A Tad Different

Fanfic SNK


Disclaimer : Harus ya? 'Kan udah di chapter 1? Beh... Shingeki no Kyojin bukan punya Kucing tapi punya Isayama Hajime, the one and only.

Warning : Samalah dengan yang kemarin. Author abal mantan pembaca liar yang akhirnya memutuskan membuat fanfiction untuk pertama kalinya. Humor gagal, cerita kepeleset dari aslinya, sekali lagi saya peringatkan tekanlah tombol back sebelum anda menyesal!


Chapter 2 : Go Titans! Break The Wall!

"Mikasa! Lepaskan aku! Aku akan menghajar orang-orang yang berani menghina pasukan pengintai."

"..."

"Mikasa−"

Tangannya yang menarik kerah baju Eren terangkat di udara (bersama Eren) lalu melempar si anak laki-laki bermata hijau kebiruan itu menuju tembok bata terdekat ala pitcher profesional. Aw.

Otomatis kayu-kayu bakar yang dikumpulkan Eren−ehh... Mikasa bertaburan di sekelilingnya. Eren yang entah karena faktor keberuntungan atau memang badannya tahan banting tidak berdarah sama sekali, hanya ada luka lecet yang tak seberapa sakitnya. Sepertinya Mikasa masih berbelas kasihan jadi tak sampai gegar otak. Mungkin. Anak malang itu mengaduh-aduh kesakitan. Kedua tangan mungilnya mengusap-usap area kepalanya yang sepertinya akan membenjol. Andaikan Eren tak punya harga diri sebagai lelaki, pasti sekarang dia sudah menangis meraung-raung sambil guling-guling merajuk.

"Buset dah! Benjol nih."

"Eren."

Yang dipanggil menengadahkan kepalanya. Manik hijau kebiruannya yang sedikit berkaca-kaca menatap bingung gadis bersyal merah di depannya. Poni hitam arang Mikasa menutupi sebagian wajahnya. Jadi, ekspresinya tak terlalu terlihat. Tangan kecilnya meraih ujung syal gelisah. Kalau diperhatikan lagi, kedua bahu mungilnya sedikit bergetar.

"Jangan bergabung dengan Recon Corps."

"Kena−"

"Kau lihat 'kan yang di sana tadi? Atau kau benar-benar mau bunuh diri?"

Eren menatap tanah di depannya. Memang setelah menonton drama picisan di tengah jalan tadi dia lebih tahu akan resiko menjadi seorang prajurit pasukan pengintai dan jujur saja, dia menjadi sedikit takut serta ragu. Takut mati sia-sia dimakan Titan. Ragu apakah jika ia bergabung akan dapat membuat keadaan lebih baik.

Eren memaksa tubuhnya berdiri. Tubuhnya sedikit limbung akibat rasa sakit di kepalanya. Mikasa yang khawatir dan merasa bersalah mengulurkan kedua tangannya untuk membantu namun ditepis secara halus. Ditatapnya kayu-kayu yang berserakan.

"Tolong bantu aku menyusunnya. Dan jangan beri tahu Ibu aku ingin bergabung dengan pasukan pengintai."

Mikasa mengangguk dan mereka merapikan kayu-kayu itu dalam diam.


(u)b


"Eren mau bergabung dengan pasukan pengintai."

PRANG! –piring pecah−

BRUUTS! –air menyembur−

MEIOONG! –kucing kejepit, um, ga penting−

Ah... baru beberapa menit udah bocor.

"Dafuq! Mikasa! Kau janji tidak memberi tahu Ibu!" Eren mengacung-acungkan telunjuk ke hidung saudari angkatnya. Gak sopan!

"Kapan?"

"Tadi! Di dekat tembok bata! Kau mengangguk."

"Ah. Aku mengangguk hanya untuk bagian membantu menyusun kayu."

Hening.

"Masa ngangguknya setengah-setengah, sih!"

"Eren!"

Eren yang tadinya menarik-narik rambut frustasi langsung membeku.

Ibunya meraih kedua bahu mungil Eren dan memaksanya menatap mata sang ibu.

"Apa yang kau pikirkan? Kau tidak tahu sudah berapa nyawa menghilang di luar dinding?!"

"A-aku tahu!"

"Kalau begitu−"

"Eren."

Eren dan ibunya mengarahkan pandangan mereka ke arah sang kepala keluarga.

"Kenapa kau begitu ingin ke luar dinding?"

"Aku ingin melihat dan memahami dunia luar." Eren menjawab tanpa ragu dan matanya berkilat dengan keinginan yang luar biasa. "Aku tak mau mati di dalam dinding tanpa mengetahui dunia luar."

