Disclamer : harry potter itu seutuhnya punya tante JK Rowling. But, all of idea it's mine.

Timeline: setelah hogwarts battle, tahun ketujuh. Hermione dan Draco terpilih menjadi ketua murid.

A/N : ini first fic aku. Jadi, kalo kurang bagus aku minta maaf ya. Aku juga baru pertama nulis kayak gini, paling biasanya dongeng anak kecil, hehe. Aku juga lagi belajar bikin fic yang bagus buat readers. Dibantu ya!

Chapter 2 update

Rated : Teen agak ke mature

Thanks ya buat semua reviews, readers. Semuanya deh pokoknya big thanks . Maaf, gak disebutin satu-satu. Review kalian buat aku semangat buat jadi author yang baik dan benar.

Don't like Don't read

Warning : OOC(maybe), typo, unsur gaje, lime(maybe), bahasanya kurang bagus

R&R, please?

Asrama Gryffindor (ruang rekreasi)

Hermione sampai dengan terengah-engah di ruang rekreasi gryffindor. Dia memandang ke segala arah, memastikan tidak ada yang melihatnya seperti ini. Sekaligus, mencari sahabatnya Ginny.

" Ginny... Ginny" teriak Hermione, setelah menemukan perempuan berambut merah dipojok ruangan bersama kembaran Patil yang sedang bergosip.

Ginny yang mendengarnya terlonjak kaget akibat hampir-hampir terkena serangan jantung (*lebay) karena teriakan Hermione yang mendadak.

" Ada apa, Hermione?. Kau hampir saja membuat jantungku loncat keluar!" jawab Ginny kesal. Karena, kegiatan gossip-gossipnya diganggu. Sikembar Patil pun ikut cemberut.

" Ginny, aku ingin bicara!. Sebaiknya, dikamar kita saja! Cepat!" perintah Hermione bertubi tubi.

Hermione, langsung menarik tangan Ginny menuju kamarnya dulu, sebelum menjadi ketua murid tentunya.

" Guys, kita lanjut nanti ya!" seru Ginny sambil melambai pada si kembar Patil.

ӿӧӿӧӿӧӿӧ

Asrama Gryffindor ( kamar Hermione sebelum menjadi ketua murid)

Sesampainya, dikamar. Hermione, langsung mengunci pintu dan, memberi mantra peredam suara 'Muffliato'. Bahkan, ia mendaratkan mantra perlindungan salvio hexia, protego, dan sebagainya secara bertubi tubi seperti sedang di kejar oleh si pangeran botak hidung pesek yang sebenarnya sudah di musnahkan oleh si-anak-bertahan hidup, Harry Potter, sahabatnya. Setelah dia memastikan agar tak ada yang bisa mendengarnya. Hermione, tak tahan lagi menahan tangis yang sedari tadi mendesak keluar dari matanya. Kristal beningnya pun tumpah ruah membanjiri pipinya yang mulus nan lembut.

Ginny, sangat heran terhadap sikap Hermione. Sehingga, ia tidak kuat untuk menahan rasa penasarannya lagi.

" Mione, sebenarnya ada apa? Ceritakan saja padaku!" seru Ginny, denga rasa penasarnnya.

Tangis Hermione, semakin menjadi jadi. Ginny, yang tak tega melihat sahabatnya menangis tersebut. Menyandarkan kepala hermione ke bahunya.

" Tak apa, Mione. Jika, memang kau tak ingin menceritakannya padaku sekarang. Kau, bisa menceritakannya padaku nanti. Setelah, kita sudah menikah" canda Ginny.

Hermione pun tertawa mendengar candaan sahabatnya yang satu ini. Hermione, akhirnya membetulkan duduknya dan, mengusap air matanya yang menganak sungai.

" kau, ini sempat-sempatnya bercanda disaat seperti ini" ucap Hermione.

" tapi, berhasil bukan?" jawab Ginny. Sambil, menyikut lengan Hermione.

" sedikit" jawab Hermione, singkat.

Hening sesaat.

" Gin, aku ingin curhat tentang sesuatu!. Tapi, kau jangan bilang siapa-siapa!" ujar Hermione.

" Dan jangan tertawa" sambung Hermione cepat setelah melihat Ginny tersenyum kelewat lebar.

