Summary: Uchiha Sasuke adalah seorang CEO di Uchiha Corp. Dia dikenal sebagai seorang yang dingin, dengan aura membunuh dan mulut tajam. Disisi lain dia kaya raya, pintar, mapan dan tampan tentu saja. Tapi diusianya yang sudah 27 tahun, Sasuke masih melajang. Bagaimana jadinya jika dia menerima rencana Itachi untuk berpura-pura menjadi office boy dikantornya sendiri?

.

OB? Office Boss? © Akako OL

.

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

.

Warning: AU, OOC, ide pasaran, miss typo, judulnya aneh, ceritanya mungkin lebih aneh dll.

.

DLDR!

.

.

- Chapter 2: Alasan Penyamaran -

.

.

Malam telah datang. Jutaan bintang telah mampakkan diri bersama dengan sang rembulan. Semilir angin menerpa wajah tampan seorang pemuda yang kini sedang merenung di balkon kamarnya. Tangannya terlipat didada, punggungnya bersandar pada pagar pembatas, kepalanya mendongkak ke langit.

"Kau harus segera mencari calon istri Sasuke,"

Perkataan ayahnya saat makan malam tadi masih terekam jelas dikepalanya. Dia baru berada di Jepang selama dua bulan dan ayahnya menyuruhnya mencari seorang istri, ini benar-benar tak masuk akal.

Selama sembilan tahun di Jerman, dia tidak memiliki satu pun teman dekat wanita. Apalagi di Jepang, dia baru saja kembali ke tanah kelahirannya lalu bagaimana bisa dia mencari calon istri dengan waktu sesingkat itu?

Memang dulu Sasuke tinggal di Jepang sampai sekolah menengah atas, tapi dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Dia hanya berteman dengan Naruto dan Sai, itu pun karena orang tua mereka bersahabat, jadi mereka sedari kecil selalu bermain bersama.

Sasuke menghela nafas. Bagaimanapun juga ia harus sesegera mungkin mencari calon istri jika tidak ayahnya akan menjodohkannya dengan salah satu anak dari kerabatnya. Bukan Sasuke meragukan pilihan ayahnya, tapi Sasuke ingin mencari istri yang benar-benar tulus mencintainya tidak hanya melihat dari marga yang ia sandang.

"Hei Sasuke," suara itu membuyarkan lamunannya. Dia melirik ke arah orang yang seenaknya saja masuk ke kamarnya tanpa izin. "Aku tau kau sedang kesulitan, biarlah kakakmu ini memberimu solusi," lanjutnya.

"Apa maksudmu?" tanya Sasuke dengan dahi berkerut.

Itachi melangkah mendekati Sasuke dan ikut bersandar pada pagar pembatas. "Aku punya ide agar kau bisa menemukan wanita yang benar-benar tulus mencintaimu," ujarnya dengan senyum misterius.

Sasuke hanya diam dan memandang Itachi dengan pandangan penuh tanya dan selidik. "Aku tidak yakin," ucap Sasuke dengan nada meremehkan.

"Kau ini benar-benar tidak tahu diri ya, aku ini ingin membantumu dan kau berbicara begitu, padahal aku belum memberi tahumu tentang ideku. Aku tidak tahu Ibu ngidam apa saat mengandungmu," Sasuke hanya memutar matanya bosan mendengar ocehan kakaknya itu.

"Aku tidak memintamu membantuku," Sasuke melangkah menuju kamarnya dan membaringkan tubuhnya pada kasur. "Keluarlah aku ingin tidur," usirnya disertai kibasan tangan.

Itachi mendengus. "Kau ini benar-benar adik durhaka. Aku akan mengutukmu," ucapnya. "Baiklah karna aku baik hati kita akan membicarakannya besok pagi, selamat malam adikku yang manis," bersamaan dengan berakhirnya kalimat itu, pintu kamar Sasuke tertutup sempurna.

"Baka," Sasuke merinding mendengar kalimat yang Itachi ucapkan. Ia akan mendapatkan mimpin buruk sepertinya.

.

.

.

Sudah lebih dari tiga puluh menit Sasuke merenung di ruang kerjanya. Pekerjaan yang sebelumnya ia kerjakan kini dibiarkan saja di atas meja. Dia benar-benar sulit berkonsentrasi. Saat sarapan tadi, ayahnya berkata kalau ia hanya memberi Sasuke waktu enam bulan untuk mencari calon istri.

