" HAHAHAH-"

DUAKH!

Bruuugh!

Katsura memegangi kepalanya yang baru saja terkena lemparan panci dari atas. Ia lalu menoleh dan melihat paman dari rumah sebelah yang langsung meneriaki nya dengan kata-kata seperti 'BERISIK!', 'TENGAH MALAM' dan 'ORANG GILA' yang ditutup dengan bantingan jendela setelah sempat meludah kearahnya. Pemimpin Jouishishi itu mengelap ludah yang sekarang bersarang dipipinya dengan sapu tangan. Ia lalu berdiri dari posisi tersungkurnya.

" Aku harus hati-hati... belakangan ini banyak spy Shinsengumi yang mengintai ku, aku merasakannya... orang tadi sepertinya salah satu anggota mereka... benar-benar licik," gumam Katsura sambil memegangi dagunya. Ia lalu melihat panci yang tergeleta di dekat kakinya. Ia mengambil panci itu.

" Hmm... tampaknya tidak ada jebakan di dalam panci ini. Sepertinya ia bukan anggota Shinsengumi. Aku harus mengembalikannya..," kata Katsura sambil kemudian bersiap melemparkannya lagi ke arah jendela.

PRAAAANG!

Jendela itu berhasil pecah. Wajah Katsura memucat, seiring dengan suara langkah yang berat mengarah ke jendela. Hatinya menciut saat ia melihat paman dengan wajah yang berdarah-darah. Sebuah kapak sudah dipegang di tangan kanannya, dan bersiap untuk melempar kapak itu ke arah Katsura.

" Tunggu, paman! Sa.. saya hanya... AAAAAAH!."

.

.

.

Okita Sougo Assasination

Gintama milik Hideaki Sorachi-sensei

Warning!: OOC, Typo's, dll

Aku minta maaf karena tidak sempat mengedit judul di chap pertama, dan tidak menambahkan TBC di bagian bawah ,,.,,

.

.

.

Sougo menguap di depan meja makan sambil mengangkat mangkuk nasinya. Ia lalu mematahkan sumpit kayu dan membaginya menjadi dua. Ruang makan pagi itu terlihat sangat ramai. Banyak anggota Shinsengumi yang sudah menanti sarapan pagi itu dengan tidak sabar. Air liur menetes dari mulut masing-masing saat menu sarapan sajikan di nampan. Latihan pagi ini membuat mereka kelaparan, apalagi jika dipimpin oleh Kondou yang jarang-jarang tidak berpatroli di rumah Otae.

Kondou duduk di depan Sougo sambil membawa sarapan paginya. Seperti Sougo, ia langsung mengangkat mangkuk nasinya sambil memakan nasi suap demi suap.

" Syukurlah kau sudah mulai membaik, Sougo," katanya dengan mulut penuh nasi. Sougo mengangguk. Sampai tadi malam ia memang masih sedikit demam, tapi pagi ini badannya terasa segar. Mungkin karena ia bermimpi membunuh Hijikata sepanjang malam.

Greek!

Kondou menoleh ke arah pintu geser. Ia lalu segera tersenyum kembali saat ia melihat siapa yang datang.

" Oh, Toshi! Selamat pagi!," sapa Kondou sambil sedikit melambaikan tangannya. Ia lalu menggeser duduknya sambil menepuk-nepuk tatami di sebelahnya, mengisyaratkannya untuk duduk di samping sang pemimpin Shinsengumi.

" Pagi, Kondou-san," balas Hijikata sambil sedikit mengucek-ucek matanya. sebelum duduk ia meminta Yamazaki agar membuatkannya kopi. Kantung matanya terihat dengan jelas di bawah matanya yang sedikit lebih sipit dari biasanya.

" Kau terlihat lelah," komentar Kondou yang hanya dibalas dengan anggukan Hijikata. Sebenarnya ia baru saja menjaga Sougo semalam suntuk. Kenapa ia tidak bisa membiarkan anak itu sedikit saja?. Selalu seperti ini. Walau pun mulutnya selalu berkata 'anak seperti itu tidak usah dipikirkan', tetapi kakinya tidak mampu beranjak dari tempatnya berdiri.

