Pagi itu, aku terbangun agak siang dari biasanya…
Aku mendengar alarm ponselku berbunyi 3 kali di pukul 5 pagi. Tetapi tubuhku rasanya tidak mau diajak kompromi. Walhasil, aku pun bangun pukul 5.45 dan aku yakin ayahku pasti marah mengetahui aku bangun terlalu siang. Tidak ingin mencari perkara, aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelahnya, aku turun ke ruang makan untuk minum segelas air. Aku mendapati ayahku sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat sarapan.
"Selamat pagi, Ayah," sapaku lesu.
"Kau kesiangan, Nak?" tanya Vergil sambil memotong buah stroberi. "Kau terlambat 45 menit dari jadwal bangun tidurmu. Kau terjaga di depan komputermu?"
Aku menggeleng sebagai jawaban. Dia melanjutkan, "Menelpon Kyrie sampai lewat tengah malam?"
"Aku sungguh tidak melakukan apa pun, Ayah," balasku sambil mengucak kedua mataku.
Vergil tidak mengatakan apa pun. Dia membelakangiku sambil mengocok telur. Punggungnya yang bidang itu terasa dingin. Dia seperti membangun sebuah tembok dan mencegahku untuk meraihnya. Pandangan mataku tidak lepas darinya. Meski masih mengantuk, aku masih teringat dengan pembicaraan kami yang tidak selesai semalam. Terus terang, aku benar-benar terjaga karena tidak bisa menentukan pilihan. Bagaimana aku akan melewatkan akhir pekanku nanti? Dengan Kyrie, atau dengan Darius? Atau malah aku memilih setuju untuk ikut dengan Vergil ke acara Dinner Gala itu?
"Ayah…" kataku kemudian memecah keheningan.
"Ya, Nak?" jawabnya masih terus memasak.
"Aku…ingin…" duh, jadi sulit berbicara begini. Aku malah meremas-remas tanganku sendiri.
"Sudah memutuskan untuk hari Sabtu nanti?"
"Soal itu, err…sepertinya aku sudah memutuskan. Tapi, nampaknya di luar pilihan yang kupunya."
"Katakan. Aku mau dengar."
"Aku punya ide. Bagaimana kalau kita batalkan semua rencana kita masing-masing? Aku akan membatalkan punyaku, dan kau harus membatalkan punyamu. Kita akan meluangkan waktu di akhir pekan bersama-sama."
Vergil berbalik dan menjawab, "Rasanya tidak mungkin, Nero."
"Ayah-"
"Aku diundang sebagai pembicara di acara itu," sambung ayahku memotong kata-kataku. "Jika aku membatalkannya, aku malah akan mempermalukan namaku dan perusahaanku. Klienku ini bukan sembarangan orang. Dia mempunyai jabatan sangat berpengaruh di pemerintahan."
Mendengar dia menjawab seperti itu, aku seperti mendapat hantaman keras di ulu hatiku. Aku ingin membalasnya, namun bibir ini terasa kaku. Dia melanjutkan, "Aku tidak masalah jika kau tidak ikut denganku. Kau boleh pergi dengan temanmu atau Kyrie. Namun peraturanku tetap berlaku, Nero. Sebelum jam 6 sore, kau sudah tiba di rumah. Aku tidak mentolerir keterlambatan barang semenit pun."
"Lalu jika aku sudah pulang, kau akan pergi kan?" tukasku. "Untuk apa aku pulang cepat jika kau tidak ada di rumah?"
Vergil kembali meneruskan urusannya membuat sarapan. Aku mencoba meneruskan kata-kataku. Aku tidak peduli jika dia mau mendengarku atau tidak. "Aku ingin menghabiskan akhir pekan ini bersamamu, Ayah. Kita bisa pergi ke suatu tempat. Sekedar jalan-jalan, makan siang di luar, atau apa pun itu asalkan bersamamu."
"Sudah kubilang, itu tidak mungkin kulakukan," tegas Vergil dan kini nada bicaranya terdengar sedikit kesal. Dia membuatku terdiam, aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku lagi.
"Nak, lihatlah jam dinding. Ini sudah waktunya kau mempersiapkan diri untuk sekolah. Kau sudah bangun kesiangan. Aku tidak ingin kau kesiangan lagi berangkat sekolah. Sarapan akan siap pukul 6.30. Bergegaslah," dan pembicaraan kami pagi itu pun berakhir.
