[Chaptered]
Title : N A R U
Chapter : 2 / 3
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Itachi with ChibiSasuke and ChibiNaruto
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu
Papiku.
Genre : Horror, Family
BGM : Lead - Thanks for...
Ah! Lama juga baru diupdate. Makasih udah nebak-nebak, tapi jawaban kalian salah, jadi dikurangi 10point #plak
Sesampainya di apartement, tempat Itachi tinggal seorang diri.
"Mama! Mama! A a a!", Sasuke tengah memberontak dalam gendongan Itachi, dia enggan masuk ke apartement.
Selama di rumah sakit, Sasuke terus berteriak menyerukan 'mama' berkali-kali. Sambil menarik tangan Itachi, mengajaknya keluar mencari sang mama. Itachi sudah mengatakan pada Sasuke bahwa mamanya telah meninggal, tapi Sasuke sama sekali tidak mengerti.
Kini Sasuke telah diizinkan keluar dari rumah sakit, dan Itachi telah mengurus hak asuh atas Sasuke, sekarang dia adalah papa untuk anak imut ini. Pria berumur 26 tahun ini sangat excited untuk menjadi orang tua!
Selama di perjalanan, Sasuke diam saja dan tidak memberontak. Mungkin dia mengira Itachi akan mengantarnya pulang ke rumahnya. Tapi setelah memasuki lobi apartement, dia langsung berteriak. Itachi hanya bisa tersenyum gugup, ketika orang-orang di sekitar melihatnya tengah menggendong Sasuke yang memberontak tidak mau ikut, Itachi seperti om-om penculik anak.
"Taraaa! Rumah baru, Sasu!", seru Itachi.
"Mama! Mama!", tangan mungilnya mencakar-cakar dada Itachi yang tertutupi kemeja.
Itachi mendudukkan Sasuke di sofa, meraih tangan mungilnya, lalu menciumnya lembut.
"Tinggal sama paman, eits, tinggal sama papa ya?", tanya Itachi pelan, supaya Sasuke mengerti dengan ucapan Itachi.
"Mama...", oniks kelam yang sama seperti Itachi itu mulai berair.
"Mama sudah pergi, tinggal sama papa saja ya? Pa-pa",
"Papa?", Sasuke memiringkan kepalanya, hanya kata itu yang berhasil ditangkapnya.
"Hn! Papa!", Itachi menunjuk dirinya.
Sasuke ikut menunjuk diri Itachi.
"Papa?", ucapnya.
"Hn!", angguk Itachi membenarkan.
Sasuke langsung mengusap matanya yang berair, sebuah senyum merekah membuat pipi gempalnya terlihat menggemaskan, kemudian dia langsung memeluk Itachi.
"Papa!", serunya. Sasuke sering mendengar kata 'papa' yang keluar dari mulut sang mama. Dia sangat ingin tahu papa itu apa? Dan dia berhasil mengetahuinya. Seorang pria berambut hitam panjang, yang wajahnya tidak beda jauh dengan sang mama.
"Papa!",
"Ahahaaa...", tawa Itachi sambil mengusap-usap punggung Sasuke.
"Tidak seharusnya aku membohonginya", pikir Itachi, "Tapi, jika aku tidak berbohong, apa yang harus aku katakan padanya, sementara dia tidak mengerti dengan apa yang aku katakan?",
Itachi memang bukan papa kandung Sasuke, tapi Itachi bertekad akan menjadi papa yang baik untuk bocah malang itu.
Siang harinya, Itachi mencoba untuk memasak. Dia ingin terlihat keren di hadapan Sasuke, walaupun dia tidak pandai memasak.
"Sasu, bisa tolong papa siapkan piring?", panggil Itachi setengah berteriak, walau jarak antara dapur dan ruang tengah -tempat Sasuke bermain- tidak jauh.
Tidak ada sahutan.
Itachi mematikan kompor, lalu berjalan menuju ruang tengah, memeriksa apa yang dilakukan Sasuke di sana?
Tidak ada seorangpun di sana, sepi. Itachi memeriksa kamarnya -satu-satunya kamar yang ada di apartment ini-, tetapi Sasuke tidak ada di sana.
"Mungkin di kamar mandi", pikirnya.
Itachi melangkah ke luar kamar, beralih menuju kamar mandi.
"Sasu?", panggilnya sambil membuka pintu kamar mandi yang gelap. Ditekan saklar lampu untuk penerangan. Itachi melihat Sasuke sedang terduduk di lantai kamar mandi.
"Apa yang Sasu lakukan?",
". . . ", Sasuke diam saja.
"Astaga! Sasu terjatuh?", rasa panik Itachi mulai muncul.
Dengan cepat Itachi gendong tubuh mungil Sasuke, membawanya keluar dari kamar mandi. Mendudukkan Sasuke di sofa, memeriksa seluruh tubuhnya, apakah ada memar atau luka lainnya? Ternyata tidak ada memar atau lecet sedikitpun.
"Syukurlah~", Itachi bernafas lega, pikirannya terlalu berlebihan.
Sasuke memandang Itachi dengan wajah keheranan, dia tidak mengerti mengapa Itachi tampak panik?
"Ah! Waktunya makan! Nomnom~", Itachi tidak ambil pusing, segera dia menggendong Sasuke menuju dapur, mendudukkannya di meja makan.
Menyiapkan sepiring nasi, 2 potong tempura dan semangkuk soup labu untuk Sasuke. Ketika Itachi sedang mengambil segelas air untuk Sasuke, tiba-tiba Sasuke berlari sambil membawa makanannya.
"Mau kemana, Sasu?", panggil Itachi mengikuti kemana arah Sasuke berlari.
