Unforgetable Love

.

.

Chapter 1

"Baekhyun!" panggil seorang nenek sambil melambaikan tangannya.

"Nenek!" seru seorang anak laki-laki berwajah cantik dengan tubuh mungil dengan senyuman yang mengembang diwajahnya.

"Cucuku.. Kenapa kau lama sekali pulang?" Minsuk mengeluh karena sejak tadi ia menunggu cucu satu-satunya itu di mini market yang terletak tak jauh dari rumah mereka.

"Maaf tadi aku harus menemani Xiumin hyung untuk mengantarkan beberapa barang yang disuruh oleh bos nek.." jawab Baekhyun dengan wajah penuh penyesalan.

"Ah seperti itu rupanya. Aku fikir telah terjadi sesuatu padamu. Kalau begitu ayo kita pulang, cuaca menjadi semakin dingin sekarang" Minsuk menggenggam tangan dingin Baekhyun lalu membawanya pulang.

"Ahh.. hangat sekali" seru Baekhyun ketika sudah memasuki rumah.

"Tentu saja hangat.. rumah adalah tempat satu-satunya yang akan memberikanmu kehangatan ketika kau merasakan cuaca yang sangat dingin diluar sana" kata Minsuk sambil tersenyum.

Mereka memasuki rumah lalu menuju ruang tamu yang tak jauh terletak dari pintu.

"Aku akan membuatkan teh hangat" Baekhyun berjalan menuju dapur dan segera membuat teh untuk mereka berdua.

"Astaga kita tidak memiliki persediaan teh lagi nek. Aku akan pergi membelinya sebentar di mini market" Baekhyun berteriak dari arah dapur.

"Baiklah.. berhati-hatilah. Ini sudah malam Baekhyun. Dan jangan lupa untuk membawa payung" Minsuk mengingatkan.

"Iya nek" Baekhyun menjawab sambil tersenyum lalu pergi menuju mini market.

….

..

.

"Aish! Ibuuuu! Berikan kunci motorku!" seorang anak laki-laki berwajah tampan dengan tubuh jangkung berteriak pada ibunya untuk mengembalikan kunci motornya.

"Tidak Park Chanyeol! Ibu tahu semua akan menjadi seperti ini sejak ayahmu memberimu sebuah motor. Berhenti menjadi berandalan!" Victoria menjawab tegas.

"Berandalan? Apa ibu fikir dengan wajah setampan ini aku cocok menjadi berandalan?" Chanyeol berkata sambil menuruh kedua telapak tangannya pada kedua pipinya.

"Tentu saja! Lihatlah penampilanmu sekarang" Victoria menjawab mantap lalu menyuruh Chanyeol melihat kondisi seragamnya yang tampak seperti berandalan menurut Victoria

Chanyeol yang tidak terima dengan ucapan ibunya langsung memeriksa kondisi seragamnya. Dengan kemeja biru yang sengaja dibiarkan terbuka begitu saja tanpa mengancingkannya sehingga terlihat baju dalaman Chanyeol yang berwarna putih (Semacam kaos), rambut yang sengaja ia atur sedemikian rupa agar keningnya terlihat serta jam tangan dan sepatu yang terbilang mahal. Yah hanya sepatu dan jam tangan yang bisa membuat Chanyeol terlihat 'sedikit' rapi. Walaupun penampilan Chanyeol bisa dibilang tidak rapi, tetapi dengan tampilan berandalannya itulah ia terlihat tampan.

"Aku tetap tampan bu.. anakmu ini memang terlahir tampan dan mempesona" jawab Chanyeol dengan percaya diri.

"Kau jelek! Sangaaat jelek sampai membuat mataku sakit" jawab victoria sambil meninggalkan ruang tamu.

"Ibu! Berhenti menjadi menyebalkan seperti ini, aku bahkan hanya meminta kunci motor. Kenapa ibu menjadi keras kepala seperti ini?" Chanyeol berlari mengejar ibunya yang sedang berjalan meninggalkan ruang tamu yang sejak tadi menjadi tempat berdebat mereka.

"Hanya? Apa membuat ibu jauh-jauh datang ke kantor polisi itu bisa disebut hanya?" jawab victoria tak percaya dengan jawaban putra semata wayangnya ini.

