Secretive U (You)

a YunJae fanfic presented by © Cherry YunJae

Chapter 2

.

.

YunJae, Yoosu, Hangeng, Siwon, Sulli, and the

others

Romance/Drama/Humor

Warning! Out of Character! Unclear plot!

GENDERSWITCH! Typos everywhere! Complicated

(?)!

Teen's rated.

.

Based on Taiwanese Drama "Fall in Love with

Me" © 2014 with some changes.

.

.

.

.

.

Kamis pagi, Yunho di kediamannya sudah bersiap memulai aktifitas. Sesuai dengan janjinya pada Siwon kemarin, hari ini ia akan datang ke presentasi proposal untuk Pyeongchang realty. Dengan catatan "Hanya datang" bukan untuk melakukan presentasi atau apapun.

Butler Hong membantu tuan muda-nya itu memakai jas dan merapikannya, rutinitas pagi.

"Nanti nona Kim pasti akan melihat anda, lalu apa yang akan anda lakukan?" tanyanya sambil merapikan jas Yunho.

"Mereka pasti akan bilang kalau karyawan mereka ada yang mirip denganku."

"Lalu tanggapan anda?" tanya Butler Hong.

"Oh sungguh? Aku jadi ingin melihatnya.."

Kedua orang berbeda usia itu tertawa.

Butler Hong menyodorkan sebuah kotak berisi 2 ponsel. Yunho mengambil salah satunya setelah mengecek dan yakin bahwa itu ponselnya sebagai Yujin.

"Baiklah, aku pergi dulu.."

Butler Hong yang melihat ponsel lain tertinggal pun menahan kepergian Yunho.

"Tunggu, tuan muda.. Anda tidak membawa ponsel bisnis anda?"

Yunho tersenyum "Tidak.. Aku sedang dalam masa liburan sejak terakhir berlibur 5 tahun yang lalu, aku tidak mau ada gangguan dari kantor terutama..."

"Siwon.." Mereka serempak mengucapkan nama COO Jung Corp itu dan tertawa.

"Aku pergi dulu.." Kali ini Yunho benar-benar berpamitan dan pergi, butler Hong hanya tersenyum maklum.

.

.

.

Yunho turun dari mobilnya di depan gedung yang dijanjikan sebagai tempat pertemuan dengan orang-orang dari grup Pyeongchang.

Siwon, Jonghyun dan Yura yang sudah sejak tadi menunggu segera menghampiri CEO angkuh itu dan berjalan mengekor.

Siapa sangka saat masuk gedung besar itu mereka justru berpapasan dengan anggota OZ.

Merekapun sama-sama terhenti dan terlibat aksi saling berhadapan.

Siwon tersenyum, menyapa Hangeng yang sebenarnya sudah lama ia kenal.

"Wohoo.. Apa kabar Hangeng?"

Hangeng hanya tersenyum membalas COO itu, ikut menyapa namun dengan nada yang sama sinis.

Sementara Junsu sibuk berbisik-bisik pada Jaejoong, membuat Yunho sedikit melirik dengan gaya acuh khas seorang Jung Yunho.

Jaejoong menatap sebal pada sikap direktur itu, "Wajahnya memang mirip, tapi kepribadiannya benar-benar jauh ternyata.." Jaejoong sedikit mengangkat suara agar Yunho bisa mendengarnya.

Junsu terkekeh geli sementara Yunho masih berusaha acuh mendengar hal itu.

"Kalau aku bertemu lagi di jalan dengan orang seperti ini, aku pasti akan menendang kakinya." Jaejoong melirik sinis pada sang CEO.

Tampaknya kata-kata Jaejoong justru membuat sekretaris Yunho iritasi.

"Siapa kalian sebenarnya? Tolong jaga sopan santun di depan CEO kami." jelas Jonghyun.

Jaejoong tersenyum menanggapinya, "Aku punya banyak sopan santun.. Tapi itu hanya kuberikan pada orang yang juga sopan terhadapku.."