BLaaaaM
Sasuke menutup kuat pintu kamar mandi.
Itachi membuka perlahan pintu kamar mandi, takut menyenggol Sasuke yang berdiri di belakang pintu.
Tampak Sasuke terduduk di lantai membelakangi Itachi, melahap makanannya dengan rakus.
"Sasu tidak boleh makan di sini", tegur Itachi, dengan pelan mengambil piring dan mangkuk Sasuke keluar. Tapi tak disangka, Sasuke malah berteriak dan menarik-narik baju Itachi, meminta untuk mengembalikan makanannya itu.
"Tidak boleh seperti ini, Sasu",
"Papa! A! Aaa!", teriak Sasuke yang terus menggapai-gapai, hingga akhirnya piring berisi nasi itu terlepas dari pegangan Itachi dan terjatuh ke lantai.
Dengan cepat Sasuke memungut dan memasukkan nasi itu ke mulutnya.
"Jangan dimakan!", Itachi mengangkat tubuh Sasuke, memaksanya untuk memuntahkan nasi kotor itu ke wastafle.
"Sasu, a, a! A!", Sasuke menunjuk-nunjuk mulutnya yang terbuka lebar.
"Sasu lapar?",
"Sasu, A! A!", Sasuke kembali menunjuk mulutnya yang terbuka lebar.
"Sasu pasti lapar. Salahku yang memasak makanan terlalu lama", pikir Itachi merasa bersalah.
"Maafkan papa", lirihnya.
Tanpa sadar Itachi menangis sambil memeluk Sasuke. Seandainya Sasuke terlahir di keluarga yang benar, mungkin dia tidak perlu sesulit ini untuk menyampaikan keinginannya kepada Itachi.
Itachi mengajak Sasuke berkeliling di lingkungan sekitar. Memperkenalkannya pada banyak hal, yang Itachi yakini belum pernah dilihat Sasuke.
"Papa! A!", seru Sasuke sambil menunjuk 3 orang anak perempuan yang sedang bermain ayunan bergantian.
"Sasu ingin bermain ayunan?",
"A!", Sasuke menarik Itachi menuju ayunan.
Dengan halus, Itachi meminta anak kecil yang sedang duduk di ayunan untuk bergantian dengan Sasuke. Tapi malah, ketiga anak itu langsung berlari menjauhi mereka.
"Ahaha... Sepertinya wajah papa menakutkan",
Sasuke dengan cueknya menempati ayunan itu, dia tampak kesulitan menaikinya. Itachi membantu Sasuke menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh ke belakang. Mengayunnya dengan pelan.
"Iyeey!", seru Sasuke girang.
Itachi bahagia melihat Sasuke tertawa seriang itu.
Malam harinya, Itachi memasak lagi, memasak secepat mungkin, dia tidak ingin Sasuke kelaparan menunggunya. Kini Sasuke tengah berendam di dalam bathtube air hangat, pintu kamar mandi sengaja dibuka lebar agar Itachi bisa mendengar suara, jika Sasuke memanggilnya.
Itachi melirik jam dinding, Sasuke sudah terlalu lama berendam. Diapun berjalan menuju kamar mandi, dari sini dia bisa mendengar suara cipratan air dan tawa Sasuke.
"Ahahaha... Naru... whoo whoo~", Sasuke menyiram-nyirami dinding di depannya dengan semangat, tidak peduli siramannya telah membuat dinding di sekitar menjadi basah, dia bahkan tidak menyadari mainan bebek karetnya jatuh ke lantai.
Itachi mengambil handuk dan membungkus tubuh telanjang Sasuke.
"Waktunya makan! Nomnom~", Itachi mengangkat Sasuke keluar dari bathtube.
"Ah! Naru!", seru Sasuke yang tidak rela menyudahi permainannya.
Tanpa Itachi sadari, ada sesosok anak kecil menatapnya dengan kebencian.
"Milik Naru direbut!",
Selesai memakaikan Sasuke piyama, Itachi membawa Sasuke ke meja makan. Lagi, Sasuke berniat untuk makan di kamar mandi.
"Tidak boleh, Sasu", cegah Itachi, merebut piring dari tangannya.
"Papa! A!", Sasuke menunjuk-nunjuk mulutnya yang terbuka lebar.
Itachi meletakkan piring itu di meja. Menggendong dan memangku Sasuke di pahanya.
"Makan di meja, bukan di kamar mandi", jelas Itachi sepelan mungkin agar Sasuke bisa menangkap perkataannya.
Sasuke menghiraukan Itachi, pandangannya fokus pada sepiring nasi di hadapannya. Dia ingin sekali memakan makanan itu.
"Makan yang benar itu, seperti ini", Itachi mengambil sesendok nasi.
Sebelum menyuapi Sasuke, Itachi memintanya untuk berkata, "Itadakimasu",
"A!", seru Sasuke.
"I-ta-da-ki-ma-su", eja Itachi.
"A! Papa! A!", Sasuke menunjuk-nunjuk mulutnya, dia sudah tidak sabar ingin makan.
"Hn. Baiklah!", ngalah Itachi yang mulai menyuapi Sasuke, "Itadakimasu~"
Sasuke langsung melahapnya dengan cepat. Kemudian mulutnya membuka lebar, minta diisi lagi.
Itachi tersenyum geli sambil mencubit pipi gempal Sasuke dengan gemas.
"Papa, a, a", kembali Sasuke menunjuk mulutnya yang terbuka lebar.
Itachi kembali menyuapi Sasuke, ini lebih baik ketimbang Sasuke makan di kamar mandi. Itachi tidak habis pikir, mengapa mama Sasuke tega mengajari anaknya seperti itu?
