DISCLAIMER :
HxH Characters belong to Togashi-sensei
Ryusuke Kai belong to Waki Yamato
Vera Yuspov belong to Riyoko Ikeda
TITLE :
Hikari o Tōtatsu (or Reaching for The Light in English, I change the title coz I think it's better...)
PAIRING :
KuroPikaLeo, one sided LeoPonzu
SUMMARY :
In our modern society that preaches to freedom, equality and enlightened thinking, are we really that free, equal and open minded?
WARNING :
AU, OOC, FemKura, based on dorama (my favorite one, I'll tell you the title at the last chapter, so pleaseeeee shut up for you who already knew == ), and read this with open mind...
.
Happy reading^^
You could come to The World of Freedom
If you really wanted...
And you really tried
Leorio meregangkan otot-otot tubuhnya sedikit, sambil duduk dengan tidak nyaman di kursi yang sebetulnya empuk itu. Hari ini begitu melelahkan. Dia baru saja menghubungi seorang nasabah di bank tempatnya bekerja, namun keadaan berbalik ketika nasabah itu mulai menceritakan kemalangannya.
'Ughh...padahal aku pun kesulitan kalau sampai tak bisa menyelesaikan masalah denganmu,' gerutu Leorio dalam hati.
Di tengah kesibukan yang ada di ruangan itu, terdengar suara dering telepon tak jauh dari meja tempat Leorio berada. Ponzu mengangkatnya. Mengenal suara si penelepon, wanita itu pun menoleh.
"Leorio, telepon untukmu!" serunya.
Leorio menghela napas. Dia mengangkat telepon di mejanya...tanpa mengetahui bahwa Ponzu mencuri dengar pembicaraan itu.
Leorio sedikit tertawa ketika mendengar seseorang memarahinya di telepon, yang tak lain adalah Kurapika.
"Kenapa kau harus marah begitu?" tanya Leorio lembut. "Aku memberitahu ayahmu karena kukira kau sudah menceritakannya pada orangtuamu."
"Bukannya aku keberatan, tapi rasanya ini terlalu cepat...Kau tidak perlu sampai harus datang ke rumahku malam ini!" Kurapika masih merasa tak setuju.
"Kurapika, kita akan segera menikah...kurasa sudah sewajarnya kalau mulai sekarang aku menemui orangtuamu lebih sering. Walau aku tidak merencanakannya malam ini, karena alasan persiapan pernikahan, pasti akan terjadi juga, bukan?"
"Tapi—"
"Sudahlah, kau tak perlu mengkhawatirkan apapun. Sekarang kita sudahi dulu...aku sedang sibuk. Aku akan datang jam tujuh ke rumahmu. Sampai nanti."
Leorio menutup teleponnya. Seulas senyum tipis nampak di wajahnya. Ah...sungguh, suara Kurapika—walau tadi suasananya kurang menyenangkan—sanggup mencerahkan harinya.
Sementara itu, Ponzu pun menutup teleponnya. Matanya menatap lurus ke punggung Kuroro. Sekilas tak ada emosi yang nampak...namun jika diperhatikan, raut wajah Ponzu terlihat seperti tengah memperhitungkan sesuatu.
Saat ini waktunya jam istirahat di Akasaka Gakuen. Kurapika membuat beberapa cangkir teh untuk para guru, lalu duduk di meja sambil menyantap roti isi yang dibawanya dari rumah. Di hadapannya, terhampar berkas-berkas atas nama Kuroro Lucifer.
'Ada yang aneh,' ucap Kurapika dalam hati ketika melihat keterangan di dalam berkas itu.
Sementara itu di aula yang sepi, nampak Machi duduk di kursi yang terletak di barisan tengah. Seperti biasa, dia tengah membaca buku yang sama sejak kemarin.
Gadis itu tak tersentak sedikitpun ketika pintu aula terbuka, menampakkan Kuroro yang masuk sambil membawa sebuah buku yang baru saja dipinjamnya dari perpustakaan. Dia mengira aula itu kosong. Namun sepertinya mulai sekarang dia harus mengubah perkiraannya itu.
Kuroro tetap bersikap santai, duduk di barisan yang sama dengan Machi dengan jarak dua bangku di antara mereka.
"Buku apa itu? Sepertinya kau begitu tertarik!" ucap pemuda itu sambil membuka bukunya dan mulai membaca.
"Kau akan diabaikan oleh yang lain kalau berbicara denganku, apalagi kalau mereka tahu sekarang pun kau ada di sini bersamaku," Machi berkata tanpa menoleh.
Kuroro tersenyum sinis. "Jadi hanya kau yang boleh masuk aula di jam istirahat?"
"Aku serius."
"Aku juga. Memangnya kenapa? Aku sama sekali tak keberatan jika sampai harus diabaikan murid-murid yang lain."
Machi tak mendebatnya lagi. Dia tahu jika dia melanjutkannya, usahanya akan sia-sia saja. Lagipula dia tak mau mempedulikan hal itu.
"Apakah Kai-sensei tahu?" tanpa diduga, Kuroro bertanya lagi.
Machi berhenti membaca. Dia meletakkan bukunya dalam keadaan terbuka di pangkuannya, seolah apa yang akan ia katakan merupakan hal yang penting dan cukup mengusik benaknya.
"Dia bilang, kalau terjadi sesuatu...aku bisa bicara padanya," jawab Machi.
"Dan kau melakukannya?"
"Ayolah, siapa yang mau bicara dengan seorang munafik seperti dia?"
"Munafik?"
Kuroro tak menyangka percakapan ringannya dengan Machi—yang semula hanya bertujuan untuk basa-basi saja—berujung pada hal seperti ini. Dia pun mengalihkan perhatian dari halaman buku yang tengah dibacanya.
"Kai-sensei terlalu mengkhawatirkan pandangan orang tentang dirinya," Machi mulai menjelaskan. "Dan lagi, ayahnya adalah Ketua Dewan Sekolah...makanya dia bisa menjadi guru di sini. Sebenarnya, guru semuda dirinya dan belum punya pengalaman mengajar seharusnya belum bisa menjadi guru penuh waktu."
Kuroro agak tertegun mendengar hal itu. Ketika kelas berlanjut, sesekali penjelasan Machi kembali terngiang di benaknya.
Murid-murid langsung berhamburan keluar kelas ketika bel pulang berbunyi, sementara Kuroro berjalan dengan santai menuju ke gerbang sekolah. Dia membungkuk sebentar untuk mengikat tali sepatunya yang terlepas.
Tiba-tiba seseorang berdiri di hadapannya. Kuroro terpaku. Hanya dengan melihat bayangannya saja, Kuroro sudah tahu siapa orang itu.
Dia pun mendongak, bertemu pandang dengan seorang pemuda yang tak beralis mata tengah menatapnya.
"Hai Lucifer, seharusnya kau memberitahuku jika kau pindah sekolah. Bukankah itu peraturannya?" ucapnya sambil tersenyum sinis.
Kuroro menghela napas. Dia melihat ke sekeliling, memandang beberapa orang murid yang lewat di sana tengah memperhatikan mereka dengan tatapan aneh. Wajar saja karena pemuda di hadapannya ini memakai pakaian dengan gaya seenaknya.
"Kita bicara di tempat lain," Kuroro berkata sambil berbalik. "Ikuti aku."
Kurapika keluar terakhir dari ruang kelasnya. Dia menuruni tangga, namun berhenti ketika sampai di lantai di bawahnya. Dahinya mengernyit...ada sesuatu yang menarik perhatian wanita itu.
Di halaman samping, nampak Kuroro tengah berdiri berhadapan dengan pemuda yang menemuinya di gerbang sekolah. Kurapika terus memperhatikan, dan terkejut ketika melihat Kuroro mengeluarkan cukup banyak uang lembaran dari dalam dompetnya dan memberikannya pada pemuda itu.
