GOT7 Fanfiction.

CAST

1) TOP (SEME) GOT7's JB. GOT7's Jackson ;

2) BOTTOM (UKE) GOT7's Junior/ Jie / Jinyoung. GOT7's Mark.

3) Other Cast from EXO's members.

Caution :

Yaoi. Shounen Ai. I set the boylove in this story as a normal life. I told you before you read this story. So, enjoy it or leave it ^^

Dan alurnya maju-mundur, jadi baca dengan hati-hati ya reader :*


"Mark?!"

Jackson bertanya dengan nada melengking. Dan itu sukses membuat Jaebum kaget dan membuat Jinyoung menatapnya curiga.

"Iya. Mark adalah pacarku. Kenapa kau bertindak seolah-olah mengenalnya?"

Jaebum bertanya usil. Meskipun ia bertanya dengan nada datar dan terkesan acuh.

"Kalau kau sudah punya pacar kenapa kau mengatakan tertarik pada Jinyoung? Hah?!"

Jackson frustasi. Ia tak bisa menjelaskan bagaimana ia mengenal Mark, maka ia berpura-pura menyalahkan Jaebum yang berani-beraninya mendekati pacarnya padahal ia sudah punya pacar.

Mendengar nama Mark, membuat Jackson salah tingkah. Itulah yang terjadi setiap ia mendengar sesuatu berbau Mark, meskipun itu hanya namanya saja. Padahal 'Mark-nya' Jaebum belum tentu sama dengan 'Mark-nya'.

Jinyoung yang memang tanggap, memandang curiga pada Jackson. Lalu tanpa aba-aba, ia melepaskan pelukan Jackson di pinggangnya dan pergi dari situ tanpa permisi.

Jackson yang tersentak karena tiba-tiba Jinyoung melepaskan pelukannya dari pinggang Jinyoung pun, langsung menghentikan langkah Jinyoung dengan kalimat-

"Baby, kau mau kemana? Perutmu kan masih sakit."

"Tidak. Seseorang bernama Mark sudah menyembuhkan perutku."

Jackson bungkam.

Tentu saja itu hanya sindiran. Jinyoung tak tahu siapa Mark, tapi melihat Jackson begitu terkejut dan gelagapan saat mendengar nama Mark, Jinyoung yakin kalau Mark adalah orang istimewa bagi Jackson. Dan Jinyoung tak suka dengan kenyataan itu. Bagaimana pun sekarang Jackson sedang menjalin hubungan dengannya, ia tak mau ada orang ketiga di dalam hubungan mereka. Karena sudah setahun mereka menjalin hubungan, dan dia masih sangat menyukai Jackson. Jinyoung hanya berani mengatakan bahwa ia sangat menyukai Jackson, bukan mencintai, karena ia tak mengerti hakikat cinta yang sesungguhnya, apalagi hubungan mereka saat ini masih dibilang dangkal. Tentu sja, mereka masih teenagers, untuk menyebut itu cinta, rasanya terlalu berlebihan.


Sudah jam pulang sekolah.

Jackson langsung pulang tanpa menunggu Jinyoung, karena Jackson sangat paham saat Jinyoung marah seperti ini, ia tak akan mau diganggu. Jadi daripada Jinyoung tambah marah karena melihat Jackson, maka ia memilih untuk pulang duluan. Sekalian untuk memberi kesempatan Jinyoung untuk merindukannya, sih!

Jaebum menghirup napas lega. Sekolah di hari pertamanya berlangsung sangat lama dan membosankan, menurutnya. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, ia langsung menghambur ke luar kelas. Ia sudah ingin pulang ganti baju kemudian pergi main bilyard bersama teman-teman elitnya. Sedangkan Jinyoung? Ah, Jaebum sedang tidak mood untuk menemui pria manis itu. Ia lebih ingin pergi bersama teman-temannya daripada menggoda dan mendekati Jinyoung untuk saat ini. Tentu saja perkataannya tadi tentang ia tak tertarik lagi pada Jinyoung adalah bohong, karena sebenarnya ia semakin tertantang karenaJinyoung sudah memiliki pacar.

Tetapi belum sempat ia keluar dari gerbang sekolah, ia melihat—

"Mark?"

