A/N:

Hola! Akhirnya diupdate juga :D *dibacok sama readers*

Setelah author baca ulang, chapter satu kemaren aneh banget gak sih . deskripsinya masih keburu-buru banget, hehehehe , gomen, gomen. Tapi Ai sayang banget sama fic Ai yang ini, soalnya karakter Sasuke-nya itu lho, seksi booo' XD dan beda sama "From Y, to Y" yang masalahnya agak berat, cerita ini bakal banyak romance-nya, pokoknya gitu deeeeh . kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Makasiiih buat yang udah mau baca, review, ngefave, alert, cerita ini :) maaf banget Ai gak sempet bales semua reviewnya kemarin-kemarin, dan ngapdet-nya juga lama banget,, maklum sibuk banget, maaf :'( maaf, efek mau masuk kuliah ini, ahaha :p

Oh iya, di bawah bakal Ai lampirkan kamus mini, buat arti kata-kata asing ato saduran-saduran yang Ai pake di fic ini, semoga cukup membantu nambah informasi dan pengetahuan umum :) *digampar*

Akhir kata, selamat menikmati fic ini, minna-saaan \(^o^)/

Summary:

Sewaktu Naruto menikah dengan Sakura Haruno, Hinata didera patah hati yang luar biasa. Jadi, ketika seorang Uchiha Sasuke yang dingin dan kaku melamarnya secara tiba-tiba, tidak ada salahnya untuk menerima lamaran pernikahan itu, kan?


Saihate

By: Aya Kohaku

disclaimer: entah mau seperti apa saya memohon, menangis, menjerit, mengais,

tetep aja

Naruto bukan punya saya.


"Menikahlah denganku, Hyuuga, aku akan membuatmu bahagia."

Hinata menahan napasnya, membiarkan kata-kata Sasuke melayang di kepalanya. Bola mata perak-lavendernya terpejam, mencoba mencerna dan meresapi satu demi satu suku kata yang Sasuke ucapkan tepat di telinganya—menikahlah denganku, aku akan membuatmu bahagia—tetapi hasilnya masih tetap saja sama.

Laki-laki tampan yang ada di hadapannya ini baru saja melamarnya.

Me-la-mar-nya.

"Ti-tidak mu-mungkin."

Astaga, betapa Hinata berharap segala peristiwa yang terjadi malam ini, mulai dari pernikahan Naruto dengan Sakura, air mata Hinata yang siap jatuh tatkala menyaksikan sendiri Naruto yang mencium Sakura dengan mesra, luka yang menganga di hati Hinata, nasib buruk yang membuatnya harus diantarkan pulang oleh laki-laki tampan nan kaku nan dingin nan seksi bernama Sasuke Uchiha, kebaikan laki-laki Uchiha itu yang memberi Hinata waktu untuk menenangkan diri dan membiarkannya menangis di mobil, keputusan Hinata untuk menyusul Sasuke di bangku taman setelah menyelesaikan tangisannya, Sasuke yang (masih) dengan baik hati meminjamkan jaket hitam merek Armani yang sangat mahal, lalu dari sini semuanya berubah haluan…

Benar-benar berubah haluan.

Sasuke yang awalnya bagaikan malaikat yang dikirimkan langsung dari langit oleh Kami-sama, mendadak menjadi setan dengan tanduk iblis di kepalanya. Masih segar di ingatan Hinata bagaimana sepuluh menit yang lalu Sasuke habis-habisan mengejeknya, mengata-ngatainya, mencemoohnya, menaikkan amarah Hinata, menyebabkan jaket Armani mahal warna hitam milik Sasuke terhempas di tanah disusul pertengkaran yang pelik juga teriakan-teriakan Hinata di muka Sasuke, dan lainnya, dan lainnya, dan lainnya…

Dan Sasuke yang, uh… yang melamarnya secara tiba-tiba…

"Ti-tidak, i-ini benar-benar tidak mungkin."

Seandainya ini adalah mimpi—mimpi yang amat sangat buruk—Hinata harap ia bisa cepat-cepat terbangun lantas menceburkan dirinya di bak berisi air hangat. Sayangnya, setelah mencubit pipinya kuat-kuat dan merasakan perih di kulit pipinya yang halus, Hinata sampai pada satu kesimpulan yang paling ia takutkan: semua hal aneh bin ajaib yang terjadi di sepanjang malam ini adalah kenyataan, fakta, kesungguhan, benar-benar ada, bukan maya, bukan mimpi.

Kuulangi lagi: sama sekali bukan mimpi.

Bukan.

"Ka-kau pasti be-bercanda, Uchiha-san," Hinata menggerakkan matanya, berusaha menghindari tatapan Sasuke pada dirinya, "ka-kau pa-pasti bercan—"

"Pertama, Hyuuga, aku adalah seorang Uchiha," tegas Sasuke dingin, menyela perkataan Hinata, "dan Uchiha tidak pernah bercanda."

Nyawa Hinata serasa melayang ke nirwana.

"Ta-tapi bagaimana bisa," Hinata menahan kata-katanya sejenak, membersihkan tenggorokannya yang kering, kemudian melanjutkan kembali, "ba-bagaimana bisa kau berkata se-seperti itu? A-aku tidak nmengenalmu dengan baik, da-dan ka-kau bahkan ti-tidak mencintaiku, U-Uchiha-san!"

Ada sesuatu yang lucu— Sasuke ingin sekali tertawa.

Sembari melonggarkan ikatan pada dasinya, Sasuke dengan entengnya menggamit tangan Hinata, menariknya, dan membawa gadis Hyuuga itu ke dalam mobilnya yang diparkir tepat di tepi taman. Hinata sendiri tidak melawan, ia membiarkan Sasuke menyeretnya tanpa izin. Wanita berambut indigo tua sudah terlalu shock untuk protes, kepalanya sudah lebih dahulu dibayang-bayangi oleh kalimat Sasuke yang tak henti-henti berputar di benaknya: menikahlah denganku, Hyuuga, aku akan membuatmu bahagia.

