W-wah, saya ga nyangka langsung dapat respon O.O; Makasih! ;w;

Tanpa basa-basi lagi, berikut chapter 2! ^o^b

Warnings: AU fantasi sejarah; agak diksi yang agak lebay; anti-heroes; seks di bawah umur & pemerkosaan semi-grafis; kekerasan bertema berat dengan sedikit gore, termasuk kematian banyak OC; beberapa kilas balik.

Dedicated to: kalian semua, wahai reader maupun author KHR Indo. Penerjemah berharap kalian bisa lebih mencintai 10069 setelah membaca ini. Atau membaca fic aslinya.

Disclaimer: Amano Akira owns Kateikyoushi Hitman Reborn!, IDespiseTragedy owns For the Love of Hell.


"Aku tidak memiliki Tuhan; karena aku akan menjadi Tuhan."

~ Amabam - Amo - Amabo ~

II. Perselisihan antara Sang Lili Putih dan Pembela Chthonic


Sekarang, berusia empat belas tahun dan delapan bulan, Mukuro yakin dia bisa menang atas pembunuh keluarganya. Bagaimanapun juga, ia sendiri telah menjalani sembilan lapisan neraka selama hampir sembilan tahun pelatihan. Selain itu, ia juga bisa memanggil Owl Mist atau Gufo della Foschia - seekor burung yang terbuat dari kabut ciptaannya sendiri untuk tujuan spionase. Kemiripan luar burung itu tidak berbeda dari burung hantu putih lain pada umumnya, kecuali satu mata biru dan satu mata merahnya, tetapi ia bisa menghilang menjadi kabut pada saat bahaya atau hanya untuk kenyamanan.

Kenyataannya, hari ini, Mist Owl-nya yang dapat diandalkan itu, yang dikirim sebelas hari sebelumnya untuk mencari si bangsat menjijikkan yang telah menghapuskan para Estranei, kembali. Segera setelah sang burung bertengger di lengannya, Mukuro menatap mata burung hantu dan mengasimilasikan semua informasi yang diperlukan melalui komunikasi non-verbal.

Setelah terbang selama beberapa hari, burung itu memata-matai seorang pria yang tampak persis sama seperti pembunuh para Estranei sembilan tahun sebelumnya, tidak tampak bertambah tua seharipun. Orang ini, yang dikenal sebagai Byakuran, yang ternyata menjadi raja dari kerajaan Millefiore, sedang membeli pir di pasar. Tidak seperti raja pada umumnya, raja ini sering meninggalkan takhtanya sesuka hatinya, menyamarkan dirinya dengan pakaian orang biasa untuk mengisi waktu luangnya: membunuh manusia.

Dengan asumsi bahwa ia adalah adik dari sang pembunuh, dan bahwa pengamatan lebih lanjut akan mengantarkannya kepadanya, sang burung hantu tidak mengubah target. Sang raja tampak jinak dan tidak berbahaya sampai dia melihat arah si burung hantu. Itu adalah pandangan yang mengubah Juli terpanas ke Januari terdingin dan, karena waspada, Gufo della Foschia lalu segera terbang menjauh.

Tanpa penundaan lebih lanjut, Mukuro pergi menuju ke kota tempat Byakuran singgah. Setiap langkah yang diambil sang perampok membujuknya untuk bergerak lebih cepat. Tahun-tahun penantian akan segera diakhiri. Akhirnya, ia akan membuktikan bahwa ia bukan lagi seorang anak yang terlalu takut untuk menggerakan ototnya selama pembantaian. Dia mencapai tempat tujuannya dua hari kemudian.

Pada sebuah padang rumput di perbatasan kota, di mana rumput begitu hijau bagaikan zamrud di atas tanah dan awan yang melayang tenang di atas langit, berdiri pria yang sangat ingin ia temui; jubah berompi dengan riangnya menggelembung karena angin . Senyumnya ramah, namun, auranya, liar. Tidak ada keraguan lagi: tidak peduli apa tipu muslihat yang ia terapkan untuk memalsukan usianya, pria ini membawa bau darah kemanapun ia pergi dan memang dialah orang yang telah menumbangkan para Estranei.

"Akhirnya kau datang, Vindice Mukuro Novestrati, atau harus kusebut kau sebagai Eugenio, putra dari Adalberto Estraneo?"

Mukuro tidak memiliki firasat tentang bagaimana lawannya tahu mengenai identitasnya, tetapi memilih melempar pisau sebagai pengganti ucapan salam. Dengan selang tahun-tahun yang panjang, ingatannya yang kuat memelihara rasa permusuhan terhadap pembunuh keluarganya yang amat sangat dalam.

Sementara menghindari pisau-pisau, sang raja di antara para Millefiori menyapanya lagi, "Sembilan tahun telah berselang sejak terakhir kali kita bertatap muka satu sama lain."

