The truth about forever

-Chapter 2. First and Last dinner-

.

.

.

.

"Hah? Ada yang menginap di kamar sebelahmu?"
Kyungsoo, teman kuliah Luhan menatapnya heran.

Mereka sedang berada di kantin Chung-Ang University yang ramai dengan siswa yang sedang asyik sarapan sambil bercengkrama.

Luhan mengangguk menjawab pertanyaan Kyungsoo.

"Pria aneh yang berasal dari Mars." Jawab Luhan sambil menyuapkan makanannya ke mulut.

"Hah? Dari Mars?" Tanya Kyungsoo bingung.

"Dia sendiri yang mengatakannya. Memang dia mirip Alien."

Luhan berkata dengan mulut penuh makanannya.

"Tapi, bukankah menyenangkan memiliki tetangga seorang laki-laki yang menginap di sebelah kamar mu. Hei, dia tampan tidak?"

Kyungsoo terus bertanya membuat Luhan menatapnya sebal.

"Kyungso-ah intinya adalah… Dia PRIA,dan itu artinya aku tidak lagi memiliki privacy!" Sahut Luhan.

"Aku tahu tapi, dia tampan tidak?" Lanjut Kyungsoo yang masih penasaran.

"Aiish… jelas-jelas kau tidak mengerti ucapanku." Kata Luhan sebal.

"Tampan, memang tampan." Lanjut Luhan namun sudah terpotong karna Kyungsoo tiba-tiba histeris.

"Tampan kan? benarkah? Kyaaa~ kenalkan pada ku."

Luhan mengernyitkan dahinya.

"Kyungsoo ~ sepertinya kau harus belajar membiarkan seseorang menyelesaikan kalimatnya. Tadi aku bilang tampan tapi tetap saja dia itu alien!."

"Tidak masalah jika dia alien ,yang penting dia tampan." Balas Kyungsoo yang sudah tenggelam dalam imajinasinya.

"Cih, dasar." Luhan ber-decih sebal.

"Aku sudah malas dengan wajah sombong dan sok misteriusnya itu."

"Pria misterius itu justru lebih menarik kan?" kata Kyungsoo.

"Mereka seolah mempunyai aura untuk menarik perhatian para wanita. Yah,semacam kekuatan maghnet."

Luhan yang mendengarnya menatap jijik pada temannya yang satu itu, tetapi dalam hati mengiyakan kata-katanya. Sehun sepertinya memang mempunyai aura yang seperti di katakan Kyungsoo.

Rambutnya yang berwarna dark night dan hampir menutupi matanya yang tajam dan gelap, membuatnya semakin misterius.

"Hei,Lu. Ngomong-ngomong siapa namanya?" Tanya Kyungsoo yang masih penasaran.

"Kata Yuri ahjuma, namanya Oh Sehun." Jawab Luhan yang langsung di sambut teriakan hiteris dari Kyungsoo. Luhan hampir tersedak dibuatnya.

"Luhan! Namanya saja sangat keren!" Seru Kyungsoo, membuat Luhan menyesal memberi tahunya.

"Keren apanya?" Batin Luhan.

Temannya satu ini memang bisa jadi sangat menyebalkan dengan tingkah lakunya.

ooO*Ooo


Sehun merasa sudah berjalan berkilo-kilo meter jauhnya.

Sampai akhirnya menemukan salah satu universitas yang sedang di carinya.

Chung-Ang University. Sehun duduk di bangku taman memperhatikan dengan cermat orang-orang yang melewatinya.

Sehun harus menemukan orang itu bagaimana-pun caranya.

Info yang ia dapat dari temannya sangat sedikit.

Kris, temannya itu mengatakan jika orang yang sekarang sedang di cari-nya itu pernah terlihat di sekitar universitas Chung-Ang. Kris tidak tau tepatnya di fakultas apa tetapi Sehun tetap pergi.

Tak masalah jika Sehun harus mendatangi setiap universitas dan mencari orang itu. Di banding duduk diam dan menyesali nasib. Sehun harus bertemu dengannya.

Sehun memasang headphone-nya dan lagu Hold On, milik Good Charolotte mengalun dari iPod-nya.

Pikiran Sehun melayang-layang ke masa SMA-nya, dan tanpa ia sadari dia mencengkram lengan kirinya kuat-kuat.

ooO*Ooo


Sehun melangkah ke penginapannya yang terlihat gelap.

