"Sebenarnya, Uchiha Sasuke itu karyanya bagus-bagus," ucap Sakura ngawur.

Ino yang tadi sempat tegang menunggu lanjutan kalimat Sakura mulai melemaskan wajahnya. Aquamarinenya menatap datar kearah Sakura yang cengar-cengir tidak jelas.

"Oh, waw. Luar biasa," kata Ino dengan nada bosan sambil berlalu meninggalkan Sakura yang masih menyengir sendirian.

.

.

.

.

.

.

.

Otouko Next Door (c) Mitsuo Miharu

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Warn(s) : AU, OOC, typo(s), dll.

Uchiha Sasuke x Haruno (Uchiha) Sakura

.

.

.

Chapter 2 : Visiting.

.

.

.

.

Sakura menghela napasnya dengan lega ketika Ino tidak menunjukkan raut curiga padanya—dan malah berlalu begitu saja. Walaupun sebenarnya dia merasa ada yang tidak beres –sebab, Ino bukanlah orang yang mudah puas begitu saja—apalagi mengenai hal yang membuatnya tertarik.

Grep

Benar saja, Ino langsung berbalik lalu mencengkram bahu Sakura. Sampai-sampai gadis berhelai pink itu tersentak kaget "Pig!" seru Sakura dengan nada tinggi.

Ino mengeluarkan aura mengancam, pegangannya pada kedua bahu Sakura mengencang "Pasti ada sesuatu tentang Uchiha Sasuke ini kan. Ne, apa kau tidak mau memberitahu sahabat tersayangmu ini, Forehead?"

Sakura bergidik ngeri melihat Ino memasang tampang garang a la fangirl-fangirl pada umumnya. "A-aku bersumpah, tidak ada apa-apa, Pig."

"Benarkah?" kata Ino dengan nada menyeramkan "Aku tau pasti kau mengetahui socmed pribadi milik Uchiha– sensei, iya kan?!" Kini nada ucapannya berganti menjadi nada intimidasi.

Sakura mendengus kesal "Mana mungkin aku tahu yang seperti itu. Dia saja baru pindah kemarin kesebelah apartemenku—ups," Sakura langsung menutup mulut laknatnya itu—menyadari kecerobohan yang baru saja ia perbuat.

Sakura memejamkan matanya dengan erat, siap menerima perlakuan gila apa yang akan Ino buat padanya. Dia sudah siap apapun itu yang akan diterimanya.

Tapi ... tidak ada yang terjadi ... ?

Sakura membuka kedua kelopak matanya dengan perlahan, menampakkan Ino yang terdiam dengan ekspressi datar.

Perempuan bermanik aquamarine itu menghela napasnya "Astaga, Sakura aku bingung—kenapa kau beruntung sekali. Shimura Sai—seorang penyanyi tampan itu adalah sahabatmu dari kecil. Dan sekarang? Uchiha Sasuke seorang penulis terkenal yang misterius—yang katanya juga tampan adalah tetangga baru mu?! Sialan kau Haruno Sakura!" Ino menangis dengan konyol disela-sela kalimatnya. Dia menepuk-nepuk punggung Sakura.

Sakura hanya tersenyum kecut.

"Tunggu—kau bilang Uchiha Sasuke adalah tetangga barumu ... ?" Sial, Sakura mulai merasakan firasat tidak enak.

"E-eh ..." Gadis berambut merah muda itu gelagapan sambil masih tersenyum kecut.

"ASTAGA, HARUNO SAKURA! TUNGGU AKU, NANTI MALAM AKU AKAN MENGINAP DI APARTEMENMU! KYAAA~" Ino langsung menggila ketika baru menyadari kalimat sakral yang diucapkan oleh mulut laknat Haruno Sakura beberapa menit yang lalu. Lalu, Yamanaka Ino langsung berlari ke meja kerjanya dengan ekspressi berbunga-bunga meninggalkan Sakura yang masih terbengong.

.

.

.

