Mencari Soulmate

Santhy Agatha's story remake

Cast: Park Chanyeol – Byun Baekhyun

WARN! Genderswitch for Byun Baekhyun

Length: Two-Shoot

Genre: Genderswitch, Romance, Angst, Hurt/Comfort

Disclaimer: This story belongs to Santhy Agatha. I only remake this story with the other cast and change some words that need to be.

.

.

.


Bahwa sesuatu yang biasanya ada bisa menjadi berarti karena ketiadaannya.

Seperti kenanganku tentangmu yang kusyukuri ditengah-tengah mereka yang tak sempat mengenangmu waktu malam kelam membungkusku dalam pilu.


CHAPTER 1


Dan kehadiranmu yang kuimpikan karena ketidakhadiranmu sampai matahari hampir terbit.

Belum cukupkah sepi dimataku membuatmu jatuh kasihan lalu muncul untuk memelukku, wahai kau yang seharusnya membuat jiwaku terlengkapi?

Belum cukupkah keputusasaanku mencarimu membuat hilangmu berhenti, lalu kau datang dan tak lagi pergi?

Membuatku tak terbunuh lelah mencari pasangan jiwaku.


Dalam malam yang kelabu, Baekhyun dan Chanyeol sama-sama menunggu di sudut yang saling membelakangi. Mereka terpisah, meski tak sadar, dihujam perasaan yang menggilakan.

"Baekhyun, berhentilah mencari. Mulailah menunggu, biar aku yang akan menemukanmu," demikian sebuah pesan sederhana, tersampaikan lewat jalinan sendu.

Chanyeol, cepatlah berkata, jangan terlalu lama…

. . .

Baekhyun melangkah terburu-buru di tengah derasnya hujan, rambutnya muai basah kuyup, buku di tangannya mulai terasa berat karena ikut basah. Langkahnya terhenti di depan sebuah pertokoan, tempat beberapa orang yang senasib dengannya berteduh disana.

Baekhyun menatap langit dengan pandangan murung, menatap tempat tupahan hujan menghujam bumi, seperti garis-garis tipis putus-putus tiada henti. Hujan selalu membuatnya murung, tanpa tahu sebabnya.

Ponsel di sakunya bergetar-getarkeras, dengan canggung, karena memegang tiga buah buku tebal yang berat, Baekhyun mengeluarkan ponsel itu dari sakunya.

Chanyeol calling.

"Yeoboseyo?"

"Berisik sekali disana, kau sedang dimana?" suara di seberang terdengar sedikit berteriak, mengalahkan keheningan.

"Di luar."

"Hujan-hujan begini? Di sebelah mana?"

"Di dekat toko buku."

"Tunggu di situ sebentar, aku kesana."

Telepon ditutup tanpa menunggu jawaban dari Baekhyun.

Baekhyun mendesah, menatap ke langit, ke hujan yang tak mau mereda dan menghembuskan nafas resah, merasa semakin murung.


Setengah jam kemudian, sebuah mobil sport warna merah menyala berhenti tepat di depan Baekhyun berdiri. Pintu terbuka, dan Chanyeol menengok dari balik roda kemudi.

"Masuklah," senyum khas itu langsung tampak begitu mereka bertatapan.

Dengan canggung Baekhyun menepiskan butiran air dari baju dan rambutnya yang basah, dan masuk ke dalam mobil. Mereka melaju dengan pelan menembus hujan.

"Kenapa tadi tidak minta diantar?" Chanyeol melirik Baekhyun yang hanya berdiam diri.

"Bukannya setiap jumat sore kau harus menjemput Luhan dan mengantarnya ke salon langganannya?"

Chanyeol tersenyum.

"Baekhyun yang biasanya, yang selalu menghafal jadwalku di luar kepala," gumamnya riang. "Biarpun begitu, setidaknya kau bisa mengubungiku dan bertanya," Chanyeol sengaja menghentikan ucapannya, menunggu Baekhyun bertanya.

Tapi Baekhyun diam saja, tidak mencoba bertanya. Hening. Dan Chanyeol mendesah, "Luhan sakit kepala, jadi membatalkan jadwal ke salonnya, aku tadi mencarimu ke rumah, tapi eomma bilang kau sedang keluar," Chanyeol menyambung akhirnya.

Baekhyun hanya mengangguk, lalu menatap keluar jendela, ke arah hujan, yang semakin membuatnya murung.

"Baekhyun yang benci hujan, karena membuatnya murung," Chanyeol tertawa.

"Dan Chanyeol yang sangat mencintai hujan karena membuatnya riang seperti katak berbahagia menyambut hujan," sambung Baekhyun, cemberut.

Chanyeol tergelak.

