Disclaimer: Prince of Tennis bukan punya saya

Warning :Typo bertebaran, bahasa kaku

MIND TO READ AND REVIEW?


Latihan klub tennis pagi itu sama seperti biasanya. Para anggota regular berkumpul di ruang ganti sementara anggota lainnya sudah kembali ke kelas masing-masing.

"apa pendapatmutentang anak itu?" Tanya Fuji memulai pembicaraan

"anak yang mana maksudmu? Anak yang kemarin bertanding denganmu?" Tanya Kawamura

"benar, bagaimana pendapatmu tentang anak itu? Menurutku dia bukan anak sembarangan" terang Fuji

"bahkan Inui sampai mengakui kemampuan pengambilan datanya yang dia saja tak mau mengakui kalau yanagi dari rikkaidai lebih hebat darinya" ucapan Kikumaru membuat yang namanya barusaja disebut merasa tersinggung

"aku hanya lepas bicara kemarin, tentu saja dataku lebih baik darinya, hanya saja dia lumayan hebat bisa mengumpulkan data seperti itu" jawab Inui tak rela

"yang penting bukankah untung kalau orang seperti dia ada diseigaku?" ucap Oishi

"memang benar sih Oishi senpai,tapi diakan perempuan, jadi dia tak mungkin ikut kejuaraan kan?" ucap Momoshiro, "mana mungkin perempuan ikut bertanding dikategori laki-laki meskipun dia itu kuat?"

"Momo benar, tapi kemarin dia bilang sendiri kalau dia yang melatih Echizen, jadi mungkin dia bisa membantu kita menambah kekuatan" timpal Oishi

"dia juga bilang dia ingin menjadi manager" ucap Kikumaru sambil menyilangkan kedua tangannya dibelakang kepala.

"yang jelas, kita mungkin bisa mendapat kekuatan besar jika dia ikut bergabung dengan kita" ucap Fuji dan beberapa saat kemudian bel masuk seigaku bordering yag menandakan kelas akan segera dimulai.


"hei, apa kau dengar tentang murid baru itu?" gumam orang pertama dari kelas 1-A

"kudengar dia pindahan dari amerika" gumam orang kedua

"kudengar dia seorang perempuan" gumam orang ketiga

"heh, sungguh? Aku ingin tahu seperti apa dia? Apakah dia cantik?" gumam orang pertama. Dan gumaman seperti itu memenuhi ruang kelas sampai pintu terbuka

"yah baiklah, aku yakin kalian sudah mendengar tentang murid baru dikelas kita, baiklah Yuki-san, perkenalkan dirimu" ucap sang guru. Dan kemudian seorang perempuan yang memakai seragam seigaku dan memiliki rambut biru sepunggung bergelombang yang dibiarkan tergerai

"hajimemashite, watashiwa Yuki Kizuki desu! Yoroshiku onegaishimasu!" ucapnya sambil membungkuk.

"baiklah Yuki-san, kau bisa duduk didepan Ryuzaki-san, Ryuzaki-san, tolong angkat tanganmu!" ucap sang guru, dan Ryuzaki Sakuno langsung mengangkat tangannya.

"Ryuzaki-Sakuno desu! Yoroshiku !" ucap Sakuno lembut

"yoroshiku mo, Ryuzaki-san!" balas Kizuki dan merekapun mengikuti pelajaran


"ne, apa kau memiliki hobi?" Tanya seseorang saat jam istirahat

"ada" jawab Kizuki, saat ini dia sedang dikelilingi oleh beberapa anak perempuan yang ingin bertanya banyak hal padanya

"apa hobimu, Yuki-san?" Tanya yang lainnya

"panggil Kizuki juga tak apa, hobiku bermain tennis!" ucap Kizuki

"he, tennis ya? Kau ingin masuk ke klub tennis seigaku?" Tanya salah satu anggota klub tennis

"tidak!" lagi-lagi jawaban pendek ia lontarkan

"eh, tapi kenapa?" Sakuno yang ada diibelaakangnya merasa tertarik dengan apa yang diucapkan oleh sang murid baru

"aku sudah mengajukan diri sebagai manager klub tennis laki-laki!" pernyataan Kizuki membuat semua orang kembali terkejut. Jika dia suka bermaain tennis, akan lebih baik jika ia masuk ke klub tenis daripada hanya menjadi manager.