Tiba-tiba Kuroro menoleh. Dia merasakan tatapan Kurapika. Pemuda itu segera mengajak temannya pergi dari sana.
Lucifer General Hospital...
"Selamat sore Nona, ada yang bisa kubantu?" tanya seorang resepsionis.
Kurapika tersenyum. "Aku Kurapika Kai dari Akasaka Gakuen...aku ingin bertemu dengan Direktur Utama rumah sakit ini."
Resepsionis itu langsung mengerti ketika mendengar nama Akasaka Gakuen disebutkan, tentu saja dia hafal ada hubungan apa majikannya—tepatnya anaknya—dengan sekolah tersebut.
Kurapika duduk menunggu di sebuah ruangan yang luas dan tertata rapi. Secangkir teh hangat tersimpan di meja di hadapannya. Wanita itu memendarkan pandangannya ke sekeliling ruangan hingga kemudian matanya tertuju pada sebuah lukisan yang cukup besar di belakang meja direktur.
Lukisan itu satu-satunya hiasan yang tampak bernyawa di ruangan tersebut, membuat Kurapika beranjak untuk melihatnya lebih dekat.
Lukisan bergambarkan pesisir pantai, dengan air lautnya yang tampak hidup dan cahaya matahari yang terang. Sosok dua orang manusia—yang satu tampak lebih kecil dari sosok yang satunya—tengah bergandengan tangan. Salah satu tangannya menunjuk ke atas, seperti seorang ayah yang menunjukkan sesuatu pada anaknya.
Sebuah lukisan sederhana...namun membuat Kurapika terpesona, hingga dia tak menyadari pintu masuk di dekatnya terbuka.
"Itu lukisan yang dibuat oleh mendiang suamiku," terdengar suara seorang wanita.
Kurapika tersentak. Dia segera berbalik, membungkukkan badannya untuk memberi salam, seperti apa yang dilakukan oleh pemilik suara itu. Ketika mereka menegakkan badannya kembali, keduanya sama-sama terlihat kaget.
"Maaf...," wanita di hadapan Kurapika angkat bicara lebih dulu. Dia bertubuh tinggi, berambut hitam panjang dan mata yang teduh berwarna abu-abu. Kulitnya putih kemerahan. "Kau terlihat begitu muda dan cantik. Nona Kai, aku tak mengira kalau...guru wali kelas Kuroro..."
"Ah...aku pun terkejut...," jawab Kurapika tanpa sadar.
"Kenapa? Karena orang asing sepertiku menjadi Direktur Utama rumah sakit ini?"
"Maaf, aku-"
"Tak apa, tenang saja. Aku seorang imigran dari Rusia...yang pergi dari negaranya untuk mencari kehidupan yang baru. Aku memimpin manajemen rumah sakit ini sejak suamiku meninggal. Dan sepertinya...kau pun bukan orang Jepang asli?"
"Ah...ya, aku memiliki garis keturunan asing dari pihak keluarga ayah."
Kurapika menatap wanita anggun itu, Vera Lucifer, yang dahulunya adalah Vera Yuspov. Dia memiliki raut wajah dingin yang sama dengan Kuroro.
Kini mereka duduk bersama di sofa. Dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi benak kedua perempuan itu, suasana canggung memenuhi ruangan tersebut hingga akhirnya Kurapika mulai menyampaikan maksud kedatangannya,
"Nyonya Lucifer, aku baru saja membaca berkas milik putramu. Bolehkah aku tahu, alasan apa yang membuat Kuroro-kun sering pindah sekolah? Dan kulihat dia sering bolos di sekolah-sekolah yang sebelumnya dia ikuti."
Vera terlihat sedikit terkejut, tapi kemudian dia tersenyum. "Itu...bukan sesuatu yang perlu kau khawatirkan," jawabnya.
Dahi Kurapika sedikit mengernyit. Terlalu sering pindah sekolah dalam waktu yang berdekatan sudah pasti menunjukkan adanya masalah. Bagaimana mungkin wanita yang berada di hadapannya ini bisa mengatakan bahwa alasan dari masalah itu bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan?
Vera melihat reaksi yang terlihat di wajah Kurapika. "Jangan-jangan...kau belum tahu?"
"Aku tak mengerti sama sekali," ucap Kurapika jujur sambil tertawa kecil dengan canggung.
"Ketika aku ingin memasukkan Kuroro ke Akasaka Gakuen, pihak Akasaka sudah menyetujui syarat yang kuajukan. Seandainya nanti Kuroro terlibat masalah atau bolos sekolah, Akasaka Gakuen tetap akan meluluskannya."
"A-apa?"
"Nona Kai, walau apapun yang terjadi...Kuroro tetap harus lulus. Dia harus mengambil alih rumah sakit ini, Lucifer General Hospital, yang ditinggalkan suamiku untuknya. Aku pun menyewa seorang tutor yang bagus untuk membantu Kuroro belajar di rumah. Karena itulah...sekolah manapun yang diikuti Kuroro, itu tak masalah."
Kurapika terdiam sesaat, seolah berusaha mencerna kata-kata yang diucapkan ibu dari salah seorang muridnya. Mata birunya sedikit membelalak tak percaya.
"Apakah...Kuroro-kun mengetahuinya?"
"Tentu saja tidak," jawab Vera sambil tersenyum, yang kini dilihat Kurapika sebagai senyum yang penuh dengan kepalsuan.
"Apakah itu juga berarti...tak peduli siapapun guru yang menjadi wali kelasnya?"
Raut wajah Vera menegang. Dia menghela napas pendek, lalu menampakkan senyum yang terpaksa.
"Yang bisa kukatakan hanyalah...kau tak perlu lagi datang ke sini demi kepentingan anakku," Vera berkata sambil berdiri.
Menangkap arti dari sikap tubuh tersebut yang mengisyaratkan agar Kurapika segera pergi dari tempat itu, Kurapika pun beranjak. Dia meraih mantel dan tasnya. Ketika akan berbalik pergi, wanita muda itu teringat akan sesuatu.
"Aku ingin mengembalikan barang milik Kuroro-kun," ucapnya. Tangannya menggeledah isi tas berwarna putih itu, lalu mengambil sebuah ponsel dari sana. Ponsel Kuroro yang terjatuh ketika pertama kali mereka bertemu.
Dengan heran, Vera mengambilnya. "Kenapa...ponsel Kuroro bisa ada padamu?"
"Ponselnya tadi tertinggal di kelas...jadi aku mengambilnya. Permisi."
Vera tak bergeming dari tempatnya, membiarkan Kurapika keluar begitu saja dari ruangannya. Dia masih memegangi ponsel itu. Vera agak memiringkan kepalanya, dahinya sedikit mengernyit, seolah berusaha menduga-duga jawaban dari pertanyaan besar—entah apa—yang kini tiba-tiba muncul di benaknya.
Tak lama waktu berselang, hujan turun rintik-rintik. Kuroro berdiri di luar pagar rumah sakit milik keluarganya. Ia menatap bangunan itu tanpa menghiraukan orang-orang yang menatapnya heran.
"Kuroro-kun," terdengar sebuah suara di sampingnya.
Rasanya Kuroro tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang menyapanya. Dia pasti orang itu.
"Dokter Hisoka," ucap Kuroro datar.
"Bagaimana dengan sekolah barumu? Masalah apa lagi yang sudah kaubuat di sana?"
'Ini dia, orang menyebalkan yang senang ikut campur dengan sikap sinisnya,' Kuroro berkata dalam hati.