"Hujan itu indah Baekhyun, bentuk berkat Tuhan pada manusia di bumi, tidakkah kau merasakan kesejukannya? Tidakkah kau merasakan harmoni suara air yang mengalir? Semua itu indah Baekhyun."

"Yang aku rasakan sekarang adalah dingin setengah mati," jawab Baekhyun datar.

Chanyeol mengerutkan keningnya, berubah serius.

"Kenapa hujan selalu membuatmu murung Baekhyun?" tanyanya pelan.

"Karena hujan terasa sangat menyedihkan kalau dinikmati sendirian."

"Aku ada disini bersamamu."

Baekhyun mengernyit, "Kau bukan soulmateku."

"Ah, ya… Kembali pada masalah pencarian soulmate lagi ya?"

Baekhyun tidak menjawab, mulai memandang keluar lagi.

"Mungkin… Mungkin kalau kau berhenti mencari-cari dan mulai menunggu… Mungkin soulmatemu itu yang akan datang menemuimu," gumam Chanyeol tercenung.

Hening. Pikiran Baekhyun melayang jauh, "Belum cukupkah sepi dimataku membuatmu jatuh kasihan lalu muncul untuk memelukku, wahai kau yang seharusnya membuat jiwaku terlengkapi?"


Pemurung.

Itulah sebutannya. Baekhyun terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri untuk terlalu banyak berkata-kata. Di antara empat bersaudara, dia yang paling pendiam, selalu mengalah dan jarang mengungkapkan pikirannya.

Sampai dia bertemu Chanyeol. Mereka sangat bertolak belakang di semua sisi, dan entah kenapa mereka malah menjadi sahabat. Chanyeol yang sangat tampan. Baekhyun yang biasa-biasa saja. Chanyeol yang berasal dai keluarga kaya raya. Bakhyun yang (sekali lagi) biasa-biasa saja.

Chanyeol yang selalu beruntung dalam masalah percintaan. Bagaimana tidak? Setiap perempuan yang menjadi kekasihnya selalu cantik dan sempurna, belum lagi puluhan gadis lain mengantri untuk menjadi kekasihnya.

Baekhyun yang selalu menunggu dan menunggu belahan jiwanya datang. Sampai kapan? Bahkan dia sendiri mulai meragukan kalau "soulmate" nya itu ada.

Chanyeol yang selalu menghadapi dunia dengan senyuman, selalu memandang setiap permasalahan sebagai kesenangan yang tertunda. Baekhyun yang selalu menghadapi dunia dengan skeptisisme tingkat tinggi, memandang setiap permasalahan sebagai tambahan beban di benaknya.

Kalau disebutkan satu persatu tak akan ada habisnya. Yang pasti, persahabatan mereka merupakan persahabatan paling aneh di dunia, dua manusia paling bertolak belakang yang seharusnya tidak perlu berinteraksi, tetapi malahan terikat dalam selubung persahabatan.


Baekhyun, 5 tahun yang lalu.

Semua dimulai lima tahun yang lalu, rumah mereka bertetangga. Rumah mewah dengan pagar tinggi dan megah, bersanding dengan rumah mungil, hanya berpagarkan dedaunan. Sedikit menyedihkan untuk dilihat memang.

Baekhyun hanya mengetahui tentang Chanyeol dari mobil mewahnya yang sering keluar masuk pagar, yang kadang berpapasan dengannya ketika dia berangkat ke kampus. Hanya itu, dan Baekhyun tidak pernah memikirkannya lagi. Tidak mungkin ada interaksi di antara mereka berdua, titik. Jadi buat apa dipikirkan?

Ternyata dia salah.

"Hey, kau itu ternyata tetanggaku ya?" suara itu membuyarkan Baekhyun dari lamunannya.

Saat itu hujan juga sedang turun dengan derasnya, Baekhyun sedang menunggu hujan reda, lupa membawa payung. Lobby kampus sudah mulai sepi, banyak mahasiswa lain yang nekat menembus hujan karena bosan menunggu hujan yang tak juga reda.

Chanyeol berdiri di sampingnya, kelihatan sangat tampan dengan senyum riangnya. Baekhyun mencoba tersenyum singkat, mengangguk, dan kembali menatap hujan. Berharap agar laki-laki tampan – yang salah tempat ini – menyadari kesalahannya menyapa gadis biasa yang tidak selevel dengannya, lalu pergi. Biar Baekhyun bisa melanjutkan lamunannya, sambil menatap hujan.

"Aku selalu melihatmu setiap berangkat, tidak disangka ya? Kita satu kampus, satu jurusan pula, biarpun kau adik tingkatku," tanpa peduli sikap acuh tak acuh Baekhyun, Chanyeol tetap melanjutkan obrolan, berdiri di sebelah Baekhyun, ikut menatap hujan.