Jaebum menyebut nama itu sambil melangkah mendekati sosok pria cantik dan elegan itu. Jaebum akui, Mark memang sangat cantik, dan menarik sehingga banyak sekali pria 'top' maupun gadis-gadis tergila-gila padanya. Namun meskipun begitu, Jaebum sama sekali tak tertarik pada Mark, setidaknya untuk saat ini. Itulah yang membuat Jaebum bingung pada dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia bisa tidak tertarik pada Mark yang memiliki fisik sempurna dan sikap yang lembut itu?

"Mark, kenapa datang kemari?"

Tanya Jaebum diiringi senyuman manisnya saat ia sudah sampai di hadapan Mark.

"O, Jaebum, aku hanya ingin melihat dimana kau bersekolah sekarang."

Mark menjawab diiringi senyum manis mengembang di wajahnya. Ia benar-benar merasa sangat senang bisa bertemu dengan Jaebum-nya. Perlu kau ketahui, Mark baru saja pulang dari Jeju. Ia jalan-jalan kesana sendirian karena sebelum itu ia bertengkar dengan Jaebum maka ia memutuskan untuk pergi ke Jeju hanya untuk menenangkan pikirannya. Mark dan Jaebum adalah anak-anak kelas atas, ingat itu. Jadi jangan bertanya mengapa Mark bisa bolos sekolah dan pergi ke Jeju seenaknya sendiri.

"kau sudah tak marah, Mark?"

Pertanyaan Jaebum itu hanya basa-basi. Ia tahu Mark sudah tak marah padanya. Karena ia sudah hapal, jika Mark menemui Jaebum setelah mereka bertengkar, itu artinya Mark sudah tidak marah. Tak peduli Mark ataupun Jaebum sudah meminta maaf dan memaafkan atau belum.

Dan Mark selalu tahu bahwa Jaebum hanya berbasa-basi.

"Kenapa tiba-tiba pindah? What the fuck going on that made you moved to school which is really not your style, huh?"

Mark bertanya dengan Bahasa Korea bercampur Bahasa Inggris, ciri khasnya saat ia benar-benar membutuhkan jawaban dari sebuah pertanyaan.

"Mark, jangan membawa perasaanmu dalam urusan seperti. Kau tahu aku tak menyukainya."

Jawab Jaebum dingin. Sikap hangatnya pada Mark rupanya tak berlangsung lama.

"Apa perlu aku tegaskan lagi tentang bagaimana bentuk hubungan kita? Kau tahu pasti dari pertama kali kita menjalin hubungan ini."

Mark terkejut. Ini bukan pertama kalinya Jaebum berkata seperti ini kepadanya. Bahkan seringkali ia mendengarnya. Dan jika Jaebum mnegatakan seperti itu, sebentar lagi ia akan meninggalkan Mark sendirian. Meskipun pada akhirnya nanti Jaebum akan menyuruh seseorang untuk menjemput Mark.

Dan benar saja, Jaebum pergi begitu saja.


Hati Mark sakit, tentu saja. Ini baru beberapa menit mereka berbaikan setelah selama seminggu mereka hilang kontak.

Mark menundukkan kepala, ia memikirkan lagi alasan mengapa ia tak pergi dari Jaebum atau Jaebum tak memutuskannya, dan semuanya berputar sangat jelas di otaknya. Meskipun hatinya tetap tak bisa menerima hasil analisis dari otaknya itu.

Awal Mark menjalin hubungan dengan Jaebum adalah saat mereka kelas satu SMA. Saat itu jam pulang sekolah, ia menunggu jemputan di dalam lobi sekolah. Sekolah mulai sepi dan ia sendirian di lobi itu. Tiba-tiba ada seorang pria sangat tampan dan gagah menghampirinya kemudian tanpa permisi memegang pipinya dengan kedua tangannya dan mencium bibirnya dengan lancangnya. Ia sangat kaget. Dan syok berat. Ini ciuman pertamanya, dan diambil tanpa ijinnya. Ia sangat marah, tapi saat pria mulai sedikit memperdalam ciumannya, ia merasa hatinya menghangat.

'Siapa pria ini?'

Mark tak bisa berkata apa-apa. ia juga tak bisa marah ataupun memukul pria itu, karena ia terlalu syok dan membuatnya lemas seketika. Dan saat ciuman itu berakhir, pria itu mengatakan—

"terima kasih, kau telah membebaskanku dari hukuman menjijikkan teman-temanku."