Merasa malas menanggapi salah seorang dokter di rumah sakit milik keluarganya itu, Kuroro segera berbalik pergi. Tapi langkahnya terhenti dan ia pun memekik kesakitan ketika tiba-tiba Hisoka menarik lengannya yang terluka akibat terjatuh dari motor kemarin.
"Hei, kau kenapa?!"
Kuroro sedikit meringis, memandang Hisoka...pria berambut merah, dengan tatapan mata yang licik dan jas putih yang hampir selalu ia kenakan saat bertugas.
Kuroro duduk bertelanjang dada di atas tempat tidur di ruangan pemeriksaan. Nampak luka lecet yang cukup parah di lengan kirinya, dengan warnanya yang kebiruan.
"Bisa-bisanya kau membiarkan lukamu tanpa mengobatinya," Hisoka berkata. Tanpa menunggu tanggapan dari Kuroro—yah dia cukup mengetahui bahwa pemuda itu tidak menyukainya dan pasti enggan bicara dengannya—dia mengamati hasil rontgen lengan kiri Kuroro. "Tak ada masalah dengan tulangmu. Syukurlah."
Hisoka menghela napas dan duduk di hadapan pemuda berambut hitam yang wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Kau harus berhati-hati," Hisoka berkata lagi sambil mengobati luka Kuroro. "Kau harus menjaga dirimu baik-baik. Kau pewaris rumah sakit ini. Kau tahu? Aku iri padamu...karena aku hanyalah anak dari keluarga miskin dan harus bersusah-payah untuk menjadi dokter, sedangkan kau tak perlu melakukan apapun untuk mendapatkan semuanya. Jika sesuatu yang buruk sampai terjadi padamu..."
Hisoka mengangkat wajahnya sedikit dan dengan cara yang aneh dia menatap Kuroro.
"...Ibumu pasti akan gila."
Kunjungannya ke rumah sakit dan pertemuannya yang tidak terduga dengan Hisoka membuat Kuroro pulang terlambat. Dia dan ibunya hanya tinggal berdua, di sebuah kondominium eksklusif di kota itu. Di jam seperti ini, tentu saja Kuroro tak mengharapkan ibunya yang sibuk sudah ada di sana menunggunya. Tapi Kuroro tahu pasti...dia tak akan sendiri.
Kuroro menjinjing tas ranselnya. Mata hitamnya yang dingin menatap ke ruang tengah kondominium itu, ke arah seorang wanita berkacamata yang sepertinya tengah menikmati waktunya di sana. Dia duduk di lantai, membaca sebuah buku mengenai bedah jantung.
BRUKK!
Kuroro menjatuhkan tas ranselnya ke lantai. Wanita itu tersentak, dan langsung menoleh.
"Kau terlambat sepuluh menit," ucap sang tutor yang disewa Vera untuk mengajari Kuroro, Shizuku. Dia kaget dengan kedatangan Kuroro yang tiba-tiba, tentu saja, tapi waut wajahnya sama sekali tak menampakkan rasa malu apalagi rasa bersalah karena terlihat begitu santai di rumah sang majikan. Datar...dan dingin.
Kuroro pun tak bicara sedikit pun. Dia meraih tasnya lagi, melangkah masuk ke kamarnya. Shizuku mengikutinya. Tak lama kemudian, wanita itu sudah sibuk menjelaskan beberapa materi pelajaran Matematika pada Kuroro. Kuroro menyimak dengan seksama, hingga akhirnya diam-diam ia melirik ke samping—ke salah satu sudut kamarnya. Di sana, menempel sebuah gambar dari lukisan favoritnya.
The Creation of Adam oleh pelukis terkenal Michaelangelo.
Kuroro menatap gambar itu, lukisan di mana jari Tuhan dan Adam bersentuhan, seolah menggambarkan sisi lain dunia yang membuat Kuroro iri. Betapa Kuroro menginginkannya...dunia tanpa penghalang, tanpa aturan yang mengekang hingga membuatnya seolah sulit untuk bernapas dan menikmati hidup.
Tatapan mata Kuroro terus tertuju ke sana, sementara Shizuku tak menyadari hal ini dan terus menerangkan salah satu soal Matematika di buku yang ada di hadapan mereka.
Rumah Keluarga Kai...
Kurapika membuka pintu rumah perlahan. Hari sudah malam sekarang. Terdengar suara tawa beberapa orang dari ruang makan, termasuk suara yang sudah begitu dikenalnya.
Leorio sudah datang.
"Selamat malam," sapa Kurapika sambil melangkah masuk ke ruang makan dan membuka mantelnya. Kedua orangtuanya sudah memulai makan malam mereka bersama Leorio.
"Kau pulang terlambat, Kurapika," Mito berkata.
"Maaf...," ucap Kurapika segera. "Ada beberapa hal di sekolah yang harus kuselesaikan."
"Seharusnya kau memberitahu kalau akan pulang terlambat!" Ryusuke terdengar marah.
Tanggap dengan hal ini, Leorio segera mencoba mengalihkan perhatiannya. "Sudahlah, Tuan Kai...aku percaya pasti menjadi seorang guru itu sangat berat, bahkan aku salut terhadapmu yang pernah menjadi kepala sekolah untuk waktu yang lama."
Leorio menuangkan sake di gelas Ryusuke, sementara Kurapika segera duduk di samping Leorio dan mulai bersantap.
"Masakan ini sangat enak, Nyonya Kai, betapa beruntungnya aku," seoloroh Leorio sambil tertawa.
Ryusuke meneguk sakenya. "Tapi jangan berharap terlalu tinggi pada Kurapika. Putriku sama sekali tak bisa memasak."
"Ah...dia bisa belajar. Walau bagaimanapun, aku sangat beruntung. Aku sudah jatuh cinta sejak pertama kali aku bertemu dengan Kurapika. Sampai sekarang aku betul-betul berterimakasih pada Ponzu yang telah berbaik hati mempertemukan kami."
Kurapika melirik kekasihnya. Yah, kadang Leorio yang biasanya bersikap sopan bisa menjadi begitu berisik. Namun kali ini saatnya tepat sekali. Sikap Leorio yang seperti itu mampu mencairkan suasana.
Kurapika tersenyum tipis dan melanjutkan makan malamnya.
Malam sudah mulai larut ketika Leorio melangkahkan kakinya keluar dari rumah Keluarga Kai. Kurapika mengikutinya, bermaksud mengantar kekasihnya hingga ke gerbang.
Leorio menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Ada apa?" tanya Kurapika. Dia tahu, Leorio biasa melakukan hal itu ketika dia gugup.
Leorio tertawa kikuk. "Ah...apakah suaraku tadi terlalu keras? Aku baru menyadarinya sekarang. Aku mengutuk sake yang membuatku sedikit lupa diri. Kurapika, aku takut orangtuamu tidak menyukaiku!"
"Kau bercanda?" komentar Kurapika sambil terkekeh geli. "Ayahku sampai tertawa lepas begitu...Kedua orangtuaku sepertinya menyukaimu."
Leorio terdiam melihat wajah Kurapika yang tersenyum. Tiba-tiba dia memeluk wanita itu. Kurapika terhenyak.
"Aku sangat bahagia...Kurapika," bisik Leorio mesra. "Aku tak pernah mengatakan padamu...selama kita menjalin hubungan, sempat beberapa kali aku merasa diriku tak pantas untukmu hingga rasanya ingin menyerah. Tapi sekarang...aku sungguh bersyukur, aku bisa bertahan sampai sekarang."
Kurapika tak tahu harus menjawab apa. Dia terkejut mendengarnya. Leorio bukan orang yang romantis, cukup aneh jika Leorio bisa bicara seperti itu.
Leorio melepaskan pelukannya dan menggenggam kedua tangan Kurapika. Mata coklatnya menatap mata biru wanita pirang itu.
