15, 29
Hanya dalam satu tahun, tinggi Jaebum sudah bertambah beberapa sentimeter. Dirinya yang sekarang tengah berjalan melintasi halaman sekolahnya, mengernyit ketika banyak orang berkumpul di depan pintu gerbang.
"Jaebum-ah, kakak laki-lakimu ganteng sekali!" Jimin berseru padanya begitu dia berjalan melewati Jaebum, diikuti pekikan centil teman-temannya. Mendengarnya, hati Jaebum mencelos. Karena dia sama sekali tidak punya kakak laki-laki.
Jaebum mempercepat langkah kakinya menuju gerbang sekolah, perutnya serasa diperas-peras ketika dia mendengar suara yang sangat familiar dari balik kerumunan. Suara khas dengan nada rendah dan dalam, berbicara dengan bahasa korea yang fasih pada segerombol gadis-gadis yang mengerumuninya, membuat Jaebum menyisirkan jari-jari tangannya yang basah karena keringat pada rambutnya dengan gugup, membasahi bibirnya dan merapikan seragamnya dengan kasual sembari melangkah membelah kerumunan.
Disitulah Jaebum memandang Jackson yang satu senti lebih pendek darinya, mata mereka bertemu, tidak mampu menyembunyikan keterkejutan yang ada pada pandangan Jackson ketika melihatnya. "Jaebum?" tanya Jackson, ragu-ragu.
Bukan hanya lebih pendek darinya, Jackson yang ini tampak jauh lebih muda dari semua Jackson yang pernah Jaebum temui, walaupun senyumnya masih sama indahnya, membuat Jaebum tidak sanggup melihatnya lama-lama. Tapi kali ini, alih-alih memakai pakaian yang terlihat tua, Jackson memakai hoodie, baseball jersey dan skinny jeans. Tampak semuda remaja masa kini.
Tapi Jackson, sayangnya, mengingatkan Jaebum bahwa umurnya dua kali umur Jaebum. Bukan mengingatkan Jaebum sih, sebenarnya. Jackson tampak seperti mengingatkan dirinya sendiri, karena beberapa kali Jaebum memergokinya melirik Jaebum sejak mereka meninggalkan sekolah beberapa saat lalu. Jackson ingin mentraktir Jaebum kue beras yang pedas, katanya. Jaebum tidak tahan untuk bertanya apa Jackson bahkan punya uang untuk mentraktirnya.
Ketika Jackson merogoh kantongnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang won, Jaebum menjadi terkejut. Hanya satu yang ada dipikiran Jaebum. Apa itu artinya, di umur Jackson yang ke-duapuluh sembilan, dia berada di Korea? Kapan tepatnya Jackson berada di sini? Bukannya Jackson tinggal di Hongkong? Dan yang lebih penting, apa Jaebum ada di hidupnya yang sekarang?
Banyak pertanyaan yang ingin Jaebum katakan, tapi dia tahu, jika ia menanyakannya, Jackson hanya akan tersenyum dan mengubah topik ke arah lain, kukuh untuk tidak mengeluarkan satu informasi apapun tentang masa depan, lalu tertawa di saat Jaebum merengek dan memohon. Satu kalimat yang selalu dikatakannya ketika Jaebum sudah akan kehilangan kesabarannya dan menuntut bahwa dia butuh tahu semuanya, satu kalimat final dari Jackson, "Aku tidak bisa bermain-main dengan sejarah atau memengaruhimu untuk memilih jalan hidupmu, Jaebum." Begitu katanya.
"Kenapa kamu melihatku begitu?" Jaebum tidak tahan untuk bertanya, lalu kesal sendiri ketika hatinya jadi deg-degan karena dipandangi Jackson.
Jackson menelan ludahnya, "Maaf," dia lalu terkekeh. Lalu tiba-tiba, Jaebum merasa kesal karena Jackson selalu saja meminta maaf atas apapun yang dilakukannya pada Jaebum. Seolah Jaebum adalah orang asing yang butuh diperlakukan dengan sopan.
"Cuma… aku tidak pernah melihatmu semuda ini," kata Jackson. "Lima belas tahun, huh," dia bergumam sendiri, lalu bersiul pelan. "Wow."
"Sama, aku tidak pernah melihatmu sependek ini," ejek Jaebum, membuatnya mendapat satu sikutan di rusuk. "Jangan kurangajar ya." Ancam Jackson.
"Gimana rasanya di bawah sana?" Jaebum tertawa kecil, membuat Jackson meninggalkan segala kelakuan dewasanya dan berteriak menggertak Jaebum ketika Jaebum sudah berlari sambil tertawa-tawa. "Woi, Im Jaebum! Sini kamu!" Mereka berkejaran seperti anak kecil setelahnya.