"Benar-benar tidak sopan.. Apa kalian tidak berpendidikan?" Kali ini Sekretaris Yura yang angkat bicara, Jaejoong hampir saja bereaksi pada kata-kata pedas itu kalau saja Yoochun tidak menahannya.

Jaejoong terpaksa menahan kekesalannya dan hanya menatap Yoochun yang berjalan mendekati gadis bernama Han Yura itu.

"Mengatakan 'tidak berpendidikan' pada seseorang di hadapanmu itu juga tidak sopan, cantik.." goda Yoochun dengan gaya Cassanova-nya yang tidak diragukan lagi.

Jaejoong mengangkat dagu karena merasa menang.

Yunho nyaris saja tertawa melihat pertengkaran level anak sekolah dasar ini kalau saja utusan dari grup Pyeongchang tidak segera datang dan meminta Jung Corp. memulai presentasi pertama.

Siwon melempar tatapan yang sulit diartikan pada Hangeng.

Selanjutnya empat orang dengan pakaian rapi dan formal itu memasuki ruang 'eksekusi'.

Jaejoong dan yang lainnya beranjak menuju tempat yang telah disediakan untuk menunggu giliran mereka.

"Dilihat aslinya ternyata sangat menyebalkan ya?" keluh Junsu.

Jaejoong terkekeh, "Dia itu memang menyebalkan.. Orang-orang di sekitarnya juga jadi menyebalkan.."

"Ne, sayang sekali.. Padahal sekretaris tadi cantik sekali.."

"Yoochunnie..." tegur duo Kim bersamaan.

.

.

.

Tak berapa lama, grup Jung Corp. keluar dengan riuh tepuk tangan dari dalam ruangan. Mereka berempat berjalan penuh percaya diri menuju tempat duduk di sebelah anggota OZ.

Di belakang mereka, seorang perempuan menghampiri anggota OZ.

"OZ advertising? Silahkan.." Pintanya sopan.

Jaejoong mengangguk paham dan membiarkan perempuan itu pergi terlebih dahulu.

Ia memberi isyarat agar ketiga rekannya itu berkumpul dan melakukan diskusi ringan sebelum presentasi besar ini mereka lakukan.

"Dengar, kita harus melakukannya sesuai dengan instruksi Yujin kemarin ya? Oke?"

Semua mengangguk mengerti terutama Junsu yang selalu dipenuhi semangat.

Hangeng yang lebih dulu berjalan menuju ruang eksekusi itu, Yoochun dan Junsu membawa beberapa box berisi peralatan yang mereka butuhkan untuk presentasi ini, sungguh kontras dengan Jung Corp. yang hanya membawa laptop dan beberapa berkas.

Yang terakhir mengekor justru si direktur cantik, Kim Jaejoong. Setelah berhasil melempar senyum penuh ejekan pada Jung Yunho, ia pergi dengan dagu terangkat.

Membuat Yunho diam-diam mengulum senyum setelah gadis itu pergi.

.

.

.

"Tidak mau, aku tidak mau pindah!" Oke, kali ini agak aneh memang, tapi OZ sepertinya berniat menunjukan totalitas presentasi mereka, terbukti dari konsep mereka yang lebih seperti mini-drama rupanya.

Dimana Yoochun menjadi seorang nenek, Junsu anaknya sementara Jaejoong cucunya.

Hangeng bertugas sebagai director seperti biasa dan menjelaskan tentang konsep mereka ini.

"Aigoo, Halmeoni.. Kenapa tidak mau pindah rumah?"

"Pokoknya aku tidak mau! Tidak mau ya tidak mau!"

Bergantian, mereka menyusun properti layaknya sebuah drama sekolah dasar.

"Pernahkah kalian berpikir mengapa orang tua tidak pernah mau meninggalkan rumah lama?" Hangeng menjelaskan sesuai ide yang dicetuskan Yujin.

Junsu kembali membawa replika rumah baru yang disimbolkan sebagai rumah dari Pyeongchang realty.