"Kurapika...," ia berkata lagi. "Mari kita hidup bahagia selamanya."
Kali ini Kurapika sampai tercengang mendengarnya, namun kemudian dia tersenyum dengan mata yang berbinar-binar. Dan Kurapika pun mengangguk.
Leorio tersenyum lebar. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Kurapika, bahkan melumat bibir itu cukup lama. Mereka berciuman dengan mesranya dalam keheningan malam itu.
Kuroro menikmati hangatnya air yang tengah merendam tubuhnya di bathtub saat ini. Perlahan ia menggerakkan tangan kirinya. Agar tidak terkena air, Kuroro terlebih dahulu membalutnya dengan handuk berukuran lebih kecil.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Dari balik kaca embun yang menjadi pembatas, Kuroro dapat melihat bayangan sosok ibunya.
"Kuroro, bagaimana keadaanmu?" tanya Vera.
Kuroro menghela napas. "Bukankah dokter itu sudah memberitahumu? Dia bilang aku baik-baik saja," jawabnya sambil keluar dari bathtub dan melingkarkan sehelai handuk di pinggangnya.
"Ibu hanya khawatir..."
"Setidaknya Ibu bisa menungguku selesai mandi lebih dulu."
Vera terdiam. Dia menatap sosok Kuroro yang melangkah dari balik pembatas dan berdiri di depan kaca di atas wastafel. Tanpa sadar dirinya tersenyum. Putra tunggalnya benar-benar sudah besar sekarang. Tampan...seperti mendiang ayahnya, namun dengan sedikit sentuhan asing dari dirinya, melengkapi kesempurnaan sosok pemuda itu.
Kuroro memperhatikan bayangan dirinya yang memantul di cermin, hingga tiba-tiba Vera meraih handuk yang lebih kecil dan mulai menggosok rambut Kuroro yang basah.
"Tadi wali kelasmu ke sini," Vera berkata. "Aku benar-benar tak menyangka...dia begitu muda dan cantik..."
"Untuk apa dia ke sini?" tanya Kuroro heran.
"Dia mengembalikan ponselmu. Katanya tertinggal waktu di kelas tadi."
"Eh?"
Vera mengeluarkan ponsel milik Kuroro dari saku blazernya, lalu menyerahkannya. Kuroro segera mengambil ponsel itu.
"Tapi agak aneh...," tiba-tiba Vera bicara lagi. "Waktu Ibu meneleponmu, yang menerimanya seorang wanita...katanya dia menemukan ponselmu. Sungguh bertolak belakang dengan apa yang dikatakan wali kelasmu."
"Mungkin Ibu salah nomor," Kuroro segera berdalih sambil menghindari tatapan mata ibunya. Dia membuka pintu kamar mandi dan segera melangkah keluar. "Selamat malam."
"Selamat malam...Kuroro."
Kurapika kembali mulai menjalani harinya di Akasaka Gakuen. Dia terlihat santai dengan jaket dan celana panjang coklat muda, lalu kaus merah sebagai dalamannya. Seperti biasa Kurapika menyapa murid-murid hingga kemudian matanya tertuju pada seseorang yang sedang merokok tak jauh dari gerbang sekolah. Dia...adalah pemuda yang sama dengan yang mendatangi Kuroro waktu itu.
Kurapika memutuskan untuk menghampirinya.
"Maaf, ada perlu apa kau ke sini?"
Pemuda itu melepaskan puntung rokok dari sela-sela bibirnya dan menegakkan posisi tubuhnya. Dia memandangi Kurapika dengan tatapan waspada.
"Kau mau menemui Lucifer-kun? Kau punya hubungan apa dengannya?" tanya Kurapika lagi.
"Siapa kau?" tanya pemuda itu.
"Aku wali kelasnya."
"Kalau begitu tolong sampaikan padanya...sepulang sekolah nanti, aku mau bermain. Dia pasti mengerti maksudku."
Setelah berkata begitu, dia berbalik dan melangkah pergi. Kurapika terus mengamatinya, hingga tak menyadari bahwa Kuroro menyaksikan semua adegan itu.
'Kai-sensei...mau apa dia?' Kuroro bertanya-tanya dalam hati.
Kurapika memasuki kelasnya ketika bel masuk sudah berbunyi.
"Selamat pagi semua," ia menyapa kelas yang ribut itu. "Ayo duduk di kursi kalian masing-masing!"
Semua murid pun beranjak, walau sambil menggerutu tentu saja. Di bagian belakang kelas, seperti biasa Geng Killua sengaja berlambat-lambat dan memilih untuk berdiri. Mereka menatap Kurapika dengan tatapan nakal, dan tampak tak sabar ketika wanita itu menghampiri mejanya.
Kurapika heran melihat sehelai kertas bergambar hati yang tersimpan di atas meja. Ketika dia membalik kertas itu, bukan heran lagi...namun Kurapika sangat terkejut dan merasa dipermalukan.
Terdapat tulisan 'Take Me with You'...disertai dengan sebuah kondom dalam kantong plastik yang disematkan di bawahnya.
Wajah Kurapika serasa langsung memanas. Sebagian besar murid mulai tertawa, kecuali Kuroro dan Machi yang terheran-heran.
"Siapa yang melakukan hal ini?!" seru Kurapika marah.
"Wah...Pika-chan, kami hanya bercanda," ucap Killua yang berdiri bersandar di dinding sambil memasukkan kedua tangan ke saku celananya. Senyum nakal menghiasi wajah pemuda itu. "Kau serius sekali, Pika-chan..."
Kurapika terperangah, sementara Pokkle menyikut Pariston yang terus menatap guru mereka. "Hei, Pariston! Ayo katakan padanya!"
"Baiklah," jawab Pariston tenang. Dia beranjak dari kursinya, lalu dengan cara yang sopan membungkuk ke arah Kurapika. "Kai-sensei, menikahlah denganku!"
Seisi kelas langsung tertawa.
"Kalian benar-benar keterlaluan!" Kurapika berkata dengan suara tertahan.
Pariston terkekeh pelan lalu mencondongkan badannya ke depan. "Ayolah, Kai-sensei...atas nama cinta, tak ada yang salah sama sekali. Hubungan cinta antara guru dan murid itu tidak dilarang!"
Kurapika membuka mulutnya, bersiap untuk memarahi pemuda itu namun Bisuke langsung menyela,
"Memangnya kau berani?" tantang Bisuke pada Pariston.
"Hei, diam kau! Kau hanya iri karena Pika-chan cantik!" hardik Pokkle kesal.
Perdebatan mereka langsung memicu pertengkaran di antara kedua geng itu. Kurapika menghela napas. Dia betul-betul merasa dilecehkan, tapi rasanya dia harus mengesampingkan perasaan pribadinya dulu sekarang.
Kurapika segera melangkah ke belakang kelas.
"Cukup! Berhenti bertengkar dan kembali ke tempat kalian masing-masing!"
Tak biasanya, Geng Killua dan Geng Neon langsung diam. Namun Bisuke, Neon dan Alluka terus memandangi Kurapika dengan penuh kebencian. Atas dasar iri atau apapun namanya, nampaknya ketiga gadis itu punya rencana jahat terhadap Kurapika.
Kuroro memperhatikan ketiga gadis itu dari sudut matanya...dan ia merasa sedikit khawatir.
Bel istirahat berbunyi. Kurapika menghela napas lega. Dia segera melangkah cepat menuju ke toilet dan duduk di sana.
'Benar-benar keterlaluan,' batinnya. 'Ini sudah melewati batas...'
Kurapika menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Dari semua hari-harinya yang buruk di Akasaka Gakuen, mungkin hari ini adalah hari yang terburuk.
