"SELF : KyuMin's Stories"

o

O

Cast : KYUMIN 3

Genre : errr tak tentu -_-

Warning !

Yaoi

.

.


"this is part MIaNhae"


.

.

.

Sepasang namja yang tengah bergandengan mesra dengan senyuman hangat dibibir mereka masing-masing Membuat siapa saja yang melihat nya pasti akan sangat iri.

Apalagi paras keduanya yang bisa dikatakan sempurna.

Salah satu dari mereka berpostur tubuh tinggi, berkulit putih pucat, mata hazel yang menawan, serta wajah yang sangat rupawan.

Sedangkan salah satunya lagi, bertubuh lebih pendek dari namja pertama, berwajah bak seorang malaikat yang sangat kaya akan keindahannya, sepasang foxy kemilau berbinar indah, saat sang kekasih mengeratkan genggamannya pada tanyannya.

Sosok yang kurang lebih 2 tahun telah mengisi hati nya dan memberi warna yang lebih kompleks pada kehidupannya.

Namja benama Cho Kyuhyun berhasil mengikat hatinya hingga ia tak bisa lagi berpaling kearah yang lainnya.

Namja yang menjadi idaman di sekolahnya, namun beruntungnya ia saat mengetahui sang namja populer itu menyatakan cinta padanya di depan murid-murid lain dan bahkan para guru.

"Kyu~ hari ini aku mau kita ke toko buku"

Sebuah rengekan manja namja manis bernama Sungmin itu sontak membuat banyak murid yang mendengarnya ikut memejamkan matanya gemas.

Senyuman tipis diwajah tampan nan rupawan Kyuhyun terpatri mendengarnya. Sangat manis dan menggemaskan sekali. Pikirnya.

Tangan kokohnya terulur mengacak surai halus kekasih yang ia cintai.

"Ne, apapun untukmu sayang"

Owh, betapa manisnya kalimat tersebut~

Hati siapa yang tidak tersengat saat sang kekasih yang dicintai menyanggupi apa yang kita inginkan.

...000...

Derap langkah terdengar sangat tergesa-gesa itu memecahkan keheningan di setiap koridor sekolah.

Terlihat seorang namja manis bertubuh mungil sedang berlari menuju salah satu bilik bertuliskan 'Men' dengan gambar seperti tuyul di atasnya.

Tangan mungil yang sedari tadi membekap hidung dan mulutnya mulai terlepas.

Di lihatnya miris telapak tangannya yang telah penuh dengan warna merah. Darah..

Baru karat langsung tercium di indera penciumannya.

Ditariknya sebuah tisu roll yang terdapat disisi kananya dengan tangan yang penuh darah itu.

Diusapnya lembut hidung bangirnya,

"Menyusahkan saja" gerutunya sambil menyeka bersih hidungnya.

Dirasa sudah bersih, iya mulai keluar dari salah satu bilik kecil tersebut dan berjalan menuju jejeran wastafel lalu mencuci tangannya.

Dikeringkannya tangan halus tersebut dengan handuk kecil yang tersedia dan menatap pantulan dirinya pada cermin dihadapannya.

"Wajahku kian tirus" gumamnya dengan menyentuh pipi putih yang dirasa tak chubby lagi.

Helaan nafas panjang terdengar dari bibir poutynya. Ia berbalik namu masih bertumpu pada keramik pinggiran wastafel.

Dirasa pening dikepalanya mulai melanda ia mencekam kepalanya kuat. Rintihan kecil di bibir merah sakuranya mengalun membelah keheningan toilet khusus pria di sekolahnya.

'Sakit... Eomma..'

.

.

.

Ia berlari, tak menghiraukan tubuhnya tertabrak kesana dan kesini oleh para murid lainnya. Pikirannya kalut saat memgunjungi sebuah kelas yang ditempati ileh kekasihnya .

Sang kekasih tak ada disana, ia tak habis pikir Sungmin akan meninggalkan pelajaran tanpa memberi kabar kepadanya.

