Loving You

Chapter 2

Disclaimer : Bleach by Tite Kubo

Loving You by Sora Hinase

Pairing : IchiRuki

Rated : T

Genre : Romance, Family

Warning : OC, OOC, AU, dsb.

.

.

.

Happy Reading ^^

.

.

'Rukia, Kaien kecelakaan."

.

'Aku sangat mencintaimu, ini bukan salahmu.'

.

.

Mimpi buruk itu lagi, Kaien apa yang harus aku lakukan?

"Nee-san pikir kamu belum bangun," ujar Hisana-nee saat memasuki kamarku.

Aku tak berkata apa-apa pada Nee-san hanya langsung memeluk Nee-san saat dia sudah mendudukan diri di tepi ranjangku.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Kamu tiba-tiba datang kemari seorang diri, bukannya Nee-san tak suka tapi kamu sudah menikah dan terlebih lagi kamu sudah memiliki putri, apa kamu tak khawatir dengan keadaan Rui?" ujar Hisana-nee seraya membelai rambutku.

"Nee-san, aku merindukan Kaien," ujarku yang mulai terisak.

"Sstt, kamu sudah menikah sayang, aku tahu Kaien adalah cinta pertamamu dan kamu sangat mencintainya tapi kamu sudah menikah. Saat seorang wanita menikah itu artinya dia harus mengabdi kepada suaminya, jiwa dan raganya hanya milik suaminya seorang. Aku tahu kamu menikah bukan karena cinta dan aku pun tak melarangmu untuk mengunjungi Kaien tapi kamu tak boleh melalaikan tugasmu sebagai seorang istri dan seorang ibu, kamu bukan anak ABG lagi."

"Aku sudah berusaha Nee-san, aku sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik, aku berusaha untuk mencintai Ichigo tapi apapun yang aku lakukan tetap tak akan merubah apapun, kenyataannya dia tergila-gila pada orang lain, seharusnya pernikahan ini tak pernah terjadi."

.

.

.

.

.

Aku cukup terkejut saat terbangun tiba-tiba saja aku sudah berada di ruangan serba putih ini dengan jarum infus yang terpasang di pergelangan tangan kananku, seingatku aku tadi berada di makam Kaien kenapa sekarang aku bisa berada di sini?

"Tou-san, Kaa-san sadar."

Aku merasakan sepasang tangan kecil menggenggam telapak tangan kananku, itu pasti Rui karena baru saja aku mendengar suaranya. Tunggu dulu, jika Rui ada di sini berarti dia juga ada di sini, untuk apa dia kemari? Aku mencoba untuk duduk dan langsung di bantu oleh dia. Aku melihat wajah kelegaan Hisana-nee saat aku menatapnya.

"Kamu membutuhkan sesuatu, Rukia?" tanyanya. Dia terlihat khawatir atau pura-pura khawatir?

"Kenapa aku ada di sini?"

"Aku akan memanggil dokter dulu," ujar Hisana-nee seraya meninggalkan ruangan.

"Minumlah," ujarnya sambil memberikan segelas air putih, aku menerimanya dan meminumnya sedikit sebelum aku berikan kembali kepadanya.

"Kaa-san, Rui takut Kaa-san kenapa-kenapa," ujar Rui sambil merentangkan tangannya yang tentu saja langsung aku sambut, membawa Rui ke dalam pangkuanku, memeluknya dan mencium keningnya.

"Sayang, maafkan Kaa-san," ujarku seraya kembali memeluk Rui. Dapat aku lihat dia membelai rambut Rui sekilas.

"Rui terus-menerus merengek untuk menyusulmu makanya aku membawanya kemari tapi di tengah jalan aku justru mendapat kabar dari Hisana-nee jika kamu pingsan di makam Kaien. Kenapa kamu tak bilang jika ingin mengunjung makam Kaien? Kita bisa pergi bersama," ujar Ichigo.

Aku terdiam tak berkata apa-apa sampai seorang dokter masuk.

"Rui tidur, Rukia?" tanya Hisane-nee yang ikut masuk bersama dokter tadi.

"Iya," ujarku sambil melihat wajah damai Rui, aku bahkan tak sadar kalau dia tertidur.

"Rui pasti lelah, biar aku bawa dia pulang kebetulan sebentar lagi Byakuya-sama datang, nanti sore aku kembali," ujar Hisana-nee, kemudian dia mengambil Rui dari pangkuanku dan mencium pipiku sebelum berlalu meninggalkan kamar ini.

"Permisi, saya periksa dulu," ujar sang dokter sebelum memeriksa denyut nadiku dan detak jantungku, setelah itu meneriksa infusku.