Sasuke melempar asal bolpoin yang ia pegang. Ia memijat kepalanya perlahan. Ia tidak mengerti dengan pemikiran ayah dan ibunya. Kenapa mereka begitu memaksanya untuk segera mencari istri, padahal kakaknya saja belum menikah padahal umurnya sudah menginjak kelapa tiga.

Enam bulan adalah waktu yang singkat untuk mencari cinta sejatinya. Sasuke tidak mau menikah dengan sembarang orang, dia hanya mau menikah sekali dalam seumur hidupnya. Karena itu, dia tidak ingin asal mencari calon istri.

'Tok... Tok... Tok...'

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Sasuke hanya berkata masuk, kemudian pintu terbuka.

"Selamat siang Sasuke-sama, tuan Shimura Sai dan tuan Uzumaki Naruto ingin bertemu dengan anda," ujar seorang wanita berambut indigo.

"Suruh mereka masuk, Hinata," Hinata hanya mengangguk dan kemudian menutup kembali pintu ruangannya.

Tak lama setelah kepergian Hinata, pintu ruangan Sasuke terbuka kembali. Dua orang pria masuk dengan senyum yang menurut Sasuke sangat aneh.

"Apa-apaan dengan muka kalian itu?" tanya Sasuke ketus. Dia yakin berita tentang dirinya sudah dobocorkan oleh kakaknya.

"Kau tidak mempersilahkan kami duduk? Kejam sekali kau Teme," Sasuke hanya memutar matanya dengan kelakuan aneh sahabat pirangnya ini.

"Kenapa kalian kemari?" tanya Sasuke lagi.

"Begini, aku dan Sai ingin membantumu mencari calon istri, aku punya banyak kenalan wanita, dan aku yakin tak ada satupun yang akan menolakmu," terang pria pirang tadi, Naruto. "Benarkan Sai?" orang yang dipanggil Sai hanya mengangguk.

"Tidak mudah itu Dobe," Sasuke menghela nafas. "Aku menginginkan orang yang benar-benar tulus mencintaiku," lanjutnya.

"Kau ini kuno sekali sih," ledeknya. Dan dihadiahi tatapan tajam dari Sasuke. "Dengar... Kau ini tampan, walau aku berat mengatakannya... Tapi serius. Kau tampan, kaya raya, karirmu bagus, kau juga jenius hanya wanita bodoh saja yang akan menolakmu," jelas Naruto. "Mungkin jika aku menjadi wanita, aku juga akan menjadi salah satu dari fansmu," lanjutnya disertai cengiran andalannya.

Sasuke hanya begidik dan menatap Naruto dengan tatapan horror. Sedangkan Sai hanya tertawa melihat kebodohan Naruto.

"Kau menjijikan Naruto," Sasuke mendengus.

"Aku serius bodoh! Kau cobalah berkencan dengan beberapa wanita, kau boleh memilih temanku atau temannya Sai," ucap Naruto.

"Aku tidak yakin," tolak Sasuke. "Itu tidak akan berjalan dengan baik,"

"Lalu apa kau punya ide Sasuke?" Sai akhirnya buka suara.

"Tidak,"

"Aku tidak terlalu paham soal cinta," ucap Sai.

"Lalu bagaimana kau bisa berhubungan dengan si Yamanaka itu?" tanya Sasuke sarkastik.

"Aku hanya tertarik padanya,"

"Aku tidak yakin. Bagaimana mungkin kau hanya tertarik padanya tadi aku memergoki kalian berciuman di parkiran?" ejek Naruto.

Sai hanya mengangkat bahunya acuh. "Bukan urusanmu," ucapnya. "Ah iya, waktu itu Ino pernah bercerita padaku, dulu juga dia sempat menyukaimu saat sekolah dulu, dan dia pernah bertengkar dengan sahabatnya karna memperebutkan dirimu," lanjutnya.

"Aku tidak ingat pernah satu sekolah dengan dia," dahi Sasuke mengkerut.