" tentu, 'Mione. Kau, bisa menceritakan apapun padaku." Jawab Ginny santai.

Hening lagi sesaat.

" jadi, begini..." ucap Hermione sambil menggantungkan kalimatnya.

" jangan ragu, 'Mione. Mana Hermione Granger yang kukenal dulu?" seru Ginny, meyakinkan Hermione.

" iya...iya" jawab Hermione.

Lalu, Hermione menceritakan semuanya dari awal hingga tadi dia berlari ke asrama gryffindor dengan detail, tanpa sensor sedikitpun, termasuk ciuman panasnya dengan Draco.

"Apa? Kau serius,Mione?. Bahkan, Malfoy merebut first kiss-mu?. Lalu, lalu bagaimana?" sembur ginny bertubi tubi. Karena, senang. Akhirnya, sahabatnya yang satu ini bisa merasakan ciuman. Walaupun, dengan Draco malfoy, sang cassanova.

" Bagaimana apanya?. Dia seorang cassanova. Dia tampan, kaya raya, pintar, dan semua gadis menginginkannya. DIA SLYTHERIN SI PEMUJA DARAH MURNI." Teriak Hermione pada Ginny.

" Tenanglah, Mione. Aku tak bermaksud apa-apa!. Aku, hanya senang akhirnya kau dapat merasakan apa itu yang namanya ciuman." Jawab ginny lembut dan tulus. Menahan, rasa senangnya. Sambil, menenangkan sahabatnya itu.

" jadi, sebenarnya apa yang kau rasakan terhadap Malfoy junior itu?" tanya Ginny pelan. Takut, membangunkan amarah Hermione.

" entahlah, Gin. Aku merasakan aneh terhadap Dra... maksudku Malfoy semenjak aku melihatnya secara diam diam di toilet perempuan pada tahun keenam saat dia berduel dengan, Harry. Aku, merasakan sakit waktu melihatnya tergeletak berlumuran darah. Akibat, kutukan sectusempra, Harry." Jelas Hermione dalam satu tarikan nafas. Seperti kebiasaannya.

Lalu Hermione mengambil nafas. Dan, menceritakan kembali pada Ginny.

".. Aku, merasa ingin memeluk, menolong, mengobati, dan berada disisinya. Awalnya, kukira aku gila. Aku mencoba menghilangakan perasaan itu. Tapi, saat dia mulai sering membawa wanita jalang ke asrama ketua murid. Aku tak bisa menghilangkan dia dari pikiranku. Bahkan, perasaanku menjadi-jadi. Jujur saja, Gin..." Hermione menggantungkan kalimatnya.

Melihat tatapan, Ginny yang memohon melanjutkan ceritanya. Hermione, kembali menghela nafas *lagi. Dan melanjutkan.

"AKU CEMBURU dan AKU TERSIKSA MELIHATNYA BERSAMA WANITA LAIN MENGHABISKAN MALAM DENGAN BERCUMBU DAN BERCINTA. AKU CEMBURU TERHADAP, DRACO. KARENA, AKU MENCINTAINYA." ujar, Hermione dengan suara yang meninggi dan sambil meneteskan air mata.

Ginny, tercengang sambil menganga lebar mendengar penjelasan sahabatnya yang satu itu.

"akhirnya" jawab Ginny singkat

" akhirya apa maksudmu?" tanya, Hermione.

" ya, akhirnya. Akhirnya seorang brightest witch in our age, salah satu trio golden, seorang head girl, seorang Hermione Jean Granger bisa jatuh cinta. JATUH CINTA, Hermione. Walaupun terhadap pangeran es slytherin alias Draco Malfoy." Jelas Ginny berseri-seri.

"sudahlah, Gin. Aku tak ingin membahasnya sekarang."

Setelah, menenangkan diri. Hermione pun meminta izin pada Ginny. Karena, ia ingin menginap di asrama Gryffindor saja. Dan, akhirnya mereka pun tertidur pulas bersama.

ӿӧӿӧӿӧӿӧ

Ruang Rekreasi ketua murid(3 hari setelah insiden dan Draco sudah diperbolehkan pulang dari Hospital wings)

Draco, sedang bersantai, kelelahan karena selama 3 hari ini dia berpatroli, dan mengerjakan tugas ketua murid seorang diri. Disofa kesayangannya yang berwarna hijau dengan corak silver. Sangat Slytherin. Dia sedang memikirkan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.