-000-
Aku memandangi bekal makan siangku dengan tatapan kosong. Kentang goreng, roti gulung isi sosis, potongan timun, dan sekotak susu cokelat dingin adalah menu bekal makan siangku. Sejak pukul 11 aku sudah menahan lapar, tetapi sekarang aku kehilangan nafsu makanku. Lamunanku kemudian buyar ketika 2 orang temanku, Darius dan Caesar, datang menghampiriku.
"Aku mau kentangnya, Nero," kata Darius langsung menyambar kentang goreng di kotak makanku.
"Tidak sopan, Darius!" bentak Caesar. "Nero bahkan belum menyentuh makanannya."
"Kau tidak makan, Sobat?" tanya Darius sambil mengunyah kentang gorengnya.
Aku menggeleng lesu dan menjawab, "Aku kehilangan nafsu makan. Err…ngomong-ngomong, Darius. Kau bisa pergi tanpa aku ke pameran itu kan?"
"Wah, jangan bilang kau menolak ajakanku karena ayahmu melarangmu pergi! Tidak, Nero. Kau harus ikut pokoknya," balas laki-laki berambut cokelat itu tegas. "Caesar juga ingin kau pergi. Iya kan, Caesar?"
"Tapi jika memang Nero tidak bisa, aku tidak akan memaksa," jawab laki-laki berambut pirang itu kemudian menepuk bahuku. "Jika ayahmu melarang, kita tidak punya pilihan."
"Ayahku tidak melarangku," kataku. "Seperti biasa, aku boleh pergi asalkan harus tiba di rumah sebelum pukul 6. Lewat dari itu, dia akan menghukumku."
"Rasanya itu bukan masalah besar. Kita akan atur waktunya supaya kau bisa pulang tepat waktu," kata Caesar. "Jika memang ayahmu tidak melarang, kita pergi saja hari Sabtu."
"Lalu bagaimana dengan Kyrie?" tanya Darius.
"Terlepas dari janjian denganmu atau Kyrie, ayahku hendak mengajakku pergi juga."
"Padat sekali acaramu kalau begitu. Mau ke mana?" tanya Caesar.
"Ke acara makan malam besar perusahaan kliennya."
Darius menggelengkan kepala, "Kau pernah cerita kepada kami kalau kau pernah datang ke sana dan acaranya sangat membosankan, benar? Kau yakin mau ikut dengannya kali ini, Nero?"
"Aku sudah mengatakan padanya kalau aku tidak mau datang," jawabku.
"Lalu? Apa yang kau permasalahkan sekarang, hah? Kita masih bisa pergi! Yang penting kau pulang tepat waktu, dan kau bisa bebas sedikit di rumah selagi ayahmu pergi ke acaranya."
"Darius, kau tidak mengerti perasaan Nero," kata Caesar sebelum aku menjawab. "Ayah Nero itu sangat sibuk. Dia bekerja di rumah, dan pasti jarang sekali kalian punya waktu untuk bicara, benar?"
Aku mengangguk dan mendengarkan kata-kata Caesar, "Menurutku, kau ikut saja dengan ayahmu, Nero. Kau tidak akan menemukan kesempatan lain untuk menghabiskan waktu bersama dengannya. Tidak peduli acara apa yang akan kalian hadiri, yang penting kalian bisa pergi bersama."
"Aku tidak suka berada di antara keramaian serbah mewah macam itu, Caesar," jawabku kemudian menyandarkan punggungku ke kursi. "Kalau aku datang ke sana, aku pasti ditinggal sendiri oleh ayahku. Sementara dia akan berbicara dengan semua rekan bisnisnya. Segelas wine atau sepotong kue sponge cokelat tidak akan terasa enak jika kunikmati di antara kerumunan orang asing berpakaian mewah. Aku merasa tidak cocok berada di sana."
Caesar tertawa dan melanjutkan, "Namanya juga Dinner Gala. Pasti mewah dan berkelas. Nikmati saja, Sobat!"
"Kalau aku jadi kau, mungkin aku memilih ikut ke Dinner Gala itu," sambung Darius. "Makanannya pasti enak-enak. Terlebih lagi, semuanya gratis!"