"Aku juga, dia bilang kita satu sekolah saat sekolah menengah pertama," ucap Sai. "Aku mengetahuinya setelah kita bercerita tentang masa lalu. Dan aku dengar dari Ino, kalau sahabatnya itu masih mencintaimu sampai sekarang," lanjutnya.

"Siapa namanya? Apa kau punya fotonya Sai? Apa dia cantik?" tanya Naruto bersemangat. "Ngomong-ngomong, sekretaris barumu cantik juga Sasuke," Sasuke hanya memutar bola matanya.

Sai mengeluarkan ponselnya, "Namanya Sakura, dan dia bekerja disini," kemudian Sai menunjukan foto Ino bersama dengan seorang wanita berambut pink sebahu.

"Wah dia cantik juga Sasuke. Dan sepertinya wajahnya sangat familiar, aku rasanya sering melihatnya," ucap Naruto.

'Cklek'

Pintu terbuka, seluruh perhatian ketiga pria tadi terfokus pada orang yang kini berjalan mendekati mereka bertiga.

"Sepertinya aku terlambat," ucapnya.

"Kenapa kau juga kemari sih Itachi?" tanya Sasuke ketus.

"Aku akan membantumu Sasuke, dan aku yakin ini akan berhasil," Itachi duduk di bangku yang kosong. " Kalau kau ingin menemukan cinta sejatimu, kalu harus merubah penampilanmu," lanjutnya.

"Maksudmu?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya.

"Katanya kau ini jenius, kok aku tidak yakin ya," ledek Itachi.

Sasuke mendengus dan menatap Itachi tajam. "Kalau kau hanya ingin memancing emosiku, pintu keluarnya ada disebelah sana," Sasuke menunjuk pintu ruangannya. Dia kesal dengan kakaknya ini.

"Tenanglah, aku hanya bercanda. Baiklah, aku akan memberi tahu kalian rencanaku,"

.

.

Dan berakhirlah pada kondisi Sasuke yang sekarang. Dia rela menjadi Office Boy hanya untuk mendapatkan cinta sejatinya. Sebenarnya dia juga tidak yakin dengan hal ini. Tapi dengan iming-iming dari Itachi dia berubah pikiran. Memang benar dia belum tentu bisa mendapatkan contanya, tapi dia bisa melihat kelakuan karyawannya saat dia tak ada. Dia mungkin akan memberi peringatan dan jika benar-benar parah mungkin dia akan memecat beberapa karyawan yang menurutnya tidak layak.

"Kau melamun," seseorang menepuk pundak Sasuke. "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyanya.

"Tidak ada," jawab Sasuke.

"Benarkah? Kau bisa bercerita padaku. Ngomong-ngomong, kau baru ya. Aku Shion," Shion tersenyum dan mengulurkan tangannya.

"Aku tak apa. Kau bisa memanggilku Sasugawa," ucapnya, diikuti dengan jabat tangan singkat.

"Aku kemarin tidak masuk, jadi kau pasti tidak mengenaliku," jelasnya. Dan Sasuke hanya mengangguk. "Aku harus bekerja lagi, sampai jumpa," Shion melambai dan segera melangkah meninggalkan Sasuke.

Sasuke pun segera bergegas karna sekarang dia harus melaksanakan tugasnya. Dia mengambil alat pel dan berjalan menuju tempat yang harus dia bersihkan.

Waktu menunjukan pukul tujuh lebih dua puluh. Hari ini Sasuke mendapat giliran untuk mengepel lantai, jadi dia datang pagi-pagi sekali, karena semua ruangan harus bersih sebelum karyawan tiba. Dan Sasuke beruntung hanya mengepel tiga ruangan saja, karena memang di lantai dua belas paling sedikit ruangannya.

Sasuke berjalan menuju ruang meeting. Jujur saja dia belum pernah mengepel lantai, dia bingung bagaimana caranya. Jika ia bertanya pada OB yang lain, itu sama saja dengan menggali kuburannya sendiri. Penyamarannya akan terbongkar. Dia menyesal tidak mempersiapkan segalanya secara matang. Dan ini semua berkat kakaknya yang pintar itu.

"Sasugawa?" panggil seseorang yang ia kenal sebagai Shion. "Ada apa? Aku pehatikan kau dari tadi melamun. Apa kau kurang sehat? Biar aku saja yang mengepel kalau begitu," Shion merebut gagang pel yang dipegang oleh Sasuke.