"Eomma.. Jangan khawatir.. Kau masih bisa menanam sayuran dirumah baru kita dan ini.." Junsu memperlihatkan sebuah dinding dengan coretan-coretan garis.

"Ini coretan tinggi Jaejoong dari kecil, kau tidak perlu merindukannya karena kita akan punya di rumah yang baru."

Dan dengan konsep dasar seperti ini, mini-drama mereka selesai, mereka berdiri sejajar selama Hangeng menjelaskan.

"Di Pyeongchang realty, kami bukan hanya sekedar menyediakan rumah.. Tapi juga membantu meneruskan kenangan.. Karena kami membuatnya dengan hati."

Serempak mereka membuat tanda segitiga dari telunjuk dan ibu jari kedua tangan yang disatukan.

"Ini presentasi dari OZ, semoga anda berkenan.." Mereka pun mengakhiri presentasi proposal dan menunggu reaksi.

Mereka berdiri dengan tatapan optimis.

Tak seperti yang mereka duga, ruangan justru sepi. Mendadak rasa percaya diri mereka menguap begitu saja, Hangeng hanya melirik pada ketiga dongsaeng-nya.

Namun perasaan itu diruntuhkan saat pimpinan Pyeongchang realty yang tiba-tiba berdiri dan memberi tepuk tangan diikuti semua penilai.

Mereka tentu saja kaget, tapi melihat senyum puas di wajah sang pimpinan akhirnya membuat mereka kembali optimis.

.

.

Para anggota Jung Corp. terutama Siwon terkesiap saat mendengar tepuk tangan yang lebih riuh dibanding saat presentasi mereka.

Sementara lagi-lagi Yunho tersenyum. Puas akan reaksi yang di dapat OZ meski ia tidak bisa secara langsung melihat presentasi itu.

Tim OZ kembali keluar dan duduk di bangku ruang tunggu seperti semula dengan wajah ceria, menghiraukan tatapan sengit dari Siwon dan kedua sekretarisnya. Sementara Yunho hanya membuang tatapan ke arah lain.

Mereka hanya menunggu sampai sekitar lima belas menit hingga perempuan yang sebelumnya mempersilahkan masuk kini membawa amplop berisi surat hasil keputusan.

"Terima kasih sudah datang hari ini.." Ia membungkuk sopan pada kedua belah pihak setelah yakin memberikan hasil keputusan dengan tepat kemudian kembali pergi.

Sepertinya tim OZ lebih tertarik melihat ekspresi para petinggi Jung Corp. saat membuka amplop itu.

Ada raut kekecewaan di wajah Siwon dan dugaan mereka kalau Jung Corp. ditolak kini diperkuat dengan sikap sang COO yang mengajak CEO sekaligus dua sekretarisnya kembali ke kantor.

"Kita bicarakan ini di kantor.." seperti kebakaran jenggot, COO itu segera berjalan cepat.

Jaejoong hampir saja tertawa melihat gelagat Siwon, tapi ia harus menahan tawa itu saat tahu Yunho yang hendak beranjak justru menyempatkan diri menatapnya.

Jaejoong hanya menarik ujung bibirnya dan menatap penuh ejekan seolah berkata 'Loser!'.

Yunho tak mau ambil pusing soal ejekan itu, ia segera mengekor ketiga temannya dan pergi dari hadapan OZ.

"Ahaha~ Kau lihat wajah mereka? Kutebak, pasti mereka ditolak.." Yoochun tertawa riang.

"Berhenti tertawa, bodoh.. Kita belum tahu apakah kita juga diterima..." Junsu menatap amplop di tangan Jaejoong.

"Kalau sampai kita ditolak juga, aku tidak yakin OZ bisa kembali mendapatkan proyek lain selama 3 bulan kedepan." ia menggenggam erat amplop itu.

"Kalau begitu bukalah.. Kita harus tahu hasilnya kan?" Hangeng tersenyum lembut.