"Sakura- chan, ada paket untukmu." Seorang pria bermasker hitam menginterupsi kegiatan Sakura yang sedang menggeret kakinya menuju lift.

Gadis itu memutar badannya lagi ketika Kakashi tiba-tiba muncul dari ruangannya. Disaat bersamaan muncul seorang pria yang menggenakan hoodie baru masuk kegedung apartemen. "Terima ka—" Sakura bergeming. Bukannya Kakashi memberikan kardus itu pada Sakura, tapi malah memberikan pada pria berhoodie tersebut.

"Biarkan Sasuke yang membawanya, Sakura- chan." Paman pemilik gedung apartemen itu menyipitkan matanya pertanda ia sedang tersenyum. Sasuke yang telah membawa kardus Sakura hanya mengangguk.

"A-aku bisa sendiri Sasuke," tolaknya segera menyambar kardus itu.

Sasuke memutar bola matanya "Ini berat, memangnya kau tahan membawa barang ini sendirian sampai lantai tiga?"

Sakura langsung terlihat ragu "Uh ..." tentu saja jawabannya tidak. Tenaga nya sudah terkuras ketika dia berada dikantor tadi. Lagi, dia sedang menggenaka hak tinggi sekarang. Bisa saja dia langsung ambruk membawa kardus yang kelihatannya sangat berat itu.

"Cepat tekan tombolnya," perintah Sasuke. Gadis yang diperintahkan oleh Sasuke itu langsung menggerutu, kemudian menekan tombol berangka tiga—lantai dimana apartemennya bernaung.

.

.

.

"Terima kasih, Sasuke." Gadis itu berucap tulus ketika ia telah selesai membuka pintu apartemennya. Namun, Sasuke masih bergeming. Dia tidak menyerahkan kardus itu kepada Sakura.

"Aku akan menaruhnya didalam." Laki-laki yang berprofesi sebagai penulis itu langsung masuk saja kedalam apartemen Sakura. Sakura langsung menghalangi Sasuke yang hendak masuk kedalam tersebut.

"Minggir," usir Sasuke sambil berjalan kearah tempat yang tidak dihalangi oleh gadis itu.

Sakura menggelengkan kepalanya dengan keras "Tidak, tidak! Kau tidak boleh masuk kedalam apartemen perempuan tanpa izin! Apalagi ini adalah apartemenku!"

Iris jelaga Sasuke hanya mampu memberikan tatapan datar pada Sakura. "Bodoh," ucap Sasuke mengacuhkan gadis itu dan terus tetap masuk kedalam. Dia meletakkan kardus tepat disamping sofa milik Sakura.

"Kardus itu lumayan berat, memang apa isinya?" tanya Sasuke heran sambil mendekati Sakura.

Sakura berjongkok, kemudian membuka kardus itu "Aku membeli set alat masak baru," jawabnya sambil melihat-lihat peralatan memasak yang barusan ia keluarkan dari dalam kardus.

Pemuda berambut raven itu terlihat manggut-manggut. Kemudian dia mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan. "Jadi begini ya, isi apartemen mu," gumam laki-laki itu pelan. Dia menghirup wangi ruangan ini, baunya manis. Mungkinkah bau parfum yang Sakura kenakan tadi pagi masih tertinggal diruangan ini?

Sakura mengerang mendengar kalimat yang Uchiha Sasuke lontarkan. "Sudah, keluar sana. Terima kasih atas bantuanmu," ucap gadis itu dengan nada kasar. Tangannya mendorong pelan punggung tegap Sasuke menuju arah luar.

Telinga Sakura dapat mendengar gumaman protes dari mulut Sasuke. Tapi dia mengabaikan itu. Kemudian dia berhenti mendorong Sasuke kala melihat sosok pirang yang baru masuk kedalam apartemennya.

"U-u-uchiha S-sasuke?!"

Sial. Sakura mengumpat pelan karena ia kenal akan suara yang terdengar terbata-bata itu. Tentu saja, Yamanaka Ino ternyata sungguh-sungguh akan menginap di apartemennya malam ini. Alasannya, tentu saja karena Uchiha Sasuke yang tadi Sakura dorong.

