Anata wa Itte Inakatta Baai ( Seandainya Engkau Tidak Tiada )
Alternative title : Nana no hi no koibito ( Kekasih 7 hari )
Fandom : Prince of Tennis
Genre : Shounen-ai , Romance , Hurt/comfort , Angst , School-life , dll .
Rate : T ( untuk chapter ini ... ehemm ... ada berbau kissing scene dan mini-semi-smut soalnya =D hahahaaa )
Pairing : Tezuka Kunimitsu X Echizen Ryoma ( Pillar Pair / TezuRyo / ZukaRyo / Hashira Pair ) .
Disclaimer : Prince of Tennis bukan milik saya , tapi Yang Mulia Konomi-sensei . Kalau PoT punya saya ... Mau diapakan ya ... Pastinya berhubungan dengan Shonen ai antara TezuRyo , InuKai , dan SanaYuki sebagai pairing nya =D
Author : XxseichanxX ( TezuSezu untuk )
Note : Jangan dibaca kalau kamu gak suka / benci dengan Shounen-ai H*m* yang akan sedikit muncul ke permukaan di chapter ini . Tidak mengapresiasi flames . Absenlah dengan me-review setelah membaca . Bahasa Indonesiaku hancur . Ada versi bahasa inggris , biarpun sama hancur grammar-nya ^_^"Untuk chapter ini , ceritanya akan 'panas' atau 'over romantika' yang 'OMG' . Jadi , tolong skip jika tidak suka ^_^
A Prince of Tennis Fanfiction
-Chapter 1-
~:~ Daiji no Omoi ~:~
Sejak hari itu di lapangan tenis Haruno , sebuah perasaan asing yang bersarang di lubuk hatiku semakin meluap-luap dengan laparnya . Aku sudah lupa berapa kali aku memandangi wajah itu dengan tatapan yang penuh arti , aku sudah lupa berapa lama tangan ini terus menahan keinginanku untuk menyentuhnya , aku sudah lupa menghitung berapa kali aku terus membayangkan wajah itu , setiap waktu , kapanpun dan dimanapun . Wajahnya dihari itu , wajah yang dibasahi oleh keringat , membuat wajahnya bersinar bak permata dengan indahnya . Jantungku berdebar-debar dengan kencangnya . Saat kami bertanding waktu itu , aku terus meningkatkan konsentrasiku . Jangan sampai terus membayangkan hal aneh dan nista kepada juniorku yang satu ini .
Kemampuannya tak dapat kuakui untuk saat ini . Aku hanya akan mengakui kemampuannya saat dia berevolusi , menciptakan playstyle seorang Echizen Ryoma yang asli , bukan jiplakan seorang petenis legendaris Jepang Echizen Nanjiro . Yang perlu kulakukan hanyalah menunggu .
Itulah pemikiran yang terus kujadikan tameng . Tameng yang mencegah fikiran-fikiran menyesatkan tentangku dan Echizen terus bersarang . Namun apa daya , ketika aku tidak memikirkannya , pada saat aku terbangun dari tidur , orang yang pertama kali kuingat adalah dia .
Aku tidak diizinkan memiliki perasaan khusus kepadanya . Itulah kewajibanku sebagai kapten . Aku harus tetap menjadi seorang Tezuka Kunimitsu . Tezuka Kunimitsu yang menjadi rivalnya . Tezuka Kunimitsu , sang kapten yang hobi memerintahkan jumlah putaran yang tidak normal . Tezuka Kunimitsu yang karismatik namun pengecut jika berhadapan dengan orang yang dicintainya . Ya, benar . Inilah hal yang terbaik untuknya ... untuk saat ini .
' Tapi entah mengapa , hanya dengan bertatapan wajah dengannya , tamengku telah diruntuhkan dengan kuatnya ... Dan aku tak mampu mengelak '
-Seishun Gakuen-
-Sehari setelah pertandingan Nasional-
Dadaku berdesir .
Jika ini mimpi , aku tak ingin terbangun.
Inilah aku , seorang Tezuka Kunimitsu yang menahan diri untuk menganga tidak percaya di ruang ganti klub Tenis .
Aku tak mampu berkata-kata . Kebahagiaan , kecemasan , kebingungan melebur menjadi satu kesatuan . Mungkin kebahagiaan yang mendominasi perasaanku saat ini mengambil alih , membuat ekspresi wajahku tampak ' sulit dipercaya ' .
Setelah dibuahi kemenangan dipertandingan nasional , permainan tenis yang mendebarkan sekaligus memukau , kebersamaan dalam tim , dan kontak yang lebih dekat dengannya , aku sampai tidak yakin ingin berharap lebih .
Setidaknya , untuk hadiah yang satu ini , aku takkan mampu menolak sekalipun aku harus melompati jurang akannya .