Jaejoong mengangguk dan dengan perasaan begitu tegang, ia membuka amplop itu.

Sungguh, ia terus berdoa selama inchi deni inchi kertas itu keluar dai amplop.

Jaejoong melotot kaget saat melihat sederetan kata-kata di kertas itu.

"Hangeng oppaa!"

Jaejoong membalik kertas itu, menunjukkan pada ketiga rekannya.

'Pyeongchang realty memutuskan presentasi milik OZ advertising DITERIMA dan melanjutkan proyek yang telah disepakati."

"Kyaaa!"

"HUAAHHH!"

Mereka meluapkan rasa bahagia mereka dengan berteriak dan akhirnya berpelukan.

Ini awal yang baru bagi OZ.

.

.

Para anggota Jung Corp. baru saja keluar dari lift di lantai dasar dan berjalan menuju pintu keluar.

Siwon sepertinya menjadi pihak yang paling tidak bisa menerima keputusan presdir Pyeongchang, berbeda dengan Yunho yang tetap diam sejak tadi.

"Kalau hanya masalah itu, aku akan segera menyelesaikannya.. Yunho, kau harus ikut ke kantor untuk mendiskusikan masalah ini.. Kita harus mencoba—"

Kata-kata Siwon terputus saat Yunho mengangkat tangan.

"Choi Siwon, sahabat baikku.. Kau lupa kalau aku sedang li-bu-ran? Jadi tolong jangan ganggu aku lagi, oke?"

Jung Yunho melempar senyum sebelum akhirnya pergi begitu saja menuju mobilnya yang diparkir diluar. Mengabaikan Siwon yang menatap kesal sambil meremas proposal tadi, dan kedua sekretarisnya yang mendesah kecewa.

Ia tak peduli.

Dan setelah berhasil masuk ke mobil, ia mengecek baju yang sudah disiapkan butler Hong—baju milik Yujin tentunya.

Ia tersenyum sesaat sebelum kemudian dering ponsel mengganggunya.

Kim Jaejoong is calling...

Yunho segera mengangkat panggilan itu.

"Oh? Yeobseyo?"

["Yeobseyo? Yujin-ah! Kau dimana?"]

"Ohng? Ah.. Aku masih di... Rumah.." Jawab Yunho ragu-ragu.

["Apa kau akan datang ke OZ hari ini? Aku akan mentraktirmu!"]

Yunho tersenyum kecil, "Ohya? Ada apa memangnya?"

["Kau brillian, Yujin-ah! Proposal kita diterima Pyeongchang realty! Kami akan merayakan ini di OZ, kalau kau sempat.. Datang ne?"]

"Oh.. Araaa~ Aku akan kesana sekarang.."

.

.

.

"Bersulang~!"

Kelima botol soju berwarna hijau itu berdenting karena saling bersentuhan, setiap pemilik segera meminum isinya dengan raut cerah.

Anggota OZ sedang gembira kini, dan kenyataan bahwa proyek ini mereka dapat berkat seorang Park Yujin membuat mereka harus merayakannya.

"Yujin-ah.. Bersulang denganku.. Berkatmu kita jadi punya pekerjaan untuk tiga bulan kedepan.." Yoochun mengangkat botol miliknya ke arah Yunho dan mengajaknya minum.

"Denganku juga~ Terimakasih, Yujin-ah!" Junsu ikut bersulang untuk Yunho yang terlihat kesulitan menghabiskan minuman beralkohol itu.

Dan kemudian Hangeng dengan sikap tenangnya ikut bersulang, mengangkat botol miliknya dan mengabaikan Yunho yang membenarkan kacamatanya dengan gesture canggung.

Sepertinya mereka begitu gembira.

Dan terakhir Jaejoong, gadis cantik yang sejak tadi duduk di samping kanan Yunho itu memberikan senyum cantiknya sebelum mengangkat botol soju-nya.

"Mereka benar, OZ akhirnya kembali hidup karenamu.. Aku sungguh berterima kasih.."

