Matchmaking

Main Cast : Kim Taehyung dan Jeon Jungkook

Chapter 2

.

.

.

Happy Reading

.

.

.

Acara makan malam dan sekaligus mempertemukan Jungkook dengan Taehyung telah selesai sepuluh menit yang lalu, kemudian mereka semua berpindah tempat ke ruang keluarga milik keluarga Kim untuk membicarakan kelanjutan dari perjodohan anak anak mereka.

"jadi kapan pernikahan putraku dengan putrimu di laksanakan?", tanya chanyeol tanpa basa basi.

"jungkook belum menyelesaikan pendidikannya, apa tidak sebaiknya kita menunggu sampai jungkook menyelesaikan pendidikannya?".

"Memangnya jungkook masih belum menyelesaikan sekolahnya?", kali ini taehyung menyela obrolan ayahnya dengan ayah 'calon istri' nya. "appa.. kau ingin menjodohkan aku dengan anak dibawah umur?", pertanyaan taehyung membuat hampir semua yang berada di ruangan tersebut tertawa bahkan jungkook pun ikut tertawa mendengarnya.

"kenapa tertawa?", taehyung bingung namun juga kesal karena merasa tersinggung di tertawakan oleh orang banyak.

"jungkook sudah menjadi mahasiswi tae, bukan siswi sekolah menengah atas ataupun menengah pertama", jawab chanyeol yang sudah bisa mengontrol tawanya.

"putriku hanya tinggal menyelesaikan tugas akhirnya saja, tetapi semua ku serahkan padanya karena bagaimanapun ia yang akan menjalankan pernikahan ini", namjoon menyerahkan semuanya pada jungkook walaupun sebenarnya ia ingin jungkook setidaknya menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu.

semua mata kemudian terarah pada jungkook, jungkook yang di tatap seperti itu jadi merasa gugup tanpa ia sadari ia meremat jari jarinya sampai memerah. taehyung yang menyadari itu kemudian menggenggam tangan jungkook agar ia merasa lebih baik. jungkook yang tangannya di genggam oleh taehyung menolehkan wajahnya ke arah taehyung ia bisa melihat pergerakan bibir taehyung yang mengucapkan 'jangan paksakan dirimu' kemudian hanya dibalas anggukan dan senyum oleh jungkook.

"aku terserah taehyung oppa saja, aku akan mengikuti semua keputusan yang dirinya ambil".

Sungguh jawaban jungkook membuat taehyung benar benar terkejut, ia sebenarnya masih berharap jungkook menolak perjodohan ini karena ia tidak mau membuat masa depan jungkook sulit karena harus menikah dengan dirinya.

atau setidaknya jungkook memilih untuk menikah dengannya setelah pendidikannya selesai setidaknya ada jeda waktu bagi jungkook untuk memikirkan kembali tentang perjodohan ini.

"bagaimana nak? jungkook menyerahkan semuanya padamu", baekhyun bertanya pada taehyung.

"Setidaknya biarkan jungkook menyelesaikan pendidikannya dulu appa, aku tidak ingin tugas akhirnya terganggu karena ia juga harus repot mengurusi diriku", taehyung memberikan jawabannya dan itu membuat jungkook merasa kalau taehyung mulai merendahkan dirinya sendiri lagi.

"bagaimana kookie kau setuju?", kali ini baekhyun bertanya kepada jungkook.

"jangan melamun nak, kami semua menunggu jawabanmu", jin yang sedari tadi hanya menyimak akhirnya ikut bicara juga.

"sebenarnya aku tidak setuju dengan taehyung oppa, aku sama sekali tidak merasa akan di repotkan apabila mengurus dirinya juga selagi aku menyelesaikan tugas akhirku".

Jungkook menatap mata ibunya, seakan mengerti dengan tatapan anaknya jin menganggukan kepalanya dan tersenyum ke arah putrinya kemudian ia menolehkan kepalanya ke arah namjoon dan dengan hati hati menggenggam tangan namjoon dengan erat.