" Aku baru saja mengawasi anak anjing yang ada di area Shinsengumi" jawab Hijikata sekenanya. Ia lalu memayonesi kopinya sebelum mulutnya merasakan panasnya minuman itu. Kondou yang mendengarnya hanya tertawa keras sambil menepuk-nepuk punggung Hijikata.

Sementara jauh di depan mereka, Sougo hanya melihat dengan mata yang kosong.

Seluruh perasaannya bahkan tidak mampu keluar dari wajahnya.

" ..aku tidak tahan lagi.."

Perhatian Hijikata dan Kondou segera teralih ke Sougo yang berdiri. Ia bahkan belum menyentuh makanannya, tetapi Sougo sudah membawa nampannya.

" aku sudah kenyang," jelasnya sambil berlalu.

" O- Oi! Sougo!," Hijikata mencoba mengejar Sougo. Ia menahan pundak Sougo sebelum anak itu pergi jauh dari meja makan. Sementara Kondo masih terduduk di belakang meja makan dengan wajah heran.

Gerakan Sougo terhenti.

" Jangan buang-buang makanan mu!," kata Hijikata dengan urat-urat yang sudah kembali timbul di dahi sang oni-fukuchou. Sementara Sougo hanya gemetaran dan terkekeh. Ia membalikkan badannya.

" Jika kau segitu inginnya makan makanan bekas, kau bisa makan punya ku, Hijikata-san," katanya sambil menumpahkan makanan ke depan Hijikata. Setelah menaruh nampannya di atas kepala Hijikata yang masih terkejut, ia pergi dari ruang makan.

Kondou lalu berdiri. Setelah Hijikata sadar, di depannya, sudah ada wajah Kondou yang tersenyum.

" Maa, maa, tidak usah dipikirkan Toshi. Itu salahku karena tidak bisa mendidik anak itu dengan benar setelah Mitsuba-dono tidak ada," Katanya. Ia lalu mengangkat nampan dari atas kepala Hijikata dan membersihkan rambut Hijikata. Sementara Hijikata masih terdiam.

" Belakangan ini tingkah nya sedikit keterlaluan. Mungkin aku akan memperingatinya saat ia pulang nanti," Kondou masih berusaha mencairkan suasana setelah ia sedikit membereskan tumpahan makanan. Sementara Hijikata masih terdiam di tempatnya.

" Toshi?," Kondou mengerutkan keningnya melihat Hijikata yang masih terdiam di tempatnya. Ia lalu menghampiri wakilnya. Biasanya Hijikata tidak akan kepikiran seperti itu jika hanya Sougo, tetapi ada sesuatu yang mengusik pikirannya.

" Wajahnya.." Gumam sang oni-fukuchou.

" Wajahnya?" tanya Kondou, tetapi pertanyaan itu tidak dijawab Hijikata.

Dengan santai Hijikata meninggalkan ruang makan setelah sebelumnya bilang pada Kondou kalau ia ingin mengerjakan laporannya lagi untuk bakufu. Ia tidak ingin repot-repot untuk mengurusi seorang bocah.

Hanya saja ini pertamakalinya ia melihat wajah Sougo yang tidak senang saat membully. Mungkin dibanding senang, wajahnya lebih tidak memperlihatkan ekspresi apapun.

.

.

.

Pagi itu Sougo memutuskan untuk tidur di taman lagi. Moodnya sangat tidak bagus, ia tidak ingin kembali ke Shinsengumi untuk sementara. Ia akan tidur seharian, tanpa patroli, dan..

Baru saja ia berjalan beberapa langkah dari markas, ia melihat Kagura yang berdiri sendirian. Dengan malas Sougo segera memutar badannya. Ia sedang tidak ingin bertarung dengan rivalnya. Tapi langkahnya terhenti saat suara Kagura terdengar memanggilnya.