Setidaknya hanya sebuah pesan kecil akan membuatnya SEDIKIT lebih tenang.

Nafasnya memendek, kakinya melemas sesaat mengitari sekolah high school yang sangat luas ini.

Tangannya terulur merogoh saku celananya dan mendial sebuah nomor keramat baginya.

"Ayolah Ming, angkat" ia menggumam menantikan teleponnya terangkat oleh sosok yang membelokkan orientasi seksualnya itu.

"Aishhh! Kenapa tidak aktif! Kau dimana Ming?" mata hazelnya menghunus kesegala arah mencari sosok bertubuh mungil itu.

Namun secara tak sengaja ia melihat sosok tersebut tengah keluar dari toilet dengan wajah datar.

'Ya tuhan' batinnya lega.

"MING!" suara yang cukup keras hingga Membuat banyak pasang mata menatap aneh kearah nya. Ia tak perduli dengan semua itu.

Sosok mungil yang merasa dirinya terpanggil menoleh kan kepalanya dan membulatkan mata foxynya lucu.

Namja tampan itu berlari menuju kearah nya.

Grepp

"Kau kemana saja? Aku mencarimu" ucapnya dengan merengkuh tubuh Sungmin erat.

Sungmin yang mendapat serangan mendadak dari Kyuhyun hanya tersenyum dan membalas rengkuhan di tubuh Kyuhyun.

Ia menggesekkan hidung bangirnya pada tubuh berkeringat Kyuhyun. Menghirup kuat aroma alami tubuh Kyuhyun.

Ia sangat menyukai aroma khas kekasihnya yang sangat memabukkan.

"Aku hanya kekamar mandi sebentar" ucapnya tenang.

Kyuhyun melepaskan rengkuhannya secara paksa dan mengarahkan tatapan tajam pada kekasih imutnya.

"Hanya sebentar katamu? Kau bahkan 2 jam tak mengikuti pelajaran Tan Seongsaenim. apa itu waktu yang sebentar untuk mendekam dalam kamar mandi ?"

Mata bulat Sungmin bertambah bulat dengan mendengar penjelasan dari Kyuhyun yang memojokkannya.

'Bagaimana ia bisa tahu?' batinnya bertannya-tanya.

Matanya menatap takut kearah Kyuhyun. Diremasnya ujung jari-jari pendeknya.

"Itu... A-aku sakit perut Kyu~" alasan yang cukup masuk akal mungkin, tapi Kyuhyun masih tak percaya mendengar alasan Sungmin.

Melihat kekasihnya yang masih diam menatap tajam kearahnya, Sungmin semakin gelisah.

"Kau tak percaya padaku Kyunnie~" mata puppy yang ia lancarkan membuat Kyuhyun mau tak mau menghela nafasnya.

Diperbaikinya mimik wajah tampannya dan mengusap kepala Sungmin lembut.

"Ne, aku mempercayaimu chagi, hanya saja aku khawatir" ucap Kyuhyun tulus. Mata hazel dengan bingkai bulumata panjang nan tebal itu menyalurkan rasa kasih sayang yang tulus pada kekasih yang sangat ia cintai dihadapannya.

Hati namja manis bermarga Lee itu bergetar mendengarnya. Beruntung sekali ia mendapatkan namjachingu yang sangat mencintainya itu.

Diulurkan tangannya untuk menggapai tubuh kekasihnya yang lebih tinggi darinya.

Rengkuhan hangat nan lembut Sungmin pada tubuh Kyuhyun membuat Kyuhyun berdebar, meski ini bukan yang pertama namun masih saja ia merasakan sesuatu yang menyengatnya secara menyeluruh seperti ini.

Ia tersenyum tulus dan membalas rengkuhan Sungmin.

"Aku sangat mencintaimu Ming"

"Ne, aku juga sangat mencintaimu"

Tautan mereka bertambah erat, tanpa memperdulikan banyak pasang mata yang melirik iri kearah mereka.