Aku akan membuatmu bahagia…

Hinata menelan ludahnya kuat-kuat.

"Ki-kita mau ke mana?" tanya Hinata begitu mendapatkan kesadarannya kembali. "Ka-kau a-akan membawaku ke ma-mana, U-Uchiha-san?"

Namun yang terdengar hanyalah suara mesin mobil yang dinyalakan.

oOoOo

"Turun," suara itu memerintah Hinata, "kita sudah sampai."

Wangi buah persik tercium di langit malam Tokyo, berbaur dengan aroma semangka dan obat nyamuk yang dibakar. Hinata menghirup dalam-dalam wangi khas musim panas itu, menikmati harumnya, sebelum akhirnya dengan ragu-ragu ia menjulurkan kakinya yang jenjang keluar dari mobil Maserati Granturismo milik Sasuke. Sepasang jemari lentik milik Hinata lalu berpegangan erat pada tepian gaunnya, seakan khawatir kalau-kalau gaun itu akan terlepas dari tubuhnya lantas menampakkan lekuk badannya yang indah. Setelah meyakinkan semuanya sudah beres dan tidak ada satu pun barangnya yang tertinggal, Hinata menghembuskan nafas panjang, kemudian melangkah maju menuju pagar rumahnya— dengan sangat ketakutan.

Sebab Uchiha Sasuke yang tampan dan seksi tengah membuntutinya di belakang.

"Kami-sama," gumam Hinata pelan, takut suaranya terdengar, "ba-bagaimana i-ini bisa terjadi?"

Oh ayolah, jangan salahkan Hinata, sebab ia sendiri juga tidak mengira bahwa akhirnya akan seperti ini.

Bayangkan saja jika kau ada di posisinya: seorang gadis manis yang patah hati tingkat akut karena laki-laki yang kaucintai sejak sebelas tahun yang lalu menikahi wanita lain dan bahkan mereka nyaris berciuman di hadapanmu, kemudian ada satu laki-laki lain yang sangat tampan dan sangat keren dan sangat seksi yang tiba-tiba berbaik hati menawarkan jasa untuk mengantarkanmu pulang, memberimu waktu tenang, menyediakanmu ruang untuk menangis, meminjamkanmu jaket hangatnya yang mahal, akan tetapi di antara adegan-adegan romantis yang telah tersusun secara sempurna itu, ia justru menjadi setan yang kejam, mengolok-olokmu, menjelek-jelekkanmu, meremehkanmu, dan yang paling penting dari itu semua, ia menambahkan satu aksi paling tak terduga di akhir cerita singkat kalian: melamarmu.

Ya, seperti itulah yang terjadi pada Hinata kita yang manis.

Hanya dalam satu malam yang pendek, Hyuuga Hinata, 23 tahun, lajang, harus menerima perubahan yang begitu besar di hidupnya.

Amat sangat besar.

"Hyuuga," suara bariton itu terdengar lagi, membuyarkan lamunan Hinata yang sudah menggunung, "apakah kau akan membukakan pagar rumahmu ini, atau kau hanya akan berdiri di sana seperti maling?"

Selamat tinggal masa muda, batin Hinata dalam hati.

"A-ah, su-sumimasen, Uchiha-san. Tu-tunggu sebentar."

Hinata berjalan menuju pagar rumahnya, menekan bel untuk memanggil penjaga rumahnya. Ia menunggu lama. Aneh, pagar rumah itu tidak kunjung terbuka. Hinata menekan bel sekali lagi. Masih, tidak ada satu pun penjaga rumahnya yang datang untuk membukakan pagar itu. Putus asa, Hinata melongokkan kepalanya agar bisa mengintip ke balik pagar dan mendapati bahwa tak ada tanda-tanda penjaga rumahnya sedang berada di pos satpam. Merasa kesialannya bertambah, Hinata melenguhkan napasnya, melepaskan cengkeraman di tepian gaunnya dengan terpaksa, kemudian mengobok-obok isi tasnya, mencari kunci cadangan yang sudah ia siapkan sebelumnya.

"Ma-matte, i-ini akan me-memakan waktu agak la-lama, U-Uchiha-san," ujar Hinata sembari berusaha membuka kunci gembok pagarnya.

Tak ada jawaban apa-apa dari laki-laki dingin di belakangnya.

Menyerah, Hinata pun memilih diam, sembari meneruskan kegiatannya— membuka gembok pagar rumahnya yang terkunci dari dalam. Satu detik, dua detik, tiga detik, tidak ada yang berubah. Hinata masih berusaha membuka pagar rumahnya, sedangkan Sasuke masih berdiri kaku di belakangnya— menunggu.

Menunggu dengan sangat tidak sabar.

"Tak berguna," Sasuke mendecih pelan, tiba-tiba.

Hinata merasakan emosinya memucak seketika.

"E-eh? A-apa yang kau katakan, Uchi—"

Namun semuanya terjadi begitu cepat, Hinata bahkan sempat tidak menyadarinya. Yang jelas, tahu-tahu ia sudah merasakan hembusan napas berat Sasuke di lehernya, dada bidang Sasuke yang menempel di punggungnya, dan tangan halus Sasuke yang menyentuh jemari Hinata…

Dekat.

Mereka begitu dekat, jarak mereka terlampau dekat.

"Membuka pagar rumahmu saja kau tidak bisa," bisik Sasuke sedikit ketus di telinga Hinata, menyebabkan jantung gadis Hyuuga itu berdetak tak karuan. Agak kasar, Sasuke merebut kunci yang ada di genggaman Hinata tanpa permisi, lantas membuka pagar rumah yang menjulang di hadapannya.

Dan Hinata hanya mampu menatapnya dengan tatapan terkejut ditambah bibir yang sedikit terbuka.

"U-Uchiha-san, bi-biar aku saja yang membuka pagar—"

"Berisik."