"Aku bahkan baru melakukan itu satu kali bu.." Chanyeol menjawab cemberut.

"Lalu kau berencana membuatku untuk melakukan itu berapa kali?" lagi-lagi Victoria dibuat terkejut dengan jawaban bodoh dari anaknya itu.

Chanyeol tidak menjawab pertanyaan ibunya dan hanya menundukkan kepalanya dengan wajah cemberut.

"Berhenti bersikap kekanak-kanakan.. kau bahkan sudah berumur 18 Tahun Chanyeol. Ibu lelah, ibu mau beristirahat. Dan jangan coba-coba untuk kabur, aku telah memperketat keamanan rumah ini. Kau akan terluka jika kau mencoba kabur" Victoria mengancam dengan wajah tegas lalu pergi meninggalkan Chanyeol yang masih berdiri dengan wajah yang sangat tertekuk.

….

..

.

Baekhyun berjalan menyusuri jalanan yang sepi…

Ketika ia sampai pada persimpangan, ia pun menyebrangi jalan melewati 'zebra cross'. Tetapi tiba-tiba saja dari arah kanan Baekhyun muncul seseorang yang mengendarai motor besar dengan kecepatan tinggi. Lalu…

"Brak!" tubuh Baekhyun terjatuh ketika motor itu menyerempet tubuhnya.

"Astaga!" si pemilik kendaraan memekik ketika ia menyadari bahwa ia sudah menabrak seseorang.

Si pemilik kendaraan langsung berlari menghampiri Baekhyun yang sudah tak sadarkan diri.

"Ya tuhan! Apa yang sudah kulakukan? Hei! Bangunlah.. adik kecil bangunlah" Si pemilik kendaraan menepuk-nepuk pipi Baekhyun pelan, lalu didekatnyanya telinganya menuju hidung Baekhyun dan syukurlah ia masih bisa mendengar deru nafas Baekhyun.

Setelah beberapa kali menepuk pipi Baekhyun, akhirnya Baekhyun membuka matanya. Dan pandangan mereka bertemu, dan untuk beberapa saat mereka saling menatap dan mengagumi wajah satu sama lain. Hingga akhirnya Baekhyun tak sadarkan diri kembali.

Si pemilik kendaraan yang melihat Baekhyun kembali tak sadarkan diri langsung membawa Baekhyun dalam gendongannya. Diangkatnya tubuh ringkih Baekhyun, tangan kanannya mengangkat kaki Baekhyun sedangkan tangan kirinya mengangkat bagian belakang leher Baekhyun. Didekapnya kepala Baekhyun kearah dadanya dengan maksud memberi sedikit kehangatan untuk Baekhyun.

….

..

.

"Apa peringatan ibu tadi kau anggap main-main? Park Chanyeol kau melukai semua pengawal dan membawa kabur motormu lalu sekarang kau menabrak seseorang!" Victoria membentak Chanyeol.

"Ya tuhan! Apa dosa yang sudah kulakukan dimasa lalu sampai aku harus mengalami semua ini?" Victoria memegang belakang lehernya yang tiba-tiba nyeri.

"Maafkan aku bu.. aku bahkan tidak sengaja menabrak anak itu" Chanyeol menjawab dengan nada yang sangat pelan dan dengan wajah yang tertunduk.

"Ibu tahu kau tidak sengaja Chanyeol. Tetapi kau tetap salah, kau mengendarai motormu dengan kecepatan tinggi bukan?" Victoria mulai memelankan suaranya dan mencoba untuk sedikit lembut pada Chanyeol, karena bagaimanapun juga Chanyeol juga terkejut dengan apa yang ia alami.

"Maaf untuk itu juga bu" Chanyeol merasa ia memang bersalah jadi ia tidak melayangkan banyak protes seperti biasanya.. yah biasanya juga ia tetap protes walaupun ia salah. Tetapi kali ini ia memilih untuk tidak protes karena yang ia lakukan memang sudah keterlaluan sampai menyebabkan orang lain terluka. Terlebih lagi orang itu telah mencuri hati Chanyeol pada pandangan pertama.

Entah mengapa perasaan Chanyeol menjadi gelisah ketika memikirkan anak kecil yang ia tabrak tadi. Ia bahkan tidak tahu siapa nama anak itu karena ketika ia sampai dirumah sakit ia langsung menguhubungi Victoria dan ketika Victoria datang ia menyuruh Chanyeol untuk langsung pulang bersama supir.