'Mianhe Kyunnie'


"Sayang apa kau sudah siap?" suara seorang yeoja dengan paras cantik berusia kurang lebih 40 tahunan tengah menenteng tas mewah berwarna merah mencolok keluar dari kamar besarnya dan menghampiri sang anak yang tengah serius dengan ponselnya meski sebuah televisi LED didepannya tengah menyala.

Sang Eomma yang bernama lengkap Lee Leeteuk itu menggelengkan kepalanya melihat kebiasaan buruk putra semata wayangnya.

"Pasti Kyuhyun, hingga kau mengabaikan televisimu , apakaah Eomma benar?"

Dengan jahil sang Eomma duduk disamping putra manisnya dan mencolek dagu sang anak.

"Ish! Eomma! Jangan menggodaku" bibir pouty itu mengerucut imut melihat sang Eomma menggodanya habis-habisan.

Perempuan yang telah membesarkannya selama 18 tahun itu hanya tertawa melihat kelakuan menggemaskan sang anak.

"Aishh.. Eomma!"

"Baiklah, baiklah... Sekarang bersiaplah, kita berangkat 15 menit lagi, arraseo?"

Tak mau Membuat mood sang anak memburuk, Leeteuk pun menghentikan tawanya dan menyuruh anaknya untuk segera bersiap.

'07.30 pm'

Suara seorang perawat perempuan muda menggema ,Membuat kedua pasang orang tua dan anak itu mengkat kepalanya dan berpandangan satu sama lain.

"Ayo sayang kita masuk"

...000...

"Ah, Nyonya Lee. Selamat malam"

"Malam dokter"

Mata sang dokter muda itu mengarah pada sosok mungil dengan jaket berwarna abu-abu tersebut.

"Selamat malam, Sungmin-ah"

"Malam, dokter Choi"

...000...

"Jadi, apakah hari ini kau mengalami pusing hebat lagi?"

Yang menjadi tersangka hanya mengangguk sebagai jawaban. Raut wajah sang Eomma menegang.

"Apakah kondisi anak saya bertambah buruk dokter Choi?"

Sungmin menunduk mendengar nada khawatir sang Eomma.

Dokter berusia 22 tahun itu melepaskan kacamatanya dan mengambil selembar kertas dengan banyak huruf diatasnya.

"Ini hasil pemeriksaan minggu lalu, dan juga lihat ini" ia mengarahkan sebuah hasil foto scan yang ia pegang kepada Leeteuk maupun Sungmin.

"Penyakitnya semakin hari semakin berkembang pesat, jika tidak segera melakukan operasi, Sungmin akan sering merasakan kesakitan"

Kedua nafas itu tercekat seiring dengan penjelasan dari dokter muda itu.

"Kalau.. T-tidak melakukan O-operasi, a-apa yang akan terjadi dokter?"

.

.

.

"Chagi, hari ini kita jalan-jalan bagaimana?"

"Mianhe kyu, aku..tidak bisa, aku..ada tugas dari Park Seongsaenim dan besok harus dikumpulkan"

Kecewa mendengar sang kekasih menolak tawarannya, Kyuhyun tersenyum kecut lalu menggenggam tangan lembut Sungmin.

"Aku temani ya"

"Aniyo, aku ingin mengerjakannya sendiri kyunnie~"

Tak kuasa tangannya untuk tak mencubit pipi gembul itu.

"Baiklah"

'Mian kyu, jeongmal mianhe'

.

.

"Ah, selamat sore dokter Choi, mianhe membuatmu menunggu lama" sosok pemuda manis dengan baju kasualnya membuat penampilannya jauh lebih menawan dibanding saat ia mengenakan seragam kebanggaannya.

Senyuman khas dokter muda itu berkembang dan memperlihatkan lesung pipi yang menawan.

"Aniyo, Sungmin-ah. Jadi, kau mau pesan apa?" ucapnya dengan membuka salah satu buku menu makanan yang tersedia.