"kenapa kau ingin menjadi manager?" Tanya Sakuno

"karna aku ingin!" jawab Kizuki tanpa rasa bersalah "sejak kecil aku selalu mengikuti kakak laki-lakiku sehingga hampir semua temanku adalah laki-laki, jadi aku terbiasa berada disekitar laki-laki" lanjutnya

"heh, hebat sekali, apa ada olahraga lain yang kamu gemari?" Tanya gadis yang lain

"aku juga suka karate! Tapi tak sebanding dengan tennis sih!" ucap Kizuki lagi.

Pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan oleh hampir seluruh siswa, sampai jam istirahat berakhir. Kizuki yang awalnya berniat untuk membeli beberapa roti mengurungkan niatnya karna dia tahu dia tak akan bisa lepas dengan mudah dari pertanyaaan teman-teman baarunya. Mulai dari pertanyaan normal sampai pertanyaan absurd


Bel pulang sudah berbunyi sekitar 5 menit yang lalu, dan Kizuki segera kabur dari kelas saat ada kesempatan. Dia sudah sering kabur seperti ini baik dari Ryoma atau kakaknya sehingga tanpa disadari kabur dari seseorang sudah menjadi kebiasaaan yang melekat dalam dirinya.

Dia menuju ke klub tennis sambil membawa tasnya dipundak kanannya, disana masih sedikit anggota yang berkumpul. Mengingat bahwa jam pelaaran terakhir tadi kosong maka dia bisa kemari lebih cepat.

"ah, Yuki-chan!" panggil seseorang. Kizuki segera memutar kepalanya dan menemukan Kikumaru Eiji baru saja keluar dari ruang ganti

"Kikumaru-senpai?" Kizuki segera mendekati orang dengan rambut merah itu dan mengucapkan salam

"jadi Yuki-chan benar-benar pindah kemari ya?" tanyanya

"senpai kira aku hanya bercanda?" Kizuki sweatdrop, sebenarnya seberapa waspadanya sih orang-orang ini "oh ya, soal keinginanku untuk menjadi manager kemarin bagaimana?" Tanya Kizuki

"kau diterima!" ucap seseorang dingin dari arah belakang saat dia menoleh, didapatinya sang kapten berdiri disana

"Tezuka-buchou! Konichiwa" salam Kizuki

"aku sudah mendiskusikannya dengan Ryuzaki-sensei. Lagipula klub tennis kita juga belum memiliki manager, jadi kau diterima tanpa syarat" ucap Tezuka

"arigattou! Jadi pertandingan kemarin bukan untuk syarat ya?" ucapnya. Eiji langsung berjengit, kelihatannya anak ini memiliki sifat sadis sama seperti ochibi mereka.

"kelihatannya kau sangat menikmati pertandingan kemarin?" sindir seseorang yang ternyata adalah Fuji sendiri "kalau itu digunakan sebagai syarat, maaka kau tidak akan diterima di klub ini!" lanjutnya

"tapi, itu kan karna aku tidak bisa bermain serius?" Kizuki menunjukkan seringai khasnya yang membuat Fuji entah kenapa menjadi kesal.

"aku tak mempermasalahkannya, yang jelas selamat datang dan mohon kerjasamanya!" ucap Tezuka

"okay!"


"jadi begitulah, mulai hari ini Kizuki akan menjadi manager klub tennis" ucap Ryuzaki sensei

"Yuki Kizuki desu! Yoroshiku onegaishimasu!" ucap Kizuki sambil tersenyum "mulai harii ini aku akan mengawasi setiap latihan kalian dan memberitahu jika terjadi kesalahan dalam teknik kalian" lanjutnya

"ternyata kau benar-benar perempuan ya?" ucap Momoshiro

"tentu saja senpai! Aku tidak sedang ber crossdress" protes Kizuki "baiklah, kalian bisa mulai!" lanjut Kizuki

"dan seperti yang dia katakan, kalian harus mematuhi setiap kata-katanya! Itu saja, sekarang mulai dengan keliling lapangan sebanyak 3 kali!" ucap Ryuzaki-sensei.