Lampu depan yang sudah berpendar dan hampi mati membuat tempat itu jauh lebih menyeramkan di banding saat siang hari. Saat menaiki tangga Sehun mendapati Luhan sedang membersihkan teras depan kamarnya.

Luhan menoleh dan menatap Sehun yang tampak lelah.

"Baru pulang kuliah?" Tanya Luhan, mencoba ramah.

"Tidak." Jawab Sehun pendek tak ingin membuat percakapan apapun.

"Oh,pulang kerja?" Tanya Luhan lagi, membuat Sehun meliriknya sebal.

"Tidak juga." Sehun menjawab sambil merogoh saku celananya untuk mengambil kunci.

"Jadi, apa yang kau lakukan di sini?" kejar Luhan. Sebelum Sehun sempat menjawab Luhan sudah berkata lagi.

"Oh, aku tahu. Pasti sedang mencari pekerjaan, ya?"

"Yah,begitulah." Sehun berusaha menyudahi percakapan dan tak ada niatan untuk menjawab. Dia membuka pintu kamarnya dan masuk tanpa banyak bicara.

Sehun melempar tasnya ke atas kasur lalu membanting tubuhnya sendiri ke atas kasur. Yah, walau dia tahu itu akan menyakitkan.

Dengan seketika debu-debu dari kasur itu berterbangan hingga membuat Sehun terbatuk.

Sehun duduk mengambil botol air mineral lalu meminum isinya. Dia menatap sekeliling kamarnya yang tampak begitu mengenaskan.

Selain kasur tadi di dalam kamar itu hanya terdapat lemari setinggi satu meter dan sebuah meja kecil. Ranselnya tergeletak sembarangan sementara cup-cup bekas mie instant tergeletak di atas meja bersama tas kecil.

Sehun bangkit dan mengambil tas kecil itu, lalu kembali duduk di kasur dan membukanya. Dia mengeluarkan sebuah handycam .

Sejenak, Sehun merasa ragu tapi lantas menyalaknnya bermaksud untuk menonton kaset yang sudah beberapa lama mengendap di sana.

Baru sedetik setelah muncul gambar Sehun cepat-cepat mematikannya. Dia melempar handycam itu kesebelahnya lalu menjambak rambutnya kuat-kuat.

Saat sedang melakukan itu ponsel di sakunya bergetar. Sehun tertegun begitu membaca siapa yang menelpon nya.

"Ibu…"

Dengan ragu, Sehun mengangkatnya. "Hallo?"

"Hunie,ini ibu. kau di mana sekarang?"Tanaya Ibu-nya dari sebrang. Sehun terdiam sebentar.

"Ibu tidak usah menghawatirkan aku." Tukas Sehun, menolak untuk menjawab pertanyaan Ibu-nya.

"Sehun-ah, jawab Ibu.Di mana kau sekarang, sayang?"

desak Ibu Sehun lagi.

"Ibu, aku harus menyelesaikan masalah ini. Aku benar-benar harus."

Kata Sehun tegas. Sementara itu Ibu-nya sudah mulai terisak.

"Sehun-ah, Ibu mohon lupakan saja. Yang terpenting sekarang adalah dirimu sendiri sehun-ah." Bujuk Ibu-nya lagi.

"Ibu, aku harus menyelesaikan ini sebelum waktuku habis." Sehun masih bersikeras.

"ini kesempatanku, bu. Jadi tolong jangan halangi aku."

Ibu-nya masih terisak. Sehun baru berniat untuk memutuskan sambungan ketika ibu-nya berkata lagi.

"Sepertinya, kau tidak akan mendengarkan ku. Tapi Sehun, jangan lakukan hal-hal bodoh."

"Ibu tenang saja." Sehun menjawab dengan nada dingin.

"Dan jangan lupa untuk meminum obat…." Desakan ibu-nya kali ini membuat Sehun benar-benar memutuskan sambungannya. Dia lalu mematikan ponselnya, berjaga-jaga jika ibunya menghubunginya lagi.

Sehun mengaduk isi tas ranselnya, sampai menemukan sebuah botol berisi penuh dengan pil-pil. Ia mencengkram botol itu kuat, lalu melemparnya ke dinding, membuat isinya berhamburan kesegala arah.