"aku pikir akan lebih baik jika pernikahan aku dengan taehyung oppa dilaksanakan secepatnya. karena bukankah rencana baik harus segera di laksanakan". jungkook hanya tidak ingin taehyung terus terusan merendahkan dirinya sendiri, ia ingin taehyung merasa jika masih ada yang menghargai dirinya termasuk jungkook.

"maaf sebelumnya aku lancang memotong pembicaraan ini. aku setuju dengan adikku, untuk apa menunggu setelah jungkook lulus bukankah sama saja jika pada akhirnya mereka juga akan menikah". pernyataan hoseok di amini oleh jimin. awalnya memang hoseok dan jimin agak tidak setuju apabila jungkook menikah dengan taehyung hanya saja sebagai kakak mereka menghargai keputusan adiknya dan juga mereka percaya apapun yang adiknya ini lakukan semua sudah di perkirakan oleh jungkook.

"bagaimana namjoon-ah? apa sebaiknya pernikahan mereka kita laksanakan secepatnya saja?"

namjoon bingung sekali ia tidak menyangka jika putrinya akan memiliki pemikiran seperti itu, kemudian ia menolehkan pandangannya untuk jin dan hanya senyuman dan anggukan yang diberikan jin. itu tandanya jin setuju dengan ucapan jungkook. kalau istrinya juga sudah setuju maka ia pun setuju.

taehyung pun pasrah dengan perjodohan ini, entah ia harus bagaimana apakah harus senang karena akhirnya ada gadis yang tidak menolaknya tetapi di sisi lain ia tidak ingin membuat gadis sebaik jungkook kesulitan karena dirinya.

"baiklah aku setuju jika pernikahan ini di laksanakan secepatnya".

"hanya tinggal menetapkan tanggalnya saja kalau begitu"

"bagaimana kalau tanggal pernikahan mereka kita samakan saja dengan tanggal kelahiran jungkook? ya sekitar sebulan lagi".

"aku setuju denganmu eonni, untuk urusan gaun, undangan, dan gedung bisa kita urus bersama". baekhyun setuju dengan ide yang di ajukan oleh Jin, waktu sebulan cukup menurut baekhyun karena ia memiliki banyak kenalan dalam bidang pernikahan.

"Kalian apakah setuju?", Jin bertanya pada jungkook dan taehyung. keduanya kompak menjawab dengan anggukan.

"baiklah kalau begitu, mulai besok kita mulai mengurus semuanya. aku harap semua berjalan lancar". chanyeol kemudian tersenyum sangat lebar dan itu menular ke semua yang berada di ruangan bahkan taehyung pun ikut tersenyum melihat appanya yang sangat bahagia.

Jungkook berjanji pada dirinya sendiri malam ini untuk menjadi seseorang yang akan selalu berada di sisi taehyung dan selalu mendukung taehyung.

.

.

.

Setelah acara makan malam di kediaman keluarga Kim tempo hari, jungkook menjadi lebih dekat dengan baekhyun. sesekali baekhyun menelepon jungkook hanya untuk menanyakan kabar dan sudah makan atau belum.

seperti siang tadi baekhyun menghubungi jungkook namun berbeda seperti biasanya, kali ini ia meminta jungkook untuk menemani taehyung menjalani terapinya. tentu saja jungkook mengiyakan permintaan baekhyun karena memang jungkook juga ingin agar taehyung cepat dapat berjalan kembali.

setelah bertemu dengan dosen pembimbingnya, jungkook dengan cepat memberhentikan taksi di depan kampusnya dan segera menuju rumah keluarga kim. di jalan ia juga mengirimi baekhyun pesan jika dirinya sudah di jalan menuju rumah keluarga kim.

jungkook juga memberi kabar kepada eommanya jika hari ini ia pulang sedikit terlambat karena menemani taehyung terapi tentu saja eommanya memaklumi kalau sekarang putrinya memiliki rutinitas baru.

sesampainya kediaman keluarga kim, jungkook langsung saja menekan bel rumah meskipun ia sudah diberi tahu kode rumahnya namun ia merasa masih canggung apabila ia langsung saja masuk ke rumah orang lain.

pintu segera dibuka dan munculah sosok wanita mungil dan cantik kemudian memeluk jungkook dengan erat

"hai sayang kau sudah datang, bukankah eomma sudah memberikan password rumah kenapa tidak langsung masuk saja?"

