Pein, Leader of Poor

'Huh, dasar Pein suka seenaknya, un,' celoteh Deidara di dalam hatinya. Dia sudah menyelesaikan 47 lempung yang berbentuk anak-anak dan sapi. '1000 dikurang 47, eng—853, eh, sepertinya bukan deh. 753 kali!' Kini Deidara sedang asyik menghitung lempung dan melupakan pekerjaan utamanya.

Pein yang sedari tadi memerhatikan Deidara menghitung-hitung gak jelas dengan jarinya, langsung menghampirinya. "Gue dah memerhatikan lo berjam-jam lalu, tapi--" ucapnya putus sambil menghitung lempung-lempung Deidara. "Tapi— APA-APAAN INI? 50 LEMPUNG AJA BELUM ADA!!" sembur Pein.

Deidara yang sudah lihai, dengan mudahnya menghindari semburan mematikannya Pein. "Gue bingung 1000 kurang 47, berapa ya, un? Dari tadi gue cari gak dapat-dapat, padahal gue udah make semua rumus matematika yang gue tahu, un," aku Deidara.

"Lo bener-bener bego, sama aja dengan yang lain. Seharusnya sebelum gue merekrut lo pada, gue adakan ujian akademis dulu," gerutu Pein sewot. "Masa lo gak tau 1000 kurang 47! Lemot lo!" hina Pein bertubi-tubi.

"Emang berapa, un?!" tanya Deidara mulai kesel. 'Sampai kapan sih ni orang bisa berhenti menghina-hina?'

"1047!" jawab Pein.

"Kok bertambah, seharusnya berkurang, un! Otak lo dah bercampur dengan Kakuzu yang suka nambah seenaknya! Apa karena dulu lo cuma diajarin tambah-tambahan aja, heh?" cemooh Deidara.

"Gue tau kok hasil yang sebenernya!" gumam Pein. "Tapi—lo dah ngabisin waktu berjam-jam cuma untuk ngitungin sisa lempung lo! Seharusnya dalam waktu berjam-jam itu lo udah nyelesein sekitar 357 lempung. Sebagai gantinya lo harus nyelesaiin 1047 lempung lagi!" ucap Pein dengan hitungan matematikanya yang ngaco.

"Apa lo tega dengan mulut di tangan gue?!" tanya Deidara histeris.

"Gue gak peduli kalo mulut di tangan lo pada koyak, sariawan, bau mulut, berbusa, atau apalah itu, gue tetep gak peduli!!" teriak Pein mencak-mencak.

Pein berlalu, Deidara hanya meratapi nasibnya sebagai seniman Akatsuki.

- - -

"Chi, tolong kirim kami ke pasar yang paling murah!" gumam Kakuzu.

"Lo kira gue apa, heh?!" gerutu Itachi.

"Bukannya mata lo tu bisa digunakan untuk teleportasi? Cepet gue gak ada waktu lagi!" seru Kakuzu mulai kesel.

"Oke, gue akan mengirim lo berdua! Tapi—lo tau 'kan di dunia ini gak ada yang gratisan... Bagaimana?" tanya Itachi dengan senyum liciknya.

"Berapa?" tanya Kakuzu yang mulai tidak suka dengan pembicaraan ini.

"Satu orang 10 ryo!"

"Lo mo bunuh gue?! 10 ryo kemahalan!!"

"Lo juga sama aja, masa satu orang 15 ryo. Pasti sisanya lo tilep sendiri!!" ucap Itachi yang seakan sudah tahu sistematis otak koruptor Kakuzu.

"Oke gue setuju!" seru Kakuzu yang mulai beranjak ke arah Sasori. "Sas, mana duit lo. 17 ryo!"

"WUAPUA?! 17 ryo, Itachi 'kan cuma minta 10 ryo per orang!!" protes Sasori.

"Lo bayarin gue 7 ryo sisanya! Tapi kalo lo gak mau juga nggak masalah, gue gak bisa jamin boneka-boneka aneh lo tu bakalan selamat!" ancam Kakuzu.

Sasori mulai mengeluarkan dompet dari saku celananya dengan terpaksa dan mengambil uang senilai 17 ryo. "Nih! Makan tu duit!!"

"Gitu dong, kalo gini 'kan enak..." kata Kakuzu yang langsung menyerobot duit Sasori.

Sasori melihat isi dompetnya yang hanya berisi 6 keping logam yang bernilai 1 ryo, lalu disusul dengan tatapan membunuh ke arah Kakuzu. 'Awas aja lo! Gue laporin ke KPK, nyahok lo! Untung aja gue masih punya simpanan duit rahasia. Bentar lagi juga Valentine's Day, pasti gue dapet kiriman coklat paling banyak, kalo gue jual lumayan tuh!' lamunnya.

"Sas, ngapain lo? Ngelanjor ya? Cepet waktu kita mepet!" seru Kakuzu.

"Enak aja lo! Gue bukan Pein yang suka ngelamun jorok!" bantah Sasori yang merasa nama baiknya tercoreng dengan kata 'ngelanjor'-nya Kakuzu.

Merekapun bersiap-siap untuk dikirim ke pasar murah dengan Mangekyou-nya Itachi. Adegan berbahaya ini hanya boleh ditiru oleh para anggota Akatsuki saja.

JLIPP!