Sebelum tidur, Itachi mengajari Sasuke berbicara. Sasuke hanya bisa mengucapkan beberapa patah kata, kemudian dia melupakannya lagi. Memang sulit mengajarinya, tapi Itachi tidak akan menyerah, karena dia adalah seorang papa.
Itachi mengusap-usap kepala Sasuke. Sasuke tertawa geli dengan usapan itu.
"Well, waktunya tidur, Sasu!", Itachi mengangkat tubuh Sasuke dan membaringkannya di ranjang. Itachi ikut berbaring di samping Sasuke, mendekapnya agar tetap hangat. Sasuke merosot turun, bersembunyi di dalam selimut tebal, melesak-lesakkan tubuhnya di dalam sana.
"Besok papa ada tugas, Sasu main sama Karin-neesan ya",
"Ahahaha...", Sasuke tertawa, keasyikan bergumul di dalam selimut, berguling-guling.
Meskipun mulai mengantuk, Itachi memaksakan diri ikut bermain dengan Sasuke, menggelitiki Sasuke yang tertutup selimut.
"Ahahaha...", Sasuke kegelian. Tangan Itachi menyusup ke dalam selimut, menggelitik perut Sasuke dengan gemas.
"Ah!", Itachi tersentak dan menarik keluar tangannya. Baru saja dia menyentuh sesuatu yang sangat dingin di dalam sana.
Dengan cepat Itachi menarik jauh selimut yang menyembunyikan tubuh Sasuke. Memeriksa suhu tubuh Sasuke.
Suhu tubuh Sasuke normal. Lalu yang dingin tadi itu apa?
Sasuke mengambil selimut dan kembali bergumul di dalamnya.
"Mungkin aku terlalu lelah", guman Itachi memijit dahinya, matanya sudah tidak bisa membuka terlalu lama.
Itachi membiarkan Sasuke bermain dengan selimutnya, dan membiarkan dirinya tidur di samping Sasuke.
"Naru... bobo! Bobo! Sasu..",
"Hn. Oyasuminasai, Sasu~", balas Itachi yang menghiraukan ucapan ambigu Sasuke.
Di dalam selimut, tampak Naruto sedang memeluk Sasuke. Menina-bobokan Sasuke. Sasuke sangat menyukai kehangatan tubuh Naruto.
Tengah malamnya Itachi terbangun karena tidak merasakan keberadaan Sasuke di sampingnya. Selimut yang dimainkan Sasuke tadi, terjatuh ke lantai.
Itachi berjalan menuju kamar mandi, siapa tahu Sasuke sedang pipis.
Alangkah terkejutnya, ketika Itachi menekan saklar lampu kamar mandi, melihat Sasuke tengah terbaring meringkuk di lantai kamar mandi.
Segera dia menggendong Sasuke, membawanya ke kamar.
"Ng? Naru?", Sasuke mulai terbangun.
"Ini papa",
"Papa...", Sasuke kembali tertidur, tangan mungilnya mencengkram piyama Itachi, seolah-olah tidak ingin jauh darinya.
Sepanjang malam, Itachi terus terjaga. Dia tidak ingin Sasuke diam-diam kembali tidur di kamar mandi.
Dia rela tidak tidur nyenyak demi sang anak yang diasuhnya ini.
Keesokan pagi, Itachi mengajari tata cara makan yang benar pada Sasuke.
"I-",
"A!",
"Ayo, Sasu! Say I-",
"Iiii!",
"I-ta-da-ki-ma-su",
"Imasu!", teriak Sasuke, raut wajah anak itu terlihat kesal.
"No, no. I-ta-da-ki-ma-su", Itachi dengan sabar mengajari Sasuke.
"Imasu! Imasuu!", Sasuke menggoyang-goyangkan kakinya, dia mulai merengek.
"Ahahaha... Gomen, gomen", Itachi mengusap-usap kepala Sasuke.
"Papa! Imasu! Imasu! A! A!", Sasuke menunjuk mulutnya yang terbuka lebar.
"Ahahaha.. Baiklah! Itadakimasu~", Itachi menyuapi sesendok bubur ke mulut mungil Sasuke yang terbuka.
Lalu Itachi mengajari Sasuke memegang sendok yang benar. Selama ini, Sasuke memegang sendok dengan menggenggam.
Walaupun lambat dan berantakan, setidaknya Sasuke bisa menyuapi dirinya sendiri.
Itachi membawa Sasuke ke kantor polisi pusat, tempatnya bekerja. Itachi tidak bisa meninggalkannya sendirian di apartment.
"Ohayou!", sapa Itachi pada rekan kerjanya.
"Ohayou!", balas mereka.
"Ohayou, Sasu-chan!", Karin langsung berlari dan merebut Sasuke dari gendongan Itachi.
"Aaa! Papa!", Sasuke menggapai-gapaikan tangannya, dia tidak ingin jauh dari Itachi.
"Main sama Karin-neesan ya. Papa harus kerja", bujuk Itachi.
Sasuke terus memanggil Itachi. Itachi merasa tidak tega untuk meninggalkannya.
"Sasu-chan. Lihat, neesan ada apa?", Konan mengeluarkan setangkai lollipop untuk memancing perhatian Sasuke.
"Whoo!", mata Sasuke langsung berbinar menatap lollipop yang di pegang Konan.
Karin mengedipkan matanya, memberi Itachi isyarat bahwa mereka bisa mengatasi Sasuke.
Sebenarnya Itachi agak berat membiarkan Sasuke dijaga oleh Karin. Tapi tak masalah, karena di sana juga ada Konan yang merupakan seorang ibu, Konan pasti bisa menjaga Sasuke dengan baik.