Sang boothaler* mengaktivasi lapisan pertama neraka: The Heathens atau lapisan bagi orang-orang kafir. Begitu angka Romawi "I" muncul di mata kanannya, realitas adalah dibengkokan. Padang rumput menghilang dari pandangan; sebuah limbo muncul menggantikan. Bumi tempat mereka berdiri dan langit di atas lenyap menjadi kehampaan. Siapa pun yang terjebak di dalamnya akan kehilangan pikirannya, melupakan tujuan hidupnya dan dengan demikian akan sangat mudah untuk dikendalikan pikirannya. Mereka yang telah meninggalkan keyakinan agama mereka adalah target sempurna dan Mukuro tidak bisa melihat mengapa pembunuh berdarah dingin sepertinya tidak termasuk dalam kategori ini.

Byakuran masih berdiri tak bergerak di tempat ketika Mukuro menyapanya. "Jelaskan padaku mengapa kau tidak bertambah tua."

"Ah, kita baru sebentar bertemu kembali dan sudah kau telah menanyakan pertanyaan yang begitu pribadi?" goda sang raja.

Menyipitkan matanya, Mukuro langsung menarik mundur. Kadang-kadang, ketika sang target memiliki kemauan yang kuat, alam neraka pertama tidak akan mempengaruhi dia. Oleh karena itu, setelah mengaktifkan dunia kedua, The Lustful** atau alam hasrat, dan sang perampok muda berusaha untuk mengungkap rahasia lawannya dengan menanyakan pertanyaan yang sama.

Dalam dunia itu, didorong oleh nafsu, si korban seharusnya akan mematuhinya bagaikan seorang budak, terlepas dari betapa tak tertahankannya permintaan itu. Namun demikian, ia mendengar bisikan "O sensus mihi, noli egredi!" ("Wahai perasaanku, tolaklah keinginan untuk keluar itu!") dari mulut Byakuran.

'Rupanya raja ini juga merangkap sebagai penyihir; benar-benar bakat merepotkan yang tersembunyi di balik penampilannya yang menyerupai seorang Cherub!' duga Mukuro. Jengkel, sang ahli ilusi tidak memiliki pilihan selain mencoba sembilan lapisan neraka satu per satu untuk mencari kelemahan lawannya.

"Oh, aku mengerti." Byakuran membuat komentar ringan ketika perutnya mulai bergemuruh saat mereka berada di dunia ilusi ketiga Mukuro: The Gluttonous, atau alam bagi mereka yang rakus. Membelai perutnya, sang penyihir kemudian merapal, "Satis habeam." ("Semoga saya merasa puas.") dan suara gemuruh itu berhenti.

Kali ini, Mukuro melihat Byakuran menyentuh cincinnya sebelum mengucapkan mantranya. Meskipun kebanyakan penyihir wanita dan penyihir lelaki menggunakan tongkat, beberapa orang menggunakan jimat sebagai pengganti. Sang perampok berambut nila itu kemudian bertekad untuk membuat cincin tersebut berada di luar jangkauan sang raja.

Untuk melawan The Avaricious - lapisan neraka keempat atau alam bagi mereka yang serakah - Byakuran merapal, "Tempus optatem debit; dura!" ("Waktu akan mengabulkan keinginan; bertahan!")

Namun, kali ini sang ahli ilusi tidak membiarkan ilusinya sebagai satu-satunya serangan darinya. Dia menyambar cepat dalam upaya untuk merebut atau menghancurkan cincin itu. Lawannya menyadari hal ini dan menghindar, membuat Mukuro kecewa, begitu licin dan cepat. Begitu halusnya langkah kaki mereka melangkah sehingga rumput bahkan tidak bergemerisik saat mereka melangkah, terlibat satu sama lain dalam sebuah tarian mematikan.

Ilusi chthonic kelima Mukuro, The Wrath atau alam murka, tidak berhasil juga. Byakuran bahkan tidak perlu untuk membalas mantranya, ia hanya tersenyum ... begitu manis sehingga tampak berbahaya. Tak satu pun terjangan trident Mukuro mampu memukulnya.

Angka Romawi di mata Mukuro sudah menunjukkan 'VI' saat Byakuran berucap, "Non sine Deo sum; Deus ero" ("Aku tidak memiliki Tuhan; karena aku akan menjadi Tuhan") dan karenanya ilusi The Heretics atau alam tempat orang-orang bid'ah itu dihapuskan.