Sepatah kata pendek itu sukses mengunci bibir manis Hinata. Ia menekan pinggiran gaunnya, menunggu pintu pagar terbuka sembari menahan dirinya agar tidak perlu peduli akan dada bidang Sasuke yang masih menempel di punggungnya, atau hembusan napas hangat milik laki-laki Uchiha itu yang jatuh tepat di tengkuk Hinata, atau wangi tubuh Sasuke yang sangat lembut, atau bagaimana tangan halus pemuda itu bersentuhan dengan jemari lentik Hinata, juga detak jantungnya yang tak beraturan…

… Tunggu dulu.

Apakah ini hanya perasaannya saja, atau…

Atau jantung Sasuke memang berdegup sangat kencang dan tak beraturan?

"Selesai," suara bariton itu kembali mengalun, "sekarang kau bisa masuk, Hyuuga."

Tapi mengapa?

"E-eh, ba-baik."

Pagar pun terbuka. Hinata melangkah masuk ke pekarangan rumahnya, disusul oleh Sasuke yang masih belum bosan membuntutinya. Mereka berjalan tanpa suara, diterangi cahaya bulan yang kebetulan memang sedang purnama penuh. Hinata terus menatap tanah, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Samar-samar, ia masih dapat mencium wangi parfum Sasuke yang menyerebak sangat lembut, dan ia sekali lagi teringat akan degup jantung Sasuke yang tak beraturan ketika dadanya menempel dengan punggung Hinata…

Sepasang bola mata perak-lavender Hinata terpejam perlahan.

"Uchiha-san," bisiknya dalam hati, "apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan?"

"Hinata! Kau tahu ini sudah jam berapa?" satu suara lantang mengagetkan Hinata dan Sasuke. Mereka serempak memutar kepala, mencari di mana si pemilik suara berada. Di sana, tepat di depan pintu utama rumahnya, tampak jelas sosok laki-laki setengah baya berambut cokelat dan bermata perak yang tengah berdiri angkuh sembari memasang tatapan paling mengerikan yang pernah Hinata lihat seumur hidupnya.

Hyuuga Hiashi.

"Uchiha-san," Hyuuga Hiashi memberi salam pada Sasuke yang kini sudah berdiri di sebelah Hinata, sebelum kembali menghunuskan sebuah tatapan tajam di wajah puteri sulungnya dan mengatakan, "Hinata, masuk ke kamarmu. Segera."

Dan bagi Hinata, tidak ada gunanya membantah ayahnya yang sedang marah.

Tanpa menoleh, Hinata segera melangkahkan kakinya, meninggalkan tempat itu, menuju kamarnya sendiri. Sepanjang jalan, pikirannya terus berkecamuk. Apa yang akan dibicarakan Sasuke dengan ayahnya? Apa Sasuke benar-benar serius mau melamarnya? Tapi mengapa? Mengapa Sasuke sampai bertindak sejauh ini? Apa dia merasa bersalah karena sudah membuat Hinata marah? Atau ini hanya salah satu taktik licik Sasuke untuk memajukan perusahaan milik keluarga Uchiha? Lantas, mengapa Sasuke berkata bahwa dia akan membuat Hinata bahagia? Dan kenapa jantung Sasuke berdegup tak karuan saat mereka berdua, tadi, berada dalam posisi yang sangat… dekat?

Sasuke tidak mungkin menyukainya, kan?

"A-ah, mana mungkin," ujar Hinata kepada dirinya sendiri, "mana mungkin Uchiha-san menyukaiku. I-itu mustahil."

Penuh hati-hati, Hinata menggeser pintu kamarnya, menutupnya kembali, lalu segera merebahkan tubuhnya di atas futon yang sudah digelar rapi. Matanya memandang kosong ke arah langit-langit. Seluruh sarafnya kaku. Lelah, ia merasa sangat lelah. Lelah dengan semua hal yang terjadi di hari ini, dengan semua hal aneh dan menyakitkan yang menimpanya, dengan Naruto, dengan Sakura, dengan Sasuke, dengan Kiba, dengan Shikamaru, dengan Neji, dengan ayahnya, dengan keluarganya, dengan semuanya, dengan dirinya sendiri…

Hinata sudah sangat lelah dengan semua ini.

"Ibu," ia mendesah kecil, membayangkan wajah mendiang ibunya sedang tersenyum lembut di langit-langit kamar, "aku harap," ia memejamkan matanya perlahan, merasakan kantuk yang menyerang, "aku harap keadaan akan segera membaik."

Oh, andai Hinata tahu betapa dugaannya salah waktu itu.

oOoOo

Pagi itu, di rumah utama keluarga Hyuuga, terjadi keributan kecil.

"Apa! Ini pasti lelucon!" sebuah jeritan terdengar di penjuru rumah khas Jepang tersebut, mengangetkan semua pelayan yang tengah sibuk bekerja. Tak berapa lama, jeritan itu terdengar lagi, kali ini agak lebih lembut dan memelas, "Katakan bahwa anda tidak sedang serius, Oji-san."

Hiashi mengerutkan keningnya, sedikit heran dengan reaksi keponakan laki-lakinya.

Benar, yang barusan menjerit itu adalah Neji Hyuuga.

"Aku meninggalkan istriku di rumah sakit bersama bayi kami yang baru berumur dua hari, meminta Hanabi untuk menggantikanku menjaganya, dan aku pulang ke rumah ini hanya untuk mendengar bahwa," Neji memasang wajah histeris tak percaya, "bahwa Hinata dilamar oleh," raut mukanya semakin histeris, "U-Uchiha Sasuke!"

Kedua tangan Hinata terkepal saat mendengar nada bicara Neji. Apa sebegitu mengejutkannyakah lamaran Sasuke, sampai-sampai sepupunya yang jenius dan prodigy sejati berubah menjadi laki-laki histeris seperti ini? Well, jangan salahkan Hinata. Salahkan Sasuke saja— dia yang menimbulkan semua kerusuhan ini.

