Chapter 2
.
Empat hari telah berlalu. Empat hari yang sangat terasa berat secara mental, meskipun fisiknya tidak bekerja. Tinggal di sebuah kamar penginapan asing, Ino mulai bekerja. Setiap sore dia harus melakukan ujian tentang semua hal yang telah dipelajarinya setiap hari. Seluruh perincian kehidupan Sabaku Temari, sejauh yang dapat disimpulkan, telah tertulis di kertas dan dia harus menghafalkannya. Rumah tempat tinggalnya, para pelayan, para dewan Suna, familinya, kegiatannya, jenis baju, ukuran sepatu, porsi makan, acara televisi kesayangan, koleksi sepatu, warna cat kuku, ikat rambut dan kafe langganan.
"Apa mungkin ada yang berguna dari semua ini?"
Pria berambut abu perak itu dengan tenang menjawab, "Mungkin tidak, tapi kau harus menghayati sebagaimana aslinya. Menjadi Sabaku Temari. Bayangkan saja kau sedang menulis sebuah cerita, dan sebagai penulis, kau harus bisa melukiskan tokoh utama. Kau melukiskan tentang masa kecilnya, masa remajanya, masa pernikahannya, rumah tempat ia tinggal, dan tak lupa kesehariannya. Sementara itu, kau akan terbiasa dan kau terus mengulang semuanya, hingga kau menuliskannya sebagai otobiografi, lalu memakai kata gantinya menjadi saya."
Ino mengangguk, terkesan dengan pria itu. "Kurasa wanita bernama Temari ini memiliki karakter yang sangat berpengaruh."
Kakashi tak menyahut. Diamatinya Ino dengan pandangan memuji. Keterangan di dalam paspor Ino dan Temari memang hampir sama, tetapi wajah mereka amat berbeda. Kecantikan Temari biasa-biasa saja, tidak terlalu mencolok. Sedangkan wajah Ino mempunyai sorot kepercayaan diri dan menarik hati. Matanya yang dalam berwarna hijau kebiruan dan dinaungi alis yang lebat dan rata, memancarkan kecerdasan dan semangat yang berkobar-kobar. Garis bibirnya melengkung ke atas, lebar dan tegas. Garis rahanyanya istimewa—seolah dipahat dengan begitu sempurna.
Ino yang ditatap seperti itu, mau tak mau menjadi sedikit salah tingkah. "Apa?" katanya takut-takut. "Apa aku kurang meyakinkan?"
Kakashi menggeleng pelan. "Kau gadis yang pintar. Ada gairah di sana—semangat yang tinggi dan pantang menyerah—yang senang menikmati hidup dan berpetualang."
Gadis itu tersenyum. "Menurutmu ini akan berhasil?" tanya Ino. "Mengapa kau begitu yakin dengan rencana ini?"
"Kita tidak bisa benar-benar yakin tentang segala hal. Pada dasarnya mencoba suatu kemungkinan lebih baik daripada tidak sama sekali. Dan pada tingkat tertentu, kami tahu aturan mainnya. Secara internasional, kasus ini akan menjadi sorotan banyak orang, sangat menguntungkan beberapa pihak. Adapula beberapa organisasi yang ikut terlibat, tentunya dalam hal ini Konoha akan mengalami beberapa kerugian. Maka dari itu, kita harus mencoba lebih licin daripada musuh kita."
Ino bertanya, "Apa kau sebelumya pernah melakukan hal yang serupa?"
"Mungkin jenis kasusnya agak berbeda," kata Kakashi memberi jeda. "Kali ini si pelaku menggunakan publik untuk ikut andil dalam hal ini, namun secara keseluruhan, masalah ini cenderung sama. Setiap saat ada berbagai macam masalah dan peristiwa yang membuat kami sudah terbiasa dengan semua masalah yang ada."
"Apa nanti kau akan membuntutiku?"
"Tepatnya bukan diriku," Kakashi mengalihkan pandangannya ketika terdengar ketukan pelan di pintu. Sosok Shikamaru masuk dengan membawa dua tas besar. "Kau sudah tiba rupanya, kalau begitu aku akan mempercayakan sisanya padamu, Shikamaru."