Aku melempar gulungan kertas ke kepala Darius dan berkata, "Kau hanya mengikuti kata perutmu, bukan kata hatimu!"
Caesar tertawa dan berkata, "Sudahlah, Nero. Kami tidak apa-apa jika kau tidak jadi ikut dengan kami di hari Sabtu. Bersenang-senanglah bersama ayahmu. Anggap saja ini kesempatan yang bagus bagimu mengenal sosok ayahmu, orang-orang yang bekerja untuknya, dan bagaimana dia menjalin hubungan baik dengan semua tamu di acara itu."
"Pasti akan sangat membosankan, haaah…" keluhku kemudian dan suaraku terdengar oleh Kyrie yang kebetulan baru saja masuk ke kelas setelah pergi makan siang di kantin bersama teman-temannya. Saat Kyrie menghampiriku, Darius dan Caesar mempersilakannya duduk di dekatku. Sementara mereka keluar dari kelas untuk membeli makan siang.
"Kau baik-baik saja, Nero?" tanya Kyrie sedikit mencemaskanku.
"Kyrie, sepertinya aku tidak bisa ikut denganmu hari Sabtu," jawabku lesu.
"Apa kau akan pergi dengan Darius dan Caesar?"
Aku menggeleng dan menjawab, "Aku tidak akan pergi dengan mereka juga. Sabtu ini, aku akan pergi dengan ayahku."
"Oh, bukankah menyenangkan bisa pergi dengannya, Nero? Mengapa kau terlihat kurang bersemangat?"
"Menghadiri acara Dinner Gala bukanlah sesuatu yang kuinginkan. Aku bahkan sudah menyuruhnya tidak datang di acara itu. Tetapi dia bilang tidak bisa karena dia akan menjadi pembicara di sana."
"Ikut saja, Nero. Tidak apa-apa kan?"
"Kau adalah orang ketiga yang mengatakan itu setelah Darius dan Caesar. Aku masih tidak mengerti mengapa kalian menginginkan aku ikut dengan ayahku."
Kyrie tertawa, "Alasannya sudah jelas, bukan? Mereka tahu, dan aku tahu, seperti apa sibuknya ayahmu sampai kalian tidak punya waktu untuk pergi bersama di akhir pekan. Nikmati saja, Nero. Aku tidak masalah jika kau tidak jadi ikut denganku ke toko buku. Aku akan tetap pergi bersama Tania dan Emily."
Tidak hanya Darius dan Caesar, bahkan Kyrie pun menyuruhku untuk ikut ayahku saja. Mereka memang tahu bagaimana hubunganku dengan ayahku. Saat mereka mengetahui aku punya rencana pergi dengan ayahku, mereka langsung menyemangatiku dan menyuruhku melupakan rencana apa pun di luar itu. Mereka ingin hubunganku dengan ayahku tetap harmonis dan selaras, tidak peduli seberapa sibuk ayahku bekerja.
"Kau yakin akan baik-baik saja jika aku tidak ikut, Kyrie?" tanyaku sambil menegakkan posisi dudukku."
"Tenang saja. Nikmati saja kebersamaanmu dengan ayahmu, Nero," jawab perempuan berambut cokelat itu sambil tersenyum dan memegang tanganku. "Ayahmu pasti sangat senang mengetahui kau mau ikut dengannya."
"Aku tidak pernah tahu bagaimana dia bahagia. Keningnya selalu berkerut, senyum pun nyaris tidak pernah terlihat. Ayahku terlalu serius."
"Kau juga kadang-kadang begitu kan? Hihihi…"
-000-
Pulang sekolah, aku menemukan pemandangan yang tidak biasa di rumah. Aku mendapati ayahku tidur di sofa ruang tengah. Satu tangannya melintang di atas kepalanya, satu tangan lainnya mendekap bantal kecil. Kalau diperhatikan, meski sedang tidur, dia terlihat tidak tenang. Di meja, aku melihat ada 3 cangkir teh yang sudah kosong. Dia baru saja menerima tamu rupanya. Ketika aku menghampiri ayahku, aku tidak sengaja menginjak beberapa lembaran kertas di lantai. Aku memungutnya dan kuletakkan di meja.
