Naruto © Masashi Kishimoto

.

Chapter 2

.


Enjoy!


Dua anak laki-laki itu berjalan dalam diam menyusuri jalan setapak menuju sekolah mereka. Satu anak yang berambut hitam cepak dengan poni yang membelah di kedua sisi wajahnya sibuk memain-mainkan bola sepak yang ada di tangannya. Sesekali ia lempar ke atas dan menyundulnya pelan dengan kepala. Sama sekali tidak memedulikan saudaranya yang sejak tadi sama sekali tidak bersuara.

Jalanan yang mereka lalui sudah cukup ramai akan pejalan kaki, terutama anak-anak seusia mereka bahkan lebih tua yang memiliki tujuan sama; Eigoku Gakuen. Sekolah mereka merupakan satu-satunya sekolah di Ueno yang berbasis internasional. Dan jika mengatakan soal internasional, sudah pasti murid-muridnya merupakan keturunan pejabat, pengusaha atau orang-orang terpandang di negeri ini. Lantas, kenapa mereka semua, para murid Eigoku Gakuen, berjalan kaki? Ya, karena letak Eigoku Gakuen yang strategis yaitu di tengah-tengah pusat kompleks mewah di Ueno, dan ada pula peraturan sekolah yang mengatakan bahwa siswa-siswi Eigoku Gakuen tidak diperbolehkan dimanjakan dengan fasilitas antarjemput.

Kedua anak laki-laki yang bisa dibilang kembar identik itu telah memasuki pelataran halaman sekolah mereka yang luas. Masih saling mendiamkan, mereka melangkah ke gedung yang berdiri di arah barat daya dari gerbang masuk, gedung yang berisi anak-anak SD dari kelas 1 sampai kelas 3. Sekolah yang berdiri di tanah seluas 200 hektar itu memiliki program pendidikan dari SD sampai SMA. Karena murid yang bisa diterima di sekolah ini harus memiliki kriteria tertentu, jadi jumlah murid pun tidak terlalu membludak.

Sesaat setelah sampai di depan gedung, lift yang berada tak jauh dari pintu utama berdenting terbuka, dan mereka berdua segera bergegas memasuki lift tersebut yang akan mengantar mereka ke lantai 3. Lantai yang khusus berisi anak-anak kelas 3 SD.

Begitu pintu lift terbuka, mereka langsung melesat keluar dan menuju kelas masing-masing. Sekilas, kedua anak laki-laki itu saling melempar tatapan datar tak bersahabat, sebelum kemudian berpaling dan meneruskan perjalanan.

Si rambut cepak mengambil arah ke kanan dan menelusuri koridor untuk mencapai kelasnya. Kelas 3-C. Sedikit menyebalkan memang jika mengingat ia harus kalah dari saudara kembarnya yang berhasil masuk kelas 3-A. Pengelompokkan kelas yang dilakukan Eigoku Gakuen memang benar-benar diskriminatif!

"Good morning, Sake!"

Anak laki-laki itu menghentikan langkahnya, namun kedua tangannya yang memegang bola tak turut berhenti. Ia memandang dingin seorang anak yang tak pernah bosan memelesetkan namanya dengan sejenis minuman beralkohol itu.

"Shut up, Koi. And stop called me like that! Namaku terlalu bagus untuk kau samakan dengan minuman yang sering diteguk nenekmu."

Anak laki-laki yang dipanggil Koi itu tertawa keras seraya menepuk-nepuk punggung temannya yang beriris onyx itu dengan keras. "Haha, aku tidak tahu kau bisa melawak, Sabaku Sakaki. It's so funny!"

Sabaku Sakaki mendengus, dengan kasar ia menepis tangan Koi dan kembali melanjutkan perjalanannya yang tertunda. Ia hanya bisa memutar mata kala teman idiot-nya itu masih saja tertawa keras di belakangnnya.

"Aku tidak habis pikir, cucu walikota Senju sepertimu benar-benar like a asshole. Mungkin aku sudah gila karena mau berteman denganmu."

Ucapan yang bernada gerutu dan ketus dari Sakaki itu membuat anak laki-laki bernama lengkap Namikaze Koito semakin terbahak. "Haha, kau tau mate, aku ini limited edition. Aku mungkin saja menyebalkan, tapi kau harus ingat, hanya aku yang bisa membuatmu tertawa dan..." Koi menghentikan ucapannya, dengan seringai yang makin lebar, ia meneruskan ucapannya dengan berbisik, "tersipu. Hahaha."

"Shit!"

Setelah mengucapkan itu, Koito langsung tancap gas menjauhi Sakaki, kabur dari amukan sang Sabaku yang jika sedang marah bisa melemparkan apa saja tanpa belas kasihan, bersembunyi entah ke mana.