Dia terduduk lemas di lantai menatap pil-pil yang berceceran.

Pil-pil yang kabarnya dapat menyelamatkannya.

ooO*Ooo


.

.

Sehun menatap sebuah bangunan dengan taman rindang. Kali ini fakultas Seni di Chung-Ang University. Sehun tidak tahu harus menunggu berapa lama mungkin sampai fakultas itu sepi tak mungkin tidak ada orang lagi tetapi dia harus melakkukannya.

Sehun duduk di salah satu bangku taman dan memperhatikan orang-orang yang sedang berdiskusi didekatnya. Tak ada satu pun dari mereka yang wajahnya mendekati orang yang sedang ia cari. Sehun menghela napas berat mengeluarkan headphone-nya.

Setelah beberapa jam Sehun memutuskan untuk menghampiri orang-orang yang lewat dan menanyainya langsung. Sehun menyodorkan foto orang yang sedang di carinya namun semua orang yang di tanyainya menggeleng tak kenal.

Lelah bertanya Sehun kembali duduk di bangku taman itu.

Foto semasa SMA.

Foto bersama orang yang dulu sangat penting banginya.

Orang yang paling ingin di temuinya saat ini.

ooO*Ooo


.

.

.

.

Sehun berjalan gontai menuju kamarnya Sehun melirik kamar Luhan yang terlihat gelap.

Sehun masuk ke kamarnya sendiri dan membanting tubuhnya ke kasur dan langsung meringis saat sadar kalau kasur itu jauh berbeda dengan kasur di rumahnya yang termasuk empuk dan nyaman.

Sehun mengorek saku celananya menarik foto yang seharian tadi di tunjukan pada semua orang yang lewat. Cengkramannya pada foto itu mengeras sehingga membuat foto itu kusut, tapi Sehun sudah tak peduli lagi.

Foto itu mengingatkannya pada pada kenangan yang tak ingin iya kenang lagi.

Suara ketukan di pintu membuat lamunan Sehun buyar. Penasaran, Sehun bangkit dan membuka pintu.

Luhan.

"Ada apa?" Tanya Sehun malas. Di depannya, Luhan hanya nyengir.

"Ini dari Yuri ahjuma, dia takut kau kenapa-kenapa." Luhan menyodorkan nampan berisi nasi dan lauk pauk.

Sehun menatap itu ragu.

"Tidak usah aku tidak lapar." Tolak Sehun pada akhirnya.

Ketika Luhan akan mengatakan sesuatu terdengar suara janggal di perut Sehun. Sesaat, Luhan dan Sehun sama-sama tertegun.

"Terkadang otak dan perut jarang bisa di ajak berkoordinasi ya?" kata Luhan yang setengah mati menahan tawa. Sehun hanya tersenyum kecut.

"Yah, terima kasih." Sehun mengalah dan membawa nampan itu dari tangan Luhan.

"Jangan lupa, setelah makan piringnya di cuci ya." Perintah Luhan. Dia teringat akan pengalamannya sendiri saat lupa mencuci piring dan di marahi oleh ahjuma-nya.

"Baiklah nona."Jawab Sehun membuat Luhan tersenyum geli.

Sebelum Sehun menghilang kedalam kamarnya, Luhan berkata lagi

"sebelum makan, jangan lupa mencuci tangan dulu ya."

Lalu Sehun menutup pintu dan tersenyum sendiri mendengar perkataan Luhan.

.

.

.

ooO*Ooo
.

.

.

"Eun ji tak kuasa lagi menahan perih hatinya saat melihat Il woo pergi… Kenapa bahasa ku menjadi menjijikkan seperti ini?" gumam Luhan bingung saat membaca tulisannya di layar komputernya.

"AAAARRGHHH!"

Luhan berbaring di lantai, frustasi pada karyanya yang belum juga beranjak dari halaman tiga puluh Sembilan, dan malah semakin tidak karuan. Luhan menghela napas, bangkit dan seperti biasa melakukan senam-senam kecil untuk kembali meyegarkan pikirannya.

Ia melirik jam dinding, 00:10.

Luhan memutuskan untuk mebuat secangkir cokelat panas untuk mengembalikan semangatnya.

