Kuroshitsuji punya Yana Toboso

Tapi cerita murni dari otak konslet saya.


Mr. Pedophile

.

.

.

Sebastian yang tengah duduk di ruang makan bersama keluarganya sesekali melirik ke arah Ciel yang tenang seperti biasanya. Merasa ada yang melihatnya, Ciel melirik ke arah sumber sang pemilik mata lalu membuang muka dengan sinis pada Sebastian. Melihat hal yang tak wajar dari gelagat anak mereka, Rachel ingin mencairkan suasana meskipun berbicara saat makan itu melanggar etika makan memakan(?) bersama keluarga. Tapi kapan lagi bagi orang tua menanyakan sesuatu pada anaknya saat jam kosong? Keluarga itu sangat sibuk.

"Ciel sayang, kenapa kamu cuek-cuek sama kakakmu? Ada yang terjadi?" Tanya Rachel perhatian.

"Tidak ada, mom." Jawabnya singkat.

Rachel menatap Sebastian seakan bertanya 'ada apa sebenarnya?' tanpa bicara. Sebastian pun mengatakan hal yang sama. Akhirnya Rachel hanya menghela nafas panjang. Bagaimana pun kedua anaknya itu sepertinya tidak mau membahasnya.

"Oh ya, daddy dan mom mau pergi ke cabang perusahaan kita di Perancis. Ada sesuatu yang harus kami urus. Daddy minta supaya kalian menjaga rumah. Untuk Sebastian, daddy minta kamu untuk urus kerjaan disini, ya." Kata Vincent dengan tampang cool-nya.

Sebastian mengangguk. Dia memang sudah biasa di cekoki hal-hal tentang perusahaannya sejak dia masih kecil. Jadi, ayahnya sangat mempercayainya untuk meng-handle urusan Funtom sementara ayahnya pergi meskipun Sebastian bukan anak kesayangannya.

Namun Ciel tetap diam atau lebih tepatnya bodo amat soal menjaga rumah. Bagaimana pun juga, dia tidak menyukai ayahnya itu. Jelas saja, sejak kecil Ciel hanya tinggal berdua dengan ibunya. Ayahnya memang memberikan pemasukan untuk Ciel dan Rachel. Hanya saja Ciel itu hampir tidak pernah menghabiskan waktu dengan ayahnya yang datang kerumah hanya 3 bulan sekali. Karena itu dia diledek teman-teman sebayanya dengan kata-kata 'anak haram'. Namun memang itulah kenyataannya.

Rachel adalah kekasih Vincent, mereka saling mencintai tapi saat itu Vincent di jodohkan oleh wanita bangsawan lainnya. Vincent tetap menjalin hubungan dengan Rachel. Namun wanita yang dijodohkan dengan Vincent meninggal karena sakit pada usia Sebastian menginjak 6 tahun. Dan saat itu pula, Ciel lahir. Selama 6 tahun, Ciel menghabiskan waktunya dengan membenci ayahnya. Sampai saatnya dia ditarik ke rumah keluarga besar Phantomhive. Mungkin itu permintaan maaf Vincent atas kesalahannya pada Ciel. Tapi menurut bocah bermata sapphire itu, semua sudah terlambat.

"Ciel, daddy sedang bicara. Apa kamu mendengarkan?" Tanya Vincent dengan lembut. Dan itu membuat pria bermata ruby itu sedikit sedih. Tapi Sebastian hanya diam dan mencoba untuk bersikap dewasa.

"Hmm…." Ciel menjawabnya seperti mengatakan 'jangan mengaturku' sambil malas-malas memakan rotinya. Itu membuat Rachel marah.

"Ciel! Bicara yang benar pada daddy!"

"Aku selesai makan." Tanpa menjawab pertanyaan ibunya, dia bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja.

"Aku pergi dulu daddy, mom." Rachel tersenyum melihat kesopanan Sebastian yang tidak dimiliki anaknya. Sedangkan Vincent terdiam meneruskan makanannya tanpa sepatah kata pun untuk Sebastian.

*09*

"Hei, Ciel tunggu!" Teriak Sebastian sambil berlari menghampirinya. "Bagaimana bisa kau tidak sopan pada daddy dan mom?"

"Bukan urusanmu." Katanya ketus sambil terus berjalan ke kamarnya.

"Jelas urusanku. Kamu adikku, dan mereka itu orang tua kita." Tahan Sebastian. Lalu Sebastian tersenyum karena melihat kemarahan dimata Ciel. "Kalau kamu memang sebete itu, mau ikut ke kampusku? Daddy dan mom akan pergi ke Perancis sebentar lagi, mereka tidak akan tau kamu membolos pelajaranmu."

"Oke, tapi ingat! Tidak ada sesuatu seperti kemarin!" Bentak Ciel.

"Iya, Darl~"

Saat itu juga Sebastian membawa Ciel ke kampusnya. Sesaat, Ciel Nampak kagum dengan dunia perkuliahan. Mereka yang bebas mengekspresikan diri, mereka yang tampak hebat dengan status mereka. Itu semua terlihat keren di mata bocah kecil itu.

