Chapter 1

Don't Cry

"Hiks hiks…." Terdengar suara tangis yang berusaha di tahan sekuat tenaga oleh seorang perempuan yang mengenakan baju berwarna biru muda itu. Dia duduk seorang diri di depan sebuah rumah sakit besar entah meratapi apa. Bibirnya bergetar berusaha untuk membungkam tangisnya yang tidak kunjung berhenti.

"Umma…." Celoteh seorang anak lelaki kecil yang ada dihadapannya. Perempuan itu menatap anak lelaki tersebut. Anak itu membungkuk. "Maaf… kukira bibi ibuku…." Ucap anak itu dengan nada sedih.

Perempuan itu menatap anak lelaki tersebut, anak itu memakai pakaian yang sama dengannya. Dia menganalisa keadaan anak laki-laki tersebut tangan kanannya di gips dan di kepalanya melilit perban berwarna putih. Di wajah kecilnya masih terdapat beberapa bekas luka kecil. Dia segera menghapuskan air matanya. Dia berpikir mungkin anak itu tersesat.

"Ya, tidak apa. Anak manis dimana ibumu?" tanyannya pada anak tersebut.

"Entahlah aku tidak tahu… bibi suster dan paman dokter tidak mau mengatakan dimana ayah-ibuku bibi," katanya polos.

"Baiklah, kamu mau bibi membantumu untuk mencarikan mereka?" tanyanya.

"Gumawo!" ucapnya riang sambil tersenyum manis padanya. Entah kenapa senyum anak itu menggetarkan hati.

"Come!" ajaknya. Anak kecil itu menggandeng tangannya. Dia membiarkannya terasa kehangatan yang menenangkan hatinya yang gelisah. "Kenapa?" tanyanya saat anak itu menggenggam tangannya erat.

"Aku takut…" jawabnya singkat sambil menundukkan wajahnya.

"Tak apa. Jangan takut peganglah tanganku," katanya sambil mempererat genggaman tangan mereka.

"Siwon!" kata seseorang memanggilnya. Keduanya berbalik dan melihat seorang suster yang memanggil namanya. "Siwon, kamu dari mana saja? Aku mencarimu kemana-mana?" tanyanya.

"Maaf, bibi suster" kata Siwon sambil membungkukkan badannya.

"Terima kasih, anda sudah menemukan Siwon!" ucap suster tersebut.

"Tidak apa" jawabnya sambil tersenyum.

"Ayo, Siwon! Paman dokter akan segera memeriksamu!" katanya sambil mengulurkan tangannya.

DEG

Entah kenapa perasaan hangat yang tadi dirasakan olehnya mulai menghilang seiring lepasnya tautan tangan mereka.

"Terima kasih bibi. Nanti aku akan menemuimu lagi. Dah!" kata Siwon sambil melambaikan tangannya. Dia termenung melihat kepergian anak itu.

"Heechul!" terdengar sebuah suara yang memanggilnya.

"Ah! Hangeng…." Katanya sambil tersenyum. Dia menghampirinya.

"Aku mencarimu, kenapa kau tidak istirahat di kamarmu saja!" ucapnya sambil memapah Heechul.

"Aku hanya ingin mencari udara segar," jawab Heechul sambil menggenggam tangan Hangeng dengan erat. Hangeng pun tersenyum dan mengecup keningnya.

"Istirahatlah. Jangan banyak pikiran Ok, honey?" kata Hangeng.

"Terima kasih" jawab Heechul singkat.

"Oh, iya siapa anak kecil tadi?" Tanya Hangeng tiba-tiba.

"Oh, itu Siwon." Jawabnya perlahan. Hangeng tiba-tiba memeluk Heechul erat.

"Ayo, kita kembali ke kamarmu!" ajak Hangeng. Heechul hanya mengikutinya saja.

Keesokan harinya, Heechul yang merasa jengah dan bosan berada di dalam kamarnya bangkit dan berjalan-jalan di koridor rumah sakit. Dia melihat beberapa orang suster tengah menikmati istirahat siang mereka. Dia merasa lelah dan duduk tak jauh dari mereka.

"Ya, apakah kau tahu sangat sulit sekali untuk mengatur para pasien manula!" celoteh salah seorang dari mereka.