"Ah, aku Tiramitsu dengan Chocolate saja"

"Makanan manis? Baiklah. Pelayan, tolong bawakan Tiramitsu dua dan Chocolatenya dua"

Senyuman keduanya perlahan memudar. Seiring dengan ingatan mereka yang membawa mereka ketempat ini.

"Begini, sungmin-ah. Kau tahukan kalau penyakitmu itu..sudah stadium 3 jadi ada baiknya kau mengurangi kegiatanmu atau kau istirahat total dari semua aktivitasmu"

Helaan nafas berat Sungmin membuat Siwon merasa sedikit bersalah.

Sungmin adalah pasiennya sejak 1 tahun yang lalu. Pemuda yang mempunyai kiat sembuh yang kuat itu menderita penyakit kronis yaitu kanker otak.

Terdengar sangat mengerikan jika yang mengalaminya adalah pria berwajah manis berwatak ceria dengan banyak orang yang menyayanginya termasuk kekasih tercintanya.

Penyakit yang hanya diketahui oleh sang Eomma, Appa dan dokter muda Choi saja yang mengetahuinya.

"Kusarankan agar kau melakukan Operasi min-ah"

Kembali saran yang beberapa kali, ah sering kali menyambangi telinganya entah itu dari sang Eomma ataupun dokter Choi.

Gelengan pelan Sungmin membuat dokter tampan itu menghela nafas.

lelaki muda didepannya sangat keras kepala.

"ini tuan pesanannya, silahkan dinikmati" suara waitress wanita menengahi kecanggungan diantara mereka.

"Terima kasih... min-ah makanlah terlebih dahulu"

"Ne"

.

.

.

"Kenapa kau tidak membawa mobil saja Max?"

Sementara yang dipanggil 'Max' itu hanya menoleh sekilas dan melanjutkan langkah kakinya yang panjang.

"Ayolah Kyuhyun-ah, aku bosan menggunakan mobil. Sekali-kali berjalan kaki tak apa kan?" ucapnya enteng.

Kyuhyun mendecih dan melihat pemandangan ramai disekitarnya.

Deg

Tepat diseberang jalan ia melihat sesosok namja manis yang diketahui sebagai kekasihnya tengah menikmati makanan kecil dengan seorang namja tampan ia akui, tubuh tegap dan atletis.

Mereka tengah menikmati waktu mereka disebuah kafe yang berada diseberang jalan.

Ia sempat meyakinkan dirinya jika itu bukan kekasihnya tapi... Matanya tak berbohong. Itu adalah kekasihnya.

Hatinya berdenyut nyeri, Sungmin berbohong kepadanya? Dan malah bertemu dengan namja tampan itu.

'Apakah kau sudah tak mencintaiku lagi Ming?' batinnya pedih.

.

.

"Oi, Cho Kyuhyun! Kenapa malah melamun sih" sentakan tangan Changmin Membuatnya tersadar dan cepat mengalihkan pandangannya kepada sosok jangkung dihadapannya.

Kerjaban mata hazel itu membuat Changmin menyerngit aneh.

"Kyu? Kau tak apa?" tanyanya dengan menepuk bahu Kyuhyun lumayan keras.

Pandangan kosong Kyuhyun buyar seketika.

Matanya menatap sahabatnya.

"Aku tak apa, aku mau pulang dulu" nada datar dan aura tegang yang Changmin rasakan Membuatnya bergidik.

Tanpa menunggu jawaban dari Changmin, namja kelahiran bulan februari itu membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Changmin di pinggir jalan sendirian.

"Aishh.. Dia kenapa?!" ia mengacak rambutnya putus asa. Sontak orang-orang yang berada di sekitarnya menatap kearahnya aneh.

.

.

.

Kyuhyun POV

Hatiku sakit mengingatnya, coba kau rasakan. Kekasihmu berbohong padamu dan memilih berduaan dengan namja yang tak kalah tampan denganmu. Pasti yang ada dipikiranmu ia berselingkuh bukan?