Satu gerakan cepat dari Byakuran dan trident Mukuro terlempar dari tangannya, mendarat beberapa meter jauh dari pemiliknya. Beralih ke kaki dan tangan mereka, sang ahli ilusi bertemu mage dalam sebuah bentrokan. Gerakan keduanya cepat; gerakan keduanya mematikan. Jikalau yang muda menyerang, yang lebih tua akan menghindari; jikalau yang muda menerjang, yang lebih tua akan menghindarinya. Pertaruangan mereka telah meningkat ke titik di mana mereka perlahan-lahan mengitari satu sama lain, berayun, bertahan, menyerang, memutar pinggang dan berputar pada kaki mereka; tangan mereka menjadi gerakan-gerakan buram, dan duel mereka menjadi seperti terpsichorean, begitu menakjubkan bagai kabut itu sendiri, namun begitu melingkupi segalanya bagaikan langit.

Serangan terjadi, begitu pula serangan balik, fluiditas pada lengan dan kecepatan membuat sulit untuk melihat dengan jelas di mana satu penyerang akan menyerang yang lain. Di tengah-tengah halauan dan terjangan mereka, temperamen si pemuda terus naik, didorong oleh rasa permusuhan yang kukuh terhadap pembunuh keluarganya. Serangannya kemudian berubah menjadi serangan verbal saat sang perampas memprovokasi sang penguasa lalim dengan mencibir: "Apakah hanya ini yang Anda bisa, Yang Mulia?"

Meskipun demikian, Byakuran dengan bijaksana memilih untuk mengabaikan pancingan itu, menunggu dengan sabar untuk saat yang tepat untuk memulai sebuah serangan. Dan, bila waktu itu datang - ketika trident Mukuro menabrak sebuah ruang kosong di sebelah telinga kiri Byakuran, dan anak itu tidak memiliki cukup waktu untuk membalas – sang raja menghantamkan lututnya pada diafragma sang perampok, di mana hati diposisikan. Asam empedu terpancar keluar dari mulut Mukuro's, mendahului keruntuhan anak itu; lututnya tertekuk karena tak mampu menopang.

Berbaring di tanah, sang Estraneo terakhir menatap kantong yang tergantung di lehernya. Sedikit tanah di dalamnya – tanah dari halaman istana keluarganya - menghidupkan kembali nyala api keagresifan di dalam roh yang nyaris mendekati keputus asaan. Mukuro kembali bangkit karena amarahnya, menahan rasa sakit pada perutnya. Kemarahannya sudah bukan di batas kewajaran lagi: jeritan dan permohonan dari orang-orang sekarat dalam bencana yang menimpa keluarganya bergema keras di kepalanya, menghalangi segala sesuatu yang lain.

Semua serangan gencarnya adalah karena dibutakan oleh kemarahan, dan lawannya menghindari semua itu dengan mudah. Ilusi ketujuh, The Violent atau alam keganasan, terbukti menjadi yang paling kurang berhasil dari semua. Ada satu syarat mutlak yang harus dipenuhi jika Mukuro ingin menciptakan sebuah ilusi yang sempurna: pikirannya harus tenang. Dalam kondisi yang sekarang ini, adalah dirinya sendiri, dan bukan lawannya yang terpengaruh oleh ilusi. Dan, ketika seorang ahli ilusi pengguna ilusi chthonic dipengaruhi oleh ilusi sendiri, orang itu pasti akan mengorbankan hidupnya untuk Satan sendiri - seperti itu syarat untuk bekerja dengan mereka yang bekerja di neraka.

Segera setelah gejala Mukuro terjebak oleh ilusi neraka muncul, bagaimanapun, senyum riang Byakuran menghilang. Si penyihir tidak lagi bermain-main dengan seranga sang ahli ilusi, tetapi memotong di tengah-tengah terjangan, membiarkan dirinya - yang lebih ganas dari mereka berdua - untuk terjebak oleh lapisan chthonic ketujuh sebagai gantinya.

Di sini, Byakuran menemukan dirinya dalam ruang tertutup di mana warna merah membungkus sekelilingnya. Sesudah itu, seekor lembu jantan mengamuk - transformasi Mukuro - berlari ke arah nya, berusaha untuk menginjak-injak dia.

Dengan rapalan sederhana "Leo fiam!" ("Jadikanlah aku sebagai seekor singa!"), sang penyihi berambut albino bermetamorfosis menjadi singa. Bersiap-siap untuk melakukan perburuan, singa itu berlari untuk menemui penantang dan menenggelamkan gigi tajamnya di samping leher sang banteng. Kesakitan, sang banteng berubah kembali menjadi anak laki-laki dan ilusi kemerahan itu lenyap.

Sekali lagi, ilusi kedelapan, The Fraudulent atau alam palsu, gagal memberikan dampak berarti pada Byakuran. Trident-nya tidak memukul Byakuran, tetapi tidak berhasil, karena kulit si penyihir itu sekuat besi, dan ia tidak memiliki keberanian untuk menandinginya. "Aku lebih suka penyampaian secara langsung," sang penyihir menjilat darah dari leher anak yang terluka itu, "terutama jika itu menyangkut dirimu."

