NARUTO Masashi Kishimoto
A GIFT ©GYBLUE12
PAIRING : Uchiha SasukeXHaruno Sakura
RATED : M (For many reason :D)
GENRE : Romance,Hurt/Comfort
WARNING : OC, MATURE, LITTLE BIT OF TYPO(S)
:::::
Click back if you don't wanna read this fic….
HAPPY READING :)
.
.
.
Chapter 2
Sakura dan Ino berdiri tepat di depan sebuah papan toko yang bertuliskan 'SPECIAL GIFT'S SHOP'. Sebenarnya toko ini terletak di sudut pojok daerah pertokoan di Konoha Street, tetapi pengunjungnya tak bisa di bilang sedikit, walaupun toko ini nyaris terletak di sudut terpencil daerah pertokoan itu.
"Hei Ino, aku belum pernah melihat toko ini sebelumnya." Ujar Sakura heran.
"Aah~ jelas saja kau tak pernah tahu ada toko seperti ini dan tak pernah melihatnya. Tingkat percintaanmu kan rendah. Ahahaha.." Jawab Ino sambil sedikit terbahak.
"Hei menyebalkan sekali kau, Pig!" Sakura mengerucutkan bibirnya, membuatnya tampak sangat imut.
"Hahaha aku hanya bercanda, Forehead. Sudahlah, ayo kita masuk. Aku tak mau di cap sebagai orang aneh karena terus-terusan berdiri disini." Ino melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko. Sakura pun mengikuti langkah Ino.
"Ino, sebenarnya tempat apa ini?" Sakura melihat-lihat sekeliling toko. Toko ini lumayan di kunjungi banyak pembeli. Buktinya banyak sekali gadis-gadis ataupun pasangan-pasangan yang berada di toko ini. Mungkin karena desain toko ini cukup unik sehingga banyak menarik perhatian para pengunjung. Toko ini bisa di bilang sangat colourfull. Toko ini sengaja di cat dengan berbagai warna yang terang dan berkesan 'cheerful'. Toko ini pun terbilang cukup luas dan terlihat sangat rapi dan teratur. Barang-barang yang di jual di toko ini tampak di bedakan menjadi beberapa bagian dengan di pisahkan beberapa rak-rak besar.
Di pojok kiri toko terdapat papan bertuliskan 'GIFT FOR GIRLS'. Di bagian ini terdapat 3 rak besar yang menjual berbagai macam baju, tas, sepatu dan aksesoris khas perempuan. Terdapat banyak barang-barang unik, lucu dan girly yang sudah pasti di sukai oleh gadis-gadis maupun para wanita dewasa.
Selanjutnya di sebelah kanan nya terdapat papan bertuliskan 'GIFT FOR BOYS'. Di bagian khusus 'BOYS' ini juga terdapat 3 rak besar yang sebagian besar jenis-jenis barang yang di jual sama dengan barang-barang yang ada di rak-rak milik 'GIRLS' di sebelahnya. Seperti baju, sepatu, tas, dan berbagai aksesoris khas cowok, yang membedakan hanyalah barang-barang di rak-rak bagian ini berkesan sangat 'boyish' dan sedikit 'dark'.
Lanjut ke bagian selanjutnya. 'FOR COUPLES'. Ya, sudah dapat di tebak, bagian ini sudah pasti menjual barang-barang untuk para pasangan kekasih. Banyak sekali barang-barang bertema 'kembar' yang dapat di lihat di 2 rak besar di bagian ini. Barang-barangnya pun unik dan cocok untuk semua pasangan kekasih.
Bagian terakhir, terletak di pojok kanan toko. Terdapat papan yang bertuliskan 'EXTREME AND MATURE GIFT'. Di bawah papan itu juga di tuliskan bahwa barang-barang yang di jual di bagian ini hanya untuk umur 17 tahun ke atas. Di bagian ini terdapat 4 rak besar yang menjual berbagai barang yang bertema 'dewasa'. Barang-barang seperti ring, dildo, vacuum, vibrator, 'not real' vagina, bahkan kondom dan Viagra juga di jual di bagian ini, dengan berbagai macam merk dan jenis. Sangat cocok bukan dengan kategori 'EXTREME AND MATURE'?
"Ya sudah jelas 'kan Sakura, toko ini menjual barang-barang yang cocok untuk di jadikan sebagai kado. Toko ini sangat terkenal lho di kalangan remaja maupun dewasa." Ino menjawab pertanyaan Sakura sambil sesekali melihat-lihat barang di 'GIFT FOR BOYS'.
"Iya aku mengerti, tetapi aku tak menyangka bahwa toko ini juga menjual barang-barang khusus dewasa." Sakura agak memelankan suaranya.
"Hahaha justru itu aku mengajakmu kesini. Untuk membantumu memilihkan kado yang 'cocok'(?) untuk si Uchiha itu." Ino melemparkan tatapan genit kepada Sakura.
"Ya sudahlah aku menurut saja," Sahut Sakura pasrah. "Lagipula kita sudah sampai disini dan aku sudah setuju dengan rencana mu ini."
"Hahaha baguslah kalau begitu. Ayo, kita ke bagian 'EXTREME and MATURE'." Ajak Ino bersemangat. Beberapa orang langsung melihat ke arah mereka akibat suara Ino yang tidak bisa di kategorikan pelan itu.
"Hei tidak bisakah kau pelankan suaramu itu, Pig?" Sakura melempar deathglare-nya kepada Ino.