Omo! Pria yang ternyata adalah Jaebum, hampir membuat Mark pingsan dengan kalimatnya yang terdengar sangat ringan dan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Apalagi setelah memberikan senyuman manisnya, pria itu langsung pergi begitu saja.

Dan Mark mematung di tempat. Apa yang harus ia lakukan?

Beberapa minggu setelah itu, Mark bertemu lagi dengan Jaebum. Mark ingin menghindar, tapi ia sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi sampai Jaebum begitu beraninya menciumnya di sekolah. Maka ia menghadang Jaebum saat itu juga. Namun belum sempat ia bertanya pada Jaebum, pria tampan itu sudah mendahuluinya dengan meminta Mark menjadi pacarnya. Sebegitu ringankah hal seperti ini untuk Jaebum?

"Beritahu aku siapa namamu dan jadilah pacarku."

Kata Jaebum tegas membuat Mark tak bisa berkutik. Mark tak menjawab karena terlalu kaget dan diamnya Mark berarti jawaban 'iya' untuk Jaebum.

Disisi lain, saat Jaebum ada di dalam mobil yang dikendarai oleh sopirnya setelah ia bertengkar dengan Mark di gerbang sekolahnya tadi, ia juga sedang memikirkan hal yang sama dengan Mark. Ia memikirkan alasan dibalik hubungannya dengan Mark, dan mengapa hubungan yang aneh itu bisa bertahan selama setahun lamanya.

Ingatan Jaebum kembali ke masa setahun yang lalu saat ia menghampiri Mark dan menciumnya dengan lancangnya. Saat itu ia hanya taruhan dengan teman-temannya dan Jaebum kalah. Maka ia harus mendapat hukuman dengan dua pilihan, untuk membersihkan toilet sekolah yang baginya sangat menjijikkan selama sebulan penuh, atau ia mencium orang asing yang sama sekali tak pernah ia lihat dan ia kenal sebelumnya. Dan pada saat itu ia kebetulan melihat Mark di lobi sekolah, dan ia pikir Mark tak terlalu buruk untuk ia cium karena pria itu memang sangat cantik.

Maka Jaebum memilih hukuman kedua, mencium orang asing itu. Dengan begitu ia benar-benar lolos dari hukuman yang menjijikkan.

Beberapa minggu setelah kejadian itu, saat Jaebum berkumpul dengan teman-temannya di sebuah kafe, ia menjadi sedikit risih karena teman-temannya membawa serta pacar mereka masing-masing. Dan itu benar-benar membuat Jaebum sebal. Bukan karena ia merasa dijadikan obat nyamuk, tetapi teman-temannya tak berhenti menghinanya sebagai pria single tak laku. Awalnya ia tak ambil pusing, tapi terkadang ia benar-benar sebal. Tapi temannya memang 'baik', selain mereka menghina Jaebum, mereka juga memberikannya 'solusi'.

"Bagaimana kalau kau mengencani pria cantik yang kau cium tempo hari?"

Jaebum hampir tersedak kopinya kalau saja ia tak menguasai dirinya. Tapi bukan Jaebum namanya kalau tak bisa bersikap cool.

Dan Kris, pria jangkung yang paling tampan di antara mereka adalah orang yang memberikan ide gila itu.

"Benar juga, ia kan tak kalah cantik dari Lay dan Kyungsoo-ku."

Sambung Kai, tanpa permisi. Dan itu membuat Jaebum mempertimbangkan saran mereka.

Maka yang terjadi selanjutkannya adalah sesuai dengan yang telah dipikirkan oleh Mark tadi. Jaebum menemui Mark dan memintanya menjadi pacarnya.

Saat Jaebum Meminta Mark untuk menjadi pacarnya dan dengan penuh percaya diri menyatakan bahwa Mark menerimanya, maka sejak itu Jaebum dan Mark resmi berpacaran. Jaebum benar-benar buta tentang Mark, karena dia memang tak pernah mencari tahu tentang Mark. Begitupun dengan Mark, ia bersedia menjadi pacar Jaebum karena ia menganggap itu sebagai bentuk tanggung jawab Jaebum karena mencuri ciuman pertamanya, sebelum ia tahu alasan Jaebum yang sebenarnya tentunya.