"Sebenarnya, Neji," Hiashi membuka suara, "Sasuke memang benar-benar melamar Hinata. Ia menemuiku sendiri tadi malam."

Sontak, segala ekspresi bercampur aduk di wajah Neji. Kaget, senang, shock, terkejut, tak percaya, bahagia, gembira, semuanya.

Kontras sekali dengan Hinata yang di wajahnya sekarang hanya tampak kebingungan dan kesenduan.

"Dan dia memasang syarat bahwa Hinata harus menjadi ibu rumah tangga saat mereka sudah menikah nanti? Tidak boleh bekerja sama sekali?"

Dengan gerakan berat, Hiashi menganggukkan kepalanya, cukup menjawab pertanyaan keponakan laki-lakinya.

"Lalu, bagaimana dengan posisi Hinata sebagai pewaris utama Hyuuga?" Neji menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. "Apa Oji-san yakin, dia—Sasuke Uchiha itu—tidak mengincar apa-apa melalui lamaran ini? Maksudnya," ia berdeham sejenak, "apa dia tidak sedang mencoba menjatuhkan keluarga kita dengan cara memperistri Hinata?"

Sunyi sekejap.

"Kurasa tidak," ujar Hyuuga Hiashi beberapa detik kemudian, "kurasa Uchiha Sasuke tidak memiliki motif apa-apa dibalik lamarannya untuk Hinata."

"Jadi dia serius dengan semua ini?"

"Sepertinya."

Hinata tidak suka dengan atmosfer yang mulai memberat dan menyesakkan dada di ruangan seluas delapan tatami ini. Oh, jangan bercanda! Dengan mata terpejam pun, ia masih bisa tahu bahwa Neji dan Hiashi tengah menatap tajam ke arahnya.

Dan hal yang Hinata takutkan itu memang benar.

"Hinata, dengar," kembali, Hiashi mengalunkan suara dinginnya, "Tou-san yakin kau sudah dewasa, kau sudah dapat menentukan mana yang baik untuk dirimu, dan untuk keluarga Hyuuga. Maka dari itu, Tou-san tidak akan memaksamu menerima lamaran Sasuke Uchiha."

Entah mengapa, Hinata merasakan akan ada satu hal buruk lain yang menimpanya.

Lagi-lagi, hal yang Hinata takutkan memang benar adanya.

"Tetapi, coba pikirkan lagi," lanjut Hiashi hati-hati, "kita tidak akan sering menjumpai laki-laki seperti Sasuke Uchiha setelah ini. Dia pebisnis muda yang sukses, sopan, dan seperti kata orang-orang, dia tampan. Jujur saja, Hinata, aku sudah tua," Hiashi melembutkan pandangannya, "aku ingin melihat anak gadisku menikah dengan laki-laki yang tepat, dan aku ingin segera menggendong cucuku."

Ada semburat rasa sakit yang timbul di hati Hinata. Semacam perasaan iba yang dia rasakan ketika mendengar penuturan ayahnya.

"Tentu saja, tentu, aku sudah menganggap Neji seperti anak kandungku, dan ia baru saja memberikanku cucu. Tetapi, tetap saja, aku juga ingin cepat-cepat mendapatkan cucu darimu, Hinata. Kau sudah berusia dua puluh tiga tahun. Tenten bahkan menikah dengan Neji di usia dua puluh satu, dan memberikan keturunan baru bagi keluarga Hyuuga di usia dua puluh tiga."

Atmosfer terasa semakin berat dan mencekik.

"Kuharap kau bisa mengerti ini, Hinata," imbuh Hiashi. "Pikirkanlah lamaran ini baik-baik. Sasuke Uchiha memberimu waktu seminggu untuk berpikir."

Semakin sesak…

"Perihal hak waris, mungkin aku akan memindahkannya kepada Neji atau Hanabi— aku akan membicarakannya dengan tetua keluarga Hyuuga."

Dari ekor matanya, Hinata dapat menangkap keterkejutan di wajah Neji saat namanya disebut.

"Sampai di sini saja. Kuharap kau benar-benar mempertimbangkannya, Hinata."

Lantas Hyuuga Hiashi bangkit, dengan segala keangkuhannya, membenahi hakama-nya, menggeser fusuma, meninggalkan Hinata dan Neji berdua saja di ruangan yang kelam dan dingin itu. Hanya berdua saja.

Dan itu membuat Hinata sangat tidak nyaman.

"Aku masih tidak bisa percaya, Uchiha Sasuke yang itu," Neji menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tapi, Hinata, boleh kubilang, kau benar-benar gadis yang beruntung."

Alis Hinata terpaut tanda tak mengerti. Untuk pertama kalinya di pagi itu, ia melepaskan suara halusnya, "Ma-maksud Neji-nii a-apa?"

Terdengar desahan kecil.

"Aku pernah mengenal Sasuke dengan baik, Hinata. Dia," Neji mendongakkan kepalanya, menatap ternit berwarna kelabu di atasnya, "dia adalah laki-laki yang pintar, dan kadang juga licik. Dia tidak pandai bergaul, apalagi dengan perempuan. Teman perempuannya mungkin hanya Sakura, Ino, dan Karin. Makanya, aku," pandangannya teralih ke kusen jendela, "aku terkejut sekali saat dia melamarmu. Mungkin dia memang benar-benar menyukaimu."

Lucu sekali, batin Hinata sarkastik.

"I-itu tidak mungkin, Neji-nii. Uchiha-san tidak mungkin menyukai—"

"Siapa yang tahu, Hinata?" comot Neji buru-buru, pandangannya masih terpaku di kusen jendela. "Siapa yang tahu?"

Mendadak, Hinata merasa tak memiliki alasan untuk menjawab pertanyaan retoris Neji.

