Kembali ia membenamkan wajahnya dalam tekukan lutut. Ia tidak yakin akan ada orang yang bisa membantunya. Samar-samar dalam gelapnya ruangan manik viridian Sakura menangkap adanya getaran pada jari-jari Sasuke yang semakin kuat memeluk kedua sikunya sendiri.
"Pergilah... aku tidak ingin melukai orang lain lagi. Jangan pedulikan aku...!" Lirihnya berat.
"….."
"….."
.
.
.
.
"Kehilangan adalah satu hal yang kurasakan saat kau tidak ada. Karena kehadiranmu adalah hal yang terus kunantikan disaat gelisah menghampiriku."
Naruto © Masashi Kishimoto
Innocence
A Naruto Fanfiction by Asakura Ayaka
Chapter 2 : Promise
.
.
.
.
Hening.
Beberapa detik mengumpulkan keberanian, perlahan tangan mungil Sakura menggenggam tangan yang bergetar di hadapannya. Menepis ketakutannya pada Sasuke berapa kalipun lelaki itu mencoba memaki dan menyiksanya, juga memperingatkan lewat sentuhannya bahwa Sasuke tidak perlu terus-terusan seperti ini. "Tenanglah... ada aku disini untukmu..." ucapnya halus.
Diusapnya kepala berambut raven itu penuh kasih, Sasuke pun merasakan sikap protektif tertuju padanya. Sedikit ia percaya bahwa wanita ini benar-benar akan melindunginya dari bayang-bayang kejadian buruk yang terus menghantuinya.
"Saku...ra..."
"Hm?" 'Syukurlah dia ingat namaku...'
"Jangan sakiti aku... aku tidak butuh... suntikan-suntikan itu, aku tidak ingin dikekang lagi, aku ... aku—" belum sempat melanjutkan kata-kata Sasuke justru mengeratkan pegangan tangannya semakin kuat. Ketakutan begitu tersirat dari mata onyx-nya. "Berjanjilah..." gumamnya lagi penuh harap.
Sementara Sakura, mati-matian ia menahan rasa nyeri di tangannya akibat genggaman erat Sasuke. Kalau bisa berteriak, ia pasti sudah berkoar-koar kesakitan saat ini. "T-Tenang saja, kita hanya akan melakukan hal-hal baru. Aku janji tidak akan memberi obat-obatan seperti mereka, kau harus mau bekerja sama denganku. Bersama-sama kita hadapi masalahmu, ya?" Sakura tersenyum menatapnya.
"Hn. Kalau begitu jangan pergi. Tetaplah disini."
"Eh? Ta-Tapi... aku harus pulang, Sasuke-kun. Aku hanya melihat keadaanmu saat ini, besok—"
"AKU TIDAK PEDULI! KAU SUDAH BERJANJI PADAKU!"
Sakura menghela nafasnya berat, sepertinya ia terpaksa harus menginap disini. Kesan pertama merupakan sesuatu yang paling penting dalam mempengaruhi persepsi seseorang. Ia tentu tidak akan mengingkari janji di hari pertama pertemuannya dengan Sasuke. "Baiklah, tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Kau harus mengikuti semua peraturanku. Sekali saja membantah, aku akan pergi dari sini." tuturnya mantap. Sasuke hanya melembutkan tatapannya, pandangannya tak bisa lepas dari paras cantik di depannya. Perasaan bersalah menghinggapi hatinya ketika melihat gadis itu tersenyum tulus menjawab segala perlakuan kasarnya.
"Tadi aku... aku memukulmu... apa aku menyakitimu? Kau mau air hangat? Tunggu disini!" Ia bergegas keluar kamar buru-buru. Mencoba menahan Sakura untuk tetap berada di kamarnya.
.
.
#####
.
.
DRAP DRAP DRAP DRAP DRAP
"Sasuke-kun? Kau mau apa, Nak? Sini biar ibu saja." Mikoto heran melihat putra bungsunya yang tumben-tumbenan keluar kamar. Ia sedikit ngeri ketika melihat Sasuke mengambil gelas beling, takut-takut benda itu akan digunakannya untuk menyakiti Sakura. Namun pikiran buruknya itu hilang begitu melihat tangan cekatan Sasuke menuangkan teh hangat di gelas itu dan kembali ke kamar.