16, 15
"Tidak mungkin," Jaebum berbisik tertahan begitu dia menyadari siapa seseorang yang terlihat tidak asing di kejauhan. Dari tempatnya berdiri, Jaebum sudah mengira, ada sesuatu tentang anak itu. Tapi Jaebum tidak berani berharap, dia tidak mengijinkan dirinya sendiri untuk memercayai sesuatu yang sepertinya tidak akan mungkin terjadi.
Di sana, berdiri seorang Jackson dengan rambut potongan shaggy dan poni yang terjatuh menutupi sebagian mata. Dia masih berseragam sekolah dengan kemeja berkerah putih dengan kancing atas yang terlepas, dasi yang sengaja dilonggarkan dan celana navy. Sebuah nametag bertuliskan huruf cina yang tidak terbaca tersemat di kantung kemejanya.
Ketika Jaebum memberanikan diri untuk berlari mendekatinya, Jackson yang sadar kemudian merangsek mundur. Ada keragu-raguan yang tidak pernah Jaebum temukan di mata Jackson sebelumnya, seperti semburat rasa takut. Padahal Jackson adalah laki-laki yang penuh keyakinan dan percaya diri, tidak pernah menunjukkan keterkejutan dan kebingungan begitu dirinya terlempar oleh waktu. Namun Jackson muda ini terlihat begitu limbung, membuat Jaebum tidak tahan untuk selalu melindunginya.
"J-jaebum-hyung?" suara Jackson bergetar, seperti tercekat di tenggorokannya, penuh ketidak-percayaan. "Ini… kamu?" tangannya terangkat, memandang Jaebum tercengang seperti ingin menyentuh wajahnya, tapi kemudian menariknya kembali cepat-cepat.
Jaebum mengangguk, merasakan tenggorokannya sendiri yang tercekat. Dia masih tidak mengerti bagaimana mekanisme perjalanan waktu, namun Jaebum menyimpulkan bahwa di umur Jackson yang ini, dia pasti belum pernah menemui Jaebum semuda sekarang. Diam-diam, Jaebum lega begitu memikirkan bahwa Jackson yang ini mungkin telah mengenal dirinya di masa depan. Sebelum ini, setiap pertemuan, mereka selalu saja bisa secara mudah menyesuaikan antara ingatan dan apa yang sudah mereka lalui selama ini tidak peduli seberapa besar perbedaannya. Mereka bercerita dan saling mengingatkan tentang apa yang mereka lewatkan selama ini. Tapi kali ini, baik Jaebum dan Jackson sama-sama masih muda, sama-sama tidak mengerti. Tidak ada yang lebih dewasa di sini. Tidak ada yang bisa menenangkan ketika salah satunya terguncang akibat fenomena luar biasa yang mereka alami. Sebelum ini, Jackson adalah orang yang selalu menjaganya, yang mampu membuat Jaebum tenang dengan senyumannya seaneh apapun situasinya. Tapi kali ini, Jaebum akhirnya menyadari, bahwa gilirannya sudah tiba.
Tubuh Jackson kini tengah gemetar, di tengah musim dingin, seragamnya yang tipis dan hampir tembus pandang tidak cukup untuk menghangatkannya. Jaebum menebak, di waktunya yang sekarang, Jackson mungkin sedang melewati musim panas di Hongkong. Ini membuat Jaebum refleks melepaskan blazer dan syal-nya, lalu memakaikannya pada Jackson hingga satu-satunya yang terlihat dari wajah Jackson adalah dua matanya yang berkilat penuh rasa penasaran.
"Ayo," Jaebum berkata lembut sambil menarik tangan Jackson yang terasa lebih kecil dan halus dari yang Jaebum ingat, Jackson balik menggenggam tangan Jaebum dengan penuh percaya. Terasa begitu familiar. Jaebum membawa Jackson ke rumahnya, walau perjalan pulang ke rumah penuh dengan hembusan angin dingin, tapi yang bisa Jaebum rasakan hanya kehangatan tangan Jackson yang menjalar di sekujur syarafnya.
"Kamu dari tahun berapa?" tanya Jaebum begitu mereka telah memasuki kamarnya dan Jackson berhasil duduk di tempat tidurnya untuk melepas syal milik Jaebum yang sedetik lalu masih berada di lehernya. Dia terlihat begitu kecil dan rapuh di antara seprei kasur yang berantahkan.
"2010." Jawab Jackson, menyebutkan tahun yang sama dengan yang sekarang Jaebum tinggali. Jaebum terlonjak. Tidak percaya kalau Jackson juga bisa berpindah tempat di tahun yang sama. Lalu Jackson menambahkan, "September."
"Oh. Aku pikir kita berada di tahun dan bulan yang benar-benar sama. Aku pikir kamu teleportasi atau semacamnya." Kata Jaebum, langsung dijawab oleh Jackson dengan tawa, "Tentu saja tidak mungkin." Katanya. "Aku ini penjelajah waktu, bukan Tuhan. Aku tidak bisa sesukanya kesana-kemari." Jackson memutar matanya, membuat Jaebum tertawa berderai karena itu artinya, Jackson tetaplah Jackson, laki-laki berlidah tajam dengan tawa yang membuat siapapun bahagia. Walau kini pundaknya jauh lebih kecil dari yang selama ini Jaebum kenali, aroma tubuhnya tetaplah seperti Jackson.