Indera peraba Sakura dapat merasakan bahwa tubuh Sasuke baru saja mengeluarkan hembusan napas dengan agak keras. Ups, mungkin setelah ini dia akan berterima kasih pada Ino karena gadis blonde itu muncul diwaktu yang sangat tepat.

Sakura merasa berterima kasih pada Ino karena kedatangan Ino yang mendadak diapartemen Sakura dapat menjadi alasan ketika sahabatnya itu hendak mengunjungi apartemen Uchiha Sasuke yang terletak tepat disebelah apartemennya.

"Ya, ada apa?" jawab Sasuke yang sepertinya berusaha ramah. Namun, usaha pemuda itu sia-sia, karena nada suaranya sangat tidak mendukung untuk bersikap ramah.

"J-jadi anda benar Uchiha- sensei?! Astaga, demi Jashin- sama! Ini Uchiha Sasuke yang asli! So damn hot!" umpat Ino sambil mengerang. Astaga, tidak. Tidak, Ino. Sakura sangat memohon agar penyakit gila Ino tidak kambuh untuk saat ini.

Sasuke hanya tersenyum miring mendapati Ino berbicara seperti itu. Sedangkan Sakura langsung mengacau suasana hati Ino yang tengah berbunga-bunga saat ini. Gadis berambut senada dengan warna gulali itu langsung mendorong Sasuke keluar dari apartemennya.

"Etto ..., maaf Sasuke. Tapi, saat ini sedang ada temanku. Sekali lagi, terima kasih atas bantuanmu!" ucap Sakura dengan terburu dan langsung membanting pintu apartemennya.

Sakura memutar tubuhnya menghadap kearah Ino, dia sudah menyiapkan telinga untuk mendengar teriakan dari gadis pirang dihadapannya "Forehead! Kenapa Uchiha- sensei diusir?!" teriaknya dengan bersungut-sungut.

Sakura menggaruk pelipisnya "Uh, karena kau datang Ino."

Ino mengerang mendengar pernyataan Sakura. "Tujuanku datang kesini adalah Uchiha Sasuke, kenapa kau malah mengusirnya?" Gadis pirang itu merajuk—mengerucutkan bibirnya. "Pokoknya—kau harus mengajakku mengunjungi Uchiha- sensei!" rengek gadis itu pada Sakura.

Haruno Sakura hanya dapat menggelengkan kepalanya sambil menghela napas dengan kasar. "Iya Ino, iya!" Manik klorofilnya meniliti penampilan sahabatnya itu. "Kutebak, kau pasti belum mandi?" tebak gadis itu setelah dia mengamati Ino barusan.

Ino menggaruk pipinya, kemudian menjulurkan lidahnya. Dia terkekeh sebelum menjawab pertanyaan Sakura "Dari mana kau tau?" katanya masih sambil cengar-cengir.

Bola mata Sakura berputar bosan "Kau masih memakai baju kerja, bodoh," cibirnya.

Mata Ino melirik kebawah—tepatnya kearah pakaian yang sedang ia kenakan "Oh kau benar, aku pinjam kamar mandimu kalau begitu," kata gadis itu sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Tentu, nona."

.

.

"Nah, ayo kita mengunjungi tetangga baru!" Ino berteriak antusias mengabaikan rambutnya yang masih basah karena baru selesai mandi.

"Kita hanya akan berkunjung kesebelah, Pig. Bukan ke bar!" gerutu gadis yang namanya sama seperti nama bunga itu setelah melihat penampilan Ino yang sekarang hanya menggenakan kaos ketat dan hot pants sepuluh senti meter diatas lutut.

Ino balik mencibir penampilan Sakura "Kau juga menggunakan hot pants."

"Setidaknya hot pantsku tidak sependek punyamu," balas sahabat Yamanaka itu dengan nada datar.

Ino memilih untuk mengabaikan Sakura. Dia sudah menyiapkan novel favoritenya karya Uchiha Sasuke untuk dibawa kesebelah. Manik biru langitnya memberikan tatapan 'aku sudah siap' kepada sahabat pinknya.