Luhan memutuskan keluar kamar untuk ke dapur mengambil air panas.

Ia melirik kamar Sehun yang lampunya masih menyala terang lalu buru-buru kembali ke kamarnya.

Sehun menatap kosong layar handycam-nya. Di sana Nampak teman-teman SMA nya. Sehun menekan tombol stop membuka kaset mini DVD-nya lalu melemparnya sembarang. Sehun menggapai gapai kaset lain tanpa melihatnya dan yang terambil adalah yang bertuliskan Bestfriend ever. Alih-alih langsung menyetelnya, Sehun malah menatap kaset itu dingin.

"Sehun…"

Sehun tersentak kaget saat mendengar suara seseorang yang memanggil namanya. Sehun menatap bingung kaset di tangannya. Mungkinkah-

"Sehun-ah…"

Kali ini sehun melempar kaset itu. Suara itu mirip sekali dengan suara seseorang yang pernah di kenalnya. Tapi tidak mungkin itu…

"Ya!Sehun-ah!"

Sehun menoleh ke arah pintu. Ternyata suara itu berasal dari sana. Sehun menghela napas lega, tapi detik berikutnya ia bingung. Diliriknya jam tangannya, 00:33 setengah satu pagi.

Lalu Sehun memutuskan untuk membuka pintunya setelah mebuka pintu wajah Luhan muncul di hadapannya.

Di tangannya terdapat dua mug berisi cokelat panas yang mengepul. Sehun mengernyitkan dahinya.

"Ambilah." Luhan menyodorkan satu mug bergambar beruang.

"Apa, ini?" Tanya Sehun, belum mengambil mug yang di sodorkan Luhan.

"Cokelat panas, katanya ini juga bagus untuk pertumbuhan." Jelas Luhan.

"Pertumbuhan ku sudah maksimal." Tukas Sehun.

"Kau terima saja, kenapa sih? Aku tidak akan habis meminum ke duanya." Balas Luhan.

"lagi pula sudah repot-repot ku buatkan."

"Aku tidak meminta mu untuk membuatkan ku cokelat panas." Tetapi Sehun menerima mug itu. "Terima kasih."

Luhan mengangguk kecil sambil mengintip kedalam kamar Sehun.

"Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa belum tidur.?" Tanya Luhan membuat Sehun merasa dialah yang seharusnya bertanya seperti itu.

"Tidak ada." Jawab Sehun sambil berusaha menghalang-halangi pandangan Luhan.

"Kau sendiri? Tidak takut jalan-jalan sendiri di tengah malam begini?"

"Ahh, sudah terbiasa." Jawab Luhan.

"tinggal di sini akan membuat mu menjadi tidak takut pada apapun lagi."

Sehun membenarkan dalam hati. Tempat ini memang lebih mirip rumah hantu.

"Baiklah,kalau begitu aku mau tidur." Sehun mengakhiri pembicaraan tidak berminat mengobrol malam-malam.

"Dan terimakasih untuk ini."

Tanpa menunggu jawaban dari Luhan, Sehun masuk lalu menutup pintu kamarnya. Tak berapa lama dia mendengar suara pintu sebelah di tutup.

Sehun terduduk di kasur lalu menatap pintu lalu mug di tangannya. Sepertinya dia tidak boleh terlalu baik pada Luhan. Dia tidak membutuhkan lebih banyak masalah.

Sehun menghirup cokelat itu lalu menghabiskannya dalam sekali teguk.

.

.

.

ooO*Ooo

.

.

.

Sudah beberapa hari ini Sehun mendatangi beberapa fakultas di Chung-An tetapi orang yang ia cari tidak juga di jumpainya.

Tak terkecuaili hari ini. Lagi-lagi dia pulang dengan tangan kosong.

Orang pertama yang Sehun jumpai depan pintu flatnya adalah seseorang berambut gondrong yang acak acakan. Jika saja dia tak berpenampilan lengkap, Sehun akan menyangka dia orang sakit jiwa. Itupun jika kaus dalam dan boxer bisa dikatakan lengkap.

"Hai!" sapa orang itu membuat Sehun berhenti. Sehun mengangguk kepada orang itu.

"Kau penghuni baru di kamar itu?"

Sehun mengangguk lagi. Ternyata, orang itu penghuni penginapan ini juga. Salah satu dari dua penghuni pria yang tertinggal di penginapan ini.