Shikamaru mengangguk. Sedangkan Kakashi beranjak dari kursi menuju pintu hendak pergi. Tapi sebelum itu ia berbalik dan berkata, "Kau tidak akan pernah tahu kapan kita akan bertemu lagi, Nona."
Ino menatap pintu yang tertutup, kemudian pandangannya teralihkan pada Shikamaru yang mendudukkan diri di tempat kakashi sebelumnya. "Jadi kau yang akan membuntutiku?" kata Ino seraya memberi tatapan penuh selidik. Sedangakan yang ditanya hanya memberi tatapan bosan dan mengantuk. Rasanya Ino ingin menyiram wajah lelaki itu dengan air cucian penuh seember.
Shikamaru tidak menjawab, ia malah membuka tas dan mengeluarkan isinya yang membuat alis Ino mengernyit heran. Mengabaikan rasa penasarannya, Ino kembali bersuara, "Pertama-tama, bisakah kau memberitahuku sedikit petunjuk mengenai siapa diriku?—atau mungin kau mau memberitahu siapa nama lengkapku?"
"Sesuai kesepakatan, kami tak akan buka mulut sebelum kau memenuhi tugasmu," kata Shikamaru seraya menyodorkan selembar foto.
"Siapa dia?" Ino memandang sosok seorang wanita dengan model rambut kuncir empat yang ada di dl dalam foto tersebut.
"Sabaku Temari."
Ino terdiam beberapa detik, mencoba menemukan ingatan yang terasa samar di kepalanya. Namun, tak ada sesuatu pun yang ia ingat. Ia mendesah kecewa, membuat Shikamaru menatap ke arahnya. "Sebaiknya kau teruskan pelajaranmu."
Ino mendengus sebal. Orang bernama Shikamaru ini sangat menyebalkan, dan membuat moodnya jelek. Coba saja pria yang ada di depannya itu adalah Kakashi dan bukan Shikamaru, ia akan bersemangat melanjutkan pelajarannya mengenai kode, tanggapan, dan semua keperluan. Tapi pelajaran harus terus berlanjut, pertanyan, pengulangan, jebakan untuk mengecoh yang membuat Ino bingung.
Tak berapa lama tiba-tiba Ino bertanya dengan gamblangnya. "Apa kalian tidak takut jika aku buka mulut dan berkhianat?"
Shikamaru menoleh menatap Ino dengan tatapan serius. "Seharusnya, yang lebih kau khawatirkan adalah bagaiaman jika mereka tahu siapa kau sebenarnya."
Ino terdiam dan berfikir bahwa orang ini benar-benar menjengkelkan. "Kau sungguh membosankan," keluhnya. Namun selanjutnya Ino bisa mendengar pria itu bergumam, hanya sedikit saja ia mendengarnya, sekilas, dan itu sukses membuatnya dirundung dengan rasa ingin tahu. Tak sempat Ino bertanya, Shikamaru menyodorkan selembar foto lagi.
"Kau harus berhati-hati dengan orang ini."
"Dan siapakah pria imut ini?"
"Akasuna Sasori. Dia menemui Kakashi di Konoha, dan dia mestinya saudara jauh Sabaku."
"Mestinya?"
"Kalau memang benar seperti pengakuannya, dia masih bersepupu dengan Sabaku. Untuk saat ini dia termasuk daftar orang yang kami curigai."
"Sasori?" kata Ino mengerutkan kening. "Bisakah kau menjelaskan orang ini? Aku ingin bisa mengenalinya."
"Ya, mungkin ada baiknya jika kau tahu dia. Tingginya kira-kira 169, beratnya 60. Berambut merah—wajah seperti anak remaja, juga seperti pemain poker, dingin—warna mata terang, memiliki kepribadian yang perenung."
Ino menyimpan informasi tersebut dalam ingatannya dengan baik. Kemudian Shikamaru menambahkan, "Kami sudah menugaskan beberapa anggota Anbu untuk menguntitinya ketika meninggalkan kantor Konoha. Sejauh itu tak ada apa-apa, dia langsung melapor kepada petugas gerbang Konoha—sebagaimana seharusnya—dia menulis pernyataan dan surat pengantar dari sana. Tapi kami kehilangan jejak saat ia –yang mana bisa meninggalkan Konoha dengan mobil orang lain tentunya lewat jalur tertentu dengan menyamar sebagai petugas Anbu atau lainnya. Yang jelas dia berhasil menghindar dari kami."
