Author's Note: Kegilaan agen kita berlanjut. Silakan menikmati wine dan kegilaan bersama mereka! Enjoy!
Genre: Detective/Action/Roman/Humor
Disclaimer: Death Note is not ours, obviously.
Timeline: Mello dan Matt berusia sekitar 20 tahun. AU.
Dragon Rhapsody and Claire Lawliet, proudly, present: the wildest and most romantic detective story, ever!
From Paris, with Wildness
Chapter One: Paris and the Peaceful Night
Malam adalah sebuah ruang tunggu yang tersembunyi. Ia dapat dipercaya dan menyenangkan. Manusia selalu memeluknya saat mereka ingin berjumpa dengan kedamaian.
Dua agen kita berjalan di tengah gemerlapnya kota Paris pada malam hari. Mereka menikmat suara-suara yang bertebaran di sekitar mereka. Paris adalah kota yang tidak pernah tidur. Bar, bar dan bar. mereka bisa mendengar kebisingan di mana-mana. Pesta pora dan kemabukan adalah icon malam hari di Paris. Gairah dan cinta katanya. For God's sake!
"Bagus sekali, Paris... tadi itu fantastis..." London berkata.
"Jangan mengalihkan perhatian, rekan... mana janjimu? Lagipula kau hutang satu nyawa padaku..." Paris menyeringai.
London memutar bola matanya.
"Lihat tempat itu?" London mengarahkan pandangannya ke sebuah restoran di depan mereka.
Beauborg.
"Aaah... aku lapar..." Paris bergumam.
Bersikap dengan sangat santai, mereka berjalan memasuki tempat tersebut. Beberapa pasang mata memandang London dan Paris saat mereka memasuki tempat itu.
London memilih tempat paling sepi di sudut ruangan agar mereka bisa leluasa bercakap-cakap. Ia menghela napas dan duduk di kursi sebelum seorang pelayan datang untuk mengambil pesanan mereka.
"Moo Goo Gai Pan dan kopi." London berkata.
"Spring rolls dan teh." kata Paris.
Sang pelayan, seorang gadis belia yang manis, tersenyum. Ia mengulangi pesanan mereka.
"Kami ada pudding gratis untuk pasangan muda." peyalan itu berkata sambil menatap Paris.
"P-pasangan?" London menatap Paris jijik. "Dengan dia?"
"Well, yeah. Maafkan pacarku, dia memang terlalu emosional." Paris tertawa dan menatap sang pelayan wanita tersebut, oh ya, tatapan yang menggoda, tentunya.
London memelototi sang gadis tajam.
"Saya hanya bergurau..." katanya sambil merona.
"Bisakah anda segera pergi dan mengantarkan pesananku? Aku sudah hampir mati kelaparan sekarang." kata London kasar.
Untuk beberapa saat, gadis itu terlihat gelagapan. Ekspresinya antara malu bercampur kesal. Ia melirik Paris dan tersenyum padanya sebelum kemudian pergi ke dalam.
Paris tertawa kecil.
"Barusan kau hampir saja membunuhnya, London... tatapan mata dan kata-katamu benar-benar setajam pisau. Aku saja hampir tidak tahan berdekatan denganmu..."
Paris mendekat ke arah London dan berbisik, "Kau sangat berbahaya..."
London mengernyit kesal.
"Ya, kau benar, aku sangat berbahaya dan jika kau tidak menghentikan omong kosongmu sekarang, kau akan mati mengenaskan."
Paris tertawa.
"Well, nikmati makan malam kita, teman..."
London mendesah.
"Rupanya keberadaan kita sudah tercium... mulai sekarang kita harus lebih waspada."
"Kau bisa mengandalkanku, rekan..."
"Arah jam delapan..." London berbisik seraya menyusun peralatan makan di mejanya.
Paris menoleh ke arah yang ditunjuk London.
"George McCail... sahabat dekat Duke Campbell..."
"Dia pasti tidak hanya sekedar makan malam..." kata Paris.
"Pastinya sang Duke telah mengetahui bahwa akan ada intel yang menyusup ke dalam bisnisnya..."
"Intel yang keren..." Paris nyengir.
London menatap Paris sambil menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya waktu bermain kita sudah habis... besok kita mulai mengawasi mereka..."