Semua anggota klub tennis baik regular dan non-regular pun mulai berlari, sedangkan Kizuki duduk dipinggir dan mulai mencatat sesuatu dengan tangan kirinya. Dia adalah orang kidal, jadi dia menggunakan tangan kirinya bukan hanya untuk bermain tennis

5 menit berikutnya semua anggota sudah selesai melakukan latihannya dan kini sedang mengambil napas. Kizuki mendekati mereka dan mulai mengatakan sesuatu

"baiklah, kalian aku punya sedikit menu untuk kalian" ucap Kizuki menunjukkan senyumannya

"menu seperti apa yang kau maksud?" Tanya Fuji

"ini untuk anggota non-regular! Kudengar dari Ryoma kalau anggota seigaku selain para regular sangat tak layak untuk masuk kelapangan" ucap Kizuki tanpa rasaa bersalah telah menumpahkan semua kesalahan pada temannya itu. padahal aslinya Ryoma tak pernah mengatakan hal semacam itu

"apa dia bilang?" aria terlihat geram. "beraninya anak itu" dia mengepalkan tangannya diikuti oleh anggota lain dengan pandangan kesal.

Fuji melihat ada raut kepuasan diwajah sang manager dan menyadari kalau yang ia katakan barusan adalah untuk membakar semangat para anggota

"kalau begitu apa latihannya?" Tanya salah satu murid kelas dua.

Kizuki menunjuk pada salah satu court yang sudah berisi empat buah kerucut. Semua heran, kapan gadis ini menyiapkan kerucut itu?

"kita mulai dengan murid kelas dua, ikuti aku" ucap Kizuki. Beberapa dari mereka mengikuti pergerakan Kizuki namun beberapa lainnya enggan untuk mengikutinya. Rasa gengsi mereka dilatih oleh seorang gadis kelas satu masih tertancap keras dalam hati mereka.

"aku tak mewajibkan kalian mengikuti hal ini, tapi aku hanya akan mendata mereka yang mengikuti latihan ini dan mereka yang tidak mengikuti latihan karna suatu alasan dan ingin mengikutinya" ucapnya lalu meninggalkan semua orang menuju court yang dimaksud

"dia tak ada bedanya dengan si Echizen, benar-benar sombong"ucap orang pertama

"apa mungkin kesombongan Echizen menular darinya?" Tanya yang lain

"kalian!" suatu suara menginterupsi "aku yakin kalian akan menyesal kalau menolak tawarannya" ucap suara itu Ryuzaki-sensei "aku tahu betul kemampuannya, dia bisa menjadikan pasir menjadi emas atau sebaliknya sesuka hatinya"

"tapi apa dia tidak akan mempermalukan kita saja?" Tanya orang pertama

"menurutku dia ingin menjadikan kita lebih kuat murni dari hatinya" ucap Fuji tiba-tiba muncul diantara mereka "mata itu penuh dengan kesejukan, belum pernah aku menemukan mata seperti itu, penuh kesejukan namun juga keprihatinan" lanjutnya

"dia tak bisa lagi masuk ke pertandingan, jadi itu sebabnya dia selalu berusaha membuat orang lain menjadi kuat untuk menggantikan dia berdiri dilapangan" ucap Ryuzaki-sensei.

"mungkin kita harus mencobanya?" bisik yang lain

"tapi…" beberpa masih tampak ragu

"apa salahnya bila hanya mencoba?" Tanya yang lain

"mungkin kau benar" ucap mereka dan kemudian pergi ke lapangan sebelah tempat latihan berlangsung


"baiklah, aku akan menjelaskannya, pertama Arai-senpai, tolong berdiri dilapangan sambil memakai ini dimatamu" Kizuki memberikan kain yang lumayan panjang

"maksudmu aku harus menutup mataku?" Tanya Arai

"tepat! lalu ingat-ingat bahwa kerucut-kerucut itu memiliki angka, aku akan menembak kesalah satu kerucut dan kau harus mengatakan kekerucut mana aku menembak. Kau tidak perlu memukul bolanya, kau hanya perlu menajamkan pendengaranmu untuk mengetahui kearah mana bola akan terbang" jelas Kizuki