Kudekap erat tubuh mungil seorang Echizen Ryoma . Ya , benar . Aku tak dapat memilih kata-kata yang indah untuk menggambarkan kebahagiaanku seperti di novel atau opera klasik Inggris . Namun , kehangatan yang nyata dan menyebar keseluruh kulit ditubuhku ini adalah bukti nyata . Bukti bahwa aku memilikinya .
" Buchou ... "
Ah , suaranya yang malu , tidak seperti dirinya dimana dia tersenyum seringai dan mengucapkan kalimat khasnya ' Mada mada da ne ' , membuatku ingin mendekapnya lebih erat jika bisa lebih erat lagi . Aku tak ingin membuatnya lebih sesak dari ini dan membuatnya membenciku .
" Echizen ... "
Tangannya melingkari leherku , dan tanganku pun beralih pada pinggangnya . Nafas kami memburu karena udara pengap dan hanya dalam beberapa centi , bibir kami akan menyatu .
Siang itu , kami latihan seperti biasa . Latihan untuk kali ini disengajakan lebih ringan dari biasanya karena kami baru saja memenangkan kejuaraan nasional kemarin dan hampir stamina kami terkuras akannya .
Hari ini kami latihan pertandingan tunggal , dan untuk memutuskan pasangan , kami harus mengambil kertas dari kotak . Kikumaru dengan beruntungnya mendapati dirinya melawan Oishi . Momoshiro dan Kaido terus bertengkar , gara-gara bola yang antara keluar garis atau tidak . Fuji dan Kawamura bermain dengan santai . Tentu saja Kawamura tidak memakai teknik Hadokyuu-nya .
Inui bertengger dengan santainya sambil menulis perkembangan permainan kami . Dia menolak ikut berlatih tanding dengan alasan mencari data baru . Aku tidak terkejut akan kebiasaannya kali ini . Justru dunia akan histeris jika seorang Inui mengatakan 'benci' pada data yang digilai-nya .
Karena semua anggota ( sans Inui ) bertanding di lapangan masing-masing , Aku dan Echizen bertanding berdua . Walau aku sangat senang karena dapat bertanding lagi dengannya , aku tahan sekuat tenaga agar tidak disadari olehnya .
Kami bermain dengan santai . Bermenit-menit telah berlalu dan kami terbawa oleh permainan yang menegangkan sekaligus menyenangkan . Sudah lama aku tidak merasakan adrenalin dan nafas yang memburu dengan ganasnya ini . Keringat bercucuran dengan derasnya , membasahi jersey Seigaku-ku yang mulai risih .
Tiba-tiba , saat Echizen (harusnya) memulai service game-nya , dia membatu . Tangannya menjatuhkan raket dengan kerasnya dan tubuhnya tergolek lemas .
Dengan cemasnya , aku menghampirinya dan berusaha untuk mengangkatnya .
Matanya yang coklat keemasan menangkap retinaku . Oh Kami , sebetapa lemah dan tak berdayanya pemuda ini . Apa yang terjadi padamu , Echizen ?
" ... Buchou ... "
" Tahan dulu sebentar , Echizen . Aku akan membawamu ke UKS "
Dengan tergesa-gesa , aku mengangkat tubuh mungilnya dengan bridal-style . Kakiku berlari kencang sampai batasnya .
Sayangnya , UKS sudah tutup . Dan gara-gara kami bertanding dan keasyikan sampai tidak menyadari yang lainnya sudah selesai , meninggalkan kami berdua (mungkin) sendirian disekolah , berkeliaran seperti orang yang tengah tersesat .
" Buchou ... daijobu-ssu yo ... Turunkan sajalah aku .. " rengek Echizen .
Aku tersadar . Kuturunkan dia dengan pelan , dan membaringkannya diatas kasur UKS . Aku mengambil sisi pinggir kasur dan duduk . Tanganku menarik selimut yang dilipat rapi didalam laci dan memakaikannya pada sekujur tubuhnya yang mendingin .
" Mau kupanggilkan dokter ?. " tanyaku
Echizen hanya mengangguk . Wajahnya merah padam . Mungkin karena aksi-hampir-pingsannya tadi .
Aku berusaha untuk bangkit , mengambil beberapa kantung es sebagai kompres . Tapi , ada tangan yang menarik ujung jersey Seigaku-ku . Aku menoleh dan ... cukup kaget .
Tangan itu , adalah tangan Echizen .
Dan aku tidak bermimpi .
" ... Echizen ?. "
Aku berdoa dalam hati , semoga aku tidak hilang kendali atas tindakan pemuda yang penting bagiku ini untuk menyerangnya . Keringatnya yang bercucuran dengan erotisnya , kemeja olahraga yang basah dan melekat pada sela-sela lekuk tubuhnya , nafasnya yang memburu dengan ganasnya , suatu keajaiban aku masih bisa menahan diri sekarang .