"Klo aku senang sekali di bagian anak-anak. Mereka sangat lucu-lucu!" ujarnya sambil terdengar suara tawa dari teman-temannya.

"Yah! Klo tidak salah, sebulan yang lalu ada kecelakaan mobil yang tragis dan yang selamat hanya anak pemilik mobil tersebut apa benar begitu?" Tanya salah seorang dari empat suster itu.

"Akh! Maksudmu Siwon!" katanya sambil menyebutkan namanya. Mendengar nama Siwon disebut-sebut dalam pembicaraan mereka tanpa segaja Heechul mendengar perkataan suster. "Orang tuanya meninggal di tempat kejadian. Ajaibnya Siwon yang masih anak-anak selamat." Kata suster tersebut.

"Ya, dia anak yang baik. Kalian tahu dia selalu menanyakan kedua orang tuanya dan aku tidak tahu harus menjawab bagaimana…" ucapnya sedih.

Mendengar perbincangan para suster itu Heechul merasa terkejut. Air matanya mengalir, entah mengapa perasaannnya terasa sangat sakit, bagaimana anak sekecil itu dapat bertahan dan mengetahui bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Dia merasa sangat bersedih dan mencoba untuk berjalan ke arah taman.

Entah berapa lama dia duduk disana, sampai sebuah suara membuyarkan lamunannya.

"Bibi!" sapa seseorang. Heechul mengangkat wajahnya dan melihat Siwon telah berdiri dihadapannya. "Kenapa bibi menangis lagi?" Tanya Siwon sambil menghapus jejak air mata di wajah Heechul.

"Tidak apa-apa….. Maaf…. Maaf, Siwon…." Ucapnya sambil tersedu-sedu. Siwon tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Heechul dia hanya tersenyum dan duduk di samping Heechul.

"Bibi, besok paman dokter akan membuka gips tanganku!" ucap Siwon dengan ceria.

"Benarkah!?" Tanya Heechul. Siwon hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

"Paman Dokter bilang klo aku sudah sembuh ayah dan ibuku akan menjemputku. Aku senang sekali!" ujar Siwon sambil tidak berhenti tersenyum. Mendengar perkataan Siwon air mata Heechul semakin deras mengalir. Dia merasa sedih mendengar apa yang dikatakan oleh Siwon.

"Bibi, kenapa? Jangan menangis…." Kata Siwon gugup.

"Tidak apa Siwon…. Tidak apa…." Kata Heechul sambil berusaha menghapus air matanya.

CUP

Sebuah kecupan mendarat di pipi kanan Heechul. Heechul kaget dengan apa yang dilakukan oleh Siwon. Wajahnya memerah antara malu dan juga kaget. Sedangkan Siwon hanya tersenyum.

"A..apa…." Heechul kelabakan mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan.

"Ibuku selalu menciumku klo aku menangis terus. Ibu bilang bahwa aku ini anak laki-laki jadi tidak boleh cengeng. Bibi jangan menangis ya!" ujar Siwon dengan polosnya. "Don't cry, please…" ucap Siwon sambil mengecup pipi kiri Heechul.

"Gumawo, Siwon…." Ucap Heechul. Siwon hanya tersenyum dan kemudian duduk di samping Heechul.

"Akh, karena ayahdan ibuku tidak bisa datang. Maukah bibi menemaniku besok?" Tanya Siwon.

"Menemanimu?" Tanya Heechul.

"Ya, maukah bibi menemaniku… sejujurnya aku sangat takut… paman dokter akan melepas gipsku besok…. Mau ya bi?" pinta Siwon. Mendengar ucapan Siwon Heechul tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

"Tentu saja Siwon. Aku akan menemanimu." Jawab Heechul sambil mengelus kepala Siwon. Mendapat perlakuan yang manis dari Heechul Siwon sangat senang sekali hingga wajahnya memerah.

"Siwon! Siwon!" terdengar sebuah suara yang memanggil namanya.

"Bibi, aku disini!" kata Siwon sambil melambai.

"Akh, disini kau rupanya. Ayo, waktunya minum obat." Ajak si perawat tersebut.

