Siwon membuka matanya ketika ia merasakan seberkas cahaya merangkak masuk lewat jendelanya─yang entah kenapa terbuka.

"Ah, kau sudah bangun, Hyung?" sebuah suara yang sangat Siwon hapal terdengar dari arah pintu kamar mandi.

Siwon menolehkan pandangannya, terlihat tubuh seorang namja yang sedang berdiri diam sambil bersandar di pintu. Siwon mendudukkan tubuh jangkungnya.

"Ne. Mianhae, aku bangun terlambat lagi, Chagi…" ujarnya diiringi seulas senyum menyesal. Namja tadi balas tersenyum─dengan sangat manisnya.

"Gwaenchanha, Hyung. Aku tahu kau lelah setelah bekerja lembur."

Siwon meneguk ludahnya dengan susah payah, namun ia tetap memasang senyum andalannya.

"─ne. Lembur…" Siwon berujar lirih.


.

.

"…apa kalian tahu? Wajah ini hanya sebuah topeng…"

.

A Super Junior fanfiction

Cast © themselves

Mask © Cloud1124

Warning : Typo(s), OOC, Abal, Gaje, Crack pair, BoysLove

Don't Like? Don't Read!

.

Enjoy!


Henry merapihkan meja makan dengan terampil, ia meletakkan berbagai perlengkapan untuk sarapan hari ini di meja panjang yang tertutup kain berwarna putih bersih itu.

"Wah, nae namjachingu sedang ada percobaan resep atau apa?" Siwon memasuki area dapur dengan setelan kerjanya. Ia memeluka sang namjachingu dari belakang, lalu mengecup lembut bahu putih yang hanya tertutup selembar kaus tipis berwarna putih.

"Tidak mau? Ya sudah, biar aku telepon Hae-hyung dan Sungie-hyung sekarang juga…" Tangan mungilnya bergerak turun hendak mencapai ponsel yang tersimpan di kantung celananya, namun gerakan itu terhenti ketika Siwon melepaskan pelukannya dan membalik tubuhnya dengan paksa.

"Aku akan makan. Jangan cepat marah, Henly-ah," kata Siwon dingin yang langsung diiringi sebuah kecupan singkat di bibir merah muda Henry.

Siwon memutari tubuh Henry dan duduk di salah satu kursi yang kosong, ia membalik piringnya. Baru saja ia bersiap untuk mengambil makanannya, ekor matanya menangkap figur mungil Henry yang tak berpindah dari tempatnya. Menghela napas sejenak, Siwon segera memanggil Henry dan menyuruhnya untuk segera duduk dan sarapan bersamanya.

Dengan tenang Henry duduk di tempatnya, lalu segera menikmati hidangan sarapan buatannya tanpa suara.

.

.

Siwon bersandar di kursinya, matanya menatap lama pada sosok Henry yang belum juga menghabiskan sarapannya.

"Chagi, semalam kau pulang jam berapa? Saat aku pulang, kau sudah tidur nyenyak di kamarmu… Bagaimana dengan latihanmu?" tanya Siwon ketika Henry sibuk membersihkan sisa kotoran yang mungkin ada di sekitar bibirnya.

Henry tersenyum─lebih seperti menyeringai─pada Siwon. "Aku pulang mungkin sekitar satu jam sebelum kau datang, Hyung… Ah iya, apa benar kemarin Hyung membawa teman ke sini? Kata Heechul-hyung kau sempat pulang?" tanya Henry dengan satu alis terangkat.

Siwon tersenyum kaku. "Ne, aku pulang untuk mengambil dokumen yang tertinggal bersama satu anak buahku… Ah, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Bagaimana latihan biolamu?"

"Biasa saja, tak ada yang menarik…" kata Henry datar seraya bangun dari duduknya, ia mengambil piring kotor dan membawanya ke dapur. Sambil berjalan, iris caramel Henry melirik sekilas pada jam besar di ruang keluarga.

"Hyung, kurasa sudah waktunya kau berangkat kerja… Aku juga ada latihan dengan Yesung-hyung setelah ini. Pergilah," ucap Henry santai, ia meletakkan piring dan peralatannya di bak cuci piring. Seperti rutinitasnya yang biasa, Henry mulai menghidupkan keran air untuk memulai ritual memandikan piring-piring kotor itu.

Siwon bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati Henry.

"Aku pergi dulu, jangan lupa makan, aku pulang malam, Chagi." Siwon mengecup lembut pipi chubby Henry, sementara yang orang yang dituju hanya terdiam tak menanggapi. Siwon berbalik, hendak meninggalkan dapur, namun suara lembut Henry menghentikan langkahnya.

"Chagi… apa kau mencintaiku?"

Hening.

