Story: You A re my Fourth Stars 2.
Disclaimer: Naruto © Masashi Khisimoto
Rating: T
Genre: Romance & Friendship (Ada usul perubahan genre?)
Pairing: SasuNaru
Warning: AU,berunsur Shounen ai !, OOC(khususnya Sasuke!), typos, DONT LIKE,DONT READ!
\Naruto : 15 tahun
\Sasuke: 16 tahun
Author's note: Yap, bagian kedua, Minna? ada yang nunggu? ^^.. Benar-benar terima kasih buat yang udah review di Insomnia dan chapter 1, dan reader-reader yang lain juga. Arigatou Minna~
Roronoa / Rin Miharu-Uzu/ Choi Hye ant6855/ Namikaze lin-chan/ suvia the fujoshi akyut bwaanget/ Guest/ Orangcassie/ / ByuuBee/
Dan langsung saja...
((***Have a nice read***))
Jalanan kota yang ramai, tempat yang penuh dengan segerombolan orang yang sedang mengejar aktivitas maupun rutinitasnya. Berbagai macam orang dapat kau temukan di dalam kerumunan itu. Baik, Jahat, Cantik, Jelek, Nenek-nenek, Kakek-kakek, dan tentunya juga dua orang pemuda yang sedang berjalan beriringan di salah satu sudut jalan itu.
Salah satu pemuda, yang mempunyai rambut tipe model raven berwarna dark blue, juga wajah stoicnya tanpa ekspressi, mengeluarkan aura yang benar-benar gelap dan mengerikan sejak tadi. Membuat beberapa orang yang tak sengaja berpapasan dengannya meyingkir dengan teratur. Mungkin, takut hidupnya akan berakhir saat itu juga.
Lain pemuda stoic itu, lain pula pemuda yang berjalan di sebelahnya. Ya, pemuda dengan surai berwarna blonde itu tampak selalu tersenyum sumringah sejak tadi, senyumannya lebar menampilkan barisan gigi-giginya, auranya cerah dan sangat bertolak belakan dengan yang disebelahnya. Membuat beberapa orang yang melewatinya merasakan sebuah semangat yang sangat berkobar-kobar.
Tapi, kadang ada juga orang yang peka yang sangat sempat berpikir 'Kenapa seseorang yang cerah dan bersemangat sepertinya harus berjalan berdampingan dengan orang yang tampak suram dan anti-sosial?'
Ya, hanya satu jawaban. Itulah yang dinamakan Yin dan Yang.
"Teme~" Naruto memanggil Sasuke yang sejak tadi berjalan di sebelahnya, tapi sama sekali tidak bersuara, Sasuke yang ada di sebelah Naruto hanya diam dan mengeluarkan aura tidak mengenakan yang seperti berkata 'Menjauh-Dariku'.
"Temeeeee~~" panggil Naruto lagi, Tak sabar dan kesal diacuhkan.
"Hn?"
"Kenapa kau diam saja! " tanya Naruto cemberut. Memperhatikan wajah Sasuke yang nampak sedikit lebih garang dari biasanya.
"Hn."
"Kau lapar ya, Teme?" Naruto melihat arloji di tangan kirinya. "Sudah waktunya makan siang, Hhehe, Kau lapar ya?"
"Hn."
"Baiklah, kalau begitu ayo kita makan dulu!" Naruto menarik tangan Sasuke dengan tiba-tiba ke sebuah cafe di pinggir jalan yang mereka lewaati. Sebuah cafe kecil bernama 'Kitten Kisses' . Hmm, nama yang cukup aneh untuk sebuah cafe. Mungkin.
.
.
.
*Kliningg~* Sebuah lonceng kecil yang terpasang di balik pintu cafe itu berbunyi kecil saat pintu cafe itu di buka oleh Naruto. Memperlihatkan suasana cafe yang tidak terlalu banyak pengunjung. Cafe ini amat bagus, aelau menganti tema yang dipakainya setiap bulan, tema yang dipakai cafe itu untuk bulan ini adalah 'Kitty maid', jadi beberapa interior yang ada ada ruangan itu bernuansa kucing dengan pelayan yang berpakaian ala maid.
"Ah? Naruto? tumben kau datang" sapa salah seorang pelayan yang ada di cafe itu, surai merah mudanya tampak bergoyang lembut seiring langkahnya saat mendatangi Naruto yang masih terpaku di depan pintu. Terlihat Naruto yang sedang memuaskan matanya dengan suasana di dalam cafe dan Sasuke tetap memasang wajah stoic sambil memperhatikan gadis berambut merah muda yang berlari ke arah mereka. "Ehe.. Naruto-kun, ada apa?" tanyanya lagi, dengan ramah.
"Hei, Sakura-chan! wuah, Kawaii! kau imut sekali Sakura-chan!" puji Naruto dengan wajah berseri-seri, menarik bando telinga kucing dari rambut merah muda Sakura.
Sasuka terkikik kecil, "Ariga-... He-hei! Naruto, kembalikan!" tangannya mulai mengapai-gapai telinga kucing yang direbut oleh Naruto, sedangkan yang diacuhkan(Sasuke), malah makin mengeluarkan aura kelamnya.