"tunggu dulu, bukankah itu permainan anak kecil? Jelas saja aku akan tahu kemana bola mengarah jika hanya terdapat empat kerucut diantaraku" protes Arai

"aku lupa mengatakan kalau aku akan menggunakan ilusi. setiap orang akan mendapat kesempatan lima kali dalam sekali main dan melakukan lari sepuluh putaran setiap selesai baru kau bisa melakukan lima pukulan lagi" jelas Kizuki lagi

"tunggu dulu! Ini bukan permainan anak-anak, mana mungkin aturan seperti itu…" Ikeda hendak memprotes ketika Arai sudah memasang kain itu dimatanya dan berdiri diantara keenpaatbola sambil memegang raket

"kau benar-benar melatih Echizen bukan? Kalau begitu aku akan mengikuti latihanmu, tapi kalau kau mempermainkan aku sekali saja, maka akau akan menghajarmu saat itu juga" tegur Arai lalu memasang posisi

Kizuki tersenyum ditempat. Meyakinkan mereka ternyata tak sesulit dugaannya. Asalkan ada satu saja orang yang terpancing maka yang lainnya akan mengikutinya dengan otomatis dan pilihannya untuk memilih Arai sebagai peserta pertama memang tepat, sekarang yang harus dia lakukan adalah membuat Arai menjadi semangat.

"baiklah ini dia" Kizuki memukul bola kearah kerucut 3 dibelakang Arai namun Arai malah berlari menuju kerucut 4. Dan dia langsung berhenti seketika

"eh? Kenapa disana?" Arai mengarah pada suara kerucut yang ada disebelahnya

"aku memeng memukulnya kearah sana kok" jawab Kizuki tanpa penyesalan

"kenapa kau berlari kearah sana Arai? Siapapun juga pasti akan berlari kearah pukulan bola sekalipun pendengaran mereka tidak peka" ucap orang pertama

"jarak antar kerucut sekitar 5 meter, harusnya kau bisa mendengar bola dengan baik" ucap orang kedua

"urusai! Suara putaran bola yang kedengar mengarah kesana" protes Arai. Tidak lama kemudian dia mendengar suara pantulan bola dari lapangan sebelah

"bola selanjutnya akan datang! Mungkin ini akan sedikit lebih sulit mengingat posisimu dengan setiap kerucut saat ini berbeda" ucap Kizuki bersiap untuk memukul bola. Arai sudah memasang kuda-kuda. Kizuki memukul bola kearah kerucut 3 tempat dia memukul sebelumnya

"disana" dan Arai segera berlari setelah mendengar suara bola. Namun dia berlari kearah kerucut nomor satu yang ada di depannya. Dan dia kembali berhenti ditengah saat kembali mendengar suara benturan antaara bola dan kerucut "nani?"

"dua kali gagal senpai! Kesempatanmu tinggal tiga kali lagi" ucap Kizuki

"urusai! Aku sudah tahu! Cepat pukul saja bolanya" teriak Arai. Dia benar-benar merasa dilecehkan

Tiga bola lainnya berakhir dengan hasil yang sama. dan setelah tidak puas dengan hasil pertandingan, Arai berjalan kearah Kizuki dan menarik kerah bajunya

"teme! Kau mempermainkanku ya? Tidak mungkin aku bisa memukul bola jika kau menggunakan teknik seperti itu" teriak Arai tepat didepan wajah Kizuki

"sepertinya kau masih salah paham?" Kizuki menghela napas lalu memegang tangan Arai yang mencengkram bajunya kemudian menatap Arai tajam "lepaskan aku dulu" ucap Kizuki dengan nada kelewat dingin sehingga membuat Arai tanpa sadar melepaskan kerah bajunya dan mundur dua langkah.

