuto menurunkan tangan, dan berdehem karena tenggorokannya mendadak kering.

"Ehem, mo-mohon ikuti kami. Aa koper Anda biar saya yang membawanya!'

"Hm, tidak usah!' jawab Sasuke ketus kemudian berjalan sambil menyeret kopernya mengikuti dua tentara yang berjalan terlebih dahulu menuju mobil. Sedangkan Kabuto mengepalkan tangan berusaha meredam emosinya. Belum pernah dirinya diremehkan. Dan pemuda yang berusia lebih muda ini telah mengacuhkannya. "Anak bau kencur, sombong!" batin Kabuto menyeringai licik.

"Silahkan Tuan!" ucap tentara sembari membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Sasuke.

"Hm!"

Sasuke memasuki mobil kemudian di-ikuti Kabuto dan lainnya. Mobil bermerk 'Hyudai's' itu melaju mulus meninggalkan bandara, membawa Sasuke ke hotel bintang lima tempatnya menginap selama bertugas di Korea Selatan.

.

.

"Ah... Kenyangnya. Terima kasih Itachi-Oppa ku tersayang. Kapan-kapan traktir lagi adikmu yang cantik ini ya..?!" ucap Sakura riang, sukses menambah jengah ekspresi di wajah Itachi.

"Hm, Saki-chan memang berapa hari tidak 'makan'. Kenapa seluruh makanan di konter kamu pesan?" ucap Itachi dengan muka ditekuk-tekuk. Benaran deposit isi dompetnya. 'Makan' di sini berarti makan besar bukan makan pagi, siang, dan malam seperti yang mereka lakukan sehari-hari. Bagi Sakura rutinitas yang disebut orang lain itu hanya sekedar camilan. Tapi arti 'makan' sebenarnya adalah dengan porsi yang buanyak hanya untuk Sakura habiskan seorang.

"Ha ha ha, Itachi-Oppa jangan pasang muka jelek begitu karena sudah keriput dari sananya. Jangan dibikin makin jelek!" ucap Sakura riang.

Itachi menjatuhkan rahangnya, sebagai 'the most wonted man' sekampus, dibilang jelek oleh adik sendiri. Sungguh ter la lu.

"Terserah!"

"Ha ha-hrmppt, APA seh?!" ujar Sakura sewot karena telapak tangan Itachi membekap mulutnya.

"Kau menyiksa kupingku Saki-chan. Jangan keras-keras ketawanya!" ujar sang korban yang dibalas Sakura dengan peletan lidah. Mereka mulai berjalan memasuki rumah.

"APPA, AKU PUL- hrmppt!"

"Jangan keras - keras!" death glare Itachi.

"Oke, bos..!, loh sepi!" Sakura celingukan mencari keberadaan ayahnya.

"Appa sibuk Saki-chan, gak kayak kamu!" ucap Itachi lirih di akhir kalimat.

"Aku dengar itu Itachi-Oppa, apa maksudmu?" tantang Sakura berkacak pinggang.

"Kabur... Ha ha ha!" jawab Itachi sambil melangkah cepat menaiki anak tangga menuju kamarnya. Detik berikutnya suara tawa membahana di lantai dua. Siapa lagi kalau bukan si kakek lampir yang menjadi tersangkanya.

"HENTIKAN ITACHI-OPPAAAAA!" Tawa Itachi makin memenuhi Rumah Dinas yang diperuntukkan bagi 'Pimpinan Tertinggi Tentara Rakyat ' di Negara Korea Utara tersebut. Rumah mewah bercat putih bersih yang ia sebut sebagai surga dunia berada. Disinilah Itachi merasakan belaian halus dari tangan seorang Ayah dan pelukan hangat lagi menenangkan tanpa adanya bentakan atau penyiksaan pada tubuh rapuhnya. Disini juga pemuda ini merasa dibutuhkan. Sakura 'sang adik' selalu menempel padanya. Meski di Jepang, Itachi punya Sasuke namun adik yang jauh itu tak mampu ia raih. Sasuke dan Sakura, kedua adik yang ia cintai, masing-masing mempunyai tempat tersendiri di relung hatinya.

Sakura senang membuat sang kakak tertawa lepas karena ulahnya. Bagi gadis cantik ini sang Oppa merupakan 'Oasse' di tengah hidupnya. Sakura akan melakukan apapun untuk melindungi Itachi. Dari usia 2 tahun, Sakura begitu disayangi Itachi. Terkadang bila sakit, Itachi lah yang merawat. Semenjak sang ibu meninggal maka Itachi-Oppa yang telah menemaninya. Mengajarkan berbagai hal, termasuk memasak. Meski berakhir dengan hasil tak layak makan. Namun kebersamaan yang mereka rasakan mampu mendekatkan batin keduanya.

Drrtt

Drrtt

HP Sakura bergetar di saku celana.