"Jadi, Sakura-chan, euhmm~ Aku ingin makan bersama temanku ini." kata Naruto sambil menunjuk Sasuke dengan jempolnya, "aku pesan apapun yang kalian berikan padaku. Nah, kau mau apa Teme?" Naruto menoleh ke arah Sasuke yang ada di sebelahnya.
"Apapun yang mengandung banyak tomat." ujarnya datar, lalu berjalan ke arah salah satu meja yang masih kosong, meninggalkan Naruto dan Sakura yang terbengong cengo.
"Eh? tomat? dia suka tomat ya Naruto?" Tanya Sakura sambil mulai menulis sesuatu di note yang dibawanya.
"Hn, entahlah Sakura, tapi tampaknya begitu~" ujar Naruto sambil mengaruk-garuk kulit kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Ah, Ya sudah Naruto, aku ingin memberikan pesanan kalian ini pada koki dahulu.." jelas Sakura, Naruto menganguk sambil tersenyum. Tanpa diduga, Sakura langsung mendekati bibirnya ke arah telinga Naruto. Mengucapkan sebuah kalimat.
"Kau tahu Naru, temanmu itu dari tadi melihat kita dengan pandangan cemburu." bisik Sakura pelan.
.
.
/Blushhh~/
.
.
Wajah Naruto memanas seketika. "A-APA? apa maksudmu Sakura...K-kau bercanda~" balas Naruto dengan wajah memerah. "Itu tidak mungkin Sakura~ Hah ha ha " Naruto mengelak, tertawa hambar sambil mengeluarkan keringat dingin.
"Huh~Ya sudah kalau tak percaya. Perasaan seorang wanita itu kuat Naruto~" Sakura melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Naruto angkuh, lalu melengang pergi ke arah dapur cafe itu. Membiarkan Naruto yang masih agak diam sendiri dengan gerakannya.
Perlahan, Naruto membalikan tubuhnya melihat Sasuke yang sedang duduk di sebuah meja cafe paling pojok, terlihat dia di sana sedang membaca daftar di buku menu. Wajahnya tetap seperti yang tadi kok, wajahnya tetap datar, tatapannya tetap tajam, dia tetap masih memberikan deathgleare pada beberapa gadis yang meliriknya. 'Ah, Sakura itu pembohong besar' Pikir Naruto sambil menganguk-angukan kepalanya tenang, lalu berjalan ke arah meja Sasuke.
"Siapa wanita itu?"
.
.
DEG!
Itulah satu kalimat pertama yang langsung Naruto dengar saat dia mendudukan diri pada sebuah kursi di depan Sasuke. "Huh? apa urusanmu Teme! itu tidak penting? " Naruto memekik dengan suara kecil. 'Kenapa dia bertanya seperti itu!' teriak Naruto dalam hati. Panik.
"Hn." Jawab Sasuke singkat. Sambil menutupi seluruh wajahnya dengan buku menu. Membuat Naruto agak sedikit tidak enak, pasalnya Naruto mengira Sasuke marah.
"YA! YA! dia itu temanku Teme~ aish... kau naksir padanya yah?. Memang kuakui Sakura itu cantik?~" ujar kata dengan nada membual.
"Hn."
Naruto membelalakan matanya "Ja-jadi benar kau menyukainya?" tanya Naruto cepat, matanya membelalak lebar, tak percaya.
"Hn."
"O-oh? Be-begitu yah Teme?ba-baiklah. E-ehm, lain kali akan kukenalkan kau dengannya?" Naruto berkata dengan terbata-bata, perlahan jemari Naaruto memegang dadanya, 'Kenapa aku jadi gelisah?' pikir Naruto tidak mengerti.
.
.
.
Sedangkan pemuda yang ada di depan Naruto, hanya dapat menyembunyikan wajah menyeringainya dari balik buku menu. Ah, Naruto~ andaikan kau melihatnya wajah Teme yang berada ada depanmu itu sekarang~.
"Huwaaahhhh~Sakura-chan. Cake ini manis sekali!, siapapun yang membuat cake ini, katakan terima kasihku padanya! " pekik Naruto saat Sakura mengantarkan sebuah cake berbentuk rubah yang cantik padanya. Sakuranya hanya tersenyum cengo melihat tingkah sahabatnya itu. Sedangkan Sasuke, dia menatap Naruto dengan tatapan yang tak dapat dideksprisikan.
"Huwaaa!Apa yang kau katakan Teme? enak saja kau bicara! aku ini juara lomba makan cepat ramen ukuran jumbo di sekolahku! Ya, kan? Sakura-chan?" Naruto melirik Sakura yang langsung menganguk mantap.
"Oh~ aku kira kau benar-benar sama seperti seorang wanita Naruto, akan berteriak tidak karuan bila berat badannya naik, kau kan DO- BE!. " Ujar Sasuke datar tapi jelas sekali mengejeknya, membuat kepala Naruto jadi panas seketika.
"Cih, aku ini laki-lai baka! apa matamu rabun heh? katarak?, lagipula daripada kau, makananmu tidak ada manis-manisnya. Apa-apaan itu? Steak kok penuh dengan potongan tomat dan saus tomat begitu? nanti lama-lama kau akan jadi manusia tomat!" Ejek Naruto balik, tidak terima dia disebut wanita, padahal kan dia yakin bahwa dirinya itu laki-laki tulen.