"Hahaha santai saja Sakura." Balas Ino cuek. Ia pun segera melangkahkan kaki nya menuju bagian keempat di toko tersebut. Sakura hanya bisa menghela nafas melihat tingkah sahabat baik nya itu.
"Hei Sakura bagaimana dengan ini?" Ino mengambil sebuah vacuum berbentu telur yang bertuliskan 'TENGA EGG'.
"Benda apa ini?" Sakura mengernyit, tanda ia tak mengerti.
"Yaampun Forehead, masa kau tidak tahu benda apa ini?" Ino menatap sahabatnya itu dengan tatapan seolah dia adalah anak SD yang tidak mengerti akan hal-hal yang berbau dewasa.
"Ini adalah alat semacam vacuum yang biasa di gunakan laki-laki untuk memuaskan hasrat seksual mereka. " Sakura hanya menganggukan kepalanya mendengar penjelasan Ino.
"Lalu kalau ini apa?" Sakura mengambil sebuah alat yang berbentuk agak lonjong dan berukuran kecil dengan beberapa tombol di sekeliling benda tersebut.
"Wah, pilihan bagus, Forehead! Ini vibrator lidah yang bisa kau gunakan untuk memuaskan kekasihmu itu saat kalian melakukannya. Hahaha. Ternyata kau pintar juga memilih barang yang cocok." Ino menatap Sakura dengan tatapan menggoda.
"Hei aku kan hanya asal memilih." Sakura mengelak. Semburat merah kembali merona di kedua pipinya.
"Ya ya ya, terserah kau. Yasudah menurutku vibrator itu lebih cocok sebagai kado untuk Sasuke. Oyaa satu lagi, kau jangan sampai melupakan ini." Ino mengambil sesuatu berbentuk kotak.
Kondom.
"Kau tak boleh melupakan ini, Sakura. Untuk pemula ini wajib di gunakan. Hahaha." Ino memberikan sekotak kondom kepada Sakura. Kini wajah Sakura sukses di buat merah padam oleh sahabatnya itu.
"Ayo kita ke kasir. Ku rasa sudah cukup acara 'berburu' kita hari ini. Aku juga sudah menemukan kado yang cocok untuk Sai-kun."Ino segera bergegas menuju kasir, sedangkan Sakura masih mematung sambil memandangi sekotak kondom yang di berikan Ino tadi.
Merasa Sakura tak mengkutinya, Ino pun kembali ke tempat tadi seraya mendengus, "Ayo, Sakura jangan diam saja disitu." Ino menarik tangan sahabatnya itu dan membawanya menuju kasir.
"Ino, dari tadi aku ingin bertanya padamu. Sebenarnya darimana kau tau toko itu?" Tanya Sakura. Sekarang mereka sedang berada di sebuah caffe. Mereka memutuskan untuk mampir sebentar melepas lelah setelah seharian beraktivitas.
"Hmm.. Sai-kun pernah mengajakku kesana beberapa waktu lalu." Ino menjawab dengan wajah tersipu-sipu.
"Apa? Benarkah? Apa yang kau beli?" Sakura tampak penasaran.
"Ano.. aku dan Sai.. ano.." Ino tampak ragu-ragu untuk menjawabnya. Wajahnya kini mulai memerah.
"Let me guess! Apa kau dan Sai membeli barang-barang khusus dewasa disana?" Tebak Sakura.
"Aa, begitulah Sakura. " Kali ini wajah Ino sudah merah sempurna persisi seperti tomat. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, berusaha menutupi wajahnya yang sudah merah padam.
"Astaga Pig, jangan-jangan kau dan Sai sudah…." Sakura tak melanjutkan kata-kata nya.
"Aaaaaaaa… Sudahlah aku malu membahasnya!" Ino mengibaskan kedua tangannya, tak ingin melanjutkan pembicaraan yang membuat wajahnya persis seperti kepting rebus itu.
"Oh, tidak bisa. Kau harus menceritakan semuanya kepadaku nanti. Ayo, kita pulang. Aku sudah tidak sabar ingin mendengar KISAH mu itu, Pig! Hahaha.." Sakura sengaja menekankan kata kisah untuk menggoda Ino.
"Dasar, Forehead." Ino pun beranjak dari duduknya dan berjalan menyusul Sakura yang lebih dahulu beranjak dari kursinya. Semburat merah pun masih setia menghiasi kedua pipi Ino.
Malam itu Sakura menginap di rumah Ino. Setelah membersihkan diri ─a.k.a mandi─ dan makan malam, dua gadis itu segera pergi ke kamar untuk mengadakan rapat dadakan, lebih tepatnya adalah rapat untuk mengintrogasi Ino perihal hubungan asmaranya dengan kekasihnya, Sai.
"Cepatlah Pig, aku ingin kau menceritakan semua nya kepadaku. Bisa-bisanya kau merahasiakan hal ini kepada sahabatmu sendiri. Pantas saja akhir-akhir ini kau terlihat lebih ceria dan terkadang wajahmu tiba-tiba merona. Ku pikir kau sudah gila karena sering senyum-senyum sendiri. Hahaha.." Sakura merebahkan dirinya di atas tempat tidur Ino sambil melirik kea arah Ino. Yang di ajak bicara hanya diam dan mengerucutkan bibirnya.
"Sabar sedikit, Forehead. Kau tidak sabaran sekali." Ino membetulkan posisi tidurnya, mencari posisi yang nyaman untuk bercerita.
