Huaaii~
Terimakasih sekali lagi buat yang udah RnR!
Buat Kak Kurara animeluver, hahay kurang panjangkah? Bagian Len ya? ehehee..~ kasian Len~ *timpuked by pisangs* akan aku bikin si Lennya makin cerewet yah Kak! *gilased by penggulung jalan alias roadroller*
Buat Rii-kun, iyap, dirikuh juga merasakan hal yang sama dengan dikau.. habis gimana, waktu asyik ngetik malah direpetin gituh, udah malem soalnya hehehee~ *gilinged by bawang bombays* tentu saja fic ini akan dilanjutkan, rencananya umm.. tiga atau empat chapter total. Kissing scene? Ahahahaa.. *nglirik Len dan Rin yang bales menatap dengan tatapan 'apa-lo-liat-liat?'* tenang, aku udah siapkan kok hehehe tapi gag sekarang! *gampared by semuas*
Anyway, meskipun emang ceritanya diambil dari lagu siGre dan mengambil konsep dari PVnya, yang tentu saja dua-duanya bukan punya eikeh sebagai tukang ketik cerita di sini, tapi aku bikin lebih ke real life gitu. Jadi Len, turunkan senapan itu, gag usah kokang senjata, aku takut! Eh nggak ding, Len nggak jadi tentara kok. Rin juga! Gag usah diganti bajunya! Rin tetep jadi anak sekolah yang baik hati baik budi suka menabung dan tidak sombong okeh? *tonjoked by jeruks*
Oke dehh, enjoy ajaa~
siGre-chapter 2
Rin
Beberapa hari kemudian..
Aku telah resmi bergabung dengan klub berkebun di sekolah ini, satu hal yang aku sukai dari sekolah ini. Beruntung pula aku bisa bertemu dengan orang yang aku sayangi, cinta pertama yang kutemukan di saat hujan mendera. Tapi, kau begitu berbeda sekarang, entah apa yang mendasari pemikiranku itu, namun aku merasa demikian. Mungkin karena rambutmu yang lebih panjang? Apa alasanku kekanak-kanakan?
"Ngapain kamu di situ?"
Aku menoleh. Hah! Itu.. itu kau! Itu kau?
"Eh, Len, ya?" tanyaku dengan hati berdebar. Dapatkah kau mendengarnya?
"Aku tanya, ngapain kamu di situ?" tanyamu dingin.
Loh, Len? Itu, benar dirimu yang sekarang ini kutatap?
"Aku.. lagi nanam mawar.."
Kau mengangkat alismu.
"Aku.. ehehe.. baru ikut klub berkebun.. jadi.. yah.." aku menepuk-nepuk bajuku yang terkena tanah yang kotor. Bukan baju bagus sih, kan sayang kalau baju bagus.
"Oh.." kau beranjak pergi.
"Tunggu!" aku menarik tanganmu, mencoba menahanmu.
"Ada apa?" tanyamu.
"Um.. mawar di rumahku udah mekar, nanti aku petikkan satu untuk Len, ya?" kataku sambil mengulas senyum.
"Maaf. Aku bukan anak perempuan yang suka bunga-bunga seperti itu," kau menyentak tanganmu dari sentuhanku.
"Len, nggak ingat aku? Len nggak ingat kejadian tujuh tahun lalu itu?" aku memberanikan diri bertanya.
Aku mencoba menatap matamu. Mata yang dulu kutatap. Sebentuk tetes air mata membayangi pelupuk mataku, meminta jawaban darimu.
"Maaf, aku nggak ingat," jawabmu singkat. Lalu kau pergi berlalu.
Mengapa, Len? Mengapa begitu mudah bagimu untuk melupakanku, tak seperti aku yang teramat sulit melupakanmu?
Len
Esok paginya, huft..