"Hn, Dobe. Aku tahu kau laki-laki."
BLUSH/
Bagai api langsung tersiram air, Naruto yang tadi sedang berkepala panas malas dan menjadi amat cerewet malah terdiam, bergulat dengan pikirannya. 'Ba-bagaimana Sasuke tahu aku laki-laki? A-apakah dia tadi sewaktu mengobati lukaku melihat celana dalamku, da-dan sempat melihat...T-TIDAKK~." Naruto mengeleng-gelengkan kepalanya menepis pikiran bodohnya itu.
Benar, dari sejak 1 setengah tahun yang lalu, Naruto tidak berani lagi memperlihatkan 'itu' atau pahanya pada siapapun, bahkan biar itu adalah seorang yang bergender sama dengannya. Karena, terakhir kali Naruto memakai celana pendek yang memperlihatkan pahanya dia ditatap oleh orang-orang yang lewat (wanita dan pria tapi pria lebih banyak). Dan dia hampir saja dilecehkan oleh om-om berwajah mengerikan seperti ular di dalam kendaraan umum. Membuatnya trauma.
"A-ayo makan saja Teme! nanti pertunjukan di auditorium akan dimulai! dan kita terlambat!" sergah Naruto sambil cepat-cepat memakan cakenya dengan beberapa suapan. Benar-benar sangat terburu-buru.
.
.
.
.
"Hn, Idiot."
"TEME BRENGSEK! BERHENTI MENGATAKANKU IDIOT! ITU MENYEBALKAN!" Suara Naruto malah terdengar kembali. Membuat seluruh pengunjung cafe melihat curiga pada mereka yang sejak tadi terus bertengkar.
Naruto terdiam salah tingkah menyadari beberapa pasang masa menatapnya bingung "Hha..ha ha..ha." Naruto tertawa canggung "Gomen.. gomen.. Minna- san~" ujarnya pelan sambil menunduk-nundukan kepalanya. Bersikap sangat menyesal.
Sasuke? Dia diam, acuh, tidak perduli, asik bercinta dengan potongan tomat yang diberi saus tomat olehnya. Dan itu membuat Naruto hanya mengigit bibir saja menghadapi situasi ini.
~~~~~~~~^*^IRIA^*^~~~~~~~~~~
[ Rasi bintang ini adalah salah satu konstelasi yang berada di bagian gugusan bumi bagian Utara, para ilmuan menyebutnya dengan nama Canis Major atau yang biasa disebut rasi bintang Anjing Besar, pada bagian jantung rasi bintang ini terdapat bintang Anjing yang lebih dikenal sebagai bintang Sirius, bintang terterang yang dapat kita lihat dari bumi. Menurut legenda bintang ini dirangkai oleh dewa Indra sebagai bentuk penghargaan atas kesetiaan seorang tuan kepada anjingnya dan...bla bla bla.. ]
"S-sugoi~" gumam Naruto dengan mata tak lepas dari ribuan cahaya tiruan bintang-bintang yang ada di langit, Sungguh. Naruto tidak akan menyangka bahwa bintang yang dapat terlihat dari bumi adalah sebanyak ini. Selama ini dia hanya melihat bintang dalam jumlah sedikit karena tertutupi oleh gedung-gedung pencakar langit yang menutupi langit malam. Sungguh menyebalkan.
"Hn." Sasuke menjawab di sebelah Naruto, sama seperti Naruto, pemuda bermata onyx itu pun merasakan perasaan takjub yang sama dengan Naruto, permata hitam malamnya kini penuh dengan bintang-bintang yang terpantulkan. Sungguh salah satu refleksi yang sangat indah. Mengingat mata onyx Sasuke pun tidak ada bedanya dengan langit di malam hari.
"Huahh~ bintangnya benar-benar ada ribuan, hebat sekali Teme, Ya ampun, aku senang sekali Teme~" Naruto tetap semangat menceritakan perasaannya pada Sasuke.
"Hn!." Ujar Sasuke malas. Malas digangu.
"Teme, bagaimana? kau senang kan, ku ajak ke sini? hehehehe! "
"Hn."
"Jawab yang benar Teme!, jangan jawab dengan 'Hn' menyebalkan itu, jawab dengan 'Ya' atau 'Tidak' . "
"..."
"Teme!"
"..."
"TEM-"
"Dobe, apakah beberapa cerita yang mengatakan bahwa bila orang-orang yang kita sayangi 'meninggal', mereka akan naik ke atas langit dan menjadi bintang untuk menjaga kita, adalah benar?"
"E-eh?" Sekarang giliran Naruto yang terdiam, tak dapat dan tak mampu merangkai kata-kata apapun. Naruto menatap tajam wajah Sasuke, terutama matanya. Mata itu— tampak sangat sedih dan tertekan. Memendam segala kegelisahan yang tak mendasar, juga segala macam beban yang tak dapat ia tanggung. Naruto menundukan kepalanya, tak mampu melihat mata yang penuh dengan duka dan luka tersebut.
Di sela-sela percakapa Naruto dan Sasuke, Suara penjelasan pun kembali terdengar, [Salib Selatan,adalah beberapa bagian dari konstelasi Cygnus atau Angsa, pada jaman dahulu Salib Selatan digunakan oleh para pelaut sebagai penunjuk arah jalan agar mereka tidak tersesat di lautan.]