Tanpa menoleh Siwon menjawab, "Tentu saja, saranghae, nae Mochi." Siwon melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.

Tanpa terasa setitik kristal cair merangkak turun dari manik redup Henry.

"Kau bohong, Hyung."

.

.

Yesung menatap Henry yang kini sedang membalut jarinya dengan teliti. "Gwaenchanhayo, Mochi?" tanya Yesung cemas.

Henry mendongak, menatap langsung ke onyx milik sahabat sekaligus rekan kerjanya itu. "Luka ini? Bukan masalah, Hyung…"

Yesung menggeleng, ia mendekati Henry dan duduk di sampingnya. "Bukan lukamu. Tapi dirimu, gwaenchanhayo?"

Sejenak Henry dan Yesung saling pandang dalam keheningan. "Gwaenchanha, Hyung," jawab Henry tenang.

Pintu ruang latihan diketuk. Seorang yeoja berusia hampir 30an masuk ke dalam ruangan dengan membawa sebuah biola putih dan bow-nya. Yeoja itu meletakkan biolanya di samping Henry, lalu menatap Henry tajam.

"Henry Lau! Sudah berapa kali ku bilang, kau harus konsentrasi kalau sedang latihan. Bisa-bisanya kau membuat senarnya putus, melukai jarimu, lagi!" tegur Yeoja─pelatih mereka─itu galak. Henry tersenyum manis dan mengambil biola putih dan bow yang tergeletak di sampingnya itu.

"Mianhae, Noona… Lain kali itu tak akan terjadi," katanya sopan seraya menunduk dalam-dalam. Yesung tersenyum.

"Nah, bisa kita mulai lagi latihannya?"

.

.

Heechul duduk di ayunan belakang rumahnya. Ia terdiam sambil menatap serius kea rah ponselnya.

"Chulie-ya, kenapa tidak masuk ke dalam? Hari sudah mulai sore, nanti kau masuk angin…" ujar seseorang yang kini melangkah ke arah ayunan yang Heechul duduki.

Heechul tersenyum. "Teukie, sudah kubilang aku mau bersantai tanpa gangguan tiap sore, 'kan?"

Sosok itu─Leeteuk─duduk didepan Heechul. Lalu menggenggam jemari lentik milik namjachingu-nya.

"Apa kau ada masalah?"

Gelengan. "Bukan aku, Chagi. Tapi Mochi, entah kenapa ada yang berbeda darinya…"

"Berbeda apanya?"

"Molla. Tapi, ada yang ia coba sembunyikan. Kemarin, saat ia pulang cepat dari latihannya, ia langsung mengunci diri di kamar. Lalu Siwon pulang dan membawa rekannya, saat kuberitahu Mochi, ia tidak bereaksi dan menyuruhku untuk berkata bahwa dia belum pulang… Itu aneh, Chagi," kata Heechul. Tanpa sadar ia meremas ponsel yang tergenggam di tangannya yang lain.

Leeteuk tersenyum. "Mungkin mereka sedang bertengkar… biarkan saja," ucapnya berusaha menenangkan sang Cinderella.

"Anni. Kalau mereka bertengkar, biasanya Mochi justru bersikap manja, bukannya dingin seperti ini. Aku merawatnya sejak umur 10 tahun, dan aku mengenalnya, Teukie…"

Leeteuk menghela napas pelan, ia tahu benar, kalau Heechul-nya ini sudah menyangkut-pautkan pekerjaannya sebagai pengasuh Henry, pasti ia akan kalah berdebat.

"Semenjak Mochi tinggal bersama tunangannya─Siwon─itu, kurasa Mochi sedikit tertekan…" lirih Heechul.

"Bukankah kau tetap ada di sisinya selama setengah hari, Chulie?"

"Ne, tapi itu hanya apabila Mochi sedang tak ada jadwal…"

Leeteuk terdiam, entah kenapa ia juga bisa merasakan kegelisahan terhadap Henry Lau yang kini kelihatannya sedang sibuk. Ia menunduk, berpikir sejenak. Leeteuk mengenal Henry lewat Heechul, beberapa tahun silam, saat ia mengenal namja cantik yang terdiam di hadapannya ini. Dan sedikit demi sedikit, tumbuh hubungan saudara di antara Leeteuk dan Henry, setidaknya Leeteuk juga sayang dan peduli pada namja berjuluk Mochi itu. Walau ia sepenuhnya yakin, kasih sayang Heechul jauh lebih besar.

"Sudahlah, ini masalah pribadi Heenim-ah. Mochi sudah besar, biar menyelesaikan masalahnya sendiri."

"Tapi…" bantahan Heechul terhenti kala bibirnya telah ditahan oleh bibir Leeteuk dalam ciuman hangat yang menenangkan.

.

.