"Aaa.. aku malu sekali menceritakan hal ini kepadamu, Sakura." Ino menutup wajahnya dengan bantal.
"Hei, aku ini sahabatmu, Ino. Kau tidak perlu malu-malu seperti itu," Ucap Sakura. "Ayolah Ino, aku kan hanya ingin tahu."
"Baiklah, tapi kau janji ya tidak akan menceritakan hal ini kepada orang lain." Ino menatap Sakura serius sambil menyodorkan kelingkingnya, tanda perjanjian.
"Tenang saja, Pig. Kau bisa percaya padaku." Sakura menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Ino.
"Hmm.. jadi begini.." Ino mulai menceritakan 'pengalaman' nya kepada Sakura.
Flashback begin
"Ino-chan!"
Ino menoleh ke belakang saat ia merasa ada seseorang yang memanggil namanya.
"Oh, Sai-kun. Ada apa? Aku baru saja ingin menuju ke kelasmu." Ino menyunggingkan senyum termanisnya kepada kekasih baru nya itu.
"Tidak apa-apa. Aku mencarimu dari tadi. Aku ingin mengajakmu ke rumahku, aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu. Apa kau ada waktu?" Ucap Sai sambil membalas senyuman Ino.
"Hmm.. hari ini aku tidak ada janji dan Sakura juga sudah pulang tadi bersama Sasuke. Kau ingin menunjukkan apa Sai-kun?" Ino menatap kedua mata obsidian Sai.
"Rahasia, Ino-chan." Sai tersenyum kepada Ino lalu menggandeng tangan kekasihnya itu. Mengajaknya menuju halaman parkir Konoha College.
Ino hanya diam sambil menunduk malu. Kedua pipi nya merona akibat perlakuan Sai yang tiba-tiba menggandeng tangannya itu.
Sesampainya di halaman parkir, Sai dan Ino segera meninggalkan Konoha College menuju rumah Sai, menggunakan mercedez benz kesayangan Sai.
"Ayo, masuk Ino-chan." Ajak Sai. Ino tampak ragu-ragu memasuki kediaman Sai yang lebih tepat disebut 'istana' ketimbang rumah.
Sai mengusap pelan pipi Ino saat Ino hanya terdiam saat ia menyuruhnya masuk. "Ayo, masuk Ino-chan." Sai mengulang kata-kata nya.
Ino tersadar dari lamunannya -mengagumi rumah kekasihnya- saat Sai mengelus pelan pipinya.
"Aa." Hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir Ino. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa gugup.
Sai tersenyum lembut melihat kekasihnya itu. Ia tahu Ino tampak gugup dan sedikit canggung.
"Tak perlu malu-malu atau canggung Ino-chan. Anggap saja seperti rumahmu sendiri." Sai tersenyum lalu kembali menggandeng tangan Ino, mengajaknya masuk ke dalam rumahnya. Ino hanya mengangguk dan mengikuti langkah Sai.
"Ano.. rumahmu sepi sekali, Sai-kun." Ino menatap sekeliling rumah Sai. Hanya ada beberapa pelayan yang terlihat semenjak ia memasuki kediaman kekasihnya itu.
"Tou-san dan Kaa-san sedang tugas di luar kota. Jadi, hanya ada aku saja di rumah ini. Oh, tentu saja ada beberapa pelayan yang juga tinggal disini," Ucap Sai. Ia membawa Ino masuk lebih dalam ke kediamannya.
"Untung saja ada Ino-chan yang menemaniku. Jadi, aku tidak merasa kesepian lagi." Lagi-lagi Sai memberikan senyumnya kepada Ino. Ino hanya bisa menundukkan wajahnya makin dalam. Semburat merah pun makin mewarnai kedua pipinya.
Akhirnya Sai dan Ino berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu berornamen pahatan-pahatan kayu yang indah. Ino menatap kagum pada pahatan-pahatan di pintu itu.
"Ino-chan, bisakah kau menutup matamu sebentar? Aku ingin ini menjadi kejutan untukmu." Sai menatap kedua aquamarine Ino.
"Baiklah, Sai-kun." Ino pun menutup kedua matanya. Rasa penasaran pun semakin di rasakan Ino.
Sai menggandeng tangan Ino, membuka pintu ruangan tersebut, mengajak Ino masuk semakin dalam. Ino mencium aroma cat dan kanvas, ia yakin ini tempat Sai biasa melukis. Galeri mungkin.
Setelah beberapa langkah, Sai pun berhenti. Ino pun ikut berhenti.
"Sekarang kau boleh membuka kedua matamu, Ino-chan." Sai melepas genggaman tangannya pada Ino.
Ino pun membuka kedua matanya. Saat itulah, saat ia membuka kedua bola mata aquamarine nya, ia terpana.
Sebuah lukisan. Bukan lukisan biasa ─setidaknya itulah yang di rasakan Ino saat ia membuka matanya dan melihat lukisan itu terbentang indah di hadapannya. Indah. Hanya satu kata itulah yang terfikir di benak Ino.
Sebuah lukisan tentang dirinya. Ino yang sedang tersenyum menatap matahari terbenam di bukit pegunungan Konoha. Sinar mentari yang mulai tenggelam itu menciptakan bias indah di wajah Ino. Ino tampak sangat natural saat itu, dan lukisan itu pun tampak sangat nyata. Indah dan cantik.
