Aku terbangun karena suara ponselku yang berdering. Dengan terpaksa aku bangkit dari tempat tidur dan melirik ponselku yang terletak di atas meja.
Aku segera meraih ponsel itu. Mata mengantukku tiba-tiba membulat ketika kembali membaca nama pengirim pesan yang masuk ke ponselku, 'Lu Na'.
Tiba-tiba saja, aku teringat dengan masa lalu. Saat gadis itu menindihku di atas sofa. Dan saat ia berkata dengan bibirnya yang kemerahan itu, "Aku menyukaimu."
.
Selasa
.
Luna memang merupakan tipe gadis yang bebas dan selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan. Masih jelas di ingatanku saat itu ia mengambil paksa majalah yang sedang kubaca, lalu menatapku dengan matanya yang bulat itu.
"Geez," saat itu aku berkata dengan nada bicara seolah sedang kesal, walaupun aku ingat jantungku berdebar sangat kencang saat itu. "Bila hyung melihat kita seperti ini, ia akan salah paham."
Namun bukannya segera bangkit dan menjauhiku, ia malah menatapku dengan tatapannya yang innocent, "Salah paham bagaimana?"
Aku tidak berkata apa-apa, dan membalas tatapannya itu. Namun ia malah tersenyum kecil, lalu membuang majalahku yang tadi ia pegang.
Dan ia mencium bibirku.
Spontan saja aku mendorong gadis itu dengan perlahan, karena aku masih sadar diri bila ia adalah seorang perempuan. Luna menatapku, lalu melebarkan senyum kecilnya itu, "Berpisah dengan Donghae itu tidak sulit."
Aku segera membuang wajah ketika ia kembali mendekatkan wajahnya. Aku berani bersumpah bila saat itu wajahku pasti terlihat sangat merah. Kupikir ia akan menciumku lagi, namun ia mendekatkan bibirnya pada telingaku, dan tangannya berada di dadaku. Ia berbisik,
"Hei," nada bicaranya sangat rendah. "Kau menyukaiku, kan.. Sehun?"
Dia merupakan kekasih hyung-ku, dan aku tidak mabuk saat itu. Namun entah mengapa, aku membelai rambutnya, lalu membiarkan ia kembali mencium bibirku, lebih dalam dari yang pertama.
.
.
.
Seven Days
cast: hunhan
lenght: chaptered
genre: romance, drama
rating: t
DISCLAIMER: Remake dari manga berjudul sama karya Tachibana Benio dan Takarai Rihito
warning: Boys Love, Typos.
.
.
.
RINGG!
Suara ponselku yang kembali berdering membuatku tersentak. Aku segera mencoba mengabaikan ingatan yang menggangu itu dan mengangkat ponselku. Luna sepertinya marah karena aku tidak membalas pesannya, sehingga ia menelponku.
Saat ia merupakan kekasih hyung-ku, aku juga sudah berkencan dengannya. Hingga sekarang, ketika hubungan kami sudah benar-benar berakhir, ia masih saja bersikap sama. Seolah kami masih berkencan seperti dulu.
"Yeobosseyo?"
"Kenapa kau tidak membalas pesanku?!" suaranya yang lantang hampir merusak telinga. Aku menghela nafas. "Cepat jemput aku di rumahku!"
"Tidak," jawabku cepat. Aku dapat mendengar suara krasak-krusuk dari ponselku.
"Kenapa kau tidak mau?" tanyanya dengan nada memelas. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Kemarin aku memang masih single, jadi tidak apa. Tapi sekarang aku sudah memiliki kekasih," aku tahu ini terdengar seperti alibi. Namun aku sama sekali tidak bercanda. "Jadi aku tidak ingin bertemu denganmu."
"Apa? Hal ini lagi?" nada bicara Luna seperti terkejut, padahal ia sudah tahu tentang kebiasaan mengganti pacarku itu. Namun tiba-tiba ia menghela nafas, membuat keningku bertaut. "Yasudahlah, lagipula tujuh hari lagi juga kau akan putus."
"Akan kututup."
"Kali ini seperti apa?" aku yakin Luna sedang tersenyum sekarang. "Apakah dia lucu?"
Aku tidak menjawab. Entah mengapa, aku jadi tersenyum ketika mengingat Luhan saat aku pertama kali melihatnya di klub memanah, "Dia lebih seperti.. Memukau."