Sakaki mengusap kasar wajahnya yang memerah, sial benar baginya memiliki teman overactive seperti Koi. Saku celana pendeknya tiba-tiba bergetar, Sakaki lagi-lagi menghentikan langkahnya. Ada pesan masuk.

Aniki, 07:46

He, tersipu? Memalukan.

PRAAANGG

Kaca jendela lantai 3 gedung barat daya Eigoku Gakuen pecah berkeping-keping setelah dihantam bola sepak milik Sabaku Sakaki. Aniki sialan! Awas saja kau, akan kubalas!

...

Kantor pemerintahan memang tidak pernah sepi. Bertumpuk-tumpuk pekerjaan selalu datang tanpa tahu waktu. Tak terkecuali di ruang kerja walikota dan wakilnya. Tidak ada alasan untuk mereka tetap santai, karena pada dasarnya mereka bekerja untuk kepentingan masyrakat. Dan asal tahu saja, kepentingan masyarakat itu tidak ada habisnya! Apalagi jika sebagai pemimpin di kota yang padat penduduk seperti Tokyo.

Senju Tsunade tidak mengalihkan matanya barang sedetik pun ketika telinganya menangkap panggilan seseorang, Sabaku Sakura, wakilnya sebagai walikota Tokyo.

"Nyonya, ini laporan tentang perkembangan proyek 'Pembangunan Tsuribashi Chiisai' yang Anda minta kemarin. Proyek sudah berjalan sekitar 23% di hari ke tiga puluh dua, cukup cepat dari yang diperkirakan."

Sang Walikota hanya mengangguk sambil bergumam, "Ya, terima kasih Sabaku. Taruh saja di sini," sambil menunjuk space kosong di atas mejanya yang sempit, akibat banyaknya barang-barang dan kertas laporan lainnya.

Setelah memberikan laporan tersebut, wanita berambut merah muda itu membungkuk sedikit kemudian melangkah menuju pintu keluar untuk kembali ke ruangannya. Sebelum suara Tsunade menghentikannya,.

"Sabaku, apa kau punya free time untuk nanti malam?"

"Ah, ya, saya punya, Nyonya. Maksud saya, pekerjaan saya sebagian besar telah saya kerjakan. Jadi, tidak ada yang harus saya bawa ke rumah."

Tsunade menghentikan gerakan tangannya, dan untuk pertama kalinya ia mengangkat kepalanya untuk memandang lawan bicaranys. "Begitu," Tsunade tampak berpikir sebentar, sebelum melanjutkan, "Nanti malam ada pertemuan di gedung balai kota. Tapi, aku tidak bisa menghadirinya, masih terlalu banyak laporan dan berkas yang harus kukerjakan. Maukah kau menggantikanku?"

Sakura terdiam beberapa saat, mencerna ucapan sang kepala. Setelah menimbang beberapa hal, akhirnya ia mengangguk. "Baik, Nyonya. Saya akan menggantikan Anda."

Senyum di wajah cantik walikota Tokyo itu merekah, lalu kembali tenggelam dalam pekerjaanya. Sabaku Sakura kembali membungkuk singkat dan meraih handle pintu. Tujuannya telah berubah, bukan ke ruangannya yang terpaut beberapa meter dari ruang kerja walikota, tetapi mengarah ke tangga yang ada di sudut koridor.

Ia naiki satu persatu anak tangga, hingga sampai di depan sebuah pintu kayu bercat cokelat. Ia buka perlahan pintu cokelat tersebut, dan sekejap saja wajahnya segera disambut terpaan angin sepoi-sepoi yang juga menerbangkan rambut merah mudanya.

Haah, rasanya nyaman sekali.

Sebagai seorang wakil walikota, ruang kerjanya memang ditempatkan di lantai paling atas gedung walikota yang berdiri dengan 20 lantai tersebut. Alasannya, agar baik walikota maupun wakil walikota bisa bersantai barang sekejap untuk menikmati angin sejuk disela-sela pekerjaan padat mereka.

Sakura duduk di atas kursi kayu berpelitur di dekat pagar pembatas berupa dinding beton setinggi pinggangnya. Ia menatap langit yang saat ini bersih dari gumpalan awan-awan putih. Angin yang berhembus entah sejak kapan terasa dingin menyentuh kulit Sakura. Tanpa bisa dicegah, ingatan wanita berusia 29 tahun kembali ke delapan tahun silam. Saat hidupnya benar-benar di ambang kehancuran.

Linangan air mata siap meluncur jika saja ponsel wanita itu tidak berdering kencang, menandakan adanya panggilan masuk. Dengan sigap wanita itu menyeka kedua matanya dengan punggung tangan, lalu mengangkat panggilan itu.

"Halo..."

"Sakura, sedang apa? Sekarang waktunya makan siang, mau keluar bersamaku?"