Sasori dan Kakuzu menghilang dari hadapan Itachi, mungkin mereka sekarang terombang-ambing di antara ruang dan waktu.

Pein, Tobi, Kisame, Hidan, dan Itachi sekarang sedang bersantai-santai menikmati acara sitkom yang sedang mengudara.

"HUAHAHAHA—humpp--!!" tawa Tobi yang sekarang mulutnya disumpal sepatu oleh Pein -?-

"Bosen banget deh gue! Acaranya gak asyik!! Apa-apaan tuh, masa yang mukanya jelek ditimpuk dan yang ganteng dipuji-puji!!" teriak Kisame yang merasa dirinya dihina. "Sini remote-nya!!" Dia langsung mengambil remote yang dipegang oleh Tobi dan menggantinya dengan film telenovela.

"Muka sangar seperti lo suka nonton pilem ginian! Apa kata dunia?!" gumam Itachi lebay.

"Gue punya ide!!" teriak Pein semangat.

"Jangan bilang kalo lo mo ngajak kita pergi ke warnet cuma untuk menuhi hasrat jorok lo!" ucap Hidan.

"Iya nih... Nanti Tobi laporin ama Konan lho!" kata Tobi yang sudah melepaskan sepatu dari mulutnya -?-

"Ya enggaklah! Sampe kapan sih lo pada gak nganggap gue suka yang begituan..."

"Sampe lo matek!" jawab Kisame.

"Terserah apa kate lo pada deh... Gue bener-bener punya ide bagus nih!"

"Apaan?" tanya Itachi gak peduli.

"Mumpung Kakuzu ngilang, bagaimana kalo kita otak-atik kamarnya? Mungkin aja di kamarnya ada duit-duit kita yang dipungut secara paksa!" kata Pein tersenyum licik.

"Bilang aja lo gak punya duit lagi dan milih jalan untuk nyolong!" gerutu Kisame.

"Kalo gak setuju yasud! Gue sendiri aja!"

"Eh, tunggu gue ikut!" kata Itachi yang disusul dengan persetujuaan dari yang lain termasuk Kisame.

Yang lain mengikuti Pein sang leader kere dari belakang. Akhirnya mereka memasuki kamar Kakuzu sang tilep duit a.k.a koruptor. "Wuiss... Gue gak nyangka ternyata kamar tu koruptor bersih dan rapi banget, gak seperti mukanya!" hina Pein.

- - -

Dunia lain, antara ruang dan waktu...

"HUACHIM!!" bersin Kakuzu.

Melihat Kakuzu bersin Sasori mundur 6 langkah ke belakang sambil menutup mulut dan hidung dengan kedua telapak tangannya.

"Ngapa lo?" tanya Kakuzu heran.

"Apa lo gak pernah liat berita. Jangan-jangan lo tertular flu babi!!" teriak Sasori yang semakin menjauh.

"Pemikiran lo terlalu jauh, baka! Gue bersin karena bau badan lo, kuso!!" gumam Kakuzu tidak sopan yang merasa dirinya dihina-dina.

- - -

Pein mulai membongkar lemari Kakuzu, kali aja ada duit.

"Eh, liat! Gue dapet 5 amplop! Jangan-jangan isinya duit lagi!" ucap Pein girang.

"Yang bener?!" Itachi mulai mendekat ke arah Pein.

"Wah, pas donk dengan kita berlima," Hidan juga mulai mendekat.

"Berlima? Enak aja! Ni 'kan gue yang nemuin!" protes Pein.

"Oh, jadi gitu... Kira-kira apa ya yang akan dilakukan Kakuzu jika gue adu padanya?" ancam Kisame.

"Tobi juga mau!" rengek Tobi.

"Oke, oke! Tapi untuk gue 50% karena gue yang nemuin, deal?!"

"Deal!" teriak yang lain.

Merekapun keluar dari kamar Kakuzu dan mengarah ke ruang tamu. Pein membuka amplop pertama, dia menemukan selembar kertas yang bertuliskan,

"Anda belum beruntung"

"Apa-apaan ini?!" teriak Pein kecewa yang disusul oleh anggota lainnya. Dia mulai membuka amplop berikutnya.

"Coba lagi!"

Amplop ketiga,

"Coba diamplop berikutnya!"

Amplop keempat,

"Nasib belum memihak anda, coba lagi!"

"Sudah empat amplop gue buka tapi gak ada duitnya," kata Pein putus asa. "Pasti amplop terakhir ini ada duitnya!"

Setelah dibuka, keluar kertas yang sama, hanya saja tulisannya berbeda.

"Mau duit? Makanya kerja!"

Ps: 'Jangan bosan membuka amplop yang lain ya! Masih banyak tersebar di kamar gue'

"Brengsek lo Kakuzu!! Lo makhluk paling pelit sedunia!!" ucap Pein kesal lalu mulai membakar semua amplop dan isinya sekaligus. Anggota lainnya pada ngakak sampai ada yang guling-gulingan di lantai.

"Makan tuh 50%!!" teriak Itachi disela tertawanya.

- - -

'Sampe kapan gue harus begini?!' teriak Deidara di benaknya. 'Masih ada sekitar 776 lempung lagi yang harus gue buat. Pein, sialan lo!!'

Tsuzuku, To be Continued, Berlanjut--------------