"Macan kumbang tiba, meeting dilaksanakan! Cepat ke sarang!"

Sakura me-replay email kemudian bersiap-siap.

"Oppa, aku ada urusan di sekolah. Awas tunggulah pembalasan dendamku, dasar kakek lampir!"

Itachi tersenyum mendapatkan SMS dari Sakura.

"Yosh, kutunggu pembalasan dendammu. Nenek lampir berambut pink!" balasnya. Masih tersenyum gaje, Itachi duduk di pinggiran ranjang.

"Uhg!" Erang Itachi merasakan sakit di dada bagian kiri. Nafasnya mulai putus-putus. Pemuda tampan ini terlalu lelah dengan kegiatan yang ia lakukan bersama Sakura. Sebagai penderita 'jantung lemah' Itachi dilarang kelelahan karena akan memengaruhi tekanan jantungnya.

Tenang Itachi. Tarik nafas panjang, hembuskan perlahan... Tarik nafas panjang, hembuskan perlahan... Berulang kali Itachi melakukan pernafasan secara bertahap hingga irama jantungnya semakin normal. Kemudian membuka laci meja di dekat ranjang untuk mengambil beberapa butir obat lalu menelannya bersama beberapa tegukan air putih.

.

.

Enzo mewah menyusuri jalan utama kota Pyongyang dengan kecepatan tinggi. Jarang sekali ia jumpai mobil lain yang melintas. Berterima kasihlah pada pemerintah Korea Utara yang membuat kebijakan 'Mobil hanya diperuntukkan bagi kalangan pejabat pemerintahan dan keluarganya'. Membanting setir ke kanan, mobil pabrikan Italy itu memasuki jalan tanah menuju area hutan. Awalnya terdapat pohon pinus dikiri kanan jalan seolah mnjadi pagar. Semakin masuk ke dalam hutan, berganti jajaran pohon bambu tinggi nan rimbun membuat kesan horor saat melewatinya. Masih dalam kecepatan tinggi mobil mewah ini berbelok ke kiri menyusuri jalanan sempit. Kurang lebih 100 meter dari pohon bambu, mobil tersebut berhenti di depan reruntuhan bangunan.

Kaki putih mulus berbalut sepatu boot hitam dengan tinggi 12 centi mulai menapak tanah setelah pintu mobil terbuka. Dalam balutan dress hitam gothik, sang pengendara keluar dari mobil melangkah menuju reruntuhan di depannya. Mata emeraldnya memandang tajam keadaan di sekitar bangunan.

"Aphrodite!" ujarnya setelah masuk ke dalam. Gadis berparas ayu ini kemudian berdiri di depan boneka berbentuk beruang. Detik berikutnya cahaya biru semacam hologram mulai menganalisis bentuk wajah serta iris matanya.

"Wellcome Aphrodhite, have a nice day!" suara seksi seorang pria keluar dari mulut boneka. Sakura tersenyum kemudian memutar bola matanya pas mendengar akhir kalimat. Have a nice day katanya, gadis berpakaian gothik itu sebenarnya malas datang ke tempat yang disebut sebagai 'Markas' ini. Jika bukan karena perang sialan di negara kecilnya, ia memilih mengisi hari libur dengan hibernasi atau menghabiskan isi dompet Oppa tercintanya.

Suara boneka tersebut menyesuaikan setelan untuk masing-masing personil. Mereka akan mengatur kata sambutan sesuai keinginan masing - masing. Aprodhite misalnya, kata sambutan yang ia inginkan wajar dengan suara seksi pria dewasa. Athena, nama anggota lainnya menyetel suara anak kecil imut dengan sebutan Onne-sama. Lain lagi dengan nama Medusa, maka suara berat pria dengan sesekali desahan akan menyambutnya. Hares, Apollo, disambut dengan suara wanita seksi mendesah-desah layaknya adegan panas di ranjang. Hades, dengan musik bernada lulabi yang isa membuatnya makin terlelap. Dan yang paling mencengangkan sambutan untuk Zeus. "Wellcome dam'n it Zeus. Fucking me hard please!" Tentunya dengan suara seksi dan desahan di akhir kalimat. Sakura sampai geleng-geleng kepala. Sambutan macam apa itu.

Sakura memasang pose keren dengan tangan kanan berkacak pinggang serta dagu terangkat tinggi saat lantai yang ia pijak amblas perlahan ke bawah. Lantai atas tempatnya berdiri tadi sudah kembali menutup begitu Sakura tiba di bawah. Dengan sepatu boot hitam Sakura melangkah anggun keluar dari lift kaca yang membawanya ke bawah. Di hadapannya kini, ruangan bercat putih-silver dengan logo 'Special Scret Agent' terpampang jelas di tengah bangunan.

