Title: World of Future
Disclaimed :Naruto © Masashi Kishimoto
Story Idea from Future Arc KHR © Amano Akira
Genre: Angst, Romance, Time-Traveling
Rating:T
Pairing: SasuNaru, AllxNaru
Warning : AU, OOC XD
.
Chapter 2, The World at the Future
.
"Tidak mungkin, jadi maksudmu aku terkirim begitu saja di masa depan—" tampak dengan wajah pucat, Naruto tampak bergumam tidak jelas dan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, "—bagaimana bisa, kalau ini semua gara-gara ciuman teme, aku akan membunuhnya kalau sampai aku kembali ke masaku…"
Suara langkah membuat semua yang ada di sana, beberapa anbu, sang ketua, dan juga sang ninja medis tampak menoleh kearah pintu yang terbuka dan menunjukkan seorang pria berambut silver yang tidak berubah sejak 5 tahun yang lalu hingga sekarang.
"Na—Naruto?"
"HII! Ka—Kakashi-sensei juga jadi lebih tua, ja-jadi ini benar-benar masa depan ya," berjalan cepat menuju ke jendela, melihat kearah monumen Hokage yang ada di dekat bangunan tempat mereka berada saat itu. Ada enam patung disana, dan sampai sekarang tidak dibuat patung dari Danzo yang belum resmi saat itu menjabat sebagai Rokudaime Hokage, "aiyah—padahal aku baru saja protes dengan Baa-chan masalah Kakashi-sensei dan sekarang…"
…
"Ah, lalu bagaimana ini—" Sakura mencoba untuk menghilangkan aura kelam disekeliling mereka saat ini dan menepuk kedua tangannya, "—sepertinya kita tidak bisa menerangkan semua yang terjadi selama 5 tahun ini begitu saja pada Naruto. Dan ia juga tidak tahu perubahan apa yang terjadi selama 5 tahun ini…"
"Hah—bagaimana ini, kalau ditinggalkan bisa-bisa ia seperti anak bebek yang kehilangan induknya," Kakashi juga tampak menggaruk kepala belakangnya dan tampak bingung, "Sasuke—selama kami mencari jalan untuk mengembalikan Naruto, kau bisa menjaganya lagi bukan?"
"Hn—terserah," Sasuke tampak menutup matanya dan berbalik, "si dobe itu juga belum pindah dari tempat itu…"
"Ah benar juga—" Sakura tampak mengangguk dan tersenyum tipis. Naruto yang melihat sekelilingnya merasakan aura yang berbeda daripada beberapa menit yang lalu ia berada di masanya. Rasanya sedikit aneh, melihat orang-orang yang beberapa menit yang lalu tampak masih seperti biasa, dan sekarang terlihat lebih dewasa.
"Naruto—" lamunannya terlepas saat tiba-tiba sebuah tangan merangkul lehernya dan membawanya pada pelukan yang sama seperti dulu—dari Sakura, "—walaupun tidak selamanya, syukurlah aku bisa bertemu denganmu…"
'Eh—' tampak sedikit bingung dengan apa yang dikatakan oleh Sakura, seperti jika ia tidak ada itu artinya Sakura dan yang lainnya tidak bisa bertemu dengannya di masa ini.
Ngomong-ngomong…
'Benar juga—' menoleh pada peti yang tadi menjadi tempatnya pertama kali muncul, tampak benar seperti apa yang ia fikirkan. Itu adalah sebuah peti mati, '—kenapa aku muncul di tempat seperti itu?'
"Baiklah, aku harus menyelesaikan pekerjaan yang ditinggalkan Naruto di masa ini lagi sekarang," Kakashi tampak menggaruk kepala belakangnya dan berjalan menjauhi ruangan itu.
"Ah, aku harus membantu di Rumah Sakit Konoha!" melepaskan pelukannya, dan segera berjalan menjauh, "sampai jumpa lagi Naruto, Sasuke!"
Beberapa orang anbu juga tampak membungkukkan badannya didepan Sasuke dan juga Naruto sebelum berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan kedua orang pemuda itu sendirian.
…
"Ah, jadi—kita akan kemana sekarang?"