"Tak apa biar aku saja," tolak Sasuke.

"Sudahlah, kau pel saja ruang milik Sasuke-sama, walau dia tidak akan datang tapi Itachi-sama akan datang menggantikannya. Kau ambil lap pel khusus untuk ruangan milik Sasuke-sama," jelasnya.

"Baiklah, maaf merepotkanmu," Sasuke segera pergi setelah mendapat anggukan dari Shion.

Sasuke bisa bernafas lega. Untung saja ada Shion yang mau membantunya, dan soal masalah ruangannya Sasuke putuskan untuk tidak mengepelnya, toh ruangannya tidak kotor sama sekali. Biarlah sekali-kali ruangannya tidak dipel, lagipula sekarang yang akan mendiami ruangannya kakaknya. Sasuke tau dia lalai, tapi dia benar-bemar tidak bisa mengepel, daripada dia membuat kekacauan lebih baik dia diam saja.

'Bruk'

Karena terlalu Sasuke terlalu sibuk dengan pikirnnya, dia menabrak orang ketika meleati tikungan. Dan pakaiannya kini terkena noda kopi hitam yang dibawa oleh orang yang ia tabrak.

"Astaga, Sasugawa-san maafkan aku. Aku tidak melihatmu, ayo kita ke toilet aku akan membersihkan pakaianmu," orang yang ditabraknya itu menarik tangannya.

"Tak apa ini salahku, karena aku tidak melihatmu tadi," ucap Sasuke. Tapi orang yang ia tabrak mengabaikannya, dia terus menarik tangan Sasuke sampai toilet.

"Sekali lagi maafkan aku ya," orang itu mengamb tisu dan membasahinya dengan air lalu mengusap-usap pakaian Sasuke yang terkena tumpahan kopi tadi.

"Sudahlah nona," tolak Sasuke. Dia tau ini akan percuma saja, nodamya tidak akan hilang secara sempurna. Lagipula memikirkan masalah yang akan terjadi karna mereka berduaan di toilet.

"Sudah kubilang panggil aku Sakura. Ini tidak bisa hilang, aku lepaskan dulu ya pakaianmu," Sakura membuka kancing kemeja Sasuke. Sasuke hanya bisa melotot.

"Hei apa uang kalian lakukan?" seseorang masuk ke dalam toilet. Dan sasuke mengenali wanita itu, dia Karin. "Kalian mau berbuat hal mesum hah? Akan aku laporkan pada Itachi-sama," ancamnya. Mata Karin memandang remeh Sasuke dan Sakura.

"Ini tidak seperti yang kau pikirkan Karin, aku mohon jangan laporkan aku pada Itachi-sama," Sakura menahan tangan Karin yang hendak pergi.

"Lepaskan, aku sudah memotretnya dan aku akan menyebarkannya," Karin menepis kasar tangan Sakura, dan segera pergi meninggalkan Sakura.

"Bagaimana ini Sasugawa-san, bagaimana kalau aku dipecat?" Sakura panik dan hampir menangis.

"Kau takkan dipecat percayalah," Sasuke mencoba menenangkan Sakura. "Kau tidak bersalah,"

.

.

Tidak sampai dua jam, berita tentang tentang Sasuke dan Sakura menyebar. Sasuke mendapat serangan pertanyaan dari teman-teman sesama OB. Sasuke sudah lelah menjawabnya. Baru dia bekerja selama dua hari, masalah sudah mulai bermunculan.

"Sungguh tidak terjadi apa-apa, dia hanya memberaihkan pakaiamku yang terkena tumpahan kopi," jelas Sasuke malas.

"Kenapa kau bisa dekat dengan Sakura? Apa kalian berpacaran Sasugawa?" tanya pria berambut putih dan memiliki gigi seperti hiu.

"Tidak, kami tidak dekat dan tidak berpacaran. Bisakah kita hentikan pecakapan membosankan ini?" Sasuke benar-benar sudah kesal sekali.

"Benar juga sih. Sakura kan suka pada Sasuke-sama," ucap pria berambut putih tadi.

"Kau tau darimana Suigetsu?" tanya Shion antusias, padahal sedaritadi dia hanya diam saja tak berkomentar apa-apa.