"Indah sekali, Sai-kun," Ino benar-benar tak dapat menyembunyikan kekagumannya akan lukisan kekasihnya itu. Ino tak menyangka bahwa Sai mampu melukis lukisan seindah ini. "Ini sangat indah. Aku.." Ino tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi. Tak terasa air mata nya menetes. Sai mengusap kedua air mata di wajah kekasihnya itu.
"Ini lukisan keduaku untukmu," Sai menatap lembut kedua bola mata Ino.
"Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Ino. Aku tidak main-main. Aku tak pernah merasakan perasaan seperti ini kepada orang lain. Hanya kau. Dan dengan lukisan lah aku menyampaikan rasa cintaku ini kepadamu, Ino-chan."
"Sai-kun.." Ino kembali meneteskan air matanya. Ia merasa sangat bahagia saat ini.
"Ku mohon cintailah aku seperti aku mencintai dirimu." Sai pun mengusap kedua pipi Ino.
"Ya, Sai-kun. Aku juga sangat mencintaimu. Hanya kau yang ada di hatiku. Terimakasih Sai-kun kau sudah mau mencintai diriku dan menerimaku apa adanya." Ino tersenyum lembut. Cantik. Itulah yang ada di fikirkan Sai saat itu. Obsidian dan Aquamarine. Keduanya makin larut dalam tatapan intens masing-masing.
Perlahan Sai mendekatkan wajahnya pada wajah Ino. Ino hanya diam, menunggu.
Bertemu. Sai menyatukan bibirnya pada bibir mungil Ino. Ciuman pertama mereka. Terasa sangat lembut. Sai mencium Ino dengan sangat lembut. Tangannya mengusap pipi Ino pelan.
Perlahan namun pasti, ciuman itu berubah menjadi lebih dalam. Sai menyapukan lidahnya di bibir Ino, meminta ijin untuk mengecap rasa Ino lebih dalam. Ino pun membuka mulutnya, mengijinkan Sai untuk lebih dalam mengeksplorasi.
Kini ciuman itupun berubah menjadi ciuman yang panas dan penuh hasrat.
Entah sejak kapan Ino mengalungkan tangannya ke leher Sai. Dan kedua tangan Sai pun tak bisa diam. Sai mengusap lembut seluruh bagian tubuh Ino yang bisa di jangkaunya.
Lidah Sai menjelajah liar di dalam mulut Ino.
Ino mendesah tertahan saat Sai menyapukan lidahnya, mengabsen satu-persatu gigi Ino. Lalu mengajak lidah Ino untuk bertarung, sama-sama merasakan.
"ehhm.. Sai-kun.." Ucap Ino di sela-sela ciuman panas mereka.
Puas dengan kedua bibir Ino. Sai masih ingin mencicipi rasa lain di tubuh Ino. Ciumannya pun berpindah, turun ke leher jenjang Ino. Sai menyapukan lidahnya di leher kanan Ino. Mencari-cari titik sensitive kekasihnya itu.
"Uuuh.." Ino melenguh pelan saat Sai berhasil menemukan titik sensitive di lehernya. Sai pun menyesap lebih dalam titik sensitive itu. Menghisapnya, menggigit kecil bagian itu, lalu menyapukan lidahnya. Gigitannya tersebut menimbulkan ruam merah kecil.
Sai semakin banyak menciptakan ruam-ruam merah di leher Ino. Seakan ingin mengecap semua rasa Ino. Kedua tangannya pun sibuk melepas dress babydoll Ino. Melepas kancingnya satu persatu. Menariknya dengan sedikit kasar. Sehingga kedua payudara Ino tampak lebih jelas dengan bra berwarna biru ─yang menjadi penghalang bagi Sai untuk mengecap rasa lain di tubuh Ino.
Ciumannya pun semakin turun. Sai mengecup pelan belahan dada Ino.
"aahh.." Lagi-lagi Ino mendesah tertahan akibat perlakuan Sai.
Dengan tidak sabar, Sai mencoba melepas bra Ino.
Ino sadar hal ini akan membawanya masuk ke hal yang lebih dalam dan intens lagi.
"Sai-kun.. Tunggu dulu.. aahh.." Ino mencoba bicara kepada kekasihnya itu, namun lagi-lagi desahanlah yang kembali terucap dari bibirnya. Ternyata Sai sudah berhasil melepas bra nya. Kini, ia asik menciumi kedua payudara Ino yang sudah bebas. Membuat Ino makin berusaha keras menahan desahannya.
"Sai-kun.. ku mohon dengarkan aku dulu.." Sai tak bergeming. Ia masih sibuk dengan 'sesuatu' milik kekasihnya itu.
"Sai-kun.. akkhh..!" Ino sedikit berteriak. Sai menggigit putingnya. Menyesap payudara kirinya dengan penuh nafsu. Membuat Ino tak bisa menahan sesuatu yang ingin keluar di bawah sana.
"Sai-kun…. Aaah.. aku.." Ino lemas. Basah. Sai tampak puas melihat Ino mencapai orgasme pertamanya. Cepat sekali. Pikir Sai.
"Sai, ku mohon.. dengarkan aku.." Ino mendorong pelan tubuh Sai.
"Sai-kun.."
Akhirnya Sai pun menghentikan kegiatannya ─menciumi payudara Ino─ itu, sedikit merasa kesal karena 'aktivitas' nya di ganggu.
"Kenapa Ino-chan? Apa kau tidak ingin?" Tanya Sai.