Sakura pun keluar dari apartemen, kemudian Ino pun menyusul. Jari Sakura menekan-nekan bell apartemen Sasuke dengan agak tidak sabaran.

.

.

.

Sasuke menggerutu pelan ketika mendengar bell apartemennya ditekan dengan tidak sabaran. Siapa yang berani menganggunya disaat ide dikepalanya sedang mengalir dengan kencang seperti ini? Lelaki itu pun terpaksa menghentikan kegiatan mengetiknya.

Sasuke membuka pintu berwarna krimnya. Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui siapa yang datang berkunjung malam-malam seperti ini.

Ternyata tamu yang datang adalah si gadis pink yang tinggal disebelah apartemennya. Sasuke kini tidak menyesal memilih untuk membukakan pintu apartemennya daripada mengabaikannya.

Sasuke mengerang dalam hati kala melihat penampilan Sakura yang kini sedang memakai kaos putih kelonggaran dan hot pants yang cukup pendek. Jika dia disuruh memilih yang mana lebih seksi, tentu saja dia akan memilih tetangganya. Padahal jelas-jelas teman tetangga pink nya itu lebih seksi dengan kaos ketat dan hot pants yang lebih pendek dari Sakura. Tapi entah kenapa Sasuke lebih bergairah melihat Sakura.

Damn. Kenapa pikiran Uchiha Sasuke jadi ngawur begini?

Sasuke berdeham pelan demi mengembalikan pikirannya yang tadi sempat berpikiran aneh. Dia melepas kaca mata yang bertengger dihidungnya. "Ada apa?" tanya pria itu langsung ke inti.

Bola mata Sakura melirik kekanan dan kekiri. Sepertinya gadis itu sedang gugup. Gugup? Gugup karena apa? "Ano ..., kami datang untuk berkunjung," ucap Sakura dengan malu-malu.

Pria pemilik apartemen 304 itu mempersilakan tamu-tamu cantiknya untuk masuk kedalam. Kini mereka telah duduk disofa putih milik Sasuke. Dimeja ruang tamu itu pun, laptop Sasuke masih tergeletak.

"Ehm ..., sebentar. Aku akan menaruh laptopku dulu," ucap Sasuke permisi. Dia pun masuk kedalam untuk menaruh laptopnya.

"Apa kami menganggumu, Sasuke?" tanya Sakura ketika pria itu sudah kembali keruang tamu.

Sasuke menggeleng lalu duduk disofa yang bersebrangan dengan sofa yang diduduki oleh tetangga pink bersama temannya tersebut.

"Etto ..., Uchiha- sensei—" ucap Ino memulai percakapan, namun kalimatnya langsung diinterupsi oleh Sasuke.

"Cukup Sasuke saja, teman Sakura adalah temanku juga," ucapnya tersenyum tipis sambil melirik kearah Sakura.

Sakura seperti akan protes akan perkataan Sasuke barusan. Namun suaranya hilang, ketika Ino tiba-tiba kembali menggila. "Ino, cukup," ucap Sakura berusaha mengembalikan kewarasan Ino sambil melirik sinis kearah gadis pirang itu.

Ada perasaan kesal didalam hati Sakura ketika Sasuke menyuruh sahabat pirangnya itu untuk memanggil pria itu dengan nama kecilnya.

Ino pun kembali waras dan mulai bicara kembali "Anu, S-S-Sasuke- san. Bolehkah aku meminta tanda tanganmu?" Sakura tau bahwa sahabatnya itu sedang gugup, tentu saja semua orang tau jika Ino sedang gugup. Terlihat sekali dari nada bicara Ino yang terbata-bata ketika menyebutkan nama Sasuke.

"Tentu." Sasuke menerima novel buatannya sendiri dari tangan Ino. Kemudian dia menanda tangani dihalaman depan buku itu. Tangannya pun terulur mengembalikan novel karyanya kepada pemiliknya.

