C12H22O11©peachpeach

[Chemical React's Side Story]

.

2nd : Antihistamine

(Park Jimin x Min Yoongi)

.

All cast belongs to God, themselves, family and management. Story line is mine. No profit taken.

.

.

"Kau tahu ? Aku selalu suka mengamati wajahmu yang sedang tidur, dengan atau tanpa pengaruh antihistamin. Karena wajahmu damai sekali saat tidur, tanpa ego besar yang membuatku ingin mundur perlahan, meski tak ingin."—Park Jimin.

.

.

Jadwal asistensi Jimin untuk mata kuliah Biokimia adalah hari Kamis, pukul tujuh pagi. Biasanya, Jimin akan sibuk menulis di atas white board, membubuhkan paraf di lembar keaktifan, atau mengoreksi modul praktikum. Tapi, pada hari Kamis pagi di pertengahan musim panas, Jimin masih meringkuk nyaman di atas kasur Hoseok. Hoseok sedang pulang ke Gwangju, sepupunya menikah dan Ibunya memintanya untuk menjadi bride's man. Kasurnya yang otomatis kosong digunakan Jimin. Semalam, Jimin dan Taehyung lembur untuk mengerjakan tugas Kimia Medisinal I, Teknologi Obat Herbal Korea, dan setumpuk koreksi kuis kelas asistensi mereka yang dikumpulkan paling lambat besok sore. Mereka baru selesai saat jam kecil di atas meja belajar Taehyung menunjukkan pukul dua dini hari. Alarm yang diatur oleh Taehyung sesaat sebelum tidur, sama sekali tidak mengganggu keduanya.

"Ya, kalian libur atau bagaimana ?" teguran Namjoon yang baru saja masuk ke kamar keduanya juga terdengar seperti angin lalu. Namjoon berdecak, kemudian menarik cepat selimut Jimin dan Taehyung secara bersamaan.

"Aish ! Jam berapa ini ?" Jimin bertanya dengan separuh kesadarannya saat selimutnya di tarik paksa oleh Namjoon. Sedangkan Taehyung sama sekali tidak bergerak di atas tempat tidurnya.

"Delapan lewat lima puluh menit, Park Jimin."

"Oh, kukira—HAH ?! Serius hyung ?! Sial !" Jimin melompat cepat dari tempat tidur, melempar guling yang semalaman ia peluk secara serampangan, peduli setan Hoseok nanti marah gara-gara tempat tidurnya berantakan. Yang jelas, Jimin sudah terlambat lebih dari satu jam untuk jadwal asistensi Biokimia. Namjoon hanya menggeleng saat Jimin melewatinya untuk pergi ke kamar mandi, lengkap dengan satu set pakaian ganti milik Taehyung dari dalam lemari.

"Dasar, semalam mereka tidur jam berapa sebenarnya ? Ya, Taehyung-ah…kau tidak kuliah ?" Namjoon mematikan alarm, kemudian menggoyang pelan bahu Taehyung, mencoba membuat pemuda yang lebih muda itu bagun.

"Hmm, Jeon Jungkook—" tapi nyatanya Taehyung hanya menyebut nama Jungkook dalam tidurnya, sama sekali tidak berniat untuk bagun pagi ini.

"Resikomu jika kau terlambat kuliah !"

C12H22O11©peachpeach

[Chemical React's Side Story]

Jimin sampai di gedung fakultasnya saat jam tangannya menunjukkan pukul 9.45 dengan napas terengah karena berlari dari tempat parkir. Ia memilih duduk di gazebo dekat laboratorium setelah menyempatkan diri melihat kondisi kelas yang seharusnya ia tangani pagi ini. Ada Taeyong yang menggantikan jadwalnya, memberinya kode supaya pergi diam-diam dari laboratorium, dan bebas dari ceramah panjang Profesor Kim karena keterlambatannya. Jimin juga sempat melirik Yoongi lewat jendela, Yoongi terlihat sedang serius mencatat penjelasan Taeyong di atas binder kecilnya dan tidak menyadari sedang diamati. Di tangannya sekarang ada sekaleng kopi instan dingin, dan ponselnya baru saja berdenting menampilkan notifikasi pesan dari Taehyung yang marah-marah jaket Supreme-nya Jimin pakai hari ini. Ia mengabaikan pesan Taehyung sepenuhnya, kemudian menghela napas pelan. Ia merasa kepalanya pusing karena kurang tidur, belum lagi pagi tadi ia bangun dengan adrenaline yang terpacu cepat gara-gara Namjoon membangunkannya. Jimin merasa ia perlu aspirin pagi ini.