"Selain itu." Oh. Masih lanjut. "Jika tidak ada yang menggantikan mereka, itu sama saja membiarkan orang-orang yang telah kehilangan nyawa demi umat manusia mati sia-sia! Lalu−" sebuah roti nyungsep ke mulut mungil Eren yang mengeluarkan protes tak jelas kepada Mikasa yang tiba-tiba saja memiliki hasrat menyumbat mulut tukang nyerocos itu.

"Rotimu nanti dingin kalau kau ngomong terus," ujarnya datar tanpa menghiraukan fakta kalau bibir Eren serasa akan robek akibat roti yang dimasukkan dengan kasar. Plis, rotinya emang udah dingin keleuss. Euh, padahal Eren tadi lagi keren-kerennya di hadapan ayahnya. Eren mau mewek rasanya.

Kacamata Grisha berkilat. Ia berdiri dan berjalan menuju pintu, berkata bahwa ia harus segera berangkat kerja. Karula mengatakan beberapa protes untuk membantunya meyakinkan Eren namun Grisha menolak.

"Karula, tak ada yang dapat menghalangi rasa ingin tahu manusia," katanya dengan penuh wibawa. Eaaak. Karula jadi jatuh cinta lagi nich.

"Eren," Grisha mengeluarkan sebuah kunci yang bergantung si sebuah tali yang dikalungkan di lehernya. Yang dipanggil langsung beranjak dari meja makan.

"Setelah Ayah kembali, Ayah akan menunjukkan sebuah ruang bawah tanah rahasia."

Dua kelereng hijau kebiruan itu menatap Ayahnya dengan binar-binar yang menyilaukan mata. Bibirnya membentuk sebuah senyum yang sangat lebar dan pipinya sedikit memerah karena antusias.

"Ya!"

"Cih," terdengar Mikasa dan Kalura mendecih. Err... Mama kok agak OOC ya?


\(O_O)/


"Jadi, setelah aku mengatakan kalau manusia perlu pergi keluar, mereka memukuliku dan berkata begini," Armin mengangkat dagu, menyipitkan mata dan menyeringai merendahkan, meniru orang yang memukulinya dengan sempurna, "'Kau itu pengikut Eyang Subur ya? Atau penyembah kerang ajaib? Homina~ homina~ homina~ hahahaha,' begitu."

Armin balik lagi ke mode normal.

Eren yang sempat ngeri melihat Armin dalam mode meniru menimpali, "tapi tenang saja Armin, mereka lari ketakutan setelah melihatku 'kan."

"Bukan, mereka lari setelah melihat Mikasa."

Eren yang terlanjur senang sudah tidak mendengarkan Armin lagi dan sibuk dengan imajinasinya sendiri. Armin hanya mengangkat bahu.

"Armin."

"Ya?"

"Eyang Subur dan kerang ajaib itu... apa?"

"...entahlah."

Hoo... bahkan Armin yang serba tahu saja tidak tahu!

Dan mereka berdua mengikuti jejak Mikasa yang sedari tadi hanya diam memandangi sungai kecil di depan tangga yang mereka duduki.

Sebuah kilatan cahaya emas menyambar dinding dan seketika tempat itu berguncang hebat. Orang-orang panik. Lalu guncangan itu mereda. Semua mata tertuju pada puncak dinding. Eren, Armin dan Mikasa segera beranjak dari tempat mereka dan bergabung dengan orang-orang yang melihat kejadian di depan mereka dengan bola mata yang nyaris keluar dan rahang terbuka lebar.

Sebuah tangan besar berwarna merah menyala menggenggam puncak dinding keras setinggi lima puluh meter itu dan meretakkannya dengan mudah. Perlahan muncul sebuah kepala bundar dari balik dinding. Mata gelapnya yang kecil memandang dingin orang-orang di dalam dinding. Asap menguar dari otot di pipinya dan dari sela-sela gigi rapat di mulutnya yang tak memiliki bibir itu.

"Itu mereka..."

Eren menatap pemandangan di depannya dengan tatapan syok dan tak percaya.

"Titan."

Shiganshina dihancurkan. Manusia hanya dapat berdoa, menjerit dan pasrah. Dan dari titik inilah, manusia kembali diingatkan pada kehidupan tanpa harapan yang penuh ketakutan, keterpurukan juga kehinaan karena tak berdaya melawan makhluk-makhluk mengerikan itu.


Lagi semangat jadi langsung aja chapter 2! Padahal baru beberapa menit. Nyahahaha... Semoga kalian semua menikmati fanfiction saya. 3

(= RnR =)