"Apakah lebih memukau dari diriku?"
Aku segera memutuskan sambungannya dan mendengus. Mataku kembali menatap ponselku yang menunjukkan masih pukul enam pagi. Dan aku teringat dengan ajakkan Luhan kemarin,
Memang sebenarnya aku bukan hanya terkejut karena kami sama-sama laki-laki. Tapi mungkin lebih seperti, dia populer, dan dia belum memiliki kekasih. Bukankah itu terasa aneh?
Apakah mungkin aku bisa jatuh cinta kali ini?
Sebenarnya, berkencan selama seminggu itu kulakukan hanya agar aku bisa melupakan Luna. Agar aku bisa jatuh cinta pada orang lain, bukan pada seseorang yang merupakan kekasih hyung-ku sendiri. Ini memang baru hari selasa, namun aku sudah merasakan ada sesuatu pada seorang Luhan.
Tujuh hari memang waktu yang singkat, tapi itu kurasa itu sudah cukup.
Aku membolak-balikkan tubuhku di tempat tidur dengan resah. Memikirkan Luhan membuat tanganku gatal untuk mengetahui lebih dalam tentang dirinya. Aku kembali menyalakan ponselku, lalu mengetikkan sebuah pesan yang memang merupakan kebiasaan ketika aku sedang berkencan.
'To: Lu Han
Selamat pagi.'
Mataku kembali terpejam. Namun ketika aku hampir tertidur, ponselku kembali berbunyi, menandakan ada pesan baru yang masuk. Aku cukup terkejut ketika membaca pesan dari Luhan, karena ini merupakan pertama kalinya aku mendapatkan balasan yang bukan 'selamat pagi'.
'From: Lu Han
Kau tahu, aku sangat benci untuk dibangunkan pada saat matahari belum benar-benar bersinar.'
Aku membaca pesan itu berkali-kali, dan entah mengapa aku tersenyum. Aku tidak pernah menyangka, Luhan yang selalu terlihat memukau di luar ternyata merupakan seseorang yang galak.
Sebenarnya itu lucu.
"Yeobosseyo?"
"Ya," aku sedikit terkejut ketika mendengar suara Luhan yang terdengar jengkel itu. "Apakah kau seorang idiot?"
Aku tidak bisa menahan diri untuk tertawa, "Mian. Aku memang seorang idiot."
"Jangan meminta maaf sambil tertawa!" suaranya terdengar sangat jengkel, membuatku tertawa semakin keras. "Membangunkanku pada waktu seperti ini, dan sekarang aku sudah tidak bisa tidur. Pabo. Kau harus bertanggung jawab!"
Aku tersenyum tanpa kusadari. "Baiklah, jadi kau ingin aku melakukan apa?"
"Aku ingin memukulmu saat ini."
"Kalau begitu, bagaimana aku ke tempatmu sehingga kau bisa memukulku?"
Aku mengira ia akan membalas dengan kalimat-kalimat jengkel lainnya yang terdengar lucu bagiku. Namun aku tidak dapat mendengar sahutan apapun, dan itu membuatku sedikit merasa takut. Sepertinya ia benar-benar marah.
"Sehun," aku tersentak mendengarnya. "Kau anggota klub apa?"
"Uh, klub memanah..?" aku cukup heran dengan pertanyaan randomnya. Tapi bukankah lebih baik aku menjawabnya daripada membuatnya semakin marah, kan?
"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan!"
Lagi, aku tersenyum. Dia benar-benar kekasih paling berani yang pernah aku temui.
"Kau harus berjanji untuk datang latihan memanah," gumamnya dengan suara pelan. Aku hendak membuka mulut untuk menjawabnya, namun sambung telah diputus.
Aku menatap ponselku, lalu menggaruk tengkuk-ku. Sepertinya aku akan datang ke klub memanah hari ini.
.
.
Luhan menarik busurnya secara perlahan. Dan aku berani bersumpah kalau itu adalah gerakkan memanah yang paling memukau yang pernah kulihat.
Tadi, klub memanah sempat heboh karena Luhan yang sudah resmi keluar kembali datang untuk latihan. Semua anggota nampak ribut, dan Luhan sendiri juga sepertinya tidak menyadari keberadaanku. Namun ketika Luhan diminta untuk bermain, semua tiba-tiba menjadi hening.
