Title : Haru Haru

Chapter : 2 – Love

Genre Romance/yaoi, angst, tragedy

Rating : T

Cast :

Kim Jongin a.k.a Kai EXO

Byun Baekhyun EXO

And other cast

-oOo-

Annyeong!

Author kembali membawa kelanjutan kisah cinta KaiBaek yang ditentang ama Kris… u,u

Author bersyukur yah masih ada ajah orang yang mau baca ff nista bkinan author ini, sekali lagi deepbow ne~ *bow *bow *bow

Kemaren readersnya pada bilang banyak typo yak? Ngehehehehe, mianhae, author kurang konsentrasi + lagi sakit jadinya banyak typo, maklum ya T^T *bow sambil mewek*

Dan kemaren berhubung ada yang tanya bukan plagiat, iye beneran ciyus deh ini bukan plagiat tapi versi yaoi aja, diedit lagi, dan jadilah… JENGJENG~

FF KAIBAEK! :D

Yang penuh typo =='v *peace*

DAN BERDASARKAN VOTE~ *ehem ehem* author putuskan ff ini TETAP YAOI! :D *tebar pita (?)* *tiup trompet*

Yaudah sekali lagi terima kasih atas perhatiannya (?) dan semoga yang chapter ini typo-nya makin sedikit ( ._.) ehehehehehe xDa

Okelah karena sudah kebanyakan pembukaan, mendingan kita simak saja deh kelanjutannya, happy read ^^

-oOo-

'Cause there's something in the way, you look at me…

It's as if my heart knows you're the missing piece…

You make me believe that there's nothing in this world I can't be…

I'd never know what you see, but there's something in the way…

You look at me…

-oOo-

Baekhyun membaca tulisan yang ada di notebook coklatnya, kemudian melanjutkan menulisnya. Sampai saat ini tidak ada satupun orang yang mengetahui isi notebook coklatnya, bahkan tidak juga Kris. Kris hanya tahu kalau namja cute itu suka menulis catatan di notebook coklatnya itu, karena Kris tahu Baekhyun memang suka menulis dan menggambar, maka ia memberikan notebook coklat itu sebagai hadiah ulang tahunnya yang kesembilan.

Setelah puas menulis, namja sipit itu memasukkan notebook coklatnya ke kotak notebook berwarna coklat muda yang senada dengan warna notebooknya. Ia juga meletakkan ballpoint cream-nya yang merupakan pasangan dari notebooknya dan ia mengambil sesuatu dari kotak itu. Benar, jepit rambut hitamnya.

Sejak benda kecil itu diberikan padanya, ia menyimpan jepit rambutnya di kotak itu, tanpa ada yang tahu kalau ia menyembunyikannya disana. Tanpa rasa malu, ia memakainya di sebelah kanan lalu berkaca di cermin meja riasnya yang ada di kamarnya. Ia tersenyum tipis. Tak lupa ia membenahi dasi ungu dan kemeja putihnya, lalu memakai eyeliner tipis dan sedikit lipgloss strawberry di bibir mungilnya.

Setelah selesai dengan dasi ungu muda dan kemeja putihnya, ia mengambil blazer ungu yang menjadi seragam sekolahnya itu, lalu merapikan celana hitamnya dan segera turun ke bawah. Tampak jelas Kris dan seorang namja berambut hitam sedang memanggang roti dan menyiapkan susu. Salah satu susunya tentu susu strawberry.

"Annyeong, whoa hyung iparku pagi-pagi sudah kemari," kata Baekhyun sambil tersenyum. Ia menuruni tangga dengan hati-hati, kemudian duduk di kursi meja makan. Namja yang dipanggil hyung ipar itu tersenyum, menampilkan raut wajahnya yang tampan. Wajahnya begitu lembut dan ramah, berbeda jauh dengan Kris yang stoic, dingin, dan berkharisma.

"Hahaha, rupanya dongsaeng iparku ini mulai suka berdandan ya. Lihatlah, ia begitu imut," puji namja itu. Baekhyun meringis sementara Kris malah tertawa mengejek.

"Hahahaha, Suho-ya jangan kau puji dia. Bisa-bisa dia besar kepala kalau kau puji," kata Kris kepada namja bernama Kim Joonmyeon atau yang biasa dipanggil Suho itu. Baekhyun mengerucutkan bibirnya sementara Suho yang notabene adalah namjachingu Kris tersenyum simpul.