Yunho sempat terdiam—terpesona sebenarnya, tapi begitu mendengar suara botolnya dan milik Jaejoong beradu, namja tampan itu tersentak dan tersenyum kaku.

"Kalian berlebihan.. Itu juga karena usaha kalian kan? Aku bahkan tidak ikut presentasi." Yunho merendah diri.

"Eiissh.. Bicara apa kau.. Idemu saja sudah bisa membantu kami, apa jangan-jangan kau ini malaikat penolong OZ yang dihadiahkan oleh Tuhan?"

Abaikan Yoochun, dia sudah mulai mabuk sepertinya.

"Baiklah, ayo makan.. Sup kita sudah siap~" ajak Junsu dan lima pasang sumpit pun diangkat.

.

.

.

10.25 pm

OZ terlihat agak berantakan.

Hanya di bagian yang mereka tempati sebenarnya. Tapi cukup terlihat kacau.

Jaejoong dan Junsu sudah tidur sambil saling bersandar. Begitupun dengan Yoochun yang kelihatan sudah mabuk berat.

Hanya Yunho dan Hangeng yang masih sadar, meski pipi Yunho sudah memerah karena setengah mabuk tapi ia masih mencoba mempertahankan kesadarannya.

Hangeng juga sepertinya memiliki toleransi tinggi terhadap alkohol.

"Yujin-ah.. Aku sungguh-sungguh berterima kasih.." Pria tenang yang paling dewasa itu membuka pembicaraan.

Yunho tersenyum simpul, "Kalian terus mengucapkan itu semenjak aku datang, dan sudah kubilang aku tulus melakukan ini untuk OZ."

Hangeng menyentuh botol soju-nya yang entah keberapa.

"Sebenarnya apa yang membuatmu begitu menyukai OZ?" akhirnya pertanyaan semacam ini keluar juga dari mulut salah satu anggota OZ.

Yang ditanya tersenyum.

Yunho menerawang sesaat, kembali mengingat masa-masa saat ia ada di bangku kelas sembilan sekolah menengah.

"Ayah dan Ibuku sering sibuk.. Aku hanya bersama pamanku dirumah, dan tak banyak hal yang kuingat menyenangkan selain terus duduk di depan televisi."

Hangeng memperhatikan Yunho.

"Aku tertarik pada iklan-iklan di sana terutama iklan dari OZ, iklan kalian selalu menarik. Dan entah sejak kapan aku selalu tidak sabar untuk pulang kerumah dan menonton televisi, karena itu satu-satunya cara melupakan kesepianku." jelasnya panjang lebar tanpa kebohongan kali ini.

Hangeng mengangguk paham.

"Iklan yang kau maksud, itu buatan Dongwook.. Kakak Jaejoongie. Dan dia sudah meninggal." Yunho sebenarnya tidak terlalu kaget, untungnya Hangeng mengatakan itu bukan untuk melihat reaksinya. Tatapan mata Hangeng justru menuju pada poster iklan kebanggaan OZ itu, sekaligus iklan terakhir yang diproduksi oleh Dongwook.

"Hari itu, ketika Dongwook dibawa kerumah sakit dan dinyatakan tidak bisa terselamatkan, Jaejoongie yang masih berumur 14 sudah bertekad mengambil alih perusahaan dan meneruskan impian kakaknya. Aku sungguh takjub."

Pandangan Yunho kini teralih pada gadis cantik yang asyik terlelap tak jauh darinya. Ia akui memang gadis itu terlihat luar biasa.

"Ia berniat melakukan ini dengan kemauannya sendiri, bukan paksaan dari siapapun.. Dan akupun berusaha membantunya mempertahankan OZ, disamping rasa hormatku juga sebagai junior Dongwook. Aku tidak mengerti apa-apa tentang manajemen perusahaan, karena itu OZ baru resmi menerima kasus 2 tahun lalu, setelah Jaejoongie lulus."

