Dalam ruangan kamar di sebuah apartemen megah, terdengar desahan dan erangan yang menggema dalam kegelapan. Lampu digantikan sinar rembulan yang tipis menembus masuk melalui tirai yang menutupi jendela.
Suara desahan yang diiringi suara benda basah lengket bergesekan. Suara benda cair dan lengket terdengar bagai melodi lagu yang mengalun, mengiringi aktivitas seorang vokalis band ASK dengan kekasihnya, seorang remaja berusia enam belas tahun.
Usia dua puluh dua tahun dengan enam belas tahun… jarak yang cukup jauh, namun banyak yang tak mempermasalahkannya jika cinta sudah melebur.
Remaja berambut hitam gelap yang sedang berusaha menahan sakit pada tubuh bagian bawahnya kini nyaris tak sadarkan diri lagi tubuhnya terguncang-guncang. Cairan deras membanjiri pahanya yang mulus, sementara alat kelamin Taki masih menancap di lubang Tatsuha. Tangan Taki memeluk erat tubuh ramping Tatsuha yang menghadap padanya. Ia mencium, menjilat, dan sedikit menggigit leher Tatsuha berkali-kali. Erangan sang remaja membuatnya birahi tinggi. Perlahan Taki membaringkan tubuh Tatsuha di tempat tidur. Kini tangannya memainkan puting Tatsuha, meraba-raba dada sang remaja yang sudah mengeras tersebut.
"Nnnh… Ah!"
"Sssh… apa aku menyakitimu…?"
Seorang remaja berusia enam belas tahun tak mengenakan sehelai pun baju di tubuhnya, berbaring sambil menggenggam erat sprei tempat tidur yang telah basah karena keringat dan cairan lain yang keluar dari penisnya "Ngh…! Ah… a, aku… oh…!"
Kekasihnya yang berselisih enam tahun lebih tua darinya kini memeluk pinggang sang remaja yang telah dibanjiri cairan yang mengalir melalui lubang pantatnya. Tangan sang pria menggenggam sembari mengelus penis sang remaja. Elusan yang semakin cepat membuat cairan putih semakin banyak keluar dan membasahi tubuh sang remaja sendiri. Ia merelakan tubuhnya disentuh, digerayangi, dicium, dijilati, bahkan digigit oleh pacarnya sendiri. Tubuhnya memanas nyaris kehilangan tenaga.
"Hnnn…! A, ahh…! Ta, Tacchi…!"
Senyuman penuh nafsu menghias wajah sang pria yang lebih tua enam tahun dari sang remaja.
"Ta, Tacchi… Ahn…!" desahan dan rengekan sang remaja memanggil-manggil nama kekasihnya menggema dalam ruangan gelap kamar seorang vokalis dari grup ASK.
"Tatsuha… kau sangat… Ahhh… manis…", Aizawa Taki, alias Tacchi, memainkan penis Tatsuha hingga menegang dan mengeluarkan cairan berkali-kali. Seringai Taki menandakan dirinya yang sangat bergairah melihat tubuh kekasihnya telanjang bulat yang licin karena basah keringat tercampur cairan putih dirinya sendiri. Tatsuha semakin keras mengerang ketika Taki mengangkat kedua kaki sang remaja dan memasukkan jemarinya ke dalam lubang bagian bawahnya. Ia menggerak-gerakkan jemarinya membuat Tatsuha mendesah dan mengerang berkali-kali.
"Aaaaahhh! Aaaahnnnnn! Ta, Tacchiiii…! Oooh!"
Cairan semakin mengalir membanjiri kaki Tatsuha. Cowok itu tak berani melihat tubuh bugilnya sendiri yang kini digerayangi Taki sambil menjilat-jilati sekujur tubuh Tatsuha hingga sampai ke dada. Senyuman kembali menghias wajah Taki. Tanpa ampun ia mengulum dan menghisap-hisap puting Tatsuha yang telah mengeras.
"A, aaahn! Ta, Tacchi! Oh! Ahh! Nggg…!" Tatsuha bersumpah ia merasa seperti seorang gadis yang sedang diambil keperawanannya. Namun tak ia pungkiri, ia sangat menikmati tubuh Taki yang menghimpit tubuhnya, ketika keduanya bergesekan dan merasakan kulit masing-masing bersentuhan, permainan lidah dan ketika Taki menghisap-hisap puting dirinya bagai bayi yang menginginkan susu ibunya. Tatsuha bagai merasakan ada aliran susu yang keluar dari putingnya.
Serta merta ia memeluk kepala Taki yang masih menggigit-gigit kecil 'buah kecoklatan' nikmat milik Tatsuha. "Mmmh… Aaah, aku ingin sekali menghisap dadamu hingga mengeluarkan susu… pasti rasanya segar sekali…" Taki mulai menghisap-hisap dan memainkan puting Tatsuha dalam mulutnya. Lidahnya begitu terampil hingga membuat remaja itu tak henti-hentinya mengeluarkan erangan birahi dari mulutnya.
"A, aku bukan perempua… aaahnnn…!" Tatsuha tak sanggup lagi menahan setruman-setruman nikmat.
Suara-suara basah dan berlendir terdengar begitu menggoda.
Taki mengangkat tubuh Tatsuha yang terbaring lemas dan membuatnya terduduk di pangkuan tubuhnya. Ia mulai memasukkan penis miliknya lebih dalam lagi pada lubang Tatsuha.
Tatsuha merasakan sakit dan nikmat yang luar biasa secara bersamaan. Desahannya semakin keras, erangannya berubah menjadi sebuah teriakan, memanggil-manggil nama kekasihnya. Terutama ketika Taki kembali memompa dalam tubuhnya.
