Disclaimer : Harry Potter by J.K. Rowling

Warnings: AU, OOC, male slash, typo, etc. If you don't like, don't read

Pairing : DMHP

Rated: T

Genre: Romance

We Got Married!

By

Keira Luna

chapter II: is that real?

Harry merasa dirinya sangat nyaman sekaligus hangat saat ini. Ia bahkan tidak ingin membuka matanya, takut jika ia kembali dalam dunia nyata, rasa nyaman itu akan menjauhi dirinya. Dalam hidupnya, ia tidak pernah merasa sehangat ini, bahkan ketika ayah baptisnya memeluknya sekalipun. Perasaan hangat itu semakin bertambah ketika ia merasakan sebuah lengan yang memeluk pinggangnya erat dan juga deru nafas hangat yang membelai kulit lehernya. Tulus dari dalam hatinya, Harry benar-benar berharap perasaan ini selalu melekat padanya, dimanapun ia berada.

PRANG!

Sebuah suara melengking yang memekakan telinga bergema di penjuru ruangan itu. suara itu cukup membuat Harry tersadar dari alam mimpinya. Dengan perlahan, ia meninggalkan alam mimpi yang memabukkan lalu mendaki satu per satu anak tangga kesadaran. Harry mengerang pelan ketika ia sudah sepenuhnya berada dalam keadaan sadar. Ketika Harry membuka matanya, manik emeraldnya langsung tertuju pada langit-langit ruangan tersebut. 'Aneh', batinnya. Ya, ia merasa bahwa langit-langit kamarnya menjadi lebih tinggi daripada sebelumnya. Harry kemudian mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Ia bisa melihat sinar matahari melalui sela-sela gorden berwarna hijau toska yang menutupi jendela. Tunggu dulu! Hijau toska? Well, jika long term memory-nya masih berfungsi dengan benar, ia ingat benar bahwa gorden kamarnya berwarna merah tua dengan sedikit sulir emas yang menghiasinya. Yup, merah adalah ciri khas seorang Gryfindor, sedangkan hijau adalah warna Slytherin. Slytherin?

Dengan kaku, Harry mengalihkan pandangannya dari jendela. Ia benar-benar shock ketika mendapati sebuah lengan yang memeluk pinggangnya dengan erat. Jantungnya bahkan serasa ingin copot ketika ia menyadari keadaannya yang polos tanpa busana. Harry memejamkan matanya, berharap bahwa ia segera bangun dari mimpi buruk ini. Tetapi, ia semakin terkejut ketika ia melihat siapa wanita, er… lebih tepatnya pria yang ada di sebelahnya.

'What? Malfoy?', jeritnya dalam hati.

Segera ia bangkit dari tempat tidur tanpa memperdulikan si pirang yang masih tertidur pulas di sebelahnya. Grep! Ia membungkuk untuk menahan rasa sakit yang terasa di daerah selangkangannya. Mengabaikan rasa sakit yang menjerit di bagian bawah tubuhnya, ia bergegas bangkit dari tempat tidur dan dengan cepat mengenakan pakaiannya yang berserakan di lantai.

"Ngh…" desah si pirang yang masih tertidur pulas.

Harry sesaat terpaku menatap si Malfoy junior yang masih terbaring di tempat tidurnya. Glek! Ia menelan ludah ketika melihat dada polos nan seksi milik si pirang. 'Tidak Harry, semua ini tidak semestinya terjadi!', batinnya dalam hati sambil menggelengkan kepalanya. Dengan pakaian yang sedikit compang-camping, Harry melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.

Lucius Malfoy sedang menikmati morning tea-nya di ruang kerjanya. Sembari mengesap Earl Grey yang menjadi favoritnya, Lucius memilah-milah berkas-berkas yang akan ia selesaikan hari itu juga.

BRAK!

"Merlin, Cissy! Apa yang kau lakukan?" ujar Lucius terkejut. Ia melirik kemeja sutera putih yang melekat ditubuhnya kini terkena cipratan teh.