Suatu hari, untuk pertama kalinya, Jaebum mengajak Mark berkumpul dengan sahabat-sahabatnya yang ia sebut sebagai teman biasa dan memperkenalkan Mark sebagai pacar barunya. Dan saat itu, teman-teman Jaebum terlihat senang dan menerima Mark dengan baik. Namun setelah acara 'nongkrong' itu selesai dan Jaebum mengantar Mark ke apartemennya, Mark mulai mengerti semuanya.

Jaebum mengatakan semuanya, ia mengatakan dengan jujur. Jaebum mengatakan alasan dibalik tindakannya mencium Mark tanpa permisi dan kemudian meminta Mark menjadi pacarnya padahal mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Jaebum mengatakan semuanya –semuanya- termasuk—

"Mark, kita memang berpacaran, tapi jangan berharap banyak pada hubungan ini."

"Huh?"

Belum selesai Mark terkejut dan terluka karena hal dikatakan Jaebum sebelumnya, ia kembali harus menelan bulat-bulat kejujuran Jaebum yang lain.

"Kau memang sempurna, sangat sempurna, tapi sejujurnya aku tak tertarik padamu, dan kuanggap kau juga tak tertarik padaku, dan aku tak ingin tahu alasanmu mengapa kau mau berpacaran denganku. Yang jelas dan perlu kau ingat, jika aku memberi perhatian lebih kepadamu, jangan menganggap bahwa aku telah jatuh cinta padamu, karena itu hanya wujud tanggung jawabku kepadamu sebagai pacarmu saat ini. Karena itu, jangan pernah mencampuri uruasanku, akupun tak akan mencampuri urusanmu. Kau hanya berhak atas statusmu sebagai pacarku, tapi kau tak perlu bertanya apapun kepadaku tentang semua hal. Jadi, mari kita jalani hubungan ini dengan santai. Dan jika kau bosan, kau tinggal bilang padaku untuk menjauhimu. Dan semua akan selesai."

Jaebum mengatakan kalimat sepanjang dan sekejam itu dengan pandangan mata yang langsung menusuk kedua bola mata Mark dan itu membuat Mark tak berkutik. Mark merasa kalau ia tak mungkin menang dari Jaebum. Maka Mark menerima semua perkataan Jaebum itu dan meneruskan hubungan mereka hingga menuju angka 1 tahun sampai hari ini.

Bahkan sampai sekarang Mark dan Jaebum benar-benar tak tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap hubungan mereka. Karena Jaebum sampai saat ini belum menyukai Mark, dan Mark sampai saat ini tak tahu perasaan seperti apa yang sebenarnya ia miliki untuk Jaebum. Yang pasti, ia merasa memiliki Jaebum, meski hanya sebatas status dan fisik.


Mark dan Jaebum, memikirkan hal yang sama, meski di tempat berbeda. Jaebum di dalam mobilnya, dan Mark masih di gerbang sekolah Jaebum, melamun, kosong. Hingga—

"M-Mark?"

Mark merasa mendengar suara berat tapi lembut yang sangat familiar di telinganya. Mungkinkah.. mungkinkah itu suara Jackson?

Kemudian Mark menoleh ke sumber suara itu. Matanya Membulat penuh saat ia melihat—

"Jackson?!"

-His first crush.

Ya, Jackson was Mark's first crush. But for Mark, first crush doesn't mean first love. Bahkan sampai sekarang Mark tak yakin dengan perasaannya pada Jackson dulu. Saat itu mereka masih di Sekolah Menengah Pertama dan berada di ekstrakurikuler yang sama. Dan karena kebersamaan mereka setiap hari membuat Mark tertarik pada Jackson, dan sebenarnya Jackson juga merasakan hal yang sama, bahkan lebih dalam. Disaat Mark menyadari ketertarikannya dan merasa bahwa Jackson hanyalah cinta monyet yang akan berakhir konyol, maka Mark memutuskan untuk menjaga jarak, disaat yang sama Jackson berusaha mendekat karena Jackson merasakan hal yang ia rasa lebih dari perasaan suka, lebih dalam dari itu. Jackson sangat yakin bahwa Mark adalah cinta pertamanya.

namun faktanya, sebelum Jackson berusaha mengerahkan segala usahanya untuk meraih Mark, Mark terlebih dahulu menghilang dari pandangan Jackson. Pergi ke sekolah internasional paling bergengsi bergaya Amerika di kota Seoul dan itu tak mungkin diraih oleh Jackson. Jackson menyukai seni, dengan begitu Jackson tak mungkin pergi ke sekolah internasional seperti Mark. Mark benar-benar menghilang dari Jackson saat itu, karena setelah itu mereka tak pernah bertemu ataupun terhubung satu sama lain. Hingga hari ini tiba.