…
"Hei, itu adalah Naruto-sama bukan? Sepertinya rumor itu tidak benar—lihat saja ia baik-baik saja…"
"Benar, tetapi syukurlah ia baik-baik saja…"
"Hokage-sama, syukurlah anda baik-baik saja," salah satu dari warga Konoha tampak mendekati mereka. Naruto yang tampaknya tidak sadar kalau ia yang dipanggil—dan tentu saja ia yang dimaksud Hokage oleh mereka hanya menatap mereka dengan tatapan bingung.
"Teme, siapa yang mereka maksud dengan Hokage?"
"Kau tetap saja dobe—" menghela nafas dan menunjuk kearah Naruto. Sementara yang bersangkutan mencoba untuk mencerna apa yang terjadi di sekelilingnya. Sasuke tampak menghela nafas, menghadapi sifat Naruto yang seperti ini sama saja mengulangi bagaimana 5 tahun ini berlalu.
"EH! Ja—jadi aku sekarang Hokage?!" menunjuk dirinya sendiri sambil menatap Sasuke dengan mata berbinar, membuat semburat merah diwajah sang ketua anbu itu. Sial—walaupun saat tugas ia selalu menyembunyikan emosi, tetap saja Naruto adalah satu-satunya yang tidak bisa membuatnya menutup emosinya.
"Kau lambat menyadarinya—"
"Mou, tentu saja! Beberapa saat yang lalu aku melakukan aksi protes pada baa-chan karena Kakashi-sensei yang ditunjuk sebagai Hokage, dan sekarang aku berdiri disini sebagai seorang hokage!" suara dan perkataan Naruto sebenarnya membuat beberapa orang tampak bingung dan curiga pada pemuda itu.
"Jangan berisik dobe—" meletakkan sesuatu di kepala dan juga punggung dari Naruto, sebuah jubah Hokage dan juga topinya. Dan benar saja, seakan seorang anak kecil yang diberi permen, wajah Naruto rasanya ingin sekali Sasuke cubit saat melihat semburat merah di wajah pemuda itu semakin merona saat melihat benda idamannya itu.
"YAHA! Sudah lama aku ingin memakai benda ini—" memasangnya dengan segera dan berjalan lebih semangat daripada sebelumnya. Menoleh kekiri kekanan—menyadari kalau tidak banyak perubahan selama 5 tahun ini, "—lalu, kau mau menceritakan bagaimana diriku dimasa ini bukan Sasuke?"
…
"Yang pasti, kau lebih dewasa daripada sekarang," menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil mengangguk-angguk, "lebih pendiam, dan lebih bisa mengontrol diri."
"Haa?" bahkan dirinya sendiri tidak percaya kalau ia akan bisa menjadi seperti itu.
"Ngomong-ngomong, kau kalah taruhan—" Sasuke tidak menatap Naruto yang kini tampak bingung dengan perkataan Sasuke, "—kau baru menjadi Hokage saat 5 tahun setelah masamu."
"EEEH! Te—tetapi aku berjanji pada Sasuke di 5 tahun yang lalu bukan padamu!"
"Sama saja bukan—aku sama-sama Sasuke, dan kau sama-sama Naruto," menunjuk pada dirinya lalu pada Naruto bergantian.
"Tentu saja tidak sama, walaupun kau Sasuke—ka-kau adalah milikku di masa ini," wajah Naruto memerah dan memalingkan wajahnya dengan cepat dari Sasuke sebelum sang pemuda berambut ekor ayam itu menyadari perkataannya. Tetapi terlambat, mata Sasuke sudah membulat sempurna dan tangannya mengepal erat.
"Sasuke?"
…
Dengan segera ia berlari, Sasuke benar-benar tidak tahan—beberapa menit yang lalu ia melihat Naruto yang tampak tidak bernyawa, terbaring di hadapannya. Dan sekarang, saat ia berharap untuk bertemu dan itu menjadi kenyataan, yang malah membuat perasaannya sakit.
"Te—teme!?"
…
"Apa yang kau fikirkan Naruto!" suara gebrakan meja tampak terdengar di ruangan Hokage saat sang Hokage ke delapan dan juga sang ketua anbu tampak berada di satu ruangan tanpa ada seseorangpun selain mereka, "bekerja sama dengan mereka—kau tahu apa yang ia lakukan pada Sunagakure bukan!?"
"Aku mengerti Sasuke—" menghela nafas, pemuda yang semakin lama semakin tampak seperti ayahnya itu—dengan rambut depan yang menjadi panjang—tampak memangku dagunya dengan kedua tangan yang terkait, "—tetapi, hanya itu yang bisa kulakukan untuk mempertahankan Konoha…"
"Kau tidak percaya pada kami? Kau tidak percaya pada rakyatmu dan juga aku?"