"Sekarang masuklah ke kamar dan tidurlah. Karena besok kau harus ikut ibu ke rumah sakit untuk melihat keadaan anak itu. Kau harus meminta maaf Chanyeol" Victoria berkata tegas.

"Baik bu" Chanyeol benar-benar menjadi anak penurut untuk mala mini.

….

Pagi ini Chanyeol dan Victoria sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat Baekhyun dirawat.

Chanyeol sangat gugup ketika memikirkan ia akan bertemu dengan Baekhyun yang tabrak kemarin. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak tak karuan, bukan takut Baekhyun akan marah. Tetapi karena ketika membayangkan wajah Baekhyun jantungnya benar-benar berdetak tak karuan, tangannya pun berkeringat dingin. Chanyeol harus segera menenagkan dirinya karena jarak mobil mereka sudah dekat dengan rumah sakit tempat Baekhyun dirawat.

"Ayo turun" suara Victoria menyadarkan Chanyeol dari kegugupannya..

"Oh sudah sampai" Chanyeol segera keluar dari mobil dan mengikuti langkah ibunya..

….

"Maafkan kecorobahan anakku, aku akan membiayai semua perawatanmu sampai kau sembuh" Victoria berkata lembut.

"Tidak apa-apa bibi. Aku hanya cidera sedikit, mungkin hari ini saya bisa pulang. Aku baik-baik saja" Baekhyun menjawab sambil tersenyum manis seakan-akan ia sedang menunjukkan kalau ia baik-baik saja.

Chanyeol yang meihat senyum itu tiba-tiba saja merasakan detak jantungnya yang tadi sudah mulai tenang kembali berdetak kencang tak karuan.

'Sialan! kenapa senyuman itu membuat jantungku jadi seperti ini' batin Chanyeol

"Sekalipun kau baik-baik saja kau harus tetap tinggal di rumah sakit ini untuk beberapa hari adik kecil, itu untuk memastikan kau memang baik-baik saja sampai beberapa hari kedepan" Victoria menjelaskan dengan senyuman yang selalu mengembang diwajahnya.

"Tidak bisa bibi, aku harus segera pulang. Nenek pasti sangat khawatir karena aku tidak pulang semalaman. Aku tidak bisa lebih lama disini, aku tidak ingin nenek menjadi khawatir" Baekhyun menolak lembut.

"Aku akan mendatangi nenekmu dan menjelaskan semuanya. Aku akan mengatakan kau baik-baik saja dan tidak mengalami cidera serius. Tenanglah" Victoria menenangkan Baekhyun.

"Jangan bibi,, jangan beritahu nenek kalau aku mengalami kecelakaan. Itu akan membuatnya sedih" Baekhyun menjawab cepat..

"Baiklah kalau begitu.. tapi siapa nama dan berapa usiamu adik kecil?" Victoria bertanya lembut.

"Baekhyun bi. Usiaku 15 tahun" Baekhyun menjawab sambil tersenyum.

"Wah namamu sama imutnya dengan wajahmu" Victoria mulai menggoda Baekhyun.

"Hahaha.. terima kasih bi" jawab Baekhyun dengan wajah yang memerah.

"Oh ya Chanyeol kau belum meminta maaf pada Baekhyun. Minta maaflah! Karenamu ia sampai terbaring disini. Ibu akan menemui dokter yang menangani Baekhyun dulu" Victoria langsung pamit meninggalkan Chanyeol berdua.

Setelah Victoria pergi tiba-tiba saja suasana menjadi hening. Baekhyun memilih untuk menunggu Chanyeol yang berbicara terlebih dahulu, sedangkan Chanyeol sedang sibuk memikirkan kata-kata apa yang akan ia ucapkan.

Sampai akhirnya ia memilih untuk berdehem terlebih dahulu.

"Ehemm" Chanyeol berdehem.

"Ma-maafkan aku. Aku sangat ceroboh semalam hingga membuatmu seperti ini. Aku akan memberikan nomor ponselku, kau bisa menghubungiku kapanpun kau mau" Chanyeol tidak sadar jika ia sudah mengatakan hal yang aneh.