"Baiklah, bibi aku permisi dulu," kata Siwon sambil membungkukkan badannya. "Bye Umma…" kata Siwon sambil melambaikan tangannya dan melangkah menjauh mengikuti perawat tersebut.

Mendengarnya Heechul terdiam namun dia pun balas melambaikan tangannya pada Siwon . Entah mengapa perkataan itu terngiang terus ditelinganya. Sepeninggal Siwon, Heechulpun bangkit dan menuju ke kamarnya.

"Tidakkah kau mengerti apa yang kami inginkan Tan Hangeng!" terdengar suara yang cukup jelas terdengar oleh Heechul. "Yang kami inginkan adalah anakmu. Penerus garis keturunan kita!" katanya.

"Tapi ibu," katanya sembari memohon kepada ibunya.

"Ceraikan dia!" katanya dengan nada dingin.

"Ti…. tidak mungkin ibu…. A…. aku…. Mencintainya… " ucap Hangeng dengan terbata-bata.

CEKLEK!

Hangeng menatap pada orang yang berdiri di sana. Dia menatap tak percaya.

"Maafkan aku..." gumam Heechul. Bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya yang memerah.

"Baguslah kalau kau tahu posisimu! Aku tidak akan mengulangi kata-kataku lagi!" katanya dengan ketus.

"Ibu!" kata Hangeng. "Aku tidak akan menuruti keinginanmu! Aku mencintainya! Kami berdua tidak akan pernah bercerai!" ucap Hangeng sambil menggenggam tangan Heechul erat.

"Kau…. Oh! Aigo! Leherku!" kata ibu Hangeng merasakan lehernya terasa sakit.

"Ibu?!" Kata Hangeng yang mengkhawatirkan keadaan ibunya. Melihat Hangeng yang begitu mengkhawatirkan ibunya Heechul terdiam dan mungkin dia tahu bahwa pernikahannya dan Hangeng tidak dapat dipertahankan.

"Ibu, tidak apa-apa?" tanya Heechul. Dengan cepat Nyonya Tan menepis tangan Heechul dan berdiri di sisi Hangeng.

"Ibu…. Heechul aku akan mengantarkan ibu pulang. Beristirahatlah!" kata Hangeng sambil mengecup kening Heechul. Tangan Heechul menyentuh jemari Hangeng yang tapi mengelus rambutnya.

"Hangeng!" panggil sang ibu.

"Aku akan segera kembali, beristirahatlah." Kata Hangeng. Mendengar perkataan dari suaminya tersebut Heechul hanya tersenyum. Dia kembali duduk di ranjang setelah melihat Hangeng menutup pintu kamarnya.

"Umma…." Isak Heechul tiba-tiba, entah kenapa dia merasa ingin segera kembali ke kampung halamannya. Dia merasakan kerinduan yang teramat mendalam. Entah berapa lama dia menunggu namun Hangeng tidak pernah datang mengunjunginya lagi hari itu.

Keesokan harinya, yang Heechul lakukan hanyalah berbaring. Dia merasa cukup lelah untuk beranjak dari tempat tidurnya. Pikiran tentang hal terburuk yang akan terjadi di masa yang akan datang. Apa yang akan terjadi nanti? Namun sebuah ketukan dipintu kamarnya,membawanya kembali kea lam nyata.

"Maaf, apa ini kamar Nyonya Heechul?" tanya seorang perawat. Heechul menatapnya penuh selidik.

"Iya, ada apa ya?" tanya Heechul.

"Maaf, tapi bisakah anda datang ke ruang anak-anak. Siwon ingin ditemani oleh anda," jelas si perawat.

"Ah, iya. Baiklah sebentar lagi aku kesana. Terima kasih." Kata Heechul. Dia teringat akan janjinya yang akan menemani Siwon yang akan membuka gipsnya hari ini. Baru saja suster itu keluar seseorang masuk ke dalam ruangan.

"Yeobo, kamu mau kemana?" tanyanya keheranan. Heechul berbalik dan mendapati suaminya sudah ada di dalam kamar tersebut.

"Aku akan menemani Siwonnie. Kau mau ikut?" tanya Heechul. Mendengar nama Siwon yang disebut oleh Heechul Hangeng pun berjalan kesisinya.