Mukuro menarik diri, marah karena musuh terburuknya itu telah menjilatnya. Keputusasaan tersebar di seluruh tubuhnya. Tak satu pun dari serangannya – maya maupun berbentuk - dibiarkan tanpa diimbangi sejauh ini; pada kenyataannya, tidak salah jika berkata bahwa ia 'kewalahan' sebagai kata gantinya. Jika serangan berikutnya, lapisan kesembilan dan paling rendah di neraka, tidak bisa membahayakan musuhnya yang dahsyat itu, ia tidak memiliki solusi lain selain membuang hidupnya tanpa menyelesaikan balas dendamnya. Oleh karena itu, ia berkonsentrasi penuh, mengumpulkan semua sesuai kapasitasnya untuk menciptakan ilusi akhir, The Treacherous atau alam para pengkhianat.

"Itu tak ada gunanya, Nak. Aku tidak pernah mengkhianatimu dan tidak memiliki rencana untuk melakukannya di masa depan." Byakuran bergerak ke samping dan melancarkan serangan terhadap si anak - sesuatu yang terlalu cepat untuk dilihat oleh mata petarung yang kurang berpengalaman.

Ekspresi Mukuro yang biasanya tenang itu digantikan dengan shock: rasa sakit dan kesulitan bernapas. Tinju tak terkalahkan musuhnya itu seolah-olah kosong, namun pukulan, terutama bila dikombinasikan dengan kecepatan tersebut dan akurasi pada solar plexus, juga dikenal sebagai hulu hati, cukup berat untuk menyebabkan diafragmanya mengejang, untuk sementara membuatnya kehilangan napas.

Dengan kesempatan di sisinya, sang raja mengahar si penjarah, memukul si pembalas dendam tersebut tepat di tempat yang sama seperti sebelumnya. Mukuro terhuyung-huyung dan akhirnya terjatuh, lagi.

Musuhnya yang menjijikan itu menang. Hanya ada kesengsaraan bagi yang kalah. Betapa bodohnya dia dengan berpikir bahwa dengan mencapai usia empat belas, ia bisa menang atas sang dewa ini! Dia seharusnya tahu bahwa Byakuran bukanlah tokoh yang bisa dipandang tanpa rasa kagum. Mukuro merasa kelopak matanya semakin berat dan lebih berat ...


To be continue

"Hawa dingin menyusup di dalam syaraf sang perampok; apakah sang raja berniat untuk memperkosanya dan membiarkan tulang belulang yang tertanam di sana menyaksikan mereka bersetubuh?"

III. Jarahan Sang Penjarah


*boothaler itu apa ya? Dicari di kamus ga ketemu! Dewa banget sih diksinya!

**The Lustful...kalian tahu? Pertama kali saya terjemahkan pakai Google Translate, dia menerjemahkannya sebagai 'Ngeres' XD; GOOGLE TRANSLATE IS EPIC FAIL!

Yak! Seperti sebaris(?) preview di atas, chapter berikutnya Mukuro bakal dinodai (halah bahasanya), jadi chapter berikutnya rating akan naik jadi R18 alias M-rated! Bagi yang tidak berminat membaca uke!Mukuro silahkan tunggu chapter 4 saja, hehe.

Oh ya, bales review ah...

Rakafuku: Kenapa jempolnya, lad? #ditimpuk Lha ga apa review banyak-banyak. Saya cinta review. Saya makanin itu review kalau saya laper #ngaco Makasih reviewnya! ^w^

Rst: Bukannya memang Byakuran sadis, ya? Kalau nggak sadis, bukan Byakuran namanya XD Makasih reviewnya owob

Reni-is-ishida: Two thumbs-nya jangan dikasih ke saya. Kasih aja ke IDespiseTragedy yang punya diksi sumpeh-lo-keren-abis XD Makasih reviewnya :D

Kurea Cavallone: Kalo kasian, berarti Mukuro canon juga kasian dong? Dia kan ngeliat tumpukan mayat juga pas kecil...bedanya keluarga Estraneo dibantai dia sendiri, bukan dibantai Byakuran hehehe :P Makasih reviewnya XD

Ileyra: Ga usah dipanggil panjang-panjang. Panggil Mukuro atau Mukupon aja *trident'd* Eh jangan ngefly tinggi-tinggi, ntar jatuhnya sakit XD ...argh, anda bikin saya laper juga! *ngerampok kulkas* Makasih reviewnya X3

Wokeh, sekian chapter 2. Maaf kalau ada salah kata dan typo. Jangan lupa review dan...hati-hati untuk chapter 3...mwahahaha~