"Aku hanya tidak ingin ada lagi yang terluka," nadanya meninggi saat itu, tidak bisa mempertahankan emosinya. Sang Hokage melakukan itu untuk keselamatan dari semua rakyatnya, "apakah menurutmu aku tidak khawatir melihatmu yang selalu berhadapan dengan mereka berakhir dengan luka parah?!"
"Itu sudah menjadi tugasku Naruto—karena aku adalah kekasihmu, dan aku adalah ketua anbu yang bertugas melindungimu…"
"Dan aku tidak akan sakit jika kau bukan kekasihku Sasuke," menghela nafas dan menutup matanya, menggigit bibir bawahnya, "—sebaiknya kita berpisah saja Sasuke…"
…
"Apa?"
…
Membuka pintu sebuah rumah yang cukup besar, Naruto mencoba untuk masuk dan mencari keberadaan dari pemuda berambut raven itu. Matanya mencari setiap sisi dari rumah itu, ia tahu kalau pemuda itu akan ada di tempat ini.
"Sasuke Teme…"
"Lima tahun—kalau saja aku, Kakashi, ataupun Tsunade-sama tidak mengatakan kau untuk menjadi dewasa," menutup matanya dan tersenyum samar, "kami tidak menyangka kalau sifatmu akan berubah seperti itu…"
"Apa yang aku lakukan—aku di masa ini?"
"Kau hebat—tetapi, keadaan Konoha lebih buruk daripada yang kami bayangkan," tersenyum kembali—tetapi tampak dingin dan juga datar seperti ia tidak mengenal Naruto sebelumnya, "kau memiliki kemampuan yang hebat, namun terlalu mudah untuk membahayakan dirimu…"
"Sasuke—kau menjawab semua pertanyaanku," menghela nafas panjang dan berat, menatap pemuda berambut raven itu sambil mengusap kepalanya, "satu hal yang tidak kau berikan jawabannya adalah—kenapa, aku berada di peti itu Sasuke…"
…
"Apa yang terjadi padaku di masa ini?"
…
"Serangan lainnya dari mereka?" suara Shikamaru membuat lamunan pemuda berambut raven itu terbuyar. Entah kenapa, perasaannya tampak sangat tidak enak pagi ini. Ia hanya ingin pertemuan Naruto dengan mereka selesai—sementara ia mencoba untuk menghentikan beberapa diantara mereka yang tampak mencoba menghancurkan Konoha.
"Ah, begitulah—" menghela nafas melihat kearah atas saat mendapati seekor burung elang yang tampak menghampirinya. Miliknya—yang selalu bisa memberikan pesan secepat mungkin. Sangat berguna, tetapi akan dipakai hanya jika ada keadaan darurat—pada Naruto.
"Itu burungmu bukan?"
…
"Ada apa Sasuke?" Shikamaru bisa melihat keadaan Sasuke yang tiba-tiba saja aneh saat membaca surat yang diberikan burung itu. Sementara yang bersangkutan sendiri tampak membulatkan matanya—tidak percaya dengan apa yang ia baca.
Dan saat ia sadar, ia sudah berlari menuju kearah kantor Hokage, meninggalkan Shikamaru yang berteriak memanggil namanya.
'Sasuke-kun, cepatlah kemari—sesuatu yang sangat buruk terjadi pada Naruto…'
Semenjak Naruto menjadi seorang Hokage, mereka tidak pernah memanggil dengan namanya lagi. Dan saat Sakura memanggil nama Naruto di surat itu, entah kenapa sesuatu seolah membelah jantungnya—membuatnya berhenti berdetak.
…
"Teme?"
…
"Kau—" mulutnya seolah kelu untuk mengatakan hal yang bahkan susah untuk ia terima. Ia tidak bisa mengatakan kalau Naruto di masa ini tewas—dan itu karena keputusan bodohnya sendiri. Menghela nafas dan berdiri, ia memutuskan untuk tidak dulu mengatakannya pada Naruto, "—ayo, kita pulang saja…"
"Eh, tetapi—" ia tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya yang paling ia ingin dapatkan jawabannya—dan hanya punggung Sasuke yang menjauhlah yang ia dapatkan. Ia benar-benar memiliki firasat yang tidak enak dengan reaksi dari Sasuke.
