Secret
Cast : Chanyeol, Baekhyun (GS), Seulgi
Rate : T
Genre : Angst, Romance
Chapter 2
Disinilah ia sekarang. Di dalam kamarnya, sendirian. Laptop di depannya menyala dan gadis itu masih terfokus mengetikkan kata demi kata yang ada di pikirannya – setidaknya sampai ponselnya berbunyi. Baekhyun melirik ponselnya dengan malas, sebelum akhirnya ia meraih ponsel tersebut dan melihat nama Sehun tertulis di layarnya.
"Halo."
"Kau curang, Jongin brengsek! Seharusnya – oh sebentar, pause dulu gamenya, teleponku sudah dijawab."
Baekhyun menghela napas. Sudah beberapa kali Sehun meneleponnya dan hal seperti ini sudah sering terjadi. Saat itu Baekhyun menebak bahwa si pengangguran itu sedang bermain game dengan Jongin di rumahnya. Oke, mari kita luruskan. Sebenarnya mereka – Sehun dan Jongin tidak benar-benar pengangguran. Mereka berdua masih menyandang gelar mahasiswa dan mereka bersahabat. Tidak ada satupun fakta yang menarik dari mereka bagi Baekhyun, kecuali bahwa mereka adalah sahabat Park Chanyeol juga.
"Hai, Baek. Sedang sibuk?" Sehun melanjutkan pembicaraannya, kali ini benar-benar tertuju pada Baekhyun.
"Tidak terlalu, ada apa meneleponku?"
"Hey, Jongin bisakah kau mengambil remotenya dan mengecilkan suara televisi bodoh itu? Aku tidak bisa mendengar suara Baekhyun. Ah, tadi kau bilang apa, Baek?"
Sejak saat ini Baekhyun memutuskan bahwa menerima telepon dari Sehun bisa sangat melatih kesabarannya.
"Ada apa meneleponku? Sekali lagi berbicara pada Jongin, aku akan menutup teleponnya."
"Hei, kau tega sekali pada adikmu yang tampan ini."
Baekhyun tidak bisa menahan tawanya. Berbicara dengan Sehun memang mengesalkan, namun sesungguhnya ia dan Jongin adalah anak yang lucu, dan kata-kata Sehun barusan adalah kenyataan. Ya, Baekhyun akui ia memang tampan. Namun sepertinya ia harus memperbaiki otaknya sedikit.
"Baek, ayo kita bertemu."
Laptop yang masih menyala di depan gadis itu seakan-akan berteriak 'pekerjaanmu belum selesai, nona'. Tapi ia mengabaikannya. Bertemu dengan Sehun sepertinya bukan ide buruk, ia butuh hiburan saat ini.
"Baiklah, bagaimana jika sambil makan siang? Kita bisa bertemu di restoran biasa."
"Ide bagus. Kau ingin aku mengajak Jongin atau…"
"Terserah kau saja. Sampai nanti!"
Baekhyun memutuskan teleponnya lebih dulu, dan itu sudah menjadi kebiasaannya. Ia segera mematikan laptopnya dan bersiap-siap untuk berangkat, ketika tiba-tiba seorang gadis masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu. Gadis itu langsung melemparkan tas dan kunci mobilnya ke atas kasur Baekhyun.
"Baekhyun! Ini hebat, dia kelihatannya sangat menyukai sandwich buatanmu. Kau mau kemana?"
"Seulgi, bisakah kau mengetuk pintu dulu? Aku hampir saja tertangkap basah sedang tidak memakai baju. Itu bagus. Aku akan pergi makan siang dengan temanku, kau mau ikut?"
Seulgi sedang dalam mood yang baik saat ini, sehingga ia langsung meraih kembali kunci mobilnya dan menawarkan tumpangan.
"Aku tidak mau mengganggu acara makan siangmu dengan temanmu, tapi aku akan mengantarmu. Kurasa aku akan makan siang di restoran dekat kantor Chanyeol, siapa tau kami bisa bertemu lagi."
Baekhyun memaksakan senyumnya. "Baiklah, terserah kau saja. Ayo berangkat."
.
.
.
.
Diluar dugaan, saat ini Sehun dan Jongin telah sampai lebih dulu dan mereka menunggu Baekhyun di luar restoran. Setelah sebuah mobil berhenti di depan mereka dan Baekhyun keluar dari dalam mobil itu, Jongin melambaikan tangannya. Lain halnya dengan Sehun – ia tengah memperhatikan perempuan yang duduk di bangku kemudi. Perempuan itu sempat membuka kaca dan tersenyum, hingga akhirnya ia melajukan mobilnya pergi dengan kecepatan sedang.