"Jadi kamu sedang ada di sekolah waktu ini… terjadi?" Jaebum memandangi pakaian Jackson, membuat Jackson mengerang.
"Yeah, di tengah pelajaran biologi. Tapi tidak masalah sih, aku duduk di baris paling belakang. Dan Mark membantuku."
Mark. Sebuah nama yang beberapa kali disebutkan oleh Jackson, Jaebum menyimpulkan bahwa dia adalah temannya. Tapi kenyataan bahwa Mark sudah mengenal Jackson selama ini, tinggal di dunia yang sama dengan Jackson, membuat Jaebum merasa tidak nyaman.
"Mark itu siapa?" tanya Jaebum, berusaha terdengar biasa-biasa saja. Jackson menjawabnya tanpa keraguan, "Sahabat baikku." Katanya sambil tersenyum lebar. Senyum yang tidak pernah Jaebum lihat sebelumnya, begitu lebar hingga matanya menyipit seperti sabit. Senyum yang membuat Jackson terlihat seperti anak berumur sepuluh tahun, begitu indah, membuat Jaebum bertambah kesal begitu menyadari senyum itu bukan ditujukan untuknya.
"Oh, sahabat baikmu?" jaebum mengulangi, getir, hampir tidak sadar jika ada nada mengejek di sana. Jackson menyadarinya, mungkin karena itu matanya melebar ketika Jaebum mendekat ke arahnya dan mendesak Jackson di dipan kasurnya.
"Apa dengan dia—kamu pernah—" Jaebum tercekat, tidak bisa melanjutkan kata-katanya, sementara Jackson terlihat kebingungan. Tatapan intens Jaebum seolah bisa menembus tembok, sedetik kemudian, Jaebum menyentuh bibir Jackson dengan ujung ibu jarinya, membuat Jackson terhentak. "Apa kamu pernah mengijinkannya untuk…" Jaebum meneruskannya, lalu hatinya mencelos ketika tidak melihat Jackson membalas pandangannya.
"Cuma sekali saja kok." Jawab Jackson takut-takut, semakin terkejut ketika tiba-tiba tangan Jaebum menyentuh dagunya dan mengangkat wajahnya. Jackson menggeliat ingin lepas, mukanya memerah seperti tertangkap basah. Namun Jaebum merangkak di atasnya, lengannya memerangkap Jackson, sangat dekat hingga poni mereka bersentuhan.
"Itu kesalahan, kok." Jackson mengoceh. "Waktu itu aku belum bertemu denganmu, maksudku, dirimu yang ini, dan aku tidak tahu kalau kamu—astaga, aku ngomong apa sih?" Jackson sudah seperti ingin menangis, wajahnya pucat, dan Jaebum takut dia makin keterlaluan. Harusnya Jaebum tahu, tidak seharusnya dia membuat Jackson gelisah begini di saat dia tidak bisa mengontrol emosinya.
Jackson mengerjapkan matanya. "Maafkan aku?"
Bukan masalah Jaebum tidak ingin memaafkan, karena Jaebum pasti akan memaafkan Jackson atas apapun yang dia lakukan. Hanya saja, Jaebum sangat kesal ketika membayangkan kalau ada orang lain—Mark—yang juga menyadari kilat mata Jackson yang begitu indah, terlebih lagi pernah mencium bibirnya yang terlihat begitu lembut, menyentuh tubuh Jackson yang—
"Hyung," suara Jackson terdengar parau, seolah menelusup dalam tubuh Jaebum, membuat darahnya menggelegak. Jaebum terkejut dengan keinginan yang timbul dalam dirinya secara tiba-tiba. Perasaannya pada Jackson selama ini selalu hanya berupa ketenangan yang hangat. Jaebum selalu menantikan pertemuannya dengan Jackson, tapi seiring berjalannya waktu, dadanya menjadi selalu berdentum penuh antisipasi, tangannya berkeringat dingin, menandakan bahwa sejak lama, ini semua sudah tidak lagi platonis.
Namun sejak kapan, sebenarnya, perasaan kagum dan hormat berubah menjadi nafsu? Jaebum tidak pernah berpikir bahwa Jackson bisa membuatnya merasa bergairah seperti ini, seolah seluruh tekanan berkumpul di perutnya dan turun ke bawah. Terus turun ke bawah sementara Jackson membasahi bibirnya yang kering. Jaebum tidak tahu bagaimana menyikapi Jackson yang seperti ini. Ini semua salah, dan Jaebum berusaha sekuat tenaga untuk memandang Jackson yang tengah telentang di bawahnya dengan biasa saja.