"Siapa 'mereka' yang kau maksudkan, rekan?"
"Ibumu, ayahmu dan anjing di rumahmu..." London berkata pedas.
"Woo hoo... mulai besok aku akan menatapi si cantik Amane kan?" Paris tersenyum menggoda.
"Ya, tolong awasi dia dengan baik, rekan... dia punya banyak 'anjing galak'..."
"Well, kalau bisa aku akan menjadi kekasihnya..."
"Apa?" London setengah berteriak.
Seluruh mata memandang sudut tempat mereka duduk. Paris mendesis kecil.
"Suaramu terlalu besar, partner..."
London tidak mengindahkan sekitarnya dan tiba-tiba tampak bergairah.
"Itu adalah perkataan paling cerdas dari mulutmu sepanjang hari ini..."
Paris tampak kebingungan.
"Dengar, partner... seperti kubilang, Amane dijaga oleh banyak 'anjing galak'... kau tidak bisa begitu saja mendekatinya dan menginterogasinya... kita butuh strategi..."
"Dan...?"
"Kaulah yang harus memerankannya, partner..." London berkata.
"Aku...? Apa...?"
"Amane akan berkujung ke pemakaman ibunya besok... jika kau cerdas, kau harus bisa menjadi seseorang yang paling diperhatikannya."
Paris menatap London tidak percaya.
"Bukankah kau menyukainya? Lagipula talentanya sudah ada padamu... so, please go on, man..."
Paris tertawa tergelak-gelak.
"Oh God... you're genius!"
London tersenyum. Ia yakin bahwa rekannya pasti bisa melakukan perannya dengan baik. Namun, anehnya ada yang lain dari ekspresi senangnya. Kecewa? Kekuatiran? Akan apa? Kita lihat saja nanti.
"Kau bisa mengandalkanku, partner... kau tahu kan kemampuanku..."
"Aku paling tahu..."
Paris tertawa tanpa suara. Membuat London ingin sekali menghantam wajahnya.
"Baik, cukup tertawanya... detilnya kita bicarakan di hotel..."
"Copy, captain!"
Ada yang ganjil di antara Paris dan London. Jika kalian bertanya apa itu, tentu saja identitas gender mereka.
Mereka kembali ke hotel tempat mereka check in tadi siang. Tanpa ada sebuah perundingan tentang apakah mereka akan tidur satu kamar atau tidak.
Yang pasti salah satu bisa tidur di lantai.
Ini adalah bisnis. Profesional. Semaksimal mungkin, kecurigaan harus ditekan.
Begitupun antara sang agen. Ada kode etik tersendiri di dalam organisasi mereka. Mereka tidak pernah memberitahukan nama asli masing-masing. Begitu juga sebuah gender, menggelikan memang jika tidak bisa meyakini apakah partner kita itu seorang wanita atau laki-laki. Namun, Paris mempunyai caranya tersendiri dalam mengetahui gender rekannya. Dan pastinya itu adalah cara yang sangat 'menggelikan'.
Mereka tiba di hotel pukul delapan malam.
"Namamu, Matt, kau adalah mahasiswa Harvard yang sedang cuti dan berlibur ke Paris selama satu minggu... kau bekerja pada sebuah majalah... wartawan paruh waktu... tugasmu, meliput si fuckin princess itu selama ia mengunjungi makam ibunya. Tentunya akan ada beberapa media selain dirimu... tapi aku yakin, kau bisa diandalkan..."
"Babe, aku yang terseksi..."
"Kemudian..." lanjut London tidak menghiraukan gurauan Paris, "Aku Mello... bekerja pada perusahaan yang sama denganmu... hanya saja aku kameraman. Dan aku senior." London menekankan kata terakhir.
"Copy, Captain..." kata Paris dengan tampang lelah.
Londong mengeluarkan sejumlah barang dari dalam tasnya. Dua buah laptop, beberapa modem, sebuah tablet PC, GPS touchscreen, beberapa penyadap, telepon seluler, covert spy camera dan beberapa antena kecil.
"Nah, bantu aku, junior..." London menyeringai.
London mengaktifkan dua buah laptop dan memasang modemnya. Memasang monitor GPS dan mengaktifkannya. Dia kemudian mengeset antena pemancar di dekat jendela.