Naruto mengerti kalau ia berada di peti itu—itu artinya ia sudah mati, tetapi kenapa dan kapan? Kenapa semua seolah tidak mengetahui apapun tentang kematiannya?
…
Saat ini mereka berada di sebuah apartment yang hampir sama dengan miliknya di masanya—namun lebih bagus dan juga lebih besar. Tampaknya memang ditinggali oleh dua orang—yang tentu saja bisa ia tebak adalah dirinya dan juga Sasuke.
Masih meneliti sekelilingnya, saat ia melihat kearah Sasuke yang tampak membaca setumpuk laporan di tangannya. Ia memutuskan untuk duduk, diam—hening, tidak ada sama sekali pembicaraan yang membuka dan memecahkan keheningan itu.
…
"Teme—apa yang sedang kau baca itu?" tiba-tiba saja Naruto sudah berada di belakang Sasuke dan mencoba untuk membaca laporan yang sedang dibaca oleh pemuda buntut ayam itu. Satu hal yang ia lihat saat matanya tertuju pada kertas itu adalah seseorang dengan memakai jubah berwarna hitam dan topeng berwarna senada terpampang menjadi foto yang terselip di kertas itu.
"Yami—gakure?"
"Negara kecil yang baru dibentuk—" Sasuke membiarkan Naruto membaca laporan itu lebih banyak. Walaupun ia tahu tidak seharusnya Naruto mengetahui hal yang terjadi di masa depan—atau masa depan akan berubah saat ia kembali ke masa lalu, "—pemimpin mereka, hanya menyebut dirinya sebagai Kage dan selalu muncul seperti ini—saat berada diluar ruangannya…"
"Hooo—aku belum pernah mendengar negara itu…"
"Dua tahun setelah masamu, mereka mulai melebarkan sayapnya—bahkan saat ujian Chuunin yang berlangsung di Konoha, Hokage ke-7 yang memutuskan untuk menerima 5 ninja yang akan menjadi Chuunin tampak mendapatkan hasil yang cukup mengejutkan," Naruto mendengarkannya dengan seksama sambil membaca profil dari orang itu, "Konohamaru yang merupakan kandidat terkuat saat itu dikalahkan—dan semua yang lulus saat ujian itu adalah orang yang berasal dari Yamigakure…"
"HEE! Orang-orang macam apa mereka!" Naruto semakin bersemangat untuk membaca semua laporan yang ada di kertas itu.
"Seluruh penduduknya mengenakan jubah yang sama—nama merekapun adalah nama samaran," Sasuke mendesah pelan dan tampak memijat dahinya, "tidak banyak yang bisa diketahui dari mereka semua. Bahkan jutsu yang mereka gunakan tidak pernah dilihat sebelumnya…"
…
"Awalnya mereka tampak seperti baik dan bekerja sama dengan negara-negara kecil dan bergabung dengan mereka—semakin lama negara itu semakin besar, dan dalam waktu 2 tahun namanya sudah dikenal di 5 negara besar di dunia shinobi ini," Naruto benar-benar membulatkan matanya, mencoba untuk mendengar dan mencerna semua yang dikatakan oleh Sasuke saat itu, "tetapi niat mereka tampaknya terendus oleh negara Suna—yang menyadari keanehan mereka…"
"Gaara?"
"Kazekage mencoba untuk menyelidik mereka, mengirim beberapa pasukan untuk menyelinap ke negara mereka, namun berakhir dengan menghilang semuanya. Hingga akhirnya, Kazekage sendiri yang memimpin penyelidikan itu dengan mendatangi pemimpin dari negara itu," entah kenapa detak jantung Naruto saat itu tidak menentu, seolah ada sesuatu yang ia fikirkan—sesuatu yang buruk yang tidak ingin ia harapkan sampai terjadi.
"Lalu, apa yang terjadi pada Gaara?"
"Kami tidak bisa mendapatkan kontak sampai sekarang—setengah tahun berlalu sejak menghilangnya Kazekage tanpa adanya kabar…"
"La—lalu, apakah Konoha—diriku di masa ini… apa yang ia lakukan!" Naruto tampak tidak percaya dengan apa yang didengarnya saat itu. Bagaimana mungkin Konoha tidak melakukan apapun saat negara besar seperti Sunagakure kehilangan pemimpinnya.