'Mereka melecehkanku...padahal aku... Ah, Ayah...apakah ini memang yang terbaik untukku?'
Suara pintu toilet yang terbuka cukup keras membuyarkan lamunan Kurapika. Dia mendengar suara derap langkah milik beberapa orang masuk ke dalam.
Benar saja. Tiga orang murid perempuan, yang tak lain adalah Neon, Bisuke dan Alluka, mengikuti Kurapika masuk ke dalam toilet. Bisuke segera mengisi ember dengan air hingga penuh. Alluka mengambil sebuah pengepel lantai dan mengganjal pegangan pintu bilik toilet dengan gagangnya.
Merasa ada sesuatu yang salah, Kurapika pun berdiri. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati pintu bilik toilet yang ia tempati tak bisa dibuka. Dengan panik Kurapika mengguncang-guncang pintu itu.
"Hei, apa maksudnya ini?! Cepat buka! Jangan main-main!"
Kurapika mendongak ketika mendengar suara sesuatu digeser. Dalam sekejap saja, seember air disiramkan dari bagian atas toilet yang terbuka...membuat Kurapika basah kuyup.
"Kami tidak main-main, Sensei," terdengar suara Neon. "Kami sangat membencimu."
Kurapika begitu terguncang dengan peristiwa itu sampai-sampai dia tak ingat lagi bagaimana kejadiannya hingga bisa meloloskan diri. Kurapika merengkuh tubuhnya yang basah kuyup, berjalan dengan kepala tertunduk di koridor sekolah. Murid-murid terkejut melihatnya. Ada yang prihatin, ada pula yang tertawa.
Kurapika benci...dia tak suka dikasihani, dan dia pun tak mau ditertawakan seperti layaknya orang bodoh.
'Mungkin aku memang bodoh...,' ia berkata dalam hati.
Ketika berbelok, Kurapika berpapasan dengan Kuroro. Kuroro terbelalak melihat keadaannya. Kurapika mengurungkan niatnya untuk kembali ke kelas dan berlari pergi ke halaman samping Akasaka Gakuen.
Sesampainya di sana, Kurapika segera berjongkok dengan punggung bersandar ke dinding, menenggelamkan wajah di antara kedua lututnya.
Wanita itu sedikit mengangkat wajahnya ketika mendengar suara langkah seseorang yang mendekat ke arahnya.
Kurapika memberanikan diri untuk menoleh. Dia melihat Kuroro berdiri bersandar di dekatnya, tatapannya tertuju ke bawah. Entah muncul dorongan dari mana, Kurapika berkata,
"Aku merasa jijik...pada diriku sendiri," ucapnya lirih sambil kembali menunduk. "Aku tak cocok menjadi guru...bahkan rasanya aku tak mau masuk ke kelas lagi."
Sejujurnya, Kuroro sedikit terkejut karena Kurapika mau menampakkan kelemahannya di hadapan muridnya sendiri. Tapi dia pun merasa lega. Hal ini menandakan bahwa Kurapika merasa nyaman untuk mulai bersikap terbuka padanya.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak bolos saja?" tanya Kuroro cuek, sontak membuat Kurapika langsung menatapnya dengan tatapan seolah tak percaya. Merasakan tatapan itu, Kuroro menoleh. Seulas senyum tipis yang jarang dia tunjukkan pada orang lain—nampak di wajahnya. "Kurasa tak apa kalau seorang guru membolos sesekali. Ayo."
Tanpa menunggu tanggapan Kurapika, Kuroro melangkah menuju ke pagar sekolah.
'Oh tidak, dia serius!' pekik Kurapika dalam hati. Dia segera berdiri. "Hei, kau tak bisa melakukan itu!"
Kuroro hanya menoleh sebentar, tapi dia tetap melakukannya. Kuroro memanjat pagar sekolah itu. Setelah duduk di atasnya, sekali lagi dia menoleh ke arah Kurapika yang masih terperangah. Senyuman itu masih ada di wajah Kuroro. Tiba-tiba dia langsung melompat keluar pagar.
Kurapika terdiam. Pagar sekolah di hadapannya...laksana pembatas yang mengekang dirinya selama ini.
'Bisakah aku? Bolehkah aku melompatinya sekali saja?'
Lalu kakinya pun bergerak. "Hei, tunggu aku!"
Kuroro membawa Kurapika ke bengkel di mana sepeda motornya dititipkan. Kurapika melihat-lihat di sana dengan hati senang, dia pun takjub melihat bagaimana Kuroro bersosialisasi dengan teman-temannya di sana. Pemuda itu terlihat begitu lepas, dan santai tentu saja. Sesekali dia pun tertawa.
"Aku pinjam helm ini ya," ucap Kuroro pada salah seorang montir di sana. Lalu dia melemparkan helm full face berwarna putih itu pada Kurapika.
Kurapika segera menangkapnya dengan tangkas.
"Kau tidak takut naik motor 'kan, Sensei?" Kuroro bertanya dengan nada menantang.
"Tentu saja," jawab Kurapika yakin.
Tak berapa lama kemudian, wanita itu sudah berada di atas motor, di belakang Kuroro sambil melingkarkan tangannya ke pinggang pemuda itu. Kuroro mengemudikan sepeda motornya dengan kencang. Kurapika tak protes sedikit pun. Dia...menikmati hal ini.
"Aku harus berterima kasih padamu, Sensei," ucap Kuroro sambil sedikit menoleh.
"Untuk apa?!" Kurapika bertanya dengan sedikit berteriak, khawatir Kuroro tak dapat mendengar suaranya karena deru suara sepeda motor.
"Untuk tidak membocorkan rahasia tentang sepeda motor ini pada Ibu."
"Apa dia begitu melarangmu?"
"Dia punya anaggapan negatif terhadap pemuda yang suka naik motor besar."
"Jangan-jangan...kau membeli motor ini sendiri? Kau bekerja untuk mendapatkannya?"
"Ini satu-satunya benda yang kubeli dengan uangku sendiri."
Percakapan mereka terhenti karena Kuroro menambah kecepatan motornya, membuat Kurapika terkejut.
"Hei! Tidak bisakah kau mengurangi kecepatannya?!" Kurapika mulai protes.
"Tidak bisa, karena aku merasa lapar. Akan kubawa kau ke suatu tempat."
Dan Kuroro pun tersenyum lebar dari balik helm yang ia kenakan.
Kuroro membawa Kurapika ke sebuah kedai ramen. Ini baru pertama kalinya Kurapika ke sana, namun dia pernah mendengar tentang tempat itu dan sebenarnya sudah lama dia ingin mencoba ramen yang disajikan di situ.
Keduanya duduk berhadapan. Kuroro makan dengan lahap, namun Kurapika belum mulai menyantap makanannya. Tangannya sudah siap memegang sumpit, tapi dia sibuk menengok ke sekitarnya.
"Kuroro," ucap Kurapika dengan sedikit berbisik. "Aku penasaran apa yang dipikirkan pengunjung yang lain tentang kita"
"Hn..."
Kuroro kembali menyantap makanannya.
"Di jam sekolah seperti ini, seorang murid sepertimu malah makan di sini. Lalu...bersamaku yang—"
"Jangan terlalu memikirkan apa pendapat orang lain," ucap Kuroro tiba-tiba.
Kurapika menghela napas, dia meletakkan sumpit dan ramen yang belum sempat disantapnya kembali ke atas meja. "Kau bisa begitu bebas...sementara aku bingung, apa yang harus kukatakan kalau kembali ke sekolah nanti? Waktu masih sekolah pun, aku belum pernah membolos!"
"Untuk apa memikirkannya sekarang?"
Kurapika menatap Kuroro, langsung merasa terkejut mendengar jawaban pemuda itu.