Aku tidak heran kenapa mereka mendadak hening seperti itu. Walaupun aku anggota klub memanah, aku hanya pernah datang latihan sekali, dan saat itulah pertama kali aku bertemu Luhan. Luhan masih anggota resmi saat itu, dan ia sangat dibanggakan karena keahliannya.
Mataku tidak pernah bisa lepas dari sosok Luhan yang kini menyipitkan sebelah matanya. Lalu jari-jarinya mulai terangkat, dan ia melepaskan panah yang dari di pegang olehnya.
Ia memang sempurna, seperti biasanya.
Semuanya bertepuk tangan, termasuk aku. Sedangkan Luhan kini sedang berbicara dengan pelatih, dan aku tidak dapat mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi aku yakin, pelatih pasti sedang memuji Luhan.
"Baiklah," seru pelatih yang sudah tua itu dengan suara lantang. "Semua anak kelas satu, ayo maju."
Tentu saja aku segera maju, dan mengambil busur dan panahku. Aku berdiri di tengah-tengah, dan mulai mengambil ancang-ancang. Aku sadar bila Luhan sedang memperhatikanku sekarang. Aku melirik ke arahnya, dan ia sedang menatapku dengan tatapan datar yang entah mengapa malah terasa mengerikan bagiku.
"Sehunnie jarang sekali datang. Apakah dia bisa?"
"Lihat, bahkan diam saja terlihat sangat tampan!"
Bila mereka berpikir aku tidak bisa mendengar mereka, berarti mereka sangat bodoh. Karena aku bisa mendengar dengan jelas semua yang mereka katakan, dan entah mengapa itu membuatku semakin gugup. Mungkin aku memang terlihat biasa-biasa saja, namun sebenarnya jantungku berdebar cukup kencang sekarang.
"Diam!"
Suara itu membuatku segera menolehkan kepala. Luhan yang barusan berseru dengan lantang itu. Apakah ia tahu bila aku bisa mendengar semua yang mereka katakan?
Sudahlah. Aku tidak perlu memikirkannya, dan lebih baik aku segera menghempaskan panah yang masih ditanganku. Aku mengangkat busurku, lalu menarik panahnya secara perlahan.
Dan pas. Panahku tepat mengenai lubang kecil berwarna hitam di tengah lingkaran.
Aku bisa mendengar orang-orang bertepuk tangan, namun aku tidak benar-benar peduli dengan hal itu sekarang. Aku segera menolehkan kepalaku, mencari-cari sosok yang sudah berhasil membuatku menghadiri latihan memanah.
Luhan sedang tersenyum. Ia tersenyum lebar, sangat lebar. Bahkan mata rusanya menyipit, membuatnya telihat seperti terpejam. Dan juga, ada kerutan-kerutan kecil yang membuat senyumnya terlihat semakin manis.
Aku selalu berpikir bila Luhan terlihat memukau ketika sedang diam, atau sedang memanah.
.
Tapi aku segera berubah pikiran ketika melihatnya tersenyum lebar hari ini.
.
.
Suara pemberitahuan di kereta membuatku sedikit terkejut. Aku melirik ke arah Luhan yang duduk di sebelahku dengan kepala yang mengadah ke atas.
Karena kemarin kami gagal pulang bersama, maka aku mengajaknya untuk pulang bersama hari ini. Dan entah mengapa ia lebih memilih untuk naik kereta dibandingkan naik bus.
"Kau terlambat tadi," katanya tiba-tiba. Ia menolehkan kepalanya, lalu menatapku dengan mata rusanya itu. "Tapi kau tadi cukup baik.. Oh ya, bukankah kau seharusnya berhenti di stasiun ini?"
Aku menganggukkan kepala, masih dengan mata yang menatapnya. Ia nampak mengerutkan keningnya dan balas menatapku heran.
"Kalau begitu, kenapa kau masih duduk di sini?"
"Aku akan turun ketika kau juga akan turun."
"Eh?"
Aku tersenyum kecil, "Agar aku bisa bersama denganmu lebih lama, Luhan hyung."
Biasanya kekasih-kekasihku yang dulu akan memiliki wajah yang memerah jika mendengarku berkata seperti itu. Namun Luhan malah menatapku dengan tatapan yang kosong, atau tepatnya tatapan heran.