Karin mengajak Sasuke berkeliling, wanita berumur 25 tahun ini sangat senang dengan anak kecil, terutama wajah Sasuke yang begitu imut dan polos.
"Sasu~ Sasu~", samar-samar terdengar suara seorang bocah yang terus memanggil-manggil Sasuke.
"Hn? Naru?", sahut Sasuke menghentikan langkahnya.
"Sasu-chan mau boneka itu?", tanya Karin yang mengira Sasuke menginginkan boneka dinosaurus berwarna hijau yang dipajang di depan toko boneka yang dilewati mereka.
Sasuke menghiraukan pertanyaan Karin, fokus untuk mendengar Naruto yang memanggilnya.
"Tunggu di sini ya! Nee-tan akan membelikan boneka itu, spesial untuk Sasu-chan!", Karin langsung berjalan cepat memasuki toko, dia tidak sabar melihat reaksi Sasuke yang begitu senang atas hadiahnya.
Lagi, Sasuke menghiraukan Karin. Dia berlari menjauhi toko boneka, berlari menuju tempat yang diarahkan Naruto.
"Moshi-moshi, ada apa Karin?",
"Itachi! Gawat! Ini gawat!", seru Karin yang memekakkan telinga Itachi.
Itachi menjauhkan ponsel dari telinganya, mengusap-usap telinganya yang berdenging.
"Gawat Itachi! Gawat!", suara Karin bahkan masih bisa di dengar dalam radius 30cm.
"Pelan-pelan, Karin", ucap Itachi.
"Sasu-chan menghilang! Aku meninggalkannya sebentar, tapi Sasu-chan sudah tidak ada di sana! Aku panik, Itachi! Aku takut Sasu-chan diculik orang!",
"Kau sudah memeriksa di area sekitar?",
"Sudah, Itachi! Sudah!",
"Tenangkan dirimu, Karin. Aku akan mencarinya",
"Maafkan aku Itachi! Aku lalai~ Uhuhuhu~",
"Hn! Jangan sedih, Karin! Nanti keriputmu bertambah", hibur Itachi.
Itachi sudah mencari Sasuke di apartement dan sekitarnya, tapi Sasuke tidak berhasil ditemukan. Bahkan rekan-rekannya belum mengabarinya juga. Hari sudah mulai gelap, dia takut Sasuke benar-benar diculik orang jahat
"Mama! Mama!",
Entah mengapa Itachi teringat dengan kata itu. Apa Sasuke pulang ke rumahnya?
Dengan segera Itachi berlari menuju rumah Sasuke yang dulu.
Itachi tiba di rumah kecil yang kumuh, tempat Sasuke tinggal dulu. Rumah itu gelap dan masih disegel dengan pita kuning polisi, tampak menyeramkan.
"Sasu tidak mungkin di dalam", gumannya.
Aura hitam pekat di sekitar membuatnya merinding.
"Ahaha! Naru!", terdengar suara Sasuke yang sedang tertawa dari dalam rumah.
"Sasu?", panggil Itachi memberanikan diri untuk masuk.
Berbekal cahaya dari layar ponsel, Itachi mulai mencari Sasuke. Terus memanggil-manggil Sasuke, tapi bocah itu menghiraukannya. Tetap tertawa, seperti sedang mengajak Itachi bermain hide and seek.
Tap tap tap
Terdengar suara langkah berlari, sekilas Itachi melihat Sasuke sedang melintasinya.
"Ahahaha! Naru! Ahahaha...",
"Sasu dimana? Papa menyerah. Ayo, keluar, Sasu~", bujuk Itachi yang meraba-raba dalam kegelapan. Entah mengapa rumah kecil ini terasa begitu luas.
"Whooo! Whooo!",
"Sasu, ayo keluar. Waktunya makan, nomnom. Papa sudah lapar, Sasu tidak lapar?", Itachi terus membujuk, dia tahu bahwa Sasuke sama sekali tidak mengerti ucapannya, tapi dia terus bersuara daripada mencari dalam kegelapan dan keheningan.
Itachi sampai di kamar mandi, tempat dia menemukan Sasuke dulu. Itachi tersenyum lega, setelah melihat sosok kecil yang bersembunyi di dalam kain putih.
"Gotcha! Papa menemukan Sasu!", Itachi langsung memeluk sosok itu dari belakang.
Sedikit heran saat memeluk sosok itu, suhu tubuh yang begitu dingin.
"GRrrrr~", terdengar suara geraman dari dalam kain putih.
Itachi merasa aneh dengan suara geraman itu, berniat membuka kain putih yang menutupi tubuh Sasuke. Tetapi, tiba-tiba sesuatu menerjang dan memeluk pinggangnya. Ponsel di tangannya terlepas seketika.
"Papa! Makan! I-ta-da-ki-ma-su!", ucap si penerjang terbata-bata mengucapkan 'itadakimasu'.
Itachi mengenali suara itu, itu adalah Sasuke.
"Sasu di sini, lalu...", pikir Itachi melirik ke sosok yang tertutupi kain putih di hadapannya, "...itu siapa?",
Mendadak bulu kuduk Itachi tegang, dengan cepat dia menggendong dan membawa lari Sasuke keluar dari rumah itu. Tidak peduli kakinya menyenggol atau menjatuhkan barang-barang sekitar.
Itachi membawa Sasuke makan di Ichiraku Ramen. Dia tahu bahwa anak itu pasti lapar.
"I-ta-da-ki-ma-su!", ucap Sasuke yang masih terbata-bata. Mulut Sasuke terbuka lebar, mengisyaratkan Itachi untuk menyuapinya.
Itachi tersenyum mendengar kata itu, kosa kata Sasuke bertambah. Dia harus berterimakasih pada rekan-rekannya yang mau mengajari Sasuke.