Henry berjalan pelan menyusuri jalan setapak di belakang mansion Choi yang luar biasa lebar itu. Sejenak iris caramel Henry terpaku pada bangku taman yang kemarin digunakan oleh namjachingu-nya untuk melakukan hal yang tidak pantas. Masih segar dalam ingatannya ketika sosok Tuan Choi itu mengecup lama pada bibir pink milik namja jangkung yang kemarin ia bawa ke rumah.

Henry terkekeh pelan ketika mengingat ia membohongi Siwon pagi tadi dengan berkata bahwa ia baru pulang satu jam sebelum pemilik mansion itu pulang─kenyataannya Henry pulang berjam-jam sebelum Siwon pulang, bahkan beberapa jam sebelum Siwon datang bersama namja yang diakui sebagai anak buahnya itu.

Perlahan, Henry melangkahkan kedua kakinya mendekat ke bangku taman yang kosong itu. "Siwon-hyung bohong, aku juga bohong. Tapi Siwon-hyung selingkuh, apa aku juga harus selingkuh?"

Henry mendudukkan dirinya di bangku itu, terdiam beberapa saat dengan wajah datar minim ekspresi. Tangan mungilnya bergerak ke atas, lalu menyentuh surai kecoklatan miliknya sendiri.

"Pabboya! Kenapa kau jadi lemah sekali, sih? Seharusnya kau merebut kembali Siwon-hyung. Jangan sampai kalian berakhir begitu saja!" kesalnya. Henry menghentakkan kedua kakinya yang beralaskan sepasang sepatu keds berwarna putih ke rerumputan taman itu.

Ponsel Henry bordering. Telepon dari Donghae─sahabatnya yang bekerja sebagai bawahan Siwon.

"Yoboseyo?" sapa Henry dengan suara ceria.

"Mochi! Aku sudah tahu siapa yang pergi bersama Siwon-ssi kemarin! Dia itu asisten baru yang masuk bulan lalu! Namanya Cho Kyuhyun, memang ada apa? Jarang sekali kau tanya tentang kantor…"

Henry tersenyum─yang tentunya tak dapat Donghae lihat. "Gwaenchanha, Hyung. Aku hanya penasaran dengan pekerja di kantor Siwon-hyungGamsahamnida, Hyung…"

"Ah, cheonma, Mochi… Sudah dulu ya, aku harus kembali bekerja, bye~"

Sambungan terputus. Henry mengembalikan ponselnya ke tempat semula─saku jaket. Beberapa kali ia menarik napas dalam hening, Henry berdiri.

Matanya memandang ke atas, menatap awan-awan putih yang mulai berganti background menjadi warna jingga keemasan. Bibirnya membentuk seulas senyum─lebih mirip seringai, sejujurnya.

"Cho Kyuhyun-sunbae, rupanya…"

.

.

to be continued.


a/n:

#deepbow

Mianhae, readerdeul, untuk chap yang pendek gila-gilaan ini. Chapter ini sebenarnya separuh sengaja pendek, yang separuh lagi karena gak punya ide untuk deskripnya.

Kali ini kita masih masuk ke perkenalan beberapa tokohnya, missal kayak Yeye yang jadi rekan duetnya, trus Heenim jadi pengasuhnya, Eeteuk jadi pacarnya Heechul, dll.

Dan, lagi-lagi, jatuhnya ada WonKyu juga… hehe… :D Tapi tenang, untuk pair akhir belum di tentukan kok, jadi nanti lihat perkembangan ceritanya aja… Kalau mengarah ke Henry, ya berarti SiHen¸ kalau enggak ya jatuh di WonKyu… :)

Masalah genre… Kenapa beberapa nebaknya ke arah angst sih? Padahal gak ada niat bikin lho… Lagi pula Cloud juga gak berbakat bikin Angst… Paling jauh juga sampe di drama.. = ="

Terus masalah charanya, iya, Mochi jadi sedikit punya unsur 'evil' di sini… Dan si Kyu bakalan punya unsur 'angel', hehe… #smirk

Yak, dibagian akhir a/n pasti untuk ucapan terimakasih.. :D

Terima kasih untuk respon luar biasa dari readerdeul, terima kasih cerita abal ini ada yang mau ngefave, dan nge-alert... :D


Big thanks to:

| eL-ch4n | kangkyumi | Yeye | rizkyeonhae |

| Artini cloud'yeppa | HMC | Park Hyo Ra | yeyepapo | OktavLuvJaejoong |

| Enno KimLee | FanboyRaka | cloudcindy | r3diavolo89 | Saeko Hichoru |

| Liu HeeHee | KisukeReiRin | rizuka jung | Deem Seul Mi |


Jeongmal Gomawo… :D


Mind to Review?


Cloud1124