Baekhyun mengalihkan pandangan dari hujan dan mengernyit menatap Chanyeol, kenapa dengan lelaki ini? Apakah dia belum menyadari betapa tidak pantasnya idola kampus bercakap-cakap dengan kutu buku seperti dia?

"Kau tidak pernah menyapaku," gumam Chanyeol lagi, karena Baekhyun tak menanggapi perkataannya sebelumnya.

"Mian," itu yang keluar dari bibir Baekhyun meskipun hatinya mencelos sinis, memangnya aku bisa menyapamu? Kau yang selalu dikelilingi para pengagummu? Kau yang berada di duniamu yang kelas tinggi itu?

"Kenapa kau minta maaf?" Chanyeol sedikit menunduk menatap Baekhyun.

"Karena tidak menyapamu?" sahut Baekhyun spontan, bingung karena percakapan yang tidak lazim ini.

Chanyeol tergelak, "Kalau begitu, aku harus meminta maaf juga karena tidak menyapamu selama ini."

"Tapi aku yang wajib meminta maaf duluan, karena kau akhirnya menyapaku dan aku tidak."

Chanyeol makin tergelak, lalu mengulurkan tangannya.

"Sepertinya kita harus bersalaman untuk meresmikan permintaan maaf ini."

Baekhyun mendongak, menatap Chanyeol yang lebih tinggi darinya, senyum itu begitu hangat, senyum itu begitu tulus, hingga tanpa sadar Baekhyun membalas uluran tangan itu.

"Park Chanyeol, meminta maaf kepadamu dengan setulus hati," gumam Chanyeol sambil menggenggam tangan Baekhyun kuat.

Baekhyun mengernyit. "Apakah aku harus mengatakan hal semacam itu juga?"

"Tentu saja, kita harus membuatnya resmi bukan?"

Siapa yang mengharuskannya? Dan lagi kenapa dia menanggapi percakapan konyol ini?

Tapi kata-kata itu terucap juga dari bibirnya. "Byun Baekhyun meminta maaf padamu dengan setulus hati."

Chanyeol tertawa lagi, lelaki ini benar-benar riang. Tangannya masih menggenggam tangan Baekhyun, lalu menoleh menatap hujan, yang tanpa sadar, sudah reda.

"Hey, hujan sudah reda, maukah kau kuantar pulang ke rumah, wahai tetangga?"

Itulah awal persahabatan mereka. Persahabatan yang tak lazim antara dua orang yang bertolak belakang di semua sisi. Sang Pencerah dan Si Pemurung.


"Sepertinya, aku akan putus dengan Luhan minggu ini," Chanyeol mengunyah pancake buatan ibu Baekhyun.

Mereka duduk di teras belakang, tempat Chanyeol biasanya duduk kalau sedang berkunjung ke rumah Baekhyun. Dalam tahun persahabatannya dengan Baekhyun, Chanyeol seolah-olah menjadikan rumah Baekhyun sebagai rumah keduanya.

"Rumahku sepi, tidak ada orang, aku kesepian," gumam Chanyeol dengan kesedihan nyata saat itu. Dan keluarganya langsung mengadopsi tak resmi Chanyeol sebagai bagian keluarga mereka.

Baekhyun meletakkan dua cangkir kopi susu di meja di antara mereka lalu menatap Chanyeol dengan tak senang. "Putus lagi?"

Chanyeol tipe orang yang mudah bosan, meski semua kekasihnya sangat cantik, mereka hanya bisa bertahan maksimal tiga bulan sebagai kekasih Chanyeol. Lelaki itu memperlakukan mereka seperti ratu, tapi dengan mudahnya mencampakkan mereka tanpa perasaan.

"Sudah tidak ada chemistry lagi Baekhyun, setiap bersamanya aku merasa hambar."

"Selalu begitu alasanmu, selalu hanya berjalan paling lama tiga bulan dan kau bilang tak ada chemistry, kalau begitu kenapa dulu kau berpacaran dengannya?"

Pertanyaan yang sama, yang selalu diajukannya setiap Chanyeol memutuskan para kekasihnya, dan jawaban yang sama juga.

"Aku berharap mungkin ada chemistry di antara kami, kalaupun tidak ada, aku berharap rasa itu akan bertumbuh, ternyata tidak," Chanyeol menoleh menatap Baekhyun yang cemberut, lalu tertawa, "Dan jangan menceramahiku tentang lelaki brengsek yang akan menerima karma suatu saat nanti."

Baekhyun meneguk kopi susunya dan menatap Chanyeol tajam. "Mereka semua mencintaimu Chanyeol, tidak baik menyakiti hati perempuan satu demi satu seperti itu."