"Ayah?" aku mencoba membangunkannya. Kutepuk bahunya pelan beberapa kali. "Ayah, aku pulang."
Sontak Vergil membuka kedua matanya dan terkejut mengetahui aku sudah pulang. "Oh, selamat datang, Nak," katanya masih mengantuk. "Berapa lama aku ketiduran?"
"Entahlah, tapi kau sudah tidur lelap saat aku tiba di rumah. Tidak apa-apa, Ayah. Mungkin kau lelah. Bagaimana kalau kuantar kau ke kamarmu?"
Dia bangkit dan memandang sekeliling. Ketika dia melihat jam dinding, dia menepuk keningnya dan menggerutu, "Tsk! Aku lupa membuat camilan sore untukmu, Nero."
"Aku bisa makan biskuit almond yang kau simpan di toples di dapur, Ayah. Jangan khawatir soal camilan soreku."
Sejenak dia terdiam dan menunduk memandangi kedua tangannya. Dia terlihat bingung dan memikirkan sesuatu. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba dia mendekapku erat. Kepalanya bersandar pada bahuku.
"Ayah?" gumamku. "Kenapa? Ada apa?"
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Reaksiku pun langsung membalas pelukannya. Kubiarkan dia seperti ini sementara. Tubuhnya sedikit gemetar, dia tampak tegang. Kemudian aku mendengar dia berkata lirih, "Aku mencintaimu, Nero."
Vergil jarang mengatakan itu padaku. Aku tahu dia mencintaiku, aku tahu dia sayang padaku. Tetapi dia tidak pernah menunjukkannya dengan kata-kata. Dekapannya semakin erat, dan dia berkata sekali lagi, "Aku sungguh mencintaimu."
"Aku juga…" jawabku berbisik di telinganya. "Aku sangat mencintaimu, Ayah."
"Takkan kubiarkan siapa pun melukaimu, menyakitimu, merebutmu dariku. Aku akan melindungimu selalu, Nero."
Jantungku berdegup kencang mendengar dia mengatakan itu. Apa yang membuatnya gelisah seperti ini? Apa saja yang dibicarakan bersama tamu-tamunya selagi aku masih di sekolah? Aku ingin menanyakannya, tetapi aku tidak ingin merusak suasana hatinya.
"Err…Ayah, bisa lepas sebentar?" tanyaku kemudian mendorong bahunya pelan.
"Nero…" gumamnya kemudian memandangku cemas setelah melepaskan pelukannya.
"Maaf, Ayah. Tapi aku harus mengganti seragamku dulu. Bu-bukan berarti aku tidak mau dipeluk olehmu! Err…sebaiknya aku mandi dan berganti pakaian. Setelahnya, kita akan bicara lagi, OK?"
"Ya, Nak. Naiklah ke kamarmu. Camilan soremu akan siap setelah kau mandi dan berganti pakaian."
Saat Vergil hendak beranjak dari sofa, entah kenapa aku menarik tangannya dan menyuruhnya duduk kembali. Aku memegang bahunya dan berkata, "Ayah, lupakan soal camilanku. Aku masih kuat menahan lapar sampai makan malam tiba. Istirahatlah, kau sudah bekerja sepanjang hari."
"Tapi aku juga harus menyiapkan makan malam, Nero," katanya.
"Itu bisa dilakukan nanti saja, kan? Ini masih jam 4.15 sore. Kau istirahatlah di sini saja. Oh, aku tahu! Aku buatkan teh ya, Ayah? Secangkir teh hangat pasti bisa menenangkanmu."
"Nero…"
"Pokoknya, kau duduk di sini saja. Menonton TV atau baca buku, atau apa saja yang bisa membuatmu santai. Mau tidur lagi juga boleh. Sebentar lagi kuantarkan secangkir teh untukmu."
Vergil tersenyum, raut wajahnya terlihat lebih tenang sekarang. Dia mengulurkan tangannya dan memegang pipiku. Dia berkata, "Terima kasih."