"Bukan begitu.. Aku ingin, tapi bukankah kita harus menyiapkan sesuatu terlebih dahulu? Ini… pengalaman pertamaku." Ucap Ino malu-malu. Sai hanya tersenyum lembut memandang kekasihnya itu yang tampak malu, wajahnya sudah sangat merah.
"Baiklah Ino-chan. Aku akan menyiapkannya. Setelah itu, kau tidak bisa menghentikanku lagi." Ucap Sai sambil menyeringai. Ino hanya mengangguk, menatap malu kekasihnya.
"Ayo, ku bantu kau memakai bajumu. Lalu, ikut aku menemani membeli 'persiapan' untuk kita nanti." Sai tersenyum mencurigakan.
"Aku ikut membelinya juga?" Tanya Ino. Wajahnya semakin merah membayangkan dirinya dan Sai membeli 'sesuatu' untuk kegiatan tertunda mereka ini.
"Tentu saja, Ino-chan." Jawab Sai sambil membantu Ino mengancingkan dress baby doll nya.
Sai dan Ino sampai di sebuah pertokoan di Konoha Street. Sai mengajak Ino masuk ke dalam toko yang terletak di sudut pojok pertokoan tersebut. 'SPECIAL GIFT'S SHOP'. Nama toko tersebut.
"Tempat apa ini, Sai-kun?"Tanya Ino.
"Masuk saja, nanti kau juga akan tahu tempat apa ini." Jawab Sai sambil menggandeng tangan Ino, masuk kedalam toko.
Sai membawa Ino ke sisi kanan toko itu. Wajah Ino langsung memerah saat melihat tulisan di sebuah papan, 'EXRTREME AND MATURE'.
"Sai-kun apa kita akan membeli sesuatu di bagian khusus dewasa itu?" Ino bertanya sambil menatap Sai malu. Entah mengapa hari ini Ino menjadi seorang gadis yang pemalu dan tidak banyak bicara, seperti Hinata, salah satu sahabatnya selain Sakura. Padahal Ino adalah gadis yang paling cerewet menurut Sakura dan Hinata.
Sai hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan kekasihnya itu. Sai pun menghentikan langkahnya di salah satu rak. Mengambil sesuatu berbentuk kotak.
"Ino-chan, sebaiknya berapa banyak aku harus membeli ini?" Sai menyodorkan sekotak kondom kepada Ino. Wajahnya di buat seperti orang yang sedang benar-benar bingung. Ia ingin menggoda Ino.
"Sai-kun kau membuatku sangat malu! Aku.. tidak tahu.. Terserah kau saja lah!" Ino membuang muka, berusaha menutupi wajahnya yang sudah benar-benar seperti kepiting rebus.
"Baiklah aku akan membelinya dalam jumlah yang banyak ─untuk persediaan." Sai masih terlihat ingin menggoda Ino, dan itu sukses membuat wajah kekasihnya makin merah padam.
"Berhenti menggodaku, Sai-kun!" Ino mengerucutkan bibirnya. Membuatnya tampak sangat lucu. Sai hanya tertawa pelan melihat kekasihnya itu salah tingkah.
"Hmm.. apa lagi yang bisa kita beli di toko ini?" Sai tampak melihat-lihat barang-barang lain di rak-rak bagian 'khusus dewasa itu'. Setelah beberapa lama berputar-putar, Sai mengambil sebuah boneka berbentuk gurita lengkap dengan tentakelnya ─yang terbuat dari gel, dan mengambil sebuah vibrator.
"Benda apa ini?" Ino menatap aneh si 'gurita'.
"Kita akan mengetahui jawabannya nanti, Sayang." Jawab Sai sambil menyeringai aneh ke arah Ino. "Past kau akan sangat menyukai benda ini."
Ino makin salah tingkah. Lagi-lagi Sai sukses membuat wajah kekasihnya itu merah padam.
Setelah selesai dengan acara membeli perlengkapan 'tempur' mereka. Sai dan Ino langsung kembali menuju kediaman Sai.
"Ayo, Ino-chan aku sudah tidak bisa menunggu lagi." Sai menarik Ino masuk kedalam rumahnya, lebih tepatnya kedalam kamarnya.
"Astaga Sai-kun, tidak bisakah kau sabar sedikit saja? Dasar pervert." Ino menatap Sai dengan pandangan yang sulit di artikan(?).
"Terimakasih." Ucap Sai. Ino hanya memutar kedua bola matanya menanggapi kekasihnya itu.
Sesampainya di kamar Sai, Ino kembali merasa gugup. Ia melihat kekasihnya itu sedang mengunci pintu kamarnya. Ino berjalan menuju beranda di luar kamar Sai. Mencoba mengusir kegugupan yang tiba-tiba datang kembali.
Ino sedikit terkejut saat mendapati tangan kekar Sai memeluk pinggangnya dari belakang.
"Ino-chan, bisakah kita mulai sekarang?" Ucap Sai pelan sembari menciumi tengkuk kekasihnya itu. Ino hanya mengangguk, menikmati sapuan bibir Sai di tengkuknya. Sai pun segera menggendong Ino.
"Sai-kun.." Ucap Ino saat Sai membaringkannya di tempat tidur berukuran king size milik Sai.
Sai menatap kedua aquamarine Ino. Gadisnya ini sudah membuatnya benar-benar tidak bisa menahan hasratnya lebih lama lagi.
Sai mulai mencium bibir mungil Ino. Lembut.