'Special Scret Agent'. Sebuah Lembaga Militer yang dibentuk secara rahasia. Tidak terdaftar secara resmi dalam pemerintahan bahkan 'Pemimpin Tertinggi' pun tidak mengetahui adanya organisasi semacam ini. Sakura masuk ke ruang rapat. Di dalam sudah ada anggota lainnya. Athena, gadis cantik berambut pirang serta bermata biru. Blasteran Korea - Australia. Lalu Medusa, gadis cantik berpakaian minim dengan rambut merah panjang. Arthemis, gadis berwajah oriental keturunan Cina. Apollo, pria berkulit tan dengan 3 garis tipis di pipinya. Hades, pria berambut model nanas dan mata yang selalu tertutup menahan kantuk. Hares, pria berambut merah yang imut. Terakhir Zeus, pria berambut perak melawan gravitasi yang menjadi pemimpin mereka. Ternyata yang mengikuti rapat hanyalah anggota elit dari agen khusus ini. Rata - rata usia mereka tidak berbeda jauh. Masih anak sekolah atau mahasiswa awal.

"Baiklah, rapat kita mulai!" ucap Zeus setelah duduk di kursi paling ujung, kemudian di ikuti anggota lainnya duduk di sebelah kiri dan kanan mengelilingi meja.

.

.

.

"Sasuke... Lepaskan Sasuke tuan!" teriak seorang wanita di kejauhan.

Sasuke berdiri di kegelapan. Hanya mendengar teriakan, suara gaduh serta pecahan gelas saja tanpa mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya. Sekali lagi kegelapan total menyapa indera penglihatannya.

"Sa Sasuke... Lepaskan adikku tuan!"

"Itachi-ni?"

"Sasuke.. Cepat lari nak!"

"Ka-chan!"

Sasuke semakin panik. Lalu perlahan ia mulai melihat dirinya saat masih kecil dibawa lari sang kakak menerobos pintu gerbang. Tak berapa lama tubuhnya diperebutkan oleh tentara dan sang kakak.

"Hentikan!" teriak Sasuke.

Detik berikutnya tubuhnya sudah berpindah dalam dekapan tentara kemudian membawanya lari menuju ke rumah.

"Hentikan!"

"Lepaskan Sasuke tuan!"

Ibu beserta kakaknya terjengkang akibat dorongan dua tentara lainnya yang tiba-tiba datang.

"Hentikan BRENSEK!"

"Ka-chan... Aniki...!"

.

.

"Hah... Hah... Hah..., BRENSEK!"

Sret...

Bruuagh...

Prank...

Sasuke kalap menggulingkan meja di dekat ranjang dengan sekali sentakan. Mimpi sialan itu lagi. Pemuda tampan ini mengusap wajahnya kasar. Menyembunyikan ketajaman mata oniknya dengan kedua telapak tangan.

"Ka-chan, Itachi-ni... Aku merindukan kalian!"

Tok...

Tok...

"Hm!"

"Permisi tu tuan, satu jam lagi Anda di minta datang ke kantor. Pimpinan ingin bertemu dengan Anda, saya bertugas menjemput Anda!" ujar tentara yang bertugas menjemput Sasuke takut. Dugaannya pria penghuni kamar ini sedang marah. Lihat saja keadaan kamar yang belum 24 jam ditempati sudah seperti kapal pecah.

"Hm!"

"Saya tunggu di lobi Tuan, permisi!" ujar tentara kemudian menutup pintu kamar Hotel Sasuke.

"Dasar brengsek, se-enaknya saja memerintah. Cih jangan harap aku menurutinya. Jika bukan karena mencari Ka-chan dan Itachi-ni sudah kutinggalkan dia sejak dulu!" gerutu Sasuke kemudian bangun menuju kamar mandi. Otak jeniusnya telah menyusun strategi untuk mencari keberadaan dua orang yang ia sayangi.

.

.

Tbc

.

.

Terima kasih kepada para pembaca yang mampir meluangkan waktunya untuk membaca fic abalku ini. Terus senpai yang telah memfav, memfow dan memberikan review cerita ku. Aku sangat menghargainya.

Balesan review

Aegyo Yeodongsaeng

Terima kasih kak dah mengingatkan ku masalah eyd, dan aku juga penggemar korea Selatan apalagi Lee min hoo ( hehe malah curhat). Moga negara Korea damai selamanya dan bisa bersatu seperti Jerman. Terus adegan romance nya, tunggu aja karena aku pun belum memprediksikan mau tak kasih atau gak. a.k.a belum kepikiran. Masih stay adegan Itachi-Sakura sebagai kakak adik.

Luca Marvell

Tunggu aja kelanjutan ceritanya, untuk Itachi-Oppa kemungkinan bisa sembuh, masih kemungkinan loh hehe..

hotmaniez

Aku usahakan ya, chapter selanjutnya lebih banyak word nya...

.

Aku tunggu review selanjutnya...