Sakura sedikit berdeham, membersihkan suaranya yang sedikit serak, "Ah, iya, baiklah. Di mana?"

"Aku akan menjemputmu ke kantor."

"Hei, aku ini wakil walikota Tokyo asal kau tidak lupa, Gaara. Aku akan ke sana sendiri. Tempat biasa, kan?"

"Kau masih saja selalu memikirkan pendapat orang lain."

Sakura hanya tertawa kikuk, "Aku harus menjaga wibawaku. Baik, kita ketemu 20 menit lagi, ya? Sekaligus ada yang ingin aku katakan padamu."

"Tentang apa?"

"Ya, nanti aku beritahu saat kita bertemu," ucap Sakura, berdecak tak sabar.

"Baiklah. Sampai nanti."

Klik.

...

"Kau benar-benar harus pulang sekarang, Sasuke?"

"Yes, mom."

"Tapi..."

"Ma, jangan mengatakan hal yang sama untuk ke sepuluh kalinya, oke? Aku harus kembali ke Inggris," ucap Sasuke sembari memandang Mama dengan kernyitan dahi tak suka.

Mama hanya menghela napas tak rela, sedangkan di sampingnya, Uchiha Fugaku, hanya menepuk pundak Sasuke dengan seulas senyum tipis. Mendukung apa pun keputusan anak bungsunya itu. Si kecil Sei kini telah melompat-lompat, ingin digendong oleh oom-nya yang selalu mengajaknya bermain itu untuk terakhir kalinya.

"Oom Sasuke nanti balik lagi, kan? Nanti main sama Sei lagi, kan, Oom?" tanyanya dengan tatapan penuh harap. Matanya yang hitam bulat membuat Sasuke tak tega untuk tidak mengiyakan permintaan keponakan satu-satunya itu.

Sei menjerit kegirangan setelah mendapat anggukan dari sang oom. Ia segera turun dari gendongan Sasuke, dan kini memeluk kaki Kakeknya. Naori tertawa kecil melihat tingkah putra kecilnya itu. Ia menatap Sasuke dengan kilat jenaka.

"Hei, Sasuke. Siap-siap saja untuk menyambutku di London nanti, karena aku akan datang secara tidak terduga. Dan jika saat itu kau masih belum punya pacar..." senyum misterius yang tersungging di sudut bibir Naori, membuat Sasuke merasakan perasaan tidak enak. "Aku akan langsung menjodohkanmu dengan perempuan pilihanku."

"Hei! Mana bisa begitu!" protes Sasuke dengan mata membelalak. "Lagipula, perempuan mana yang mau disuruh seenak jidatmu untuk menikah denganku," sungut Sasuke.

"Itu akan aku pikirkan."

"You're mad."

"Yes, i am."

Sasuke mendelik tajam menatap kakak perempuan yang empat tahun lebih tua darinya itu. Suami Naori yang berdiri di samping wanita itu hanya menepuk pelan punggung istrinya. Mengingatkan untuk tidak bersikap lebih menyebalkan kepada adiknya sendiri.

Percakapan keluarga itu harus terhenti setelah petugas mengumumkan jika beberapa menit lagi pesawat yang terbang ke Inggris akan take off.

"Kalau begitu aku pamit dulu."

Tanpa ingin mendengar lagi wejangan-wejangan absurd yang bisa memakan waktu berpuluh-puluh menit itu dari Mama atau Naori, Sasuke langsung melesat menuju pintu keberangkatan luar negeri setelah sebelumnya mengusap kepala si kecil Sei.

Setelah Sasuke menghilang di pintu keberangkatan luar negeri, Mama mengalihkan perhatiannya pada Naori dan Yamato, suami Naori.

"Tiga jam lagi kalian juga akan berangkat, kan? Kita ke restoran dulu saja, ya," ucap Mama sambil meraih pergelangan tangan Sei dan menuju pintu keluar Bandara.

...

Sakura sedang mematut dirinya di depan cermin kala ketukan dipintu kamarnya terdengar, ia hanya menyahut sekenanya. Pintu berayun terbuka, dan terlihat seorang pria muda berambut merah bata berdiri di ambang pintu. Ia mengangkat sedikit sudut bibirnya melihat wanita merah muda itu sibuk mengoles lipstick berwarna merah di atas bibir tipis itu.

Setelah merasa semua dandanannya sempurna, Sakura meraih dompet yang berhias kristal di atas tempat tidurnya. Gaun setinggi lutut yang memiliki rumbaian dibelakangnya bergoyang pelan saat si pemilik melangkah mendekati Gaara.

"Maaf menunggu lama," kata Sakura.

"Tidak apa-apa. Pergi sekarang?"

"Ya."