"Kau menjadi Hokage setengah tahun yang lalu Naruto, sebelum itu—kau adalah ketua anbu sebelum aku, dank au mencoba untuk menyelidikinya juga dengan petunjuk dari Gaara yang ditinggalkannya padamu sebelum menghilang."
"Petunjuk?"
"Kau memutuskan untuk menyelidikinya, bersama dengan beberapa pasukan anbu—namun yang terjadi diluar dari apa yang kami fikirkan," meletakkan laporan itu dan menghembuskan nafas dalam-dalam, "kau kembali—dalam keadaan bersimbah darah, namun tidak ada luka sedikitpun. Tatapanpun saat itu tampak dingin—dan keadaanmu benar-benar berbeda dari sebelum kau kembali pergi ke negara itu. Semenjak saat itulah kau menjadi orang yang berbeda—lebih kuat, namun… ada yang hilang dari dirimu…"
…
"Sesuai dengan perjanjian, kau sudah memenuhi semua syarat dari Hokage kelima Tsunade-san dan juga Hokage ketujuh Kakashi—dan kau diangkat menjadi seorang Hokage." Tatapan Sasuke saat itu tampak datar dan tanpa ekspresi. Membuatnya tidak bisa menebak sebenarnya apa yang terjadi, "tetapi—kau melakukan sesuatu yang bahkan tidak bisa dimengerti oleh orang seperti Kakashi dan juga Shikamaru."
"Dan apa—itu…"
"Kau menjalin kerjasama dengan Yamigakure," kali ini, bahkan membuatnya lebih terkejut—tidak bisa mengatakan apapun lagi karena satu kalimat itu, "seolah kau ingin menghancurkan Konoha yang menjadi tempat tinggalmu selama ini…"
"Aku—melakukan semua itu?"
"Saat pemimpinnya akan datang dan melakukan perjanjian resmi denganmu—saat itulah," menutup matanya, tampak jeda panjang dan aura berat terpancar disekeliling Sasuke, "kau terbunuh oleh mereka…"
…
Di sebuah bangunan yang cukup tinggi dan berada di tengah kota yang dikelilingi oleh tebing itu, tampak seseorang sedang duduk di perbatasan yang berada di lantai paling atas dari bangunan itu. Menggunakan jubah berwarna hitam yang menutupi wajahnya dengan bayangan dari hoodienya.
"Kage-sama, Shitai-sama sudah kembali dari perjalanannya ke Konohagakure," sosok seseorang yang memakai tudung yang sama dan memakai topeng yang mirip dengan topeng anbu itu, berlutut dan member hormat pada sosok yang ada di hadapannya.
"Ah, sudah 3 hari lamanya bukan? Ia terlalu lama mengerjakan tugas mudah seperti itu—" tawa sinis terdengar dari mulutnya, terdengar cukup familiar.
"Kau bilang membunuh seorang Hokage itu tugas yang mudah? Jangan bercanda Kage-san—" seseorang lagi tampak sedang berdiri dan kali ini memakai topeng berwarna hitam yang senada dengan jubah miliknya, "—kalau saja tidak karena pertemuan 1 tahun yang lalu, ia tidak akan mudah terkecoh seperti ini…"
"Itulah sebabnya aku bilang tugas ini mudah—dan tinggal menunggu rencana selanjutnya," angin tampak berhembus cukup kencang saat itu, membawa penutup kepala jubah itu terbang dan menyibakkan rambutnya yang berwarna kuning itu, "ah—angin disini memang sangat menyegarkan…"
"Kage-san…?"
"Bau darah yang kau bawa—aku jadi bisa merasakannya lebih jelas…"
…To be Continue…
Untuk Next Chapter Precious maaf kalau ada yang ga kelihatan scenenya -.-
Dan cookie untuk yang bisa nebak siapa Kage-san dan siapa Shitai XD /walaupun untuk Shitai belum ada petunjuk sih/.
Makasih buat :
Dexter – Woa, saya juga suka D18 sama 8059 –' '- tapi ini bukan bener-bener mirip sama Future Arc kok XD
UzumakiKagari – oke, sudah update ^^
Gunchan CacuNalu Polepel – untuk tubuh Naru senior, belum diceritain ada dimana kan? ;) lagipula belum tentu tukaran. Karena me belum mulai cerita apa yang terjadi di masanya Naruto junior ' '