"Memang mencurigakan" komentar Ino, "Seharusnya kalian lebih meningkatkan kewaspadaan padanya."
Shikamaru menyahut santai. "Tentu saja kami sudah melakukannya ketika dia pergi—"
"Bukan," kata Ino menyela, "Untuk apa ia repot-repot datang dan berlagak melapor segala?"
"Tentu saja—" Shikamaru tiba-tiba terkesiap ketika melihat Ino tersenyum mengejek ke arahnya.
"Tuan genius, menurutmu kenapa seseorang harus menyusup ke markas musuh?"
Mata sipit Shikamaru mendelik tajam ketika Ino melanjutkan, "Tidakkah ia mengatakan sesuatu yang memicu kemungkinan baru? Misalnya mungkin orang yang bernama Gaara ini bunuh diri, atau mungkin hal lainnya?"
Tanpa menunggu gadis di depannya menjabarkan lebih dari itu, dengan sigap Shikamaru menegakkan tubuhnya, sedangkan ekspresi wajahnya membuat Ino mengernyitkan sebelah alisnya bingung. Ia panik ketika Shikamaru hendak berlalu tanpa mengatakan apa pun. "Hei, hei—kau mau pergi?"
"Sampai saat Sakura datang untuk memeriksa kesehatanmu, kau sebaiknya teruskan pelajaranmu." Katanya sebelum benar-benar meninggalkan Ino yang memasang wajah cengo.
"Apa-apaan pria itu?" Katanya jengkel. Dan ia berjanji dalam hatinya, jika ia bertemu pria itu lagi, ia akan melempar buah nanas tepat di depan wajah jeleknya. "Benar-benar deh—dan apa katanya tadi? A-am blein-bienben? Konyol!"
Ino menghela napas. Rasa Jengkelnya hilang ketika ia melihat foto Temari lalu melirik isi tas yang Shikamaru bawa tadi. Ada banyak barang yang bisa Ino tebak semua itu adalah milik dari wanita yang kini fotonya ia amati lagi.
Lagi, Ino mengernyitkan sebelah alisnya. "Apanya dari dia yang mirip denganku?" katanya heran. Setelah ia teliti sendiri, mereka tidaklah terlalu mirip secara identik.
Wanita yang ada di foto itu memiliki warna rambut pirang lebih tua dari miliknya. Lalu warna mata wanita itu juga cenderung hijau tak seperti miliknya yang hijau kebiruan. Lalu.. Ino bertanya-tanya apa ia pernah meilihat wanita tersebut sebelumnya? Rasanya seperti tak terlalu asing baginya. Salahkan ingatannya yang hilang, sekeras apapun ia berusaha, ia tak menemukan ingatan tentang wanita itu.
Diletakannya foto tersebut di atas meja ketika terdengar suara ketukan di pintu. Sakura masuk dengan membawa tas dokter. Ino terlalu memikirkan banyak hal sampai-sampai ia tak pernah sempat bertanya kepada wanita berambut merah muda mencolok itu tentang pekerjaanya yang sesungguhnya.
Selain anggota tim ke-tujuh, ia juga merangkap menjadi dokter yang menanganinya selama empat hari terakhir ini. Dan egonya melarang ia untuk beramah-tamah dengan perempuan tersebut. Yah, tapi Ino tetap membiarkan dirinya diperiksa oleh Sakura, selama perempuan itu tak mencoba membuat Ino terpancing emosi sih tidak masalah untukknya. Terus begitu sampai saat luka Ino sembuh total dan mulai memenuhi tugasnya.
.
"Sialan!" suara penuh emosi itu bersal dari pria bermabut cokelat yang terlihat berantakan, kedua tangannya yang bebas kembali menjabak pelan rambutnya, kentara sekali ia dilanda frustrasi.