Namun yang dia lihat adalah mata Jackson yang mengandung sejuta emosi. Jaebum selalu menyukai Jackson yang sangat transparan, seolah apa yang dia pikirkan tergambar jelas di wajahnya. Seperti pintalan sutra, terlihat rapuh namun sesungguhnya sangat kuat, bersemangat, menawan, intens, seperti ledakan supernova yang ingin Jaebum tangkap dengan tangannya sendiri. Dia menginginkan Jackson.
"Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu," Jaebum berbisik, tercekat. "Saat aku makan, tidur, bernapas—aku memikirkanmu."
Senyum yang setelahnya terkembang di wajah Jackson sangatlah membutakan, bersinar seperti matahari. Jaebum sangat membenci senyum sok itu, betapa Jackson sudah berhasil masuk dalam hidupnya dan memporak-porandakan perasaan Jaebum hingga ia tak bisa bernafas. Jaebum meraih kerah baju Jackson, kancing berjatuhan begitu Jaebum menghentakkan seragamnya, membuat kulit selangka Jackson yang seputih porselain terlihat. "Tanggung jawab," kata Jaebum, nafasnya berat.
Jackson menjawabnya dengan meraih leher Jaebum, menariknya ke bawah untuk mencium bibirnya, berawal dengan gigi yang terantuk dan hidung yang bertemu dengan rikuh, namun berlanjut dengan lumatan kecil yang nyaman, seolah dunia mereka bertubrukan jadi satu dengan sempurna. Jackson membuka kakinya, melingkarkannya pada pinggang Jaebum, dan ketika Jaebum menurunkan tubuhnya, dia bisa merasa betapa Jackson begitu menginginkan Jaebum, sebesar Jaebum menginginkannya.
Dan mereka melakukannya.
"Aku tidak percaya ini," ujar Jackson, suaranya parau, menyisir jemarinya di rambut Jaebum yang lembut setelah mereka usai. "Terakhir kali aku bertemu denganmu, kamu masih kakek-kakek. Sekarang kamu jadi pemuda berambut pirang yang baru saja meniduriku." Dia mengerang. "Ini benar-benar kacau. Aku harus apa kalau bertemu denganmu lagi?"
Jaebum tertawa, menyingkirkan tangan Jackson yang menutupi wajahnya sendiri. "Mungkin kamu bisa memberiku blowjob?" tawar Jaebum, yang langsung dijawab Jackson dengan pukulan pelan tangannya.
Jaebum pura-pura tahu apa yang dia lakukan, tapi sebenarnya dia sama-sama tidak tahunya seperti Jackson. Mereka hanyalah remaja laki-laki yang masih kaya akan testosteron dan hormon lain, berpikir dengan tubuh mereka, bukan dengan otak. Mereka sama-sama masih muda, sangat mungkin jika mereka terbawa perasaan dan menyangka bahwa ini semua cinta. Tapi satu yang Jaebum tahu, apa yang dia rasakan pada Jackson bukanlah sesuatu yang main-main. Mungkin terasa buru-buru, tapi Jaebum tahu bahwa ini semua benar. Karena mereka terperangkap dalam permainan melawan waktu, yang mendesak mereka untuk selalu mencuri-curi kesempatan selagi ada. Walau setelah ini mungkin mereka tidak akan bertemu lagi dalam keadaan bisa menyentuh satu sama lain, Jaebum tidak akan melupakan sensasi memabukkan saat merasakan tubuh Jackson yang hangat dalam pelukannya, yang mampu menggetarkan setiap sel tubuhnya.
17, 32
Ketika Jackson menampakkan dirinya di kamar Jaebum satu tahun setelahnya, dia langsung merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Jaebum tidak sempat menghapus air mata dan menyembunyikan bulu matanya yang basah ketika Jackson buru-buru mendekatinya dengan wajah khawatir.
"Ada apa? Kamu ada masalah di sekolah?"
Jackson mengenakan sweater kasmir warna beige, terlihat begitu dewasa, indah namun tidak bisa digapai. Ada getar di tangan Jackson ketika Jaebum menepis tangannya, getar yang buru-buru disembunyikan Jackson dibalik lengan sweaternya. Jaebum tahu, waktu mereka terbatas. Harusnya dia menggunakannya dengan baik sebelum Jackson pergi lagi. Tapi Jaebum lelah terus-terusan mengorbankan perasaannya sendiri, lelah berpura-pura baik-baik saja setiap Jackson pergi darinya. Dia baru berumur tujuh belas tahun dan dia jatuh cinta dengan seseorang yang masih belum ada di hidupnya, Jackson. Ini semua sangat tidak adil.