"Ya, aku rasa seluruh keluargamu pasti sudah menjadi bintang dan menjagamu Sa-Sasuke." Naruto menjawab dengan agak terbata-bata.
Mendengar jawaban , Sasuke langsung menoleh cepat kepada Naruto, ada sedikit aura kebingungan tersirat, dalam hatinya. Sasuke bertanya-tanya bagaimana Naruto bisa mengetahui tentang keluarganya. Ah, tentu saja. Seluruh warga jepang yang hidup 8 tahun lalu pasti mengetahuinya.
"Hei Teme!, kau lihat Salib Selatan itu?Y- yang baru saja dijelaskan tadi?" Naruto menunjuk, pada 4 buah bintang yang membentuk sebuah konstelasi kecil yang disebut Salib Selatan. "Itulah Keluarga yang menjadi bintang, Sasuke. Hehehe. Mereka akan menjadi Salib Selatan yang akan menuntunmu—agar kau tidak tersesat lagi dalam kehidupanmu.. Hehehehe." Naruto berkata sok santai. Bulir-bulir keringat dingin berjatuhan di pelipisnya 'Apakah aku terlihat seperti anak kecil berumur 3 tahun?' Pikir Naruto khawatir.
"Hn, keluargaku yang akan menjadi bintang ada 3, Dobe. Bila hanya 3 bintang, dia tidak akan menjadi Salib Selatan."
Naruto terdiam, apa yang dikatakan Sasuke itu benar. Bila hanya 3 bintang, itu bukanlah salib selatan yang akan menjadi penuntun bagi banyak orang agar tidak tersesat , Naruto berpikir sebentar dan tiba-tiba ada satu pikiran yang menyangkut di otak Naruto.
"Ka-kau manusia Sasuke, kau pa-pasti nantinya akan jatuh cinta pada seseorang, ja-jadi a-angaplah bintang keempat dalam salib selatan itu adalah—o-orang yang kau cintai." .
.
.
.
.
.
.
/ BLUSH!/
Entah kenapa setelah mengatakan semua itu Naruto langsung merasakan panas yang luar biasa pada bagian wajahnya, disertai dengan susah bernapas yang malah tiba-tiba dirasakannya, belum lagi detak jantung nyayang mulai tidak karuan dan berdeetak semakin cepat.
'SEBEENARNYAA ADA APAA DENGAN DIRIKUUU!' Naruto berteriak kencang dalam hatinya. Panik. Dia sangat panik! . Lebih panik daripada dikejar pria mabuk pada saat pertama kali dia bertemu Sasuke. Naruto kali ini benar-benar takut terkena sebuah penyakit tertentu yang mematikan. ckckck, nak Naruto, kau harus bersyukur karena ruangan di dalam auditorium itu gelap, jika terang, mungkin semua orang akan tahu bila wajahmu sudah merah padam.
"khekhekhekhe..." kepanikan Naruto terhenti sebentar saat mendengar suara kekehan di sebelahnya. Suara Sasukekah ? Naruto menoleh, dan benar saja! sekarang seorang Uchiha Sasuke tengah menutupi wajahnya dengan 1 tangannya. Dia —tertawa?
"Te-teme? kau kenapa?" Tanya Naruto salah tingkah. KAGET . Pasalnya ini pertama kalinya Sasuke tertawa. Menepis seluruh prasangka Naruto yang mengira Sasuke adalah orang yang tidak bisa tertawa, karena dia tersenyum saja susah dan bahkan tidak pernah terlihat.
"Idiot, aku tidak pernah percaya pada hal-hal seperti itu, Dobe!~ Harusnya kau lihat wajah Dobemu tadi! Aneh sekali! " ejeknya, masih menahan kekehannya yang terasa meledak-ledak di perut. Benar-benar Sasuke yang OOC.
Naruto terdiam, entah kenapa rasa berdebar-debar dan panik yang dia rasakan tadi berubah seketika menjadi rasa sesak yang amat sangat sakit. Naruto mengigit bibir bawahnya, "Te—..." Naruto berusaha mengeluarkan sepatah kata. tetapi tak mampu keluar dari bibirnya. Akhirnya... "Ba—bakaa Temee~" Naruto berkata dengan suara kecil menandakan, dia benar-benar marah dan kecewa kali ini.
"Hn?"
"..." Naruto beranjak dari kursinya, meninggalkan Sasuke yang masih duduk diam. Sasuke yang melihat itu, tiba-tiba langsung tak enak perasaannya.
"Dobe, kemana kau?" Sasuke berusaha bertanya.
"..." Sasuke diacuhkan oleh Naruto. Oke, sekarang seharusnya Sasuke sudah mengetahui kesalahannya.
Sasuke diam, merenungkan diri dahulu dalam auditorium itu, sedangkan Naruto sudah dari tadi keluar dari gedung tersebut, Sasuke memicingkan matanya kesal, tangannya terkepal kuat, ada sebuah kemarahan yang muncul dalam dirinya. Sasuke, amat sangat menyesal karena kelakuannya itu.
.
.
.
.
"Idiot! kau memang idiot...Sa-su-ke~"
"Pokoknya aku.. .nyam.. nyam... kesal sekali pada si Teme... Nyam.. Nyam.. Sruuupppppss.. Sialan itu... Kraus..Kraus.. Nyam... nyamm.."