"Uh?" Baekhyun merespon dengan suara dan ekspresi yang sangat menggemaskan.

Chanyeol yang baru saja melihat respon Baekhyun lalu segera sadar dengan ucapannya tadi.

"Ah,, maksudku kau bisa menghibungiku jika kau mengalami gangguan pada kesehatanmu. Bisa saja nanti muncul gejala-gejala aneh pada tubuhmu. Misalnya kau tiba-tiba saja mual atau mungkin kau tiba-tiba saja pusing" Chanyeol kembali mengatakan hal konyol.

"Mungkin jika aku mengalami itu, pasti aku sudah masuk angin. Itu bukan penyakit serius" ucap Baekhyun dengan wajah malu-malu.

"Tapi mungkin saja mengalami gejala aneh lainnya. Sudahlah simpan saja nomor ponselku" jawab Chanyeol dengan sedikit memaksa.

"Baiklah" Baekhyun memilih mengalah.

"Kemarikan ponselmu" Chanyeol ingin langsung menggunakan ponsel Baekhyun untuk menelfon ponsel. Sekaligus modus xD

"Aku tidak membawa ponselku. Aku meninggalkannya dirumah semalam" Baekhyun menjawab enteng.

"Aish.. sial!" Chanyeol mengumpat pelan.

"Apa kau mengatakan sesuatu?" Baekhyun berpura-pura kalau ia tidak mendengar umpatan Chanyeol. Padahal didalam hatinya ia sedang tertawa, terlihat sekali jika Chanyeol sedang mencari kesempatan untuk mendapatkan nomor ponselnya.

"Hahaha …" Chanyeol tertawa garing dengan ekspresi bodohnya.

"Apa aku terdengar seperti mengatakan sesuatu?" Chanyeol bertanya bodoh.

"Aish.. sial!" Baekhyun mempraktekkan kembali ucapan Chanyeol.

"Heh?" Chanyeol bingung, apa yang sedang dilakukan si mungil ini?

"Itu adalah umpatanmu. Dasar bodoh!" Baekhyun tersenyum lebar. Bodoh sekali, padahal baru beberapa menit yang lalu ia mengucapkannya dan sekarang ia lupa ucapannya sendiri.

Chanyeol yang mulai mengingat kembali ucapannya langsung berpura-pura tidak mengatakannya lagi.

"Ahh! Apa aku mengumpat? Aku rasa tidak" mengelak adalah satu-satunya hal yang dilakukan PARK CHANYEOL.

"Kau mengumpat" Baekhyun tidak mau mengalah.

"Aku tidak mengumpat!" Chanyeol mengelak lagi.

"Aish sudahlah. Akulah yang bodoh disini.. kenapa aku harus terlibat perdebatan bodoh ini denganmu. Sudahlah lupakan saja" Baekhyun mengibaskan tangannya.

"Ya kau memang bodoh" Chanyeol tersenyum lebar.

"Ngomong-ngomong terima kasih untuk tidak kabur saat menabrakku" Baekhyun tersenyum canggung.

Chanyeol yang mendengar itu langsung duduk dikursi disamping tempat tidur Baekhyun lalu menatap Baekhyun dalam.

"Biasanya aku tidak pernah merasa sangat bersalah seperti ini. Bahkan saat aku membuat ibuku bolak-balik ke kantor polisi aku tidak pernah merasa bersalah sedikitpun. Tapi…" Chanyeol menjeda kalimatnya dan tetap menatap dalam Baekhyun.

"Tapi kau menumbuhkan rasa bersalah itu pada diriku" Chanyeol mengakhiri kalimatnya dengan senyuman. Bukan senyuman bodoh yang ia tunjukkan seperti sebelum-sebelumnya. Senyuman ini sangat tampan, manis, dan mempesona. Bahkan Baekhyun seperti terhipnotis oleh senyuman itu.

Baekhyun terus menatap Chanyeol dengan tatapan yang sulit diartikan. Tetapi semua berubah ketika …

"Apa karena wajah manisku?" Baekhyun menaruh kedua telapak tangannya dipipi dan berekspresi imut.

"Mungkin.." Chanyeol menjawab ragu.

"Hmm.. jadi karena aku manis" Baekhyun menjawab seolah-olah jawaban Chanyeol tadi memang benar. Padahal Chanyeol masih menjawab 'mungkin'.