"Ah!", Itachi teringat sesuatu, dia lupa mengabari Karin bahwa Sasuke telah ketemu.
Dan dia baru menyadari bahwa ponselnya tertinggal di rumah itu. Kembali merinding membayangkan dirinya baru saja bersentuhan dengan hantu.
"Papa! Makan! A~", Sasuke menunjuk mulutnya yang menganga.
"Ahahaha.. Gomen, gomen", Itachi menyumpit ramen, meniup-niup uap panas agar mulut mungil Sasuke tidak kepanasan saat memakan ramen.
Setelah pulang nanti, barulah dia akan mengabari Karin. Menceritakan tentang pengalaman mistik yang baru saja dialaminya.
Di apartment.
Itachi sedang berbicara di telepon dengan Karin, sementara itu, Sasuke sibuk bermain di kamarnya yang gelap, lebih tepatnya sedang berbaring di kolong ranjang sambil melingkari diri dengan selimut yang tebal.
"Naru benci orang dewasa!",
"Naru?", Sasuke memiringkan kepalanya, tidak mengerti.
"Papa jahat. Naru benci",
"Papa?",
"Hn! Papa jahat! Dia orang dewasa yang jahat. Jauhi dia!",
"Papa jahat?",
"Jika dia menggendong Sasu, Sasu harus segera menendangnya. Jika dia menggandeng Sasu, Sasu harus menggigitnya. Dia mencoba merebut Sasu dari Naru. Semua orang dewasa itu jahat! Sasu mengerti?",
"Hn?", Sasuke semangin bingung.
"Ya. Sasu harus mengerti", Naruto menarik tubuh Sasuke agar merapat dan memeluk bocah itu, "Sasu itu milik Naru",
Sasuke tertawa geli sambil menggesek-gesekkan kepalanya di dada Naruto. Naruto membalasnya dengan mengelitiki perut Sasuke.
"Ahahaha... Geli, Naru.. Geli...",
"Sasu?", panggil Itachi sambil menekan saklar sehingga kamar menjadi terang.
Itachi terjongkok, mengintip Sasuke di kolong ranjang.
"Sasu sedang apa?", Itachi menarik selimut yang membungkus tubuh Sasuke.
"A!", teriak Sasuke enggan keluar dari kolong ranjang.
"Papa jahat. Papa jahat", Naruto terus membisikkan kalimat itu di telinga Sasuke.
Itachi tidak bisa mendengar suara Naruto. Itachi terus menarik Sasuke untuk keluar dari kolong ranjang.
"A! Aaaa!", Sasuke semakin kuat menjerit, dia marah lalu menggigit tangan kiri Itachi.
"Aw!", tangan Itachi berdarah terkena gigi-gigi Sasuke yang tajam.
"Papa jahat!", teriak Sasuke yang menyeret tubuhnya seperti ulat bulu, menjauhi Itachi.
"Sasu kenapa?", tanya Itachi terkejut dengan ucapan Sasuke. Mengapa Sasuke bisa mengatakan bahwa dirinya jahat?
"Papa jahat! Papa jahat! Papa jahat!", rapal Sasuke berkali-kali, mengikuti ucapan yang dibisikkan Naruto.
Itachi berhasil menarik paksa Sasuke untuk keluar dari kolong, memeluknya dengan erat, meskipun Sasuke meronta, berteriak dan memukul-mukul wajahnya.
"Papa jahat! Sasu ci! Ci! Ciiiii!",
"Papa sayang Sasu. Sasu anak baik. Papa sayang Sasu. Sayang Sasu. Papa sa...",
BLaaaaM
Ucapan Itachi terpotong oleh suara debaman pintu yang tertutup kuat. Tidak ada angin atau siapapun di sana, lalu apa yang membuat pintu itu menutup kuat?
"Akh!", Itachi menjerit tertahan, Sasuke menggigit bahu kanannya.
"Sasu, ini papa. Sasu kenapa?", Itachi bersikap selembut mungkin, mengusap-usap punggung Sasuke, dia tidak ingin membuat Sasuke takut, "Ini papa. Sasu tidak ingat? Ini papa. Pa-pa",
Sasuke melepaskan gigitannya, beralih memandang wajah Itachi yang tersenyum, senyuman yang sama saat Itachi menemukannya, senyuman yang begitu hangat.
"Papa?",
"Hn. Ini papa", Itachi menyeka darahnya yang menempel di sudut bibir Sasuke.
"Papa~", lirih Sasuke, kemudian dia menyandarkan kepalanya di dada Itachi, "Papa~",
"Papa di sini",
Itachi mengusap-usap punggung Sasuke hingga bocah itu tertidur pulas di pelukannya.
Itachi tidak tahu, mengapa Sasuke tiba-tiba mengasarinya?
"Apa mungkin Sasuke marah karena aku meninggalkannya?", pikir Itachi.
Tengah malamnya, Itachi terbangun karena mendengar isakan Sasuke.
"Sasu, ada apa?", tanya Itachi melihat Sasuke berdiri di samping ranjang, tempatnya berbaring.
"Sasu pol...hiks..hiks...", Sasuke terisak sambil menunjuk tempat kosong di sebelah Itachi, "Pol..Sasu pol..",
"Pol?", Itachi berusaha memahami ucapan Sasuke. Itachi baru menyadari maksud Sasuke setelah dia melihat ranjangnya basah, Sasuke mengompol.
"Ahahaha... Tidak apa-apa, sayang", Itachi memeluk Sasuke, mengecup puncak kepalanya.
"Pol.. Papa.. Sasu pol...",
"Tidak apa-apa. Papa tidak marah. Papa sayang Sasu", Itachi mengecup pipi gempal Sasuke.