"Sudahlah Kris, kau ini jangan mengejeknya. Lihatlah, dongsaengmu ini sudah remaja, malahan sudah dewasa. Usianya sebentar lagi delapan belas tahun kan? Wajar saja kalau ia sudah bisa berdandan modis dan kyeopta," kata Suho lagi sambil merapikan rambut Baekhyun yang kurang rapi. "Sudahlah daripada berdebat lebih baik kita sarapan saja, lalu berangkat sekolah."

"Khajja, aku sudah lapar," kata Baekhyun yang langsung duduk di depan meja makan dan langsung meminum susu strawberry-nya. Kris hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat nafsu makan dongsaengnya yang semakin hari semakin besar namun tubuhnya tak semakin gemuk, yang ada malah semakin kurus seperti itu.

"Dongsaengku memiliki naga di perutnya sehingga mudah lapar. Ckckckck," ujar Kris sambil mengacak rambut Baekhyun dengan lembut. Baekhyun cuek saja, ia memakan roti panggang selai strawberry-nya dengan lahap, lalu beralih ke roti panggang cokelat yang tersisa di piring Kris.

"Aku makan ya hyung," izin Baekhyun sambil mengambil sepotong roti panggang cokelat di piring Kris yang memang menggoda dan harum. Kris mengangguk, ia memang sengaja membuat banyak roti panggang karena ia tahu dongsaengnya takkan puas hanya dengan memakan tiga tangkup roti panggang.

"Khajja kita berangkat," kata Suho setelah semuanya selesai sarapan. Mereka bertiga segera mengambil tas masing-masing, lalu berangkat menuju SM High School.

-oOo-

Baekhyun duduk terdiam di bangkunya sambil memperhatikan sekeliling kelasnya, lalu menulis sesuatu di notebook coklatnya. Sebuah kebiasaannya memang, ia sangat suka menulis di mana pun ia berada dan kapan pun, contohnya saat istirahat tiba seperti saat ini.

"Annyeong Baekhyun-ah," sebuah suara berat menyapa gendang telinga Baekhyun. Cepat-cepat Baekhyun mendongak lalu memperhatikan wajah namja itu. Ia kembali focus ke notebook coklatnya beberapa saat, lalu mendongak lagi dan tersenyum.

"Annyeong Kai-ya," balas Baekhyun sambil tersenyum canggung. Kai hanya bisa tersenyum sambil memikirkan sesuatu. Namja ini, memang aneh menurutnya. Bahkan untuk membalas sapaannya harus melihat buku terlebih dahulu.

"Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?"

"Jal jinaepida Kai-ya. Gomawo sudah mau menanyakan keadaanku," jawab Baekhyun tetap tersenyum canggung.

"Apa kemarin kau sakit?" tanya Kai ingin tahu. Baekhyun menggeleng.

"Aku hanya kelelahan jadi aku kehilangan keseimbanganku," jawab Baekhyun sambil menatap kosong Kai. Matanya benar-benar kosong seakan tak ada pikiran apapun di dalam dirinya.

"Jinjja? Bolehkah aku bertanya sesuatu kalau begitu?"

"Mwoya?"

"Mengapa kau jarang berkedip?"

"Karena itu sudah kebiasaanku sejak kelas IV SD," jawab Baekhyun sekenanya. "Aku memang tak suka berkedip, memangnya kenapa?" entah kenapa kali ini nada suaranya terdengar agak ketus.

"Gwaenchana," jawab Kai dengan perasaan sedikit bersalah namun tetap penasaran. Ia berpikir namja ini cepat sekali berubah sikap. Mungkin itulah yang menyebabkannya kurang diterima dalam pergaulan sekolah itu. "Mianhae. Kau marah?"

"Ani," jawab Baekhyun pendek dan dingin. Kali ini tangannya bergerak cepat menulis sesuatu di notebook coklatnya. Setelah selesai ia menutup notebooknya itu dan bersandar di kursi. Ia memasang earphone di telinganya. "Kau mau dengar?" tanya Baekhyun yang sudah mulai ramah kembali.

"Lagu apa memangnya?" tanya Kai masih terheran dengan sikap Baekhyun yang memang sulit untuk ditebak itu. Ia duduk di samping Baekhyun dan meraih earphone biru milik Baekhyun. "Kau suka lagu ini ya?"