Chanyeol terdiam, "Aku juga sedang mencari soulmateku, salah kalau aku mencari dengan cara yang berbeda denganmu?"

"Kau tidak mencari soulmatemu. Tidak kalau caranya hanya memakai satu persatu dari daftar pemujamu, mencobanya selama tiga bulan, lalu meninggalkannya hanya untuk berganti dengan yang lain."

Chanyeol mengernyit. "Kau membuatnya terdengar begitu tidak berperasaan."

"Memang kan?"

"Setidaknya aku mencoba menjalin hubungan, tidak seperti kau," Chanyeol selalu serius kalau membahas ini, "KAu selalu mencari soulmatemu, tetapi kau tidak pernah mau mencoba."

"Aku akan mencoba kalau aku sudah yakin bahwa dia adalah soulmateku."

"Bagaimana kau bisa tahu kalau dia adalah soulmatemu kalau kau tidak mencoba?"

"Aku pasti tahu."

Chanyeol terdiam. Hening.

"Bagaimana kau bisa percaya kalau dia benar-benar ada?" tanya Chanyeol kemudian memecahkan keheningan.

Baekhyun tersenyum, "Aku tidak tahu dia ada atau tidak, aku bahkan tidak yakin dia akan datang, tapi kata orang tidak aka nada surge bagi orang yang tidak percaya kalau surge itu ada. Itu kuterapkan dalam penantianku, tidak aka nada belahan jiwaku jika aku tidak mempercayai bahwa dia ada… Jadi kuputuskan untuk percaya."

Chanyeol menarik nafas, "Rumit memahami pikiranmu." Dia lalu meneguk kopinya dan menyentuh lengan Baekhyun, "Sekarang beri aku beberapa alasan yang bisa kugunakan untuk memutuskan Luhan, harus bilang apa ya?"

"Bilang saja kau tidak merasakan chemistry."

Chanyeol tergelak, "Itu akan menyinggung perasaannya."

"Tapi jujur."

"Lebih baik aku bilang ada wanita lain."

"Dia akan membencimu setengah mati, lalu menyumpahimu habis-habisan."

Tawa Chanyeol memenuhi ruangan. "Setidaknya dengan membenciku dia akan lebih mudah melupakanku, lalu bisa melangkah melanjutkan hidupnya."

Baekhyun tersenyum lembut, menatap Chanyeol dengan sayang. "Dasar, playboy yang terlalu baik hati."

Chanyeol menatap senyum Baekhyun dan hatinya mencelos, nyeri bagai ditusuk sembilu.

"Baekhyun, berhentilah menari. Mulailah menunggu. Biar aku saja yang menemukanmu…"

Demikianlah sebuah pesan sederhana tersirat lewat jalinan sendu.


"Kau harus segera mengambil keputusan Chanyeol, ini masalah mendesak, bukan perkara kecil," Yifan mengisap rokoknya dengan hisapan terakhir yang dalam, lalu membunuhnya di asbak.

Chanyeol menyandarkan tubuhnya di sofa dengan letih, "Seorang dokter seharusnya tidak boleh merokok, apalagi perokok berat sepertimu," gumamnya, mengalihkan pembicaraan dari desakan Yifan sebelumnya.

"Dokter juga manusia," Yifan mengangkat bahunya, "Ini sudah kebiasaan sebelum aku menjadi dokter," jawabnya tak peduli.

"Kau harusnya menjadi contoh yang baik di depan pasienmu."

"Aku tak pernah merokok di depan umum," sanggah Yifan cepat.

"Kau merokok di depan Baekhyun."

Hening.

"Dia tak keberatan aku merokok di dekatnya."

Chanyeol memijat kepalanya yang mulai terasa berdenyut nyeri, "Dia keberatan, aku sangat mengenalnya, dia benci perokok."

"Chanyeol," suara Yifan berubah tegas, "Aku tidak ingat pernah berjanji padamu untuk melakukan pengorbanan sebesar itu demi mendapatkan cinta Baekhyun."

"Yah…," Chanyeol memijit kepalanya lagi, "Itu yang menyebabkan Baekhyun masih ragu apakah kau adalah soulmatenya, dia benci perokok."

"Baekhyun harus menyadari bahwa segalanya tidak sempurna, tidak mungkin dia bisa menemukan sosok belahan jiwa yang sempurna seperti yang dia mau. Prince charming seperti dalam cerita Cinderella itu hanyalah khayalan dongeng anak-anak, kau harus membuatnya menerima kenyataan Chanyeol, bukannya malah berusaha mewujudkan fantasinya."