Setahun belakangan ini terasa begitu sulit. Jaebum menghabiskan waktunya berharap untuk bertemu Jackson di masa remaja sekali lagi, namun juga takut kalau Jackson yang ia temui nanti adalah Jackson yang belum berusia 15 tahun. Karena Jaebum tidak bisa membayangkan jika dia harus bertemu dengan Jackson yang belum tahu apa-apa tentang perasaan Jaebum dan sebesar apa hubungan mereka telah berkembang. Tapi setelahnya, Jaebum merasa menjadi orang yang bodoh, tidak akan ada orang yang khawatir pacarnya lupa kalau mereka pernah tidur bersama, kecuali orang-orang tua yang sudah pikun. Ya, kan?
Pacar.
Ada rasa dingin yang menjalar aneh di tengkuknya begitu memikirkan Jackson sebagai pacarnya, kemudian kembali merasa sebagai orang bodoh karena begitu memikirkan Jackson di saat dia bahkan belum berada di hidupnya. Jaebum seperti pecundang yang mempunyai pacar khayalan. Konyol.
"Jaebum," Jackson terdengar memohon, tidak memanggilnya dengan embel-embel hyung seperti biasa. Entah mengapa Jaebum sedikit tenang karena Jackson tahu, bahwa kali ini, dia harus menjadi sabar.
Namun ketika Jaebum menyerah, dia sudah terlambat. Saat akhirnya dia menghadap ke arah Jackson, yang dia temui adalah jemari Jackson yang perlahan menghilang dari hadapannya, menyisakan kata Aku merindukanmu yang tertinggal di udara. Tidak sempat terdengar oleh siapapun.
18, 33
Sudah tiga ratus enam puluh lima hari berlalu, menurut kalender, sejak terakhir kali Jaebum bertemu Jackson. Jaebum menebak, Jackson sedang menghindarinya. Selama ini, belum pernah Jackson menghilang sekian lama dari hidup Jaebum. Dulu, pernah. Namun beberapa tahun terakhir tidak. Memikirkannya membuat ulu hati Jaebum berdenyut, menyesal, karena terakhir kali dia bertemu Jackson, dia bersikap begitu dingin. Mengapa dia bertingkah sok kuat dan seolah tidak ingin bertemu dengan Jackson di saat dia begitu merindukannya?
Namun ada saat-saat ketika Jaebum merasa Jackson berada di sekitarnya—Jaebum sangat yakin Jackson muncul beberapa bulan yang lalu, namun menyembunyikan dirinya dari Jaebum. Tidak ada bukti memang, selain Jaebum yang entah kenapa bisa merasakan keberadaannya, seperti gravitasi yang mampu menarik benda ke bumi, atau bunga matahari yang selalu tumbuh ke arah mentari. Jaebum ingat,saat itu ia mengepalkan tangannya, menunggu Jackson muncul dan tertawa serta menggoda Jaebum. Tapi setelah beberapa waktu berlalu dan Jaebum tidak menemukan apapun, dia mulai putus-asa dan meneriakkan namanya ke udara, "Jackson! Jackson-ah!"
Yang menjawabnya hanyalah kepakan sayap burung yang terbang pergi, serta beberapa pasang mata pejalan kaki yang berada di sekitarnya. Namun Jackson tetap tidak menampakkan dirinya.
19, 33
Kali lain dia merasakan keberadaan Jackson, hanya satu yang dipikirkan oleh Jaebum, lakukan apapun untuk menariknya keluar, dan langsung melaksanakan rencana yang sudah disusunnya beberapa waktu belakangan. Jaebum tahu dia harus bertindak cepat sebelum Jackson pergi kembali, tapi pada akhirnya, rencananya tidak seperi apa yang dia harapkan. Tidak ada mobil yang melaju di jalanan, satu-satunya kendaraan hanyalah bus tua yang berjalan pelan di aspal.
Tapi mau bagaimana lagi, Jaebum pada akhirnya melemparkan dirinya sendiri ke tengah jalan, membuat kaget pengemudi bus hingga klakson dan rem berdecit memekakkan telinga. Bus itu sudah akan menabrak Jaebum ketika sebuah figur menariknya, membuat tubuh mereka berdua terlempar ke tanah dengan siku tergores jalan.
Jaebum melihat figur di atasnya, takjub karena rencananya berhasil begitu menemukan Jackson yang panik dan khawatir. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya.
Jaebum mengangguk lega. Jackson kemudian berdiri dan memelototi pengemudi bus yang sekarang tengah berhenti, pengemudi itu berteriak marah. "Apa-apaan?! Dia yang melemparkan dirinya ke tengah jalan!" Tapi Jackson membungkamnya dengan pandangan yang lebih tajam. Setelah itu dia berbalik untuk membantu Jaebum berdiri, memarahinya sambil memapahnya menuju rumah.
"Kenapa kamu melakukannya?" Jackson bertanya dengan gusar begitu mereka sudah berada di dalam kamar Jaebum. "Jangan pikir aku tidak tahu kalau kamu melemparkan dirimu sendiri ke depan bus. Aku melihatnya sejak awal!"
"Sejak awal?!" Jaebum berteriak marah, dan muka Jackson memerah.