Yunho terus memperhatikan, tak tahu kalau ternyata usaha mereka mempertahankan OZ begitu keras.

Ada rasa bersalah yang sedikit banyak menghantam ulu hatinya.

Mereka terdiam, sampai akhirnya Hangeng beranjak.

"Jja.. Sudah hampir jam 11, aku harus membawa mereka pulang sepertinya." Dan Yunho pun ikut beranjak meski agak sempoyongan.

Hangeng mulai membangunkan duo Kim sementara Yunho mendekati Yoochun. Dan Hangeng lupa memberitahu Yunho soal—

"Jangan bangunkan dia!"

—kebiasaan buruk Yoochun ketika mabuk.

Terlambat, merasa bahunya ditepuk, Yoochun pun bangun dan segera meracau tak jelas sambil menendangi meja.

"Ayo-ng~ Kita minum... Lagi Yujyin~ Hik—"

Yunho terperangah dan terkejut saat Yoochun memeluk-meluknya.

Hangeng memintanya membawa Jaejoong terlebih dulu dan itu membuatnya lebih kaget, tiba-tiba saja lengan Jaejoong sudah berpindah merangkul bahunya.

"Aku akan mengurusnya, tolong bawa Jaejoong ke sofa dulu." pinta Hangeng.

Yunho mengangguk paham dan segera membawa tubuh gadis itu ke dalam rangkulannya.

Keadaan Jaejoong tak jauh berbeda. Ia terus meracau tak jelas di telinga Yunho.

Yunho yang sudah tak sanggup menahan bobot dua tubuh sekaligus—tubuhnya dan Jaejoong pun ambruk di sofa, ia duduk bersandar di bagian ujung dan Jaejoong diujung lainnya.

Mual mulai menyerang Yunho yang akhirnya tanpa sadar melepas kacamatanya. Berusaha menghirup nafas banyak-banyak untuk menetralkan mabuknya.

Jaejoong yang setengah sadar membuka matanya untuk melihat Yunho yang sibuk memejamkan mata sambil bernafas pendek-pendek di bagian ujung sofa.

Gadis itu mendekatkan tubuhnya pada Yunho dan memperhatikan namja tampan itu meski sekarang logikanya sedang nol persen.

Jaejoong tersenyum sesaat, entah karena apa. "Kauh.. Jung Yunho kan? Ngh.." ia menunjuk Yunho.

Yunho sendiri mengernyitkan dahi masih sambil menutup mata, "Haishh.. Bukan.." ditepisnya tangan Jaejoong.

Ia tak berani membuka mata, sejujurnya. Mendengar suara Jaejoong begitu dekat di telinganya dan bahkan ia bisa merasakan sapuan lembut nafas gadis itu di pipi kirinya.

"Ah.. Kau benar.. Jung Yunho itu kan—hik rambutnya selalu keatas dan rapi. Haha~" tingkah Jaejoong persis seperti orang gila.

Namun karena tak lagi kuat bertahan, kesadaran Jaejoong kembali menurun. Ia justru jatuh tertidur dengan pipi menempel di dada bidang Yunho.

Dan jangan ditanya, Yunho sendiri pun sudah kehabisan energi untuk bertahan membuka mata.

Mereka terlelap di atas sofa beludru ungu itu dengan posisi yang kelewat intim.

Jaejoong tidur dengan nyaman di atas dada Yunho, sementara posisi Yunho setengah duduk meski kepalanya ia sandarkan ke sisi samping sofa, tangan Yunho entah mengapa. sudah berada di pinggang ramping Jaejoong. Membuat posisi mereka benar-benar tak ada celah.

Semoga saja Yunho bisa bangun terlebih dulu sebelum ada yang melihat keadaan mereka yang seperti ini.

.

.

.

.

Tapi sepertinya baik Yunho ataupun Jaejoong masih belum ada yang mau bangun pagi itu.

Bahkan sampai ketiga anggota lain berdiri di samping sofa itu sambil memandang ragu. Namun berakhir dengan senyum maklum.

