Jimin terus mempercepat langkahnya. Walaupun sebenarnya ia tidak tau sama sekali letaknya. Belum lagi ia merasakan seseorang sudah mengikutinya. Namun keberuntungan sedang berpihak padanya. Ia langsung menemukan toilet dan masuk ke dalamnya. Sosok itu juga masuk dan memenjarakan dirinya dengan tangan sosok dihadapannya.
"Aku senang kita bertemu."
"Menjauhlah!" Jimin mendorong dengan kasar tubuh sosok dihadapannya dan berhasil membuat sosok itu menjauh. "Aku yakin tidurmu sangat nyenyak selama ini. Aku rasa kau tidak perlu berkata apapun denganku, tuan Min Yoongi yang terhormat."
Yoongi mengerang frustasi dan mengacak rambut hitamnya. Ia masih sangat ingat bagaimana perkataan Jimin saat dirinya tidak bisa bertanggungjawab.
"Aku tau kau akan melakukannya. Aku hanya bisa berharap kau akan bisa tidur nyenyak dan tidak perlu meminta maaf. Karena mulai sekarang, apapun yang berhubungan denganku sudah tidak penting lagi."
"Perkataanmu membuatku menderita dan menyesal. Aku terus mencoba mencarimu. Aku harus bertanggungjawab dengan anak kita."
"Kemana saja fikiranmu waktu tujuh tahun yang lalu itu? Kenapa kau baru mengatakannya sekarang? Bukankah kau memintaku untuk menggugurkannya? Aku sudah melakukannya."
"K-kau membunuhnya?"
"KAU YANG MENGINGINKANNYA!"
"BOHONG! KAU BOHONG! ANAK KECIL TADI ADALAH ANAK KITA KAN?"
"TIDAK! DIA ANAKKU! HANYA ANAKKU!" Jimin menutup mulutnya yang tidak sengaja mengucapkan kebenaran. Emosi yang terpancar diwajah Yoongi berubah menjadi raut wajah kebahagiaan dan penuh harap.
"B-bukan! Dia adikku. Ibuku meninggal saat melahirkannya."
"Ibumu meninggal saat melahirkanmu. Aku masih belum melupakan cerita masa lalumu."
Wajah kekhawatiran Jimin berubah menjadi kemarahan. "Lalu kenapa?! KENAPA?! Kau ingin mengatakan padanya bahwa kau adalah ayahnya? Ayah yang pernah berfikir untuk tidak mengizinkannya hidup?"
"Aku mohon maafkan aku! Aku benar-benar berada dalam masalah waktu itu. Orangtuaku-"
"Apa kau fikir aku tidak berada dalam masalah juga? Umurku baru delapan belas tahun dan aku hamil. Argh! Bahkan aku hampir saja kehilangan masa depanku karena bajingan sepertimu!" Jimin begitu emosi bahkan menunjuk wajah Yoongi tepat dihidungnya.
"Kau mengatakan aku bukan ayahnya? Lalu bagaimana dirimu? Kau membiarkannya memanggilmu eonni? Apa kau malu menjadi seorang ibu? Jika iya, apa bedanya kau denganku?"
Tangan Jimin sudah terangkat untuk menampar wajah Yoongi. Namun ia mengepalkan tangannya dan menurunkan tangannya perlahan.
"Kau bingung bukan? Baiklah! Aku akan memberimu kesempatan. Jika dalam waktu satu bulan Jihoon tidak memanggilmu dengan sebutan eomma, aku pastikan marga Park terganti menjadi marga Min!"
"APA MAKSUDMU?! JIHOON ANAKKU!"
"Jika dia memang anakmu dan kau adalah ibunya, jangan biarkan dia terus memanggil ibunya dengan sebutan eonni."
.
Jimin mengaduk sup ayam tanpa memperhatikannya sama sekali. Pandangannya tetap saja lurus ke depan alias kosong. Bahkan ia tidak sadar kalau kompor dimatikan dengan kasar oleh Seokjin. Ia tersadar saat Seokjin memutar badannya dengan paksa.