Chanyeol tersenyum melihat betapa menggemaskannyaa Baekhyun.

"Ngomong-ngomong.. kau bersekolah dimana?" Chanyeol bertanya tiba-tiba.

"Aku tidak bersekolah. Berhenti ketika berumur 13 tahun" Baekhyun menjawab tanpa malu.

"Ah.. beruntungnya. Aku juga ingin tidak bersekolah sepertimu" Chanyeol berkata dengan wajah cemberut.

"Aku bahkan sangat ingin bersekolah. Kenapa kau malah ingin tidak bersekolah" Baekhyun mencibir.

"Kau mau bertukar dengan ku? Kau mau menjadi anak ibuku?" Chanyeol menawarkan.

"Apa kita seumuran? Kelihatannya kau sudah cukup tua" Baekhyun menebak dengan benar tapi itu membuat Chanyeol kesal.

"Aish.. Aku baru 18 tahun bodoh" Chanyeol menjawab kesal.

"Bohong" Baekhyun tidak percaya.. dilihat dari penampilannya Chanyeol terlihat seperti sudah berumur 25 tahun. Sangat menawan..

"Apa aku harus menunjukkan kartu pelajarku?" Chanyeol langsung mencari dompetnya disaku celananya. Namun naas,, ternyata ia lupa membawa dompetnya.

Baekhyun menatap Chanyeol dengan satu alis terangkat.

"Mana? Tunjukkan kartu pelajarmu AHJUSSI" Baekhyun sengaja menekankan kata 'AHJUSSI'.

"Aku lupa membawanya tadi.. pokoknya aku baru 18 tahun" Chanyeol berkata ketus.

"Hei bahkan jika aku seorang ahjussi kau seharusnya memakai bahasa formal denganku. Tapi setelah kuingat-ingat sejak tadi kau bahkan tidak memakai bahasa formal" Chanyeol mendelik sampai matanya hampir keluar.

Baekhyun berpikir sejenak.. iya juga. Kenapa sejak tadi ia tidak memakai bahasa formal?

"Baiklah karena kau sudah mengaku kalau kau ahjussi maka aku akan memanggilmu ahjussi" Baekhyun menaik turunkan alisnya sambil tersenyum mengejek.

"Ternyata kau menyebalkan" Chanyeol membuang wajahnya.

"Eii.. apa kau sedang meraju ahjussi?" Baekhyun berkata imut.

Chanyeol tetap diam.

"Ahjussi" Baekhyun kembali bersikap imut.

Dan Chanyeol tetap diam dengan wajah yang dialihkan ke samping kiri.

Baekhyun yang melihat Chanyeol tetap seperti itu langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan memejamkan matanya.

Chanyeol bingung kenapa jadi hening? Chanyeol menolahkan wajahnya dan ia menemukan Baekhyun yang sudah memejamkan matanya.

"Huh.. dasar" Chanyeol mencibir.

Dilihatnya infus Baekhyun sudah hampir habis. Chanyeol berdiri dan pergi meninggalkan ruangan Baekhyun.

Dihampirinya Victoria yang masih berada diruangan dokter.

"Tok.. Tok" Chanyeol mengetuk pintu.

"Masuklah" Dokter menjawab.

" Oh Chanyeol.. kemari" Victoria melambaikan tangannya pada Chanyeol dan menyuruhnya untuk duduk disampingnya.

"Bagaimana keadaan Baekhyun dok?" Chanyeol bertanya.

"Hmm dia baik-baik saja. Tetapi ada beberapa cidera disekitar bahu kanannya. Mungkin itu karena benturan ketika ia jatuh. Tetapi itu bukan masalah besar. Aku akan memberi resep obatnya, jadi bahunya akan segera pulih" Dokter tersenyum.

"Wah anakku ternyata bisa khawatir juga" Victoria kagum perubahan yang dialami anaknya dalam semalam.

Chanyeol hanya diam, tidak ingin menjawab ibunya.

"Jadi apa kami boleh membawa Baekhyun pulang dok? Anak itu tidak ingin berlama-lama dirumah sakit" Victoria bertanya.

"Boleh saja jika infusnya sudah habis" Dokter tersenyum.