"Nama ku Lee Minwoo." Katanya sambil menyodorkan tangan.

"Peace yo~." Minwoo tiba-tiba menunjukan gerakan memukul dada dan mengacungkan symbol victory. Sehun menatapnya bingun.

"Peace," kata Sehun akhirnya sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya juga.

Tiba-tiba terdengar suara tawa dari atas membuat Sehun dan Minwoo sama-sama mendongak.

Luhan sedang menatap mereka sambil memegangi perut. Wajahnya tampak geli. Sehun buru-buru menurunkan tangannya saat sadar jika Luhan mentertawakan dirinya.

"Abaikan saja, Sehun. dia pikir dia Bob Marley." Ucapnya membuat Minwoo cemberut.

"YA! Kau tidak pergi kuliah?" Tanya Minwo dengan dialect-nya yang kental.

"Tidak, oppa. Libur." Jawab Luhan, dan tersenyum jahil pada Sehun yang sudah di lantai dua.

"Sehun! Berhati-hatilah pada Luhan, dia siap menyerang kapan saja!" teriak Minwoo dari bawah, membuat Sehun tersenyum kaku.

"Harusnya aku yang berbicara seperti itu." balas Luhan sebal –melirik Sehun.

"Wah, aku tidak berniat menyerang siapa-pun." Komentar Sehun sambil merogoh saku celananya dan mengambil kunci pintu-nya. Luhan semakin menatapnya sebal.

"Hei! Jangan terlalu percaya diri, sampai kau menyukai ku nantinya aku yang akan kerepotan!" sahun Luhan membuat Sehun mendengus.

Sehun masuk ke kamarnya lalu menutup pintu. Benar sekali. Akan merepotkan baginya jika harus menyukai seseorang.

Atau di sukai.

.

.

.

ooO*Ooo

.

.

.

Sehun baru akan memasak air panas untuk mie cup-nya saat Luhan muncul tiba-tiba dan mematikan kompor. Sehun mengernyit dan menatap gadis itu bingung.

"Ahjuma meminta ku untuk mengajakmu makan bersama. Ayo." Kata Luhan sambil menarik Sehun yang belum sempat menyanggupi menuju rumah pemilik penginapan yang berada di sebelah bangunan penginapan tersebut.

Di sana, Yuri ahjuma –pemilik penginapan- beserta suaminya dan anak satu-satunya yang masih berusia sepuluh tahun, yang ia ketahui dari Luhan bernama JaeAh, Minwoo, dan seorang namja berkacamata tebal yang di yakini Sehun sebagai penghuni penginapan satunya lagi sudah duduk manis mengelilingi sebuah meja makan.

"Aku berhasil membawa nya kemari 'kan ,ahjuma." sahut Luhan ceria lalu menyuruh Sehun duduk.

"Inilah dia anak baru yang tidak sopan sudah dua minggu lebih menginap di sini tapi belum memperkenalkan dirinya."

"Luhan! jangan berbicara sembarangan siapa tahu Sehun sedang sibuk." kata Yuri ahjuma sambil tersenyum manis pada Sehun yang membalasnya dengan kaku.

"Benar. Sehun, maafkan Luhan, ya? dia memang sedikit menyebalkan."

Timpal suami Yuri ahjuma membuat Luhan melotot.

"Tidak masalah, ahjushi." Jawab Sehun membuat Luhan pindah memelototinya.

"Sehun-ah, ini suami ku Tae Jun dan dia JaeAh anak ku satu-satunya. Nah, kalau yang ini Hyung Seok -anak kedokteran, dan mendapat beasiswa di universitasnya."

Sehun mengangguk kecil. Benar-benar kagum ada orang yang kuliah di bidang kedokteran mendapat beasiswa pula. Tak heran bentuk HyungSeok yang begitu. Mungkin karna sibuk belajar, sampai tak sempat menyisir rambutnya.

"Dan yang cerewet ini kau pasti sudah mengenalnya. Apa dia menyusahkan mu?"Tanya Yuri ahjuma lagi. Luhan seperti siap mengamuk.

"Lumayan." Jawab Sehun membuat Luhan benar-benar mengamuk.

"Ekhemm. Maafkan aku." ucap Luhan dingin.