Sakura menutup pintu di belakangnya sebelum mengikuti Gaara yang telah menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Mereka menuju ruang keluarga untuk berpamitan dengan si kembar terlebih dahulu, namun tampaknya salah satu dari mereka entah berada di mana.

Sakura mengerutkan dahinya, "Sakaki, mana kakakmu?" tanya Sakura pada anak bungsunya yang sedang sibuk berkutat dengan game stick di tangannya.

Tanpa menoleh, Sakaki menyahut cuek, "Tidak tahu. Mama mau pergi, ya?"

"Hei, mana bisa begitu. Kalian ini, padahal kembar, kenapa sama sekali tidak bisa akur?" omel Sakura sambil berkacak pinggang.

"Sakaki bukannya tidak bisa akur dengan dia, Ma. Cuma dia saja yang terlalu menyebalkan dan sok. Jangan lupa juga, dia itu selalu ingin menang sendiri."

Sakura memutar kedua bola matanya. Selalu seperti ini, kedua anak lelakinya itu selalu saja tidak pernah bisa akur. Wanita berhelai merah muda itu mendekati anak bungsunya, sedikit membungkuk, ia meraih kepala yang ditumbuhi rambut hitam anaknya itu lalu mengecupnya pelan.

"Ya, sudah. Tapi, kalian jangan berkelahi, ya? Mama pergi dulu, ada pertemuan di balai kota. Makan malam sedang disiapkan Bibi Ayame, ajak kakakmu nanti untuk makan malam bersama."

Sakaki meletakkan game stick-nya, lalu menatap Mamanya dengan senyum lirih. "Padahal Sakaki ingin makan malam dengan Mama."

Raut wajah Sakura langsung berubah sedih, sebetulnya ia juga ingin sekali menghabiskan waktu dengan kedua anaknya. Tapi, apa mau dikata? Pekerjaannya juga penting.

"Maafkan Mama, Sayang. Ah, Mama sudah hampir telat. Beritahu kakakmu, Mama pergi dengan Gaara."

Setelah sekali lagi mengacak rambut hitam anaknya, Sakura beranjak mendekati Gaara yang sedari tadi diam di ujung ruangan. Tampak tidak ingin mengganggu ibu-anak itu. Sakaki menatap dengan pandangan datar kepada mamanya yang kini telah menghilang di balik tikungan dengan pria berambut merah. Senyum yang sempat terukir tadi, hilang tak berbekas.

Anak bungsu Sabaku Sakura itu kembali mengalihkan pandangannya ke layar televisi lebar di depannya. Kembali melanjutkan permainan yang sempat tertunda. Ia melirik sedikit dengan ekor matanya kala mendengar suara langkah kaki mendekat.

"Mama pergi, lagi. Ada pertemuan di balai kota."

"Hn."

"Dengan Gaara."

Ucapan Sakaki kali ini tidak diacuhkan kakaknya. Anak sulung Sakura itu memilih untuk duduk di sofa tak jauh dari adiknya dengan sebuah majalah bisnis yang menutupi pandangannya. Sakaki menghentikan lagi permainannya. Ia beranjak, mendekati kakaknya.

"Kurasa aku juga memiliki kemampuan sepertimu, Aniki."

Anak laki-laki yang dipanggil 'Aniki' oleh Sakaki itu bergeming. Tidak terdengar lagi suara kertas yang dibolak-balik seperti beberapa detik lalu.

"Benarkah?" tanggapnya.

Seringai tipis terukir dibibir Sakaki, dengan bangga ia membalas perkataannya. "Ya. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan sesuatu yang menarik. Bersiaplah, Aniki Sakaku."

Si sulung akhirnya menurunkan majalahnya. Menatap sang kembaran yang memiliki wajah identik dengannya dengan kedua mata berbeda warna. Mata hitam yang ada di sebelah kiri tampak kosong, namun berbanding terbalik dengan mata kanannya, berwarna merah menyala seakan dipenuhi dendam dan amarah yang menggebu-gebu.

Keadaan serupa kini terjadi pada Sakaki. Kedua matanya yang semula hitam, kini mata sebelah kirinya berubah berwarna merah yang persis sama seperti milik Sabaku Sakaku. Mereka berdua saling melempar seringai misterius nan mengerikan.

"Sudah waktunya kembali ke masa lalu. Menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan. Dan tidak lupa, membalaskan perasaan hancur orang yang kita sayangi kepada yang patut dipersalahkan."

.

.

Announcement

Transfer Employee

Brazil :

Torry Schmidz

Yate Dasew

Netherland :

Nate Kalton

US :

Pater McCaroll

France :

Monic Josephin

Japan :

Uchiha Sasuke

Sabaku Temari

The Departure Date

Tomorrow, 24th May

.

.

To Be Continue


Ada yang bisa nebak Gaara di sini siapanya Sakura? #cmiw