Penasaran ia mengikuti langkah Sasuke menaiki tangga. Putranya itu terus mengacuhkan setiap pertanyaan yang dilontarkan Mikoto. Hingga dilihatnya Sasuke kembali memasuki kamar, dan sekarang ruangan itu sudah terang berkat lampu yang dinyalakan Sakura. Gadis itu sedang duduk manis di ranjang putranya yang dengan telaten memberinya minuman hangat. Rasa lega menyelimuti hati Mikoto, ternyata harapannya pada Sakura tidak sia-sia. Sasuke bisa tenang ditangannya.
"Terima kasih tehnya, Sasuke-kun."
Tanpa menanggapi, Sasuke menatapnya datar. Ia memberanikan diri untuk menyentuh sosok di hadapannya. Merapikan rambut pink yang sedikit acak-acakan berkat jenggutan kerasnya. Hampir saja membuat Sakura tersedak dan menyemburkan teh panas itu ke wajahnya.
DEG!
'Kami-sama, apa yang aku pikirkan barusan!' inner Sakura merespon sikap Sasuke yang berbalik 180 derajat. Dari kekerasan berubah menjadi kelembutan, dari panas menjadi dingin. Emosinya begitu labil, mudah terpengaruh suasana dan tidak terkontrol.
Dalam penerangan dan jarak sedekat ini, Sakura bisa melihat jelas wajah Sasuke yang tampan meski agak kusut, mata kelamnya seperti menyimpan ribuan rahasia. Seperti akan sulit menebak tipe kepribadiannya nanti.
Tidak ada yang berniat memulai pembicaraan lagi, Sasuke berjalan menuju arah pintu kamarnya dan—
CKLEK!
—ia mengunci pintu kamarnya, membuat rasa waswas Sakura kembali hadir. Masih dengan ekspresi datarnya Sasuke mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur di samping kasurnya. Sakura dibuat shock ketika melihat Sasuke tengah berganti baju tanpa dosa di hadapannya. Detik berikutnya ia pun merasakan kasur itu berguncang, saat membuka mata terlihatlah Sasuke yang sedang mencoba tidur di sampingnya.
Bingung.
Sebenarnya apa mau orang ini? Ia bahkan mengacuhkan Sakura yang masih duduk di tepi kasur menggenggam gelas teh buatannya. Seakan-akan Sakura adalah manusia transparan, Sasuke bercuap-cuap sendiri seperti orang gila. Oh ya, Sakura lupa kalau pasiennya satu ini memang hampir gila.
"Mungkin? Kita lihat saja. Ah ya... sudah lama aku tidak melihat yang seperti itu? Tidak. Semuanya berbeda, dia jelek, aneh, dan bukan perempuan baik-baik." Sasuke bergumam tak jelas, "20, atau 30? Entahlah. Nanti aku ak—Kau lihat apa?" tanyanya melirik Sakura yang tampak sedang menutup mulutnya sendiri.
"K-Kau... bicara dengan ssssiapa?" Sakura mulai takut. Apakah Sasuke bicara dengan hantu? Tapi bukannya menjawab, pemuda itu justru menggedikan bahunya. Rasa horror pun semakin meneror Sakura. Susah payah ia menelan liurnya sendiri. Terkunci dikamar bersama pasien tidak waras, dan terlebih lagi Sasuke menyuruhnya tidur di sampingnya.
Cobaan macam apalagi kah? Siapa yang menyangka kalau hari ini akan berakhir seperti ini?
.
.
#####
.
.
Tap Tap Tap Tap
"Sasuke, lihatlah perbuatanmu itu. Apa kau pikir ini yang terbaik untukku?" lelaki itu menunjuk sesosok mayat yang terkapar di depan mata adiknya dengan telunjuknya yang berlumuran darah.
"APA-APAAN KAU, NII-SAN?! KAU SUDAH GI—"
CTRAK!
Ucapannya seketika terpotong seiring nafasnya yang tertahan begitu merasakan moncong pistol tengah ditekan secara paksa di keningnya. Serasa kematian akan menjemput, ia menatap nanar satu-satunya kakak kesayangannya itu, "Tidak... Kau bukan Aniki..." desisnya tak percaya.
