Chapter 2

[11]

.

Jika Tetsuya ingin berkomentar, dia jelas tidak akan sanggup. Keputusan yang telah terlontar tidak dapat ditarik. Sebelum pertemuan pada malam itu, dia telah membulatkan tekad: Tetsuya harus menolak Seijuurou dengan keras. Biarkan saja Seijuurou membencinya seumur hidup. Biarkan saja lelaki berambut merah itu banjir air mata, dia sudah tidak peduli lagi. Atau, (jawaban jujur) berusaha untuk tidak peduli.

Usai turun dari taksi, Tetsuya berlari menuju kamar. Lama sekali dia duduk termenung di atas kasur. Memandangi kaca jendela yang belum tertutupi kelambu, Tetsuya masih ingat betul bagaimana awal mula dirinya mengenal Seijuurou.

Hubungan mereka berdua berasal dari pertemuan sederhana. Tetsuya melamar kerja di kantor ayah Seijuurou, Akashi Masaomi. Secara tak sengaja, Tetsuya salah masuk ruangan. Dia mengira bahwa ruangan Seijuurou adalah ruangan Masaomi. Konyol betul dia.

Tetsuya jelas merasa malu serta canggung pada saat yang bersamaan, tapi begitulah. Karena Seijuurou adalah lelaki yang ramah, Tetsuya dengan cepat dapat akrab dengannya. Apa yang paling mujur adalah, Masaomi menerima Tetsuya sebagai karyawannya.

Selanjutnya, sudah dapat ditebak. Mereka berdua menjadi sering bertemu di kantor. Tiada hari tanpa sapaan hangat. Jam istirahat untuk makan siang dihabiskan dengan bersenda gurau. Hari libur dialihfungsikan menjadi acara #curhatanpabatas. Tetsuya merasa nyaman dan aman saat bersama dengan Seijuurou.

Lambat laun, ada sesuatu yang disadari Tetsuya. Dia tidak bisa lagi menganggap Seijuurou sebagai rekan kerja atau sekadar teman dekat. Seijuurou itu, lebih, lebih daripada kawan.

Semula Tetsuya ketakutan. Bagaimana dia bisa jatuh cinta kepada seorang lelaki? Bagaimana dia bisa terpikat bahkan tergila-gila dengan Akashi Seijuurou? Ini adalah hal teraneh yang pernah dia rasakan. Tetsuya merasa stres. Sudah berapa kali Tetsuya mencoba menjauh dari Seijuurou? Sudah berapa kali dia berpura-pura benci demi menghilangkan perasaan itu? Tapi tetap saja, Tetsuya mungkin dapat berbohong, tapi hati tidak dapat berdusta.

Memang benar apa kata banyak orang; bahwa cinta adalah barang yang tidak masuk akal, apalagi jatuh cinta, ini lebih tidak masuk akal lagi.

Seijuurou tampaknya menyadari kegelisahan Tetsuya. Dia akhirnya membuat sebuah pengakuan. Itu adalah satu tahun yang lalu. Tetsuya merasa terselamatkan. Seijuurou, ternyata, juga mencintainya.

Namun, hubungan ini tidak selamanya indah. Tetsuya tentu menyadarinya. Bahwa ada hal terlarang yang selamanya tetap terlarang. Ada hal bertopik tidak boleh yang tidak dapat menjadi boleh. Ada orang-orang yang berbicara buruk tentang hubungan gelap mereka berdua. Tetsuya tidak ingin berita itu sampai menyebar. Jadi, sambil menahan rasa sakit dan sesak yang terus membuncah, Tetsuya memberanikan diri untuk melepas ketergantungannya akan kehadiran Seijuurou. Hah, cinta itu perkara mimpi. Kalau sudah bangun, maka tidak perlu lagi mencintai. Begitulah cara Tetsuya menguatkan diri.

Keesokan hari setelah pertemuan pada malam itu, Tetsuya kembali bekerja di kantor seperti biasa. Ternyata Seijuurou tidak masuk. Entah mungkin karena sakit hati atau demam, Tetsuya mengabaikan. Dia justru malah bersyukur, tidak perlu lagi bertatap muka dengan lelaki yang telah dicampakkannya.

Namun, ini sudah satu minggu berjalan, tapi Seijuurou belum juga hadir di kantor. Bagaimana pun juga, Tetsuya harus mengakui bahwa dirinya merasa khawatir. Jangan-jangan... Jangan-jangan... Dia tidak mau dihantui pikiran negatif terus-terusan.

Tetsuya akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada sekretaris Seijuurou.

"Kamu belum tahu, Kuroko-san? Seijuurou-sama saat ini sedang berada di Amerika. Dia bekerja di sana bersama kakaknya, Chihiro-sama."

Entah mengapa, sesudah mendengar penuturan tersebut, Tetsuya merasa kesulitan bernapas.

[TuBerCulosis]