"tidak eomma, aku merasa tidak sopan kalau harus langsung masuk"

baekhyun gemas dengan kelakuan jungkoook, kemudian keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.

"kau langsung ke kamar taehyung saja nak, sepertinya dia sedang bersiap". jungkook mengangguk mengerti, kemudian ia segera berdiri dan hendak ke kamar taehyung. baru beberapa langkah baekhyun sudah memanggilnya lagi kali ini calon ibu mertuanya membawa beberapa macam bentuk undangana pernikahan

"kau pilih lah kartu undangan kalian, eomma sudah membawa contohnya banyak sekali". baekhyun menyerahkan contoh undangan pernikahan pada jungkook kemudian jungkook mengambilnya dan mengatakan kalau ia akan memilihnya bersama taehyung.

Jungkook pergi ke kamar taehyung yang berada di lantai 1 semenjak mengalami kecelakaan memang orang tuanya memindahkan kamar taehyung yang sebelumnya dilantai 2 menjadi di lantai 1. jungkook hafal letak kamar taehyung karena saat makan malam tempo hari baekhyun menyuruh jungkook untuk mengantarkan taehyung ke kamarnya sebelum jungkook pulang.

Jungkook mengetuk pintu kamar taehyung

"masuklah eomma aku sedang bersiap". taehyung mengira bahwa yang mengetuk pintunya adalah baekhyun.

saat pintu di buka dan ternyata jungkook lah yang berada di balik pintu kamarnya, tentu saja taehyung terkejut. "loh kau kemari?", tanya taehyung yang mencoba menghilangkan rasa terkejutnya.

"iya, baekhyun eomma menghubungiku tadi dan memintaku untuk menemanimu terapi karena beliau tidak bisa", jelas jungkook kemudian menghampiri kursi roda taehyung. "apa kau sudah siap oppa?".

"ck, kau mau saja ditipu oleh eomma. dia pasti sengaja agar kau yang mengantarku dan bukan dirinya. selalu saja membuat orang lain repot". taehyung sedikit menggerutu dan menurut jungkook itu lucu.

"aku tidak merasa repot sama sekali sungguh".

"aku sudah siap, ayo berangkat". taehyung baru saja akan menggerakan kursi rodanya namun jungkook menghentikannya dengan cepat.

"Ish .. kau ini sebenarnya umur berapa sih? menggunakan kemeja saja berantakan begini, coba lihat kau salah memasukan kancing kemejamu", jungkook berjongkok di hadapan taehyung kemudian melepaskan kancing kemeja milik taehyung, membuat taehyung menahan nafasnya karena perlakuan jungkook.

Taehyung masih memperhatikan wajah jungkook yang berada dekat dengan wajahnya 'cantik' satu kata yang dapat di jabarkan oleh taehyung.

"Nah begini sudah benar", taehyung kemudian menjadi salah tingkah sendiri sedangkan jungkook tidak sadar kalau taehyung sempat terkesima karena kecantikannya.

Jungkook kemudian berdiri dan segera mendorong kursi roda milik taehyung, tanpa mereka sadari sedari tadi baekhyun melihat adegan mesra di antara putra dan calon menantunya. membuat baekhyun menjadi heboh sendiri, tidak lupa ia mengabadikan moment berharga antara taehyung dan jungkook kemudian dengan cepat baekhyun pergi meninggalkan kamar taehyung.

.

.

.

Taehyung dan Jungkook bertemu dengan baekhyun di ruang keluarga, baekhyun sedang asik mengirimkan foto foto yang tadi berhasil ia dapatkan pada Jin.