Oniks Sasuke melirik lagi kearah sosok yang bersurai pink. "Kau tidak ingin tanda tanganku juga?" tawar Sasuke pada gadis itu sambil menaikkan sebelah alisnya.

Gadis yang ditawari oleh Sasuke itu tersenyum kecut. "Tidak, terima kasih atas tawaran baikmu," tolaknya.

"Oh, aku tau. Kau pasti ingin nomorku." Sasuke langsung merebut ponsel yang sedang digenggam oleh Sakura. Kemudian dia mengetikkan nomornya sendiri diponsel Sakura. Lalu dia me-miss call nomornya dari ponsel milik tetangganya itu.

"Sasuke!" teriak Sakura kesal. Berani-beraninya pria itu merebut ponselnya tanpa izin! Tapi, dia cukup senang karena dia mendapatkan nomor ponsel seorang Uchiha Sasuke.

Ino hanya dapat terdiam. Sakura langsung berteriak "S-Sasuke, aku haus! Ambilkan minum!" titahnya pada tetangganya tersebut.

Sasuke menggerutu, namun dia menuruti perintah Sakura untuk mengambilkan gadis itu minum. Dia beranjak pergi kedapurnya.

Sakura dapat mendengar bahwa Ino sekarang sedang tertawa dengan pelan. "Kalian lucu sekali," kata gadis itu masih sambil tertawa.

Alis Sakura bertaut. "Kau tidak iri aku mendapatkan nomornya tanpa meminta ke orangnya?"

"Iri? Tentu saja bodoh! Tapi aku tidak akan menganggu privasi Sasuke sampai sejauh itu, kecuali dia sendiri yang memberikan atau menyetujui nomornya untuk diberitahu padaku," kata Ino enteng.

Sakura terdiam. "Tapi, kalau kau mau memberikan nomornya, aku tidak memaksa loh~" Sakura hanya bisa ber-sweat drop ketika Ino mengucapkan itu.

Sang pemilik apartemen 304 pun datang membawa dua gelas cangkir dan sebotol minuman dingin. Sakura langsung menerima cangkir yang dibawa Sasuke, lalu menuangkan cairan dingin yang berada dibotol itu dicangkirnya.

"Terima kasih, Sasuke."

"Hn."

Percakapan mereka pun berlanjut. Ino bertanya banyak hal pada Sasuke. Memang sih, Sasuke nampak tak keberatan, tapi terkadang pria itu menampakkan ekspressi enggan dengan tidak jelas yang disadari oleh Haruno Sakura.

Sakura pun hanya cuek dan jarang ikut bergabung dalam obrolan Sasuke dan Ino. Tak jarang pula Sasuke memancing Sakura untuk ikut mengobrol. Tapi gadis itu lebih memilih untuk membalas pesan singkat sahabat lamanya—err.. mungkin bisa disebut juga ... mantan kekasihnya.

Sasuke tidak suka melihat Sakura yang senyam-senyum sendiri melihat ponselnya "Apa yang kau lakukan dari tadi?" tanya Sasuke dengan nada tidak suka.

Emerald Sakura melihat sedikit kearah oniks Sasuke. Kemudian tatapannya ia alihkan kearah ponselnya. Dia mengetik dengan cepat ketika ponselnmya berdering menandakan bahwa ada pesan masuk. Sasuke menggeram pelan karena gadis pink itu tak memperdulikannya.

Sakura langsung protes ketika ponselnya langsung direbut oleh Ino. "Oh, ternyata Uzumaki Naruto. Kau masih berhubungan dengan mantan kekasihmu itu, eh?" Ino berkata dengan bosan sambil menyerahkan ponsel Sakura kepada pemiliknya.

Sakura mengerucutkan bibirnya "Mou ... asal kau tahu, walau kami sudah putus kami tetap bersahabat, Ino. Lagi pula aku berpacaran dengan Naruto pada saat kami masih duduk dibangku sekolah menengah!"

Bisa didengar oleh Sakura bahwa sahabat sekaligus teman sekantornya itu menghela napas. "Ya ampun."