"Kau sangat perhatian sekali padanya?!" kata Hangeng dengan nada dingnin.

"Jangan cemburu," kata Heechul sambil tersenyum. "Kamu tidak tahu apa yang telah dialami oleh Siwon…." Perlahan Heechul menceritakan tentang masa lalu Siwon pada suaminya.

"Ya, aku mengerti kenapa kau begitu perhatian padanya tapi…. " Hangeng belum dapat mengatakan apa yang dia rasakan saat Heechul bersama dengan Siwon. "Aku tidak suka dengan kedekatan kalian berdua," kata Hangeng sambil memeluk istrinya. Heechul hanya tersenyum.

"Siwon hanya anak-anak sudahlah…." Gumam Heechul sambil berupaya menahan tawanya.

"….." Mendengarnya Hangeng terdiam.

"Siwonnie!" kata Heechul sambil mengetuk pintu kamar ruangan tempat Siwon di rawat. Terdengar suara langkah kaki ke arah pintu.

"Umma!" kata Siwon dengan mata yang memerah, dia langsung memeluk Heechul erat. Hangeng dan Heechul keheranan melihat apa yang terjadi.

"Ada apa Siwonnie?" tanya Heechul sambil membungkukkan badannya.

"….mer..mereka bilang umma dan appaku meninggal…" ucap Siwon terbata-bata. Dia belum sepenuhnya mengerti apa itu arti kata 'meninggal'. "Paman dokter bilang, aku sudah tidak bisa bertemu dengan umma-appaku…." Kata Siwon menceritakan kegalauan dihatinya.

"….." Heechul dan Hangeng saling menatap.

"Maaf, kami sudah tidak bisa menutupinya lagi," kata si perawat.

"Siwon, ayo sekarang duduk sini, paman mau membuka gips-mu," kata dokter tersebut tapi Siwon tetap memeluk erat Heechul. Heechul pun membungkuk dan memangku Siwon.

"Tidak mau! Aku mau Umma dan Appaku!" Teriak Siwon sambil memeluk Heechul erat.

"…" Hangeng dan Heechul saling berpandangan.

"Siwon, jika umma dan appamu tidak bisa menemanimu. Aku akan disini bersama denganmu jadi jangan takut, ne?" kata Heechul sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi Siwon.

"Tapi bibi bukan ummaku…." Kata Siwon masih dengan suara yang berat.

"Bibi mau kok, jadi ummamu. Kajja… Siwonnie anak umma yang baik hati duduk ne? dokter akan segera melepas gips mu!" kata Heechul sambil menundukkan Siwon di atas tempat tidurnya.

"Ne?" jawab Siwon. Dia pun duduk di atas ranjangnya dan dokter pun mengambil gunting untuk membuka perban dan gips di tangan Siwon.

Malam harinya di kamar Heechul. Heechul menatap Hangeng yang tampak kebingungan. Ada banyak pertanyaan yang ingin ditanyakannya pada suaminya tersebut. Namun akhirnya Hangeng pun angkat bicara.

"Heechul…. Umma…. Ingin agar kita …. Kita…. Be…..berpisah…." ucapnya lirih mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Sebulir air mata mengalir membasahi pipi Heechul.

"….." Heechul terdiam sejenak, "Lalu apa yang kau katakana pada ummamu?" tanya Heechul memberanikan diri.

"Aku…" Hangeng tidak dapat meneruskan kata-katanya.

"Jika alasannya adalah karena aku tidak bisa memberikan keturunan padamu maka aku akan …. Mengizinkanmu untuk menikahi perempuan lain…. Tapi…. Tapi ku…. Ku mohon jangan ceraikan aku….. " isak Heecul tak lagi bisa dibendung.

"Tidak! Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu! Aku sangat mencintaimu, itulah mengapa aku menikahimu, Tan Heechul. Aku sangat mencintaimu!" kata Hangeng sambil memeluk tubuh rapuh istrinya tersebut. Heechul memejamkan kedua matanya yang tak kuasa lagi membendung air mata yang terus menerus keluar.

"Ya, aku pun sangat mencintaimu, suamiku," kata Heechul sambil mempererat pelukannya.