Sasuke mengira Itachi sang papa itu akan memukulnya karena telah mengotori ranjang, tapi ternyata Itachi malah tersenyum dan menciumnya dengan lembut. Berbeda dengan perlakuan sang mama, wanita itu memukul dan menyeretnya ke kamar mandi, menyuruhnya untuk tidur di sana. Itulah penyebab mengapa Sasuke selalu pindah tidur di kamar mandi.
TiiiNG TooooNG
Bunyi bell membangunkan Itachi yang terlelap di ranjangnya.
"Hn? Sasu?", panggil Itachi yang tidak menemukan Sasuke di sampingnya.
Dengan cepat dia menuruni ranjang dan keluar dari kamarnya.
"Astaga, Itachi! Kau tidak mengunci pintu rumahmu!", tegur Karin.
"Ah! Hai!", sapa Itachi tertawa masam, padahal dia tidak pernah lupa mengunci pintu rumahnya. Mengapa kali ini dia bisa lupa ya?
"Kau baru bangun? Jam berapa sekarang? Dimana Sasu-chan? Apa Sasu-chan masih tidur?",
Itachi baru menyadari bahwa hari sudah siang, dia ketiduran hingga tak ingat waktu. Dan dia juga menyadari bahwa Sasuke sudah tidak ada di apartmentnya.
"Gawat!", ucap Itachi yang segera berlari keluar.
Karin tahu maksud Itachi, diapun ikut keluar mencari Sasuke. Jangan sampai Sasuke hilang lagi!
"Ahahaha!", Itachi dan Karin menghentikan langkah mereka ketika mendengar suara tawa riang Sasuke dari arah taman.
Ditelusuri jalan setapak itu dan menemukan Sasuke yang tengah berdiri berayun-ayun di ayunan. Merekapun bernafas lega.
"Papa! Nee-tan!", sapa Sasuke.
"Hai! Sasu-chan!", sapa Karin.
Itachi dan Karin memutuskan untuk duduk dan memperhatikan Sasuke yang sedang bermain ayunan dari kejauhan.
"Kau terlihat kacau", dengus Karin, tidak biasanya Itachi terlihat berantakan seperti ini. Ini sudah siang hari dan Itachi masih mengenakan piyamanya.
"Ahahaha...", Itachi meresponnya dengan tertawa masam lagi.
"Astaga! Tanganmu kenapa? Ah! Bahumu juga!", Karin baru menyadari luka gigitan di tangan kiri dan bahu kanan Itachi.
Karin menarik tangan kiri Itachi.
"Ini bekas gigitan anak-anak. Apa...", Karin langsung melirik ke arah Sasuke.
"Tidak apa-apa. Aku membuat Sasuke marah. Aku mengambil selimutnya, lalu dia marah dan menggigitku. Aku masih kesulitan untuk berkomunikasi dengannya. Aku tidak tahu, kapan dia lapar, mengantuk, ingin pipis ataupun buang air besar? Aku tidak tahu apa makanan kesukaannya, mainan yang diinginkannya? Terkadang dia mengajakku berbicara, tapi aku tidak mengerti apa yang diucapkannya? Aku hanya bisa mengira-ngira", curhat Itachi panjang lebar.
Karin mengepuk-puk puncak kepala Itachi.
"Ayo, lebih semangat Itachi! Menjadi orang tua itu tidak mudah. Tapi aku yakin kau pasti bisa menjadi papa yang baik untuk Sasu-chan!",
"Ah~ Karin~", Itachi menatap Karin dengan terharu-haru.
Mereka berdua terlarut dalam pembicaraan lainnya. Karin bilang, ada kasus penculikan dan penjualan anak yang harus mereka tangani. Itachi merasa bimbang, dia harus fokus pada pekerjaannya sebagai seorang polisi, di lain sisi dia ingin meluangkan waktu untuk Sasuke.
BRaaaaK
Terdengar suara sesuatu yang jatuh. Sasuke tiba-tiba melompat turun dari ayunan yang berayun kencang, membuat Sasuke gagal mendarat. Niat Sasuke ingin menghampiri sang papa, tapi Sasuke tidak sadar bagaimana kondisinya saat itu?
"Sasu!",
"Sasu-chan!
Teriak mereka histeris, langsung berlari melihat kondisi Sasuke yang terbaring terlungkup.
Itachi dengan hati-hati membalikkan tubuh Sasuke.
"Papa... A...", lirih Sasuke yang kesakitan menggerakkan tubuhnya.
"Astaga!", teriak Karin melihat tulang lengan kiri Sasuke menjulur keluar menembus kulit.
"Papa di sini sayang", bisik Itachi sambil menutup mata Sasuke dengan tangannya, dia tidak ingin Sasuke shock melihat luka mengerikan di lengannya itu.
Mereka segera membawa Sasuke ke rumah sakit.
Di rumah sakit.
Setelah dilakukan operasi perbaikan struktur tulang lengan kiri Sasuke. Dokter bilang, kondisi Sasuke baik-baik saja, tidak ada luka yang serius, selain patah tulang lengan kiri.
"Tidak seharusnya aku membiarkan dia bermain sendirian", sesal Itachi, duduk di samping Sasuke yang sedang terlelap. Sebuah gips membungkus lengan kirinya yang mungil.
"Sebaiknya kau mandi dan ganti pakaian. Kau tidak lihat, suster-suster tadi menertawakanmu?", Karin mencoba menghibur Itachi.
Itachi tertawa bodoh menyadari penampilannya. Dia masih mengenakan piyama.
Sesampainya di apartment, Itachi segera mandi. Dia harus bergegas kembali ke rumah sakit.