Ia menolehkan kepalanya, lalu menatap ke bawah, memperhatikan sepatunya sendiri. Sedangkan aku masih saja menatap wajahnya yang entah mengapa, sangat menarik perhatianku.
"Um, aku ingin bertanya sesuatu," gumamnya. "Apakah sekarang kita merupakan sepasang kekasih?"
"Tentu saja."
Ia nampak terkejut, namun ia malah tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya. Dia nampak gugup, dan aku mulai merasa ada yang aneh. Bukankah ia yang memintaku untuk menjadi kekasihnya terlebih dahulu?
Tidak lama kemudian, kereta kembali berhenti. Suara pengumuman memberi tahu bila kami akan segera sampai setelah melewati satu stasiun lagi.
Luhan tiba-tiba saja bangkit, lalu menarik tanganku. Aku tidak sempat bicara, karena ia sudah menyeretku terlebih dahulu hingga keluar dari kereta.
"Luhan hyung!" aku memanggilnya dengan suara yang sedikit lantang. Stasiun sangat penuh, mengingat sekarang adalah waktu pulang sekolah dan pulang kerja. Luhan menghentikan langkahnya, lalu ia membalikkan tubuhnya hingga berhadapan denganku.
Tangannya masih memegang pergelangan tanganku. Ia tersenyum, "Ayo kita berkencan hari ini."
Saat itu juga aku bisa merasakan jantungku berdebar sangat keras.
Kini bukan hanya tangan kanannya saja yang memegang pergelangan tanganku, namun tangan kirinya juga. Ia memperlebar senyumnya, "Ayolah, hari ini sudah hari Selasa. Satu minggu bukan waktu yang lama, jadi kita harus benar-benar memanfaatkannya."
Ia kembali menarik tanganku. Ia juga terus saja berbicara. Namun aku tidak mendengarkan, atau tepatnya tidak bisa memahami apa saja kalimat yang keluar dari mulutnya.
Karena yang kupikirkan adalah, aku takut bila aku benar-benar jatuh cinta pada Luhan. Dan Luhan bersikap seolah-olah ini hanyalah permainan. Seolah-olah, setelah satu minggu terlewati, semua ini merupakan hal yang tidak pernah terjadi.
"Ayo kita pergi makan ddeokbokki. Aku sangat lapar sekarang."
"Luhan hyung," aku kembali memanggilnya. Ia yang sudah berjalan di depanku membalikkan tubuhnya. "Apakah kau anggap ini semua lelucon?"
Aku tidak boleh terlalu akrab dengan Luhan. Karena aku bisa benar-benar jatuh cinta padanya.
"Apa yang sedang kau bicarakan?" suaranya terdengar datar. Aku menatap wajahnya yang terlihat biasa-biasa saja, seolah pertanyaanku merupakan sebuah candaan yang tidak perlu dihiraukan.
Ia segera menarik lenganku, dan aku tidak berkata apa-apa.
.
.
"Kau tidak suka ddeokbokki?"
"Eh?"
Luhan meletakkan sumpitnya di atas meja. "Kau tidak berbicara daritadi.."
"Oh, tidak."
Aku segera mengambil sumpitku yang belum tersentuh, dan memasukkan sesumpit ddeokbokki ke dalam mulutku. Tapi tidak dengan Luhan, ia tidak mengambil sumpitnya dan menikmati ddeokbokki dengan penuh semangat.
"Aku.. sangat membencinya, kau tahu?" aku mengangkat kepala ketika mendengarnya bergumam dengan suara pelan. "Bila kau tidak menyukai sesuatu, namun kau tetap diam dan memaksa dirimu untuk menyukainya."
"A–aku tidak berpikir seperti itu!"
Luhan menatapku dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Akupun akhirnya kembali meletakkan sumpitku di atas meja. "Aku hanya.. Ada sedikit masalah."
Keheningan kembali menyelimuti kami. Aku tidak menyangka bila kencan pertama kami akan terasa aneh seperti ini.
"Bagaimana kalau kau lupakan masalahmu hari ini–"
"Apakah kau benar-benar membenci itu?" aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Aku takut bila ia bertanya apa masalahku. Tidak mungkin aku berkata bila masalahnya adalah aku takut jatuh cinta padanya, kan?