Jaebum kemudian melunak, tujuan utamanya adalah memancing Jackson untuk keluar, bukan untuk mempermalukannya. Jadi dia menelan egonya untuk marah, lalu berkata dengan lembut. "Aku ingin menarikmu keluar," Jaebum mengakuinya.
Mulut Jackson terbuka. "Kenapa kamu tahu kalau aku—"
"Aku bisa merasakan keberadaanmu," Jaebum berbisik. "…dengan sangat jelas."
Jackson melempar sebuah bantal ke arah Jaebum dengan kesal. "Sudah diam!"
Jaebum tertawa sambil menangkapnya. Namun kemudian tawanya hilang. "Aku memang bodoh," katanya. Mendengar itu, Jackson seperti menahan senyum.
"Tapi sebagian memang salahku." Jackson mengakui.
"Sudahlah, kamu dari tahun berapa, omong-omong?" tanya Jaebum sambil membaringkan tubuhnya, nadanya terdengar nakal. "Apa di tahunmu sekarang sudah ada komputer robot?" Jaebum bertanya lagi, padahal yang sesungguhnya ingin Jaebum tanyakan adalah, apa perasaanmu padaku masih sama…
"Kan kamu sudah tahu, aku tidak mungkin bilang padamu," Jackson menjawabnya sambil tertawa, memandang Jaebum sementara ia membelai jemari Jaebum dengan bibirnya.
…seperti sebelumnya.
20, 34
Ketika Jaebum melihat Jackson berdiri di salah satu rak di perpustakaan kampusnya, Jaebum menjatuhkan seluruh buku yang sedang dia pegang. Jackson mengenakan baju berwarna hijau tua dengan logo bertuliskan Choi Music yang tertera pada saku dadanya. Jackson terbatuk-batuk, sibuk menyingkirkan debu yang berterbangan di sekelilingnya.
"Jadi di situ kamu bekerja?" tanya Jaebum, membuat Jackson buru-buru menutup logo di sakunya dengan tangan. Jaebum mengelengkan kepalanya, lalu mengambil buku miliknya. "Ayo." Jaebum mengedikkan kepalanya, membuat Jackson mengikutinya dengan patuh.
Saat mereka sudah berada di kamar asrama Jaebum yang sempit dan memastikan kalau teman sekamarnya tidak ada tempat, Jaebum menguncinya dan memerangkap Jackson hingga punggungnya menabrak pintu. Jackson menjilat bibirnya dengan intensitas yang sama seperti Jaebum. Jaebum buru-buru melepas baju Jackson sedangkan Jackson mencoba membuka sabuknya, mereka lalu berciuman sembari bergerak ke arah tempat tidur dan jatuh di atasnya.
"Berapa umurmu?" bisik Jaebum di telinga Jackson begitu mereka selesai melakukannya di atas tempat tidurnya yang sempit dengan kaki bertautan dan seprei berantahkan. Ini pertama kalinya Jaebum tidak bertanya berapa umur Jackson segera setelah Jackson menampakkan diri. Mungkin nafsu Jaebum terlalu membutakannya, atau entahlah.
Karena Jackson tampak jauh lebih tua dari pertama kali Jaebum melihatnya—lebih tua dari hari saat Jackson menikah dulu. Jaebum tidak ingin memikirkan tentang fakta itu sejak umurnya enam belas tahun, dia menyangkal jika Jackson adalah laki-laki yang sudah berkeluarga. Walaupun Jaebum tahu bahwa bukan haknya bersikap demikian. Jackson bebas menjalani hidupnya. Hidup tanpa Jaebum. Tapi fakta bahwa Jackson, yang sekarang sedang berada di pelukan Jaebum dan tersenyum sangat manis ke arahnya, adalah milik orang lain, membuat Jaebum merasa sedih.
Sejujurnya, hati Jaebum seperti dicabut paksa dari rongga dadannya. Tentu saja, Jaebum tidak pernah lupa tentang apa yang Jackson katakan saat Jaebum berumur empat belas, bahwa dirinya akan menikah. Tapi tentu saja, dia menikah dengan orang lain kan? Jackson Wang—laki-laki yang terlalu hebat dan tak bisa Jaebum gapai—tidak mungkin menikahi seorang Jaebum. Kalaupun iya, dia pasti sudah memberi tahu Jaebum sejak dulu. Jackson tidak mungkin melakukannya, tidak mungkin membuat Jaebum patah hati sedemikian sakitnya.
Tapi itu awalnya. Setelah ini, Jaebum bahkan tidak yakin dengan anggapannya sendiri tentang Jackson. Karena jika Jackson telah menikah dengan orang lain, apa yang dia lakukan dengan Jaebum sekarang? Karena walaupun melintasi waktu, perasaan Jackson terhadap siapapun yang dia nikahi seharusnya tidak berubah kan? Atau, apakah ini hanyalah permainan bagi Jackson? Sesuatu yang Jackson anggap angin lalu karena Jackson hanya mampir sebentar di sini? Apa Jackson pikir Jaebum hanyalah mainannya?