"Ne, aku suka lagu ini, aku sangat suka memainkannya dengan piano," jawab Baekhyun sambil memejamkan matanya dan bersandar di kursinya. Kai memandangi namja itu dengan intens. Ia memperhatikan setiap lekukan keindahan dari namja itu.

Matanya menangkap jepit rambut yang dipakai oleh Baekhyun. Ia tersenyum, ia suka kalau jepit pemberiannya itu dipakai oleh Baekhyun. Ia suka dengan kenyataan Baekhyun menyukai jepit rambut pemberiannya.

"But your eyes say everything, without a single word… 'Cause there's something in the way, you look at me… It's as if my heart knows you're the missing piece… You make me believe that there's nothing in this world I can't be… I'd never know what you see, but there's something in the way, you look at me…" terdengar lantunan lagu dari mulut Baekhyun yang sedang memejamkan matanya. Kai melirik Baekhyun, dan ia kembali tersenyum. Ia juga memejamkan matanya, bersandar di kursinya. Mencoba merasakan lagu itu.

"I'd like to stop the clock make time stand still… 'Cause baby this is just the way I always wanna feel… 'Cause there's something in the way, you look at me… It's as if my heart knows you're the missing piece… You make me believe that there's nothing in this world I can't be… I'd never know what you see, but there's something in the way, you look at me…" kali ini Kai yang melanjutkan lirik lagunya. Ia tersenyum, membuka matanya sebelah demi melihat Baekhyun. Baekhyun tampak tersenyum kecil dalam pejaman matanya, ia seperti sangat menikmatinya.

"I don't know how or why, I feel different in your eyes… All I know is that it happens every time…"

"Cause there's something in the way, you look at me…"

"It's as if my heart knows you're the missing piece…"

"You make me believe that there's nothing in this world I can't be… I'd never know what you see, but there's something in the way, you look at me…" dan kali ini mereka bernyanyi bersama, memadukan suara berat Kai dan suara lembut Baekhyun. Mereka berdua membuka mata bersamaan, meski sangat jelas Baekhyun membuka matanya sangat pelan. Ia langsung meraih notebooknya, dan menulis sesuatu di sana.

"Kapan-kapan, apa aku boleh mendengarkanmu bernyanyi sambil bermain piano?" tanya Kai. Baekhyun mengangguk.

"Tentu saja. Hmmm aku ke kelas Kris hyung dulu ya. Suaramu bagus juga, cocok dengan lagunya hehehe. Pai pai," kata Baekhyun bersiap berdiri dan berjalan, tapi baru beberapa langkah, ia sudah kehilangan keseimbangan dan jatuh duduk di lantai. Kai segera bangkit dari kursinya dan menolong Baekhyun berdiri.

Mata mereka sempat saling bertemu tatap satu sama lain. Kai merasakan jantungnya berdetak sepuluh kali lebih cepat dari biasanya, tapi entah dengan Baekhyun. Baekhyun hanya bisa diam, menatap Kai kosong. Ia tak berkedip selama lima detik itu. Perlahan Kai mendekatkan wajahnya ke wajah Baekhyun, lalu mengecup matanya. Baekhyun memejamkan matanya sejenak, kemudian membukanya setelah Kai mengecup matanya.

"Chosimhae, kau ini jangan terlalu lelah," kata Kai gugup. Baekhyun langsung terdiam, ia tak menatap Kai sama sekali. Ia bangkit berdiri lalu menatap Kai tajam.

"Apa yang kau lakukan? Apa maksudmu dengan semua itu?" tanya Baekhyun sinis. Entah mengapa ia merasa sedikit senang tapi sifatnya begitu berlawanan dengan kenyataan sesungguhnya.

"Kau marah padaku? Mianhae aku tak sengaja melakukannya," kata Kai yang langsung merasa ketakutan. Ia melihat mata Baekhyun intens dan itu cukup membuatnya terkejut. Matanya, berbinar? Tapi mengapa ia marah?

"Sudahlah aku ingin bertemu dengan Kris hyung, aku lapar," kata Baekhyun tiba-tiba dengan nada agak linglung. Ia melihat sekelilingnya dan memegang dahinya. "Apa aku lupa membawa sesuatu?"

"Apa maksudmu?"

"Kalau bertemu Kris hyung aku biasanya membawa sesuatu."

"Notebook coklat?" tanya Kai yakin. Ia yakin sekali karena ia tahu Baekhyun selalu membawa notebook coklatnya kemanapun ia pergi.