"Itu mudah sekali, semua wanita pasti mengincar Sasuke-sama. Hanya orang bodoh yang tidak mau dengannya," sambar Tayuya.

"Lalu kau? Apa kau menyukainya, Tayuya?" tanya Jirobou.

"Ya, tapi aku cukup tau diri dengan kondisiku," jawabnya.

"Kau tak perlu bersedih, kau bisa bersamaku kan?" goda Suigetsu.

"Aku tidak tertarik dengan pria mata keranjang sepertimu," ejek Tayuya, kemudian dia melongos pergi.

"Eh Sui kau belum menjawab perkataanku," ucap Shion.

"Ah itu, saat aku bersih-bersih aku tidak sengaja menemukan foto Sasuke-sama di meja Sakura," jawab Suigetsu.

"Sepertinya Sakura benar-benar menyukai Sasuke-sama," Shion memperbaiki posisi duduknya. "Dan kupikir mereka cocok," lanjutnya.

"Menurutku Sasuke-sama lebih cocok dengan aktris atau model, biar Sakura untukku saja," ucap Suigetsu.

"Kau tidak pantas bersama Sakura, dia sangat baik. Dan ketika mendengar berita ini aku kaget setengah mati,"

"Kau benar Jirobou, Sakura itu baik sekali. Makannya aku tak percaya dengan berita tadi," ujar Shion membenarkan.

"Sasugawa, kau dipanggil Itachi-sama ke ruangannya," Tayuya kembali ke pantry dengan membawa baki yang berisi gelas kosong. "Tenang saja Itachi-sama tidak semenyeramkan Sasuke-sama," lanjutnya.

Sasuke hanya mengangguk dan segera pergi menemui Itachi.

"Semoga beruntung Sasugawa,"

.

.

Sasuke mengetuk pintu ruangannya. Dia merasa konyol, karena dia harus mengetuk dulu pintu ruangannya sebelum masuk. Terdengan suara persetujuan dari dari dalam, Sasuke membuka pintu dan segera masuk.

"Bisa kau jelaskan apa maksud dari foto ini?" Itachi menyodorkan foto di ponselnya. Ia melipat tangannya didada. "Kau pikir kau bisa melakukan hal seenaknya seperti ini dikantorku?" lanjutnya.

Sasuke hanya memutar bola matanya. "Apa maumu?" tanyanya ketus.

"Aku ini atasanmu Sasugawa, kau ingin aku pecat?" Itachi berdiri dari kurisinya dan berjalan ke arah Sasuke.

"Terserahlah. Cepat katakan apa maumu?"

"Kau ini menyebalkan sekali sih. Aku kan sedang beperan sebagai bos, harusnya kau menurutiku," Itachi bersandar pada meja kerjanya. "Bagaimana ini bisa terjadi? Takku sangka si pinky ini agresif juga,"

"Aku menabraknya, kopinya tumpah mengenai bajuku dan dia mencoba membersihkannya. Itu saja, aku sudah bosan mengulang kata-kata ini," Sasuke mendengus.

"Alasan klasik," ejek Itachi sembari menyeringai.

"Sudahlah Itachi aku benar-benar lelah. Kau urus semuanya agar kembali normal," Sasuke pergi meninggalkan Itachi yang melongo ditempat.

"Anak itu benar-benar," Itachi hanya menghela nafas dan kembali duduk dikursinya.

.

.

.

Sudah satu jam Sakura menunggu ayahnya yang katanya akan menjemputnya. Parkiran juga sudah mulai sepi. Kenapa hari ini begitu buruk. Kejadian tadi pagi membuatnya tidak bisa tenang bekerja. Bisikan-bisikan dari rekan kerjanya yang membuatnya tidak nyaman. Ditambah lagi dengan hinaan Karin dan teman-temannya, membuatnya tambah pusing. Dia ingin menangis, tapi sedari tadi dia tahan.

Bunyi getaran ponselnya membuyarkan lamunannya. Dia segera mengambil ponsel dari tasnya. Ternyata ada pesan masuk, segera saja dia buka.

From: Ayah

Maaf Sakura ayah tidak jadi menjemputmu, ayah tiba-tiba ada urusan. Kau pulang sendiri saja. Lagipula calon suamimu yang akan datang kerumah, kita tidak jadi makan malam diluar. Segeralah pulang, jangan buat dia menunggu.