"Naruto, jangan berbicara sambil makan. Nanti kau bisa tersedak." Nasihat paman Teuchi dengan tampang bingung. Bingung mengapa pelanggannya yang satu ini tiba-tiba datang ke tokonya dengan tampang super cemberut, memesan ramen dengan pori yang luar biasa, dan memakan ramennya sambil marah-marah.
"Pokoknya... Nyam.. nyam... sruppssss.. aku ingin makan ramen sebanyak-banyaknya... sluurrpps~, paman Teuchi!~" Naruto membantah sambil terus memakan ramennya dengan sangat rakus. Apakah Naruto tidak sadar bahwa dia sudah memakan lebih dari 23 mangkuk ramen?
Paman Teuchi hanya mengelengkan kepalanya saja melihat tingkah Naruto.
Braaakkkk! Sebuah hentakan mangkuk ramen terdengar, tanda bahwa Naruto sudah selesai menghabiskan ramennya yang ke 24. "Huaahhhh! aku kenyang sekali paman! Ngrooookkkk~" Naruto bersendawa keraas sambil menepuk-nepuk perutnya yang membuncit. Tapi menurut Naruto 24 mangkuk masih belum cukup.
"Paman! berikan aku 1 mangkuk la—"
"Hentikan itu, Dobe! perutmu akan meledak bila kau makan sebanyak itu."
DEG! Naruto kenal suara angkuh itu, dia benar-benar mengenalnya. Dengan sebuah perempatan di dahi dan senyum kekesalan Naruto menolehkan kepalanya dengan ala slow motion. " Ada. Apa. Teme. Idiot. Baka. ? " tanya Naruto denan penuh penekanan disetiap katanya.
"Hn." Sasuke menjawab seperti biasa.
"Paman, aku minta 1 mangkok lagi! " ujar Naruto, kesal dijawab dengan jawaban tak jelas begitu.
"Dobe, ayo pulang!" Tiba-tiba Sasuke menarik lengan Naruto dengan kuat sebelum paman Teuchi menyiapkan pesanan Naruto. "YAHH! JANGAN TARIK-TARIK TEMEE!~ AKU MASIH INGIN MAKAN RAMEN!" Naruto berteriak sekencang-kencangnya. Dahinya berkedut-kedut menahan marah.
"Tidak usah Idiot, ayo pulang. Aku antarkan!" Sasuke menaruh beberapa lembar uang pecahan 10000 Yen di samping mangkuk-mangkuk itu, dan langsung membawa Naruto menjauh, Sasuke yang memiliki tenaga jauh lebih kuat dari Naruto yang tergolong kuat di sekolahnya, dapat dengan mudah menarik Naruto pergi. Padahal Naruto sudah memberontak sekuat tenaga tadi.
Naruto berjalan cepat meninggalkan Sasuke yang ada di belakangnya, Hentakan kakinya di setiap langkah begitu keras menandakan dia sedang kesal. Sasuke hanya berjalan tenang di belakang Naruto, seolah-olah tidak peduli.
"Jangan mengikutiku Teme, Idiot, kau menyebalkan!"
"Hn, Dobe." Sasuke menjawab dengan nada datar.
"Teme menyebalkan! idiot! jelek!" Naruto mengejek-ejek Sasuke yang ada id belakangnya. Sedangkan langkahnya sendiri semakin cepat.
"Hn."
"CIH!"
Dan percakapan pun akhirnya selesai sampai di situ. Tetapi suara langkah tetap beradu padu, Naruto dan Sasuke tetap berjalan tanpa ada satu pun yang bebicara.
.
.
.
.
.
.
.
Tap!. Langkah Naruto berhenti pada gerbang sebuah rumah dengan papan tanda 'Namikaze'. Itu rumah Naruto. Naruto tertunduk diam, sedikit-sedikit dia melirik Sasuke yang mash terpaku diam di belakangnya. Sepertinya Sasuke tidak akan pergi bila dia belum masuk ke dalam rumahnya.
"Apa yang kau tunggu Temeee?~ Lebih baik kau kembali ke mansionmu yang besar itu!" Seru Naruto keras sambil terus masuk dan memegang kenop pintu rumahnya.
" Hn. Gomen, Dobe."
DEG! Sekali lagi, hati Naruto berdebar dengan sangat kencang, ini keajaiban. Seorang Uchiha Sasuke mengatakan hal yang tak pernah dia katakan pada seorang pun di dunia ini. Naruto menelan ludahnya dengan susah payah.
"Ka—kau hanya bertemu denganku 2 kali. Ja—jadi, tidak perlu meminta maaf karena kau tidak bersalah!" dan... BRAKKK! Naruto segera masuk ke dalam rumahnya dengan bantingan pintu .
.
.
.
.
.
"Baka-Dobe~"
~~~~~~~~^*^IRIA^*^~~~~~~~~~~
2 Minggu Kemudian.
Jam menunjukan pukul 11.30 malam, seluruh orang termasuk Naruto sudah tertidur dengan nyenyak di kasurnya, terkecuali dengan 2 orang yang sedang bercakap-cakap sambil meminum teh bersama. Mereka adalah Minato dan Kushina Namikaze.
