"GEGE! WO AI NI!"

Wu Yi Fan & Huang Zi Tao

Warning!

YAOI/BOYS LOVE

DON'T LIKE? DON'T READ!

You've been warned babe...

.

.

.

.

"Y..yifan?"

"Selamat sore Tao ge... Senang bisa bertemu lagi denganmu..."

Pandangan Zitao beralih pada Baekhyun. Meminta penjelasan.

"Apa? Aku pun baru tahu kalau Chanyeol dan Yifan masih SMU.. Habisnya malam itu mereka memakai pakaian modis sih.. Kalau pakai seragam seperti ini, terlihat beda kan?"

Pemuda panda bersurai kelam ini mengusap kasar wajahnya. Menatap Chanyeol dan Yifan yang asyik membicarakan daftar menu dihadapannya.

Terlihat bahwa kedua pemuda tampan itu memakai seragam dengan balutan jas. Khas anak SMU. Dan hal itu sukses membuat panda manis ini shock di tempatnya.

'Jadi aku... Hampir bercinta dengan.. Murid SMU?'

'What the hell...'

.

.

.

"Tao ge... Kau baik-baik saja?"

Pertanyaan itu menarik kembali jiwa Zitao yang entah berkeliaran kemana. Memaksa pemuda bermata cantik itu menatap sang pemilik suara.

"Aku tak apa.."

Yifan tersenyum tipis. Melangkah menuju kasir tempat Zitao berdiri dan mendekatkan wajahnya. Membuat Zitao membola kaget.

"A..apa yang kau lakukan?!"

Tersenyum tipis, pemuda Wu itu mengulurkan jemarinya. Mengusap pelan sisi wajah Zitao.

"Ada whipped cream di wajahmu..." ujarnya pelan. Menghadirkan rona merah muda di wajah manis Zitao.

"By the way... Aku mau pesan satu caramel macchiato dan satu mocca ice blended..."

"Take away or-"

"Minum disini.."

"O..okay.."

Zitao benar-benar bingung. Ia merasa aneh pada dirinya, pada kerja tubuh dan otaknya.

Kenapa ia jdi gugup menghadapi murid SMU tingkat akhir dihadapannya ini? Padahal malam itu, semuanya baik-baik saja. Bahkan ia menawarkan dirinya pada pemuda tampan berwajah dewa itu dengan sukarela.

'Shit! Kenapa aku jadi memikirkan kejadian itu lagi sih?!'

Dengan cekatan, Zitao mulai meracik kopi pesanan Yifan. Ia bahkan berusaha sekuat mungkin agar tidaak melirik pemuda tampan yang sialnya masih berdiri di depan kasir seraya memainkan ponselnya.

'Bukannya mencari tempat duduk dan menunggu disana, dia malah berdiri disitu! Ugh~ Aku kan jadi kehilangan konsentrasiku!'

Prak!

"Ini pesananmu.. Satu caramel macchiato dan satu mocca ice blended.."

"Terima kasih ge..."

Kris meraih pesanannya. Tersenyum singkat pada Zitao kemudian melangkah kearah Chanyeol yang sudah duduk manis di kursinya.

"Apa yang kau lihat Tao?"

Bisikan pelan itu membuat tubuh Tao terlonjak. Menoleh kesebelahnya dan mendapati Baekhyun yang tengah menatapnya tajam seraya menyeringai.

"Sialan! Kau mengagetkan aku!"

Baekhyun tersenyum. Melipat kedua tangannya di depan dada. Angkuh seperti biasa.

"Ckk! Tidak usah mengalihkan pembicaraan... Aku tahu.. Kau sedang memandangi Kris kan?"

"H..hah? K..ris? Kris siapa?"

"Pemuda tampan yang sedang bersama Yeolliku idiot!" ujar Baekhyun malas seraya memutar kedua netranya.

"Namanya Kris? Tapi dia mengaku padaku kalau namanya Yifan.."