"Ahhh ne! Notebook-ku!" pekik Baekhyun lalu ia kembali ke bangkunya dan mengambil notebook coklatnya, lalu segera pergi keluar kelas. Kai hanya bisa memandangnya dengan tatapan aneh.

"Anak itu berkepribadian 4D ya? Susah ditebak," gumam Kai. Tapi itu sama sekali tak mengurangi perasaannya terhadap Baekhyun.

-oOo-

"Waeyo gudhae, hyung?" tanya Suho saat melihat wajah Kris terkekuk dan menatap jendela. Namja berambut hitam itu duduk di sebelah Kris dan membelai rambut coklat Kris.

"Ani yeobo. Jal jinaepida," jawab Kris sekenanya. Suho yang sudah berpacaran dengan Kris selama empat tahun itu menghela nafas panjang. Mereka telah menjalin hubungan selama empat tahun dan tentu saja ia sudah tahu bagaimana sifat asli Kris.

"Geotjinmal, kau pasti ada masalah, katakan saja padaku. Apa ini ada hubungannya dengan Baekhyun?" tanya Suho dengan sabar. Kris menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah yeppeo Suho dengan jelas. Ia mengangguk.

"Menurutmu bagaimana kalau Baekhyun menyukai seorang namja? Dan bagaimana kalau ada namja yang menyukainya?" tanya Kris beruntun dengan nada gusar. Suho malah tertawa dan menggelengkan kepalanya, membuat Kris semakin gusar.

"Aigo chagiya! Jangan berpikir yang aneh-aneh. Memangnya kenapa? Itu hal yang normal kan? Justru kau seharusnya senang, itu berarti ada perubahan dari diri Baekhyun. Kau lupa ya kalau dia itu tak mudah bersosialisasi dengan orang lain? Apa kau lupa juga kalau ia sering di-bully teman-temannya saat kau tinggal di Canada? Lagipula itu hal yang normal kan Baekhyun bisa mulai menyukai seseorang?" kata Suho memberikan penjelasan panjang lebar dengan sabar. Kris terdiam, tapi ia menggelengkan kepalanya cepat.

"Tapi kau tahu aku ingin menjaganya. Aku tak mungkin bisa membiarkan dongsaengku sakit karena seorang namja," kata Kris setengah frustasi. Suho kali ini terdiam sejenak, mulai mengerti arah pembicaraan mereka.

"Aku tahu kau ingin menjaganya, tapi kau harus ingat Baekhyun bukanlah anak berusia lima tahun lagi sekarang. Aku tahu keadaannya sekarang seperti ini, tapi kupikir kau harus bisa berpikir lebih bijaksana lagi dalam hal ini. Kau jangan mengedepankan egomu seperti itu. Biarkanlah ia bergaul dan menikmati masa mudanya dengan normal, tanpa perlu kau kekang seperti itu," kata Suho sambil menghela nafas panjang. "Aku, kau, Baekhyun. Kita semua masih muda. Apa kau tak ingin memberinya sebuah kesempatan demi mengisi hari mudanya ini?"

"Bukannya aku tak ingin. Aku sangat ingin. Aku ingin dia juga hidup normal, tapi kau tahu kan kalau itu hal yang sulit? Aku takut ia akan sakit hati dengan namja itu," kata Kris frustasi, bahkan namja berwajah stoic itu hampir menitikkan airmata.

"Ia normal, chagiya. Berikanlah ia kesempatan demi merasakan yang namanya jatuh cinta. Jika kau tak memberikannya, kau akan menyesal seumur hidupmu," kata Suho tiba-tiba dengan nada tegas dan kali ini bersungguh-sungguh. Kris menatap Suho lekat-lekat, dan Suho membalasnya. "Kau bisa memilikiku saat ini. Apa kau tak kasihan ia hidup sendirian? Tak merasakan cinta sepertimu dan aku?"

"Tentu saja aku kasihan dan aku sangat ingin melihatnya memiliki namjachingu, lalu menikah, dan memiliki keluarganya sendiri."

"Kalau begitu beri ia kesempatan!" kali ini nada suara Suho meninggi dan sangat tegas. "Kau pikirkan dulu masalah ini, Kris-ah. Aku kembali ke kelas dulu," dan Suho kembali ke kelasnya, XII-2.

Dan Kris merenungi semua ucapan Suho.

-oOo-

Bel tanda pulang telah berbunyi. Seperti biasa, Baekhyun pasti akan pulang terakhir sendiri di antara teman-teman satu kelasnya.