"Akhir-akhir ini, Naruto terlihat murung, Kau juga menyadarinya kan?" Tanya Minato tiba-tiba.
Kushina yang sedang tenang sambil menyadarkan kepalanya di bahu Minato, mengerutkan keningnya. "Ya kau benar, aku juga tidak tahu apa alasannya.' Jawab Kushina dengan sedikit rasa cemas.
"Tapi aku rasa, Naruto murung sejak 2 minggu yang lalu, sejak pulang dari jalan-jalannya dengan—Uchiha Sasuke". Minato terdiam maklum, sambil menganguk-anguk kecil. Dan berkata lagi...
"Tak kusangka dia akan kembali ke Jepang ini."
Kushina menganguk setuju "Ya, tapi kudengar dia akan kembali lagi ke —"
.
Tok! ..Tok! ...Tokk!.
.
Kalimat Kushina terputus saat mereka berdua mendengar suara ketukan dari pintu depan. "Siapa yang bertamu semalam ini?" tanya Minato bingung. Dia dan Kushina saling berpandangan. Lalu menganguk sepakat untuk mendatangi pintu depan berdua.
.
.
.
.
Cklek!
Seseorang terlihat berdiri tegak di ddepan pitu keluarga Namikaze tersebut. Membuat Minato dan Kushina tercengang melihat sosok yang berdiri di depan mereka.
"K-kau...?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sosok itu berjalan pelan memasuki ruangan dengan cahaya lampu yang remang-remang tersebut. Tubuh tegapnya mendatangi seseorang yang tengah terlelap nyenyak di kasurnya. Seseorang yang sosok itu pikirkan selama berhari-hari.
Sosok itu berhenti tepat di depan kasur, memperhatikan wajah damai pemuda bersurai pirang yang tengah pergi ke alam mimpinya, mata onyx pemuda itu benar-benar tak lepas sedetikpun menatap wajah manis pemuda yang tertidur itu. Sebuah senyum tipis terlukis pada sosok tersebut.
Perlahan, tangannya bergerak mendekati wajah mulus pemuda yang tengah tertidur. Menyibak pelan beberapa surai pirang yang menutupi wajah mulus pangeran tidur di depannya. Lalu sosok itu mendekatkan wajahnya ke pada pangeran tidur tersebut, membawa bibirnya ke telinga sang pangeran lalu membisikan beberapa patah kata. Kata-kata yang mungkin tidak akan sleeping prince itu dengar.
Setelah kata-kata misterius itu telah dia selesaikan, sosok itu mengeser bibirnya hingga.../Cup/ sebuah kecupan kecil tersampaikan di kening sang pangeran tidur. Sosok itu sudah sudah puas sekarang, dia menegakan tubuhnya, dan berjalan kembali menuju pintu.
"Oyasumi, Dobe." Sebuah suara terdengar sebelum sosok tersebut keluar dari kamar kecil tersebut. Meninggalkan sang pengeran tidur kita.
.
.
.
.
Tanpa sosok itu ketahui, sang pangeran tidur sudah terbangun oleh kecupan si sosok itu sendiri, dia memeluk selimutnya dengan erat, wajah sang pangeran tidur benar-benar merah padam, sangat merah sehingga kau tidak bisa membedakan yang mana kepiting rebus, yang mana si pangeran tidur.
Keringat terus mengaliri tengkuk si pangeran tidur, dia benar-benar tak dapat berkata-kata, mulutnya bungkam akibat detak jantung yang terasa dapat membuat jantungnya meledak.
"T-Temeee~?"
Sasuke menuruni tangga di rumah Naruto dengan langkah pelan, wajahnya nampak datar meskipun sebenarnya tidak. Sebenarnya Sasuke sangat malu dalam hatinya karena... Yah, You know lah~. Dia baru saja mencium seseorang dengan seenaknya.
Di bawah tangga sudah ada Minato dan Kushina yang menunggu dengan senyuman hangat. " Kau sudah bicara dengannya,Sasuke ?" tanya Minato. Sasuke merespon hanya dengan angukan, dan gerakan badan yang terkesan sopan.
Sasuke berjalan keluar rumah Naruto dengan langkah yang tegap diikuti oleh Kakashi yang menuntun dia di belakangnya. Di depan Kushina dan Minato, Sasuke menundukan badannya tanda bahwa dia undur diri.
"Maaf, saya dan Sasuke-sama harus segera pergi ke bandara. Tuan Minato, Nyonya Kushina, kami mohon diri dahulu.." ujar Kakashi memperjelas maksud dari Sasuke. Minato dan Kushina mengangukan kepalanya setuju. Dan Kakashi langsung mempersilahkan tuannya untuk memasuki mobil mereka.
.
Tapi, tak berapa saat kemudian,,,
.
"TEMEEEEE!" BRAK.. BRUK..BRUK..BRAK.
Tepat pada saat Sasuke hendak memasuki mobilnya, tiba-tiba suara gaduh dan teriakan super nyaring terdengar dari dalam rumah keluarga Namikaze, membuat Kakashi terkena serangan jantung mendadak. Sedangkan Minato dan Kushina langsung memegang dadanya, memastikan jantung mereka masih ditempatnya.