"eomma, kau benar benar tidak mengantarku?"

"eomma sibuk, lagi pula kan sudah ada jungkook. eomma tidak ingin mengganggu kalian"

"sibuk apa?"

"membicarakan kalian dengan eommanya jungkook". kemudian baekhyun memperlihatkan foto yang tadi sempat ia ambil.

"eomma kau benar benar menyebalkan sungguh". taehyung menyerah dengan tingkah laku eommanya, sedangkan jungkook hanya bisa menahan tawa melihat interaksi antara taehyung dan baekhyun.

"sudah sana berangkat, ingat kau harus menjaga calon menantuku". baekhyun mengibaskan tangannya ke arah taehyung seperti sedang mengusir.

"terserah eomma saja lah, ayo kook kita berangkat". jungkook menganggukan kepalanya kemudian mendorong kursi roda milik taehyung.

Diluar supir pribadi taehyung sudah menunggu "kau masuklah duluan, ada supir yang akan membantuku". kemudian jungkook menganggukan kepalanya dan masuk melalui pintu sebelah.

Jungkook membantu taehyung menyamankan dirinya didalam mobil kemudian dirasa sudah cukup membuat taehyung nyaman jungkook menjauhkan dirinya dari taehyung dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil.

Di perjalanan tak ada yang bersuara, keduanya fokus pada pikiran masing masing bahkan jungkook sampai mengantuk karena terlalu sunyi didalam mobil.

"kau mengantuk?". taehyung menyadari jika jungkook mengantuk karena beberapa kali ia melihat jungkook menguap.

Dan jungkook hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.

"tidurlah kalau mengantuk, nanti aku bangunkan jika sudah sampai"

Dan lagi lagi taehyung di buat terkejut karena jungkook yang tiba tiba menggeser duduknya kemudian menyandarkan kepalanya di pundak taehyung tidak lupa tangannya memeluk lengan taehyung seperti jungkook sedang memeluk guling.

Taehyung mencoba menarik lengannya tetapi jungkook semakin erat memeluk lengannya bahkan jungkook lebih melesakkan kepalanya pada pundak taehyung.

Taehyung tersenyum karena ulah jungkook, ia tahu kalau jungkook belum sepenuhnya tertidur. sesekali bahkan taehyung mengelus kepala jungkook memberikan rasa nyaman untuknya. dan jungkook jatuh tertidur dengan pulasnya di pundak taehyung.

Taehyung bersyukur di pertemukan dengan gadis sebaik jungkook, dan ia berjanji untuk segera bisa berjalan kembali agar bisa menjaga dan membahagiakan jungkook seperti janjinya di malam perkenalan mereka.

.

.

.

Jungkook terbangun ketika merasakan mobil berhenti "apa sudah sampai?", jungkook kemudian menjauhkan kepalanya dari pundak taehyung.

"sudah, kau tidur pulas sekali". taehyung mengacak rambut jungkook pelan.

"hehehe aku mengantuk oppa. sebelum menemuimu aku ke kampus terlebih dahulu untuk mencari bahan tugas akhirku". jelas jungkook kemudian merapihkan rambutnya.

"seharusnya tadi kau menolak saat eomma memintamu menemaniku. lagipula aku bisa sendiri"

Jungkook menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan jungkook "aniyo, aku senang bisa menemanimu". kemudian jungkook memberikan senyum manisnya untuk taehyung, membuat taehyung salah tingkah.

"pak lee, bantu aku untuk turun". taehyung mencoba mengalihkan pembicaraan, dan itu membuat jungkook tersenyum karena gemas dengan tingkah taehyung.

pak lee kemudian dengan sigap membantu taehyung untuk turun sedangkan jungkook ia keluar dari pintu yang lain dan mengambil kursi roda taehyung yang berada di bagian belakang mobil.

kemudian jungkook mendorong kursi roda milik taehyung menuju ruangan khusus untuk terapi, sebelumnya baekhyun sudah membuatkan janji untuk anaknya.