"Yifan atau Kris sama saja... Mengaku saja! Kau sedang memandanginya kan?!"

Zitao gelagapan. Ia paling tidak suka jika sahabat centilnya itu mulai menginterogasinya. Bisa mati ia kalau sampai Baekhyun tahu kelakuannya pada Yifan saat malam itu.

"Tidak! Aku tidak memandanginya! Daripada kau mengurusi urusanku, lebih baik kau jaga kasir ini.. Aku mau ke belakang!"

Zitao pun segeraa berlalu. Menghindari Baekhyun yang pasti sedang merencanakan hal gila untuk mengerjainya.

Sedangkan Baekhyun hanya terkikik geli melihat sahabatnya yang pergi dengan wajah semerah tomat.

"Zi.. Zi.. Entah sampai kapan kau akan menutup dirimu..."

"Dasar panda idiot..."

.

.

"Besok kau ambil shift malam kan Tao?"

"Ne Minseok hyung... Aku akan datang saat sore.. Jadi hyung bisa pulang lebih awal besok.. Aku duluan hyung... Sampai jumpa besok..." pamit Zitao yang dibalas anggukan pelan oleh pemuda bergigi kelinci itu.

Pemuda cantik ini melangkah pelan keluar kedai. Merapatkan mantelnya kemudian mengeluarkan rokok dan pemantik dari sakunya.

Menyalakan dan menghisap dalam kemudian menghembuskannya. Memberikan friksi monokrom pada langit sore.

Melangkah pelan kearah sebuah minimarket terdekat, ia pun memasukinya. Meraih keranjang belanja yang ada kemudian mulai berkeliling.

Mengambil beberapa barang penting kemudian membawanya ke kasir.

Tak butuh waktu lama, pemuda bersurai kelam itupun meninggalkan minimarket itu dengan lengan yang menenteng plastic bag. Melangkah melewati gang-gang kecil dan-

Bruk!

"Shit!"

Tubuh Zitao jatuh terduduk. Ditabrak tiba-tiba oleh seseorang.

"Tao ge?!"

Pemuda cantik ini mengangkat kepalanya. Mendapati pemuda tampan bersurai brunette acak-acakan yang menatapnya khawatir.

"Y..yifann?"

"Kau mau kemana? Kenapa lewat jalan ini?"

Yifan bertanya cepat. Memunguti barang belanjaan Zitao yang tercecer dengan gerakan yang tergesa.

"Aku memang selalu lewat jalan ini jika pulang! Kau sendiri kenapa berada disini?! Bukannya sekolahmu sudah selesai sejak siang? Ooh.. aku tahu! Kau membolos sekolah kan?!"

Yifan diam. Sibuk mengurus belanjaan Zitao dan memasukkannya ke dalam ranselnya. Bangkit dengan cepat kemudian-

Grepp

"Yak!"

"Akan kujelaskan nanti! Ikuti saja aku!"

Yifan menarik lengan Zitao kuat. Membawa pemuda cantik itu berlari keluar dari gang kumuh itu dan menyusuri trotoar jalan yang tidak terlalu ramai.

"ITU DIA! CEPAT KEJAR!"

Suara ribut itu mengambil atensi Zitao sepenuhnya. Membuat si cantik menolehkan kepalanya kearah belakang dan-

"Ooooh... SHIT!"

Mengumpat kala mendapati beberapa orang pemuda urakan dengan balok dan baseball bat yang berada dalam genggaman mereka. Mengejar Yifan bak memburu perampok.

"Kau! Jangan bilang kalau kau berkelahi dengan mereka!" pekik Zitao seraya memandang wajah Yifan yang tampak fokus pada jalan dihadapannya.

"BERHENTI BICARA DAN FOKUS SAJA PADA JALANMU! KE KANAN!"

Mereka berbelok kearah kanan. Menuju tempat yang lebih sepi lagi kemudian kembali memasuki sebuah gang yang berada diantara dua gedung besar usang yang tampak sudah tak terpakai.