ZaaaaZ
Air hangat meluncur keluar dari shower, membasahi rambut dan tubuhnya.
Bersampo dan bersabun. Tanpa dia sadari, keran air tiba-tiba berputar ke suhu yang panas.
"Och!", teriak Itachi kepanasan pada wajah dan matanya. Tangannya meraba-raba mencari keran, tapi keran itu tidak bisa mengurangi suhu panas itu. Itachi terpaksa keluar dari bathtube. Tapi sialnya, dia terpleset dan terjatuh dengan posisi terlentang. Kepalanya dengan kuat membentur lantai. Pendengarannya berdengung, pandangannya mulai mengabur. Sebelum kesadarannya menghilang, samar-samar dia melihat siluet anak kecil yang sedang berdiri di bathtube menatapnya dingin dari atas sana. Lalu kegelapan menguasainya.
"Sasu terluka gara-gara dia! Naru benci orang-orang yang menyakiti Sasu!",
Tidak tahu berapa lama Itachi pingsan, ketika dia terbangun, lingkungan sekitar tampak gelap, karena hari sudah malam.
Dia mencoba untuk berdiri, menahan nyeri di pinggang, pantat dan kepalanya.
"Ceroboh sekali aku", gumannya.
Dengan tertatih-tatih dia membersihkan sisa sabun di tubuhnya. Sasuke pasti telah menunggunya di rumah sakit.
Dia tidak ingat, bahwa dia baru saja dicelakai oleh sosok tak terlihat.
Di rumah sakit.
"Papa!", seru Sasuke melihat Itachi yang baru saja datang.
Itachi mencoba berjalan biasa-biasa saja, tapi tidak bisa. Pinggang dan pinggulnya ngilu.
"Kau kenapa, Itachi?", Karin tahu ada yang tidak beres dengan Itachi.
"Aku terpleset di kamar mandi", bisik Itachi.
"Gah! Ceroboh sekali kau ini!",
"Ahahaha... Maaf~", Itachi tertawa garing.
"Papa! Papa! Buuumbuum!", Sasuke menunjuk mobil-mobilan yang dipegangnya, dia ingin bermain dengan Itachi.
"Teman-teman datang menjenguk. Mereka membawa baaanyak mainan dan makanan manis untuk Sasuke. Dan Sasuke sangat menyukainya"
"Ah~ aku sungguh beruntung punya kalian~", ucap Itachi.
Keesokan harinya, Sasuke sudah diizinkan pulang. Walaupun lengan Sasuke masih dibalut gips. Gips itu masih harus dipasang selama sebulan.
"Tama!", seru Sasuke ketika memasuki apartment. Bocah itu terlihat senang dalam gendongan Itachi.
"Okaeri!", sahut Itachi.
"Oriii!", Sasuke mencoba mengikuti ucapan Itachi.
"O-ka-e-ri",
"Oka...ri?",
"Oka-eri",
"Oka-eri",
"Hn! Tadaima, okaeri",
"Tama! Oka-eri!", seru Sasuke.
Itachi tersenyum geli mendengarnya, mengajari Sasuke berbicara rasanya menyenangkan.
Sasuke turun dari gendongan lalu berlari ke kamar, menghiraukan Itachi yang menyuruhnya untuk tidak berlari.
"Naru! Naru!",
"Naru?", Itachi masih belum memahami apa arti dari kata 'Naru' yang selalu diucapkan Sasuke.
Itachi meletakkan sekantong mainan Sasuke di sofa. Memijit-mijit sejenak pinggang dan pinggulnya yang masih nyeri. Lalu menyusul Sasuke ke kamarnya, Itachi memutuskan untuk bertanya.
"Naru itu apa, Sasu?",
"Naru?",
"Hn. Naru itu apa?",
"Naru apa?", Sasuke malah balik bertanya.
"Naru itu makanan? Nato?", tebak Itachi.
"Da!", geleng Sasuke.
Sasuke menarik tangan kanan Itachi, memaksa Itachi untuk menjulurkan jari kelingkingnya.
"Naru!", Sasuke mengaitkan jari kelingking kanannya ke jari kelingking Itachi yang terjulur, "Naru!",
"O, Naru itu persahabatan", Itachi senang memperoleh jawaban dari pertanyaan yang membuatnya penasaran, "Naru!"
Sasuke tersenyum lebar.
"Naru!", seru Sasuke sambil menunjuk ke belakang Itachi.
"Eh?", Itachi terbelalak, segera dia menoleh ke belakang, namun tidak ada siapapun di sana.
Sasuke masih menatap ke belakang Itachi sambil tersenyum-senyum.
"O, Sasu mengerjai papa ya. Rasakan ini! RoaaaaR~", Itachi melancarkan serangan kelitikan ke perut Sasuke.
"Ahahaha.. Papa..geli..geli...",
Di belakang Itachi, tampak Naruto memandang sendu atas keakraban Itachi dengan Sasuke.
"Sasu sudah tidak sayang Naru lagi",
Aura kemerahan menyelimuti tubuh Naruto. Aura itu membuat kaca jendela di dekatnya pecah.
PRaaaaNG!
Itachi menghentikan aksinya mengelitiki perut Sasuke. Menyuruh Sasuke untuk tidak turun dari ranjang, sementara dia memeriksa penyebab kaca jendela pecah.
Tidak ada batu atau sesuatu yang bisa membuat kaca jendela itu pecah terkena lemparan dari luar. Lalu? Apa penyebabnya?
"Mungkin memang sudah harus diganti", guman Itachi mencoba untuk berpikir realistis.
Itachi berbalik dan melihat Sasuke tengah membeku, matanya terbelalak memandangi sesuatu di samping Itachi.