Gadis Hyuuga itu berdiri, mendekati Neji yang kini sibuk mengamati halaman belakang rumah Keluarga Hyuuga, lantas duduk berselonjor di sebelahnya. Mereka duduk berdampingan untuk beberapa saat tanpa saling bicara, sebelum akhirnya Hinata-lah yang memecahkan kesunyian di antara mereka.

"Uchiha-san itu," kata Hinata tanpa menoleh, "o-orang tuanya su-sudah meninggal, ya, Neji-nii?"

"Hai," balas Neji, juga tanpa menoleh, "kecelakaan mobil. Waktu itu umur Sasuke masih tujuh tahun, sedangkan Itachi dua belas tahun."

Cicit burung samar-samar terdengar dari kejauhan.

"Mereka berdua sempat mengalami trauma berat setelah itu. Satu bulan kemudian, kakek mereka yang bernama Madara Uchiha, mengumumkan hak asuhnya atas Itachi dan Sasuke. Awalnya Sasuke marah, berontak, sebab dia tidak mau meninggalkan rumah mendiang ayah-ibunya. Tetapi, lama-kelamaan ia menyerah juga, dan setuju untuk tinggal bersama kakeknya."

Ada miris yang tertoreh di hati Hinata.

"Bayangkan saja, Hinata," Neji menumpu dagunya sendiri dengan punggung tangannya, "pulang ke rumah yang besar, dan tidak ada siapa-siapa yang menyambutmu di sana. Hanya kosong, hanya sunyi, seperti itu lah yang kira-kira Sasuke rasakan setelah orangtuanya meninggal," ia menghembuskan napas panjang yang kelihatan berat. "Kecil, dan kesepian. Bahkan aku yang yatim-piatu saja setidaknya masih memilikimu, Hanabi, dan Paman Hiashi."

Seperti ada luka yang tersimpan di balik punggung kaku dan angkuh milik Sasuke Uchiha itu, seperti ada sisi rapuh yang selalu ia sembunyikan…

"Kau tahu, Hinata," dengan sekali gerakan kilat, Neji memusatkan pandangannya tepat di bola mata Hinata, membuat gadis berambut indigo di sebelahnya terkejut, lantas meneruskan, "kadang aku merasa dia seperti anak kecil rapuh yang memakai topeng angkuh di wajahnya."

Seperti anak kecil rapuh yang ingin menutupi luka yang membengkak di hatinya…

"Kadang aku juga merasa seperti itu, Neji-nii," timpal Hinata sembari membuang muka, menatap lantai rouka yang berdecit di bawah kakinya, "kadang aku juga merasa seperti itu."

Kami-sama…

oOoOo

Gadis mana yang tidak menyukai kisah cinta layaknya cerita dongeng?

Prince Charming yang melamarmu dengan menaiki kuda putih, peri-peri yang beterbangan ke sana ke mari, istana megah yang menjulang tinggi, pesta dansa meriah, gaun yang indah dan berwarna-warni, rambut yang disanggul dengan bermacam-macam gaya, sihir pembawa cinta, suka-duka yang dilampaui bersama, manis getir hidup, dan tentunya, selalu diakhiri dengan slogan "hidup bahagia selama-lamanya" alias "live happily ever after".

Hinata Hyuuga pun termasuk salah satu gadis yang selalu menyukai kisah dongeng romantis nan menggetarkan hati seperti itu.

Tentu saja, yang ada di bayangan Hinata adalah kisah dongeng romantis seperti Snow White, Sleeping Beauty, Cinderella, dan sebagainya. Kisah dongeng yang romantis, manis, dan mendebarkan hati. Sewaktu kecil, Hinata selalu berandai-andai menjadi seorang puteri, memakai mahkota yang terbuat dari bunga dan dedaunan, membayangkan dirinya menikah dengan pangeran tampan berkuda putih yang datang dari negeri seberang, lantas mereka akan hidup di sebuah kastil besar di atas bukit yang dikelilingi pepohonan rimbun, kurcaci, peri, dan makhluk-makhluk fantasi lainnya. Ah, indah sekali.

Sayangnya, kisah hidup Hinata berbanding terbalik dengan dongeng-dongeng kesukaannya itu.

"Hei, apa kau tahu, di restoran ini, ada tiga laki-laki tampan yang biasa berkunjung untuk makan siang?"

Kehidupan Hinata sekarang memang sedang mirip-miripnya dengan kisah dongeng, tetapi bukan seperti Snow White, Sleeping Beauty, Cinderella, atau kisah dongeng romantis lainnya.

Melainkan seperti Gadis Berkerudung Merah.

"Oh, ya? Jam berapa mereka biasa datang?"

"Jam satu siang! Dan kau tahu, sekarang tinggal lima menit menjelang jam satu siang!"

"Kyaaaaa! Aku tidak sabar menunggu kedatangan mereka!"

Hinata menghembuskan napas panjang, merasa risih atas teriakan genit gadis-gadis kantoran yang duduk di meja tak jauh darinya.

Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Hinata, sebab ia akan bertemu dengan Sasuke Uchiha, dan memberikan jawaban atas lamarannya seminggu yang lalu. Mereka berjanji bertemu di Tavolo di Fiori, restoran bergaya Italia di kawasan Shinjuku, yang juga merupakan tempat favorit Sasuke untuk makan siang. Sebenarnya, Hinata tidak peduli sama sekali kalau tempat ini adalah restoran kesukaan Sasuke atau bukan. Satu-satunya hal yang paling ia pedulikan sekarang adalah nasibnya sendiri lima menit ke depan.

Ia berharap, keputusan yang ia dapat setelah seminggu mempertimbangkan lamaran Sasuke ini, adalah keputusan yang paling tepat.

"Ah! Astaga! Lihat! Lihat!" gadis-gadis genit yang tadi kembali menjerit histeris. "Itu mereka! Itu mereka! Lihat!"

Kenapa mereka berisik sekali, sih?

"Hah? Di mana? Aku tidak lihat!"