"Uzumaki Naruto?" Suara baritone itu menyadarkan Sakura dari kekesalannya. Gadis itu menghadap ke sumber suara.

"Kenapa? Apa kau mengenalnya?" Gadis itu bertanya sambil memamerkan tatapan penasaran pada Sasuke.

Hening sejenak dipihak Sasuke. Kemudian laki-laki itu menggeleng dengan keras. Sakura malah tambah penasaran dengan sikap Sasuke yang sepertinya agak tidak wajar itu. Mata gadis pink itu memicing "Aku tidak percaya padamu, akan kutanyakan langsung pada Naruto," ucap Sakura sambil meneka-nekan beberapa huruf diponselnya.

Sasuke langsung protes "O-oi—!"

Suara ponsel Sakura langsung terdengar tak lama kemudian. Mata emerald itu membaca setiap baris pesan yang Naruto kirimkan padanya. "Kau bohong! Naruto malah bilang kau adalah sahabat baiknya!" seru gadis itu dengan berapi-api.

Sasuke memutar bola mata berwarna hitamnya bosan. Dia kemudian menatap datar kearah gadis Haruno itu. "Ya, ya. Naruto adalah teman kuliahku dulu—"

"—Sahabat, maksudmu," ucap Sakura membenarkan.

"Naruto adalah sahabatku, puas?!" gerutu Sasuke dengan kesal.

Sakura mengangkat kedua alis berwarna merah mudanya. Kenapa Sasuke sepertinya tampak tidak senang dengan Naruto? Apa keduanya sedang bertengkar?

Setelah topik Uzumaki Naruto, mereka kembali membicarakan topik lain. Setelah agak larut, barulah Ino dan Sakura pamit untuk pulang keapartemen sebelah. Alias apartemen Sakura.

.

.

.

Sakura menpuk dengan agak kencang kulit tangannya yang sedang ditempeli nyamuk. Dia bergidik memeluk tubuhnya sendiri ketika angin malam berhembus agak pelan.

"Bahkan nyamuk juga tahu kalau kau manis."

Sakura langsung tersentak. Dia memekik karena terkejut "KYAA! S-Sasuke?! Apa yang sedang kau lakukan?!" teriaknya tanpa memedulikan bahwa sekarang hari sudah sangat larut.

Sasuke melirik Sakura dari sudut matanya. Sekarang ia sedang bertopang dagu dipagar balkon apartemennya. "Aku sedang mencari inspirasi, dan kebetulan inspirasi itu sekarang ada didepan mataku," ujarnya membuat Sakura agak bingung.

Oh ya, gadis itu sempat lupa kalau pria diseberang apartemennya ini seorang penulis. Penulis terkenal. Sakura pun menjawab seadanya "O-oh," jawab gadis itu dengan singkat.

"Kenapa kau belum tidur, hm?"

Sasuke dapat mendengar hembusan napas diseberangnya. Dia menolehkan kepala kearah gadis itu. "Ino mengambil alih tempat tidurku," ucapnya dengan cemberut.

Sekarang gadis itu mendengar kekehan pelan dari pria yang sedang berada dibalkon seberang. "Aku bersedia meminjamkan tempat tidurku padamu."

Sontak wajah Sakura langsung memerah. "T-tidak perlu! Terima kasih!" balasnya cepat. Apa pria ini berusaha menggodanya, huh? Tapi penawaran yang dilontarkan Sasuke tadi terdengar—mesum, sungguh.

Sekarang hanya desiran angin yang terdengar ditelinga keduanya. Sakura menggosok-gosok kedua telapak tangannya. "Tidurlah," ucap Sasuke yang terdengar seperti perintah.

Sakura mendelik kearah pria dengan mata oniks itu "Kan, sudah kubilang kalau—"

"Tidurlah dikasurku, sungguh." Sakura dapat mendengar nada kesungguhan yang tersirat dari kalimat Sasuke barusan. Iya, Sakura mau saja—jika yang menawarkannya adalah Hinata. Tapi, sekarang Hinata tidak ada dan telah digantikan oleh pria yang—err ... tampan itu.