Dia juga sesekali melihat orang yang menyapa Sebastian. Entah itu wanita yang menyapanya sambil tersenyum gembira seakan-akan dia habis di sapa oleh pangeran Inggris atau laki-laki yang tampak senang bergaul dengan kakaknya dengan mengikuti mereka berjalan. Sampai tibanya di kantin kampus.

Agak sedikit membingungkan memang kenapa kakaknya memilih untuk duduk di kantin sedangkan kantin saat itu sedang ramai sekali. Suasana yang menjengkelkan buat Ciel.

"Jadi ini Ciel?" Tanya seorang teman Sebastian.

"Iya. Ini lho adikku yang sering aku ceritakan." Balas Sebastian dengan tertawa seperti biasa. Ciel hanya tersenyum sambil menatap curiga kakaknya. "Owww…tenang,, aku tidak membuka kejelekanmu pada mereka."

"Dia membanggakanmu lho." Potong pemuda yang mempunyai darah keturunan India itu.

"Hei!" Sebastian memprotes. Itu justru membuat Ciel tertawa karena selama ini Sebastian merupakan sosok yang menjengkelkan dan yang pandai membuatnya marah. Tapi kali ini dia yang di buat kesal.

"Aku Agni." Pemuda India itu memberi tangannya pada bocah kecil itu untuk berjabat tangan. "Tapi kamu benar Sebastian, dia manis sekali. Kau yakin kalau adikmu ini cowok?"

Ciel yang tadinya tertawa terdiam seketika, dan tawa itu berpindah pada Sebastian. Malah lebih keras lagi. Bocah kelabu itu membuang muka kesal. Lalu mereka berbincang-bincang sampai tak terasa pria India itu pamit masuk kelas. Namun, setelah temannya pergi, Sebastian sama sekali tidak bicara pada Ciel. Membuatnya kesal pun tidak. Dia terlalu sibuk membaca buku-bukunya yang tebal, itu membuat Ciel merasa menyesal ikut ke kampus Sebastian.

"Sebastian, jika nanti kau masuk kelas, bagaimana denganku?" Tanya Ciel yang tiba-tiba menyadari jika kakaknya tidak bisa menemaninya. Itu sama saja sia-sia membolos pelajaran untuk ikut.

"Aku hari ini tidak masuk kelas. Aku ke kampus hanya ingin menyerahkan tugas paper ku. Tapi karena dosennya sedang sibuk, jadi di undur 1 jam." Sebastian tersenyum.

Mereka terdiam. Semenjak sarapan, pria beranjak dewasa itu sama sekali tidak membuat si bocah marah. Sebenarnya Ciel heran tapi dia juga senang…atau kesepian? Ciel mengabaikan hatinya untuk berpikir apakah dia memang kesepian atau senang. Dia menatap Sebastian yang sedari tadi membaca buku. Hei! Ini sama saja membuat waktunya terbuang sia-sia! Ciel semakin menyesal membolos pelajaran. Tau akan seperti ini, lebih baik dia belajar meskipun membosankan.

"Hei, Sebastian."

"Hmmm…?" Tanya Sebastian tanpa melepaskan mata ruby itu dari buku yang dia baca. Ciel sedikit penasaran, buku apa yang membuat Sebastian mengabaikannya. Tapi dia tidak mau menanyakannya.

"Sepertinya kau punya banyak teman." Sambil menyeruput tehnya, dia memandang sekitar kantin yang mulai menjadi sepi karena sudah saatnya mereka masuk kelas.

"Wajarlah. Mana mungkin tidak mempunyai teman? Manusia itu mahkluk sosial. Kenapa?" Ciel menggeleng. Itu malah membuat Sebastian terpancing untuk berbicara. "Kau pasti juga kan? Apa lagi kau itu manis, pasti banyak yang menyukaimu." Sebastian menatap Ciel yang terdiam.

"Mereka tidak menyukaiku."

"Bagaimana bisa mereka tidak–"

"Mereka tidak menyukaiku!" Potong Ciel dengan bentakan. Itu membuat Sebastian heran. Bagaimana bisa mahkluk semanis ini tidak ada yang menyukai? Sedangkan dirinya saja menyukainya. Mungkin karena sifatnya kah? Itu membuat Sebastian bingung kenapa adiknya emosi sekali menyangkut soal teman.

"Mungkin karena sifatmu yang arogan. Pasti sebenarnya mereka menyukaimu bahkan mencintaimu."

"Tidak! Mereka tidak menyukaiku! Apa lagi mencintaiku! Pokoknya tidak! Kau tidak tau apa pun!"

"Tapi aku mencintaimu!"

Kata terakhir Sebastian cukup membuat Ciel terdiam. Sambil menatap mata Sebastian, Ciel mencari sebuah kesalahan untuk memakinya lagi karena Sebastian berbohong. Tapi tidak ada keraguan dalam mata merah darahnya. Saat itu juga wajah Ciel memanas, jantungnya terasa sesak, dan ingin rasanya Ciel membalikan waktu supaya ia tidak bertanya soal teman jika ujungnya begini.


Yak, bagaimana? Terkesan maksa banget selesai kah ceritanya? T_T
Efek tugas banyak buat pusing. Amsyong banget dah. _

Ada yang mau review? XD *ngarep*