Sakura menghela nafas. Lututnya lemas, hari ini benar-benar buruk. Sia-sia saja dia menunggu selama satu jam, Sakura benar-benar ingin menangis. Dia benar-bemar lelah dengan hari ini. Dengan langkah gontai Sakura berjalan meninggalkan gedung kantornya.

Baru beberapa langkah, dia mendengar suara mesin sepedah motor. Dia menengok kebelakang. Dia melihat Sasugawa sedang menggendarai motor menju ke arahnya.

"Kau belum pulang?" tanya Sasugawa.

Sakura hanya menggeleng lesu. "Seharusnya ayahku menjemputku, tapi dia ada urusan. Ah ya, bagaimana dengan masalah tadi?"

"Tidak masalah. Kau bagaimana?"

"Aku hanya mendapat masalah kecil," Sakura tersenyum walau terlihat dipaksakan.

"Masalah dari Itachi?"

"Hei kau harus memanggilnya Itachi-sama, ini masih di lingkungan kantor," tegur Sakura.

"Itu tidak penting, jadi benar kau mendapatkan masalah dari dia?" Sasugawa bertanya tak sabaran.

"Tidak. Bukan dari Itachi-sama, tapi dari teman-temanku. Sudahlah itu tidak penting. Ngomong-ngomong kenapa kau selalu pulang terlambat?"

"Aku harus mengerjakan beberapa pekerjaan dulu. Kau mau kuantar mencari angkutan? Ini sudah terlalu malam untuk berjalan sendirian," tawar Sasugawa.

Sakura mengangguk dan tersenyum. "Maaf aku selalu merepotkanmu, dan maaf untuk kejadian tadi pagi,"

"Hn,"

.

.

.

Sakura merenung dikamarnya. Malam ini orang yang akan dijodohkan dengannya akan datang. Dan dia tidak bisa menolaknya. Dia benar-benar bingung. Dia dua memiliki orang yang dicintai. Dan dia sudah lama sekali mempertahankan perasaan itu walau sang pujaan hati tidak pernah meliriknya.

"Sasuke-kun," gumamnya rendah. Setetes air mata jatuh dari matanya.d ia menangis.

Pintu terbuka namun dia hiraukan. Dia terlalu lelah bahkan hanya untuk melihat siapa orang yang masuk ke kamarnya.

"Sakura, tamu kita sudah datang. Ayo turun," ajak sang ibu.

"Apakah kita tidak bisa membatalkannya?" tanya Sakura lirih.

"Aku tau kau kuat Sakura," sang ibu memeluk Sakura, dan Sakura menangis dipelukannya.

"Sudahlah Sakura, hapus air matamu. Temui dulu tamunya, soal hasil akhir kita pikirkan nanti," Sakura hanya mengangguk dan segera menghapus air matanya.

"Sini biar ibu rapihkan sedikit riasan wajahmu," ibu Sakura mengambil bedak dan lipstik untuk memperbaiki riasan wajah Sakura. "Selesai... Kau cantik sekali," puji sang ibu. Akhirnya mereka berdua turun ke ruang makan.

Di ruang makan sudah ada ayah Sakura dan sorang wanita yang Sakura pekirakan berumur tujuh puluh tahun dan disebelahnya ada seorang pemuda berambut merah sedang berbincang dengan ayahnya.

Sakura membulatkan matanya saat pandangannya bertemu dengan pria berambut merah. "Gaara," gumamnya.

Dan pria itu hanya tersenyum tipis.

.

.

.

TBC

Maafkan saya karna apdetnya lama :') semoga masih pada nungguin fic ini

Maaf juga kalau di chapter ini belum bikin kalian puas maaf juga kalau ada typo yang keselip maaf kalau masih kurang panjang

Maaf juga belum bisa balesin reviewnya satu-satu, tapi saya udah baca kok.. nanti jika ada kesempatan saya balas ya

Terima kasih untuk yang mau baca, review, follow & fav di fic ini. Fic ini masih jauh dari kata sempurna, semoga saya bisa terus belajar supa kedepannya lebih baik lagi. Sekali lagi terima kasih banyak buat yang udah mau baca fic ini

Loph yu~~ unch :*