"Lu… Lucius… Draco… Draco…"

Kening Lucius berkedut melihat tingkah istri tercintanya yang sangat un-Malfoy-ish. "Ada apa dengan putra kita Cissy?", tanyanya dengan kaku seperti biasa. Ia kembali mengangkat cangkir teh dan mulai meneguk tehnya yang mulai dingin.

"Itu… Draco… tidur dengan Potter!" ujar Narcissa tanpa ragu.

PRUT! Lucius menyemburkan teh earl grey yang baru saja diteguknya dan memandang istrinya dengan penuh rasa tidak percaya.

"Draco dan… Potter?" tanya Lucius untuk meyakinkan dirinya.

Narcissa hanya bisa mengangguk. Dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk menjawab pertanyaan yang diajukan suaminya itu. untuk beberapa saat, Lucius terpaku di tempatnya, mencoba mencerna kembali perkataan istrinya yang baru saja didengarnya.

"Kita ke kamar Draco sekarang!" perintah Lucius pada istrinya.

Baru saja ia membuka pintu ruang kerjanya, ia dikejutkan dengan kehadiran Severus Snape yang berdiri tenang di depan pintu tak lupa dengan wajah stoic-nya. Ia menatap lekat kedua pasangan Malfoy itu secara bergantian.

"Severus… Er… Ehem, ada perlu apa sobat?" tanya Lucius setelah ia meredakan ketegangan yang baru saja menghinggapinya.

"Katakan padaku, Lucius. Apa semua hal yang kudengar tadi adalah kenyataan?"

"Er… Severus, hal itu…"

Draco terbangun dengan perasaan segar di pagi itu. Selama hidupnya, baru kali ini dia merasa dirinya sesegar ini. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan merentangkan tangannya untuk melakukan exercise ringan yang biasa ia lakukan. Sementara itu, pikirannya tertuju pada sesuatu yang berusaha dia ingat. Saat akan beranjak menuju kamar mandi, tiba-tiba saja ia berhenti. Ia memandang keadaan kamarnya dengan seksama. Keadaan kamarnya sangat kacau saat itu. Ada pecahan guci yang berceceran begitu saja di lantai. Di sisi lain, ia juga heran melihat kondisi tempat tidurnya yang lebih acak-acakan dari yang sebelumnya. 'Aneh…', batinnya. Namun ia tidak ingin memikirkan hal tersebut terlalu dalam. Ada banyak hal yang harus dilakukannya hari ini dank arena itu akan sangat baik jika ia bergegas mandi sekarang.

Draco melangkahkan kakinya perlahan menuju kamar mandi. Langkahnya terhenti saat itu juga saat kakinya menginjak sesuatu. 'Apa itu?', tanya Draco dalam hati. Penasaran, ia lantas membungkukkan tubuhnya dan mengambil benda itu. Ia merasakan suatu perasaan déjà vu ketika tangannya menyentuh tongkat sihir tersebut. Ya, benda yang tadi ia pijak adalah sebuah tongkat sihir, tentu saja tongkat itu bukan miliknya. Draco kembali menimang tongkat itu. Dahinya berkerut. ia seperti pernah memegang tongkat itu sebelumnya dan tahu betul siapa pemiliknya. Draco lalu berjalan menuju sofa hijau kesayangannya yang terletak tak jauh dari jendela. Ia duduk di sana masih dengan menimang tongkat sihir itu di tangannya. Pikirannya melayang berusaha menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari dalam hatinya. Tiba-tiba, matanya terbelalak lebar.

"Ini… Potter?"

Ya, ia ingat sekarang. Tongkat itu adalah tongkat Holy milik Harry Potter, si pahlawan dunia sihir. Lantas bagaimana bisa tongkat milik Potter bisa berada di kamar pribadinya?