Paris memasang sebuah teropong di dekat jendela yang lain. Kemudian ia segera mengutak-atik kedua laptop.
"Kita sudah minta ijin kedutaan?" tanya Paris
"Negatif. Jangan bercanda. Kita tidak ada hubungannya dengan kedutaan."
"Aku sedang menerobos Louvre, babe..."
"Bagus... jadi?"
"Hm... benar katamu, Monet, Lady with a Parasol part 7... wanita yang anggun..." kata Paris seraya menatap lukisan klasik itu dengan mata berbinar.
"Jangan jatuh cinta padanya, rekan..." London tertawa.
"Waw..."
"Apa?" London menoleh ke arah Paris.
"Tawa keduamu setelah yang tadi siang..." kata Paris jail.
London merasakan wajahnya memerah. Ia segera memalingkan wajah dan meneruskan pekerjaannya memasang pemancar.
Setelah selesai, London mendekati Paris dan duduk di sampingnya.
"Kurasa lukisan ini yang akan jadi target Amane." kata Paris.
"Ambil ini..." London menyerahkan satu telepon seluler pada Paris. "Jangan gunakan seluler kita yang sebenarnya. Oh ya dan ini ID cardmu... Matt..."
"Aye, aye Captain..."
"Aku ingin kau memasang ini pada Amane." London menunjuk empat buah penyadap mini.
"Kita masuk ke jaringan, partner..." Paris menyeringai sambil menekan keyboard pada laptopnya.
Selama dua jam mereka membicarakan rencana dan strategi dalam memata-matai target mereka besok. Sekaligus merencanakan memasang sejumlah penyadap di tempat Amane.
"Awasi terus pemancar kita... aku ingin agar besok kita mendapatkan hasil yang besar..." London mengakhiri 'briefing'.
Paris meregangkan diri seraya menguap. "Segalanya akan lancar besok, teman... jangan kuatir..."
"Ya, ya, sebenarnya kekuatiran terbesarku adalah kau..." London mendesah.
"Terima kasih pujiannya." Paris menyeringai.
"Fine! So, who wants to take a shower first?" London bertanya seraya menghempaskan berkas ke atas meja.
"Well, lady first..." Paris tersenyum.
London memberikan Paris sebuah tatapan 'kau mau mati ya?" dan bangkit berdiri.
"Jangan macam-macam selama aku tidak ada..." katanya berjalan menuju kamar mandi.
Paris hanya tertawa tanpa suara.
Paris bergerak-gerak gelisah dalam duduknya. Setiap beberapa detik sekali matanya melayang ke arah pintu kamar mandi di balik dinding. Ada yang bergumul di dalam pikirannya. Oh, please... jangan paksa saya untuk mengatakan apa yang sedang ada di dalam pikirannya.
Ya, ia tengah merencanakan sebuah pengintaian pribadi. Bukan terhadap target mereka, Amane, tapi kepada seseorang yang berjarak cukup dekat dengannya sekarang.
Tiba-tiba senyum jail menghiasi wajahnya.
Paris bangkit dari tempatnya dan berjalan mendekati kamar mandi.
"Oh ayolah... aku butuh hiburan disini... mereka tidak menyediakannya untukku, maka aku bisa mencarinya sendiri..." katanya dengan senyuman yang semakin ganjil.
Kemudian tiba-tiba Paris sudah seperti seorang pencuri. Ia mengendap-endap di balik pintu kamar mandi dengan wajah yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata.
Tak lama ia sudah berada tepat di depan pintu kamar mandi.
Terdengar suara samar air yang mengalir lembut dari dalam sana. Kamar mandi di hotel itu adalah sebuah ruangan ganda. Jika kau membuka pintu pertama, kau akan masuk ke toilet, setelah itu, ada sebuah pintu kedua, pintu kaca, yang memisahkan toilet dan bathtub.
Paris tersenyum geli di depan pintu kamar mandi.
"Sedikit pembuktian, tidak masalah, kan? Lagipula aku ingin sedikit refreshing..."
Paris menyentuh handel pintu dan membukanya perlahan. Ia melangkah masuk ke toilet. Tempat itu kosong. Di depannya ada sebuah ruang berdinding kaca. Kaca itu tentunya blur dan kita tidak dapat melihat apa yang ada di dalamnya.