"Kau mau pulang bersama tidak? Aku lagi nggak ada ekskul kok," tawar Chanyeol kepada Kai yang melamun di bangkunya, memandangi Baekhyun. Kai segera menggelengkan kepalanya.

"Aku tahu, kau pasti ingin pulang bersama Baekhyun kan? Hahahaha, mudah ditebak," kata Sehun setengah mengejek. Kai langsung menoleh ke arah Sehun dan memanyunkan bibirnya.

"Kau jahat, bicara sekeras itu," keluh Kai dengan wajah aegyo-nya. Chanyeol segera mencubit pipi Kai dan tertawa. "Yak! Appo!"

"Kau ini imut sekali, padahal kau namja. Ya sudahlah, kalau begitu kami pulang dulu," kata Chanyeol sambil menyisakan tawanya dan segera keluar dari kelas itu bersama Sehun. Kini di kelas itu hanya ada Kai dan Baekhyun yang masih sibuk dengan notebooknya.

"Kau nggak pulang?" tanya Kai setelah beberapa detik itu hening. Baekhyun menoleh ke arah Kai dan menggelengkan kepalanya.

"Ani, aku ada ekskul hari ini."

"Kau mengikuti ekskul apa?"

"Ekskul music classic," jawab Baekhyun singkat. Kai mengangguk mengerti.

"Jam berapa? Apa aku boleh ikut denganmu ke ruang music nanti? Aku ingin melihatmu bermain piano," tanya Kai bersemangat. Baekhyun terdiam sejenak seperti berpikir, dan ia mengangguk.

"Tentu saja boleh! Khajja kita ke ruang music sekarang!" dan entah apa yang merasuki namja berkacamata itu, ia sangat semangat saat mengetahui Kai akan melihatnya bermain piano. Kai hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah aneh Baekhyun. "Tapi aku izin Kris hyung dulu ne."

"Ne," jawab Kai lembut sambil tersenyum. Baekhyun segera berlari menuju ruang kelas XII-1 dan masuk ke dalam kelas itu. Kai mengikuti Baekhyun dari belakang, ia masih gugup untuk bertemu dengan Kris. Tampak jelas kalau Kris saat ini menatapnya sangat tajam dan penuh selidik.

"Waeyo gudhae chagi? Bukankah hari ini kau ada ekskul?" tanya Kris lembut sambil mengusap kepala Baekhyun dengan lembut. Baekhyun menggelengkan kepalanya.

"Aku ada ekskul dan hari ini Kai akan menemaniku. Izinkan aku ya hyung, untuk pulang bersama Kai," izin Baekhyun dengan wajah polosnya. Kris membulatkan matanya, tak percaya dengan permintaan Baekhyun.

"Mwo?"

"Ne hyung. Aku janji pukul setengah lima sore aku sudah berada di rumah," ulang Baekhyun lagi. Kris menghela nafas panjang.

"Ani."

"Tapi hyung…"

"Kubilang ani! Kau tetap pulang bersamaku. Aku tunggu kau di sini," kata Kris tegas sambil menatap Kai tajam. Kai hanya bisa diam. Ia merasa bersalah melihat kedua saudara itu bertengkar karena ia ingin menemani Baekhyun.

"Errrr kalau begitu lebih baik aku pulang saja. Ahhh Baekhyun-ah, aku bisa melihatmu main piano lain kali kok. Pai pai," kata Kai sambil tersenyum canggung. Ia sempat melihat Baekhyun mulai mengeluarkan airmatanya.

"Ya hyung! Kau jahat! Padahal aku ingin merasakan bermain bersama teman!" pekik Baekhyun sambil berlari keluar kelas. Tapi baru beberapa langkah, ia sudah tersungkur di lantai kelas itu. Kris dan Kai segera menghampiri namja berkacamata itu.

"Gwaenchanayo? Ahh khajja kita pulang, aku akan minta izin pada Lee seosaengnim kalau hari ini kau tidak masuk," ajak Kris dan ia membantu Baekhyun berdiri. Kai juga ikut membantunya, lalu segera kembali ke kelas XI-3.

Kai segera membereskan buku-buku Baekhyun yang masih berserakan di meja. Matanya melihat notebook coklat Baekhyun yang tergeletak begitu saja di meja. Ia ingin membaca notebook itu, tapi ia takut Baekhyun akan marah. Akhirnya ia lebih memilih memasukkan notebook itu ke dalam tas dan membawanya ke kelas XII-1.