"Jangan-jangan…"

Sekelabat ingatan pesta semalam berputar dalam pikiran Draco. Ia mengingat dengan jelas ketika dirinya melihat Potter, menghampirinya, lalu menawarkan minuman padanya. Lantas apa yang terjadi selanjutnya?

Draco memijit keningnya yang terasa sedikit pusing. Meski begitu, Drcao tetap berusaha mengingat kejadian apa yang menimpanya kemarin.

"I want you Harry…"

Tongkat Holy yang berada dalam genggaman Draco pun terlepas. Bayangan-bayangan peristiwa semalam kembali berputar di benaknya. Desahan-desahan Potter, hangatnya tubuh Potter, bahkan cengkraman tangan Potter di bahunya masih dapat ia rasakan saat ini.

"Jadi… yang semalam bukanlah mimpi?"

Draco merasa dirinya orang terbodoh di dunia. Bagaimana mungkin ia dapat melakukan hal segila dan senekat ini. Hell! Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Tanpa piker panjang, Draco segera mengambil pakaian yang ada di lemarinya dan secepat kilat menggunakannya. 'Aku harus menemuinya",batin Draco. Setelah menatap pantulan dirinya di cermin (baca: memastikan bahwa rambut platinanya berada dalam keadaan yang perfect), Draco sesegera menuju perapian keluarga Malfoy dengan tongkat Holy di genggaman tangan kanannya.

Grimmauld Place No.12

Harry baru saja selesai mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Ia merinding saat ia melihat bercak kemerahan yang memenuhi tubuhnya, mulai dari leher, perut, punggung, hingga paha. Hell! Apa yang telah dilakukan si Slytherin itu padanya.

PLOP! Muncullah Kreacher, si peri rumah keluarga Black yang kini berada di bawah kepemilikan Harry.

"Master Harry Potter, sir. Kreacher telah menyiapkan sarapan untuk Master,"kata si peri rumah setelah ia membungkukkan tubuhnya pertanda hormat pada Harry.

Harry menghela nafas panjang. "Aku segera ke bawah," ujarnya. Harry merasa dirinya benar-benar kacau saat ini. Ingin rasanya ia terbang ke kutub utara hanya untuk menyembunyikan dirinya dari dunia. Kejadian satu malam tersebut berdampak cukup parah pada kondisi mental dan fisiknya. Kondisi fisik? Hell! Saat ini seluruh tubuhnya berdenyut akibat bekas gigitan liar si Malfoy licik itu! belum lagi rasa sakit di selangkangannya yang membuatnya sulit berjalan. Grrr, ingin rasanya ia menelan si pirang bulat-bulat atau menjadikannya umpan bagi para naga.

Perlahan tapi pasti, Harry menapaki satu per satu anak tangga dan memasuki ruang makan. Bau lezat masakan langsung menyerbu hidung Harry begitu ia berada di ruang makan. Harus ia akui, meski tingkah Kreacher terkadang tidak sopan, masakan peri rumah yang satu ini tiada bandingannya dibanding peri rumah lainnya. Tanpa basa-basi lagi, Harry langsung menyantap rakus hidangan yang tersaji di atas meja makan. Saat ia asyik-asyiknya menyantap hidangan Kreacher yang lezat, tiba-tiba saja…

"Potter" sapa si pirang.

"Prut!"

Harry tersedak dan mengeluarkan makanan yang berada di dalam mulutnya. Ia benar-benar terkejut dengan kehadiran si pirang yang begitu tiba-tiba.

"Mau apa kau Malfoy? Tidak cukupkah kau mempermalukanku semalam?" bentak Harry.

"Jadi yang semalam itu nyata ya…", gumam si pirang. Entah mengapa ada sekelebat rasa senang yang memenuhi dadanya. "Er… aku hanya ingin mengembalikan ini", ucap Draco sembari meletakkan tongkat Holy milik Harry di atas meja makan. "Tongkat itu tertinggal di kamarku".

Harry tidak mengucapkan apa-apa pada Draco. Pandangannya terpaku pada tongkat Holy miliknya yang tergeleletak begitu saja di meja makan.