"Baiklah kalau begitu kami permisi dok" Victoria bangkit dari kursinya dan diikuti oleh Chanyeol juga.

"Ini resep obatnya" Dokter memberikan selembaran kertas berisi resep obat Baekhyun.

"Baiklah terima kasih dok" Victoria menerima resep itu kemudian pergi meninggalkan ruangan dokter dan diikuti oleh Chanyeol.

….

..

.

"Permisi Tuan Jang apa kau melihat Baekhyun kemari semalam?" tanya Minsuk pada pemilik mini market.

"Baekhyun? Tidak.. anak itu tidak datang kemari semalam" Tuan Jang lalu berlalu masuk menuju mini marketnya.

Minsuk memilih untuk duduk di kursi panjang yang terletak di depan mini market.

"Ya tuhan tolong lindungi cucuku. Apapun yang terjadi tolong lindungilah cucuku" Minsuk berdo'a di dalam hati sambil memejamkan matanya.

"Tuhan mengabulkan do'a nenek"

"Kuharap juga begitu" Minsuk tetap memejamkan matanya dan tidak menyadari siapa yang menjawab ucapannya tadi.

"Tapi Tuhan memang sudah mengabulkannya" Baekhyun duduk di samping Minsuk dan memeluknya.

"Baekhyun?" Minsuk membuka matanya dan mendapati Baekhyun yang sedang memeluknya.

"Maaf karena membuat nenek khawatir" mata Baekhyun mulai berkaca-kaca.

"Tidak apa-apa selama kau baik-baik saja. Kau baik-baik saja bukan?" Minsuk mengahapus air mata Baekhyun yang sudah menetes.

Baekhyun menjawab dengan anggukan dan kembali memeluk Minsuk.

"Maafkan aku nek"

"Tidak apa-apa cucuku. Nenek tidak marah" Minsuk tersenyum.

"Tapi nenek sampai harus menunggu ku disini.. aku merasa sangat nakal nek" Baekhyun terisak.

"Tidak apa.. nenek tidak apa jika harus menunggumu seperti ini. Lagipula nenek baru datang" Minsuk mengelus belakang kepala Baekhyun.

Baekhyun melepaskan pelukan mereka dan menghapus sisa air matanya dipipi.

"Ayo pulang nek. Disini sangat dingin" Baekhyun menggandeng tangan Minsuk.

"Ayo" mereka berdiri dan berjalan meninggalkan mini market itu.

"Kau dari mana memang semalaman?" Minsuk menoleh dan melihat ada sedikit luka di pipi kiri Baekhyun.

"Ah itu.. tadi malam aku pergi menginap dirumah Xiumin hyung" Baekhyun berbohong. Tetapi Minsuk tahu kalau Baekhyun, karena tadi malam ia sudah mengecek sendiri kerumah Xiumin dan Baekhyun tidak ada disana.

"Ah seperti itu. Syukurlah kau ditempat yang aman" Minsuk memilih untuk berpura-pura percaya.

….

..

.

Beberapa hari kemudian

"Baiklah sampai disini pelajaran kita hari ini" Guru Choi mengakhiri kelasnya.

"Wah kau hebat juga Park Chanyeol. Hari ini kau tidak kabur sama sekali dank au mengikuti pelajaran dengan baik hari ini" Guru Choi memuji Chanyeol.

"Hahaha aku hanya berpura-pura malas dan nakal selama ini" Chanyeol menjawab sombong.

"Teruskan seperti ini" Guru Choi lalu pergi meninggalkan kelas.

"Ckck dasar kau saja yang bodoh.. tidak menyadari kalau aku memang rajin selama ini" Chanyeol mencibir tidak jelas.

Chanyeol memasukkan barang-barang di atas mejanya ke dalam tas. Tetapi tiba-tiba saja ponselnya bergetar menunjukkan panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Chanyeol menjawabnya..

"Halo?"

Tidak ada jawaban disana.

"Halo?" Chanyeol kembali menyapa.

"Ahjussi" Suara itu..

.

.

~TBC~

.

.

Yeay yeay! Gimana? Aneh? Atau aneh banget?

Makasi udah ngeluangin waktunya buat baca FF gw. Kalo suka Fav, follow, and review ya ^^ Kasih pendapat kalian gimana chap pertama ini…

~BaekLuvChan~