Aplikasi pengirim pesan pada ponsel Jimin sedang menampilkan riwayat pesannya dengan Yoongi. Terakhir kali, hanya balasan singkat 'iya' dari Yoongi saat Jimin mengatakan akan menginap di tempat Taehyung untuk mengerjakan tugas. Ucapan selamat tidur darinya belum dibaca. Setelah kejadian beberapa waktu lalu di café dekat stasiun, Jimin resmi menyandang status kekasih Yoongi. Tapi, hubungan mereka kelewat damai dengan Jimin yang selalu mengalah atau Yoongi yang malas sekali adu argumentasi. Kadang Jimin iri dengan Taehyung dan Jungkook. Mereka terlihat bisa mengimbangi satu sama lain. Jimin juga iri dengan hubungan Namjoon dan Seokjin yang sudah punya tujuan akhir yang jelas, yaitu menikah dan hidup bahagia selamanya—persis seperti cerita serial Disney favorit Seokjin. Hubungannya dengan Yoongi ? Masih stagnan, tidak ada perkembangan berarti. Yoongi bahkan masih melarang Jimin untuk menemui Ayahnya dan memperkenalkan diri.

Jimin menghela napas sekali lagi, sepertinya selain aspirin, ia perlu cokelat juga untuk hari ini. Suasana hatinya benar-benar kacau. Kelasnya baru akan mulai pukul dua belas siang, jadi Jimin memutuskan untuk menunggu daripada harus kembali ke rumah sewa Taehyung. Ditariknya earphone dari dalam tasnya, menyambungkannya dengan ponsel dan berniat membunuh waktu dengan koleksi lagu miliknya. Mungkin, tidur sebentar di gazebo tidak masalah.

"Jimin…" Jimin menggerung pelan saat seseorang memanggil namanya, ia mengangkat kepalanya, mengerjap sebentar, kemudian melihat jam digital pada ponselnya dan menunjukkan pukul sebelas lewat sepuluh menit. Jimin melepas earphone-nya dan mendapati Taeyong sedang berdiri di depannya dengan setumpuk laporan mingguan.

"Oh, Taeyong, kelasnya sudah selesai ?" Taeyong mengangguk ringan, kemudian menyerahkan setumpuk laporan kepada Jimin dan satu bento box, "Ini tugas yang harus kau koreksi untuk minggu depan, aku bilang pada Profesor Kim jika kau sedang flu dan tidak bisa masuk tadi. Mhm, dan bento box ini titipan dari Yoongi-sunbae."

Jimin mengernyitkan dahinya dan memandang Taeyong dengan penuh tanya, "Yoongi ?"

"Iya, tadi setelah semua mahasiswa keluar, ia menghampiriku untuk meminta tolong memberikannya padamu. Tapi sepertinya sunbae sedang buru-buru."

"Terima kasih sudah menggantikan jadwalku, Taeyong-ah." Taeyong mengulum senyum singkat dan mengangguk, "Tidak masalah, ya sudah…aku duluan, Jim. Jaehyun sudah menungguku." Jimin mengangguk singkat, mengikuti langkah Taeyong lewat matanya, dan langsung mengamati bento box dari Yoongi begitu Taeyong dan Jaehyun sudah tidak terlihat. Hanya bento box biasa berwarna cokelat, tanpa pesan manis yang ditulis pada sticky note berwarna seperti kebiasaan Seokjin, tapi itu saja mampu menerbitkan senyum cerah di wajah Jimin meskipun kepalanya pusing. Senyum Jimin semakin cerah saat mendapati nasi putih dengan unagi panggang dan taburan wijen, bento box kiriman Yoongi jelas lebih dari cukup untuk menggantikan energinya yang hilang hari ini. Jimin cepat-cepat meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Yoongi.

To : sugar snowflake

11.15 a.m

Nanti selesai kuliah seperti biasa kan ?

Mau kubawakan sesuatu ke apartemen ?

