.

Sampai ada satu hal yang aku lupakan darinya. "Siapa namamu?"

Dia menjawab. "Kwon Soonyoung, umurku 17 tahun. Dan aku akan menjadikan kau pacarku."

.

시간 여행자—Time Traveler

Rated : T

Pair : Kwon Soonyoung x Lee Jihoon

Cast : Woozi, Hoshi, etc.

Length : Chaptered

.

Dia sibuk bercerita tentang bagaimana rasanya menaiki mesin waktu. Aku ingat, dia bilang rasanya seperti di tarik ke dalam black hole yang bentuknya seperti donat.

.

Chapter 2

Aku pastilah berpikir dia bercanda, kami baru saling mengenal. "Pacar? Yang benar saja, jangan bercanda."

Dia tidak merespons apa pun, dia tersenyum lagi. Aku mencoba untuk tidak luluh lagi dengan senyuman itu—aku mengalihkan pandanganku ke sembarang arah, mungkin saja ada benda asing aneh dari masa depan lagi yang ada di dalam gudang ini.

Tapi aku tidak menemukan apa pun, hanya ada mesin waktu itu di dalam sini.

Karena sedari tadi aku hanya mendengar suara jangkrik, aku memutuskan untuk bertanya. "Di mana kau tinggal?"

Dia mengepalkan satu tangannya dan memukulnya ke telapak tangannya yang satu lagi. Aku sempat terkejut sedikit, kemudian dia berbicara, "Nah, pertanyaan bagus! Aku tidak punya tempat tinggal."

Aku bergumam. "Lelaki bodoh macam apa kau," tampaknya dia mendengarku, dan dia terkekeh.

"Lee Jihoon, pungut aku."

Aku melotot, makhluk di hadapanku ini memang tak tahu malu atau apa. "Tidak, tidak mau. Aku tidak mau kau tinggal di rumahku, Ibuku akan—"

Setelah aku mengucapkan kata-kata itu, aku melotot lagi dan menepuk keningku setelahnya. "Astaga, Ibu pasti akan marah karena aku belum pulang." Aku menggigit jariku—kebiasaanku ketika sedang gugup atau memikirkan sesuatu.

"Bilang saja pada Ibumu; Ibu, tadi aku bertemu dengan lelaki tampan dari masa depan dan dia meminta padaku untuk memungutnya. Bolehkah dia tinggal bersama kita? Lalu kita akan menjadi keluarga bahagia!" kata si Soonyoung gila. Dia memang gila, benar-benar gila. Mustahil aku akan mengatakan hal seperti itu pada Ibuku.

Aku tidak menjawab, melainkan melayangkan tatapan tajamku padanya. Dia bukannya ketakutan, malah memberikan tatapan memelas padaku. "Ayolah Jihoon, aku tidak punya tempat tinggal. Pungut aku?" Suaranya Ia buat agar terdengar seperti anak kecil yang menginginkan sebuah balon dan setangkai es krim. Itu menjijikkan, dia bukan anak kecil lagi.

"Kau punya uang?"

Dia menganggukkan kepalanya. Aku mengembuskan napas, "Kalau begitu, kenapa tidak pakai saja uang itu untuk membeli rumah?"

Dia membalas, "Memangnya aku orang kaya?"

Lalu aku mengambil pisau yang ada di sudut ruangan besar itu dan menancapkan benda tajam itu ke tubuh lelaki di hadapanku ini, sampai akhirnya dia benar-benar tidak bergerak dan tidak bernapas lagi. Dan sayangnya itu hanya ada di dalam khayalanku. Kenyataannya dia masih berada di sini dalam keadaan sehat, dan tak ada pisau di sekitar sini.

Aku berpikir, apa tidak ada robot seperti Doraemon di masa depan? Doraemon ada di abad ke-22 bukan? Seharusnya Doraemon sudah ada jadi dia bisa meminta robot itu untuk mengeluarkan rumah dari kantung ajaibnya itu. "Apa tidak ada robot seperti Doraemon di masa depan?"

"Ada, tapi aku tidak mempunyai robot itu." Dasar bodoh.

Sudahlah, lebih baik aku menyerah dan membiarkannya ikut denganku ke rumah. Aku ingin saja meninggalkannya sendirian di sini tanpa makanan, minuman, selimut, kasur, toilet, dan semuanya. Tapi aku masih mempunyai sisi malaikat di dalam diriku dan tentu saja aku tidak tega melihatnya menderita di sini.

Aku menghela napas dan berjalan menuju pintu gudang yang besar. Aku bisa merasakan Soonyoung menatapku kebingungan, kemudian aku berbalik. "Mau ikut atau tidak?"

.

"Lee Jihoon! Kenapa kau tidak pulang tepat waktu dan kenapa ponselmu tidak diaktifkan? Dan—siapa dia?"

Ibuku mengomel agak panjang dan terhenti ketika dia menyadari Soonyoung yang berdiri di belakangku. Seharusnya Ibu menyadari keberadaan Soonyoung sedari tadi karena lelaki itu lebih tinggi dibanding diriku; ya aku tahu, aku pendek sekali.