" ... Buchou ... jangan .. pergi ... " katanya lirih .
Sekejap , aku terdiam . Otakku berusaha untuk memproses kembali apa yang kudengar dan mengulanginya dengan seksama .
Bolehkah aku sedikit berharap ...
" Kenapa , Echizen?. " tanyaku . Dan tanpa kusadari warna mataku sudah mulai menggelap .
Dapat kurasakan getaran dasyat pada tubuh pemuda mungil ini .
" ... Kumohon .. buchou .. "
Fikiran rasionalku sudah hilang termakan oleh fikiran yang menyesatkan .
Dalam sekejap , kata-kata Echizen kuterjemahkan dengan cara yang tidak 'tezuka-ish'.
Tanganku yang besar dan kasar , menarik lengannya dan menangkap tubuhnya kedalam dekapan . Semakin lama , dekapan itu menjadi lebih intens dan intimate . Dapat kurasakan detak jantungnya yang memburu seakan terpompa dengan kasarnya .
Akankah segala yang kurasakan ini hanyalah ilusi belaka ? Seandainya benar , jadikanlah ilusi ini kenyataan . Kapan lagi tanganku dapat meraihnya ? Keseharian kita selama ini justru menjadi dinding pembatas bagi kami untuk berinteraksi .
Tanpa kusadari , tanganku mulai beralih dari balik leher dan pinggangnya ke bawah baju seragam dengan sablon ' SEIGAKU' dibelakangnya . Kuelus pelan kulitnya yang basah akan keringat , hangat , dan mulus . Oh , aku mengharapkan ada orang yang akan menghentikan apa yang telah kami lakukan sebelum segalanya terlambat .
Hela nafas lembut dan menantang berhembus ditelinga kiriku ...
" .. buchou .. "
Tangan kananku mulai meraih pipi kanannya dan mengusapnya dengan lembut . Seakan jika aku mengelusnya dengan kasar sedikit saja , maka wajahnya akan rapuh dan terkoyak seperti tissue yang basah .
" .. ada apa , Echizen ?. ' tanyaku menggoda .
Wajahnya memerah , menunduk . Tangannya yang mungil mencoba untuk mencari topi khas-nya , namun sepanjang tangannya mencapai , belum lekas ditemukannya topi bermerek 'Fila' itu .
Aku mengerti apa yang difikirkannya .
" Kau tak perlu malu .. Echizen. "
Matanya terbelak . Ekspresinya sangat manis . Ekspresi yang tidak dapat kau temukan setiap harinya dari seorang Echizen Ryoma .
" ... buchou ... a-aku .. "
" kau tak perlu melanjutkannya , Echizen , aku sudah tahu " sela ku.
Jika mungkin , wajahnya akan lebih merah dari sekarang . Tubuhnya mulai bergetar .
Kembali ke waktu sekarang ...
Setelah kedua bibir kami menyatu , indera pengecapku mulai menantang . Lidahku mulai menelusuri celah demi celah mulutnya yang hangat dan berbau ponta , minuman khas seorang Echizen .
Kami terus bertahan dalam posisi itu . Terkadang , Echizen mulai membalikkan kepalanya untuk mendapatkan posisi yang lebih nyaman . Desahan erotis keluar dari bibir yang sudah kusekap itu . Setelah kami kehabisan nafas , kami pun berhenti .
Matanya yang coklat keemasan menangkap retinaku lebih dalam .
" ... Buchou .. "
" Katakanlah apa saja yang ingin kau katakan ... Ryoma. "
Mendengarku yang mengucapkan nama kecilnya dengan lembut , wajahnya kembali merah .
" ... Terima kasih ... buchou .."
" Ssshh .. panggil aku Kunimitsu , Ryoma. "
" K-kunimitsu ... "
Sejenak hening . Untuk menghindari kecanggungan , kakiku mulai cerewet dan mencari es batu , tidak lupa handuk kecil . Kubuka pintu kulkas didekat jendela UKS , lalu kuambil beberapa keping es batu yang kucari . Masalah handuk , bisa kutemukan di tas tenisku . Setelah kutuangkan semua es kedalam baskom kecil , aku pun berlari kembali ke lapangan, mengambil barang-barang kami dan mengunci ruang ganti klub .
Sekembalinya di UKS , dengan empat tas tenis dan sekolah , kudorong pintu UKS dengan bahu kanan . Yang membuatku kaget setengah mati adalah menghilangnya Ryoma .
Aku mulai panik . Dia sakit dan dia mulai membuatku jantungan dengan menghilang ? Jangan bilang apa yang terjadi diantara kami hanyalah ilusi .
Ilusi .
Akankah kebersamaan yang indah itu hanyalah ilusi belaka ?