Aku tak menampik kata selingkuh tersebut. Tapi... Apakah Sungmin setega itu padaku?

Oh god, ingin rasanya aku menjerit dikamarku yang luas ini. Besok, apakah aku kuat bertemu dengannya? Bagaimana dengan sikapku? Akankah biasa saja seperti tak terjadi apa-apa?

Kuusap kasar wajahku dan menyibak kasar poni rambutku hingga memperlihatkan dahi putihku.

Kepalaku berdenyut, hatiku tercabik.. Oh aku hancur sepertinya.

.

.

.

"Kyuhyunnie~" suara manis dan manja itu sangat ku kenali, ya kekasihku Lee Sungmin.

Wajahnya terlihat lebih kurus akhir-akhir ini, tapi ia hanya bilang kalau ia tengah diet.

Aku tak mengambil pusing hal itu mengingat aku mencintainya bukan karena fisik semata.

Hatiku masih terluka menatapnya datar.

"Kyunnie~ kau kenapa?" mata indahnya mengerjab kepadaku.

Jangan sekarang Ming, aku sedang terluka olehmu.

Aku melihat kilatan kecewa dimatanya.

Namun apa daya, aku jauh lebih kecewa darinya.

"Kau marah gara-gara kemarin?"

"Tidak, untuk apa aku marah?" jawabku ketus.

Aku meninggalkannya sendiri dikoridor yang luas ini. Banyak yang menatap kami penuh tanya, mungkin karena ini pertama kalinya aku bersikap seperti itu pada Sungmin.

"Kyu" aku mendengarnya, lirih tapi aku mendengarnya Ming.

'Maafkan aku' ucapku dalam hati.

.

.

.

Sudah beberapa hari ini aku menghindari Sungmin tanpa alasan kelihatannya, tapi aku punya satu alasan mengapa aku menghindarinya.

Aku tahu ia sangat sedih, tapi.. Aku belum bisa memaafkannya.

Kutadahkan tanganku keatas untuk memeriksa apakah hujan atau tidak.

Aku mencebik, ternyata gerimis. 'Sial! Aku tak memakai motor!' aku menggerutu dalam hati.

Rintik gerimis berubah menjadi hujan deras. Aku masih berdiri di halte yang tak jauh dari gedung sekolah. Melihat banyak siswa-siswi yang menerobos derasnya air hujan.

Aku melihatnya. Sungmin, ia berlari dibawah lindungan tas hitamnya menuju kearahku.

Senyuman konyolnya membuatku khawatir melihat tubuhnya sebagian basah.

"Kyu, aku mencarimu" ucapnya pelan.

"Apa" ucapku singkat dan mencoba untuk tak melihat kearahnya.

"Kyunnie, aku tak tahu salah apa aku padamu, tapi jujur aku tak mengetahuinya. Aku minta maaf, aku tak mau kau mengabaikanku.."

Aku memejamkan mataku mendengar ucapan sekali tarikannya,

Lipatan tanganku di dada terlepas.

Aku berbalik dan menatapnya tajam.

"Kau tak tahu apa salahmu? Benarkah? Lalu apa yang kau lakukan saat kau menolak ajakanku untuk jalan-jalan?"

Ia menatap penuh tanya padaku.

"Aku tak tahu Kyu sungguh"

Aku mengacak rambutku kacau. Ku tarik nafasku dan menghembuskannya pelan. Aku tak ingin emosiku meledak dihadapannya.

"Apa yang kau lakukan dengan seorang namja di kafe beberapa waktu yang lalu?"

Ia tampak terkejut dengan ucapanku.

Bibir merahnya sudah memucat seiring dengan hawa dingin yang mulai menggigit kulit kami. Aku yakin ia tengah kedinginan karena seragamnya yang sebagian telah basah oleh air hujan.

"K-kyu itu.. Tid-tidak seperti yang kau pikirkan"

"Lalu apa? Bisa kau menjelaskannya Lee Sungmin?"

Tanyaku tajam.

