Author : yo minna, ketemu lagi sama autho yang baru beres hibernasi. Baiklah tanpa ba-bi-bu babi buta lagi, sebelum para readers mengamuk karena author lama update, Rin bacain disclaimer.

Rin : Vocaloid bukan punya si BakAuthor melainkan milik Yamaha Corp. dan Crypton Future Media. Kalau Teleportation, jelas milik author.

Warning : AU, GaJe, abal, typo(s) bertebaran, fantasy berlebihan, OOC dan OOT.

Don't Like Don't Read

Silahkan pencet tombol 'back' bila tidak suka.

RnR, please?

.

.

.

.

Aku ingin tahu tentangnya, orang dengan kemampuan teleportasi itu

.

.

Teleportation

.

.

.

(Author POV)

.

.

.

Miku menatap Neru yang terkurung di dalam sangkar. Pintu sangkar tersebut dibuka tapi Neru tidak mau keluar dan merubah wujudnya menjadi manusia. Bahkan dengan sengaja, Miku menaruh ponsel flip-flop berwarna tosca kesayangannya di dalam sangkar tapi tetap saja Neru mendiamkannya (author : nggak takut dikotorin (dibe**kin) tuh hape? #dirajam readers).

"Doushita no, Neru? Kenapa kamu cuma diam selama 2 hari ini? Naze? Kamu pingin aku beli smartphone baru? Iph**e 5c atau N**ia Lumia? Sayang aku ini lagi crisist month," oceh Miku, Neru cuma diam. "Neru seriusan deh, kamu itu kenapa?"

"Kaito" ucap Neru, sebagai catatan Neru bisa bicara layaknya manusia dalam wujud burung dan hanya Miku yang ngerti.

"hah, kamu suka sama Kaito?" Miku memelototi Neru.

"ada yang mengganggu dia di rumahnya." sambung Neru.

"jangan bercanda, Neru. Kaito itu ada di rumah sakit."

"seseorang mengeluarkannya paksa dari rumah sakit."

"nani?" Miku langsung menyambar jaket musim dinginnya dan keluar dari kamar dengan terburu-buru.

"Kaa-san, aku keuar sebentar! Neru keluar dari sangkar lagi." teriak Miku sambil memakai sepatu.

"jangan lama-lama, diluar turun salju."

"ok!" Miku langsung ngibrit(?) keluar.

Miku berlari menuju rumah Kaito yang tak jauh dari rumahnya. Rumah mereka berdua cuma beda belokan itu. Begitu Miku melihat rumah kecil bercat biru itu, Miku memenceti bel di depan rumah Kaito.

"Kaito! Kalau kamu ada di dalem, cepet jawab aku!" teriak Miku, "Kaito!"

Tidak ada jawaban.

"cih, aku ditipu!" Miku mengerucutkan bibirnya.

.

.

.

(Neru POV)

.

.

.

Miku itu cewek terberisik yang pernah kutemui. Kenapa coba aku harus ketemu sama teleporter berisik seperti dia? Walaupun disisi lain, aku bisa memanfaatkannya *senyum evil*.

Aku seneng banget nge-sms atau teleponin semua cowok yang ada dalam list hape-nya, bukan seneng lagi tapi hobi. Setiap kali Saat Miku sedang mandi, aku menyempatkan diri untuk transfrom menjadi manusia dan nge-sms cowok bernama Kaito untuk membuat Miku malu atau saat Miku tak sengaja meninggalkan ponselnya karena takut razia handphone. Tapi Miku itu selain berisik dia juga pinter. Dia itu hafal kalo ada barangnya yang ketinggalan. Saat handphone-nya ketinggalan dia pasti langsung mengambil hape-nya dengan teleportasinya. Di rumah ini selain aku dan Miku yang bisa teleportasi, ibunya juga jago banget teleportasi. Walaupun yang paling sering terjadi salah tempat tujuan. Kaa-san, aku sudah biasa menyebutnya begitu, adalah orang yang paling baik menurutku di dunia ini. Oke, cukup basa-basinya. Aku sedang bermain handphone Miku dan sedang meng-sms cowok bernama Rei. Miku sedang keluar karena beberapa menit lalu aku berhasil menipunya dengan cara mengatakan Kaito sedang berada dalam kondisi gawat.

"Neru!" terdengar suara Miku mengamuk. Ups, rencanaku gagal minna-san. Aku merubah wujudku lagi menjadi burung.

"Neru, kenapa kau menipuku, hah?! Kamu nggak tau kalau di luar itu dingin banget?!" racau Miku.

"hehe, gomen." jawabku, Miku manyun.

"mana hape-ku?" tanya Miku sambil membuka laci meja belajarnya.

"disitu." jawabku.

"kamu nge-sms siapa hari ini?" Miku mengecek ponselnya, "Rei? Bukannya dia itu udah.."

"jangan-jangan maksudmu, cowok bernama Rei itu sudah meninggal?"