"Itu! Di pintu masuk!" timpal gadis centil yang lain. "Astaga! Itu mereka! Lihat! Cepat lihat, atau kau akan kecewa!"

Perlukah kujelaskan? Bagaimanapun juga, Hinata tetap gadis normal, gadis biasa.

Ia sudah menunggu setengah jam di restoran ini, meyakinkan hatinya kalau ia tidak akan tergagap saat bertemu dengan Sasuke nanti. Ia menunggu, menunggu, dan menunggu, sementara Sasuke tak kunjung datang, membuat Hinata hampir mati kebosanan. Sementara itu, di meja seberangnya, terduduk gadis-gadis kantoran dengan pakaian mini serta dandanan menor, sedang bergosip ria membicarakan tiga laki-laki tampan yang sering makan siang di tempat ini. Oh, demi Tuhan, ayolah. Hinata adalah gadis berusia dua puluh tiga tahun, dia normal, dia menyukai lawan jenis, dan dia hampir mati kebosanan karena terlalu lama menunggu laki-laki tampan dan seksi bernama Sasuke Uchiha!

Jadi, tidak ada salahnya, kan, kalau Hinata ikut-ikutan menolehkan kepalanya dan mencari tahu seberapa tampan tiga laki-laki yang dielu-elukan oleh gadis-gadis kantoran genit ini?

Maka, Hinata pun memutar kepalanya.

Dan yang pertama kali dia lihat adalah sebentuk kepala berambut merah darah.

"Itu dia! Sabaku Gaara! Aaah! Tidakkah dia tampan sekali? Kulitnya yang pucat, bola matanya yang hazel, rambutnya yang merah darah…"

Gadis-gadis kantoran genit itu masih terus meracau, memuji laki-laki berambut merah yang mereka panggil Sabaku Gaara.

Tetapi Hinata tidak lagi peduli.

Sebab ia sudah mengerti siapa gerangan tiga laki-laki tampan yang dibicarakan segerombolan perempuan genit yang duduk di seberang mejanya ini.

Mereka pasti…

"Lalu itu! Itu! Uchiha Sai! Aaaah! Tidakkah kau lihat, matanya yang bundar, kulitnya yang seputih susu, rambutnya yang hitam gelap…"

Hinata semakin membelalakkan matanya, mengawasi laki-laki berkulit super pucat yang baru saja memasuki restoran. Kesadaran itu tiba-tiba dating di kepalanya, menyebabkan keringat dinginnya semakin deras berjatuhan.

Ah, benar sekali. Kalau ada Sabaku Gaara, pasti ada Uchiha Sai. Dan kalau ada Uchiha Sai, pasti juga ada…

"Dan ini yang terakhir, yang paling kutunggu-tunggu! Laki-laki paling tampan dan paling seksi di Tokyo! Sebuah karya besar bernilai seni tak terhingga yang pernah diciptakan oleh Kami-sama! Lihat, lihat! Itu dia! Dia adalah…"

Mirip adegan-adegan seru di sebuah film, suasana di restoran itu mendadak sunyi. Segala kegiatan yang tadinya berlangsung di sana seolah-olah terhenti. Semua pasang mata serentak menatap ke arah pintu masuk, tak berkedip barang sekali, demi mendapati seorang laki-laki tampan dan ganteng dan keren dan seksi dengan rambut raven tua serta bola mata onyx tengah berjalan angkuh memasuki restoran sembari mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, menyulutkan rokok di bibirnya yang tipis, dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

Laki-laki itu tak salah lagi, dia…

… Sasuke Uchiha.

Hinata merasakan tubuhnya lemas seketika.

"Gaara, Sai," lamat-lamat, Hinata dapat mendengar sebuah suara bariton mengalun kaku, "hari ini aku tidak dapat makan siang bersama kalian."

"Eh? Kenapa?" datang jawaban dari laki-laki lain, suaranya sedikit lebih ringan. Hinata dapat menebak kalau ini pasti Sai Uchiha yang sedang berbicara.

Tak ada jawaban yang dilontarkan Sasuke atas pertanyaan sepupunya. Sebaliknya, ia justru meneruskan langkahnya, berjalan entah ke mana. Derap sepatunya terdengar jelas di setiap sudut restoran bergengsi itu. Semua pasang mata masih menatap Sasuke dengan pandangan lapar, menikmati ketampanannya yang luar biasa. Tetapi, semakin Sasuke melangkahkan kakinya, semakin Hinata tahu meja mana yang sedang dituju laki-laki Uchiha itu.

Mejanya.

Hinata berani bersumpah, ia dapat mendengar jelas gadis-gadis kantoran genit yang duduk di seberangnya itu tengah sibuk mengutuk dirinya.

"Hyuuga," satu suara bariton yang sama terdengar di atas kepala Hinata yang kini sempurna tertunduk, "maaf, sudah membuatmu menunggu lama."

Tentu saja, tidak ada laki-laki lain yang memanggilnya dengan nada sinis seperti itu.

"Ti-tidak apa-apa, U-Uchiha-san, a-aku belum begitu lama," ucap Hinata setengah gugup. "A-apa kau su-sudah mau memesan? A-akan kupanggilkan pelayan."

"Hn."

Mereka lalu memesan makanan. Sasuke memesan stringozzi with persico tomato sauce, sebotol wine, dan segelas air putih. Sedangkan Hinata memesan fettuccine alfredo, segelas air putih, dan espresso flan sebagai makanan pencuci mulut. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit hingga pesanan mereka diantar, membuat perut Hinata mendadak keroncongan. Ia baru ingat kalau tadi pagi tak sempat sarapan— Hinata terlalu gugup dan stress dengan semua kemungkinan yang akan terjadi hari ini, sehingga tadi pagi ia sudah tak peduli lagi soal sarapan.

Sejujurnya, meskipun perutnya melilit bukan main, minta diisi oleh hidangan lezat yang kini tersaji di depannya, Hinata masih belum sanggup melepaskan segala kegugupan dan kegelisahan yang seharian ini membelit kepalanya.