"Apa yang terjadi? APA? Katakan! Kenapa kau hanya diam saja?" Seokjin mengunci tatapan Jimin dan dapat ia lihat kalau mata adiknya sudah berkaca-kaca. Tak butuh waktu lama, Jimin menangis dan memeluk Seokjin.
"Dia ingin mengambil Jihoon eonni! Dia mau mengambil anakku!"
"S-siapa? Kau bertemu dengan-" Seokjin melepas pelukan dan memegang kedua bahu Jimin meminta jawaban. "Siapa orangnya?"
"M-min Yoongi."
"Kau yakin dia orangnya? Kau sudah tidak bertemu lagi dengan pacarmu sejak tujuh tahun lalu kan? Bagaimana bisa? Yoongi itu rekanku selama tiga tahun. Bagaimana bisa-Astaga!" Seokjin rasanya sudah tidak mampu berdiri lagi sehingga kedua tangannya di tumpukan pada meja dapur.
"Tolong aku eonni...hiks..." Jimin berlutut dan memegang kedua kaki Seokjin. "Dia akan mengambil anakku!"
"Tidak! Tidak! Jangan seperti ini! Eonni akan membantumu." Seokjin segera membantu Jimin berdiri dan menuntunnya duduk di meja makan. Sebenarnya dia sungguh sangat syok. Namun ia harus tetap mencoba tenang dan memberikan Jimin segelas air putih.
"Eonni, bantu aku..." Jimin memegang kedua tangan kakaknya dan memberikan tatapan memohon.
"Kau tenang saja ya?"
.
Yoongi membaringkan tubuhnya di sofa coklat yang berada di tengah-tengah studio dan memikit pelipisnya. Terlalu banyak masalah yang ia hadapi. Mulai dari perjodohannya yang batal dan menyebabkan dinginnya hubungannya dengan keluarga hingga bertemu Jimin yang begitu menolaknya mentah-mentah.
Yoongi sudah mengetahui Jimin sejak ia pindah ke Seoul sejak tiga tahun lalu dan ia baru tau kalau Jimin berada disini untuk menghindarinya sejak tujuh tahun yang lalu. Mungkin bukan hanya untuk menghindarinya. Tapi juga menutupi rasa malunya. Yoongi pernah bertemu Jimin sebelumnya dan jawaban Jimin selalu sama. Dia tidak ingin kembali dan mengatakan kalau Jihoon adalah adiknya. Bukankah sudah sangat jelas dengan wajah imut dan kulit pucat Jihoon sangat mirip dengan dirinya? Apalagi Jimin mengatakannya sendiri saat sedang berada dalam puncak emosi.
"Ah! Aku imut?" Yoongi memegangi pipinya sendiri. Sentuhan Jihoon masih begitu terasa. Senyumannya mengembang namun langsung hilang saat mengingat masa lalunya.
"Oppa imut dan lihat kulit oppa! Putih bersih."
"Bilang saja pucat." Yoongi berkata dengan malas sambil mengunyah keripik yang dipegang Jimin.
Jimin mengerucutkan bibirnya.
"Ah~lucunya!" Yoongi mencubit pipi Jimin dengan gemas. Dia tertawa bahagia telah membuat Jimin kesal.
Yoongi menghela nafas dan melirik jam dinding di ruangan. Waktu baru menunjukkan pukul 06.30 dan dia datang ke studio setengah jam sebelumnya. Lalu Seokjin datang dan memberikan tatapan tajam kepada Yoongi namun tetap fokus berjalan mendekati komputer miliknya.
"Jinnie?" Yoongi memanggil Seokjin yang mulai fokus bekerja. Ia benar-benar merasa aneh dengan sikap rekan kerjanya itu.
"Kenapa kau mengancamnya?" Tanya Seokjin dengan sangat dingin. Walaupun Seokjin tidak menatapnya, tetap saja Yoongi merasa terpaku.
"Aku tidak-"
"KENAPA KAU MENGANCAMNYA?"