Miku mengangguk, "katanya sih, dia meninggal gara-gara deket-deket sama Kaito. Mereka'kan sama-sama ekskul basket. Waktu pulang Kaito bareng sama Rei. Setengah jam kemudian Rei kecelakaan"

"terus kenapa kamu masih nyimpen contact orang yang udah meninggal?" jeritku, sumpah gara-gara cerita Miku semua buluku merinding disco semua.

"aku lupa ngehapusnya, hehe" Miku cengengesan.

"jangan cengengesan gitu!"

.

.

.

(Kaito POV)

.

.

.

Aku bosan, sudah nyaris 6 jam aku ada di rumah sakit ini sendirian. Tabung infusku sudah habis dan akhirnya aku mencabut jarum infus yang menancap di tangan kiriku daripada darahku disedot. Yang lebih kukhawatirkan sekolah tidak membayar pengobatanku di rumah sakit. Aku sedang tak punya uang, buat makannya aja mikir panjang apalagi buat bayar rumah sakit. Tapi kepalaku masih sakit berat. Kapok deh, nggak akan pake lagi medan teleportasi yang namanya Teleportation Gate. Sudah makan banyak energi, ngebuat portal utamanya bikin capek, hasilnya justru bikin kepalaku tambah sakit atau mungkin ini terjadi karena pada awalnya aku memang tidak bisa teleportasi dan akhirnya kekuatan teleportasi milik Kaa-san dan Kaiko ditanam paksa di tubuhku tapi kekuatannya terlalu besar? Aku tidak tahu dan masih tidak mengerti mengenai kekuatanku.

"bosan.." gerutuku untuk keseribu juta kalinya. Seorang suster masuk sambil tersenyum (paksa).

"Shion-kun, Anda sudah boleh pulang. Ng, tidak ada kerabat ya?" kata suster itu. Aku menggeleng. "cepat sembuh, Shion-kun."

Aku megambil jaket sekolah di laci samping tempat tidurku. Aku berdiri susah payah dan nyaris jatuh saat beberapa langkah dari tempat tidur. Aku menyeret tasku sambil berjalan menyusuri jalan keluar menuju rumah sakit. Aku berhasil menyusuri satu koridor dengan napas terengah-engah dan keringat yang sudah membanjiri kening.

'Satu lorong aja lemas, bagaimana 5 lorong lagi?' pikirku. Aku duduk di salah satu bangku sambil mengistirahatkan diri. Lorong ini sepi. Jangan-jangan aku salah masuk lorong.

"Kaito..." sebuah suara memanggilku. Aku mengenal suara brengsek ini, suara milik Tou-san.

"apa?" tanyaku dingin.

"aku akan mengantarmu pulang dan tidak akan mengganggumu lagi tapi ada syaratnya—"

"ketahuilah satu hal Tou-san, aku tak mengetahui dimana letak sumbu itu berada!" potongku, "sekali pun Tou-san memaksaku aku tidak bisa memberitahu dan mengatakan apapun tentang sumbu yang Tou-san"

PLAK! Tou-san malah menamparku.

"dan ketahuilah satu hal Kaito, kami hanya menambah beban kehidupanmu. Camkan itu!" Tou-san pergi dengan memasang wajah menyebalkan khas-nya.

"ya dan memang kalian semua –Tou-san, Kaa-san, dan Kaiko— selalu menyulitkan hidupku yang sudah sulit ini" jawabku dengan suara yang cukup lantang. Tou-san menghentikan langkahnya, mendecih sebentar lalu pergi lagi.

Setelah berhasil melewati semua koridor yang mengarah keluar rumah sakit, aku dengan bodohnya berteleportasi untuk pulang ke rumah. Aku berhasil melakukannya walaupun efeknya rasa pening di kepalaku semakin bertambah.

Aku menjatuhkan(?) diriku diatas sofa kecil di kamarku. Napasku tidak stabil dan badanku sangat lemas. Tiba-tiba aku teringat Miku. Cewek yang selalu berkuncir dua dengan warna rambut dan bola mata yang sama, warna gabungan biru dan hijau. Yap, benar sekali tosca. Entah kenapa dia tadi menangis karena melihatku muntah darah karena ditentang si NasuHentai, Kamui Gakupo (aurthor : *dibabuk terong).

'besok kuberi dia hadiah deh.' pikirku.

Satu-satunya cara supaya aku tak merasa pusing lagi hanya satu. Tidur nyenyak 24 jam. Serius, 24 jam.

(author : semoga setelah 24 jam berlalu kamu masih hidup, Kai.

Kaito : lo nyumpahin gue?

Author : Nggaaakkk, aku ngggak ngomonng apa-apa.)

Back to the story.

Kalian pasti mikir apa besok aku nggak bakal sekolah?

Persetan dengan sekolah. Besok juga libur. Aku membenamkan kepalaku di bantal sofa lalu tertidur nyenyak.

.

.

.

(Author POV)

.

.