' jreett '
Suara pintu dibuka ( atau tepatnya diseret paksa ) terdengar cukup jelas . Setelah kutelusuri , hatiku menjadi lega akan suka cita . Ternyata , sedari tadi , Echizen berada di toilet UKS . Mengagetkanku saja .
Syukurlah.
Dari cara Ia berjalan , dia masih lemah. Hatiku menimbang-nimbang , antara merawatnya disini ketika sekolah sudah mau tutup , atau berlari sambil menggendong Echizen bridal-style ke rumah . Dan lagi , jika aku akan membawanya ke rumah , rumah siapa ?
" ... Buc-Kunimitsu ... Dari mana ? "
Aku pun tersadar . Tanganku mengangkat tas kami lebih tinggi , memberi isyarat atas pertanyaannya . Kepalanya mengangguk pelan .
Kutaruh tas kami diatas kasur . Dia berjalan ke arahku , menatapku lekat-lekat .
" Aku sudah menyiapkan es untuk mengompresmu . Handuk sudah ada didalam tas tenisku ... jangan khawatir , masih baru . "
" Bukan .. bukan itu ."
Mataku menggambarkan kebingungan .
" Jadi apa ? "
" ... B-Kunimitsu ... Maukah kau merawatku di rumahku saja ? Kaasan dan Baka Oyaji sedang tidak ada dirumah "
Aku terdiam seribu kata .
" Aku bukan perempuan , jadi tidak apa-apa , Kunimitsu "
" Tapi aku kekasihmu "
" .. I-iya .. Tapi kau khan hanya merawatku , kan ? "
" Ya"
" Jadi apa masalahnya ?"
Debat kami berakhir pada kemenangan mutlak Ryoma . Aku pun sudah tak mampu menolak . Lagipula , seperti kata Ryoma , kami hanya bertingkah seperti dokter kepada pasiennya . Tidak ada yang lebih . Sekalipun kami sudah menginjaki tahap baru dalam berhubungan .
Benar .
Sungguh akhir yang antara romantis atau tidak untuk mengakhiri hari bersejarah ini . Luar biasa, Kunimitsu . Kau memang jenius !-Gah !
Sepertinya aku akan terus menjadi pemuda yang kelewat tua .
Asyik berbicara dengan diri sendiri , sekelebat tangan meraih pundakku dari belakang .
" Mau berhenti di konbini dulu , Kunimitsu. " ajaknya .
Wajahku berseri .
" Ini pertama kalinya kau memanggil namaku dengan tidak gugup. "
Untuk keberapa kalinya , wajahnya memerah lagi .
Jemariku membelai halus pipi yang merah itu .
" Kau sungguh manis saat tersenyum , Ryoma ."
Untuk kedua kalinya , nafas kami mulai memburu . Kami tak malu dan sungkan lagi , biarkanlah ruang ini menjadi saksi atas kebersamaan kami.
'deg deg '
Entah mengapa , hatiku mulai merasa tidak nyaman . Kenapa ? Apa yang terjadi ?
'klik!'
Telingaku menangkap sekelebat suara . Suara yang terdengar seperti mesin penghitung mundur yang ditekan dengan kasarnya . Apa yang dihitungnya ? Dan darimana asalnya ? Kutepiskan perasaan yang tidak mengenakkan secepatnya . Saat ini , hal yang terpenting adalah posisiki sekarang . Tanpa basa-basi , aku pun mulai menikmati wajah orang yang kucintai didepanku ini .
Diatas sebuah gedung perguruan Seishun , seseorang dengan benda yang dilapisi oleh permata garnet menerawang jauh kesebuah jendela . Angin yang bertiup dengan sepoi-sepoi mengibarkan haori yang dikenakannya .
Matanya melukiskan sesuatu yang manusia biasa takkan mampu menerkanya .
" Tezuka Kunimitsu ... menarik . Tapi sayangnya , Waktumu sisa 7 hari lagi ..."
Setelah bergumam seperti itu , sosoknya hilang termakan kegelapan .
Tanpa kusadari , kebahagiaan itu takkan bertahan lama . Dan akan berujung pada akhir yang akan merubah kehidupanku .
Biarkanlah segalanya mengalir ... Bagaikan sungai nagara yang mengalir dengan indahnya , menantulkan bayangan pohon hagi tanpa lelahnya .
***Bersambung pada Chapter 2 dari 5 Chapter***
Note : Cerita ini bukan suspense atau spiritual . Memang ada , tapi tidak akan merusak tema dari cerita ini tersendiri . Orang dengan jubah ini hanya karakter yang muncul di chapter ini dan chapter terakhir . Silahkan terka sendiri .
Tinggalkan kesanmu dengan me-review atau mengomentari hingga mendukung cerita ini .