Tok! Tok! Tok!

Terdengar suara ketukan pintu, Heechul menggerakkan badannya. Dia menemukan suaminya tertidur di sisinya dia melihat wajah suaminya yang tampan.

Tok! Tok! Tok!

Kembali terdengar suara ketukan pintu Hangeng yang merasa terusik segera membuka kedua matanya.

"Pengganggu!" gerutunya. Heechul hanya tersenyum melihat tingkah suaminya tersebut. Hangeng berjalan kearah pintu dan kemudian membukakan pintu tersebut. Disana telah berdiri seorang Choi Siwon yang berpakaian rapi dan menggenggam sebuah bunga kecil yang entah dia peroleh dari mana.

"Selamat pagi, Tuan Tan!" sapa Siwon sambil membungkukkan badannya sopan.

"Selamat pagi, Siwon" kata Hangeng menjawab salam dari Siwon. Siwon menatap Heechu l yang masih berbaring di tempat tidurnya.

"Selamat pagi, umma!" ucap Siwon dengan sedikit ragu.

"Selamat pagi, Wonnie!" jawab Heechul sambil tersenyum. Mendengar suara merdu Heechul tanpa ragu Siwon berlari ke arah Heechul.

"Umma!" panggil Siwon dengan riangnya.

"Ne!" jawab Heechul sambil melambaikan tangannnya meminta Siwon untuk mendekat.

"Huff…" Hangeng menghampiri keduanya.

"Umma! Apa sakit umma sudah sembuh?" tanya Siwon.

"Belum, tapi sebentar lagi juga sembuh jadi kamu tidak usah khawatir ne," kata Heechul menjelaskannya dengan singkat. Hangeng hanya melihat keduanya.

"Umma?" kata Siwon tertunduk malu.

"Ada apa Wonnie?" tanya Heechul keheranan.

"Umma harus sembuh dan jangan sakit lagi…." Kata Siwon, dia terdiam sejenak kemudian memeluk Heechul erat. "Saranghae….. saranghae umma….." kata Siwon sambil mempererat pelukannya.

Heechul merasa hatinya berdegup kencang. Apa yang dilakukan Siwon padanya. Sedangkan Hangeng hanya bisa berdiam tidak memahami apa yang terjadi.

"Ada apa Siwonnie?" tanya Heechul. Siwon melepaskan pelukannya.

"Ani," jawab Siwon dia melihat jam yang menempel di dinding kamar Heechul.

"Ajushi, jaga ummaku baik-baik ne?" kata Siwon sambil menatap Hangeng. Mendengarnya memanggil Heechul dengan sebutan umma membuatnya tertawa.

"Aish! Tak perlu kau ingatkan pun aku sangat mencintainya," kata Hangeng malu-malu.

"Hehehe…" Siwon tersenyum. Dia bangkit dan turun dari ranjang Heechul.

Cup!

"Sarangheyo…." ucap Siwon lirih sambil mengecup pipi kanan Heechul sontak perbuatannya tersebut membuat Heechul dan Hangeng terdiam.

"Selamat tinggal!" kata Siwon sambil berlari meninggalakan ruangan tersebut.

"Sampai jumpa lagi, Siwonnie," kata Heechul sambil melambaikan tangannya.

"Dasar! Anak itu! Awas saja akan ku pukul dia!" kata Hangeng.

"Memang kenapa?" tanya Heechul keheranan.

"Tak seorang pun boleh memcium pipimu, Rella. Hanya aku yang dapat melakukannya." Kata Hangeng. Mendengar perkataan tersebut Heechul tertawa.

"Kau cemburu pada Siwonnie! Ayolah! Dia itu hanya anak kecil Han!" kata Heechul. Hangeng menatap Heechul sudah lama dia tidak melihatnya tertawa seperti itu. Dia memeluk erat tubuh Heechul

"Kenapa?" tanya Heechul heran.

"Sudah lama sekali aku tidak melihatmu tersenyum seperti tadi….. Yeobo, aku…. Bagaimana…. Bagaimana klo kita mengadopsi Siwon?" kata Hangeng pada Heechul.

JRENG! Chapter 1 :)

Miss You ChulPa