Aku mengembuskan napas, sembari berpikir, mencari kata-kata yang bagus untuk diucapkan. "Aku menemukannya di jalan, berpakaian seperti itu; kaus dan celana pendek. Dia tidak punya rumah dan tidak punya makanan, jadi aku membawanya kemari."

Ibuku menaikkan sebelah alisnya, kemudian beralih menatap Soonyoung yang sedang menatapnya balik. Aku memutar tubuhku untuk melihat Soonyoung dan aku melihat dia sedang tersenyum manis, semanis yang Ia bisa agar hati Ibuku luluh dan membiarkan makhluk seperti dia tinggal di rumahku. Aku baru ingat bahwa aku tidak menyebutkan nama Soonyoung tadi, sebelum aku memberitahu Ibuku, dia sudah menanyakannya sendiri. "Siapa namamu?"

Dia tersenyum lebar dan matanya hilang. "Kwon Soonyoung, umurku sama dengan Jihoon."

"Mana kedua orang tuamu?"

"Tidak punya."

Ibuku langsung mengusap dagunya, menimbang sesuatu. Dan tampaknya aku tahu apa yang akan Ia ucapkan. "Baiklah, sepertinya kau anak yang baik. Aku akan mengizinkanmu untuk tinggal di sini selama yang kau mau."

Tepat.

.

"Jihoon, turunlah untuk makan malam!"

Aku mendengar Ibuku menyahut dari lantai bawah, dan aku balas menyahut, "Tunggu sebentar!"

Soonyoung sedang berada di bawah, membantu Ibuku menyiapkan makan malam untuk kami bertiga, ya, bertiga.

Soonyoung tidur di kamar tamu, letaknya di samping kamarku. Aku bahagia setengah mati begitu tahu bahwa dia tidak akan tidur di kamarku. Aku tidak terlalu suka jika ada orang lain yang tidur bersamaku—kecuali orang terdekat seperti Wonwoo atau keluargaku.

Setelah mengeringkan rambutku yang basah—aku baru saja mandi, aku segera turun ke bawah untuk makan malam. Begitu sampai ke ruang makan, aku melihat Soonyoung yang sedang meletakkan sumpit di meja. Dia menyadari kehadiranku dan tersenyum padaku. Kemudian Ibu datang sambil membawa dua mangkuk samgyetang (sup ayam ginseng). Seharusnya dia membawa tiga mangkuk, tapi aku tahu dia tidak akan bisa membawa tiga mangkuk sekaligus, jadi aku memutuskan untuk pergi ke dapur dan membawakan satu mangkuk samgyetang lagi.

Ibu menggumamkan terima kasih padaku ketika dia melihatku membawakan satu mangkuk samgyetang yang tersisa di dapur.

Aku meletakkan samgyetang di meja dan menatap Soonyoung yang sudah duduk di meja sambil menopang dagunya dan dia menatapku. Aku menaikkan sebelah alis dan duduk di depannya.

Kemudian aku melihat Ibu sedang membawakan tiga mangkuk kecil kimchi dan meletakkannya di meja. Lalu Ibu duduk di kursinya, di tengah, paling ujung.

Aku mengambil sumpit dan sendok, Ibu dan aku sama-sama mengucapkan selamat makan, dan Soonyoung tidak. Aku penasaran, apakah di masa depan masih ada tradisi mengucapkan kata-kata semacam ini. Tapi Ibu sama sekali tidak peduli apakah Soonyoung mengucapkan selamat makan atau tidak.

Kami sudah menyelesaikan makan malam, tapi sama sekali tidak beranjak dari tempat duduk. Ibu sibuk bertanya-tanya tentang Soonyoung.

"Di mana kau bersekolah?"

Pertanyaan yang bagus dari Ibu, aku belum menanyakan hal itu pada Soonyoung.

Tapi, Soonyoung tidak punya rumah, 'kan? Aku sendiri yang mengatakan itu pada Ibu, pastilah Ibu berpikir Soonyoung ini gelandangan tampan yang aku pungut, tapi Ibu malah menanyakan hal itu.

"Aku tidak sekolah, eomoni."

Dan kini dia memanggil Ibuku dengan sebutan eomoni, manis sekali.

Ibuku menggelengkan kepalanya prihatin dan meraih tangan kanan Soonyoung yang sedari tadi tergeletak di atas meja untuk Ia genggam. "Kasihan sekali kau, nak. Aku akan berusaha keras agar kau bisa ke sekolah yang sama seperti Jihoon."

Aku yang sedang meminum segelas air putih mendadak tersedak.

"Eomma, kenapa—"

Ibu memotong ucapanku. "Shh, jangan melawan, Lee Jihoon. Eomma kasihan padanya, jadi eomma ingin dia sekolah juga. Tapi bukan tahun ajaran sekarang, ok?"

Aku ingin membantahnya tapi tentu saja aku tidak bisa. Dan aku melihat Soonyoung sedang tersenyum senang sambil menatap Ibuku, dan dia berkali-kali mengucapkan terima kasih padanya.