"Kondisi anda sudah membaik, hanya saja anda harus lebih memperhatikan pola makan anda, jangan terlalu lelah dan jangan terlalu memikirkan masalah karena itu berbahaya bagi janin anda terutama diusia trisemester pertama."

"Janin?" tanyaku tak dapat menyembunyikan keterkejutanku.

"Anda belum memberitahu istri anda, Tuan?" tanya sang dokter sambil menatap dia heran.

"Saya belum sempat memberitahunya," ujarnya dengan senyum kikuk sedangkan aku masih memasang wajah syokku.

"Ah maaf jika saya merusak suasana, kalau begitu saya permisi dulu dan selamat untuk kalian berdua," ujar sang dokter ramah dengan senyumannya sebelum meninggalkan ruangan.

"Apa maksudnya ini?" tanyaku tanpa menatap Ichigo.

"Sebentar lagi Rui akan memiliki adik, kamu sedang mengandung saat ini dan usianya baru 3 minggu," ujar Ichigo seraya mencium kening, kedua kelopak mata, hidung, kedua pipi dan terakhir bibirku, aku tak merespon," terima kasih, Rukia," lanjutnya.

Tes

"Kenapa kamu menangis?" ujar Ichigo sesaat setelah ia duduk di ranjangku. Aku juga tak tahu kenapa aku menangis, mungkin aku sadar jika ini adalah kesalahan. Aku membiarkan Ichigo menghapus air mataku.

"Seharusnya aku tak hamil," ujarku masih dengan tatapan kosong.

"Apa maksudmu, Rukia?"

"Kita tak saling mencintai, pernikahan ini tak mungkin berhasil," dan tanpa persetujuanku air mataku kembali megalir.

"Kamu ini bicara apa, Rukia? Kita bahkan telah memiliki Rui jadi bagaimana-"

"Kamu bisa menceraikanku, aku tak ingin menjadi penghalang bagi kebahagianmu, kamu pantas bahagia. Sejak awal pernikahan ini salah," ujarku memotong perkataan Ichigo.

"Salah? Kamu menganggap pernikahan kita sebuah kesalahan? Apa kamu juga menganggap Rui adalah kesalahan? Pantas saja kamu tega meninggalkan Rui bersamaku," ujar Ichigo dengan tatapan sinisnya sebelum berdiri dari duduknya menuju jendela di dekat ranjangku.

"Tidak, tentu saja tidak. Aku tak pernah bermaksud meninggalkan Rui, aku bahkan rela mengorbankan nyawaku demi Rui," ujarku sambil menatap punggung Ichigo karena saat ini dia sedang menatap keluar jendela, memunggungiku.

"Bagiku kebahagianku adalah bersama kalian."

"Bersama kami? Jika kamu bahagia bersama kami, kamu tak akan menyebut nama perempuan lain di atas ranjang kita!"

"Apa maksudmu, Rukia? Aku tak-"

"Aku lelah, kau dengar sendiri bukan jika aku tak boleh terlalu lelah dan stress? Jadi, sebaiknya kamu keluar sekarang dan aku tak keberatan jika kamu mengurus surat cerai kita sekarang agar kamu bisa cepat-cepat bersama wanita itu. Tenang saja aku bisa membesarkan anak ini dan Rui seorang diri," ujarku seraya kembali rebahan di tempat tidur, aku memiringkan tubuhku memunggungi Ichigo dan mencoba untuk memejamkan kedua mataku.

"Aku tak mengerti dengan apa yang kamu katakan, Rukia. Tapi, perlu kamu ketahui jika aku tak akan pernah mau menceraikanmu sekalipun Kaien bangkit dari kuburnya dan asal kamu tahu memilikimu dan Rui adalah anugrag terindah dalam hidupmu, aku sangat bahagia saat tadi, dokter mengatakan jika kamu sedang mengandung lagi."

Itu hal terakhir yang aku dengar sebelum ada bunyi pintu dibuka dan di tutup kembali. Air mataku mengalir semakin deras tanpa bisa aku hentikan. Kenapa aku menangis? Bukankah aku tak mencintai Ichigo?

.

.

.

.

.

"Amethyst Lucya? Ayo kita menikah!"

Bagaimana perasaanmu jika tiba-tiba ada orang tak dikenal datang ke rumahmu, melamarmu dan Amethyst Lucya? Bukannya itu pen name ku di Fanfiction?

TBC

Makasih buat yang udah review ^^

darries, My self, chiyurin, jessi, akasaki rinko.

Semoga sudah terjawab pertanyaannya ^^

Review please? :)