Yoochun akhirnya berinisiatif membangunkan namja yang kini sedang memeluk bos-nya.

"Hei, bangun.." ia mengetuk pelan dahi Yunho, membuat Yunho mengernyit dan memegang dahinya sendiri. Butuh beberapa saat sampai Yunho membuka mata dan menyadari keadaan.

Jaejoong yang tidur menindihnya dan tiga anggota OZ yang memandang mereka seolah menangkap basah seorang pencuri.

Bedanya mereka bertiga justru tersenyum aneh.

Yunho gelagapan, ia segera bangun dan membawa tubuh Jaejoong untuk tidur diatas sofa itu menggantikan tubuhnya.

Dengan cepat Yunho memakai kacamatanya meski sempat terjatuh karena salah tingkah.

Ia bangun dan mengambil ranselnya.

"Ma-maafkan aku.. Aku pulang dulu.." tanpa menunggu jawaban dari yang lain, Yunho segera pergi dengan tertunduk.

Mereka hanya bisa menatap sampai pintu OZ kembali tertutup.

Dan secara kompak, mereka kembali menatap satu orang yang tersisa diatas sofa.

Tampaknya gerakan Yunho yang memindahkannya tadi mengusiknya hingga akhirnya gadis itu kini terbangun dan dengan kesadaran yang belum pulih seutuhnya, ia menatap rekan-rekannya.

"Ke-kenapa?" tanyanya dengan wajah polos.

Mereka hanya tersenyum dan menggeleng.

.

.

"Jja~ Ini teh hijau untuk sajangnim~" Junsu meletakkan sebuah cup minuman diatas meja Jaejoong, tepat didepan Bosnya yang sedang mengetik sesuatu itu.

"Dan ini, americano... Bagus untuk menetralkan hangover.." Yoochun ikut menaruh satu cup berlabel toko sama seperti yang diberi Junsu.

Jaejoong hanya menatap bingung, apalagi saat Hangeng juga menaruh cup lain, meski tanpa penjelasan. Tapi apa ia harus menghabiskan semua ini?

"Kenapa kalian aneh?" bingung Jaejoong, Junsu dan Yoochun terkikik geli.

Sementara Jaejoong yang menunggu jawaban malah kesal. "Hangeng oppa?" Panggil gadis itu seolah menuntut jawaban.

Hangeng ikut tersenyum geli. "Sudah, pokoknya habiskan saja."

Jaejoong pun semakin bingung.

.

.

.

Tim OZ kembali ke kantor setelah sarapan bersama di luar, rencananya hari ini mereka semua—minus Yujin akan pergi ke lokasi Pyeongchang realty untuk memakai salah satu rumah sebagai tempat shooting iklan ini.

Jaejoong selaku direktur OZ pun sudah membicarakan dan mendapat persetujuan dari pihak Pyeongchang.

"Perlukah kita membawa bekal?" tanya Yoochun dengan muka bodoh khas-nya.

Junsu menepuk jidatnya sendiri, "Kau pikir kita mau piknik eoh?"

Tingkah duo ini memang selalu saja membuat Hangeng dan Jaejoong tersenyum.

Selesai berkemas peralatan untuk proses filming, Jaejoong berniat membawa sekotak besar penuh peralatan ke mobil mereka.

Namun langkahnya terhenti saat melihat seorang namja berpakaian rapi dengan sepatu mengkilap berjalan masuk ke kantor mereka yang memang hanya terdiri dari satu ruangan dan dibatasi rak-rak tinggi.

Mereka semua yang berada disana ikut menatap kesal pada 'tamu' itu, Jung Yunho.

Yunho dengan tingkah angkuh dan sombong seperti biasanya menatap sekeliling kantor kecil itu, memberi ekspresi meremehkan beberapa kali dan itu sungguh membuat anggota OZ kesal.

"Jadi, dimana murid-murid kalian?" Yunho merentangkan tangan, dengan nada melecehkan.