"Kau hanya akan membuang waktumu hari ini. Tak ada untungnya. Berpikirlah kembali esok pagi saat kau bangun," Kuroro melanjutkan ucapannya.
"Apa aku benar-benar terlihat terlalu berusaha keras? Untuk tampak baik di mata orang lain..."
"Ya."
"Oh tidak..."
"Sensei, bisakah kau memuaskan harapan semua orang? Tentu saja tidak. Jangan terlalu memaksakan diri. Dan kenapa kau menjadi guru?"
"Aku..."
"Apakah menyenangkan?"
"Aku tidak tahu..."
"Lalu kenapa kau tidak berhenti saja?"
"Hei!"
Kuroro mengabaikan hardikan Kurapika dan kembali menikmati makanannya. Dia memutuskan untuk mengganti pertanyaan yang akan dia ajukan untuk gurunya itu.
"Kau akan menikah, bukan? Apa ada masalah?" Kuroro bertanya lagi.
Jawaban Kurapika semakin terdengar ragu. "Bukan begitu, tapi..."
"Tapi apa? Apakah kau benar-benar mencintai kekasihmu?"
"Itu..."
Kurapika terdiam. Sementara Kuroro, dengan sabar menanti jawaban Kurapika. Entah kenapa Kuroro merasa bahwa Kurapika tidak begitu mengenal dirinya sendiri. Misalnya mengenai hal sederhana namun cukup kompleks...mengenai perasaannya sebagai seorang guru, seorang anak dan seorang wanita.
"Hei, kenapa aku harus memberitahukannya padamu?!" tiba-tiba Kurapika tersadar dan merasa kesal. "Dunia orang dewasa itu kompleks, tidak seperti yang kaupikirkan!"
Kuroro mengacuhkan omelan Kurapika. Dia meraih tepi mangkuk ramen gurunya itu. "Kau tidak akan memakannya?"
"Tentu saja aku mau memakannya!" jawab Kurapika sambil menarik mangkuknya dari tangan Kuroro. "Berdebat denganmu membuatku sangat lapar!"
Dan benar saja, Kurapika langsung menyantap ramennya dengan cepat. Kuroro menyaksikan hal ini sambil diam-diam tersenyum. Dia menyukai ekspresi Kurapika ketika sedang cemberut seperti ini.
Setelah selesai bersantap, Kuroro dan Kurapika kembali terlihat di atas motor dan melaju kencang di jalan raya. Namun kali ini posisinya berbalik. Sekarang Kurapika tengah membonceng Kuroro.
Kurapika mengemudikan motor itu lebih cepat dari yang dikemudikan Kuroro tadi. Kuroro mulai merasa khawatir.
"Kau punya SIM, bukan?!" seru Kuroro khawatir.
Kurapika tertawa mendengar hal itu.
"Sensei, aku serius!"
"Tentu saja aku tidak punyaaaa...!"
"APA?!"
Kurapika mengacuhkan keluhan Kuroro. Dia tak mau berhenti...tidak sekarang. Kurapika merasa begitu menikmatinya. Begitu lepas...
Sayangnya, ketika mereka sudah mencapai tepi pantai, Kurapika tidak mengurangi kecepatannya dan lupa bagaimana cara untuk berhenti. Akhirnya motor yang mereka naiki pun oleng, menjatuhkan Kuroro dan Kurapika ke atas hamparan pasir.
"Kau benar-benar gila untuk seorang guru," gerutu Kuroro sambil beranjak duduk.
Kurapika hanya menghela napas lega lalu berbaring terlentang. Dia terpesona melihat langit yang berada di atasnya.
"Kalau berbaring seperti ini...seolah hanya ada langit biru dan kita berdua. Bukankah begitu?" tanya Kurapika sambil tersenyum.
Kuroro terlihat sedikit terkejut. Dia menoleh pada Kurapika.
"Kenapa? Ada yang salah?"
"Tidak," Kuroro menjawab. "Aku pun pernah berpikiran seperti itu dulu."
Kuroro meregangkan kedua otot tangannya, dan ikut berbaring terlentang di samping Kurapika.
"Kuroro, kau sering ke sini?"
"Berada di sini...membuatku merasa begitu bebas."
"Kenapa kau berhenti sekolah di sekolahmu sebelumnya?"
Kuroro hanya diam, namun Kurapika tak mau menyerah.
"Apakah karena pemuda yang mendatangimu ke sekolah waktu itu?"
Kuroro menoleh, menatap Kurapika seolah menerka-nerka apakah dia bisa mempercayai wanita itu atau tidak. Dan Kuroro tak perlu waktu lama untuk memastikannya. Tentu saja...dia bisa mempercayai Kurapika. Kesampingkan dulu bahwa wanita itu adalah gurunya.
"Dulu dia sahabatku," Kuroro mulai bercerita dan hal ini mengejutkan Kurapika. "Namanya Phinks...dia selalu membelaku. Tapi ketika aku dan dia sama-sama masuk SMA...semuanya berubah. Phinks memang nakal. Jika dia tak menyukai seseorang, tanpa pikir panjang dia akan memukulnya. Hal ini membuat teman-teman yang lain mengabaikannya. Dan mereka bilang, jika aku tetap berteman dengan Phinks, aku pun akan diabaikan. Lalu...hal itu pun terjadi. Aku tak ingat bagaimana awalnya, tapi...aku mengkhianatinya."
Kuroro berhenti sejenak, beranjak duduk sambil menekuk kedua lututnya. Matanya agak menyipit karena silaunya cahaya matahari. Kurapika pun ikut beranjak dan kembali menyimak cerita Kuroro.
"Sejak itu, Phinks berubah...dia menjerumuskan dirinya dalam berbagai masalah hingga akhirnya dikeluarkan. Aku pun menjadi tak tertarik lagi untuk melakukan berbagai hal. Termasuk sekolah."
"Apakah kau...merasa bertanggungjawab?" komentar Kurapika prihatin.
"Mungkin begitu."
"Dengan memberinya uang kapanpun dia meminta padamu? Kuroro, itu melarikan diri namanya."
"Lalu apa yang harus kulakukan?!"
Tanpa sadar Kuroro meninggikan nada suaranya. Untunglah Kurapika mengerti, dia tak ambil pusing dengan sikap muridnya yang satu ini. Kuroro tengah menceritakan sesuatu yang mungkin tak pernah diceritakannya pada orang lain.
"Maaf...," Kurapika berkata kemudian. "Aku tidak tahu."
Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel. Kuroro merogoh sakunya, menatap nama si penelepon.
"Ibumu?" tebak Kurapika.
"Yah, Ibuku selalu mengawasi setiap gerak-gerikku," Kuroro mengeluh. Dia tak menjawab telepon itu. Tiba-tiba Kuroro berdiri, melemparkan ponselnya ke pesisir.
Mata Kurapika terbelalak seketika.
"APA YANG KAULAKUKAN?!"
"Aku tidak membutuhkannya," sahut Kuroro cuek. "Lagipula selain ibuku, tak ada lagi yang meneleponku."
Kuroro segera berdiri dan melangkah menghampiri motornya yang tergeletak di atas pasir, sementara Kurapika menatap ke arah pesisir ke mana Kuroro melemparkan ponselnya. Dia berdiri mematung, hingga tiba-tiba kakinya bergerak sendiri.
"HEI! KAU MAU APA?!"
Kurapika terus melangkah, hingga kini dia berjalan masuk ke dalam air sambil sibuk mencari-cari ponsel Kuroro. Kuroro segera menghampirinya.
"Sudah, biarkan saja!" Kuroro meraih siku Kurapika untuk menghentikannya, namun tindakannya ini membuat mereka berdua sama-sama terjatuh hingga basah kuyup.