"Dia tidak mencari seseorang yang sempurna, kau juga tahu itu."

Mereka berdua terdiam, merenung, dua-duanya mencoba menelaah impian Baekhyun tentang sosok soulmate yang diimpikannya.

"Kau tahu Chanyeol? Aku tidak pernah mencari sosok pria yang sempurna, aku hanya ingin menemukan pria yang mencintaiku sepenuh hati, dan bisa membuatku mencintainya."

"Dan apa yang harus dilakukan pria itu agar bisa dicintai olehmu?"

"Yang pertama, pria itu tidak akan pernah menanggapi keluh kesahku dengan pertanyaan 'kenapa?', dia juga akan selalu menganggap setiap pilihanku berharga, walau beberapa kali dia mempunyai pilihan berbeda, dan yang terakhir, dia bisa mengerti bahwa yang aku perlukan hanyalah keberadaannya, tanpa perlu kata apa-apa, tanpa perlu rencana apa-apa, hanya ada dan tidak berprasangka. Aku tidak minta macam-macam bukan?"

Chanyeol tercenung dalam lamunannya, "Dia masih belum berhenti mencari," gumamnya pelan.

Yifan mendesah.

"Aku berjanji akan membuatnya berhenti mencari, kau tahu aku sangat mencintainya, aku akan berusaha dengan segala ketidak sempurnaanku ini untuk membahagiakannya jika dia mau menerimaku," Chanyeol menghembuskan nafas pelan, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa dan memejamkan mata.

"Gwaenchana?" tanya Yifan sambil menatap Chanyeol tajam.

Chanyeol menggeleng, tetap memejamkan mata. "Gwaenchana, aku cuma sedikit lelah, biarkan aku terlelap sebentar."

Yifan menyalakan rokoknya lagi, matanya menerawang, sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Kenapa kau tidak memakan makananmu?"

Suara Yifan membuat Baekhyun tersentak dari lamunannya, dia tersenyum malu.

"Eh, iya, mianhae…" gumam Baekhyun pelan, mencoba menelan makanannya dengan canggung.

Yifan tersenyum lembut. "Memikirkan Chanyeol?"

Pipi Baekhyun memerah, membuktikan kalau kata-kata Yifan mengena.

"Aku mencemaskannya, dia tampak aneh tadi. Buru-buru masuk kamar dan menyuruh kita pergi makan malam berdua, padahal biasanya dia senang pergi makan malam bersama."

"Mungkin dia sedang ingin istirahat."

"Apakah dia sakit?" Baekhyun setengah merenung.

Yifan terkekeh pelan. "Menurutku dia sehat-sehat saja."

"Apakah itu berdasarkan kacamata kedokteran?"

Senyum Yifan berubah lembut, "Bukan, itu dari kacamata seorang saudara."

"Kalau dari kacamata kedokteran?"

Beberapa detik Yifan terdiam, seolah ada kalimat tertahan di tenggorokannya, lalu mengangkat bahu, "Dia baik-baik saja Baekhyun."

Baekhyun menelan suapan terakhirnya. "Aku berpikir, jangan-jangan dia murung gara-gara habis putus dengan Luhan, apa mungkin dia patah hati? Mungkin dia menyesal sudah putus dengan Luhan?"

"Chanyeol? Patah hati?", Yifan tergelak. "Kau mulai berpikir macam-macam Baekhyun, Chanyeol tidak mungkin patah hati dengan perempuan semacam Luhan, dia bisa mendapatkan berpuluh-puluh wanita lain semacam itu hanya dengan menjentikkan jari."

Lalu tatapan Yifan berubah serius. "Berhentilah mencemaskan Chanyeol, aku ingin memicarakan tentang kita."

"Kita?"

Yifan menggenggam tangan Baekhyun. "Apakah tidak pernah ada 'kita' dalam benakmu?"

Kata-kata itu membuat pipi Baekhyun merona, lalu mendesah, "Tentu saja ada."

"Lalu?"

"Aku…aku…" Baekhyun bingung harus berkata apa.

"Apakah kau masih tidak yakin padaku?"

"Hatinya tidak bergetar, bukankah seharusnya kalau dia bertemu dengan soulmatenya dia langsung merasakan getaran yang berbeda?"

Baekhyun mendesah, bagaimana dia menjelaskan hal itu tanpa melukai Yifan.

Yifan, saudara sepupu Chanyeol adalah sosok yang sempurna, melebihi sosok soulmate yang diimpikan Baekhyun, dokter muda dari keluarga kaya, tampan, berkepribadian baik dan seolah-olah sudah diciptakan untuk melengkapi Baekhyun.