" Ou! Sadis sialan!."

Dengan malas Sougo memutar kepalanya, melirik ke arah Kagura.

" Ada apa, China musume?," tanyanya. Sougo menghela nafasnya. Kemarin malam ia berurusan sendirian dengan Jouishishi. Pagi ini ia berurusan dengan Hijikata. Dan sekarang ia sedang berhadapan dengan China musume. Ya tuhan, kenapa ia tidak bisa hidup tenang?.

" Apa yang kau lakukan di sini?! Daerah ini sudah menjadi milik Kagura-Hime!," tanya Kagura dilanjutkan dengan tertawaan yang keras. Saat ia sadar Sougo sudah melanjutkan perjalanannya menjauhi Kagura.

" OI!," teriak Kagura.

" Aku ada patroli. Bermainlah dengan dirimu sendiri," kata Sougo sambil tetap berjalan. Akhirnya mata Kagura hanya bisa mengikuti punggung Sougo yang makin jauh.

" Terserahlah. Aku juga sedang tidak ingin melihat mukanya."

Jauh di dalam gang-gang kecil, seorang berambut panjang dan halus menurunkan teropong yang sedari tadi menemaninya untuk memata-matai. Dengan semangat membara, ia tertawa keras.

" HAHAHA! Sasuga leader! Dia berhasil mengusir lawan tanpa membutuhkan banyak waktu! Mungkin lain kali aku akan me..."

" Paman!."

Baju zura terasa di tarik, membuatnya segera menoleh. Ia melihat anak ingusan yang berdiri di sebelahnya.

" Paman mesum, bisakah kau keluar dari tong sampah itu? Aku ingin membuang sampah," tanya anak itu sambil mengelap ingusnya yang makin banyak keluar. Sesekali terdengar bunyi 'SROOOT' yang diikuti gerakan keluar-masuk tidak jelas dari ingusnya.

" Siapa yang kau bilang mesum, Nak?! Cepat pulang dan kembali ke ibumu!," perintah Katsura yang sama sekali tidak digubris oleh anak itu.

" Habis ibu selalu bilang bahwa-SROOOT!-jika aku bertemu dengan seorang paman tua yang membawa sebuah teropong, paman itu pasti mesum," jelas ingusan beranak itu.

" Lebih baik kau pulang, nak," akhirnya, Katsura yang sudah capek pergi dari dalam gang.

.

.

.

BRAAAAKH!

Sougo menoleh kebelakang punggungnya dan melihat sebuah batangan besi jatuh dari atas sebuah gedung jatuh tepat setelah ia lewat. Besi yang digunakan untuk membuat bangunan itu sangat panjang dan bisa menembus tubuh seseorang. Alih-alih merasa lega karena nyawanya selamat, Sougo hanya menghela nafas dan melanjutkan jalan-jalannya. Bukannya ia tidak bersyukur, tapi SETIAP KALI IA MELEWATI GEDUNG, SELALU ADA BESI JATUH DI BELAKANGNYA CIKUSHO!.

Sedikit kesal, Sougo menendang seekor kucing hitam didepannya hingga kucing itu terpental ke tengah jalan. Dan aksi jalan-jalannya terhenti kembali saat tiba-tiba di depannya ada seorang perempuan yang berlari ke tengah lampu mereh dengan seorang laki-laki memakai baju biru di belakangnya yang mengejar, dan tiba-tiba lampu berubah menjadi hijau, dan sebuah truk bermerek J*N berwarna merah menabrak anak itu. Dan ternyata SOUGO ADA DIBALIK KEJADIAN KAGE**U DAZ*!. NOOOOO!.

" Panggilkan Ambulance! Ada anak yang terluka parah disini! Tolong panggilkan ambulance!," beberapa orang sibuk berteriak. Sang sopir truk kabur, sementara sisanya mengerumuni tubuh anak perempuan itu.

Menganggap bahwa dirinya tidak melihat apapun, Sougo kembali melanjutkan patrolinya.