Kami bertiga menghabiskan malam itu dengan bercerita, dan aku lebih banyak diam.

.

Aku sedang bersiap untuk tidur. Setelah menyikat gigi dan mencuci muka, aku beranjak ke ranjang.

Tapi langkahku terhenti ketika seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku berpikir, mungkin itu Ibuku. Tapi ketika aku membuka pintu, wajah Soonyounglah yang terpampang jelas di hadapanku, membuatku mendengus sebal. "Kau mau apa?"

Dia nyengir, "Bolehkah aku tidur denganmu?"

Aku menatapnya tajam. "Tidak, kau sudah punya kamar. Sana pergi ke kamarmu."

Dia menggeleng cepat. "Tidak, tidak. Aku tidak mau menghabiskan malam pertamaku di masa sekarang ini dengan tidur sendirian. Jadi, izinkan aku tidur bersamamu?"

"Kau menjijikkan, pergi sana."

Aku membanting pintu, dan aku bisa mendengar Ibuku menyahut dari lantai bawah, menyuruhku untuk tidak merusak pintu itu—katanya mahal. Dan mungkin saja hidung Soonyoung kena bantingan pintu ini, mengingat posisinya yang cukup dekat denganku tadi. Tapi aku sama sekali tidak mendengar orang meringis kesakitan dari luar sana, dan aku memutuskan untuk tidak peduli.

Aku menggerakkan tungkaiku menuju ranjang, kemudian berbaring di sana. Setelah berdiam diri sambil menatap langit-langit kamar dengan cukup lama, akhirnya aku tertidur.

.

Aku terbangun dengan kondisi tubuh berkeringat. Dan Soonyoung di sisi tempat tidurku.

"Kau mimpi apa? Aku mendengarmu berteriak sejak satu jam yang lalu." Ucapnya. Aku mengambil jam dari meja nakas untuk melihat waktu sudah menunjukkan pukul berapa; enam pagi.

Aku beralih untuk menatap Soonyoung yang sedang menguap, lalu menggaruk kepalanya. Rambutnya acak-acakan, dan dia memeluk bantal. "Sana kembali ke kamarmu."

Dia menatapku. "Kau sekolah hari ini?"

"Tidak, sekarang hari sabtu. Pergilah ke kamarmu."

Dua detik berlalu dan kini dia sudah tertidur, dalam posisi duduk di lantai. Tubuhnya bergoyang ke kanan dan ke kiri. Aku mengira dia akan terjatuh ke lantai, tapi dia malah menjatuhkan kepalanya ke ranjangku.

Aku tidak punya tenaga untuk mendorongnya, dia terlalu besar dan aku terlalu kecil. Aku beruntung hanya kepalanya saja yang berada di ranjangku, bukan seluruh tubuhnya.

Setelah menarik selimut dan menepuk bantalku agar terasa nyaman ketika aku merebahkan diriku, aku memejamkan mata.

.

Aku terbangun dua jam kemudian karena dering telepon. Ketika aku mengecek siapa yang meneleponku, aku mengernyit—Wonwoo.

Aku menekan tombol hijau di layar ponselku dan menaruhnya di telingaku—posisiku sedang berbaring menyamping saat ini. Dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, aku bertanya. "Ada keperluan?"

"Ya, aku akan ke rumahmu hari ini. Aku mengisi flashdisk-ku dengan film-film bagus, kita akan menonton bersama."

"Baiklah." Aku menjauhkan ponsel dari telingaku dan menaruhnya ke meja nakas di samping ranjangku.

Aku baru sadar bahwa Soonyoung sudah tidak ada di kamarku, dan aku senang. Aku mengacak rambutku dan pergi ke kamar mandi, lebih baik aku menyiapkan diri daripada tetap berpenampilan acak-acakan seperti ini. Wonwoo akan mengabadikan fotoku yang berpenampilan acak-acakan seperti orang gila ini, dan esoknya fotoku akan tersebar di Twitter, Facebook, dan semuanya—Wonwoo adalah teman yang seperti itu.

.

Aku mengenakan sweater berwarna merah dan celana pendek berwarna coklat.

Setelah merasa penampilanku cukup bagus, aku segera turun ke bawah untuk membuka pintu—sebelumnya Wonwoo sudah mengirimkan pesan padaku bahwa dia sudah sampai, tapi anehnya dia enggan untuk sekedar menekan bel rumahku.

Saat aku turun, aku bisa melihat Soonyoung sedang membuka pintu depan dan dihadiahi tatapan terkejut dari Wonwoo.

Wonwoo bereaksi cukup bagus dan bertanya langsung tanpa ragu. "Wow, siapa ini?"

Soonyoung mengulurkan tangannya dan Wonwoo menerimanya. Ketika itu pula, aku terkejut setelah mendengar kata-kata yang Soonyoung ucapkan. "Namaku Kwon Soonyoung, aku datang dari masa depan dan aku pacarnya Jihoon."

To Be Continued