Terima kasih bentonya~ ^^

Love ya, sugar~

[Park_Jimin sent a sticker]

Jimin paham betul jika Yoongi akan kesal dengan isi pesannya yang so-damn-chessy dengan stiker norak yang bergerak, tapi Jimin juga paling paham jika ada semburat manis merah muda di pipi Yoongi saat membaca pesannya meskipun menggerutu kesal dan membiarkan pesannya tidak dibalas.

C12H22O11©peachpeach

[Chemical React's Side Story]

Satu oreo cheese cake ukuran sedang dengan bonus latte hangat, menemani Jimin untuk berkunjung ke apartemen Yoongi saat kelas terakhirnya selesai. Apartemen Yoongi bukan apartemen mewah seperti pada kawasan sky-suite di Gangnam, jadi Jimin tidak perlu memasukkan kode keamanan pintu. Apartemen Yoongi di kunci manual, biasanya Yoongi meletakkan kunci di bawah pot bunga snowdrop dan hanya Jimin yang ia beritahu tempatnya. Bunyi 'klik' pelan terdengar saat Jimin memutar kunci dan masuk ke dalam apartemen. Lampu koridor apartemen Yoongi menyala otomatis seperti biasa saat Jimin datang pada pukul empat sore. Tapi, kondisi apartemen Yoongi benar-benar sepi dan gelap.

"Yoongi-hyung ? Sugar ?" Jimin melepas sepatunya dengan sebelah tangan dan meletakkannya di rak sepatu, berjejer rapi dengan converse merah milik Yoongi.

"Yoongi-hyung ?" masih tidak ada jawaban Yoongi saat Jimin melangkah masuk lebih jauh dan meraba dinding untuk mencari saklar lampu. Saat lampu berhasil dinyalakan, ia mendapati Yoongi tengah bergelung nyaman dengan selimut tebal yang membungkus tubuh mungilnya di atas sofa. Jimin menghela napas lega sejenak, bersyukur karena Yoongi baik-baik saja, sampai kemudian ia mendadak menggigil saat sampai di ruang tengah dan menyadari bahwa pendingin udara diatur pada titik terendah.

"Kenapa bisa tidur disini ?" Jimin berbisik sepelan mungkin agar tidak mengganggu tidur nyenyak Yoongi, ia juga sudah mengatur suhu pendingin ruangan supaya lebih wajar. Cheese cake dan latte hangat yang dibawanya di letakkan di atas meja, berdampingan dengan cup ramyun instan pedas yang sudah kosong, gelas air yang sudah kosong, dan satu blister kemasan obat yang sudah berkurang satu isinya.

"Antihistamin ?" Selimut Yoongi ditarik perlahan saat Jimin duduk di lantai untuk mengamatinya lebih dekat. Yoongi mengenakan hoodie berwarna kuning di balik selimut tebal untuk membungkus tubuhnya. Jemari hangat Jimin menyapu kening Yoongi dengan lembut, menyingkirkan helaian raven Yoongi dan membandingkan suhu tubuh Yoongi dengan suhu tubuhnya sendiri. Suhu tubuh Yoongi sedikit lebih hangat, dan Jimin mendapati wajah putih kekasihnya memerah serta timbul ruam pada kulitnya.

"Alergi seafood lagi pasti," Yoongi menyukai segala jenis makanan dari laut, mulai dari sushi sampai sashimi. Ada kalanya Yoongi alergi terhadap beberapa jenis ikan yang digunakan, tapi hal tersebut sama sekali tidak mengurangi kegemarannya terhadap seafood. Jemari Jimin kini beralih mengisi ruang jemari Yoongi yang lolos dari lilitan selimut. Ibu jarinya bahkan membuat pola melingkar yang menenangkan untuk membawa Yoongi semakin dalam mengarungi mimpi.

"Kau tahu ? Aku selalu suka mengamati wajahmu yang sedang tidur, dengan atau tanpa pengaruh antihistamin. Karena wajahmu damai sekali saat tidur, tanpa ego besar yang membuatku ingin mundur perlahan, meski tak ingin." Senyum tipis terlukis pada bilah apel Jimin sebelum mendaratkan kecupan sehalus kepakan sayap kupu-kupu pada punggung tangan Yoongi. Posisi selimut Yoongi kembali diatur sampai leher, dan Jimin merebahkan kepalanya pada pinggiran sofa. Menemani Yoongi tidur mungkin ide yang baik, mengingat jam tidurnya benar-benar kacau hari ini. Sebelum kelopak matanya terpejam, Jimin sempat berdoa dalam hati supaya bertemu Yoongi dalam mimpi.