Sasuke mengerutkan keningnya bingung, terlebih lagi saat dilihatnya Naruto sudah ada di ambang pintu dengan nafas terengah-engah dan wajah memerah.
"Te-Teme! kau mau kemana? apa yang kau lakukan disini?" Naruto langsung mendatangi Sasuke dan memberikannya beberapa pertanyaan.
"Hn."
"Teme! jawab yang benar!"
"Hn."
"Jawab pertanyaanku! ! Teme Baka! Kenapa kau tadi ke kamarku?"
"Hn."
"Baka-Teme!"
"Idiot."
"Baka!"
"Idiot"
"BA..."
"Kami dan tuan Sasuke akan pergi ke New York untuk menjalani semacam pengobatan terapi, tujua kami ke sini karena permintaan tuan Sasuke sendiri, Naruto" Kakashi menyela cepat, berusaha menghentikan perang ejekan itu.
"EHHH! untuk apa ?" Naruto bertanya dengan muka berkerut, seolah tidak terima.
"Mengobati penyakit—"
"Kakashi, bisa aku dan Naruto berbicara sebentar? kau bisa menunggu bukan?" Sasuke memotong, seolah memberi tanda pada Kakashi bahwa jangan menjawab pertanyaan Naruto lagi. Kakashi menganguk.
"Baiklah, Tuan." Balas Kakashi sambil mulai memasuki mobil. menunggu di dalam.
Sasuke menoleh ke arah Naruto yang wajahnya masiih penuh kebingungan, "Ikut aku, Dobe.!" Sasuke mulai berjalan, mencari teempat yang aman untuk dia berbicara secara 4 mata bersama Naruto. Naruto menganguk dan mengikuti kemauan Sasuke.
.
.
.
.
Malam itu, di saat terakhir, mereka bercakap sebagaimana layaknya yang terjadi...
"Hmmm~ Te-Teme, Kau ingin pergi ke New York yahh~?... Hahahaha. Aku tidak pernah pergi ke New York tuhhh~ New York kotaa yang baguss sekaalii kan Teme?~... Ha. Ha. Ha...ukhh." Naruto berusaha bergurau dan membuat nada yang bersemangat seperti biasanya, tapi pada akhirnya jatuhnya malah terdengar seperti orang yang mencoba memaksakan dirinya.
Sasuke mendelik Naruto yang ada di belakangnya, wajah stoic bagai tak pernah luntur menghiasi pemuda bersurai raven tersebut. "Hn..."
"Ke-kenapa?"
"Aku harus menjalani therapy... Kakashi bilang, ada seorang ahli akupuntur yang sangat terkenal di sana yang mungkin dapat meyembuhkan penyakitku."
"E-Eh? Penyakit a-apa?" Naruto agak terbata, baru mengetahui pertanyaan.
"Entahlah... " jawab Sasuke, datar, dan lagi-lagi hal itu membuat Naruto cemberut.
"Penyakit tuan Sasuke sebenarnya hanyalah penyakit biasa untuk beberapa orang, hanya mimpi buruk yang membuat ganguan tidur. Tetapi... sudah sampai tahap yang begitu parah dimana, tuan Sasuke hanya dapat tidur 2-5 jam sehari dan terbangun tengah malam dengan mimpi buruk..., penyakit ini sudah berlangsung selama 8 tahun." Suara Kakashi muncul begitu saja, memotong, memberikan penjelasan yang tidak mungkin dapat keluar dari mulut seorang Uchiha Sasuke. Kakashi tersenyum sambil berjalan ke arah mereka berdua.
"Tuan, sebentar lagi pesawat akan lepas landas..."
"Aku tidak peduuli Kakashi, tolong tinggalkan aku sendiri di sini, kau bukan seorang pelayan yang patuh pada tuannya!" Serang Sasuke. Kakashi hanya tertawa mendengarnya, "Baiklah tuan..." dan Kakashi kembali menghilang dengan sekejab dari tempat itu.
"Sa..." Naruto terdiam tak bisa menyampaikan kata-katanya.
"Hn?"
"Sa-Sampai kapan?"
"2 bulan... kurasa."
"Kau akan kembali ke sini?"
"Hn."
Naruto diam, dia tidak berani menebak apa arti kata yang memiliki beribu makna tersebut. Takut kecewa, mungkin...
"Ma-maafkan aku, Teme..."
"Untuk apa?" ujar Sasuke datar.
"Untuk 2 minggu yang lalu."
"Hn..."
GREBBB! Tanpa disangka Naruto langsung memeluk Sasuke erat dan menaruh kepalanya di bahu Sasuke. "Kau, temanku Teme, kau tahu itu!... meskipun hanya bertemu sebanyak 2 kali( 3 kali dengan yang ini)... berjanjilah kau akan megingatku, orang yang cerewet ini!"
"Hn..."
"Kau harus kembali,Teme..." Ujar Naruto sambil mengeratkan pelukannya pada Sasuke.
"Hn"
"Ah, kau ini~!" Naruto melepas pelukannya tiba-tiba, dan memukul bahu Sasuke pelan. "Lebih baik, kau segera pergi atau kau akan ketinggalan pesawatmu, Teme! aku tidak mau nanti kau salahkan!"
"Hn, tentu itu salahmu, Dobe" Sasuke menyeringai melihat tingkah Naruto yang cemberut, lucu dan imut itu.