Shikamaru menguap lebar. Sekali lihat semua orang juga tahu kalau dia tidak mendapat waktu yang cukup untuk istirahat dan hanya tidur beberapa jam setiap harinya. Sebelumnya, ia telah meminta semua orang berkumpul untuk mengadakan rapat darurat, tapi sekarang rasa kantuk menyerang tanpa tahu situasi dan kondisi.
Pemuda tampan berambut raven mendecih melihat kelakuan si Nara. "Hentikan itu, Nara."
Shikamaru mengacuhkannya. Ia melihat ke arah Kakashi dengan mata suntuk. Dua hari berturut-tururt ia mengerjakan banyak hal yang merepotkan tanpa istirahat. Sekarang malah mendapati fakta yang tak pernah semua orang kira. "Kita telah lengah dan membiarkan musuh mengambil gulungan rahasia." Katanya dengan nada serius, tapi wajahnya tetap tak berubah. Ia mengantuk.
Lelaki berambut cokelat berseru, "Akasuna sialan!"
"Tapi Shikamaru, dari mana kau tahu kalau Akasuna yang mencuri gulungan rahasianya?" tanya Naruto heran mewakili rasa penasaran yang lainnya.
Shikamaru tidak langsung menjawab. Namun, semua orang di ruangan itu melihat jelas ekspresi wajah pria itu tak lagi terlihat suntuk dan mengantuk. Ia menatap serius ke arah Kakashi. "Sepertinya kita melibatkan orang yang tepat, Hokage-sama." Katanya tak relevan dengan pertanyaan si pirang. Sebelum Naruto hendak memprotesnya, Shikamaru melanjutkan, "Gadis itu, Nona pirang, apa sudah ada informasi mengenai identitasnya?"
Kakashi menggeleng. Ia sama sekali belum menemukan suatu petunjuk pun mengenai gadis itu. Ia ingat betul saat Shikamaru menemukan gadis itu. Awalnya ia sangat meragukan ide Shikamaru yang menurutnya tak masuk akal. Melibatkan orang luar untuk menyamar sebagai Temari. Sungguh, ia sudah seperti kehilangan akal. Namun, semua situasi ini membuatnya benar-benar kehilangan akal sehat.
"Mengenai itu," katanya. "Aku tak bisa menjamin bisa mendapat petunjuk tentang identitasnya."
Yamato yang ada di sampinya berseru. "Sudah kukatakan semua ini terlalu berisiko!"
"lalu apa kau punya ide yang lebih baik?" tanya Shikamaru membuat Yamato bungkam.
Benar, mereka tak punya pilihan lain. situasi ini benar-benar tak menguntungkan pihak Konoha. Selain itu, jika mereka tak bergerak cepat, maka semua akan berakhir sia-sia. Dan Kakashi tak akan membiarkan Konoha kaehilangan aliansi dengan Sunagakure begitu saja.
.
Di ruang tamu mewah dan formal di gedung kejayaan Sunagakure, tiga orang duduk. Masing-masing punya kesibukan sendiri. Sabaku kankurou, tinggi, kurus, berambut cokelat, sedang membaca deretan kata yang mampu membuat alisnya naik turun.
Di sebelah kursi dekat jendela kaca, duduk seorang gadis yang setia menunggu perintah selanjutnya dari tuannya. Dia seperti kebanyakan perempuan Suna lainnya. Tubuhnya kurus, rambutnya pendek sebahu berwarna cokelat.
"Matsuri, " panggil Kankurou pada gadis itu. "Bisa kau panggilkan Baki untuk menghadapku sekarang?"
Gadis itu menegakan tubuhnya dan mengangguk patuh seraya berkata, "Baik, Kankurou-sama."
Pria satunya berambut merah yang memberi tatapan datar menatap ke arah kankurou setelah kepergian gadis bernama Matsuri tadi. "Aku harus pergi."
"Kau tak mau menemui yang lainnya dulu?" katanya cepat ketika melihat pria itu hendak beranjak pergi. "Tinggalah di sini sedikit lebih lama."
"Pekerjaanku sudah selesai." Sahutnya datar, ia melihat sebuah gulungan di tangan Kankurou. kemudian tanpa ba bi bu ia beranjak pergi dari sana, meninggalkan Kankurou yang mendecih pelan.