Kadang Baekhyun bertanya-tanya, Yifan seperti sudah mengetahui apa yang Baekhyun mau sebelum Baekhyun meminta, menebak apa yang Baekhyun pikirkan meskipun Baekhyun hanya berdiam diri.

Dan lelaki itu mencintainya.

Bukankah itu poin penting dalam pencarianmu? "Aku ingin bertemu dengan seseorang yang mencintaiku sepenuh hati, dan bisa membuatku mencintainya."

Tanpa sadar Baekhyun mendesah. Kalimat kedua itu yang dia masih belum yakin. Dia belum yakin bahwa dia mencintai Yifan sepenuh hati.

"Kau tahu aku bersedia menunggumu, aku mencintaimu Baekhyun."

Baekhyun tersenyum lembut, "Aku juga menyayangimu Yifan."

Menyayangi, bukan mencintai. Yifan meringis. Sampai kapan Baekhyun akan bersikap seperti ini kepadanya?

"Apakah ini tentang pencarianmu terhadap sang soulmate? Kenapa kau begitu mempercayai bahwa seseorang yang sempurna sudah disiapkan Tuhan untukmu?"

"Chanyeol yang cerita?"

Yifan tersenyum, "Aku yang bertanya, jangan salahkan dia, menurut Chanyeol itu adalah salah satu keunikanmu, seorang gadis yang selalu mencari soulmatenya, percaya tanpa putus asa bahwa dia akan dipertemukan dengan seseorang yang diciptakan khusus untuknya," Yifan mempererat genggaman tangannya di jemari Baekhyun. "Dan aku akan sangat bangga jika kau mempercayai bahwa akulah 'dia'."

"Yifan…"

"Tidak, jangan jawab sekarang, kau tahu aku bersedia menunggumu, cintaku padamu cukup besar untuk menanggung penantian panjang agar dapat bersamamu pada akhirnya."

Baekhyun mendesah. "Gomaweo, Yifan."

Yifan mengangkat tangan Baekhyun ke bibirnya dan mengecupnya lembut. "Dengan senang hati."


"Dia menolakku lagi," Yifan melempar kunci mobil ke meja dan membanting tubuhnya ke ranjang Chanyeol.

Chanyeol yang sedang menghadap layar monitor memutar kursinya dan menatap Yifan serius. "Kupikir malam ini dia akan menerimamu."

Yifan menata bantal di belakang punggungnya agar nyaman, lalu berselonjor menghadap Chanyeol. "Karena itukah kau tadi sengaja menghilang ke kamar dan meminta aku makan malam hanya berdua dengan Baekhyun?"

"Kau tahu aku tidak dengan sengaja melakukan itu, kau tahu kenapa aku tidak bisa ikut makan malam tadi."

Yifan tercenung mendengar nada tajam dalam suara Chanyeol, lalu menatap penuh perhatian. "Gwaenchana? Apakah perlu aku…"

"Gwaenchana," Chanyeol langsung menyela dengan cepat, "Cukup tentang aku, bagaimana tadi?"

"Sudah kubilang dia menolak aku, dia masih mencari belahan jiwanya, aku sekuat tenaga berusaha meyakinkannya, tapi dia masih ragu untuk menerimaku."

"Kau kurang berusaha mungkin?"

Yifan melempar bantal dengan jengkel ke arah Chanyeol yang segera menangkapnya dengan sigap. "Aku kurang berusaha apa? Aku mencintainya sepenuh hati, aku bersedia menunggunya, tapi dia belum yakin padaku, aku bisa melihat di matanya, dia masih belum yakin kalau aku adalah soulmatenya."

Chanyeol terdiam, bingung. "Aku ingin dia berhenti mencari, dia sudah terlalu lama mencari."

"Kenapa bukan kau sendiri yang berusaha membuatnya berhenti mencari Chanyeol?" tanya Yifan hati-hati.

Chanyeol menatap Yifan dalam, "Kau yang harus membuatnya berhenti mencari, bukan aku."

"Bagaimana kalau memang bukan aku yang dicarinya? Bagaimana kalau memang bukan aku yang ditakdirkan menjadi soulmatenya? Tuhan punya takdir sendiri Chanyeol, kita tidak bisa memaksakan kehendakNya."

Chanyeol menggelengkan kepalanya keras kepala. "Seharusnya dia yakin bahwa kau adalah sosok yang ditunggunya selama ini, kau tidak pernah menjawab keluh kesahnya dengan pertanyaan 'kenapa?', kau selalu menghargai pilihan-pilihannya, kau selalu bersedia ada untuknya."

"Karena kau yang memberitahukan hal itu kepadaku," sela Yifan cepat. "Aku muncul, menjadi sosok seperti yang diinginkannya bukan karena aku seperti itu tetapi karena kau yang membentukku seperti itu," Yifan mengacak rambutnya frustasi. "Aku masih saja merasa sudah bertindak curang terhadap Baekhyun."