"tidak heran kalau aku bilang kalian tak pantas masuk lapangan, malah sebenarnya kalian tak pantas untuk memegang raket" ucap Kizuki masih dengan nada dinginnya

"apa katamu?" Tanya salah satu murid kelas dua

"apakah kata-kata seperti 'tidak mungkin aku bisa memukul bola itu' atau 'kau sedang bermain-main dengan kami ya?' adalah pantas diucapkan oleh pemain tennis?" Tanya Kizuki membuat semua orang yang ada disana terdiam kemudian beberapa orang yang tadi berniat tidak ikut dalam latihan pun memasuki lapangan

"aku sengaja memakai nama Ryoma untuk meningkatkan semangat latihan kalian sehingga kalian bisa menjadi lebih kuat! Tapi nyatanya itu tidak ada artinya" lanjut Kizuki

"jadi saat kau mengatakan bahwa Echizen menghina kami itu bohong?" Tanya salah satu murid yang baru maasuk lapangan

"itu adalah kebohongan besar. Dan sejak kalian adalah orang-orang payah maka aku akan memberitahu fungsi dari latihan ini" ucap Kizuki. Arai berniat untuk prootes tapi dia urungkan

"kulihat kemarin kontrol kalian terhadap bola benar-benar buruk itu karna kalian hanya mengandalkan mata kalian saja, namun jikaa kalian menggunakan mata beserta telinga kalian maka kalian akan tahu dengan tepat dimana bola akan jatuh. Menggunakan tembakan biasa untuk melatih indra pendengaran itu memang berguna, tapi itu hanya akan berdampak pada tembakan biasa, yang kuinginkan adalah kalian bisa merespon terhadap teknik special, jadi kalian tak kehilangan angka tanpa perlawanan" Kizuki menarik napas sejenak sebelum melaanjutkan

"akan kuberitahu, tehnikku tadi adalah 'Sound Illusion' . aku membingungkan lawanku dengan suara yang mereka dengar. Tapi tadi aku hanya menggunakan satu suara, aku bisa menggunakan tiga suara jika aku mau" ucap Kizuki menghilangkan nada dinginnya

"tiga? Maksudmu tiga suara dari arah yang berbeda?" Tanya Arai sedikit ketakutan

"benar, dan jika kalian bisa menghadapi tehnik ini maka tehnik seperti snake ataupun moon volley mungkin dapat dipatahkan" ucap Kizuki menarik sedikit bibirnya

"benarkah? Maksudmu jika aku bisa menguasai tehnik ini aku bisa sebanding dengan regular?" Tanya Arai

"tentu saja tidak! Satu latihan tidak akan menghasilkan apa-apa, tapi mungkin ini bisa membuat kalian melakukan perlawanan dari love game! Kudengar hampir semua dari kalian dikalahkan anggota regular dengan love game?" ucap Kizuki "aku hanya ingin membuat kalian menjadi lebih kuat" lanjutnya

"apakah itu benar?" Tanya Arai

"yang satu ini serius" ucap Kizuki "yang tidak ingin mengikuti latihan karna aku seorang perempuan atau karna aku anak kelas satu silahkan meninggalkan tempat ini" ucap Kizuki. Tapi meskipun begitu tak ada seorangpun yang berani melangkahkan kakinya dan itu membuat Kizuki tersenyum lebar "kalau begitu kita lanjutkan latihannya" ucapnya semangat


Diluar lapangan, terlihat Tezuka dan Ryuzaki-sensei mengamati latihan yang diberikan oleh Kizuki, dan itu membuat Tezuka tertarik setelah mendengar ceramah singkat tadi.

"bagaimana menurutmu Tezuka? Apa mungkin dia bisa merubah tim tennis seigaku?" Tanya Ryuzaki-sensei

"aku masih belum tahu, tapi bukankah dia manager? Apakah manager juga bertugas untuk melatih anggotanya?" Tanya Tezuka

"manager itu adalah gelarnya di tim tennis, tapi sebenarnya aku ingin dia melatih tim tennis ini sepeninggal kalian kelas tiga" jawab Ryuzaki-sensei

"bukankah itu berarti sensei melemparkan tanggung jawab sensei padanya?" Tanya Tezuka yang benar-benar menusuk Ryuzaki-sensei.

"mungkin untuk urusan non-regular iya! Aku sudah kehabisan ide untuk membuat mereka bisa menyusul kalian secara cepat" jawab Ryuzaki-sensei

"tapi kenapa dia mau menggunakan tehniknya untuk melatih orang yang belum dia kenal?" Tanya Tezuka lagi

"Kizuki memiliki dua macam tehnik, tehnik dalam pertandingan yang dia gunakan untuk bertanding. Itu adalah tehniknya yang sebenarnya. Dan juga tehnik pengajaran dimana dia menurunkan hingga 30% dari tehnik aslinya untuk dia gunakan dalam melatih seseorang" jelas Ryuzaki-sensei

"jadi maksud anda tehniknya itu hanya 30% dari tehnik normalnya?" Tanya Tezuka

"begitulah" dan Tezuka kembali mendapat kejutan namun dia tidak bergeming dan setia pada poker facenya.


Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 5 dan Kizuki tak henti-hentinya melakukan sound illusion. Dia menghela napas kelelahan sementara para anggota lainnya sudah terduduk dengan kesepakatan lari sepuluh kali baru memukul lagi? mereka melakukan dua sampai tiga ronde. Dan sepuluh putaran tiap ronde itu sungguh melelahkan

"baiklah latihan selesai" ucap Kizuki dengan semangat "besok kalian lakukan latihan sendiri, aku harus melatih anak kelas satu" lanjutnya

"apa maksudmu kita harus melakukan latihan ini lagi?" Tanya Ikeda ditengah-tengah pengambilan napas

"tentu saja, kalian bahkan tak bisa berlari kearah yang benar. Latihan akan selesai apabila kalian bisa berlari kearah datangnya bola meski hanya sekali" ucap Kizuki lalu berjalan ke luar lapangan. Dia mengambil tas yang dia tinggalkan diluar ruang ganti sambil menguping pembicaraan anggota regular didalam ruang ganti


"kau lihat cara dia mengajar?" Tanya Kikumaru "kelihatannya dia hanya ingin mempermainkan kelas dua, latihan seperti itu tidak akan membantu dalam tennis jika kau bisa membuka mata" ejek Kikumaru

"Eiji jangan berkata begitu" protes Oishi. Sikap inilah yang tak disukainya dari pasangan doublenya itu. Kikumaru terlalu meremehkan orang lain.

"menurutku tidak begitu" ucap Fuji "latihannya memang tidak berguna jika kau bisa melihat bola tapi…" Fuji menghentikan kata-katanya ketika menyadari suatu bayangan dari balik jendela "mungkin sang manager bisa menjelaskannya sendiri" sindir Fuji

"kau menemukanku?" Tanya Kizuki berada diambang pintu sambil menenteng tas dibahu kanannya.

"Yuki-chan?" Kikumaru berteriak terkejut "kenapa kau ada disini?" tanyanya

"hanya mengambil tas yang kutinggalkan diluar sambil mencuri pembicaraan kalian" ucap Kizuki dengan nada sarkastik

"kelihatannya kesombonganmu juga sama seperti Echizen?" sindir Momoshiro

"yang terpenting kau bisa memberitahu kami apa tujuan dari latihan tadi?" Tanya Kawamura

"betsuni, aku hanya melatih stamina mereka" jawab Kizuki menjadi datar

"pasti ada maksud lain" tegas Fuji, kali ini dia membuka mata, hal yang sangat jarang dia lakukan "latihan itu untuk membuat orang lebih fokus bukan? Selama ini orang hanya bermain menggunakan mata mereka, tapi jika mereka bisa mendengar kearah mana bola melaju maka mereka akan bisa bereaksi lebih cepat bukan?" Tanya Fuji membuat Kizuki sedikit tersenyum

"hebat sekali senpai! beberapa bulan yang lalu aku menerima telepon dari Ryoma yang mengatakan kalau dia berhasil menjadi anggota regular seigaku" ucap Kizuki menundukkan kepala "dia mengatakan kalau ada banyak sekali orang yang kuat di seigaku tapi…" dia berhenti

"tapi…?" Inui bertanya

"sekitar seminggu yang lalu dia berucap sedikit frustasi padaku. Dia bilang seigaku yang seperti ini sama sekali tak terdapat kehidupan" ucap Kizuki dengan nada sedih

"tak terdapat kehidupan?" Tanya Kaidoh

"hanya sebagian pihak yang hidup yaitu kita para regular, dan terdapat kematian itu adalah non-regular" jelas Fuji

"benar, itu sama saja dengan tak ada kehidupan, dia mengatakan bahwa dia ragu tahun depan kita bisa menjuarai tournament kedaerahan apalagi nasional" lanjut Kizuki "karna itu dia bilang akan pergi keamerika untuk meningkatkan kemampuannya dan akan kembali ke jepang tahun depan" semua anggota kembali terkejut

"ochibi akan kembali?" Tanya Kikumaru

"dia bilang begitu tapi…" Kizuki mengalihkan matanya "jiak sampai saat dia kembali nanti seigaku masih tak ada kehidupan maka dia akan meninggalkan jepang untuk seterusnya" ucapnya.