"Siapa perempuan itu? Wajahnya kelihatan familiar", tanya Sehun begitu Baekhyun menghampiri mereka.
"Sahabatku, namanya Seulgi. Wah, ternyata kalian datang lebih cepat dariku."
"Tentu saja, kami sudah siap ditraktir."
Kalimat Jongin barusan sukses membuat Baekhyun mendaratkan pukulan di lengannya, dan Sehun menertawakan sahabat yang menurutnya bodoh itu. Padahal faktanya, mereka berdua sama saja.
Mereka bertiga masuk ke dalam restoran dan mulai memesan makanan untuk makan siang mereka. Jongin memesan paling banyak. Dua orang lainnya meragukan apakah Jongin dapat menghabiskan sendiri makanan yang ia pesan tanpa muntah di toilet restoran, atau mencurigai Jongin yang diam-diam menjadi kuli bangunan. Namun kenyataannya, Jongin hanya kelaparan dan Baekhyun yang traktir. Hal seperti ini harus dimanfaatkan, pikir Jongin.
"Bagaimana kabar kalian?" Baekhyun memulai pembicaraan.
"Wow, tidak perlu berbasa-basi menanyakan kabar kami, Baek. Jelas-jelas kau sudah lihat sendiri kalau kami baik-baik saja. Mungkin kau harusnya menanyakan kabar Chanyeol."
"Telan dulu makananmu, bodoh." Itu adalah ucapan Sehun. Kalian bisa menebak siapa yang dimaksud dengan 'bodoh'.
"Bisakah kita tidak membicarakan tentangnya? Dan bisakah kalian juga tidak membicarakan tentangku di depannya?"
Jongin mengangguk-anggukan kepalanya sambil tetap mengunyah. "Apapun maumu, aku tidak mau ikut campur dengan hubungan kalian."
Terlalu banyak kebohongan yang keluar dari bibir Baekhyun. Pertama, ia masih mencintai Chanyeol. Kedua, ia akan sangat senang kalau saja Sehun dan Jongin membicarakan tentang Chanyeol di depan Baekhyun, karena demi apapun di muka bumi ini – ia sangat merindukan sosok itu. Bohong jika Baekhyun membencinya, bohong jika Baekhyun tidak ingin bertemu lagi dengannya. Ia bukannya tidak ingin, namun ia tidak bisa.
Flashback
"Aku tidak punya alasan. Tiba-tiba saja aku merasa bosan, aku merasa lelah denganmu, dan aku bosan. Bisa aku minta hadiah natalku untuk tahun ini sekarang? Tolong jangan pernah temui aku lagi, jangan pernah hubungi aku lagi, dan ayo kita berpura-pura tidak pernah mengenal sebelumnya. Selamat natal, Chanyeol."
Semua kalimat itu diucapkan Baekhyun dengan cepat dan jelas, sebelum akhirnya ia mengukir senyuman kecil di bibirnya dan melangkahkan kakinya pergi dari sana. Pergi menjauh dari Chanyeol selamanya. Inilah akhirnya, namun sesungguhnya bukan akhir yang diinginkan oleh gadis itu. Semakin jauh ia melangkah, air matanya pun tak mampu ia bendung lagi. Ingin rasanya ia berlari kembali menghampiri Chanyeol, menarik semua kata-katanya tadi dan memeluk kekasihnya itu – namun itu semua tidak mungkin.
Langkah kaki Baekhyun terhenti di depan pintu apartemennya. Rasanya hari ini sudah cukup baginya untuk merasa hancur seperti ini. Ia hanya ingin masuk ke dalam kamar, membungkus tubuhnya di dalam selimut tebal dan mungkin ia akan menangis semalaman. Tapi nampaknya semua itu belum bisa ia lakukan sekarang. Ketika ia membuka pintu apartemenya, matanya segera menangkap sosok gadis yang sangat familiar baginya.
"Kau sudah pulang, Baekhyun, selamat natal! Bagaimana dengan hadiah natalku?" ucap gadis itu sembari menyodorkan sebuah kotak yang dihias pita merah sambil tersenyum.
"Kau akan segera mendapatkan hadiah natalmu. Aku sudah memutuskan hubunganku dengannya."
Tanpa Baekhyun sadari, senyum gadis itu mengembang setelah mendengar kalimat barusan. Ia merasa puas.
"Hadiah natal terbaik. Kau memang sahabatku."
Bersambung
A/N : Tolong tinggalin review kalian ya, kritik dan saran yang membangun. Jangan jadi secret reader T_T
Thanks before!