"Kau tidak berbuat curang, aku yang bertindak curang padanya, biar aku yang menanggung semua ini."

"Baekhyun, berhentilah mencari, mulailah menunggu. Biar aku saja yang akan menemukannya untukmu."


"Sepertinya Kyungsoo yang akan menjadi kekasihku berikutnya," Chanyeol menatap Baekhyun dari atas majalah yang dibacanya.

Baekhyun mengganti channel TV yang menayangkan acara criminal ke acara musik. Mereka berdua duduk di ruang tamu rumah keluarga Baekhyun yang sederhana, menonton TV.

"Kyunsoo yang mana?" tanyanya tanpa mengalihkan tatapan matanya dari televisi.

"Yang model itu."

Benak Baekhyun melayang, ke sosok wanita cantik, tinggi dan sempurna yang pernah dilihatnya bersama Chanyeol beberapa waktu lalu. "Tipe seperti itu lagi?"

Chanyeol menggulung majalah yang dibacanya dan memukulkannya ke kepala Baekhyun. "Tipe seperti apa maksudmu?"

Baekhyun tertawa. "Tipe boneka Barbie."

Kali ini gentian Chanyeol yang tergelak. "Kejam."

"Dan kau," Baekhyun menunjuk ke hidung Chanyeol, "Hypocrite!"

"Kau perfeksionis."

"Kau hedonis!"

"Kau… kau…" Chanyeol tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena tertawa keras. Mentertawakan tingkah spontan kekanak-kanakan mereka.

"Apa yang lucu?" Baekhyun mengerutkan keningnya, meski dengan senyum tertahan.

Chanyeol mengacak rambut Baekhyun dengan sayang. "Kau yang lucu," gumamnya penuh sayang, matanya berubah serius. "Yifan ke rumah kemarin, katanya kau menolaknya lagi untuk kesekian kalinya."

Baekhyun memutar bola matanya, topic yang ingin dihindarinya! Dan Chanyeol langsung menyodorkannya ke depan hidungnya!

"Aku masih tidak yakin Chanyeol, entah kenapa…"

"Aku akan memaksanya berhenti merokok," gumam Chanyeol penuh tekat.

Mau tak mau Baekhyun tersenyum. "Bukan karena itu," mata Baekhyun menerawang. "Kau ingat saat aku bilang bahwa aku pasti akan tahu ketika aku dipertemukan dengan soulmateku?"

Chanyeol mengangguk.

"Yah, kupikir…" Baekhyun mengangkat bahu. "Kupikir ketika aku bertemu dengan belahan jiwaku, dunia akan terasa meledak di bawah kakiku, hatiku akan berseru-seru, 'itu dia! itu dia!', setidaknya aku akan merasakan getaran yang berbeda."

"Dengan Yifan tidak terasa begitu?" Chanyeol menebak.

Baekhyun tidak menjawab, tapi Baekhyun memang tidak perlu menjawab, Chanyeol sudah tahu. Dengan muram, tiba-tiba merasa amat lelah, Chanyeol menyandarkan kepalanya ke belakang dan memejamkan mata.

"Chanyeol?" Baekhyun memanggil ketika mendapati Chanyeol tidak bersuara.

Chanyeol tertidur, pulas.

Baekhyun mengernyit, sepertinya itu sudah menjadi kebiasaan Chanyeol akhir-akhir ini, dia sering tertidur dimana-mana, di kursi teras belakang, di sofa ruang tamu Baekhyun, di bioskop saat mereka nonton bersama, bahkan saat mereka pergi bertiga bersama Yifan, Chanyeol tidak pernah menyetir lagi, lelaki itu lebih memilih duduk di jok belakang dan tidur selagi ada kesempatan. Apakah pekerjaannya begitu berat akhir-akhir ini sehingga dia selalu kelelahan?

Baekhyun mengamati Chanyeol yang tertidur dengan wajah damai. Betapa tampannya lelaki ini, Baekhyun mengernyit karena baru menyadarinya. Selama ini yang ada di ingatannya hanyalah keceriaan Chanyeol, dia selalu mengingat profilnya yang ceria dan menyenangkan, dia tahu Chanyeol tampan, tapi tidak pernah memperhatikannya secara eksplisit.

Tapi hati memang tidak pernah memperhatikan penampilan fisik bukan? Baekhyun mengernyit menahan perih yang menyeruak di dadanya.