Namun, Paris dapat melihat sebuah siluet. Tubuh yang ramping, dan lengan-lengan yang jenjang. Tubuh itu tengah terdiam di bawah pancuran shower yang mengalirinya.
Paris merasakan adrenalinnya memacu.
Tanpa disadarinya, jemarinya menyentuh ceruk di kaca tersebut dan menggesernya perlahan-lahan.
Yang dilihat Paris pertama kali adalah sebuah tubuh. Tubuh telanjang yang ramping, mulus dan jenjang. Membelakanginya. Dibalut kabut dari air hangat yang bertebaran di sekitarnya.
Paris menyeringai.
"Damn... lebih dari dugaanku... she's so damn hawt!"
Paris menatap intens tubuh di depannya itu dengan tatapan rakus.
Oh my...
Rambut pirangnya melekat eksotis di bahu jenjangnya, di selimuti oleh air yang menyapunya.
"For God's sake... aku tidak pernah salah... dia wanita kan...?"
Kemudian di tengah pemantauannya itu, si target yang sedari tadi terdiam membelakanginya, tiba-tiba bergerak.
Paris tersentak.
Tubuh itu bergerak menyamping. Bahasa tubuhnya seperti mengisyaratkan sebuah kebingungan.
'Sepertinya ada yang aneh...' gumamnya dalam hati.
'Hn?'
Tak lama ia pun menoleh ke belakang...
Dengan gerakan yang sedikit dramatis.
Maka, mari kita mulai slow motionnya...
Paris tersentak kaget. Namun, ia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Si target menoleh dan menatap Paris. Ekspresi awalnya datar. Sangat datar.
Sedangkan Paris lebih mirip seperti orang bodoh, tengah melongo sambil menatap wajah si target, sekaligus syok karena kemudian tatapannya tertuju pada 'sesuatu' di bawah tubuh si target...
Sesaat yang terasa seperti seabad... Paris bergumam pelan...
"Oh crap... i am a dead man... why do you betray me, God?" bisiknya penuh kengerian.
Paris tengah berada di ambang pintu kaca... berdiri sedikit membungkuk seperti orang tolol... memelototi sang 'target' dengan tatapan horor...
Sedangkan sang target perlahan-lahan merubah eksresinya perlahan-lahan... dan sekejap saja ekspresinya tidak lagi bisa dikenali berdasarkan wajah manusia normal... kini ekspresinya sudah tidak bisa dibedakan dari ekspresi binatang yang paling buas yang tengah bersiap-siap menerkam mangsanya...
Matanya melebar... semakin lebar.. lebar...
"God... please save me..." bisik Paris. Wajahnya pucat pasi.
...
Dan, kemudian, setelah keheningan yang memekakkan telinga mengalir... terdengarlah serentetan bunyi gemuruh yang sangat bising dari kamar nomor 402 di Badford Hotel.
Jika kita mengidentifikasikannya, bunyi itu mirip seperti bunyi senjata sekelas revolver yang ditembakan secara beruntun bercampur dengan seruan-seruan yang sangat kencang dan pastinya seruan-seruan tersebut tidak masuk dalam kategori bahasa yang terhormat dalam tata bahasa percakapan manusia.
Yup, London melebarkan matanya saat memandang dengan tatapan horor si pengutitnya... kemudian meraih revolver entah dari mana dan menekan pelatuknya berkali-kali sambil meneriaki si asshole yang langsung kabur seribu langkah dari terjangan peluru-peluru yang berloncatan liar.
Sedangkan mengenai apa yang diucapkan London, sebaiknya saya tidak usah menuliskannya disini. Karena kata-kata itu sangatlah tidak baik untuk dibaca atau didengar oleh orang-orang awam seperti kita.
Maka, begitulah, malam yang damai berlalu dengan diam-diam. Tersenyum geli menatap tingkah laku agen-agen kita itu.
Well, kalau begitu, bonne nuit, tout le monde.
To Be Continued
Author's Note: :LOL: well, chapter dua kami sudahi dulu sampai disini. Nah, sekarang selagi menunggu malam lewat, silakan memberikan kesan-kesan terhadap chapter dua ini.
Well, good night, everybody. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
Thanx for read and review. ^.^