"Kau gila?" desis Sakura.

Sasuke hanya tertawa mendengar ucapan sinis yang terlontar dari Sakura—yang diperuntukan untuk dirinya. "Tidak. Tapi aku bisa gila jika terus-terusan melihatmu memakai baju yang kelonggaran itu." Sasuke menyeringai setelah mengucapkan kalimat itu.

Wajah Sakura kembali memerah "Sialan kau, mesum!" umpat gadis itu kemudian masuk kedalam dan membanting pintu balkonnya. Telinganya dapat mendengar Sasuke lagi-lagi tertawa.

.

.

.

.

"Ra ..."

"—kura ..."

"Sakura!"

"BANGUN, JIDAT!"

Sakura mengerang ketika mendengar teriakan Ino yang melengking. Uh, dia masih ingin menempel di kasur tersayangnya. Kenapa monster pirang ini membangunkannya?! Sungguh, matanya masih sangat berat untuk terbuka sekarang.

Manik emerald nya yang masih setengah terbuka melihat penampilan sahabatnya itu. Ino telah menggenakan pakaiannya dengan rapi. Oh ya, kenapa Yamanaka Ino membangunkannya? Tentu saja hari ini mereka akan bekerja.

Sakura mengerang sekali lagi. Dia meregangkan tubuhnya dan menguap lebar-lebar. Tangannya menggaruk kepalanya sebentar sebelum menapakkan kedua kakinya dilantai.

"Bangun, Sakura," ucap Ino sambil berkacak pinggang.

"Iya, iya! Kau cerewet sekali sih!" balas Sakura dengan galak. Lalu dia mengambil handuk merah muda yang sedang tergeletak diatas kursi yang ada dikamar tidurnya.

Ino memilih untuk tak membalas gerutuan Sakura. Dia berjalan kearah meja rias sahabat bersurai merah mudanya itu. "Aku sudah membuatkan sarapan," ucapnya sambil menaburkan bedak dipipi ranumnya.

Sekarang Sakura yang diam. Tiba-tiba langkahnya terhenti diambang pintu kamar mandi yang terletak didalam kamar tidurnya. "Terima kasih untuk semalam, nona Yamanaka." Gadis itu tersenyum kecut sambil memamerkan mata hijaunya yang dilingkari dengan lingkar berwarna hitam tipis.

Ino melihat kearah Sakura dari kaca rias. "Memangnya semalam aku berbuat apa padamu? Kurasa aku tidak melakukan yang aneh padamu semalam, Forehead." Oh, sial. Perkataanmu ambigu sekali, nona Yamanaka.

Sakura mendengus. "Kau mengambil alih kasur, dan aku harus menunggumu bergerak agar aku bisa tidur."

Gadis bermanik aquamarine itu tertawa dengan agak kencang. "Ya ampun, Sakura. Geser saja tubuhku agar kau bisa tidur."

Geraman keluar dari mulut Sakura. "Aku sudah berusaha. Tapi kau seperti batu," cibir gadis bermarga Haruno itu.

Gadis Yamanaka itu kembali tertawa. Sakura mengabaikannya dan lebih memilih untuk masuk kekamar mandi.

.

.

.

"—dan sialnya aku malah bertemu dengan Uchiha sialan itu," keluh seorang gadis berambut merah muda pada sahabatnya saat mereka akan berjalan kepintu depan apartemen Sakura.

Ino menjadi tertarik dengan kalimat Sakura barusan. "Hee, apa yang kalian lakukan malam-malam begitu?" ujarnya dengan nada menggoda.

"Tidak ada. Kami hanya mengobrol, dan pria itu terus-terusan mengatakan hal yang—uh, mesum."

Baru saja Ino akan membuka mulutnya saat mereka sudah hampir sampai didepan lift, tiba-tiba Sakura memekik kecil. "Astaga, ada yang tinggal!" katanya setelah mengecek tasnya. "Kau duluan saja jika kau mau, Pig." Sakura langsung berlari kekamar apartemennya lagi.