Seketika langkah mereka terhenti kala sebuah pagar besi tinggi menghambat laju mereka. Jalan itu buntu.

"Well... Terjebak di jalanmu sendiri Wu?"

Ucapan bernada sinis itu terdengar dari arah belakang. Membuat mereka menoleh dan mendapati para pengejar yang telah memblokade jalan mereka.

"Berhentilah menjadi pengecut dan terus-menerus lari dari lawan yang harus kau hadapi.."

Yifan berdecih pelan. Membuka jasnya dan menggulung lengan seragamnya hingga sebatas siku. Menyerahkan jas itu pada Zitao yang berdiri di sebelahnya.

"Kau tidak berpikir untuk mengalahkan mereka seorang diri kan idiot?" bisik Zitao pelan.

Pemuda Wu itu tersenyum. Mengusap pelan sisi wajah Zitao yang menatapnya. Membuat si cantik berjengit kaget dengan gerakannya yang tiba-tiba.

"Memang tidak... Kau diam saja.. Aku akan menyelesaikan semuanya seorang diri.."

"Tapi Yifan-"

"Takkan terjadi apa-apa.. Sudahlah.."

Yifan melangkah pelan kearah para pengejar itu. Bersedekap angkuh seraya memandang sang pemimpin yang menyeringai padanya.

"Kenapa tidak berkaca pada dirimu sendiri dulu Jung? Aku lari karena jelas aku hanya sendiri... Tapi kau membawa banyak budak untuk membantumu... Aku tidak munafik.. Aku akui aku pasti akan mati jika melawan kalian..."

"Jadi, siapa sebenarnya pengecut disini?"

Pemuda Wu ini tersenyum mengejek. Sedikit memberikan kerlingan nakal pada Zitao yang melongo di tempatnya.

Klang!

Leader dari para pengejar itu membuang baseball bat yang ada pada genggamannya. Mengepalkan jemarinya kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Aku takkan pernah takut untuk menghabisimu seorang diri Wu..." desisnya tajam.

Gotcha! Sesuai dengan apa yang Yifan harapkan. Rivalnya tentu akan terpancing jika mengangykut harga diri.

"Baiklah.. Karena kau sudah bertindak berani dengan menghadapiku seorang diri, akan kuberikan penawaran yang sangat menarik untukmu..."

'Dasar idiot! Setidaknya pakai otakmu sebelum berbicara! Bagus untung dia maju sendiri!' batin Zitao geram.

"Jika aku berhasil mengalahkanmu... Kau harus berjanji untuk tak mengusik satu pun siswa dari sekolahku..."

Pemuda Jung itu menaikkan sebelah alisnya. Tampak kurang puas dengan penawaran yang Yifan berikan.

"Lalu bagaimana jika kau kalah?"

Lama hening menyita. Membuat si Leader mulai kesal karena menunggu.

"Seperti apa yang kau mau Jung.. Aku akan membiarkan timmu menang saat babak final pertandingan basket nasional dua minggu lagi.. Bagaimana?"

Pemuda bersurai madu itu menyeringai lebar. Melangkah cepat seraya menarik kuat kerah kemeja Yifan dan-

Buagh!

Melayangkan tinjuan yang begitubkeras pada wajah si tampan Wu itu. Membuat pemuda dengan surai brunette itu jatuh tersungkur di tanah.

"Tentu saja aku setuju dengan penawaranmu itu Wu.."

"YIFAN!"

.

.

Brugh!

"Arghh! Bisakah kau sedikit pelan?!"

Yifan meringis kuat kala Zitao mendudukkan tubuhnya kasar keatas sofa. Memegangi perutnya yang terasa nyeri sambil sesekali mendesis pelan.

"Dasar idiot! Itu semua kan salahmu sendiri! Sudah tahu kalah jumlah, masih saja sok bersikap angkuh dan sombong! Lain kali pakai otakmu sebelum berujar pada orang la-"

"Can you just stop bable? I need your help here.. Not your talk..."