"Akasuna sialan itu tak pernah berubah sedikit pun."
Begitu sang pria yang berambut merah itu menutup pintu, pandangannya menilik ke adaan sekitar. Mengamati situasi dan mencari tiap sudut di mana kamera pengawas diletakan. Keamanan di sana cukup ketat. Ia melihat beberapa penjaga memasang mata ke arahnya, mentap Sasori dengan tatapan penuh selidik. Namun, ia tetap berjalan tenang ke arah pintu lift yang langsung terbuka. Ia masuk dan begitu pintu tertutup kembali, pria itu menyentuh ujung daun telinga kanannya.
"Aku sudah selesai," katanya datar. "Bagaiamana keadaan di sana?"
"Aku sudah membereskan beberapa penjaga," jawab orang itu—yang dipanggil lewat sebuah alat yang diselipkan di daun telinganya. "Sebaiknya kita cepat membereskan tugas kita—"
"Jangan terburu-buru," kata Sasori mengingatkan, sebagai senior ia patut memberi rekan barunya saran yang tepat. "Orang yang bisa mengendalikan ego, dialah sang pemenang."Sasori mengabaikan dengusan sebal yang masih terdengar di telinganya.
"Aku tak akan pernah menganggapmu seniorku, Un!—"
klik
Ia memutuskan sambungan dari alat tersbut sebelum sang lawan bicara menyelesaikan kalimatnya. Saat itu pintu lift terbuka menunjukan tanda bahwa ia sudah ada di lantai ke dua. Ia keluar dan berjalan menuju seseorang yang berdiri di dekat pintu kemanan. Pemuda itu dengan tak sabar menunjuk ke arah tangga darurat. "Ck, kau lama sekali Sasori!"
"Daripada mengeluh, lebih baik kau perhatikan arah belakangmu, Deidara."
BRUGH!
"Sialan! Kupikir dia sudah mati dengan ledakanku tadi!" serunya seraya menatap sosok tubuh tegap tersungkur di depannya.
Sasori yang ada di sampingnya menilik keadaan sekitar mereka. "Kau tak boleh lengah," katanya. namun yang dinasehati malah mendecih tak terima. Sepertinya ia enggan dinasehati oleh Sasori yang notabene nampak lebih muda darinya. "Pertama-tama kita harus menghabisi orang-orang sampah tak berguna terlebih dahulu."
"Aku tau, Un!" katanya. "Aku hanya tak sabar untuk menghabisi si Sabaku lalu menyelesaikan tugas ini dan pulang!"
Sasori tak menanggapi. Lama-lama ia bosan juga memperingati pria pirang keras kepala itu. Memiliki semangat bertarung yang menggebu memang bagus, tapi sejak awal Sasori sudah tahu kalau lelaki itu jenis orang yang cepat mati. "Meskipun menjengkelkan, tapi aku lebih suka dipasangkan dengan Orochimaru." Gumamnya sambil berlalu dengan Deidara mengekor di belakangnya.
.
Nara Temari keluar dari rumah sakit sore itu. Setelah lima hari mendapatkan pengobatan dan pemulihan, ambulans dari sana langsung mengirimnya ke tempat tujuan semula. Tentu saja mereka memilih jalur darat yang bisa memakan waktu berjam-jam lamanya. Tapi itu adalah pilihan terbaik daripada membiarkan wanita itu harus kembali meneruskannya lewat jalur udara yang nyaris saja merenggut jiwanya.
Kebijakan dari Kirigakurelah yang memutuskannya, mereka tahu wanita itu bukanlah warga asing yang harus diabaikan, melainkan harus mengatarnya dengan selamat lalu bisa mendapat upah yang setimpal dari pemerintahan Suna karena bisa membawa wanita itu pulang dengan tanpa kurang suatu apapun kecuali separuh ingatannya—tentunya.
Ia masih terlihat pucat dan kurang sehat, dengan wajanya diplester sedangkan kepalanya dibalut perban. Gadis itu langsung disambut beberapa orang ketika ia sampai di depan rumah besar bergaya barat. Ia melihat satu-satu wajah asing yang ada di sana. Salah satunya gadis dengan potongan rambut pendek cokelat yang memberi tatapan simpati. Ia hendak berkata sebelum sebuah suara mendahuluianya.