Kurapika tetap tak berkata apa-apa. Dia segera bangkit kembali. Sebuah senyuman langsung mengembang di wajahnya ketika menemukan apa yang ia cari.
"Ini!" ucapnya sambil mengulurkan ponsel milik Kuroro.
Kuroro terpana, menatapnya dengan ragu. Apa yang dia inginkan? Bukankah Kuroro sudah mengatakan tak menginginkan ponsel itu kembali? Namun kemudian Kurapika mengatakan sesuatu yang membuat pemuda itu berubah pikiran,
"Beri aku nomormu, aku akan menghubungimu," katanya dengan wajah berseri-seri dan mata biru yang berbinar. "Aku janji."
Kurapika tak kembali ke sekolah hari itu, dan malamnya dia segera menyimpan nomor yang diberikan Kuroro padanya. Bagaimana dengan Kuroro? Pemuda itu merasa senang...seolah menerima semangat yang baru. Dia menyempatkan diri untuk mampir ke Lucifer General Hospital, tepatnya ke ruangan direktur utama rumah sakit itu. Dengan puas dia memandangi lukisan pantai yang dibuat ayahnya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Dari suaranya, sepertinya ada lebih dari satu orang yang datang. Kuroro segera bersembunyi di balik tanaman hias yang diletakkan di samping rak buku.
Benar saja. Nampak Vera dan Hisoka memasuki ruangan itu. Kuroro semakin merapatkan badannya ke pinggir rak, memperhatikan mereka dari sudut matanya.
"Kita harus mencoba meningkatkan pelayanan terhadap pasien di unit ini," ucap Vera. "Mungkin akan sedikit sulit, tapi kita bicarakan dalam rapat direksi dan nanti—Ummphh!"
Perkataan Vera terhenti karena tiba-tiba Hisoka membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman. Sebelah tangan Hisoka memegangi bagian belakang kepala wanita itu untuk memperdalam ciumannya, dan tangan yang satunya lagi segera menyingkirkan berkas-berkas yang ada di atas meja.
"Aku sudah menahannya sejak tadi dan aku tak bisa bersabar lagi," bisik Hisoka dengan suara menggoda sambil mendudukkan tubuh Vera di atas meja dan mulai membelai paha wanita itu hingga membuat roknya terangkat.
Kuroro langsung membeku melihatnya. Dia segera memalingkan wajah. Tangannya mengepal erat menahan amarah.
'Ternyata Ibu selingkuh dengan dokter menyebalkan itu!'
Ingin sekali Kuroro kehilangan kemampuan pendengarannya saat itu juga, ketika mendengar suara desahan kedua insan yang melakukan pengkhianatan di belakangnya.
Keesokan harinya, Kurapika langsung dipanggil oleh Kepala Sekolah Ikeda berkaitan dengan ketidakhadirannya setelah jam istirahat kemarin. Pria itu tampak marah. Guru-guru yang lain tak ada yang berani bersuara. Gon menatap Kurapika prihatin, sementara Pakunoda seolah terlihat puas dan tak sabar mengetahui sanksi apa yang akan diberikan Ikeda.
"Kemarin tiba-tiba aku sakit," Kurapika beralasan sambil berdiri di hadapan Ikeda.
"Seharusnya kau memberitahu kalau tidak akan kembali ke sekolah!" bentak Ikeda.
"Aa...mengenai hal itu, aku..."
Kurapika berpikir sejenak, dan entah dari mana datangnya, muncul ide untuk melakukan kebohongan. Hal ini sungguh di luar kebiasaan wanita itu.
"Aku menelepon ke sini," Kurapika melanjutkan penjelasannya. "Tapi saat itu jam pelajaran sudah dimulai kembali, jadi tidak ada yang mengangkatnya. Lalu tiba-tiba saja...aku merasa sangat sakit, hingga langsung beristirahat dan tak menelepon lagi. Maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
Ikeda terkejut, mulutnya menganga hendak menimpali Kurapika, namun wanita itu segera menyela,
"Terima kasih sudah mau mendengarkan penjelasanku...aku akan segera pergi ke kelas. Permisi," ucapnya sambil segera meraih buku yang telah ia siapkan untuk mengajar lalu melangkah keluar dari ruang guru.
Ikeda dan guru-guru yang lain terperangah melihatnya.
Kurapika merasa begitu bersemangat hari ini, wajahnya pun berseri-seri. Dia menyapa murid-murid Akasaka Gakuen yang berpapasan dengannya.
'Kuroro memang benar, mungkin sesekali aku harus keluar dari semua rutinitas untuk menyegarkan diri,' batinnya.
Senyumnya melebar ketika melihat Kuroro yang tengah berjalan ke arahnya. Kuroro menaikkan sebelah alis matanya heran. Namun pemuda itu ikut tersenyum ketika melihat Kurapika mengangkat sebelah tangannya, mempertemukan ibu jari dan telunjuknya sambil mengedipkan sebelah mata.
'Sepertinya kau berhasil, Sensei,' ucap Kuroro dalam hati yang mengakui Kurapika terlihat lebih bersinar pagi itu.
Sikap Kurapika yang ceria tetap bertahan hingga jam sekolah berakhir, termasuk ketika makan malam bersama Leorio di restoran langganan mereka.
Kurapika bercanda sebentar dengan pelayan yang membawakan pesanannya.
"Ada apa denganmu?" tanya Leorio sambil tersenyum dan melirik Kurapika. "Kau terlihat berbeda hari ini."
"Tidak ada...kau terlalu berlebihan," Kurapika menjawab sambil mengambil spaghetti dan menuangkan makanan itu di piringnya dan di piring Leorio. Dia pun menghirup aroma anggur merah di gelasnya. "Aroma anggur merah benar-benar cocok dengan menu kita, bukan?"
Leorio menganggukkan kepalanya dan menatap Kurapika.
'Sungguh menyenangkan melihatmu seperti ini, dan nanti aku akan bisa melihatnya setiap saat...setelah kau menjadi istriku.'
"Aku ingin mengatakan sesuatu," Leorio berkata sambil menggulung spaghetti di garpunya. "Kuharap ini dapat menambah keceriaanmu..."
"Benarkah? Kabar apa itu?" tanya Kurapika bersemangat.
"Aku bercerita pada orangtuaku tentang kita. Mereka ingin bertemu langsung denganmu dan orangtuamu tentu saja...Mereka pun belum pernah melihat Tokyo, jadi mereka akan datang ke sini."
"Eh?"
"Menurutmu bagaimana kalau hari Sabtu? Kira-kira di mana tempat yang cocok, ya?"
Kurapika tersenyum kikuk, meraih gelasnya dan meneguk anggurnya sedikit demi sedikit. Dia terlihat tak nyaman dengan topik pembicaraan yang tiba-tiba diangkat Leorio.
Hari itu pun tiba. Kurapika memilih setelan blazer berwarna abu-abu dan blus putih. Beberapa kali dia mematut diri di cermin, memastikan pakaian yang dipilihnya pantas untuk acara pertemuannya bersama orangtua Leorio sepulang mengajar nanti.
Sebelum keluar kamar, Kurapika mengambil cincin pertunangan yang belum pernah sekalipun dipakainya. Kurapika menatap cincin itu sebentar.
'Kurapika...kau akan bertemu dengan orangtuanya, tentu kau harus memakai cincin itu,' Kurapika meyakinkan diri.
Wanita itu menghela napas...merasa belum siap, dia memasukkan kotak berisi cincin itu ke dalam tasnya.
'Nah, itu langkah awal yang bagus. Tak sulit bukan, Kurapika?'
Kurapika menghampiri Mito yang baru saja memberikan secangkir teh untuk Ryusuke.