Tatsuha memekik ketika penis Taki tepat mengenai titik kenikmatan dalam diri sang remaja.
"Ta, Tacchi! A, AH! AAAAHNGGG!" Tatsuha merasa semakin tak sadarkan diri seiring gesekan dalam tubuhnya semakin cepat dan dalam. Taki menarik-narik tubuh Tatsuha sembari meraba-raba. Pada puncaknya, Tatsuha hampir kehabisan napas dan tak sadarkan diri, merasakan cairan Taki mengalir dalam tubuhnya.
"Ta, Tacchiii… Ah… nnn…" tubuh Tatsuha terkulai lemas dalam pelukan kekasihnya. Taki menidurkan tubuh Tatsuha penuh hati-hati. Ia kembali menjilati dan menghisap-hisap puting Tatsuha dan memainkannya dalam mulut.
Tatsuha yang setengah sadar hanya bisa mengerang. Tapi tubuhnya kembali menegang ketika Taki mendekatkan wajahnya pada penis milik Tatsuha dan menjilatinya. Tak butuh waktu lama Taki memasukkannya ke dalam mulut dan membuat Tatsuha kembali mengerang keras.
Tatsuha sudah tak sadarkan diri tak dapat menghitung berapa kali mereka telah melakukan itu sejak kepulangan Taki semalam dari pekerjaannya…
Malam yang dingin itu terasa begitu panas di dalam kamar apartemen Taki. Kini Tatsuha tidur dengan nyenyak dalam pelukan sang vokalis. Sementara Taki tersenyum kecil melihat wajah Tatsuha yang damai tertidur. Sungguh ia bagai obat yang membuat Taki ketagihan. Tak puas-puasnya pria itu mencium mata, bibir, pipi, dahi, rambut, dan tubuh Tatsuha.
Pagi datang perlahan. Sinar mentari menerangi apartemen Taki dari balik tirai. Tatsuha terbangun karena sinarnya yang semakin terang dari balik tirai. Ia membuka matanya perlahan, berusaha menghalau sinar matahari yang membuat silau. Sembari perlahan Tatsuha mulai terbangun lebar, perlahan wangi parfum pria tercium lembut. Tatsuha mendapati Taki tengah mengenakan jasnya di depan lemari baju yang berkaca lebar, bersiap untuk berangkat menuju studio , perusahaan rekaman milik kakak iparnya.
"Tacchi…? Kau mau berangkat…?" Tatsuha mengucek matanya yang masih sedikit mengantuk dan mengeratkan selimut yang menutupi tubuhnya sambil duduk tetap di posisinya. Taki berbalik melihat pemandangan indah di pagi hari dari tempat tidurnya itu. "Ya…" ia mendekatkan wajahnya pada wajah Tatsuha, memaksa sang remaja kembali berbaring dengan mendorong dirinya melalui bibir mereka yang bersentuhan.
"A, ah… mmmnn…" Tatsuha hampir tak percaya. Taki begitu sangat menginginkan melakukan seks lagi. Ia nyaris melepas jas-nya kembali jika handphone-nya tak berbunyi.
Taki menghela napas kesal sambil menjawab panggilan tersebut. Dan tentu saja ia mengeluarkan nada-nada kesal dalam percakapannya dengan Ma dan Ken melalui handphone-nya.
"Iya… iya… aku baru mau berangkat… Awas kalau kalian sendiri juga terlambat…"
Tatsuha yang masih terbaring di bawah Taki hanya bisa memandangi sang pria dengan polos, ada rasa khawatir kalau-kalau tiba-tiba Taki menerjangnya lagi.
Belum cukupkah semalam?
Tapi Taki hanya memeluk dan mencium bibir Tatsuha sambil berpamitan. Tangan Taki usil meraba serta mencubit pantat Tatsuha membuat remaja itu sedikit terkejut dan merona. Kemudian Taki berdiri dan membetulkan pakaiannya dengan senyum di wajahnya.
"Aku berangkat…"
Tatsuha menghela napas sambil mengeratkan selimutnya kembali hingga menutupi mulutnya.
"hati-hati, Tacchi…"
Taki hampir tak bisa melepaskan pandangannya dari Tatsuha yang memandangnya polos. Sementara sang remaja berpikir kenapa Taki belum juga bergerak dari posisinya. Ia terlihat tak begitu sehat, seperti berusaha menahan emosi. Tatsuha semakin khawatir.
Ia mendekati Taki dan menyentuh pipi sang vokalis "Ta, Tacchi…? Kau baik-baik saja…?"
Tatsuha tak tahu apa yang terjadi, tapi ia tak bisa berkata apa-apa begitu Taki menggerutu sambil mendorong tubuhnya kembali ke tempat tidur dengan kasar. Terlebih ketika Taki membuka jas, kemeja, hingga celananya.
"Ta, Tacchi?"
"Kau… kau benar-benar membuatku ketagihan, Tatchan…"
Selanjutnya, Tatsuha mendapati dirinya tak sadarkan diri lagi berbaring di tempat tidur dengan cairan yang mengalir di bagian vital dan di wajahnya. Tubuhnya dipenuhi keringat dan memanas. Napasnya terengah-engah berusaha mengontrol kondisi tubuhnya yang terbaring lemah.
Taki keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaiannya kembali. Ia mengelus wajah Tatsuha yang merona merah kelelahan.
"Aku akan pulang cepat… tunggu aku, Tatchan…"
Ciuman begitu dalam hingga meninggalkan tali saliva antara dua bibir menjadi salam perpisahan pagi hari itu. Taki tersenyum melihat Tatsuha mengangguk kecil menjawabnya.
Tatsuha menyadari arti senyum Taki sebelum ia menutup pintu kamar… bahwa malam nanti akan ada ronde yang lain.