"Sangat membencinya!" Luhan menjawab dengan cepat. Aku tersenyum kecil, sepertinya Luhan merupakan tipe yang mudah diahlihkan perhatiannya. "Karena, untuk apa kita meneruskan kencan ini bila kau tidak menyukainya?"
Kalimat tersebut terasa menusuk hatiku. Aku diam, mencoba mencari sesuatu untuk mencairkan suasana. Luhan sudah mengambil sumpit dan menikmati ddeokbokki -nya.
"Sepatu," kataku. Ia mengangkat kepala. "Aku ingin kita melihat sepatu setelah ini."
Luhan tersenyum, dan hal itu membuatku ikut tersenyum.
.
.
Aku memang tidak tahu banyak tentang Luhan. Tentang apa yang ia sukai dan ia tidak sukai. Tentang apa hal yang ia takuti, atau yang lainnya.
Namun entah mengapa, setiap melihatnya tersenyum, rasanya semakin sulit bagiku untuk menjauhinya.
.
.
Matahari sudah terbenam, aku dan Luhan memutuskan untuk nonton bioskop. Aku terlalu berkonsentrasi pada layar, hingga kepala Luhan yang terjatuh pada pundakku membuatku terkejut.
Aku melirik ke arah Luhan yang memejamkan matanya. Aku tersenyum, lalu sedikit membetulkan letak kepalanya agar ia merasa nyaman.
Saat itupula aku baru menyadari bila Luhan memiliki harum seperti stroberi dan bulu mata yang panjang. Juga, rambut coklat madunya ternyata terasa lembut.
Layar di depanku terus saja bergerak, namun aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari pemuda yang sedang jatuh tertidur di sebelahku. Suara dengkurannya yang halus itu membuat mataku semakin berat.
Dan tanpa kusadari, aku juga jatuh tertidur dengan kepalaku bersandar pada kepala Luhan.
.
.
BIG THANKS TO:
cho eun byung ; HunHan's Real ; BabyHimmie ; Kim Bo Mi ; XiaoLuhan ; Imel jewels ; RZHH 261220 II ; bapexo ; Fuji jump910 ; EXiOh HunHan ; kriswu393 ; imKevin ; hunhanshipper ; anak indonesia ; .33 ; ; Jung Eunhee ; ty ; sehunniee ; tyaclouds ; hunhan ; Reza C Warni W ; xiaolunnie ; younlaycious88 ; HyunRa ; byunbaekkie ; noname ; A Y P ; babyzxoxo ; Luhaeenn ; dexx ; IkaIkaHun11 ; Thiiya ; Rapp-i ; lisnana1 ; untuk semua yang udah baca, fav, dan follow c:
pokoknya aku berterimakasih pake banget sama kalian yang udah mau baca, fav, follow, sama review ff ini. aku seneng banget dan agak kaget juga karena ternyata banyak yang suka sama ff ini ;_; makasih banget, kalian emang the best! aku mau banget bales-balesin review kalian, tapi karena waktunya juga mepet, aku bakal jawab pertanyaan2 secara random aja ya.
Q: apa yang nama depannya 'lu' itu first lovenya sehun? Terus gara gara dia juga sehun jadi orang-yang-cuman-pacaran-seminggu?
A: bisa dibilang begitu c:
Q: sehun anggep serius si luhan ya?
A: bisa dilihat di chap ini c:
Q: ini fluffy kan?
A: nanti juga tahu sendiri xD
Q: berharap ada nc-nya
A: sayangnya gaakan ada nc di sini ;~;
Q: ini sama kayak manga yaoi jepang
A: memang ini hasil remake dari manga itu. tapi ada beberapa bagian yang aku potong dan aku edit kok. bisa dilihat, loh, di disclaimer-nya c:
buat yang curhat tentang adik kelasnya juga suka gonta-ganti pacar, serius loh aku ketawa bacanya. jadi pacarnya bisa lebih dari satu dong? sama yang bilang kalau dia kira krystal cuma bisa jadi perusak hubungan orang, engga juga loh. aku ketemu lumayan banyak kok ff dimana krystal jadi orang baik c:
nah, ini udah panjang banget deh kayaknya ;~; sekian, maaf kalau chap ini banyak typo, gak nyambung, atau kurang panjang. sampai ketemu lagi di chap selanjutnya dgn pov luhan! c:
