Tittle : Always Loving You, My BooJae II
Author : Marcia Hannie
Beta Reader : NaraYuuki & Andini
Disclaimer :This story is mine! and Jae is my Uke #dikeroyokramerame
Warning : abal-abal, So Many Typo, Yaoi/ BoysLove/ Shounen Ai
Length : -
Genre : Romance/ humor
Rate : T
.
.
.
.
.
.
When you love somenone, and you love them with your heart, it never disappears.
.
.
"Kenapa kau lama sekali, Yun? Upacara pernikahan kita sebentar lagi dimulai. Pendeta Lee sudah mulai protes karena terlalu lama berdiri. Kau tahu kan dia punya penyakit asam urat?" gerutu JaeJoong diakhiri dengan bisikan kecil sambil melirik Pendeta Lee yang melotot mendengar bisikan JaeJoong.
"A... a... apa ini? Apa maksudnya? Aku tidak mengerti. Seseorang tolong jelaskan padaku!" Jung Yunho berseru sambil menghindari pukulan kakak satu-satunya, Jung Il Woo, di kepala kecilnya itu.
Sedangkan JaeJoong malah berbincang dengan Pendeta Lee yang memijit pelipisnya. Pusing dengan segala celotrh JaeJoong yang tidak dimengertinya. Seperti, apakah dipipi putihnya ada jerawat ataupun tentang rasa asam buah jeruk yang dimakannya kemarin. Mungkin sebentar lagi Pendeta Lee akan mengeluarkan asap dari kedua teling lebarnya.
"Hyung! Berhenti memukulku! Aku tidak mengerti semua ini! Kenapa tiba-tiba ada acara seperti sebuah pernikahan ini!" Yunho terus berteriak meminta penjelasan atas situasi di rumah mewah orangtuanya ini.
"Hyung kepala kecil! Bukankah aku sudah pernah mengatakan kepadamu kalau aku akan menjawab lamaranmu ketika kau pulang dari wajib militermu?" sahut JaeJoong yang kini malah duduk bersila di altar dadakan tersebut. Bahkan kini asyik mengupas kacang rebus yang entah didapatnya dari mana. Di sampingnya duduk Pendeta Lee yang sudah kelelahan. Lelah berdiri terlalu lama dan lelah mendengar celotehan tidak jelas JaeJoong.
"Jawaban lamaranku? Mwooooyaaaaa?" seru Yunho terkaget-kaget, dihadiahi pukulan terakhir dikepalanya dari sang kakak.
"Dasar beruang bodoh. Kalau kau tidak mau menikah dengan Joongie, aku yang akan menikahinya." Il Woo menjawab kalem, ikut-ikutan duduk bersila di samping JaeJoong memkan kacang rebus. JaeJoong kini diapit Pendeta Lee dan il Woo.
PLAKK
"Awww! Yaaa! Bocah setan! Kenapa kau memukul kepalaku?" seru Il Woo sambil mengusap-usap kepalanya yang ditumbuhi rambut ikalnya.
"Jangan memakan kacang rebus Joongie, Joongie tadi harus mengejar-ngejar ahjussi penjualnya. Jadi ini kacang rebus paling berharga. Dan Joongie tidak mau menikah dengan Hyung Rambut Ramen. Karena kepala Hyung Rambut Ramen tidak kecil seperti Hyung Kepala Kecil." JaeJoong menjawab sambil terus mengunyah kacang rebusnya. Bahkan kini JaeJoong menyembunyikan seluruh kacang rebusnya disaku depan jas pengantinnya yang sekarang menjadi agak kotor. Umma Kim hanya menepuk jidatnya atas kelakuan putra tunggalnya yang cantik itu.
"Menikah?" Yunho membeo.
"Hyung kepala kecil mau tidak? Kalo tidak, Joongie mau pergi ke desa sebelah. Nanti malam ada karnaval. Joongie mau melihatnya. Pendeta Lee yang memberitahu Joongie. Iya kan, Pendeta Lee?" JaeJoong menjawab sambil menoleh ke arah Pendeta Lee yang kini hanya mampu memejamkan mata sambil mengangguk mengiyakan perkataan Joongie.
"Jadi?" Yunho kembali tampak bodoh.
"Jadi?" JaeJoong ikut-ikutan bodoh.
"Bisakah kita mulai acaranya Tuan Jung Yunho? Ini adalah pernikahan anda dan Tuan Kim JaeJoong. Mohon jangan bertanya lagi. Silahkan bertanya setelah acaranya selesai." Pendeta Lee meninterupsi percakapan bodoh Yunho dan JangJoong. 'Dan aku ingin segera pulang dari sini. Lama-lama berada disini bisa membuatku berakhir di rumah sakit karena penyakit hipertensi dan asam uratku kambuh', tambah Pendeta Lee dalam hati.
"Baiklah Pendeta Lee kalau anda memaksa. Hyung Kepala Kecil ayo cepat kesini. Pendeta Lee memaksa kita menikah sepertinya." ucap JaeJoong polos.
'Aku tidak memaksamu bocah setan! Ya Tuhan, ampuni dosaku karena mengumpat.' Pendeta Lee memejamkan matanya sambil menahan asap yang sepertinya mulai menguar dari kedua telinganya yang lebar itu.