"tunggu! Apa-apaan itu?" Momoshiro secara spontan berdiri

"dia ingin mencapai puncak sekali lagi bersama teman-temannya, tapi dengan klub yang mati maka dia menjadi frustasi. Karna itu dia lebih memilih menghilang dari jepang daripada dia harus memilih sekolah lain yang lebih kuat" jelas Kizuki "dia terlalu baik" lanjutnya dengan wajah sedih

"maksudmu, ochibi lebih suka melarikan diri ke amerika daripada menghianati seigaku?" Tanya Kikumaru sementara Kizuki hanya mengangguk "tapi itukan?"

"karna hal seperti ini pernah terjadi saat Ryoma kehilangan tangan kanannya, dia diabaikan bahkan ditinggalkan oleh teman-temannya hanya karna dia tak bisa lagi bermain tennis. Tapi dia tak pernah meninggalkan siapapun yang tak bisa bermain tennis. Sebuah ironi kehidupan yang lucu" ucapnya sedikit tertawa

"kehilangan tangan kanan? Apa maksudmu?" teriak Momoshiro

"gomen, aku tak bisa mengatakannya hanya saja, Ryoma tak memulai tennis dengan tangan kiri" ucapnya bersiap meninggalkan tempat itu "dia bermain tennis dengan tangan kanan sebelum seseorang menghancurkan dirinya" ucapnya sambil membelakangi para regular

"oh, dan sesuai topik awal, latihan ini untuk meningkatkan stamina dan akurasi mereka dalam menerima bola. Jika mereka bisa mendengarkan dari mana arah putaran bola berasal maka mereka akan bisa memprediksi dimana bola akan jatuh. Ini adalah latihan yang diberikan Ryoma padaku saat aku depresi" ucapnya lalu meninggalkan tempat itu tanpa menghiraukan kata-kata senpainya

"satu hal hagi" dia berhenti setelah dua langkah "Ryoma sangat peduli pada seigaku jadi tolong jangan salah paham" ucapnya lalu berjalan sambil tersenyum pada kelas dua yang menguping dari luar "kuharap besok kalian bisa menjadi lebih baik" ucapnya melambaikan tangan kemudian berjalan menjauh


Seorang gadis berambut biru sedang berjalan menyusuri sungai, matanya tidak memperlihatkan titik fokus. Dia sedang menerawang jauh ketempat dimana dia dan pemuda itu dulu bertemu dan menghabiskan waktu bersama

Gadis yang menangis setiap kali mengingat wajah pemuda itu terbaring tanpa membuka matanya sementara ia selalu berdoa sambil memegang tangannya

Gadis yang sangat tegar ketika menemani pemuda tanpa keinginan hidup itu. seolah dunia ini sudah menyakitinya begitu dalam sehingga pemuda itu tak bisa memaafkannya

Gadis yang tersenyum ketika melihat keinginan hidup terpancar dari bola mata milik pemuda yang sudah mengambil hatinya itu.

'Setiap kehidupan memiliki jalannya sendiri' slogan itulah yang ia percayai untuk melanjutkan hidupnya sampai sekarang. Seorang putri yang telah jatuh dari tahtanya dan juga penyihir yang telah kehilangan tongkat sihirnya


Akhirnya selesai juga chapter dua, maaf kalau ada banyak typo dari cerita di atas karna saya tidak terlalu suka membaca cerita saya kembali saat saya merasa sudah pas.

Chapter selanjutnya akan skip time ke persiapan kejuaraan musim dingin (saya menganggap kalau kejuaraan nasional yang ada di manga terjadi pada musim panas dikarenakan saya tidak bisa mencari informasi tanggal yang pasti)

bagi yang tahu kapan tepatnya pertandingan nasional di prince of tennis mohon informasinya.

zannen mune, matta raissu! sampai ketemu chapter depan