"Ini tas Baekhyun," kata Kai sambil menyerahkan sebuah tas berwarna hitam-merah ke arah Kris. Kris menerimanya, sementara Baekhyun hanya bisa menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.

"Bukankah sudah kubilang jauhi dia?" tanya Kris dingin kepada Kai. Kai diam, ia menundukkan kepalanya.

"Aku hanya ingin berteman dengannya, itu saja. Kupikir ia senang berteman denganku," bela Kai sambil tetap menundukkan kepalanya. Kris menatap Kai tajam.

"Terserah kau saja. Yang jelas jauhi dia," kata Kris tajam dan segera meninggalkan Kai sendirian di kelas itu. Kai merasa lemas, ia kembali ke kelas XI-3, mengambil tasnya dan segera pulang.

-oOo-

Baekhyun berjalan di sepanjang trotoar menuju café eskrim yang ada di dekat rumahnya. Setelah bertengkar lagi dengan Kris seperti saat pulang sekolah dua hari yang lalu, akhirnya Kris mengalah memperbolehkan Baekhyun pergi sendirian menuju café eskrim.

Begitu sampai ia segera memesan dua mangkuk eskrim strawberry dan semangkuk eskrim lemon. Ia duduk di dekat jendela, memperhatikan langit Seoul yang begitu indah saat senja tiba. Ia mengeluarkan notebooknya, lalu menulis sesuatu di sana.

"Kau kemari Baekhyun-ah? Mana Kris hyung?" tiba-tiba terdengar sebuah suara yang familiar di telinga Baekhyun yang saat itu masih asyik menulis. Ia mendongak, lalu tersenyum.

"Kai? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Baekhyun dengan wajah polosnya. Kai hanya tersenyum mendapati pertanyaan begitu.

"Tentu saja mau makan eskrim tuan manis," jawab Kai sambil tersenyum. Ia memperhatikan Baekhyun yang saat itu tampak imut dalam balutan kaos SpongeBob yang kebesaran di tubuhnya dan celana jeans serta sepatu kets putih yang menghiasi kakinya. Rambutnya yang agak panjang dibiarkan begitu saja—terutama poninya, dibiarkan menutupi dahinya, dan membuatnya tampak sporty.

Baekhyun tak menyahut. Ia diam saja. Ia hanya memandangi langit Seoul yang luas dengan hiasan awan putih bersih. Ia masih terfokus ke langit itu. Keheningan merayapi mereka berdua. "Kau tahu tidak, awan yang putih, langit yang biru, suatu saat nanti akan menghilang."

"Apa maksudmu? Aku tak mengerti," kata Kai sambil mengernyitkan dahinya. Baekhyun tetap tersenyum. Tepat saat itu eskrim pesanannya datang dan Kai dibuat melongo dengan pesanan Baekhyun. "Makanmu, banyak ya."

"Ini belum apa-apa, aku akan memesan waffle juga nanti," kata Baekhyun sambil cengengesan. "Kau tak memesan apa-apa?"

"Sudah. Aku pesan eskrim tiramisu," jawan Kai yang tak bosan memandangi Baekhyun yang sedang makan dengan lahapnya. Kai merasa aneh, kali ini karena Baekhyun memegang sendoknya dengan aneh dan kaku. Tiba-tiba Baekhyun menjatuhkan sendoknya dan berhenti berkedip beberapa saat. Kai langsung mengambil sendok Baekhyun, menyingkirkannya dan mengambil sendok baru di gelas eskrim yang satunya. "Baekhyun-ah, gwaenchana?"

"Gwaenchana," jawab Baekhyun agak linglung. Ia segera membuka notebooknya, menulis sesuatu di sana, lalu menutupnya. "Mana sendokku?"

"Sudah kuberikan ke pelayan. Pakai saja sendok ini, euhmmm apa kau mau kusuapi?" tanya Kai sambil tersenyum manis. Baekhyun diam saja, tapi setelah beberapa detik ia mengangguk. Kai mulai menyuapi Baekhyun dengan hati-hati. "Apa aku boleh bertanya?"

"Tanya apa?"

"Mengapa kau sering terjatuh dan menjatuhkan sendokmu?"

"Entahlah, aku merasa tubuhku lelah, itu saja. Itu juga karena aku ceroboh," kata Baekhyun sambil tersenyum. Namun sedetik kemudian, Baekhyun menatap Kai tajam, masuk ke dalam matanya. Kai membalasnya, dan ia langsung menganga.