C12H22O11©peachpeach

[Chemical React's Side Story]

Yoongi tidak tahu jam berapa ia terbangun dari tidur nyenyaknya akibat dari efek samping obat yang diminumnya sebelum tidur tadi. Ia mengerjap pelan saat sinar lampu di atasnya menyakiti penglihatannya begitu ia bangun. Selang beberapa menit, Yoongi bahkan baru sadar jika Jimin menggenggam erat tangannya dan tidur dengan deru napas teratur yang damai. Yoongi mengulas segaris senyum tipis, kemudian mengubah posisinya menjadi duduk dengan gerakan sepelan mungkin agar Jimin tidak terbangun. Jemari Yoongi yang bebas menyugar lembut helaian sewarna raven yang sama dengan miliknya. Yoongi sebenarnya menyukai Jimin dengan helaian ash grey—ia pernah melihat Jimin mengubah warna rambutnya sementara untuk kepentingan festival seni—tapi, peraturan fakultasnya melarang mahasiswanya mewarnai rambut mereka.

Telunjuk Yoongi kemudian turun, membelai pelan lingkaran hitam di bawah mata Jimin dan menggumam pelan, "Pasti dia kurang tidur, atau bahkan jarang tidur." Yoongi beralih menyusuri kontur hidung Jimin, dan berakhir membelai pelan jawline Jimin. Yoongi dengan cepat menarik kembali tangannya saat Jimin bergerak pelan, dan terbangun.

"Hei…" Jimin menyapa dengan suara seraknya, kemudian mengecup singkat punggung tangan Yoongi yang masih berada dalam genggamannya. Yoongi mengalihkan pandangannya ke samping saat Jimin meraih wajahnya.

"Sudah lebih baik ? Mau kuambilkan minum ?" Jimin mengamati wajah Yoongi, melihat jika ruam kemerahannya sudah lumayan berkurang, kemudian ia mengelus pelan pipi putih Yoongi, dan beranjak untuk bangun dari posisi duduknya.

"Jimin—" satu tarikan pada ujung jaket milik Taehyung membuat langkah Jimin terhenti dan mengalihkan seluruh atensinya pada Yoongi.

"Duduk saja disini, aku tidak butuh air minum sekarang. Aku masih mengantuk," Yoongi menggeser tubuhnya dan menyisakan ruang yang cukup untuk Jimin duduk berdampingan dengannya di atas sofa yang sudah sesak karena selimut tebalnya. Jimin tersenyum, memilih menuruti Yoongi. Satu lengan Jimin melingkar apik pada pinggang ramping Yoongi yang dengan tenang menyandarkan kepalanya pada pundak Jimin.

"Aku bawa cheese cake dari bakery kesukaanmu, mau dimakan ?" gelengan Yoongi membuat Jimin menghela napas pelan. Yoongi yang sedang sakit begini, terkadang menjadi sulit sekali untuk makan.

Jimin memilih menggumamkan nada-nada acak yang menenangkan Yoongi, sekaligus mengisi waktu mereka. Satu tangannya yang bebas kembali menggenggam tangan Yoongi dengan hangat. Yoongi juga tidak protes, ia menikmati waktu berkualitasnya dengan Jimin dengan cara sesederhana ini. Padahal, selama Jimin menjalani hubungan dengan Yoongi, ia sadar betul jika kekasihnya itu membatasi diri soal skinship berlebihan.

"Jim…"

"Hm ?"

Yoongi menggigit bibirnya pelan, "Ayahku kemarin kemari bersama Ibu," nada-nada acak Jimin terhenti, ia menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan kata selanjutnya yang akan diucapkan Yoongi.

"Lalu ? Apa sesuatu terjadi ?" Rengkuhan di pinggang Yoongi dilepas, dan Jimin membuat posisi Yoongi supaya berhadapan dengannya.

"Tidak, pada awalnya—" Yoongi menunduk, menghindari kontak dengan iris sewarna hazelnut milik Jimin, "—aku dan Ibu sedang menyiapkan makan malam, sampai Ayah menemukan foto kita saat kencan pertama dan meminta penjelasan dariku." Hening menguasai atmosfer di sekitar mereka selama beberapa detik. Mereka membiarkan bunyi detak jantung masing-masing mengisi keheningan yang mereka ciptakan.