Aku memalingkan wajahku saat melihatnya tengah resah. Huh, ternyata sangat menyakitkan.

Saat aku menoleh padanya. Aku terkejut melihat Sungmin yang sudah menggigil hebat dengan salah satu lubang hidungnya mengeluarkan darah.

Aku mengabaikan seluruh egoku dan menangkap bahunya yang bergetar.

Mata sayunya bersiap mengeluarkan berlian berharganya.

"Ming, Ming sadarlah"

"K-kyuhh nieeh~ mi-mianhe-"

"Ming, buka matamu Ming.. Kumohon.. Toloong! Toloong!"

Ditengah derasnya hujan siapa yang akan mendengar teriakanku?

Pikiranku kalut, aku tak bisa berpikir jernih sekarang. Sungmin, adalah prioritas utamaku.

"Ming, bertahanlah kumohon"

Kuseka airmata yang mulai menuruni pipi tirusku dan membersihkan darah dihidungnya dengan jemariku.

Kuangkat tubuh mungilnya dan menggendongnya dibelakang.

Kakiku melangkah dengan berat ditengah guyuran air hujan yang sangat bernafsu mengeroyok kami.

Aku kalut, aku terus melangkah untuk menemukan rumah sakit terdekat didaerah sini.

Airmataku mengalir bersama dengan tetasan air hujan. Aku mohon bertahanlah Ming, aku tak ingin terjadi sesuatu padamu sayang.

.

.

.

"T-tolong, suster.. Bawa dia segera kumohon" lantai rumah sakit ini basah karena aku memasukinya dengan keadaan basah kuyup.

Semua orang yang melintas memandangku kasian.

Beberapa tim medis dengan cekatan mengambil alih tubuh Sungmin dan dibaringkannya pada sebuah ranjang dorong dan dibawanya pada sebuah ruangan bertuliskan 'ICU' didepannya.

Aku terduduk sendirian disalah satu deretan panjang kursi tunggu. Kurogoh saku ku dan mencoba menghubungi salah satu kontak diponselku.

Beruntung ponselku masih menyala meski basah.

.

.

.

"Kyuhyun! Dimana puteraku? Dimana dia?"

"Tenanglah ahjumma, dia..sedang ditangani diruang ICU"

Jawabku lemah.

.

.

Sudah dua jam kami menunggu dengan seragamku yang mulai mengering.

seorang dokter akhirnya keluar dari ruang ICU. aku dan Eomma Sungmin langsung berlari mendekatinya.

aku menarik tangannya.

"Bagaimana keadaan kekasih saya dok"

Kulihat Leeteuk ahjumma hanya terisak tanpa berani menanyakan keadaan Sungmin.

"Maaf...kami telah berusaha semaksimal mungkin..tapi dengan menyesal kami menyatakan kalau.. Pasien telah meninggal"

Bahuku merosot seketika. Telingaku tuli. Mataku buta. Bibirku kelu. Dan tubuhku lumpuh seketika.

"Tidak! Tidak mungkin dokter! Anakku masih hidup dia hiks.. Masih hidup! Minggir!"

Sungmin... TIDAK! dia tak mungkin meninggalkanku sendiri. Aku menyayanginya..ia tak mungkin setega itu padaku.

Leeteuk ahjumma dan aku memasuki ruang ICU tersebut dan melihat seseorang yang telah di tutup oleh selimut sampai kepala.

Tidak! Itu buka Sungminku!

Airmataku mengalir tanpa henti, tak ada isakan.

"Hiks... Sungmin-ah," tangan Leeteuk ahjumma bergerak menyingkap selimut tersebut dan tangisannya semakin keras di selingi dengan berbagai permohonan.

"Ya tuhaan.. Hikss.. Anakku.. Sungmin.. Bangun nak.. Ini Eomma, Eomma disini nak bangunlah Sungmin-ah hikss.."

Aku membekap bibirku kuat. Bagai terhantam batu besar aku kesulitan bernafas sekarang. Ini tak mungkin, dia bukan Sungminku.