"Sasu, ada apa?", Itachi mulai merinding, dia dapat merasakan hawa mencekam di sampingnya, tapi dia tidak bisa melihatnya, apa Sasuke melihatnya?
Ya, Sasuke bisa melihatnya. Naruto tercengir padanya, memerkan gigi taringnya yang panjang, 3 pasang kumis kucing di pipinya terlihat jelas, bola mata biru itu telah beubah menjadi merah darah, aura kehangatan dulu juga berubah menjadi aura kemarahan. Wajah Naruto berubah menjadi monster yang menakutkan.
"Na...ru...",
"Sasu jahat!", Naruto mulai mengarahkan cakarnya yang tajam ke arah Itachi.
"DA! NARU! DA!", teriak Sasuke sekuat mungkin.
Itachi berlari memeluk Sasuke yang terus berteriak.
"Da! Da!",
"Hn! Papa di sini, sayang. Papa di sini, jangan takut",
Sasuke menarik kemeja Itachi dengan erat, dia tidak ingin Naruto melukai papanya.
"Naru..da..da..", isak Sasuke ketakutan, tubuhnya dingin dan bergetar, "Papa..Sasu..",
"Hn, papa di sini, Sasu",
Sejak kejadian itu, Sasuke selalu menempel di dekat Itachi. Kemanapun Itachi pergi, dia selalu ikut. Saat tidak menemukan Itachi, dia akan menjerit dan menangis sekuat mungkin hingga sang papa kembali. Dia bahkan menghiraukan panggilan Naruto yang terus memanggil-manggil namanya.
"Sasu, papa senang jika Sasu dekat dengan papa, tapi papa tidak bisa membiarkan Sasu terus bergantung pada papa, karena masih ada banyak orang yang mau berteman dengan Sasu. Sasu harus tumbuh menjadi anak yang mandiri. Bagaimana jika papa tidak ada lagi? Apa Sasu...", nasihat Itachi pada Sasuke terpotong karena seseorang memukul kepalanya.
"Jangan membuat Sasu-chan keheranan!", ketus Karin, sang pelaku.
Karin tersenyum dan memberikan setangkai lollipop pada Sasuke.
"Nee-tan! Ari...to?", Sasuke mencoba mengingat kata yang tepat.
"Arigatou", ucap Karin membenarkan.
"Arigatou! Nee-tan, arigatou!",
Karin mengusap-usap puncak kepala Sasuke, tersenyum geli melihat Sasuke dengan semangat menjilati lollipopnya.
"Untukku tidak ada?", cibir Itachi memcoba terlihat imut di hadapan Karin.
Karin mengeluarkan sebuah ponsel dari saku roknya. Ponsel itu milik Itachi.
"Arigatou, nee-tan!", Itachi meniru gaya bicara Sasuke.
Sekali lagi, Karin menghadiahi kepala Itachi dengan sebuah pukulan.
"Tidak kusangka kau mau mengambilkannya untukku", Itachi mengecek email dan panggilan masuk di ponselnya.
"Aku tahu kau sangat sibuk, jadi aku hanya membantu sedikit",
Dia tidak sibuk, hanya saja dia terlalu fokus pada Sasuke sehingga dia mudah mengabaikan tugas utamanya. Beruntung dia punya partner seperti Karin.
"Kau sudah banyak membantuku",
"Tentu! Traktir aku minum!",
"Arigatou, nee-tan!",
"Whatever!", rolling eyes.
"Ah!", Itachi teringat sesuatu, "Kau tidak merasakan hal mistik di rumah itu?",
"Tidak ada",
"O, begitu...",
"Hanya saja, Sasori dan Dei-chan pernah mencoba menghubungi ponselmu, mereka tidak tahu bahwa ponselmu tertinggal di rumah itul,
"Lalu?",
"Panggilan terjawab, mereka mendengar suara geraman. Dei-chan takut lalu mematikan ponselnya. Kalau Sasori, dia memarahimu agar berhenti bercanda, dia tidak takut dengan lelucon itu. Saat aku menjelaskan semuanya, barulah mereka tahu bahwa bukan kau yang mengerjai mereka",
Itachi mendadak merinding.
"Ada sesuatu di rumah itu",
"Hn. Mungkin saja itu arwah...", Karin melirik ke arah Sasuke yang sibik menjilati lolliponya, Sasuke berhenti menjilat ketika Karin dan Itachi menatapnya.
"Hn?", Sasuke memiringkan kepalanya.
"Jangan biarkan Sasu-chan main ke sana lagi", pesan Karin.
"Doremipapupupu buuh~", Sasuke meniup busa sabun yang memenuhi bathtube. Sebuah plastik melindungi gips di lengan kirinya agar tidak basah terkena air.
Dari dapur, Itachi tersenyum geli mendengar senandung Sasuke. Itachi sedang membuat makan malam. Sambil menungguh air mendidih, dia memikirkan tentang masa depan Sasuke.
Jika Sasuke sudah bisa beradaptasi, Itachi berencana untuk menyekolahkannya. Di sekolah, Sasuke pasti bisa berteman dengan anak-anak seumurannya. Dan telebih lagi, Sasuke pasti pintar berbicara, Itachi sudah tidak sabar mendengar celotehan Sasuke.
BLaaaaM
Tiba-tiba pintu kamar mandi tertutup dengan kuat. Membuat Itachi tersentak dari imajinasinya.
"Sasu?",
"PAPA!",
Terputus
Ak gak ngambil 100% cerita dari film horror itu, hanya mengambil 25% saja. Jadi mungkin gak ada yang bisa menebaknya. Tapi semoga ending nanti ada yang bisa menebaknya.
Salam kecup basah ( ˆ ³ˆ)