'Cause there's something in the way you look at me…

Tiba-tiba kalimat itu terlintas di pikiran Kai. Apakah Baekhyun juga menyukainya, seperti ia menyukai Baekhyun? Tapi hatinya sudah meloncat terlebih dahulu saat ia memandang Baekhyun. "Baekhyunnie, di sana ada piano. Kau mau main piano?"

"Boleh juga," jawab Baekhyun cepat. Ia segera berjalan ke arah seorang waitress yang mengenakan dress hitam, lalu duduk di kursi piano itu. Jarinya mulai menari di atas piano itu.

No one ever saw me like you do…

All the things that I could add up to…

I never knew just what a smile was worth…

But your eyes say everything without a single word…

Lantunan lagu itu keluar dari mulut Baekhyun, beriringan indah dengan permainan pianonya. Kai tersenyum bangga. Baru kali ini ia melihat namja yang ia sukai memiliki suara yang indah, sekaligus permainan piano yang mahir.

'Cause there's something in the way, you look at me…

It's as if my heart knows you're the missing piece…

You make me believe that there's nothing in this world I can't be…

I'd never know what you see, but there's something in the way…

You look at me…

Baekhyun menatap Kai dengan senyumannya yang indah. Kai mendekati Baekhyun. Ia duduk di samping Baekhyun dan mulai menarikan jari-jarinya di atas tuts piano yang putih bersih, seputih cintanya pada Baekhyun.

If I could freeze the moment in my mind…

Be the second that you touch your lips to mine…

I'd like to stop the clock make time stand still…

'Cause baby this is just the way I always wanna feel…

Dan kali ini suara berat Kai melantunkan lagu itu. Baekhyun merasakan jantungnya berdegup kencang, namun ia hanya berekspresi datar entah kenapa. Sebenarnya ia sangat menikmati bernyanyi bersama Kai.

I don't know how or why…

I feel different in your eyes…

All I know is that it happens everytime…

Dan lantunan lagu itu kembali menggema di café itu, beriringan dengan paduan permainan piano mereka berdua yang indah. Semua mata tertuju pada mereka berdua, telinga mereka tertuju pada nada-nada yang membentuk sebuah lagu yang indah. Tanpa Kai sadari, sebenarnya Baekhyun merasa bahagia karena baru kali ini ada orang yang mau bermain piano dan bernyanyi bersamanya. Baekhyun memejamkan matanya, merasakan lagu itu merasuk ke hatinya. Ia berjanji akan menyimpan kenangan ini selamanya bersama sahabatnya, Kim Jongin.

'Cause there's something in the way, you look at me…

It's as if my heart knows you're the missing piece…

You make me believe that there's nothing in this world I can't be…

I'd never know what you see, but there's something in the way…

You look at me…

Dan kali ini mereka bernyanyi berdua, beriringan. Suara berat Kai mampu membuat semua orang yang ada di café itu terpesona meski Kai sadar, suaranya memang tak seindah. Ia melirik Baekhyun yang memejamkan matanya dan mulai membukanya perlahan. Begitu lagu itu berakhir, semua pengunjung café itu bertepuk tangan meriah pada mereka berdua, dan mereka segera kembali duduk di bangku mereka.

"Suaramu bagus, kau juga ahli bermain piano," puji Kai sambil mengelus rambut Baekhyun. Baekhyun tersenyum manis dan mengangguk, lalu mulai mencatat sesuatu lagi di notebooknya.

"Neo do. Gomawo mau bermain denganku," kata Baekhyun sambil menatap Kai lekat-lekat. Mata mereka bertemu, dan mereka bisa merasakan perasaan mereka satu sama lain. Kai segera tersadar dan mulai menyuapi Baekhyun lagi dengan eskrim lemon pesanan Baekhyun kali ini.

Sementara di sudut café ada seorang namja berjaket putih dan berkacamata sedang memperhatikan mereka berdua. Di sebelahnya ada seorang namja angelic yang mengenakan sweeter rilakuma-nya.

"Lihatlah, apa kau tak bahagia melihat dongsaengmu bahagia bersama namja itu?" tanya namja itu yang ternyata adalah Kim Joonmyeon alias Suho. Namja yang di sebelahnya—tentu saja Kris—mengangguk mantap.