Dan semua itu adalah kesalahan Sasuke Uchiha.

"Clos de Papes, salah satu wine terbaik yang pernah dibuat," Sasuke memenuhi setengah gelas kosongnya dengan wine lantas meneguknya. "Kau yakin tidak ingin meminum ini juga?"

Masih memandangi sepiring fettuccine alfredo di hadapannya, Hinata menggeleng pelan. "A-aku tidak biasa minum wine, a-apalagi di musim panas, U-Uchiha-san."

Sasuke menyunggingkan seringai mengejek kepada Hinata.

"Hn, jadi kau sudah siap dengan jawaban atas lamaranku, rupanya?"

Memegangi perutnya yang kelaparan, Hinata memutuskan untuk menyantap makanannya yang mulai dingin, beberapa suap saja, sebelum menjawab, "A-aku sudah sa-sangat siap, U-Uchiha—"

"Sasuke."

Hinata mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.

"Panggil aku Sasuke," jelas Sasuke acuh tak acuh sembari menikmati stringozzi-nya dengan angkuh, "sebab, toh, sebentar lagi kau akan menjadi istriku, kan?"

Kunyahan Hinata sontak terhenti.

"Ke-kenapa kau yakin sekali, Uchiha-san? Be-belum tentu aku menerimanya, kan?"

Ada suara tawa kecil.

"Kau makhluk menyedihkan," ejek Sasuke, lalu kembali melanjutkan makan siangnya, pura-pura tak peduli dengan Hinata yang menatapnya dengan pandangan kosong dan raut wajah terluka. Gadis Hyuuga yang duduk di hadapannya itu terdiam lama, tak lagi menyentuh fettuccine-nya. Hatinya sakit, sakit sekali. Jauh-jauh hari dia mempersiapkan diri demi hari ini, melatih dirinya agar tidak tergagap saat bertemu Sasuke, menjaga kata-katanya agar tidak terulang lagi pertengkaran sengit di antara mereka, tetapi apa yang Hinata dapat? Hinaan? Cemoohan? Ejekan? Orang seperti ini berkata bahwa dia mau membahagiakan Hinata? Bah, lelucon dari mana itu, hah?

Sungguh, Hinata benar-benar tidak dapat mengerti dengan keakuan pemuda Uchiha di hadapannya. Seolah-oleh, Sasuke memang mempunyai kepribadian ganda. Terkadang baik, terkadang jahat. Terkadang malaikat, terkadang iblis. Sebenarnya seperti apa Sasuke yang sebenarnya? Sebenarnya apa yang diinginkan laki-laki tampan ini dari Hinata?

Astaga, ini bahkan jauh lebih rumit dari yang Hinata duga.

Namun, bagaimanapun juga, Hinata harus tetap melakukannya.

"Aku menerimanya, Uchiha-san," ujar Hinata tiba-tiba, "aku menerima lamaran pernikahanmu. Aku bersedia menjadi istrimu."

Ingat ketika tadi aku bilang, kisah Hinata sekarang mirip dongeng Gadis Berkerudung Merah? Well, memang seperti itulah adanya.

Kalau diibaratkan, Hinata mirip seperti Gadis Berkerudung Merah yang baik hati, polos, dan cantik jelita. Kehadirannya selalu membuat semua orang yang ada di sekitarnya bahagia. Tapi, pada suatu hari, Gadis Berkerudung Merah tersesat di sebuah hutan yang kelam, gelap, angker, sendirian saja, tanpa ada siapa-siapa yang menemaninya. Dan parahnya, di tengah jalan, ada serigala lapar yang membuntutinya, mengincarnya, ingin memakannya. Bedanya, di kehidupan Hinata, serigala itu tidak jelek, namun justru tampan, kaku, dan sangat seksi.

Benar. Sasuke Uchiha adalah serigala itu. Serigala yang sedang mengincar Hinata dan ingin menjadikan gadis itu miliknya.

Dan sekarang, serigala itu tengah memamerkan seringainya yang mempesona kepada Hinata.

"Kau serius menerima lamaranku, Hyuuga? Bukannya kau sendiri yang mengatakan bahwa aku teralu percaya diri?"

Takut-takut, Hinata mengangkat kepalanya, mencoba melihat langsung ke sepasang bola mata onyx milik Sasuke Uchiha.

"A-aku serius, U-Uchiha—"

"Sasuke," potong Sasuke cepat.

"—Sa… Sa-Sasuke. Aku sangat serius."

Gelas wine milik Sasuke kembali terisi. Sasuke memainkan tangannya di bibir gelas itu sejenak, lantas meneguk habis isinya.

"Bukankah kau menyukai Naruto, hn?" tanya Sasuke sinis. "Ah, tidak, aku salah. Bukankah kau masih menyukai Naruto?"

Hinata merasakan keringatnya mengalir deras. Ia tidak suka akan penekanan Sasuke pada kata "masih".

"A-aku akan belajar, Sasuke. Aku," gadis Hyuuga itu menyunggingkan senyuman tulusnya, "aku a-akan belajar untuk be-berhenti menyukainya. A-aku akan belajar me-menyukaimu," semburat kemerahan muncul di pipi pucat Hinata, "ti-tidak, bukan hanya menyukaimu. A-aku akan belajar me-mencintaimu, Sasuke. A-aku akan menjadi i-istri yang baik untukmu. I-itu saja yang bi-bisa kukatakan kepadamu."

Sepuluh detik pertama, yang dapat Hinata tangkap hanyalah ekspresi tertegun di wajah Sasuke. Laki-laki tampan di depannya itu terdiam, seakan terpana oleh jawaban yang diberikan Hinata. Gerakan tangannya terhenti begitu saja. Hinata bahkan tidak dapat memastikan apakah Sasuke sempat bernapas atau tidak. Laki-laki tampan itu benar-benar membatu. Benar-benar membeku. Benar-benar terkejut atas jawaban Hinata.