"Jujur aku masih tidak percaya kalau aku telah me… me… ehm…" kata Draco sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Hah! Tidak usah berpura-pura,Malfoy! Kau sengaja membuatku mabuk firewhiskey semalam kan?" kata Harry sinis.

Mata Draco membulat mendengar perkataan Harry. "Apa? Firewhiskey katamu?".

"Bukankah kau yang kemarin menawariku minuman?" kata Harry lagi.

"Apa kau pernah ikut pesta sebelumnya?" jawab Draco tak sabar.

"Tentu saja! Kau anggap apa aku ini? Sudah berpuluh kali aku menghadiri pesta di The Burrow," ucap Harry membela diri.

"Tsk," Draco mendecak. Kedua tangannya kini sudah terlipat di depan dadanya. "Kau sebut hal yang seperti itu sebagai sebuah pesta? Kau kira pantas minuman sejenis itu disajikan dalam pesta bangsawan? Minuman yang kuberikan padamu hanyalah anggur biasa!" jelas Draco.

Harry terdiam mendengar penjelasan musuh bebuyutnya pada zaman Hogwarts dulu. Ia masih memproses semua informasi yang baru saja ia dengar dari Draco, orang yang bertanggung jawab atas hilangnya er… keperjakaannya.

"Lantas, bagaimana bisa aku… kau…" tanya Harry.

Draco menghela nafas panjang. Jujur, ia sendiri juga masih bingung dengan kejadian sensasional yang terjadi kemarin. "Daripada itu, aku masih belum percaya jika aku kau melakukannya," kata Draco.

"Kau tidak percaya?", teriak Harry marah. "Kau tahu tubuhku terasa sakit dimana-mana bahkan sekarang pun aku sulit berjalan!", teriak Harry lagi.

Draco mendengus. "Maksudku bukti konkret, Potter!"

Kesadaran Harry benar-benar habis. Bagaimana bisa si pirang Malfoy mengatakan hal itu seenak jidatnya. Tanpa berpikir panjang (khas Gryffindor bukan?), Harry membuka kancing kemeja putih yang dikenakannya.

"Lihat ini baik-baik, Ferret!" katanya lagi.

Draco hanya bisa cengok melihat tingkah Harry. Di sisi lain, ia juga merasa bangga akan dirinya sendiri melihat kegagahannya di atas ranjang, terlihat dari tanda kemerahan yang memenuhi tubuhnya. Tanpa disadari, Draco mendekati Harry dan memfokuskan pandangannya kea rah pundak Harry. Sementara itu Harry meremang saat nafas Draco begitu terasa di tengkuknya.

"Di belakang telingamu juga ada," desahnya.

Draco lalu memeluk pinggang Harry, menurunkan bagian belakang kemeja Harry.

"Ah… bahkan di punggung juga'" desahnya lagi.

Saat Draco melakukan semua aksinya itu, Harry hanya bisa terdiam. Ia seakan terkena mantra petrificus sehingga tak dapat melakukan apa-apa, kecuali pasrah.

Tanpa mereka berdua sadari, perapian Harry yang berada di ruang tamu yang berdekatan dengan ruang makan mengeluarkan pendar hijau. Dan…

BRUKK!

Suara benda jatuh yang cukup keras menyadarkan Harry dan Draco dari 'kegiatan' mereka. Masih berada dalam pelukan Draco, Harry memalingkan wajahnya ke arah ruang tamu dan terkejut mendapati Ron yang tergeletak dengan indahnya di atas lantai berpermadani.

"Ah, Ron?"

Bersambung

A.N: Yak, chapter kedua selesai….. Bagaimana menurut kalian? Ada yang kurangkah? Beritahu aku ya dengan mengklik tombol Review di bawah sana… Oh ya terima kasih telah meriview atau mem-fave fic ini! Semoga chap ini tidak mengecewakan ^^