"Sebenarnya perasaan apa ini?" Draco, berbicara sendiri sambil menjambak rambutnya dengan frustasi.

"kenapa setiap aku melihatnya. Aku merasa seperti ada kupu-kupu.. ralat seperti ada basilisk yang meronta diperutku?"

"kenapa setiap melihatnya. Aku merasakan jantungku seperti sedang mengejar snitch?"

"kenapa setiap aku melihatnya dengan laki-laki lain. Rasanya, aku ingin bisa berbahasa parselmouth untuk menyuruh basilisk dan nagini memakan laki-laki yang mendekatinya?"

"sepertinya aku sudah gila!. Bahkan, aku berbicara seakan-akan basilisk dan nagini masih hidup saja" jelas Draco, menjambak rambut pirangnya lagi.

Tiba-tiba ekor matanya melihat wanita yang sedang dibicarakannya memasuki ruang ketua murid.

"hei, semak kemana saja kau selama 3 hari ini?. Aku lelah mengerjakan tugas ketua murid sendiri, berpatroli sendiri!" ucap Draco setengah berteriak pada sang gadis. Karena, sang gadis tetap berjalan kearah kamarnya.

"bukan urusanmu, Ferret Melambung" ketus sang gadis sambil menekankan kalimatnya. Tanpa melihat kearah Draco.

Draco yang merasa kesal segera berdiri dan menahan tangan mungil sang gadis.

"tentu saja itu juga urusanku, love" ucap Draco lembut hampir terdengar seperi desahan ditelingan sang gadis.

"Lepaskan aku, Malfoy" Kata sang gadis sambil meronta. Ia, tak ingin kejadian 3 hari lalu terulang lagi.

"Aku tak akan melepaskanmu, love. Aku sangat merindukanmu. Bagaimana kalau kita bermain dulu?. Mau dikamarmu atau dikamarku?" goda, Draco.

"cih, aku takkan sudih bermain main denganmu"

"benarkah?, Hermione"

Yap! Pasti kalian sudah tau bahwa gadis itu Hermione.

Draco tak mendengarkan jawaban Hermione. Ia, langsung menggendong, Hermione yang meronta ronta dengar gaya tarzan dan membawanya ke kamar Hermione.

Kamar Hermione

Sesampainya, dikamar Hermione. Draco, langsung membanting Hermione kekasur. Draco, langsung menindih badan Hermione yang masih meronta.

" Malfoy, kumohon lepaskan aku. Sebenarnya, apa maumu?" mohon Hermione.

" Pertama, aku tak akan melepaskan mu. Kedua, kau bertanya apa yang ku inginkan?. Tentu saja aku menginginkanmu!"

" Ingat, Malfoy. Aku darah lumpur, aku mudblood, Malfoy" ucap Hermione lirih sambil meneteskan air mata.

" aku tak peduli lagi"

Tanpa disuruh. Draco langsung membuka kemeja Hermione dan melemparnya ke sudut ruangan. Dan, memperlihatkan bra Hermione dengan model ½ cup dan berenda. Tangannya, mulai mencari cari kaitan bra Hermione dan membukanya.

"kau sungguh cantik, love" ucap Draco lagi-lagi ditelinga Hermione.

"Kumohon, Malfoy. Lepa...mmpphh" Kalimat Hermione terpotong karena Draco langsung melumat bibirnya.

Draco melumat, menggigit, dan menghisap bibir Hermione. Lalu, turun ke leher jenjang Hermione.

Hermione, tak kuat lagi menahan desahannya.

"ahhhh..aahh.." desah Hermione.

Draco, yang mendengarnya bertambah bergairah. Ia, melepas rok yang dikenakan Hermione.

Dan, desahan Hermione mengalun merdu sepanjang malam.

.

.

To be continued

A/N : gimana ceritanya? Ancur banget ya?.

Maaf ya readers. Seruis deh, Dee minta maaf banget.

Dee, terima semua tanggapan, saran, caci maki, pujian.

So, dibantu ya. Di Review, please