Jantung Yoongi merasa terhenti seketika saat Seokjin bangkit dari duduknya dan menusuk Yoogi dengan tatapannya. Seokjin tampak menghela nafas.
"Kau bilang kau tidak akan mengancamnya. Karena itulah aku tetap membiarkanmu melihatnya walaupun dari jauh. Apa kau tidak bisa menahan egomu? Bahkan apa yang sudah kau jalani selama ini sejak kau meninggalkan Jimin, itu belum tetu bisa membalas semua penderitaan adikku."
"Aku mohon jangan lakukan itu! Aku mohon! Aku tau kesalahanku sangat besar. Tapi aku yakin Jimin bisa menerimaku kembali. Bukankah kau sudah memaafkanku?"
"Memaafkanmu? Kau salah besar. Aku bahkan tidak pernah merasa memaafkanmu. Yang aku tau, aku hanya membiarkanmu menebus kesalahanmu dengan penderitaan yang tidak sebanding." Seokjin tampak mengepalkan tangannya. "Ibu kami mengajarkan untuk tidak melakukan hal yang tidak penting menggunakan tangan kepada orang yang telah menyakiti kami. Kau tau apa yang aku rasaakn saat pertama kali melihatmu? Aku benar-benar ingin membunuhmu. Aku benar-benar tidak bisa memaafkanmu."
.
Dua tahun yang lalu...
Seokjin begitu senang dengan bingkisan yang ia bawa untuk Jimin dan Jihoon. Sebuah gaun sederhana untuk Jimin dan coklat yang lumayan banyak untuk Jihoon. Setelah turun dari bus, ia langsung berjalan menuju cafe milik Jimin. Namun pandangannya tertuju pada seseorang yang sangat ia kenali karena itu rekan kerjanya sendiri. Yoongi.
"Jiminnie, maafkan aku. Seharusnya aku tidak egois waktu itu. Tapi aku yakin, suatu saat nanti kau akan menerimaku dan kita hidup bersama. Aku masih mencintaimu dan selamanya akan mencintaimu."
BRUKK!
Bingkisan yang dibawa Seokjin terlepas dari genggamannya. Perkataan Yoongi membuatnya sangat yakin kalau Yoongi adalah lelaki yang dimaksud Jimin. Ayah dari Jihoon. Yoongi menyadari ada seseorang di belakangnya dan sangat terkejut.
"Jinnie?" Yoongi menghampiri Seokjin dan sudah terduduk memeluk lututnya.
"K-kau? Kau lelaki bajingan itu? Lelaki yang sudah meng-argh! Astaga! Ternyata orang itu rekan kerjaku sendiri?" Seokjin berkata dengan frustasi kepada dirinya sendiri.
"Masuklah ke mobilku. Aku takut ketahuan."
.
"Apa ini alasannya kau selalu menghindar setiap aku mengajakmu untuk ke rumahku?"
"Iya."
"Apa namjoon sudah mengetahuinya?"
"Tidak. Dia bahkan tidak tau kalau aku pernah berpacaran. Walaupun dia sahabatku, aku tidak mungkin menceritakan semuanya."
Seokjin menghela nafas dan menyeka airmatanya yang sudah mengalir.
"Aku tidak tau harus melakukan apa lagi. Terlepas dari apapun alasanmu, aku tidak perduli. Yang aku tau, kau hanyalah orang yang sempat menghancurkan masa depan adikku." Seokjin langsung keluar dari mobil Yoongi.
.
Sudah tiga minggu ancaman Yoongi berlalu. Jimin tidak bisa berfikir apa-apa lagi untuk bisa membuat Jihoon memanggilnya dengan sebutan eomma. Rasa takut kepada Yoongi yang akan mengambil Jihoon membuatnya semakin posesif dan marah jika Jihoon meminta untuk bertemu dengan Yoongi lagi.
"Wah! Taman!" Wajah Jihoon langsung berubah menjadi ceria saat mobil yang dikendarai Jimin berhenti di sebuah taman. Jihoon langsung berlari dan membuat Jimin yang duduk di bangku taman tersenyum lega. Setidaknya ia bisa menebus rasa bersalahnya kepada Jihoon. Ia meyadarinya juga berkat Seokjin.