Yunho yang masih belum mengerti dengan situasi di rumahnya tersebut, hanya mampu pasrah ditarik -diseret lebih tepatnya- oleh JaeJoong hingga berdiri di depan altar. Yunho masih menggunakan pakaiannya sejak pulang dari kamp militer yang dihuninya selama dua tahun ini. Bahkan badannya masih berkeringat dan agak kotor karena perjalanan panjang dari Mokpo ke Gwangju. Yunho mendapat pesan bahwa seluruh keluarganya menunggu di rumah mereka yang ada di Gwangju, bukan rumah utama mereka yang ada di Seoul.
"Baiklah, sekarang kita mulai. Sebelumnya, bila ada yang keberatan dengan pernikahan ini, cepat katakan atau lebih baik diam selamanya." Pendeta Lee membuka acara yang -sudah sangat terlambat- ditunggu dari siang oleh seluruh tamu keluarga Jung dan Kim. Bahkan Jung Appa sesekali menguap dan memndang iri Jung Il Woo yang kini asyik mengunyah kacang rebus pemberian JaeJoong -mencuri tepatnya- itu.
"Pendeta Lee!" seru JaeJoong
"Ne, Tuan Kim?" jawab Pendeta Lee.
"Mau kacang rebus?" tawar JaeJoong sambil mengulurkan tangannya yang menggenggam kacang rebusnya yang tersisa sedikit.
"Tidak, terima kasih Tuan Kim. Jadi, apakah anda bersedia menikah dengan Jung Yunho dalam keaadan susah senangnya, suka dukanya, kaya miskinnya?" Pendeta memulai pemberkatannya sambil mengisyaratkan Jung Il Woo untuk mengambil kacang rebus ditangan JaeJoong. Jaejoong tidak ambil peduli. Ia hanya memandang Yunho sambil cengengesan tidak jelas. Sedangkan Yunho masih dalam 'dunia-ada-apa-ini'nya.
"Tentu saja Pendeta Lee, kenapa tidak?" jawab JaeJoong sambil tersenyum manis pada Yunho.
"Tuan Jung Yunho, apakah anda bersedia menikah dengan Tuan Kim JaeJoong dalam keadaan susah senangnya, suka dukanya, kaya miskinnya?" Pendeta bertanya pada Yunho yang terbengong dengan senyuman maut JaeJoong.
"Saya bersedia!" jawab Yunho otomatis.
"Baik, sekarang kalian telah sah menjadi suami isteri di depan Tuhan. Silahkan pasangkan cincin pada pasangan anda, dan kemudian cium lah pasangan anda." Pendeta Lee mengakhiri prosesi pemberkatan.
Dua orang anak kecil, satu anak perempuan dan satu anak laki-laki berjalan mendekat dan mengulurkan keranjang cantik berisikan bantal sutera merah yang di atasnya tersemat cincin pasangan untuk acara pernikahan ini.
Semua hadirin yang sedari tadi agak mengantuk, kembali duduk tegak menyaksikan proses pemberkatan. Mereka bertepuk kecil ketika Yunho dan JaeJoong saling memasangkan cincin emas putih polos di jari manis pasangannya.
Jung Umma dan Kim Umma menangis terharu. Sedangkan Jung Appa dan Kim Appa tersenyum bahagia. Il Woo bertepuk tangan dan berteriak mengucapkan selamat pada pasangan yang telah resmi menjadi suami isteri sejak beberapa menit lalu. Sedangkan Pendeta Lee, segera beranjak pergi, tanpa menghiraukan panggilan keras dari Jung Appa. Bahkan Jung Appa memerintahkan anak buahnya mengejar Pendeta Lee yang kini berlari kencang karena ketakutan melihat sekelompok pria berjas dan berkacamata hitam. Pendeta Lee yang melihatnya salah sangka, mengira ia akan dikeroyok mereka. Padahal, Jung Appa ingin mengajak Pendeta Lee makan bersama.
Jadilah acara pernikhan yang seharusnya sakral itu berakhir dengan aksi kejar-kejaran antara sang Pendeta dan para anak buah Jung Appa.
.
.
TBC
.
.
Cuap-cuap Marci
Hello everybody. Mianhae, saya malah memposting FF gaje ini. Bukanya melanjutkan Pain of Love dan 4 FF saya yang lain yang sudah saya janjikan untuk diposting. Semua ff itu sebenarnya udah siap. Tapi gara-gara kesalahan operator warnet, entah kenapa semua file saya ilang tak berbekas! Bahkan file kantor saya juga ilang.#pingsan
Karena itu saya jadi harus mengetik ulang. Pelan-pelan. Tidak mudah mengembalikan ide-ide saya itu. Dan saya juga harus berkutat dengan kerjaan kantor yang gak abis-abis.#malah curcol
Tapi tenang aja aja saya tetap akan mempostingnya. Dan untuk yang mengatakan FF saya adalah sampah saya Cuma bias bilang "Sampah yang anda bilang adalah hasil dari pemikiran manusia. Dan sampah pun bisa didaur ulang. Bahkan jadi, tumpuan hidup bagi banyak orang."
Sekian, terima kasih. Saranghae
.
.
April, 2014-04-19
Marcia Angela