Zitao merengut. Mengerucutkan kelopak merah mudanya. Merasa kesal atas tingkah Yifan yang kurang ajar padanya.

Hey! Ia lebih tua lima tahun dari si tampan Wu itu! Dan bocah tingkat akhir SMU itu bersikap seenaknya padanya.

"Dasar bocah sialan!" umpatnya kesal seraya berjalan kasar kearah dapur. Tak menyadari kekehan pelan yang Yifan berikan untuknya.

Menyiapkan baskom berisi air hangat, handuk, dan kotak obat, pemuda Huang dengan dark circle dibawah matanya itu kembali ke ruang tengah apartemennya. Duduk di sebelah Yifan yang babak belur kemudian menyiapkan peralatan pengobatannya.

"Untuk apa mereka mengejarmu? Apa kau membuat masalah dengan mereka?" tanya Zitao seraya mengusap lembut memar pada wajah Yifan dengan handuk basah yang hangat.

"Ckk! Kau percaya aku melibatkan diriku untuk hal tak penting seperti itu? Isn't my style if you want to kno- Awhh! Pelanlah sedikit ge!"

"Mereka takkan mengejarmu jika tidak punya alasan.. Mengaku! Apa yang kau perbuat pada mereka!"

Yifan menghela nafasnya pelan. Menyandarkan tubuhnya ke sofa seraya memandang langit-langit apartemen Zitao.

"Hanya tentang iri dengki tak berkesudahan diantara sekolahku dan sekolahnya.. Tim basket di sekolahku berhasil mengalahkan tim dari sekolah Taekwoon sejak lima tahun lalu dan berhasil mempertahankan prestasi mereka bahkan ketika para pemain tangguh itu telah lulus dan meninggalkan sekolah..."

"Lalu apa hubungannya denganmu?"

Memejamkan nerta elangnya perlahan kala Zitao mengobati wajahnya dengan gerakan yang teramat lembut. Terlihat begitu nyaman dengan sentuhan pemuda panda itu.

"Tentu saja karena aku adalah kapten tim basket sekolahku... Dan aku, memegang gelar itu sejak masuk SMU.."

"Cih! Bocah tengil! Untung saja kau menang tadi... Coba kalau tidak? Tanggung saja rasa malu atass sikap sombongmu itu!" omel Zitao pelan.

Sedikit meninggikan posisi duduknya di sebelah Yifan. Menyibak helaian brunette si pemuda Wu, kemudian menempelkan plester bermotif panda pada pelipisnya.

Tiba-tiba saja...

Grepp!

"Kyaaaaa-"

Chu~

Seketika kedua manik Zitao membola. Jantungnya berdegup amat kencang. Tak percaya dengan apa yang dilakukan bocah tengil di hadapannya ini.

Dengan cepat dan tanpa Zitao sadari, Yifan merengkuh pinggangnya. Menarik si panda hingga jatuh ke pangkuannya kemudian mengecup bibirnya lembut.

Si manis bersurai kelam terdiam. Bingung untuk berbuat apa karena si tampan mengunci pergerakannya dengan kuat.

"Terima kasih..." ujar Yifan setelah mengakhiri kecupan manisnya.

Kembali menyandarkan tubuhnya pada sofa dan memejamkan matanya. Mengabaikan Zitao yang masih melongo idiot di pangkuannya.

Twich! Twich! Twich!

Bagaikan adegan dalam komik. Seketika perempatan imajiner muncul di kepala Zitao. Mengungkapkan betapa sebalnya pemuda dengan blackpearl menawan ini pada bocah SMU di hadapannya.

"Mati kau Wu Yifaaaaan!"

Bletak!

"Aaaaarrrrrrgggghhhhhhh!"

.

To Be Continue

.

Ini pendek yo?

Yang penting di lanjut kan?

Ini baru permulaan hubungan Yifan sama Tao...

Angstnya dikit kok tenang aja...

Reviewnya jangan lupa yosh!

Pyong~