Sementara jauh di atas sana, sebuah matahari, tidak, itu terlalu di atas. Seorang Katsura mengamati keadaan dibawah dan menggigit bibirnya kesal. Tidak ada lagi sisa batangan besi yang bisa ia lempar ke bawah. Ia lalu kembali meneropong Sougo yang berhenti di sebuah toko kue, dan berhenti di sana sedikit lebih lama. Sesaat kemudian Katsura menampilkan seringaiannya, puas karena sudah mendapat ide.

" Paman, Paman mesum..," panggil seseorang di sebelahnya. Katsura lalu menoleh. Ia melihat seonggok ingus yang tepat berada di sampingnya. Sedikit heran dengan transformasi anak itu yang sangat cepat, Katsura masih terdiam. Mungkin anak ini bisa ia jadikan agen rahasia. Mungkin sebenarnya ada bakat tersembunyi yang dimiliki anak itu yang belum disadari Katsura.

" Ada apa, nak?," tanya Katsura. Anak itu lalu menunjuk ke bawah.

" Ibu bilang sebaiknya paman bunuh diri saja," dan anak itu segera meninggalkan Katsura sendirian.

.

.

.

Klining!

" Irrasaimasuu!."

Suara sambutan dari sang penjaga toko terdegar tepat setelah bunyi bel kliningan dari pintu toko terdengar. Sougo berjalan masuk. Saat kembali nanti ia akan minta maaf kepada Kondou-san soal tadi pagi. Ia segera pergi tanpa berpamitan, bagaimanapun Kondou-san sudah terasa seperti otou-san-nya. Dan juga mungkin hari ini ia akan membeli kue untuk anggota Shinsengumi. Haah. Untung ia tidak lupa untuk membawa botol racun sakit perut itu.

" Tuan ingin membeli kue yang mana?," tanya seorang berambut panjang yang lebih terlihat seperti transgender. Kumis si penjaga toko bahkan lebih lebat dibanding kumis napoleon, walaupun ia memakai rok sebagai bawahan. Tangannya kekar. Ia sepertinya juga mantan bintang iklan dilihat dari rambutnya yang halus. Mata Sougo teralih ke nametag yang dipasang di dada rata penjaga toko itu. Nama Zurako tertulis di sana.

" Kau baru bekerja di sini? Zurako-san?," tanya Sougo sambil melihat-lihat.

" Zurako jyanai, Katsura da!," jawab sang penjaga toko sambil berteriak keras. Sougo segera mengangkat kepalanya saat mendengar respon itu. Terjadi keheningan sementara. Sesaat kemudian Zurako menutup mulutnya.

' SHIMATTAAAA!,' teriaknya dalam hati merutuki refleks yang tumbuh berkat Gintoki. Keringat dari dahi Katsura mengalir bebas. Mukanya memucat saat Sougo mendekat untuk memperhatikan wajahnya. Dengan cepat Katsura mundur.

" A... ano.. tuan, saya dilarang untuk menggoda tamu, jadi jika anda tidak keberatan bolehkah anda sedikit..." Katsura mendorong pundak Sougo yang masih maju " Menjauhkan... wajah anda?" pinta Zurako dengan pipi yang memerah padam. TIDAK. Bagi anda yang bertanya apakah ini fanfic terselubung atau tidak, saya menjamin bahwa apapun yang anda pikirkan secara terselubung itu tidak akan masuk ke dalam fanfic ini.

" Sepertinya ada sesuatu di kuping ku yang mengganjal... kukira tadi kau bilang.." Sougo sedikit mengorek kupingnya, tetapi kemudian ia dengan keras menarik kumis di wajah Zurako.

" KATSURAAA!"

Glek!

Katsura menelan ludahnya. Ia lalu segera kabur sebelum bunyi ledakan yang menggelegar memenuhi toko kue itu.

BLAAAAAR!

TBC

.

.

.

YAS

CHAP 2 SELESAI! BANZAAAI!^O^

Tolong tinggalkan saran, kritikan, atau review ya! ^.^