"Temari! Oh—oh, tuhan!" ucap seorang lelaki berambut cokelat panik dan berjalan tergesa ke arahnya. Tangan pria itu meraih jemari lentik sang gadis, direngkuhnya pelan ke dalam pelukannya sebentar. "Kau sungguh baik-baik saja?"
Ino mengangguk pelan. Hatinya mendadak merasa bersalah mendengar nada khawatir dari lelaki itu.
Kankurou membantu Ino berjalan masuk ke dalam rumah—tepatnya ke ruangan Kazekage. Ino menatap lelaki itu dengan saksama. Ia menduga bahwa lelaki itu pastinya adalah Sabaku Kankurou, adik keduanya. Bedannya, tak ada tato di wajahnya sebagaimana Ino melihatnya tempo hari di foto dalam berkas-berkas yang Shikamaru berikan padanya.
"Tunggu sampai Gaara melihatmu."
DEG
Apa katanya barusan? Gaara? Oh, tuhan... jadi ternyata benar orang bernama Gaara ini tidaklah menghilang seperti apa yang diberitakan? Jadi kecurigaan Kakashi memang benar adanya!
Ino menjadi gugup, tiba-tiba saja pemikiran buruk melintas di pikirannya. Segala kemungkinan yang tak masuk akal melayang dalam benaknya. Tentang lelaki bernama Gaara, tentang rencana buruk yang Kakashi katakan, tentang Suna. Semuanya berputar-putar di kepalanya. Sejenak kemudian pandangannya teralihkan pada beberapa hal yang menganggu pikirannya. Di luar sana, dari balik kaca jendela ia melihat hal yang sulit dipercaya. Namun, tak sampai ia menyeruakan keheranannya, Kankurou menuntunnya masuk ke sebuah ruangan besar dan formal.
Di sana, ia bisa melihat seorang lelaki berambut merah bata dan memiliki tato di dahinya dengan tulisan kanji Ai. Lelaki itu tidak bangkit untuk memeluk atau bahkan menyalaminya seperti yang Kankorou lakukan. Ia hanya berkata dengan suara tanpa emosi, "Akhirnya kau pulang, Temari."
Sejenak Ino terpaku. Ia bertanya-tanya. Jadi—ini dia! Ia menguatkan hati. Saat seperti ini yang ia tunggu, latihan yang telah ia lakukan, pembelajan dan semuanya. Inilah saatnya ia berlaku seperti Temari tanpa membuat keraguan. Ia maju dengan tenang dan berkata, "Bagaimana kondisi sesungguhnya saat ini, Gaara?"
Pertanyaan Ino yang langsung ke inti permasalahan membuat Gaara menarik sudut bibirnya sekilas. Dalam lubuk hatinya Ino bersumpah, bahwa lelaki itu memiliki senyuman yang sangat menakutkan. Namun demikian hatinya langsung mencelos ketika Gaara berkata mencela, "Saat tiba di sini, kulihat kau agak linglung, Temari. Jangan bilang kau hampir lupa Suna seperti apa karena terlalu lama tinggal di negara orang."
Ino hanya menatap balik pria itu, ia sepenuhnya berusaha untuk tak menujukan kecurigaan. "Tepat—kenapa ada banyak hal yang begitu menganggu? Kau tak berencana mengubah negara ini 'kan?" katanya. Sekali lagi Ino terpaku dengan tatapan Gaara ke arahnya. "Kau tidak mengerti. Aku baru saja selamat dari sebuah kecelakaan yang membuat ingatanku kacau. Sepenuhnya aku mengingat semua kejadian-kejadian di masa lalu, tapi ada beberapa yang sama sekali tak bisa kuingat." Ino menatap pria itu lurus-lurus, ia berkata tanpa sedikitpun keraguan, "Semakin aku berusaha mengingat, semakin aku lupa."
"Ya," kata Gaara "Kecelakaan pesawat itu sungguh di luar dugaan." Bicaranya dingin tanpa perasaan.