"Belum pernah aku melihatnya bernyanyi sebahagia ini," kata Kris sambil menatap Kai dan Baekhyun yang sedang makan eskrim bersama.

"Sekarang apa kau bisa percaya pada namja itu? Aku tahu ia akan menjaga Baekhyun dengan baik."

"Molla, aku masih meragukannya."

"Beri Baekhyun kesempatan, chagiya. Jangan kau rusak kebahagian namja kecilmu itu. Aku tahu kau sangat menyayanginya, dan aku tahu kau ingin menjaganya. Tapi ia sekarang sudah dewasa dan tentunya kau harus bisa memberikan kebebasan padanya," nasehat Suho membuat Kris terdiam.

"Aku akan merestui mereka berdua," putus Kris akhirnya. "Aku tak mau dongsaengku sedih karena egoku."

"Itu jauh lebih baik. Akhirnya kau sekarang bisa berpikir bijaksana," puji Suho sambil memegang tangan Kris. Kris menggenggam tangan mungil Suho dan mengecupnya.

"Aku juga ingin ia merasakan kebahagiaan, setidaknya sampai Tuhan mengambilnya dariku."

-oOo-

Bel tanda masuk berbunyi. Seluruh siswa SM Senior High School segera masuk ke dalam kelas mereka masing-masing. Tampaklah Kai masih berlari menuju pintu gerbang SM Senior High School.

"Kyaaaa! Pak satpam, jebal, buka pintunya," pinta Kai dengan wajah memelas. Satpam bermarga Han itu memasang tampang sangar.

"Ani."

"Jebal pak…"

"Kubilang tidak ya tidak! Sudah sana tunggu di sini sampai petugas piket datang," kata satpam Han dengan galak dan meninggalkan namja tan dengan tinggi badan 183 cm itu begitu saja. Kai terduduk lemas di pintu gerbang.

"Kai-ya? Kau terlambat ya?" tiba-tiba suara lembut yang membuat Kai merasa damai datang menyapanya. Kai mendongak. Mwo? Byun Baekhyun? Terlambat?

"Ne, waeyo? Kau juga terlambat?" tanya Kai kebingungan. Namja bertubuh mungil itu menggelengkan kepalanya.

"Ani, aku hanya disuruh pergi memfotokopi ini semua," jawab Baekhyun polos dengan setumpuk kertas di tangannya. Ia melirik satpam Han yang langsung pergi entah kemana dan digantikan oleh satpam Yoon. "Permisi. Bolehkah aku masuk? Aku dan temanku disuruh Kim seosaengnim untuk fotokopi tugas ini. Kebetulan sekali tadi tugasnya dibawa oleh temanku ini, jadi tasnya masih ia bawa karena sebelum sempat masuk kelas aku sudah menyeretnya keluar."

"Ohhh, jinjja? Bukankah ia terlambat?" tanya satpam Yoon dengan penuh selidik. Baekhyun menggeleng.

"Ani, ini buktinya," jawab Baekhyun menyerahkan setumpuk kertas hasil fotokopiannya. Satpam Yoon percaya saja dan membuka pintu gerbang itu. Baekhyun segera menyeret Kai masuk ke dalam gedung sekolah itu.

"Whoa Baekhyun-ah, gomawo sudah menolongku hari ini. Ehhh, tapi bukankah…"

"Tenang saja. Kim seosaengnim hari ini izin mengajar karena ia ada rapat para guru jadi ia menyuruhku memfotokopi soal-soal ini," jawab Baekhyun sambil tersenyum.

"Sekali lagi gomawo sudah menolongku hari ini," kata Kai sambil tersenyum lebar. Namja tinggi itu segera menggandeng tangan Baekhyun agar mereka sampai ke kelas secepatnya.

Saat mereka berdua naik ke tangga, tiba-tiba Baekhyun terdiam dan langsung terduduk di tangga. Kai mengernyitkan dahinya. Ia menghentikan langkahnya, lalu duduk di samping namja itu.

"Waeyo gudhae Baekhyun-ah?"

"Gwaenchana," jawab Baekhyun sekenanya. Ia merasakan tubuhnya kaku dan ia merasa tak bisa bergerak kecuali terduduk seperti saat ini. Ia berusaha bangun tapi tak bisa. "Aku… Tak bisa bangun…"

"Mwo?"

-TBC-

Huahhh!

Akhirnya selesai juga ini part 2-nya! xD

RCL ya chingudeul, ghamsa~