Ciuman lembut nya kemudian berubah menjadi ciuman panas ─yang membuat gairah mereka semakin memuncak. Lidah mereka saling bertautan, mencoba untuk sedikit mencicipi rasa dari pasangannya. Sai mengabsen gigi Ino satu persatu lalu menggelitik langit-langit mulut Ino dengan lidahnya, membuat Ino mendesah, menahan geli akibat perlakuan Sai.
Ino pun tak ingin diam saja. Ia balas menyeruakkan lidahnya masuk kedalam mulut kekasihnya itu sembari melingkarkan kedua tangannya di leher Sai. Ikut merasakan sensasi bagaimana rasanya mengecap rasa sang kekasih.
Saliva saling bertukar. Menjadi bukti ciuman mereka yang penuh dengan gairah.
Setelah puas mencicipi indera perasa Ino, Sai bergerak turun menuju leher Ino. Menjilat. Menyesap. Menggigit. Hal itu Sai lakukan berulang kali di berbagai tempat di leher Ino. Menimbulkan bercak-bercak merah. Tangannya pun tak bisa tinggal diam, mencoba membantu dengan cara melepaskan dress baby doll yang di gunakan Ino. Lalu, membuang dress Ino ke sembarang tempat setelah berhasil memisahkannya dengan si pemiliknya. Kini tubuh mulus Ino hanya terhalangi oleh pakaian dalam yang di kenakannya. Sai menatap kagum tubuh gadisnya itu.
"Jangan menatapku seperti Itu." Ino menutup dua bagian paling sensitifnya dengan kedua tangannya. Wajahnya bersemu merah.
"Tak bolehkah aku melihat dan sedikit mencicipinya?" Sai bertanya sembari menatap lembut kedua mata Ino.
"Semua ini milikmu ,Sai." Ino menangkupkan kedua tangannya pada wajah Sai, lalu mengecup pelan bibir Sai.
Sai tersenyum. Dengan sigap ia kembali menciumi bibir Ino sembari mencoba melepas kaitan bra yang di kenakan Ino.
Klik. Bebas. Kedua mata Sai menjelajah lapar kedua payudara Ino. Wajahnya ia arahkan pada belahan dada kekasihnya itu. Menyesap dalam-dalam aroma khas tubuh gadisnya. Lalu mendaratkan kedua bibirnya di salah satu dada Ino.
"aaahh…" Ino mendesah menerima perlakuan Sai. Sai mencium puncak payudara Ino lalu menggigit-gigitnya kecil.
"Dadamu sangat indah, Ino-chan." Ucap Sai di sela-sela kegiatannya menyesap payudara Ino.
"Ssshh.. terus Sai-kun.." Ino semakin menekankan kepala kekasihnya itu pada payudaranya. Meminta lebih.
Lagi-lagi tangan Sai tak tinggal diam. Tangan kirinya bergerak menuju payudara Ino yang lain. Memanjanya seperti yang di lakukan oleh mulutnya. Mengusap dan mencubit kecil puncak payudara kanan Ino. Membuat Ino semakin mendesah tertahan.
Tangan kanannya pun melaksanakan tugas dengan baik. Satu-satu nya kain yang melekat di tubuh Ino berhasil ia lepaskan. Menampakkan mahkota kegadisan Ino. Basah. Ternyata Ino menikmati permainannya. Sai pun sudah merasakan sesak di bagian celana nya semenjak awal tadi. Sesuatu di bawah sana meminta untuk di bebaskan.
Sai pun beranjak dari atas tubuh Ino. Ingin tampak polos juga sama seperti kekasihnya. Sai melucuti pakaiannya satu-persatu. Ino hanya diam mengamati kekasihnya itu membuka seluruh pakaian yang di kenakannya hingga tak ada satu pun yang melekat di tubuhnya. Ino sedikit menganga saat melihat kejantanan kekasihnya sudah berdiri tegak. Entah mengapa ia merasa sangat malu.
Sai yang menyadari pandangan Ino yang menatap pada benda yang menjadi kebanggannya itu hanya tersenyum. Ia kembali menindih tubuh Ino. Merasakan sensasi saat kedua dadanya bergesekkan dengan kedua payudara Ino.
Sai kembali menciumi payudara Ino. Melukiskan kembali bercak-bercak merah di sekeliling payudara Ino.
"Aaakh..!" Ino memekik keras saat ia merasakan ada sesuatu yang menerobos daerah sensitifnya.
"Tenang Ino-chan. Ini tidak menyakitkan." Sai mengecup pelan dahi Ino.
Sai memaju-mundurkan jari telunjuknya yang sudah tertanam di dalam vagina Ino.
"Aaahh.. ssshh.. Sai-kun.." Tampaknya Ino sudah mulai terbiasa menerima kehadiran jari Sai di dalam tubuhnya.
Sai pun mengikutsertakan jari tengahnya masuk kedalam vagina Ino. Lalu kembali memaju-mundurkan kedua jari nya tersebut. Ino semakin mendesah keras. Terakhir ia masukkan jari manisnya. Lalu ia mempercepat gerakan jari-jari nya di dalam vagina Ino. Tak hanya jari Sai yang bekerja, mulutnya pun terus menerus menciumi kedua payudara Ino bergantian. Membuat Ino merasakan dua kenikmatan yang berbeda.
"Aah Sai-kun.. aku.. aku.. aakh!" Ino menjerit. Cairan bening keluar membasahi jari-jari Sai. Klimaks pertama nya. Tubuhnya lemas. Peluh membasahi seluruh tubuhnya.