"Apa maksudmu?!" Yoochun yang memang paling labil merasa kesal.

"Yah, bukankah ini kindergarten? Jadi dimana anak-anak kecilnya?"

Yoochun hampir saja memberi satu pukulan untuk wajah 'sialan' si direktur muda, namun Yunho hanya tersenyum karena Hangeng menahannya.

Jaejoong yang kini berjalan dan berdiri di depan Yunho. "Ada perlu apa sepagi ini tuan muda Jung sudah datang ke kantor kami?"

Yunho menahan senyum dengan berpura-pura menggosok hidungnya sendiri, ah rasanya begitu menyenangkan mengganggu gadis cantik ini.

"Uhm.. Hanya ingin memberi selamat karena kalian mendapatkan kasus Pyeongchang realty.. Kurasa itu sebuah langkah besar yang hebat sebagai saingan baru Jung Corp." sindir Yunho dibalas tatapan super sinis dari Jaejoong.

"Cih.. Kami tidak butuh ucapan selamatmu." sambil membawa kotak tadi, Jaejoong berlalu setelah berhasil menubruk bahu Yunho dengan sengaja.

Yang lain pun kembali beres-beres setelah Jaejoong keluar untuk menaruh barang di mobil, seolah tak ada Jung Yunho disana.

Yunho hanya tersenyum puas.

Sementara di luar, setelah selesai membereskan barang yang harus dibawa menuju lokasi filming, Jaejoong beranjak. Namun ia terganggu karena sebuah panggilan masuk ke ponselnya.

Gadis cantik berambut karamel itu segera mengangkat panggilan.

"Yeobseyo?"

["..."]

"Ne.. Benar..."

["..."]

Dan setelah terdiam beberapa detik untuk mendengar penjelasan di ujung sambungan itu, ekspresi wajah Jaejoong berubah.

Ia segera menatap sengit ke arah dalam kantornya sendiri.

.

.

Yunho yang diabaikan akhirnya memutuskan untuk memperhatikan para bawahan Jaejoong—Hangeng, Yoochun, dan Junsu.

Namun ia pun mendapat sebuah panggilan, dan ketika mengecek ponselnya nama 'Siwon'-lah yang ia dapat.

Yunho menggeser tombol hijau dengan malas.

"Ada apa, Siwon-ah?"

["..."]

Sama seperti Jaejoong sebelumnya, Yunho hanya terdiam mendengarkan kalimat demi kalimat yang Siwon ucapkan.

Dan Yunho melotot horor saat tahu kemana arah pembicaraan itu.

"Shit!" Yunho segera menoleh ke arah pintu masuk OZ.

Seperti sudah menduga bahwa gadis cantik berambut karamel itu akan masuk dan...

PLAKKK!

.

.

Well, sesuai perkiraannya...

.

.

.

.

to be continued.

.

.

.

Annyeong~!

Saya kembali bersama Yujin dan anggota OZ(ouzi)! ^^

Maaf ya buat lamanya update ff ini, padahal niat mau update tp terus-terusan kena syndrom males ngetik XD

Jujur, cerita bertema gini ngebosenin gak sih? :((

Makasih buat kalian yang masih baca chapter ini, semoga suka ya...

See ya in the next chapter!

.

.

Special thanks for :

Summer Cassie || tasya vianita || Mami Fate Kamikaze || Rahma94 || ajid yunjae || ruixi || danacbeth || anin || Ai Rin Lee || Fuji Ai Chan || JungKimCaca || fane || Park July || PURPLE - KIMlee || onkey shipper04 || ShinJiWoo920202 || liankim10 || shanzec || kimi || BunnyEvilKim || azahra88 || yunjae q || myflowerlady3 || Dipa Woon || Jung sajangnim || Rly C Jaekyu || KimYunhoJungJonghyun || Bambaya || sachan || hong h dana || babyuno || sanaki chan || YunjaeDDiction || GhaldaBalqies and for all guests & silent readers ^^