"Hn. Kau yang membuatku seperti ini. Harusnya kau berlutut meminta maaf padaku, memohon ampun atas kelancanganmu. Sekarang gunakan otak jeniusmu itu. Pikirkan baik-baik kesalahan terbesarmu padaku. Kurasa matipun aku takkan bisa tenang..." tuturnya santai sembari menjauhkan pistol itu dari wajah Sasuke.
"Apa yang—"
"Sayonara…"
DORR!
"AAAAAAAAARRRRGHHHHH!" Sasuke berteriak histeris mengejutkan Sakura dari tidurnya. Untuk kesekian kalinya lelaki malang itu terus memimpikan hal yang sama. Memimpikan pertemuan terakhir dengan Itachi yang berusaha menghabisinya. Refleks Sakura pun langsung menenangkan, "Sasuke-kun, kau kenapa?! Tenanglah! Jangan—"
PLAAKK!
"PERGI DARI SINI, BODOH!"
Tanpa ragu ia menyeret Sakura keluar dari kamar, tidak ingin gadis itu menjadi pelampiasan emosi tak terkendalinya lagi.
BLAMM!
Bantingan pintu pun membangunkan Mikoto dan Fugaku yang semula sedang tertidur lelap, khawatir mereka melihat kondisi Sakura. Memastikan gadis itu masih hidup atau tidak setelah berjam-jam bersama Sasuke.
"Sasuke buka pintunya!" Fugaku mengetuk pintu kamar putranya berkali-kali tapi tak direspon.
Kesunyian pun hadir beberapa belas menit berikutnya, nampaknya pasien Sakura itu sudah kembali terlelap dalam tidur. "Maaf Tuan, Nyonya. Saya harus pulang sekarang." pinta Sakura serius.
"Tidak aman kau pulang dini hari begini, Dokter Haruno. Tidurlah disini dulu, aku akan menyiapkan kamar lain untukmu." bujuk Mikoto.
Dipijitnya pelipis yang terasa pening itu, Sakura mulai merasa tidak tahan dengan kondisi Sasuke yang nyatanya memang parah. Mampukah ia menyembuhkan manusia satu itu?
'Tidak mungkin…'
.
.
#####
.
.
Pagi harinya, wajah Sakura nampak pucat pasi begitu keluar dari kamar mandi. Ia tidak bisa tidur semalaman, entah apa yang mengusik pikirannya. Sarapan pun tidak berselera, dengan halus ia terus menolak ajakan Mikoto untuk makan bersama. Terbesit keinginan untuk segera hengkang dari rumah itu, namun ia teringat akan Sasuke. Setidaknya ia perlu memeriksa kondisi pasiennya itu pagi ini.
TOK TOK TOK
"Sasuke-kun? Aku masuk ya?"
Pelan-pelan ia membuka pintu kamar itu, Sasuke pun segera membalik posisinya dari kursi menyambut kehadiran Sakura.
"Selamat pagi, Dokterku yang cantik."
FUUUHHHH~
Tidak sopan lelaki itu meniupkan asap berbahaya dari mulutnya pada Sakura, "Uhuk uhuk uhuk—Kau?! Sejak kapan kau merokok di dalam kamar?" Sakura mulai naik pitam.
"Kenapa? Kau mau? Ini." dengan polos ia menawarkan sebungkus rokok pada dokternya sendiri meskipun ia tahu gadis itu pasti menolak. Seringaian tidak jelas kini terpatri di wajah tampannya. "Yang seperti ini lebih ampuh daripada obat penenang. Kau boleh mencobanya kalau mau." tawarnya lagi.
"Berhenti merokok di depanku. Menghirup asapnya saja aku sudah mual. Apalagi—"
FUUUHHHH~
Lagi-lagi asap itu tertuju padanya. Sakura memejamkan mata dan membuang mukanya. Sudah enggan menatap Sasuke yang jelas sengaja menguji kesabarannya. Rasa mual langsung merasuki perutnya akibat asap rokok tadi, ia bergegas keluar dari kamar yang serasa pengap udara itu meninggalkan Sasuke yang terkekeh sinis melihat reaksinya.