Sai belum puas. Ia ingin mencicipi langsung cairan cinta kekasihnya itu. Sai pun semakin bergerak turun. Mengecup pelan semua bagian tubuh Ino yang di lewatinya. Payudara. Perut. Dan terakhir pangkal paha Ino.
Ia meghirup aroma kegadisan Ino. Lalu menyuruh Ino untuk menekuk kedua kaki nya. Membuat Sai lebih leluasa untuk mengeksplorasi sesuatu di bawah sana.
"aaah….." Ino mendesah nikmat saat sai mengecup dan menjilat pelan klitorisnya. Mendengar desah nikmat yang terucap dari bibir Ino, Sai segera memasukkan lidahnya ke dalam vagina Ino. Memasukkan lidahnya sedalam mungkin lalu menariknya keluar lagi. Begitu berulang-ulang. Desahan Ino semakin terdengar. Sai makin cepat megeluar-masukkan lidahnya. Ino pun semakin menekan kepala Sai agar lebih dalam memanja kegadisannya. Sampai akhirnya..
"Sai-kun.. aku.. aahhaah.. keluar!"Ino memekik. Cairannya tumpah di mulut kekasihnya. Sai dengan sigap langsung menelan cairan kenikmatan Ino tanpa rasa jijik sedikit pun. Menjilat sebentar klitoris Ino, lalu bergerak naik untuk mengecup bibir Ino, ingin memberitahu bagaimana rasa cairannya sendiri.
"Aku akan memulainya, Ino-chan," Sai menatap Ino serius. "Hentikan aku jika aku menyakitimu. Aku juga tidak memaksamu jika kau tak menginginkannya."
"Tidak Sai-kun, aku percaya padamu kau tak akan menyakitiku, dan aku tak ingin kau berhenti karena aku juga menginginkannya." Ino balas menatap Sai lembut dan tersenyum manis.
Sai mengangguk. Ia pun beranjak sebentar dari tubuh Ino untuk memasang kondom yang sudah di belnya tadi bersama Ino. Sai mengecup pelan bibir Ino.
"Aku mulai."
Sai mulai memasukkan kejantanannya kedalam vagina Ino.
"Aaakh..!"Ino memekik pelan saat kejantanan Sai mencoba menerobos masuk kedalam vaginanya. Setetes air mata mulai mengalir membasahi pipinya.
"Hentikan aku jika ini benar-benar membuatmu sakit." Sai menatap khawatir pada Ino.
"Tidak, lanjutkanlah Sai-kun." Ino menatap yakin kekasihnya itu, mencoba meyakinkannya bahwa ia bak-bak saja.
Sai pun kembali memasukkan kejantanannya perlahan. Saat ia memasukkan lebih dalam lagi, ada sesuatu yang menghalanginya. Selaput dara. Sai pun menarik nafas sesaat. Lalu menghentakkan kejantanannya ke dalam vagina Ino dengan sekali hentakan. Darah segar pun keluar, mengotori seprei putih Sai.
"Aaakkh! Ittai!" Ino menjerit keras. Tubuh bagian bawahnya terasa sakit sekali. Cairan bening pun semakin banyak menetes membasahi pipinya.
Sai mengusap pelan pipi Ino. Menghapus air mata Ino yang sudah menganak sungai.
"Apa sangat sakit?" Tanya Sai. Ino menggeleng dan mencoba tersenyum kepada kekasihnya itu.
Sai menunggu Ino terbiasa dengan kehadirannya di dalam tubuhnya. Setelah beberapa saat, tampaknya Ino sudah terbiasa dengan kehadiran Sai di tubuhnya, ia menggoyangkan pinggulnya.
Sai mengerti. Ia mulai bergerak, memaju-mundurkan kejantanannya di dalam vagina Ino.
"Aaaah.." Desahan pertama Ino. Membuat Sai semakin bergairah. Lubang Ino terasa sempit sekali. Membuat Sai berusaha keras untuk menahan desahan keluar dari mulutnya.
Setelah beberapa lama, Ino tampak sedikit kesal karena Sai masih saja bergerak pelan, padahal ia sudah tidak lagi merasakan sakit. Justru kali ini kenikmatanlah yang ia rasakan.
"Lebih cepat Sai-kun.. sshh.."Pinta Ino.
Sai pun menyeringai. Ternyata kekasihnya itu sudah tidak sabar untuk lebih dimanja olehnya.
"As you wish." Sai mempercepat tempo gerakannya. Membuat kejantanannya bergerak keluar-masuk lebih cepat.
"Terus Sai.. yaa.. lebih dalam.. aah.. lebih ke..akkh..ras…" Ino meracau tak jelas.
Vagina Ino terasa berdenyut-denyut, menjepit kejantanan Sai makin kuat. Sai pun semakin liar. Ia bergerak semakin cepat dan tak teratur. Ino terlihat tak bisa mengimbangi geraskan Sai. Ia hanya bisa mendesah dan memekik saat kejantanan Sai menusuk-nusuk titik kenikmatannya. Gerakan Sai semakin tak terkendali sampai Ino menjerit keras menyebut namanya.
"SAI-KUUUUUN…..!" Ino mengalami orgasmenya yang ketiga. Orgasme paling puncak. Ia merasakan kenikmatan yang teramat sangat.