"Eomma!"
Jimin tertegun dan menoleh. Hatinya begitu terenyuh mendengar sebutan itu. Tanpa sadar, airmatanya mengalir. Ternyata itu hanyalah putri oranglain yang tengah bermain diayunan yang sedang memanggil ibunya.
"Eonni? Kenapa menangis?"
"Eh? Sayang." Jimin mengusap kepala Jihoon. "Eonni tidak menangis. Tapi kelilipan debu. Perih." Jimin berpura-pura mengipasi matanya dan Jihoon tiba-tiba menghentikan kemudian meniup matanya. Airmata Jimin mengalir lagi.
"Masih sakit ya eonni?"
"Tidak." Jimin mengusap airmatanya dan tersenyum.
"Eonni menangis kan?"
"Eoh?"
"Maafin aku eonni. Aku sering buat eonni marah. Eonni jangan marah-marah dan nangis lagi ya?"
"Iya sayang. Eonni janji."
.
Seokjin terbangun dari tidurnya karena haus yang teramat sangat. Namun saat sampai di dapur, ia menemukan Jimin tengah termenung sambil memegang segelas coklat hangat. Jimin tetap tidak menyadari bahkan saat Seokjin duduk di sampingnya.
"Eonni? Belum tidur?"
"Aku yang seharusnya bertanya kepadamu."
"Tadi aku mendengar anak perempuan seumuran Jihoon memanggil eommanya. Entah kenapa..." Jimin tiba-tiba merasa suaranya tercekat. "Aku juga menginginkannya. Aku ingin Jihoon memanggilku dengan sebutan itu. Tapi bagaimana...hiks..." Jimin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan Seokjin hanya bisa mengusap punggung Jimin yang bergetar. "Bagaimana caranya eonni? Hiks..."
"Kau hanya butuh waktu Jiminnie. Tapi untuk sekarang, eonni rasa ini bukan waktu yang tepat. Jihoon masih terlalu kecil untuk mengetahui ini semua."
Hanya suara isakan Jimin yang semakin terdengar.
"Jimin eonni eommanya Jihoon?"
"Eoh?" Ujar Seokjin dan Jimin bersamaan. Mereka benar-benar tidak menyangka dengan kehadiran Jihoon.
"Jihoonie belum tidur?" Tanya Seokjin yang langsung menghampiri Jihoon.
"Eommanya Jihoonie masih hidup?" Jihoon bertanya dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. "Lalu bagaimana appanya Jihoonie?" Jihoon sedikit terisak dan Jimin hanya bisa diam di tempatnya.
"Jihoonie kenapa belum tidur?"
"Jadi Jin eonni imonya Jihoon?"
"Sayang."
"Kenapa kalian tidak menjawabnya?!" Jihoon berlari menuju kamarnya dan menangis. Sementara Jimin mulai mengejarnya namun sangat terlambat. Jihoon sudah menutup bahkan mengunci pintu kamarnya.
"Jihoon, buka pintunya sayang. E-eomma bisa menjelaskannya."
"Apa eonni malu punya Jihoon? Atau sebenarnya eonni tidak menyukai Jihoon?"
"Tidak sayang! Tidak seperti itu! Buka pintunya dan eomma akan menjelaskannya."
"PERGI! JIHOON TIDAK MAU MENDENGAR APAPUN!"
"Sayang! Dengarkan-"
BRUKK!
Jimin dapat mendengar suara barang yang dilempar ke pintu. Seperti bantal.
"Jihoonie..."
.
.
.
.
.
.
.
.
Buat yang udah nebak Jihoon anaknya Jimin, itu benar banget. Kalau boleh jujur, ff ini terinspirasi film indonesia lho. Apa menurut kalian ff ini kecepetan alurnya, author mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Thanks bangeeeetttt atas review kalian. Apalagi buat yang udah follow dan favorite cerita ini.
Bye~~~~~~~~~~~~~~