"Ming hikss... Sayang hiksss bangunlah sayang... Aku minta maaf hikss aku-"

Tak sanggup, aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku.. Hatiku perih, kosong, hilang..

Nafasku tercekat, isakanku bertambah keras.

Aku tak pernah menangis sehebat ini dan sekacau ini sebelumnya.

Dia, malaikatku tak mungkin pergi meninggalkanku..hikss..

Aku terduduk melihat Leeteuk ahjumma tengah menciumi tangan dan wajah Sungmin.

Wanita itu menangis pilu, aku ikut bertambah sakit sekarang. Ini salahku. Harusnya aku bisa membawanya lebih cepat agar ia bisa diselamatkan.

Aku bodoh!

Aku tolol!

Aku bersalah!

Hukum aku tuhan, dan kembalikan ia pada kami.

aku menekuk lututku dan memeluk tubuhku sambil menangis sepuasnya.

Aku terlalu lemah untuk kau tinggalkan sayang.. Kenapa?

"K-kyuhyun-ah, hiks...kemarilah" suara bergetar itu menyapa gendang telingaku.

Aku mendongak melihat wajah merah Leeteuk ahjumma.

Perlahan aku berdiri meski sedikit kehilangan keseimbangan.

Aku mendekat ke ranjang yang menampung raganya.

Sungminku telah tiada, aku harus merelakannya. Mungkin dengan cara ini aku tak akan menyakitinya lagi. Aku mencintainya. Sangat mencintainya.

Airmataku mengalir tanpa henti menyaksikan wajah pucatnya dan bibir kebiruan yang tak lagi cerah.

"Kita- harus merelakannya nak, hikss.. Ini yang terbaik untuknya. Hikss"

Wanita paruh baya itu meninggalkanku sendirian ia membekap bibirnya dari isakan memilukan.

Aku memandang wajah yang selalu menampilkan senyuman menawan, mata foxy yang menatapku berbinar.

Bibir pouty yang sekarang telah membiru yang selalu aku kecup manis.

Aku mencintainya, terlalu mencintainya hingga aku hampir gila.

Aku kembali terisak mengingat beberapa saat yang lalu. Mengingat kebodohanku untuk menghindarinya beberapa hari hanya karena keegoisanku semata.

Tanganku mengusap lembut sebagian kepalanya. Aku menundukkan kepalaku dan mengecup lama kening dinginnya.

"Saranghae Ming, hikss Jeongmal saranghae chagiya.. Mianhae.. Hikss"

Aku tak sanggup lagi, aku menangis, meraung disini.

Hatiku terlalu sesak menyimpan semuanya, aku ingin melihatmu membuka mata lagi Ming, aku ingin memelukmu sayang. Aku hikss..

.

.

.

2 weeks kater

Aku sudah mengetahui semuanya, rahasia terbesarnya dariku..

Ia sakit..

Aku bodoh!

Aku menyesal!

Aku tak bisa menjaganya hingga akhir..

.

Aku terdiam menatap tulisan dihadapanku.

Sebuah batu nisan dengan tulisan yang menyayat hati.

Masih tak bisa menghentikan tangisanku aku menaruh sebuket bunga krisan putih diatas pusaranya dan mengelus pelan batu nisan tersebut.

"Apa kabarmu sayang, aku harap kau baik-baik saja. Aku mencintaimu Ming..selamanya"

Ucapku sebelum meninggalkan tempat peristirahatannya untuk yang terakhir kali.

'Aku juga mencintaimu kyuhyunnie~ selamanya sayang...selamanya'

Terpaan angin lembut menyapa wajah tampanya. Sang empu tersenyum seolah mengetahui apa yang disampaikan oleh sang angin.

.

.

.

The END

Kyaaaaa mianhe ne kalo julek dan mengecewakan...:"(

Gomawo buat reviewnya kemaren.

Dan keep Review di chapter ini neeee...

Mau lanjut?