Gadis yang penampilannya sudah seperti boneka barbie itu pun memutuskan untuk menunggu Sakura di lantai pertama gedung apartemen—atau bisa dibilang, lobby sih.

Sakura menutup kembali pintu apartemennya, kemudian mengunci pintu itu. Dia melirik sebentar kearah pintu berwarna krim bernomor 304. Apakah penghuninya sudah bangun? Apa penghuninya masih ada didalam sana?

Gadis itu langsung menggelengkan kepalanya. Apa yang barusan sudah dipikirkannya? Dia pun mendengus. Kemudian membawa tubuhnya untuk mendekati pintu lift.

.

.

Hal pertama yang dilihat Sakura saat sampai dilantai satu gedung apartemennya adalah, seorang laki-laki dengan rambut raven dan dua orang gadis berbeda umur sedang bercakap-cakap.

Yang pria, tentu saja Uchiha Sasuke. Uh, jantung sakura langsung berdetak kencang. Sial, kenapa begini? Pikir gadis itu.

Gadis bersurai pirang itu tentu saja adalah sahabatnya, Yamanaka Ino. Sedangkan, gadis muda yang rambut cokelatnya ia cepol dua itu adalah Tenten.

Ngomong-ngomong, Tenten masih duduk dibangku sekolah menengah atas. Remaja perempuan itu tinggal di apartemen yang terletak dilantai empat—satu lantai dengan Shikamaru dan Temari.

"Selamat pagi, Tenten," sapa Sakura pada gadis yang lebih muda darinya itu.

Tenten langsung melihat kearah Sakura dan tersenyum ramah. "Selamat pagi—"

"Selamat pagi juga, Sakura," potong Sasuke dengan cepat.

Bisa dilihat oleh Sakura bahwa manik cokelat Tenten sedang mengerjap-ngerjap bingung. Sakura langsung tersenyum hambar. "Aha –ha-ha, sepertinya dia sedang ilusi. Kami pergi dulu ya, Tenten," pamit Sakura langsung menarik tangan Ino untuk keluar dari gedung apartemen.

"Ah, iya. Selamat jalan, Sakura- neesan—dan temannya," kata Tenten dengan agak ragu tapi masih dengan tersenyum.

Gadis bercepol itu lalu pamit pada Sasuke yang terdiam. "Ah, aku juga akan berangkat. Sampai jumpa, Uchiha- sensei," pamitnya.

"Hn."

Tiba-tiba ponsel Sasuke berdering ketika para gadis itu sudah hilang dari pandangannya. Dia melirik kelayar ponselnya. Ketika tahu siapa yang menelpon dia menunjukkan raut enggan.

Uzumaki Naruto is Calling.

Dengan malas Sasuke mengangkat panggilan itu. "Ada apa, Dobe?" sahutnya dengan malas.

"Ah, Teme! Ada yang ingin kuberitahu padamu! Aku—"

.

.

.

.

.

.

To be Continued.

.

.

.

.

.

.


Author's Note :

Halo, maaf telat update ya^^ syukur deh kalo ada yang nungguin fic ini wkwk. Sebenernya pengen banget apdet fic ini cepet-cepet, tapi ide lagi buntu -_- Syukurlah bisa apdet sebelum aku balik ke asrama lagi :'3 #curcol

Aku malu banget ternyata chap 1 banyak banget kesalahannya wkwkwkwk makasih yaa buat yang udh ngingetin XD

Btw, ada yg udh nonton/nonton ulang the last versi dub jepangnya? Ternyata feelnya lebih dpt dari yg dub korea ya :') Aku aja ampe ga bisa mup on dari lagu Fuyu no owari nya Hinata ahaha

Oh ya, terima kasih yang sebesar-besarnya buat reader, faver, follower, viewer, dan reviewer fic ini. Terima kasih banyak yaa! ^^

Sign,

Mitsuo Miharu

24 07 15