"Aku—aku jujur pada Ayah jika kau kekasihku, dan hubungan kita serius." Yoongi menghela napa pelan sebelum melanjutkan, "Kau pasti bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya kan ?" Jimin bungkam saat melihat Yoongi memaksakan sebuah senyuman.

"Ayah marah besar, mengatakan jika aku anak yang tidak berguna," jeda sejenak, Yoongi memundurkan tubuhnya sedikit, menggulung lengan hoodie-nya sampai lengan atasnya terlihat dan membuat Jimin terkejut bukan main.

"Ayahmu yang melakukan ini ?!" suara Jimin otomatis meninggi beberapa oktaf saat mendapati lengan Yoongi memar parah.

"Ibu dengan cepat memhentikan Ayah, jadi ini tidak seberapa."

"Tidak seberapa katamu ?! Tapi, Yoongi—" ucapan Jimin harus tertahan di kerongkongannya saat bilah plum Yoongi membentur lembut bilah apel Jimin. Jimin bisa merasakan setiap emosi dan rasa putus asa dalam setiap sesapan Yoongi pada bilah apelnya. Yoongi mungkin takut, khawatir, dan merasa perlu perlindungan. Maka, Jimin dengan tenang merengkuh dan membawa tubuh Yoongi dalam dekapannya yang menjanjikan rasa aman.

"Kau sudah berjanji akan menghadapinya bersama denganku," Yoongi menagih janji Jimin dengan suara bergetar dan napas terengah saat tautan mereka terlepas.

"Ya, aku akan menemui Ayahmu secepatnya, Sugar…" jemari Jimin mengusap lembut pelipis Yoongi.

"Awalnya, ku pikir aku membutuhkanmu hanya di saat-saat tertentu," Yoongi menyandarkan kepalanya pada dada Jimin, "—sama seperti saat aku butuh antihistamin untuk mengatasi alergiku. Tapi nyatanya, aku membutuhkanmu lebih dari apapun. Sekarang, besok, minggu depan, bahkan selama hidupku. Jadi jangan pernah pergi, jangan pernah menyerah padaku. Karena aku, sudah terlanjur membutuhkanmu lebih dalam daripada efek sedatif antihistamin."

Punggung Yoongi ditepuk pelan sekali, "Jika ingin menyerah, sudah ku lakukan dari dulu. Tapi nyatanya, aku memilih untuk tetap disampingmu selama bertahun-tahun. Aku sudah berjanji untuk menemanimu, membantumu dalam setiap kesulitan. Dan pantang bagi seorang pria untuk melanggar janjinya." Jimin mengecup puncak kepala Yoongi berkali-kali, membuat perasaan Yoongi nyaman.

"Terima kasih, Jimin-ah."

Terima kasih karena sudah begitu sabar.

Terima kasih karena sudah bertahan dengan egoku.

Terima kasih karena sudah memilihku.

"Hari Sabtu, kita akan ke Daegu. Menemui kedua orang tuamu, dan membuktikan bagaimana seorang Park Jimin dapat berkomitmen menjaga Min Yoongi."

*FIN*

a/n : halo, selamat hari Minggu ^^

Update yah ini, meski cuma 2k+

Oh iya, makasih banget buat semua review :

HelloItsAYP │ 07 │Strawbwierry │ wulancho95 │ imaaaa │ bunnymonster │ Phyllantus │Aproditesweetie │RR269 │MeiLianGouw │ Pardon-MinHolly │ rosadilla17 │ Guest │ gneiss02 │ Squishy Carrot │ siscaMinstalove │hlyeyenpls │ Gypsophila │ ravoletta │ TaeKuki │ ParkBaekyhun │ dhankim │ favourites/followers.

Btw, aku balesin satu-satu review kalian lewat aplikasi kok kayanya ga masuk yah ? TT Nanti ku bales lagi lewat PC ^^ Oh ya, yang belum tau jawaban apa yang dikirim Jungkook buat Taehyung, bisa kok liat di instagram aku : ljnh_peach2 :3 kadang aku post beberapa spoiler atau moodboard, hehehe XD

Review ?