Sayangnya, tak berapa lama kemudian, senyuman sinisnya kembali terlengkung dengan amat sangat manis dan memukau, membuat Hinata tak sanggup mengedipkan mata. "Dan tentang permintaanku bahwa kau harus menjadi ibu rumah tangga? Sama sekali tidak boleh bekerja, hanya boleh mengurusi urusan keluarga?"

Untuk kesekian kalinya di siang ini, Hinata menghembuskan napas panjang.

"Ti-tidak masalah, Sa-Sasuke. Ti-tidak masalah, aku akan menerimanya. A-aku akan menjadi ibu rumah tangga yang baik, ji-jika itu yang kau inginkan. A-aku rela ka-kalau hak waris utama keluarga Hyuuga dipindahkan kepada Neji-nii a-atau Hanabi, aku rela. Aku hanya ingin menjadi i-istri," Hinata merasakan lidahnya kelu saat menyebutkan kata ini, "i-istri yang baik untukmu, a-aku bersungguh-sungguh."

Setelah itu, ada sunyi yang panjang di antara mereka.

Sasuke terus memandangi wine-nya dengan wajah serius— tampaknya ia sedang berpikir. Sementara Hinata memutuskan untuk mengunci bibirnya, dan kembali menyantap makanannya yang sudah dingin. Gadis-gadis kantoran yang sedari tadi sibuk membicarakan Hinata dan Sasuke, kini sudah berjalan pergi dari restoran. Begitu juga Gaara dan Sai, yang baru saja memberikan kode kepada Sasuke bahwa mereka akan pergi lebih dahulu. Sasuke hanya menjawabnya dengan anggukan kepala, kemudian melanjutkan kegiatan berpikirnya. Restoran ini pun beranjak sepi, hanya tinggal tiga atau empat meja yang masih diisi pengunjung— termasuk mejanya dengan Sasuke.

Dan Hinata sekali lagi hampir mati kebosanan, menunggu "calon suaminya" memberikan tanggapan yang tak kunjung datang.

"Sa-Sasuke," panggil Hinata ragu-ragu, "boleh aku bertanya padamu?"

Tanpa mengalihkan tatapannya dari gelas wine yang kini kosong, Sasuke mengangguk.

"Ke-ketika kau melamarku seminggu yang lalu," Hinata memainkan ujung kardigannya, "ka-kau bilang kau a-akan membuatku bahagia. A-apa itu benar?"

Sasuke melirik Hinata sekilas. "Seorang Uchiha tidak pernah main-main dengan ucapannya, Hyuuga."

Yah, itu bukan jawaban yang ingin Hinata dengar.

"Etto… Bo-boleh aku bertanya lagi?"

"Hn."

Degup jantung Hinata berdegup cepat, pipinya sudah memerah mengalahkan tomat. Tetapi, entah bagaimana juga, Hinata harus menanyakan hal ini. Hal yang membuat Hinata tidak dapat tidur selama tujuh hari belakang. Dan Hinata ingin mendapatkan jawaban yang jelas langsung dari bibir Sasuke Uchiha sendiri.

"Sa-Sasuke," Hinata menundukkan kepalanya, merasakan pipinya memanas, "a-apakah kau," nyawanya serasa hendak melayang, namun Hinata tidak boleh menyerah, "apakah kau me-menyukaiku?"

Sejurus kemudian, yang Hinata dengar adalah suara uang yang dibanting di meja, dan suara kursi yang digeser. Ketika mengangkat kepalanya demi melihat apa yang terjadi, tahu-tahu Sasuke Uchiha sudah berdiri menjulang di hadapannya, sembari memandangnya dengan pandangan yang tak bisa Hinata jelaskan. Antara marah, terkejut, kesal, bercampur aduk menjadi satu dalam sepasang bola mata onyx yang indah itu.

Hinata benar-benar merasa tak nyaman dibuatnya.

"Tidak, Hyuuga," bisik Sasuke dengan suara yang tegas. Laki-laki Uchiha itu lalu membalikkan badannya, bersiap meninggalkan Hinata yang menganga tak percaya, dan meneruskan dengan suara lebih pelan, "tidak, aku hanya menyukai bola matamu."

Andai saja Hinata tahu bahwa Sasuke baru saja berdusta.

"Dan, Hyuuga," tambah Sasuke sebelum benar-benar meninggalkan Hinata, "bersiaplah," ia menolehkan wajahnya sekejap, "kita akan segera menikah," lantas mengambil langkah untuk pergi, "kita akan segera menikah, minggu depan."

Minggu depan.

Dan andai Hinata juga tahu, bahwa Sasuke amat serius dengan perkataannya.


To be continued


Author: Intinya, author no comment deh atas pernikahan mendadak ini *dihajar sama readers*. Eh iya, ngomong-ngomong, setelah mempertimbangkan usul Nikolaiklaas-san, mengingat typos author yang udah evel parah, uthor kayaknya memang bener-bener butuh beta-reader! Pokoknya segitu dulu aja yang bisa author ucapkan. Author benar-benar lagi depresi sekarang T_T

Huaaaaaaaa….. Love u all, my lovely readers ^o^

Kamus mini:

Matte: Tunggu

Sumimasen: Maaf

Oji-san: Paman

Tou-san : Ayah

Kami-sama : Tuhan

Hakama : semacam kimono untuk laki-laki

Fusuma : pintu geser ala rumah adat Jepang

Tatami : susah dijelaskan, tanya kanjeng mbah google ya ^o^

Rouka : lorong dengan lantai kayu ala rumah adat Jepang.

Terus kalo buat nama makanan Itali, wine, mobil, dll, yang ada di fanfic saya, tanya kanjeng mbah google aja ya kalo mau tahu kayak apa bentukannya :p ehehehehe

Arigatou, minna-san. Review, please ^_^