"Mark, bagaimana kabarmu?"

Begitu banyak hal yang ingin Jackson tanyakan dan sampaikan pada Mark, tapi hal pertama yang bisa Jackson lakukan adalah bertanya mengenai kabar Mark dengan sedikit perasaan gugup.

"aku baik. kau se-."

"Mark!"

Belum sempat Mark bertanya pada Jackson, sebuah suara berhasil mengagetkannya. Itu Kyungsoo, pacar Kai, sahabat Jaebum. Dan Mark sangat mengerti mengapa Kyungsoo bisa ada disini. Tentu saja Jaebum yang meminta tolong pada Kyungsoo untuk menjemput Mark. Karena Kyungsoo lah satu-satu ornag yang mengetahui sikap Jaebum yang sebenarnya terhadap Mark. Jaebum hanya mengatakan yang sebenarnya pada Kyungsoo, karena itu Jaebum selalu mengandalkan Kyungsoo untuk mengurus Mark. Jaebum bukan orang yang kejam untuk membuat semua orang tahu bahwa ia tak sungguh-sungguh menyukai Mark. Kris, Kai, dan Lay hanya sebatas tahu bahwa Jaebum tak benar-benar menyukai Mark pada awalnya, karena mereka sendiri yang meminta Jaebum untuk memacari Mark. Tapi mereka tak tahu bahwa sampai saat ini Jaebum belum jatuh cinta pada Mark dan tega meninggalkan Mark sendirian dan menyuruh Kyungsoo untuk menjemput Mark saat mereka bertengkar.

"Kyungsoo-ya!"

Dan begitu Kyungsoo memanggil Mark, Mark meneriaki nama Kyungsoo kemudian berlari ke arah Kyungsoo dan menjatuhkan kepalanya di pundak kyungsoo. Dan yang bisa kyungsoo lakukan adalah mengelus punggung mark untuk menenangkannya. Kyungsoo sudah hapal apa yang akan terjadi selanjutnya jika ia tak buru-buru mengajak Mark pulang.

"Tak apa. Mari kita pulang."

Kyungsoo sangat paham bahwa sekarang Mark sedang menahan air matanya, maka ia mengajak Mark pulang agar tangis mark tak pecah di tempat umum seperti ini.


Mendadak dada Jackson terasa sesak saat melihat kejadian itu. Bukan karena kehadiran Kyungsoo -karena ia yakin Kyungsoo adalah 'bottom'- tapi karena ia melihat bagaimana Mark mati-matian berusaha terlihat kuat padahal dari sorot matanya saja, Jackson dapat melihat bahwa Mark tengah terluka. Jackson tahu itu semua karena Jaebum. Meskipun tak mendengar obrolan Mark dan Jaebum tadi, tapi ia dapat melihat bahwa Jaebum meninggalkan Mark begitu saja. Benar-benar tak berperasaan, menurut Jackson.

Dan di sisi lain, Jinyoung melihat Jackson yang sedang terpaku melihat seorang pria yang terlihat sangat cantik dan elegan. Dan pria itu sedang bersama Jaebum. Oh, Jinyoung menebak bahwa itu Mark. Jadi setelah Jaebum pergi meninggalkan pria itu, kemudian Jackson berjalan mendekati pria itu, maka Jinyoung mengikutinya dari belakang sekedar untuk memenuhi rasa ingin tahunya.

Dan benar saja, ia mendengar Jackson memanggil pria itu dengan sebutan Mark. Bahkan Jackson terlihat gugup. Dan itu membuat Jinyoung semakin marah pada Jackson. Maka ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu sebelum hatinya bertambah sakit mendengar obrolan mereka.

"Jackson, kau tak akan meninggalkanku, kan?"

Batin jinyoung saat ia pergi dari situ sambil menahan air matanya yang sudah memaksa untuk keluar. Jinyoung mengutuk dirinya sendiri yang cengeng.

To be continued..

Terima kasih untuk yang udah review, fav, follow, dan read.

Sincerely,

.

-Salvia Im-

XOXO