"Sudahlah Gaara, dia baru tiba, dingin sekali kau memperlakukan kakak perempuanmu seperti itu."
Mengacuhkan perkataan Kankurou, Gaara kembali berkata, "Menurutmu apakah pemerintah Konoha sudah bisa menebak apa rencana kita yang sesungguhnya?"
Ino menggeleng. "Tapi aku berani bertaruh mereka sudah bergerak cepat untuk mengatasi masalah ini," kata Ino yakin. "Dan kemungkinan besar aku telah diikuti sampai ke sini. Aku tak bisa menunjuk orang tertentu, tapi jelas sekali aku sudah diawasi sejak masih di Konoha."
"Tentu saja." Kata Gaara, nada suaranya tak berubah. "Itu sudah kuperhitungkan sebelumnya."
"Aku hanya mengingatkan," balas Ino. "Mereka bukan lawan yang mudah."
"Maka dari itu kita harus bergerak cepat."
Ino mengangguk. Tatapannya masih terpaku pada Gaara yang kini mulai beranjak dari duduknya. Orang itu adalah orang yang Ino tempatkan di urutan pertama orang paling berbahaya. Ia tak boleh gegabah atau bahkan sampai salah bicara.
"Kalian benar-benar orang yang membosankan." Keluh Kankukou yang tak digubris oleh keduannya. "Biar kuantar kau ke kamarmu, Temari." Katanya ketika melihat Ino mulai beranjak pamit.
Ino harus bersyukur dalam hatinya ketika lelaki itu bersedia mengantar dirinya ke kamar Temari. Jujur saja, Ino tak tahu di mana tepatnya letak kamar milik Temari, dan juga Ino sedikit bingung dengan banyaknya koridor panjang dan berkelok-kelok. Rumah ini terlalu besar jika hanya mereka bertiga yang menempatinya, dan Ino bertanya-tanya dalam hati, apakah mereka tak memiliki pelayan yang cukup? Sepanjang penglihatannya ia tak menemukan satu pelayan pun.
"Para pelayan sudah kembali ke rumah mereka masing-masing," kata kankurou seolah-olah menjawab pertanyaan di benak Ino. Dan sang gadis mengangguk sebagai tanda paham. "Mereka akan datang tepat pukul enam pagi, dan pulang setelah menyiapkan makan malam, sekitar pukul sembilan."
Lagi Ino mengangguk sekilas, kemudian bertanya, "Kenapa mereka tidak menginap?—kau tahu 'kan, akan lebih mudah jika mereka tinggal di sini?"
Kankurou tersenyum simpul mendengar pertanyaan tersebut. "Dari dulu Gaara tidak suka jika ada orang luar tinggal di rumah, bukan?"
Ino nyaris saja tersedak ludahnya sendiri saking kaget. Jantungnya berdebar kencang ketika sadar akan kecerobohannya. Tapi ia bisa bernapas lega ketika Kankurou hanya mengedikan bahu tak menaruh curiga ataupun ambil pusing soal kekeliruan Ino.
"Sudah sampai," Kata lelaki itu menyadarkan Ino dari lamunannya. "Kopermu pasti sudah ada di dalam. Tadi kusuruh Matsuri membawanya."
Ino teringat pada gadis berambut cokelat pendek yang menyambutnya tadi. Lalu ia melihat kankurou membuka pintu, lelaki itu melihat ke arahnya dengan tatapan khawatir. "Istirahatlah, kau terlihat letih dan pucat."
Ino hanya mengangguk pelan. Ya, benar. Ia memang sangat letih dan butuh istirahat. Dengan itu ia masuk hendak duduk di tepian ranjang besar untuk mengistirahatkan tubuhnya. Kemudian Ino melihat ke arah Kankurou yang masih berdiri di depan pintu. "Selamat tidur." Katanya seraya menutup pintu.
Perlahan Ino merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia menggeliat nyaman merasakan kasur empuk itu merileksasikan tubuhnya yang kaku. "Aku tidak peduli~" katanya, "Aku serahkan sisanya pada diriku di hari esok~" Detik berikutnya, ia terlelap tidur tanpa repot-repot membasuh wajah, tangan dan kakinya terlebih dahulu.
To be continued.