Ahjuma-nya hanya mengabaikan ucapan Luhan.

"Lain kali jika ingin makan datang saja kemari kita bisa makan bersama." Kata Tae Jun ahjusi. "Kami semua sudah terbiasa makan bersama."

Sehun hanya mengangguk.

"Yah,kalau begitu mari kita mulai makan!" Sahut Tae Jun ahjushi lagi setelah semua orang mendapatkan porsi mereka.

"Sehun-ah, makan yang banyak!"

Sehun mengangguk pelan sambil memperhatikan yang lain sedang berebut makanan. Luhan menatap Sehun heran.

"Sehun? Ada apa?"Tanya Luhan membuat Sehun menatapnya.

"Jangan salahkan kami jika nanti makanannya habis. Di sini Sistem seleksi Alam berlaku."

Sehun tertawa garing dan menggapai danging yang tersisa kemudian mentap nasi di piringnya.

Dia melirik orang-orang di sekitarnya yang langsung sibuk makan sambil berkicau. Sudah lama Sehun tidak merasakan suasana makan malam seperti ini. Sehun tersenyum dalam hati bermaksud untuk mulai makan.

"Ahjuma, Nanti aku bantu mencuci piring." Ujar Luhan di sela-sela cerita mereka.

Mendengar itu Sehun tersentak dan menatap sendok di tangannya yang sudah setengah terangkat di udara. Sendok itu terlepas dengan sendirinya dan jatuh ke piring membuat suara berdengiting keras.

Semua orang berhenti berbicara dan menatap Sehun yang air wajah nya sudah berubah pucat pasi.

"Sehun, kau baik-baik saja?" Tanya Yuri ahjuma yang terlihat khawatir.

"Apa masakan ahjuma tidak enak?"

Sehun belum bisa menguasai dirinya. Wajahnya tegang dan dari dahinya mengalir keringat dingin.

"Ma-maaf, aku permisi ke-kebelakang dulu." Katanya, lalu buru-buru bangkit dan pergi meninggalkan meja makan.

Semua orang saling tatap dengan pandangan heran.

Secepat mungkin Sehun berjalan kembali ke penginapannya dan masuk ke kamar mandi sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri.

Bagaimana mungkin dia tadi berfikiran untuk makan bersama keluarga itu? Bagaimana mungkin kemarin-kemarin dia juga menerima makanan dan minuman dari Luhan?

Sehun memukul dinding di depannya keras-keras. Napasnya tersenggal-senggal. Mulai memikirkan dirinya yang nista itu. Dengan tamaknya mau merasakan sedikit kebahgian tanpa memikirkan akibatnya.

"Tahan dirimu… Oh Sehun." Gumam Sehun.

Sehun berdiri menatap cermin di depannya. Dia tahu. Dia seharusnya tidak memulai hubungan baik dengan siapapun.

Sehun membasuh wajahnya dengan air menarik nafas dalam-dalam lalu menghelanya.

Tak lama kemudian Sehun keluar dan tertegun melihat Luhan sudah menunggu di depan kamar sambil membawa nampan. Wajahnya khawatir.

"Sehun-ah,kau baik? Apa kau sakit?"

Tanya Luhan sementara Sehun menghampirinya.

"Ahjuma mengkhawatirkan mu, maka dari itu aku bawakan makanan untukmu kemari."

"Tidak perlu." Tukas Sehun dingin sambil melewati untuk masuk ke kamar. Luhan hanya menatap Sehun bingung.

"Tapi, nanti kau sakit." Kata Luhan lagi membuat Sehun berbalik.

"Apa peduli mu?!" Tanya-nya tidak sabar. Luhan hanya menundukkan kepalanya.

Merasa tak di respon jadi Sehun mendesah.

"Dengar,jangan pernah membawakan apapun lagi kesini karna aku tidak membutuhkannya. Apa kau mengerti?!"

Sehun masuk ke kamar. Dan membanting pintunya tepat di depan Luhan yang masih mematung. Sehun menjambak rambutnya lalu duduk di belakang pintu.

"Lebih baik begini."

"Memang lebih baik begini 'kan?"-gumam Sehun.

.

.

.

.

.

.

"Spoiler :

""Aku tidak boleh lupa siapa diriku sebenarnya. Oh Sehun,sadarlah.""