Aku berjalan di koridor sekolah menuju kelas. Hari yang akan membosankan, pasti. Habis, Matematika hari ini cuma satu les. Tidak akan cukup untuk memenuhi egoku yang serakah ingin mempelajari lebih banyak lagi soal-soal Matematika. Aku memang cukup berambisi ingin menjadi yang terhebat dalam pelajaran ini, terimakasih kepada orangtua yang selalu mendoktrinku hingga aku menjadi seperti ini.
Saat aku memasuki kelas, aku melihat seorang gadis tengah berjinjit menuju mejaku, lalu meletakkan setangkai bunga mawar di atasnya.
"Ngapain lagi kamu di situ?" tanyaku.
Gadis itu terkejut. Oh yeah, siapa lagi kalau bukan Rin.
"Ma.. maafkan aku, Len! Aku tidak…"
"Kau datang membawakan mawar?" tanyaku lagi. Aku berjalan mendekatinya.
Ia hanya tertunduk. Aku bisa melihat tubuhnya menggigil. Ini anak kenapa sih, badai salju aja kagak ada, gimana lagi hujan, tapi menggigil sendiri. Tapi aku tahu, itu pasti karena dia sebentar lagi akan menangis karena kata-kataku tadi.
Aku meraih mawar itu. Di luar kesadaranku aku lalu mencabik-cabik kelopak-kelopaknya tanpa ampun, sekilas tanpa perasaan. Aku lalu memandangnya, tubuhnya makin bergetar hebat, dan..
PLAK!
Tangannya mendarat di pipiku, menamparku. Balasan atas perlakuanku.
"Apa-apaan kau ini?" bentaknya.
Aku tak menyangka gadis itu tumbuh secepat itu. aku pikir gadis lemah seperti dia takkan bisa berteriak dan menampar sekuat itu. Pastilah ia juga sama denganku, terlalu lama memendam perasaan yang sukar diungkapkan dengan kata-kata.
"Kalau kau memang benci padaku dan sudah lupa padaku, setidaknya katakanlah padaku! Perilakumu itu tidak berperasaan! Kau tidak menghargai pemberian orang lain! Apa itu yang namanya.."
Aku memungut kelopak-kelopak mawar yang kucabik-cabik, membuatnya kehilangan kata-kata sementara waktu. Lalu aku meletakkannya di atas telapak tangan Rin yang halus, tangan yang mencintai kelembutan mawar.
"Jadi, kau hanya menyayangi mawar itu?" sahutku pelan. Wajahnya tertunduk. Sebutir air mata jatuh.
"Lebih baik kau pikirkan saja perasaanmu itu, baru kau datang lagi," aku berjalan meninggalkannya, meninggalkan tubuh mungilnya yang berlutut sambil menutupi wajahnya yang berderai air mata, kelopak-kelopak mawar berserakan di mana-mana, jatuh dari tangannya yang basah oleh air mata.
Mengapa dia begitu menyayangi mawar itu? Mengapa hanya mawar itu saja yang ia lindungi? Dan mengapa aku mau melindungi mawar itu, padahal hatiku tak rela diperlakukan seperti itu?
Rin
Jam pelajaran Matematika..
Sungguh aku benar-benar tak percaya dengan apa yang aku lihat!
"Sin alpha ditambah sin alpha sama dengan…"
Aku benar-benar tak percaya kalau kau memang betul-betul membenciku, Len!
"Sedangkan cos alpha ditambah cos alpha sama dengan.."
Aku ini benar-benar bodoh! Harusnya aku tahu, kau pasti akan melupakanku setelah tujuh tahun berselang!
"Nona Rin?"
Aku benar-benar..
"Rin, Rin..! Kiyo-sensei datang!"
BRAAAKKK..! sebuah penggaris besi dihantamkan Kiyoteru-sensei di mejaku dan Lin. Kontan kami berdua terkejut.
"Rin, apa kau benar-benar ingin mengikuti pelajaran kali ini?" Kiyoteru-sensei menatapku tajam
Uhh.. Rin bodoh, Rin bodoh! Bisa-bisanya aku melamun di saat pelajaran mengerikan seperti ini!