"Ibu, apakah pakaianku sudah pantas?" tanya Kurapika dengan kekhawatiran nampak di wajahnya.
Mito menatap penampilan putrinya dan tersenyum. "Ya, kau tampak rapi dan cantik," ucap Mito. Lalu ia berlalu ke ruang makan untuk menyiapkan sarapan.
Kurapika berdiri menatap Ryusuke yang tengah membaca koran. Walau ia masih merasa bingung dan tak yakin, Kurapika tahu...inilah yang diinginkan ayahnya. Dan ayahnya cukup menyukai Leorio.
"Ayah," Kurapika menyapa, membuat Ryusuke mengalihkan perhatian dari koran yang tengah dibacanya. "Aku mohon bantuan Ayah untuk acara nanti."
"Jangan sampai terlambat, Kurapika," Ryusuke berkata dengan suara yang lebih lembut dari biasanya. Hal ini membuat Kurapika tertegun.
'Tenang...aku pasti bisa melakukannya.'
Hari itu Kurapika nampak berbeda. Dia sudah merencanakan dengan rapi apa yang akan dilakukannya hari ini agar pulang tepat waktu dan tidak terlambat datang ke acara sore nanti. Bahkan di sekolah pun sepertinya Kurapika menghindari Kuroro. Kuroro merasa heran. Dia semakin tak mengerti ketika Kurapika langsung pergi begitu bel pulang sekolah berbunyi sambil sesekali melirik jam tangan di pergelangan tangannya.
Kuroro melangkah hendak mengikuti Kurapika, tapi kemudian Phinks menghalangi jalannya. Dengan senyum sinis yang jahat, Phinks menatap pemuda itu.
Kurapika duduk menunggu kereta yang akan membawanya ke restoran hotel berbintang di mana dirinya akan bertemu dengan orangtua Leorio untuk yang pertama kali. Masih ada waktu beberapa menit hingga kereta itu tiba. Dia mengambil cincin pemberian Leorio dari dalam kotak dan memakainya. Namun tak ada raut bahagia di wajah Kurapika saat itu.
Apa yang dirasakan Kurapika saat ini? Dia merasa tak menentu.
'Apa ini yang terbaik? Tepatkah aku menerima lamaran Leorio? Inikah yang kuinginkan?'
Suara mesin kereta api yang datang membuyarkan lamunan Kurapika. Merasa tak bisa mundur lagi, wanita itu melangkah masuk ke dalam kereta api yang akan membawanya menuju ke masa depan.
Phinks membawa Kuroro ke sebuah gudang yang tak terpakai lagi. Kini mereka berdua berdiri berhadapan dan samling menatap.
"Kau tahu apa yang kuinginkan," Phinks berkata.
Kuroro mengepal kedua tangannya dan menatap langsung ke mata orang yang pernah menjadi sahabatnya itu. "Aku tak bisa lagi memberi uang padamu, Phinks."
"Kau bilang apa?! Kau sadar apa yang kaukatakan dan apa akibatnya untukmu nanti?!"
"Aku sangat mengerti."
'Itu namanya melarikan diri,' terngiang ucapan Kurapika saat itu.
Phinks mengepalkan tangan kanannya, bersiap untuk melayangkan tinjuannya ke arah Kuroro. Namun Kuroro tetap diam.
Kurapika sampai di seberang hotel berbintang tempat di mana restoran yang menjadi tempat pertemuan berada. Dia berlari-lari kecil memasuki tempat itu.
'Aku sudah agak terlambat...'
Benar saja. Kedua orangtuanya sudah ada di sana, dan tampaknya Leorio baru datang beserta kedua orangtuanya.
"Maaf kami terlambat," ucap Leorio sambil membungkuk.
Ryusuke tersenyum. "Tak apa...putri kami pun masih dalam perjalanan..."
Kurapika memperhatikan semua itu dari balik tanaman hias yang menjadi batas antara restoran dan koridor hotel. Sekali lagi, dia merasa ragu.
Kuroro terhuyung-huyung ke belakang ketika Phinks meninju perutnya beberapa kali. Sudut bibir pemuda itu pun berdarah atas pukulan yang dilayangkan Phinks sebelumnya.
Phinks terlihat geram.
'Kenapa dia diam saja?! Aku tahu kau pintar berkelahi, Kuroro! Ayo lawan aku!' ucap Phinks dalam hati. Dia terus memukuli pemuda berambut hitam itu, berharap Kuroro akan terpancing untuk membalas pukulannya, tapi apa yang dia harapkan tak pernah terjadi.
Phinks melanjutkan pukulannya hingga Kuroro merasa tak sanggup untuk berdiri tegak lagi. Phinks terdiam, memandangi Kuroro yang meringis menahan sakit dan memegangi perutnya.
"Maaf...," ucap Kuroro lagi.
Phinks tak menjawab, namun terlihat rasa terkejut di matanya. Dia hendak memukul Kuroro lagi namun tiba-tiba mengurungkan niatnya hingga akhirnya berbalik pergi.
Kuroro berusaha mengatur napasnya, perlahan berbaring terlentang menatap langit-langit bangunan itu yang terbuka karena lubang di sana. Cahaya matahari senja menyelusup melalui lubang itu dan menimbulkan suasana temaram.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dengan sebelah tangannya, Kuroro meraih benda itu yang sempat terjatuh. Tak mau repot untuk melihat nama si penelepon, Kuroro langsung menjawabnya.
"Halo?" terdengar suara di seberang sana.
Mata Kuroro langsung agak membelalak, sepertinya dia terkejut.
'Kai-sensei...'
"Halo? Halo? Kau bisa mendengarku?"
Sambil menahan sakit, Kuroro menjawab telepon itu, "Kali ini aku tidak melarikan diri..."
"Apa maksudmu? Kuroro, kau ada di mana sekarang?!" terdengar suara Kurapika yang khawatir.
Kuroro menatap cahaya matahari senja yang begitu menyilaukan, membuat dirinya berada di dalam cahaya itu.
"Di Negeri Kebebasan," jawab Kuroro.
Kurapika terdiam sesaat. Dengan suara lebih pelan dan mata berkaca-kaca, dia bertanya kembali, "Apa...yang kau lihat?"
"Hikari*..."
"Hikari?"
"Hn..."
"Bisakah aku juga pergi ke sana? Kuroro, bisakah aku?"
"Pasti bisa...jika kau memang benar-benar menginginkannya."
Air mata Kurapika pun jatuh dari kedua sudut matanya yang biru. Dia menutup teleponnya. Sejenak menatap pertemuan yang harus dia hadiri, lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Kurapika belum pernah merasa seyakin ini sebelumnya.
TBC
A/N :
*Hikari = cahaya
Ini balasan review chapter kemarin :
hana-1empty flower :
Gemes ya? Aku juga sih sebenernya ==a Habis yang cocok jadi karakter tunangan Kurapika yang seperti itu cuma Leorio =='
October Lynx :
I hope I already got better in this chapter xD
Yeah, Kurapika was kind of didn't know about who she was, what she wanted...but the end of this chapter is the turning point for her I think ;)
Natsu Hiru Chan :
Hahaha, tentu donggg...akhirnya bakal KuroPika n nanti ada scene romantis di antara mereka! Biarpun tetep ada cobaan juga...hee
Alucard4869 :
Hee...yah sudah kuduga, pasti akan terasa sedikit aneh...chara HxH yang cocok dengan cerita ini lumayan terbatas, makanya sampe minjem dari manga lain untuk tokoh ayahnya Kurapika n ibunya Kuroro xDa
Mungkin sebelumnya coba bayangin dulu chara HxH dengan usia yang aku sebutkan di chapter kemarin, mungkin akan membantu imajinasi *nyengir*
Review please...^^