Bagus sekali jika kalian percaya pada si burung parkit kuning kita, Akita Neru, bahwa gadis yang bisa berteleportasi kita, Hatsune Miku, merupakan gadis baik yang pintar, rajin belajar, dan nggak hobi main hape. Kalian salah besar! (readers : lagian siapa juga yang nebak). Lihat saja malam ini. Seharusnya sebagai pelajar yang baik, dia itu harus rajin belajar sekalipun besoknya adalah hari libur panjang. Tapi Miku tak melakukan hal itu, tidak sama sekali. Dia tidak membuka bukunya sama sekali, mentang-mentang hari libur. Dia justru memegang handphone flip kesayangannya terus sambil sms-an bersama Rin. Mereka membicara hal yang penting dan tidak penting. (contohnya membahas 'kenapa Kiyo-sensei belum punya istri' dan 'siapa anak kecil moe-moe yang selalu dibawanya ke sekolah') *author : see, obrolan mereka itu nggak penting.

"NANI?!" teriak Miku sampai-sampai dia bangun dari posisi tidurnya, "kenapa Rin-chan membenci Kai-kun?"

"damare, Mik!" protes Neru.

Miku mengabaikannya.

"ceritanya panjang. Aku tak mau membuat jari jempolku lecet untuk mengetik sms padamu, Miku. Akan kutelepon, OK?" kira-kira begitulah hasil sms yang Rin ketik untuk Miku.

Tak sampai semenit, Rin menelepon Miku.

"moshimoshi~" sapa Miku.

"sudah siap mendengar ceritaku?"

"iya, buruan. mumpung baterai ponselku masih banyak!"

"baiklah. Jadi saat itu negara api belum menyerang-" Rin memulai ceritanya.

"BaKagamine, aku minta cerita normal!" protes Miku.

"hehe, bercanda kok. Kau tahu saudara kembarku'kan? Dia menitipkan kekuatan teleportasinya padamu'kan? Kau tahu kenapa Len bisa mati? Itu karena si brengsek Kaito itu yang memindahkan kekuatannya padamu." Rin emosi, nada bicaranya sudah tersulut amarah saat dia menyebutkan nama Kaito.

Miku terdiam. Kesalahannya dilimpahakan sepenuhnya pada Kaito. Kaito hanya menolongnya, menyelamatkan nyawanya. Len menyerahkan nyawanya demi Miku karena Miku terluka parah dan karena Miku mempunyai kekuatan teleportasi yang besar.

"Miku.. Kau bisa mendengarkanku?" nada Rin berubah khawatir.

Miku terkesiap kaget saat mendengarkan Rin berbicara, "i-iya, Rin."

"Aku ingin membunuh cowok brengsek itu. Aku ingin dia menderita luka yang sama dengan Len. Aku ingin tubuhnya menjadi kelabu semua dan aku ingin dia mati di tanganku!"

"Rin, kau ingin mendengarkan cerita yang sebenarnya. Tentang.. kematian Len"

"kupikir ceritaku benar. Kaito mengakuinya sendiri."

"tidak, Kaito tidak benar. Dia membelaku, membelaku sepenuhnya. Len meminta itu jadi aku juga mendukung pengakuan palsu Kaito supaya kau tetap menjadi temanku."

"jadi cerita yang sebenarnya.."

Miku menangis dan menjelaskan kematian Len. Rin mendengarkan sambil terisak.

"hiks..hiks... jangan bilang pada orang tuamu, ne? Biarkan ini menjadi rahasia.. hiks.. hiks.. biarkan, ok?" Miku sesenggukan.

"jika memang ceritamu benar, kuharap besok kau menemaniku ke rumah sakit untuk menjenguknya" Rin telah menenangkan hatinya.

"baiklah.." jawab Miku.

"oyasumi, Miku-chan"

"oyasumi, Rin-chan"

Sambungan terputus. Miku mengingat wajah Kaito.

"arigatou.. gomenasai.. Kaito-kun." Miku bingung sampai berbicara sendiri saat mengingat wajah Kaito. Dia kembali menangis lalu tertidur lelap ketika sudah tak ada air mata lagi yang bisa dikeluarkannya.

.

.

.

-To Be Continued-

.

.

.

Author Line :

Gomen ne, update lama. Sebenarnya aku udah ada plot untuk melanjutkan fic tapi bingung untuk bikin cerita gimana caranya supaya bikin si Miku mewek. Jadinya gini deh. Maaf deh, kalau fic ini jelek dan nggak mutu. Aku sadar, habis negerjainnya dimana-mana. Sekian bacotan gaje author.

Review Line :

Mungkin chapter depan aja. (yang review pake akun, aku jawab via PM aja)

Arigatou.

R

E

V

I

E

W

A/N :

Tetap tinggalkan jejak untuk kemajuan fic ini. Saya terima flame yang bermakna. Arigatou yang udah fav/follow/review, saya senang.

RnR, please. *_*

-Shintaro Arisa-chan-