Semua pikiran yang membuat Jaebum marah itu setengah mati diredamnya. Dia tidak ingin menghancurkan menit demi menit dari momen yang begitu berharga saat Jackson berada di sampingnya dengan pikiran-pikiran negatif.
Namun ketika Jackson menjawab pertanyaannya dengan, "Tigapuluh empat tahun," hati Jaebum masih terasa sakit. Kata-kata Jackson berikutnya membuat Jaebum seperti tersambar petir. "Kami sedang menunggu anak kami hadir di dunia. Kamu punya saran nama?" tanyanya, begitu enteng dan natural.
Kami adalah kata yang sempurna membunuh hati Jaebum, yang menjadi bukti betapa bahagia hidup Jackson dengan istri, pasangan, atau siapapun itu yang begitu beruntung karena menikahi seorang Jackson Wang.
Jaebum tiba-tiba merasa mual memikirkannya, dia menarik lengannya dari kepala Jackson dan membalikkan tubuhnya menghadap tembok agar Jackson tidak bisa membaca tentang apa yang dia pikirkan. Jaebum lalu dengan cepat memikirkan nama paling aneh yang bisa dia temukan, "Bambam." Jawabnya, dan bergidik ketika hawa dingin menerpa punggungnya yang telanjang.
Ketika Jaebum kembali berbalik, yang dia temukan hanyalah seprei yang berantahkan.
Jackson sudah menghilang.
20, 30
Ketika Jaebum melihat Jackson kedua kalinya di tahun itu, Jaebum pikir Jackson adalah bagian dari imajinasi yang diciptakan oleh alkohol yang ia minum. Bukannya tidak mungkin, toh Jaebum menghabiskan beberapa bulan setelah pertemuannya dengan Jackson lebih banyak dalam keadaan mabuk ketimbang sadar. Bahkan Jinyoung menyerah untuk menasihatinya. Mungkin Jackson, entah bagaimana caranya, merasa jika Jaebum membutuhkan bantuannya lantas secara kebetulan menjelajah waktu di masa ini—tapi tentu saja, itu tidak mungkin. Jaebum tertawa pahit ketika memikirkannya. Walaupun Jackson tahu bagaimana cara mengontrol kekuatannya, memangnya Jackson peduli padanya? Jackson tidak pernah memedulikan Jaebum sebesar Jaebum memedulikannya.
Tapi—dua kali dalam setahu, huh? Bahkan dalam pengaruh alkohol, Jaebum menyadari betapa ini merupakan sebuah keajaiban. Mereka tidak pernah bertemu dalam frekuensi sedekat ini. Jaebum tidak tahu apa artinya, apakah ini pengecualian ataukah Jackson akan lebih banyak menampakkan dirinya di masa depan. Tapi kalaupun Jackson akan lebih sering hadir dalam hidupnya, Jaebum tidak tahu apakah dia mampu menyikapi hatinya yang kembali patah setiap bertemu dengannya.
Jackson berjalan cepat mendekatinya, lalu sempurna berhenti di bar tempat Jaebum meneguk botol bir dari tangannya. "Im Jaebum, apa yang kamu lakukan?!" Jackson membentaknya, wajah marahnya menari-nari di kepala Jaebum.
"Sadarlah!" Ujar Jackson lagi, sambil menepuk-nepuk pipi Jaebum perlahan ketika mereka sampai di kamar asrama Jaebum. Kamar itu tampak sangat berantahkan, teman sekamarnya yang sudah tidak tahan dengan bau menyengat alkohol pada akhirnya pindah. Jaebum lalu meraih tangan Jackson dengan kedua tangannya, kemudian menggenggamnya walau sulit sekali bagi Jaebum untuk melakukannya. "Berapa umurmu?" tanya Jaebum, memohon. Ada sepercik harapan yang tergambar di matanya ketika Jackson menjawabnya dengan, "Tigapuluh."
Jadi, Jackson yang ini belum menikah. Jaebum tidak tahu apa yang dia lakukan ketika dia mendorong Jackson ke tempat tidurnya dan menindihnya, melucuti seluruh bajunya dan membuka resleting celananya sembari membelai kulit perut Jackson dengan lembut. Yang Jaebum yakini adalah, sekarang mungkin saat terakhir baginya untuk menjadikan Jackson sepenuhnya milik Jaebum, untuk meyakinkan Jackson bahwa dia bisa bahagia bersamanya, dengan menciumi leher Jackson dan menjamah pinggulnya.