"Ma.. maafkan aku Sensei.." aku tertunduk menyesali kebodohanku.
Sekilas kulihat kau tengah asyik menulis, apakah kau sedang mengerjakan soal?
"Ya sudahlah, mohon kali ini kamu konsentrasi, Nona Rin. Materi ini akan keluar di ujian harian kita yang kedua," Kiyoteru-sensei menghela napas panjang.
Umm.. berarti kau belajar untuk ujian ya? Tapi apa nggak kecepatan tuh? Ujiannya kan 3 minggu lagi?
"Baik Sensei.." anggukku lemah.
Len
Pulang sekolah..
Aduuhh.. ini buku-buku ribet amat sih!
Aku masih sibuk mengatur buku-bukuku. Hari ini aku dapat pinjaman buku lagi dari Kiyoteru-sensei, sebagai persiapanku mengikuti Olimpiade Matematika 6 bulan mendatang. Sebenarnya aku tidak terlalu suka ikut beginian sih, tapi aku 'dipaksa' oleh orangtuaku, makanya aku harus berusaha menerima keadaan ini.
Kenyataan yang menjauhkanku dari gadis itu..
"Len, dari mana saja kamu?"
"A..anu.. habis main sama teman, terus.."
"Kamu itu harus belajar biar makin pintar, bukan malah membuang waktu dengan main bersama teman! Mau jadi apa kamu kalau tidak bisa meraih sukses di masa.."
"Len kan cuman mau.."
"Sudah! Sana pergi ke kamar! Belajar ya! kalau nilaimu 0,5 poin saja, kamu akan Ibu pindahkan ke sekolah lain!"
"Tapi.."
"Jangan banyak tapi-tapi!"
Tidak ada waktu untuk memikirkan gadis itu, apalagi memikirkan hal lain yang remeh seperti bermain dengan anak lain.
Sampai nilaiku jatuh karena terlalu banyak pikiran, dan aku harus meninggalkan gadis itu dengan senyuman sedih, tak bisa lagi melihat senyum cerianya.
Lalu tiba-tiba Tuhan mengantarnya ke kota ini, memulai kehidupan lain sebagai orang-orang yang saling menipu hati.
Dia menatapku. Tatapan apa itu.
"Aku pulang," gumamnya. Dia meraih tasnya dan buru-buru pergi meninggalkan kelas.
Tanpa menyadari dompetnya tertinggal.
Kutunggu sampai aku yakin bahwa tak ada lagi orang yang melintas, lalu aku mendekati dompet itu.
Dompet bermotif pisang jeruk itu kubuka. Wah.. uangnya cukup banyak.. bukan! Bukan itu yang menarik perhatianku.
Mataku tertumbuk pada foto yang ada di dompetnya. Senyum kekanakan itu terpampang dengan imutnya. Ingin rasanya mengambilnya.. hei! Ide bagus! Aku ambil saja! Cuma foto doang kok!
Nah, setelah ini lalu apa?
Aku melongok ke luar jendela, menatap gerbang. Buru-buru aku berlari secepat yang ku bisa. Tak lupa menggenggam dompet itu untuk kukembalikan pada pemiliknya. Kuatur pernapasanku, mengejar Rin yang tengah menyeberangi jalan.
"Rin!"
Ia menoleh ke arahku dari seberang jalan. Aku mempercepat lariku.
"Ada apa, Len.. Len! Awas!"
Tidak, tetap di situ, Rin! Jangan lari! Akan aku percepat lariku menyeberangi jalanan ini!
"Leeenn..! Menyingkirlah! Awaaaass…!"
Tidak!
Oke, dengan ini pun kalian tahu apa yang terjadi pada Len selanjutnya..
Maaf yaaa..~ *lempared by tisus*
Kalau masih ada yang mau diutarakan, diselatankan, atau ditimurbaratkan dari fic ini, jangan sungkan untuk memberitahu! Thanks buat RnR nyaa~! Akan aku coba untuk meng-update secepatnya~ X)