"Ya, sudah... ayo kita kembali! kau harus ke bandara kan!"
"Hn..."
.
.
Diam sebentar, naruto mengaruk-garuk pipinya dengan agak bingung. "Hei, Teme!..."
"Hn?"
"Kenapa tadi kau mencium pipiku?"
"..." Sasuke bungkam.
"Temeeee~~!"
"..." Sasuke masih bungkam.
"TEME!" Ujar Naruto lagi, kali ini wajahnya merona tanpa alasan.
"...Idiot!"
"UKKHH! KUSO!"
.
.
"Haha..."
~~~~~~~~^*^IRIA^*^~~~~~~~~~~
Setelah pamit dengan keluarga Namikaze, termasuk Naruto, sudah waktunya Sasuke untuk memberangkatkan dirinya.
Mobil mewah berwarna hitam itu menjauh rumah keluarga Namikaze , diiringi dengan lambaian tangan dari 3 orang (Minato, Kushina, dan tentu saja Naruto), membawa sebuah ketenangan pada malam itu.
Tak ada yang salah paham, tak ada yang sedih pada akhirnya, tak ada yang khawatir. Semuanya beres, complete, tidak ada yang terlambat. karena mereka sudah berjanji sebelumnya. Semuanya sudah dibicarakan, tak ada penyesalan... Yang ada hanya sebuah janji dan kata klise 'Teman' . Memang hanya sebuah hubungan semu yang sangat rapuh dan dapat pecah kapan saja.
Happy end kah semua ini pada akhirnya? Entahlah
(END?)
Omake
Naruto berjalan menuju ke kamarnya dengan agak sedikit tersipu. Akhirnya, orang yang membuatnya gelisah selama 2 minggu ini memaafkannya, membuat hatinya begitu tenang.
Tapi bukan itu hal yang membuat Naruto tersipu, melainkan kejadian saat Sasuke mengunjungi kamarnya dan mencium pipinya diam-diam. "Aish! Teme itu benar-benar menyebalkan! Aku kan laki-laki, kenapa harus dicium untuk salam perpisahan!, memalukan!" ujar Naruto dengan pipi yang merona itu, mengerutu kecil. Hei, Naruto... tahukah kamu? bahwa author sendiri tidak yakin bahwa kamu itu laki-laki?.
Tiba-tiba, Naruto melirik sebuah bingkisan kecil yang ada di atas mejanya, Naruto mengambilnya, dan sadar di bawah bingkisan itu ada celana panjang Naaruto yang tempo hari lalu ditinggal di mansion Uchiha, sudah dalam keadaan bersih dan harum. "Apa ini..?" Naruto bingkisan itu dengan ragu-ragu, siapa tahu, isinya pil Ectasy.
Dan saat Naruto menyadari isinya, betapa bingungnya Naruto ketika mendapati sebuah kalung di dalamnya, dengan bandulnya adalah sebuah salib, dengan 3 buah permata di setiap ujung garisnya... Tunggu, kenapa hanya 3? bukankah seharusnya ada 4? jika permatanya ada 4 akan kalung itu dapat sempurna menjadi sebuah salib, kemana permata yang ke 4'nya?
Tetapi Naruto tidak mempermasalahkan hal itu...
"Teme baka! kenapa dia memberikanku kalung seperti ini...Se-seperti kalung perempuan!" rengek Naruto, "Dan juga... rasanya aku pernah melihat posisi permata ini..." ujar Naruto sambil berpikir.
.
.
"Oh ya! aku ingat!" Naruto menjentikan jarinya.
"Salib Selatan..."
.
.
.
Sementara itu di tempat yang lain di waktu yang sama.
Sasuke melihat langit malam yang berwarna sama dengan mata onyxnya, helaian rambutnya terbawa tertiup angin dari jendela yang terbuka, perlahan... Sasuke mengangkat tangan kanannya dan menatap ke sebuah cincin yang bertenger di jari tengahnya. Cincin yang bersinar akibat terpaan lampu jalan. Cincin biasa yang tak ada mewah-mewahnya sama sekali, tak ada ukiran. Yang ada hanyalah sebuah permata kecil di tengahnya.
Itu, mungkin adalah permata keempat dari kalung yang tadi dia berikan pada Naruto.
Sasuke tersenyum tipis.
'Naruto, kau bintangku yang keempat..." Sasuke mengecup cincin di jari tengahnya itu dengan lembut.
~~~You Are My Fourth Stars~~**End Omake**
Author Note: Minna, saya amat-amat sangat minta maaf akan keterlambatan saya dalam mengupdate dan men-complete kan cerita ini, padahal... sebenarnya, chapter yang satu ini sudah saya buat dan selesai sejak dari beberapa minggu yang lalu, tapi... karena saya merasa chapter ini jauh lebih jelek dari beberapa cerita lain yang saya buat, akhirnya saya malas edit dan publish, sampai saya ingat saya seharusnya ga boleh menelatarkan fanfict saya, karena cuma kurang percaya diri.~
Fuahhh~, saya... selaku Iria-san yang amat geje dan aneh, (yang sekarang sedang terkena GS a.k.a Galau Syndrome) benar-benar meminta review yang berisi pendapat, kritik dan saran... Ne, minna-san... ?