"apa disini oppa?", tanya jungkook karena ini baru pertama kalinya ia menemani taehyung terapi. taehyung menganggukan kepalanya mengiyakan.

Jungkook mengetuk pintu bercat putih didepannya dan segera membukanya, munculah seorang pria paruh baya yang memang sudah menunggu kedatangan taehyung. "kau sudah datang taehyungie?". tanya dokter yang memang sudah akrab dengan taehyung karena memang sang dokter itu adalah pamannya sendiri.

"ya paman"

"lalu ini siapa?"

"kenalkan paman, ini jaeon jungkook dan dia adalah calon istriku". jelas taehyung membuat jungkook bersemu karena malu disebut sebagai calon istrinya.

"oh ini yang bernama jungkook? akhirnya aku bisa bertemu denganmu nak. kenalkan aku paman sekaligus dokter taehyung, kim junmyeon". jungkook menerima uluran tangan dari paman taehyung.

"aku jeon jungkook paman, senang berkenalan dengan anda".

"nah sekarang kita mulai terapinya, apa kau sudah siap tae?"

taehyung hanya menganggukan kepalanya, sebenarnya dia sudah lelah dan malas untuk mengikuti terapi karena ia merasa tidak ada hasilnya. tetapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk segera dapat berjalan agar bisa menepati janjinya pada jungkook untuk menjaga dirinya dengan cara apapun. maka dari itu usaha awal untuk menjaga jungkook adalah dengan cara dapat berjalan.

kemudian junmyeon mengambil alih kursi roda taehyung dari jungkook dan mendorongnya ke alat terapi berjalan.

"apapun yang terjadi pada calon suamimu jangan pernah mendekan dan membantunya, biarkan dia berusaha sendiri". ucap junmyeon ke arah jungkook, kemudian jungkook hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.

kemudian junmyeon memerintahkan taehyung untuk mencoba berdiri, di percobaan pertama taehyung benar benar kesulitan untuk menopang tubuhnya. bahkan ia hampir saja terjatuh kalau tidak langsung di tangkap oleh junmyeon, sedangkan jungkook yang memperhatikan reflek melangkah ke arah taehyung namun junmyeon menghentikan langkah jungkook dan menyuruhnya diam di tempat. "kau sudah berjanji untuk tidak mendekat, ingat?".

"coba sekali lagi".

Sekali lagi taehyung mencoba untuk berdiri, dan di usaha yang kedua dia dapat menopang tubuhnya walaupun kakinya sedikit gemetar.

Jungkook tersenyum melihat bagaimana taehyung dapat berdiri walaupun tidak lama ia kembali ingin terjatuh.

"aku akan mencobanya sekali lagi paman", taehyung kemudian mencoba lagi untuk yang ketiga kalinya dan berhasil ia bisa berdiri tegap.

"coba sekarang kau langkahkan kakimu perlahan".

Taehyung ragu untuk melangkahkan kakinya, karena saat terapi 2 minggu lalu dia harus merelakan lututnya memar memar karena selalu terjatuh ketika melangkahkan kakinya.

Taehyung mengalihkan pandangannya ke arah jungkook, ia dapat melihat wajah khawatir jungkook namun itu malah memberikan semangat tersendiri untuk taehyung. bahwa ada seseorang yang harus ia jaga dan tanggung hidupnya.

Kemudian ia melangkahkan kaki kanannya dan berhasil walaupun setelahnya kakinya gemetar, kemudian dia mencoba melangkahkan lagi kakinya dan saat dilangkah ke tiga ia terjatuh. taehyung menahan nyeri pada lututnya yang membentur ubin.

"gwenchana oppa", tanya jungkook penuh dengan kekhawatiran.

"gwenchana, aku baik tenang saja". kemudian taehyung mencoba untuk berdiri lagi dan terjatuh lagi.

"ayolah aku harus bisa berjalan lagi". gumam taehyung menyemangati dirinya sendiri.