.
.
.
.
Menit berikutnya Sakura kembali ke kamar Sasuke dengan wajah masam. Ia mengambil paksa rokok yang bertengger di bibir tipis pria itu dan segera mematahkannya tanpa ampun. Bungkusan rokok di meja pun tak luput dari aksi pemberantasannya.
"Asal kau tahu saja, dalam asap rokok terdapat 4000 zat kimia berbahaya untuk kesehatanmu. Pada saat kau menyalakannya nikotin akan merasuki sirkulasi darah dan hanya membutuhkan waktu lima belas detik untuk mencapai otakmu!"
"Hn. Karena nikotin dapat memicu sistem dopaminergik yang menyebabkanku merasa lebih tenang, bukan begitu? Aku juga tahu semua itu. Jangan dikira aku ini bodoh." Sasuke kembali ngeyel dari nasehat dokternya.
"Baguslah kalau kau tahu, tapi aku tetap tidak mengizinkanmu melakukan hal yang seperti itu lagi. Ingat perjanjian kita semalam, sekali saja kau membantah maka aku akan meninggalkanmu. Mengerti?"
"Sudah kubilang kau tidak punya hak mencampuri hidupku." jawabnya datar.
"Tapi aku memiliki kewajiban untuk merawatmu, dan kau punya hak untuk sembuh." tandas Sakura langsung membungkam segala protes yang siap dilayangkan Sasuke padanya.
"Aku harus pulang, nanti sore aku akan kembali kesini. Ini nomor ponselku, jangan segan-segan untuk menghubungiku, oke?" ia pun menyodorkan selembar kartu namanya. Hampir saja ia keluar dari kamar yang suasananya mirip ruang penyiksaan itu jika sesuatu tidak menyadarkan pikirannya.
SREEEEEETTT!
Digesernya gorden biru tua yang terus menutupi jendela kamar gelap Sasuke, "Sinar matahari sangat bagus untuk perkembanganmu. Cobalah untuk melihat dunia luar dari balik jendela… Di luar sana, masih banyak hal-hal menyenangkan yang bisa menepis sugesti negatifmu." ia kembali mengulas senyum hangatnya. "Aku pamit dulu, sampai jumpa lagi Sasuke-kun."
Kedua manik obsidian itu mengernyit pada jendela kamarnya yang bercahaya, sudah lama ia tidak melihat sinar surya pagi hari seperti ini. Suasana pekarangan rumahnya yang hijau juga tidak terlalu buruk untuk dilihat. Namun ada satu hal yang menurutnya lebih menarik untuk diperhatikan, yaitu ketika gadis pink itu berpamitan dengan kedua orang tuanya di depan pagar dan melambai memasuki mobilnya yang semakin lama semakin menjauhi jalanan rumahnya.
"Kapan kau akan kembali, Sakura...?"
.
.
.
To be Continued
.
.
Holaa terima kasih pada reviewer chapter kemarin:
Rukawa Suzaku, barbieandken, Ritard S Quint, Ladychibby, Neerval-Li, Merin ayuzawa, Ainia Darkladie Kazekage, FuuYuki34, Redsans Mangekyou, chusnul17, Mey Hanazaki, me, L, Fiyui-chan, cita, ichiruki rien, Mizuira Kumiko, akasuna no ei-chan, pussychan, sandra difita, Tsurugi De Lelouch, Ucucubi, xxx, Soki, Trafalgar Law 04, Chintya Hatake-chan, key, ms amethyst, WonderWoman Numpak Rajawali, skyesphantom, Karasu Uchiha, dan para Guest serta silent readers yang sudah baca follow dan fave fic ku ini diharapkan lagi partisipasinya ^^
Chapter ini hanya 1700 words. Gapapa kan? Hehe biar rileks bacanya. Karena aku menggabungkan unsur kekerasan dan edukasi sekaligus dalam fic ini, kuharap kalian gak aneh bacanya ya ._. oke, ditunggu Review nya lagi~. Aku butuh tanggapan kalian dalam melanjutkan cerita ini, lumayan untuk masukan chapter depan hehe. See ya~