"aahh.. Ino-chan..!" Sai tak mampu menahan desahannya saat Ino mengalami orgasme puncaknya. Kejantanannya terasa sangat nikmat. Vagina Ino menjepit kuat kejantanannya, membuatnya tak mampu lagi menahan sesuatu yang sedari tadi ingin keluar.
"akh, aku keluar ,Ino-chan!" Sai ambruk di atas tubuh Ino.
Nafas keduanya terdengar memburu. Saling berebut oksigen yang seakan-akan sebentar lagi akan habis.
Ino mengusap pelan kepala Sai. Sai pun semakin mengeratkan pelukannya pada Ino.
"Terimakasih Ino-chan. Aku sangat mencintaimu." Sai mencium bibir Ino pelan. Lalu menghapus air mata Ino yang kembali menetes.
"Aku juga sangat mencintaimu, Sai-kun." Ino tersenyum bahagia, lalu memeluk erat Sai.
Dan malam itu pun mereka habiskan dengan saling berpelukan, berbagi kehangatan dan berbagi kebahagiaan.
END OF FLASHBACK
Sakura hanya mampu menatap tak percaya pada sahabatnya itu, setelah Ino selesai menceritakan 'pengalamannya' bersama Sai.
"Astaga, Pig, aku tak menyangka kau dan Sai bisa seliar itu."
'Hei, jangan salahkan aku. Memang keadaan yang membuat kami seperti itu," Ino berusaha mencari-cari alasan.
"Tetapi sekarang aku merasa sangat bahagia. Aku sudah menjadi milik Sai seutuhnya, begitu juga sebaliknya. Aku benar-benar merasa di cintai olehnya." Ino tersenyum lembut dan wajahnya kembali merona.
"Andai saja aku dan Sasuke-kun juga seperti itu," Tiba-tiba wajah Sakura menjadi muram.
"Aku iri padamu, Ino. Kau sangat di cintai oleh Sai. Sedangkan aku, aku tak tahu bagaimana perasaan Sasuke yang sesungguhnya terhadapku."
"Tidak, tidak. Aku yakin sekali Sasuke sangat mencintaimu." Ino mencoba memberi semangat kepada sahabatnya.
"Kalau ia mencintaiku kenapa ia tak pernah sekali pun menciumku? Bukan maksudku ingin berhubungan intim dengannya atau apapun itu, aku hanya ingin ia sekali saja menciumku dengan lembut, aku ingin dia memperlihatkan rasa sayangnya itu kepadaku." Sakura mulai terisak.
"Sakura.. Cobalah berfikir positif. Pasti Sasuke mempunyai alasan yang jelas mengapa ia bersikap seperti itu padamu. Sudahlah, jangan menangis. Aku tak ingin melihat sahabatku menangis." Ino menggenggam lembut tangan Sakura.
"Terimakasih, Ino." Sakura menghapus air matanya.
"Itulah gunanya sahabat," Ino tersenyum ceria.
"Sebaiknya kita tidur, ini sudah larut malam. Besok kita tentu tak ingin datang terlambat di pelajaran Shizune-sensei kan?" Ino merebahkan kembali tubuhnya setelah sesaat tadi duduk bersila di atas kasurnya.
"Tentu saja. Aku tak ingin kena omelan Shizune-senseii yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam itu." Sakura bergidik ngeri membayangkan sensei-nya yang terkenal sangat suka mengomeli muridnya yang datang terlambat.
"Oyasumi, Sakura."
"Oyasumi, Ino."
Kedua gadis itu pun mulai memejamkan matanya. Beristirahat setelah melakukan berbagai aktivitas yang melelahkan seharian ini. Berharap hari esok akan lebih baik dari hari ini.
T.B.C
Holaaa… saya kembali lagi ;D melanjutkan fic pertama saya ini. Fufufu~
di chapter ini saya sudah menghadirkan adegan LEMON _
maaf yaa kalo lemonnya aneh dan gaje. Sebenarnya saya tidak terlalu bisa membuat adegan lemon-lemonan. Ahaha *plakk
chapter ini juga sengaja saya buat sedikit lebih panjang dari chapter yang kemarin. Hohoho~
Semoga chapter ini tidak mengecewakan dan bisa di terima oleh reader semua :D
Oya, saya senang sekali fic pertama saya udah ada yg mereview.. hiks *Nangis terharu :')
Oke saya balas review nya yaaa….. :D
Valkyria Sapphire : hoho iya saya masih newbie. Terimakasih atas sarannya senpai~ Ini udah saya update. Semoga lebih baik dari chapter kemarin :)
Shubi Shubi : haha memang sengaja saya buat seperti itu. Saya sendiri kesel liatnya. Ahaha XP okay nanti saya bikin si Uchiha itu cemburu tapi mungkin di chapter ini belum. Di tunggu sajaa :D
Elmao Incester : Menurut anda? *rolling eyes -_-" Fuh saya update nih. Dasar imouto(?) yang menjengkelkan -_-"
4ntk4-ch4n : haha Ino mengajarkan hal baik kok. Lho? Okay saya update nih :)
SyeaSasuSaku : haha terimakasih saya lanjutkan nih. Terimakasih review nya :)
Tabita Pinkybunny : hehe terimakasih... jawabannya ada di chapter depan :)
Huaaah~ terimakasih yaaa buat semua yang sudah membaca dan mereview fic saya yg gaje ini. Saya masih mengharapkan kritik dan saran dari senpai2 semuaaa…. Arigato gozaimasuu… :D