"Belum cukupkah keputusasaanku mencarimu membuat hilangmu berhenti, lalu kau datang dan tak lagi pergi? Membuatku tak terbunuh lelah mencari pasangan jiwaku. Chanyeol, cepatlah berkata… Jangan terlalu lama…"


"Lalu apa yang harus aku lakukan?!" Yifan setengah berteriak, marah. "Kalau dia memang tidak merasakan getaran itu padaku, aku harus berbuat apa? Hatiku sudah cukup sakit menyadari perasannya tak sebesar perasaanku padanya, dan sekarang kau masih menyalahkanku?" nada frustasi terdengar jelas di suaranya.

Chanyeol mengetatkan gerahamnya. "Kau tak perlu emosi seperti itu."

"Tak perlu emosi?! Kau pikir aku mau berada di situasi seperti ini? Kau yang membuatku berada di posisi menyakitkan ini, dan sekarang berani-beraninya kau menyalahkan aku karena Baekhyun tidak merasakan getaran yang berbeda ketika bersamaku!"

"Aku tidak menyalahkanmu, aku hanya bilang kau kurang berusaha."

Jawaban itu semakin menyulut emosi Yifan. "Kurang berusaha katamu?Kurang berusaha apa aku?! Kau yang datang padaku setahun yang lalu, memintaku, memaksaku untuk jatuh cinta pada Baekhyun, membentukku menjadi sosok yang sempurna untuknya, dan aku mau melakukannya, aku bahkan benar-benar jatuh cinta pada Baekhyun, dan sekarang, ketika aku menghadapi kepahitan karena Baekhyun tidak mencintaiku, kau menyalahkan aku karena kurang berusaha?"

"Yifan," Chanyeol bergumam tenang, mencoba meredakan emosi Yifan, "Maafkan keegoisanku."

Dan berhasil, emosi Yifan mereda, lelaki itu mengacak rambutnya frustasi. "Mianhae," gumam Yifan lemah, "Pikiranku kalut."

"Aku mengerti, ini semua kesalahanku, ini semua karena keinginan egoisku agar Baekhyun berhenti mencari, agar Baekhyun menemukan soulmate yang selama ini ditunggunya, aku ingin Baekhyun menemukannya, dan aku memperalatmu."

Yifan menghela nafas. "Aku senang bisa diperalat, setidaknya aku mencintai gadis yang benar-benar berharga."

Hening. Hanya helaan nafas masing-masing yang terdengar, mencoba meredakan sesak di dada.

"Chanyeol, kalau kau begitu mengerti tentang Baekhyun, kalau kau menyadari kau sendiri bisa menjadi sosok sempurna yang diinginkan Baekhyun, kenapa kau tidak pernah mencoba? Setidaknya…"

"Kau tahu aku tak bisa," Chanyeol menyela, kepedihan yeng kental memenuhi suaranya, kesedihan yang berat menggantung di udara.

"Dan kalian pikir aku menemukan soulmateku sendiri?"

Suara bergetar Baekhyun di belakang mereka berdua membuat keduanya terperanjat, serentak menoleh ke belakang. Baekhyun berdiri di sana, di pintu rumah Chanyeol yang terbuka, tubuhnya bergetar oleh emosi, matanya berkaca-kaca.

"Baekhyun…?" Chanyeol terdengar panic, berusaha menjelaskan. Tapi tatapan tajam Baekhyun yang penuh kebencian membuat kata-katanya terhenti.

"Tidak kusangka aku hanya menjadi ajang permainan di antara kalian berdua," Baekhyun tidak dapat menyembunyikan kejijikan di dalam nada suaranya. "Tidak kusangka…" kini air mata mulai mewarnai suara Baekhyun. "Pantas Yifan seperti jelmaan sosok soulmate yang ku impikan… Pantas…" suara Baekhyun tertelan oleh isakan.

"Aku tidak akan pernah mau bertemu kalian berdua lagi!" serunya lagi sebelum air mata menetes di pipinya. Dia tidak akan pernah menangis di depan kedua laki-laki ini!

"Baekhyun, kau harus dengar dulu… Baekhyun!" Yifan berteriak langsung melompat mengejar Baekhyun yang mebalikkan badannya dan berlari menjauh.

Chanyeol terdiam di tempatnya, tidak berusaha mengejar, pedih.

"Bahwa sesuatu yang biasanya ada bisa menjadi berarti karena ketiadaannya. Seperti kenanganku tentangmu yang kusyukuri ditengah-tengah mereka yang tak sempat mengenangmu waktu malam kelam membungkusku dalam pilu."


TBC

Hi! Maafkan karena aku lama bangets updatenya. Lagi magang nih *curhat* *sobs*. Buat Another 5% juga kayaknya minggu depan updatenya. Uhuhuhu maafkan sekali lagi *bow

At least, Review? :)