Taehyung mencoba untuk berdiri lagi dan lagi lagi terjatuh. "menyerah?". tanya junmyeon pada taehyung.

Kemudian dengan sisa tenaganya taehyung mencoba untuk berdiri lagi dan berhasil, ia juga mencoba untuk melangkahkan kakinya perlahan walaupun sakit tetapi taehyung masih bisa menahannya. Ia mencoba melangkah ke arah jungkook dengan perlahan.

Jungkook yang dihampiri oleh taehyung tersenyum sangat manis, ia senang taehyung mau berusaha untuk dirinya sendiri.

Sedikit lagi langkahnya sampai didepan jungkook namun karena kakinya gemetar parah taehyung terjatuh di pelukan jungkook yang reflek menangkap tubuh taehyung.

"apa aku keren?". tanya taehyung membuat jungkook tertawa.

"kau sangat keren oppa, lebih keren dari song joong ki". kemudian keduanya tertawa bersama.

"ehem.. jangan lupa kalau masih ada orang lain disini". junmyeon meledek taehyung dan jungkook sambil mendorong kursi roda milik taehyung, keduanya melepaskan pelukan mereka dan tertawa ke arah junmyeon kemudian jungkook membantu taehyung untuk kembali duduk si kursi roda.

"kau banyak kemajuan tae, kau bisa berlatih berjalan dirumah dengan jungkook sepertinya hanya jungkook yang dapat memberikan semangat pada taehyung untuk berjalan, lihat saja tadi bahkan taehyung berjalan ke arahmu bukan ke arahku''.

"kau cemburu paman?", taehyung masih saja tertawa. junmyeon merasa senang karena akhirnya bisa melihat tawa taehyung lagi setelah sempat menghilang.

"akhirnya aku bisa melihat tawamu lagi tae". junmyeon menepuk pundak taehyung.

"aku juga paman baru ini melihat oppa tertawa". jungkook menambahkan

"ya ya aku janji akan lebih sering tertawa".

"2 minggu lagi datanglah kemari lagi tae sebelum kau menikah, jangan malas malasan lagi". Junmyeon mengingatkan taehyung untuk kembali ke rumah sakit untuk menjalani terapi.

"tenang saja dokter kim, aku akan mengingatkan taehyung oppa untuk kembali kesini"

"ey.. jangan panggil aku dokter kim, panggil saja aku paman seperti taehyung memanggilku".

jungkook mengangguk mengerti.

"kau harus sering berlatih juga dirumah".

"iya iya paman, sudah ah aku mau pulang. ayo kook kita tinggalkan paman tua itu disini sendiri", ucapan taehyung membuat jungkook dan junmyeon tertawa.

"terimakasih paman untuk hari ini, kami pulang dulu". jungkook tidak lupa mengucapkan terimakasih kemudian pergi meninggalkan ruangan terapi.

Diluar taehyung mencoba meraih tangan jungkook yang berada di belakangnya kemudian dengan tulus ia mengucapkan terimakasih karena jungkook sudah memberikan kepercayaan pada dirinya untuk menjaganya dan jungkook memberikan semangat pada taehyung untuk bisa berjalan kembali.

"terima kasih jungkook-ah kau sudah percaya pada diriku". taehyung menolehkan kepalanya pada jungkook. kemudian jungkook berjalan ke arah depan taehyung dan mensejajarkan tubuhnya dengan taehyung.

"aku akan selalu mempercayaimu oppa, kita berjalan bersama menuju kebahagiaan ya, aku selalu dibelakangmu untuk memberikanmu kekuatan". ucap jungkook yang mengeratkan genggamannya pada tangan taehyung.

"tidak, jangan berjalan dibelakangku berjalanlah disampingku kook-ah".

Taehyung memajukan tubuhnya untuk memeluk jungkook, kemudian jungkook membalas pelukan taehyung dengan erat.

.

.

.

.

Tadinya mau buat oneshoot cuma kayaknya nanggung yah, kalo memungkinkan nanti aku buat sampai mereka menikah deh yah.

TBC

.

.

.