Jaebum tahu apa yang dia lakukan itu kejam, dan bukan hanya itu, dia hampir saja mengubah sejarah. Dia bertanya pada Jackson, apakah dia pernah mecoba mengubah sejarah, tapi Jackson hanya menggeleng dengan sungguh-sungguh. "Aku tidak berani. Bagaimana kalau aku benar-benar mengubah hidup kita seutuhnya? Bagaimana kalau kita tidak pernah bertemu?" Sambil bertanya begitu, Jackson memegangi kemeja Jaebum dan mengepalkan tangannya di sana. Tapi Jaebum tidak punya pilihan. Setiap pagi terbangun dengan fakta bahwa Jackson adalah milik orang lain adalah hidup yang sama sekali tidak bisa Jaebum jalani.
Jadi Jaebum mengjela nafas panjang dan menatap Jackson yang berada di bawahnya dengan serius, "Jackson-ah," katanya, suaranya parah, terdengar mabuk. "Menikahlah denganku."
Semuanya begitu spontan tanpa rencana, dan Jaebum hampir saja menyesali perkataannya segera setelah dia mengeluarkannya. Dia tidak punya cincin atau apapun untuk diberikan pada Jackson, umurnya juga sepuluh tahun lebih muda dari Jackson, benar-benar tidak berharga jika dibandingkan dengan Jackson. Mata Jaebum begitu pucat dan dingin, tidak sehangat dan seindah milik Jackson, yang kini berkilat karena air mata. Jaebum menghapusnya dengan gelisah menggunakan ibu jarinya, "Ada apa?" Jaebum panik, membelai wajah dan tubuh Jackson, "Apa aku melukaimu?"
"Tidak kok," jawab Jackson, memukulnya pelan, senyumnya membuat tenggorokan Jaebum tercekat. "Hanya saja… kupikir kamu tidak akan pernah bertanya."
Jaebum begitu bingung sekarang, tapi kebahagian benar-benar membanjiri hatinya. Dia tidak menyangka bahwa Jackson akan sebegitu mudahnya setuju, bahwa Jackson menunggu Jaebum untuk mengatakannya. Apa itu artinya—apa mungkin bahwa seseorang yang Jackson nikahi adalah… Jaebum?
Jaebum tidak berani bertanya, dia sangat takut akan jawabannya. Walau begitu, Jaebum lebih takut akan sesuatu yang sedang mereka tantang. Siapa Jaebum hingga berani-beraninya menentang waktu dan ingin mengubah sejarah? Dia tahu apa yang dia hadapi begitu dia sadar bahwa dia mencintai Jackson. Seperti waktu, Jackson adalah seseorang yang tidak bisa Jaebum prediksi. Seseorang yang tidak bisa Jaebum tahan untuk tinggal lebih lama.
Mereka menatap satu sama lain. Ada begitu banyak pertanyaan dan jawaban yang tidak tersuarakan dalam mata mereka, dan setelahnya, Jackson berkata dengan amat lembut. "Sabarlah sebentar lagi, oke? Tahun depan, semuanya akan segera dimulai."
"A-apa yang dimulai?" Jaebum menelan ludahnya, tenggorokannya sangat kering sampai ia sulit berbicara. Jackson tersenyum penuh arti. "Tahun saat kita bertemu," jawabnya, menggenggam tangan Jaebum. "Kita berempat. Aku, kamu, Mark dan Jinyoung. Tahun saat semuanya dimulai."
"B-bagaimana bisa—" Jaebum terbata-bata, tidak bisa memproses segala informasi ini. Mark dan Jackson akan ada di Korea? Dan Jackson kenal Jinyoung?
Jackson tertawa tertahan. "Setelah aku bertemu denganmu di umurku yang ke lima belas, aku melepas semuanya untuk kerja mati-matian. Butuh waktu tiga tahun bagiku untuk meyakinkan Mark sehingga dia mau ikut denganku ke Korea." Mulut Jaebum menganga mendengarnya, berusaha setengah mati untuk mencerna perkataan Jackson bahwa dirinya bekerja keras untuk bisa bertemu dengannya, melintasi lautan dan waktu. Dia melakukan begitu banyak untuk Jaebum, lebih dari yang pernah Jaebum lakukan untuknya.
"Ups." Kata Jackson, menggigit bibir bawahnya. "Harusnya aku tidak bilang ya?"
Senyuman Jackson yang begitu cerah membuat Jaebum tertawa berderai. "Sepertinya waktu akan menghukum kita karena ini. Tapi kalau untukmu…" dia membelai pipi Jackson, menyadari bahwa Jackson tengah bersemu merah, "…aku rela."
TO BE CONTINUED
Notes
Akan ada kira-kira 3 chapter lagi setelah ini. The story-plot itself sungguh sangat-sangat amazing. That's why dibela-belain translate saking pengen membagikan betapa kerennya ini fic TwT
Untuk yang review chapter kemarin, oh dear :") would you please hit me on pm or my tumblr or something karena kita butuh fangirling about Jackbum! Wkwk. Dan maafkan, ini bukan bottom!JB karena, well, kita tahu gimana clingy dan puppy-nya Jackson whenever dia lagi sama JB. So yea! Haha.