Aku menahan nafas dan nyaris tersedak saat dia berkata begitu padaku. Aku tidak suka dipuji, meski oleh ayahku sekali pun. Aku merasakan darahku naik semua ke wajahku. Aku menggaruk hidungku dan berkata, "A-aku hanya ingin membantumu, Ayah! Tidak ada maksud apa pun! Err…kau lelah. Jadi kupikir-"
"Ssshh…sudah tidak usah dibahas, Nero. Cepat sana mandi dan ganti baju"
-000-
Tiba waktunya makan malam. Karena aku tidak ingin ayahku bekerja terlalu lelah, aku pun membantunya memasak. Aku senang bisa berada di dekatnya ketika dia sedang sibuk. Biasanya dia melakukan semuanya sendirian. Terkadang aku merasa menjadi anak yang kurang baik membiarkannya mengurus rumah tanpa bantuan siapa pun, termasuk aku.
"Terima kasih atas makan malamnya, Ayah," kataku setelah selesai makan.
"Terima kasih juga sudah membantuku, Nero," balasnya.
"Hey, Ayah. Sepertinya aku berubah pikiran soal hari Sabtu. Setelah kubicarakan dengan Darius, Caesar, dan Kyrie, akhirnya aku setuju untuk pergi denganmu ke Dinner Gala itu."
Vergil mengangkat satu alisnya. Dia berkata, "Oh, kau yakin tidak apa-apa, Nero? Kau begitu bersemangat saat ingin pergi dengan mereka, bukan?"
"Tapi mereka mengatakan sesuatu yang akhirnya membuatku berubah pikiran."
"Apa yang mereka katakan?"
Aku tidak pernah segugup ini berbicara dengan ayahku. Aku menunduk dan meremas-remas tanganku sendiri. Aku kesulitan menemukan kata-kata. Kepalaku mendadak penuh saat aku berkata, "Kita jarang punya waktu bersama, Ayah. Mereka pikir, ini adalah kesempatan bagus untukku bisa menghabiskan waktu bersamamu. Tidak peduli apa yang akan kita lakukan, yang penting bisa bersama-sama."
Selagi ayahku sedang berbaik hati mau mendengar, maka aku tidak berhenti mengungkapkan apa yang sedang kurasakan, "Aku tahu kau sibuk, aku tahu pekerjaanmu banyak dan aku tahu kau sangat disiplin soal mengurus rumah. Tetapi kita punya titik jenuh, Ayah. Apakah kau tidak bosan? Maksudku, kau bekerja tanpa mengenal waktu. Apa kau tidak lelah? Bagaimana jika suatu hari kau jatuh sakit?"
"Kau tidak perlu mencemaskanku, Nero. Aku baik-baik saja," kata ayahku. "Aku bekerja untukmu, untuk menghidupimu, membiayai sekolahmu sampai selesai."
"Tetapi orang bekerja pasti perlu istirahat. Aku tahu kau lelah, kau jenuh, tetapi kau memaksakan diri untuk terus bekerja. Menghadiri acara Dinner Gala pun kau anggap sebagai kewajiban yang harus kau penuhi. Sebenarnya menurutku tidak merugilah kau tidak hadir di sana. Kau bisa bersantai, bisa menonton TV di rumah, membaca buku, atau menemaniku belajar."
Sejenak Vergil terdiam, lalu berkata, "Jadi, kau setuju untuk ikut denganku pergi ke Dinner Gala itu? Kau akan merasa bosan. Kau tidak mengenal siapa pun. Itu kan yang kau tidak suka, Nak?"
"Aku memang akan merasakan semua itu, Ayah," jawabku tegas. "Kalau pun aku ikut pergi bersama teman-temanku, aku akan pulang sebelum jam 6 sore. Setelahnya kau pergi dan meninggalkanku sendirian di rumah. Aku tidak tahu kapan kau akan pulang. Lebih baik aku ikut denganmu daripada aku bosan menunggu kepulanganmu di rumah."
Vergil tertawa dan berkata, "Aku mengerti, Nero."
"Jadi…Sabtu ini aku akan pergi denganmu. Tapi dengan satu syarat dan aku ingin kau memenuhinya."
"Apa syaratnya?"
"Kau tidak boleh meninggalkanku. Aku tidak mau menjadi orang bodoh dikelilingi orang-orang kalangan atas macam mereka. Ke mana pun kau pergi, dengan siapa pun kau bicara, kau tidak boleh melupakan aku."
Wanted to fight this war without weapons
-to be continue-
