" CRESTFALLEN "
.
.
Cast : Oh Sehun, Xi Luhan
And OC(s)
.
Mature
Multichapter
.
AU, Drama, Romance, Angst.
Genderswith. DLDR.
Happy Reading !
.
.
CHAPTER 2
..
Other Feelings
.
.
Fifteen years later
Alunan merdu mengalun begitu indah di udara. Suara yang dipermainkan oleh jemari-jemari lentik itu begitu membuaikan. Detingan halus setiap tuts piano yang di sentuhnya menciptakan nyanyian tanpa lirik yang lembut dan begitu menakjubkan.
Kepalanya bergerak sesuai irama lagu, matanya yang secantik mutiara lautan itu terpejam dengan begitu erat. Seukir senyuman sehangat cahaya mentari pagi senantiasa terpatri di wajah cantiknya. Rambutnya yang keemasan dan sedikit bergelombang, menggantung begitu indah sebatas punggung sempitnya. Setiap helai demi helainya ikut menari dengan gembira ketika kepalanya bergerak ringan.
Ialah sang pencipta dari suara keindahan itu. Permainan pianonya begitu halus, lugas, dan ringan. Ada makna kedamaian yang tersalurkan di setiap nadanya yang tercipta. Jemari lentiknya tiada henti bergerak, mengikuti alur semestinya kemana mereka di perintahkan untuk menyentuh setiap tuts-tuts putih itu.
Sang pianis itu adalah seorang gadis yang sangat cantik. Ada gaun putih polos yang membalut tubuh sensualnya. Bahunya terbuka lebar, hanya ada seutas tali polos yang menggantung di kedua sisi pundaknya sebagai tumpuhan dari gaunnya yang menggantung hingga sebatas lutut.
Satu kalung cantik menggantung di leher jenjangnya sejak lama, itu adalah pemberian dari Ibu angkatnya bertahun-tahun silam. Dan tidak pernah sekalipun Ia melepaskan kalung itu bahkan sejenak pun.
Beberapa lagu sudah Ia mainkan, mulai dari lagu yang bernada cepat hingga lambat. Semua itu tak luput dari kesempurnaan dari cara Ia memainkan pianonya.
Hampir atau bahkan tak sama sekali terdapat kesalahan.
Jarinya berhenti sejenak, dan matanya membuka secara perlahan. Setiap bulu mata lentiknya naik di udara, hingga pandangannya kembali tercipta. Sekali lagi, senyumnya terukir semakin luas. Bahkan beberapa kali kedua mata cantik itu akan tenggelam pada bulan sabit yang manis karena tarikan senyumnya.
Langit di luar sedang menangis tiada henti. Cuaca hari ini begitu mendung berkabut abu-abu. Udara dingin dan menusuk dari luar itu masuk tanpa permisi melewati ventilasi kaca jendelanya.
Suara pianonya kembali terdengar. Dan matanya tiada henti memandang keluar jendela. Ia memainkan tuts pianonya tanpa melihat. Hanya membawa naluri kegadisannya untuk terus bergerak sesuai keinginan hatinya.
Dia Luhan, lebih tepatnya Oh Luhan.
Gadis manis yang beberapa tahun lalu terjebak pada kesedihan yang mendalam akibat kehilangan kedua orangtuanya dalam kecelakaan tragis. Namun kesedihan itu tak berlangsung lama. Karena saat itu datanglah seorang malaikat tulus yang bernama Lee Minkyung, yang menawarkan kebahagiaan juga keluarga baru yang lebih lengkap untuknya.
Lebih lengkap karena Luhan punya sosok kakak laki-laki di keluarganya. Dan Ia sangat bersyukur tentang itu.
Luhan suka hujan. Sejak kecil hanya hujan yang akan menjadi teman setianya ketika Ia tidak bisa memejamkan mata untuk tertidur.
Di setiap hujan yang turun, maka disana lah ada Luhan yang akan terus mengadahkan kedua tangan kecilnya di udara. Membiarkan setiap tetes hujan itu membasahi kulit tangannya dengan begitu dingin. Membasahi sebagian gaun yang dikenakannya, juga membasahi sedikit puncuk kepalanya hingga basah.
Namun untuk saat ini Ia tidak melakukannya. Luhan sudah duduk di kursi mungil ini sejak satu jam yang lalu. Mengalunkan beberapa lagu yang disukainya untuk menemani suara hujan yang menggema di luarsana. Memandang ribuan genangan air yang tercipta di balik kaca jendelanya yang sedikit berembun.
Melihat jika ribuan partikel hujan akan terus membawa setiap daun dari pohon mapelnya jatuh ke tanah. Meninggalkan setiap dahan pohon mapelnya terasa sunyi dan kesepian karena kepergian sang daun tersebut.
Luhan berada disebuah kamar feminine yang besar. Nuansanya penuh dengan warna putih yang polos dan bercorak mawar. Ia memiliki satu piano pribadi yang juga berwarna putih dan hitam. Di tempatkan di sudut ruangan dekat jendela balkon, yang menghadap langsung pada halaman di luarsana.
Ini adalah tempat kesukaannya. Duduk di atas kursi kecil dari piano besarnya, sembari melihat jutaan rintik hujan yang tercipta. Entah mengapa, hanya hujan yang bisa membuat hatinya merasa tenang dan damai.
Luhan hanya sendiri di rumah besar keluarga Oh ini. Sebenarnya tidak sepenuhnya sendiri karena rumah besar ini akan selalu penuh dengan beberapa maid dan Ibu kepala pengurus rumah.
Disaat Luhan hanya akan di tinggalkan seorang diri. Semua orang bahkan sibuk dengan perkerjaan mereka masing-masing.
Ayah dan Ibu angkatnya sudah lama tinggal di luar negeri demi kepentingan bisnis keluarga. Dan, Sehun kakak laki-lakinya juga terlalu sibuk di kantor. Lelaki itu baru tiga tahun berkerja di perusahaan rasaksa tersebut. Ia menggantikan posisi sang Ayah sebagai sosok petinggi paling penting di perusahaan.
Oh Sehun akan pergi setelah menemaninya selesai sarapan, dan akan pulang setelah Ia duduk di kursi meja makan di malam hari. Atau terkadang, Luhan akan menghabiskan makan malamnya seorang diri karena kakaknya terlalu sibuk hingga lembur kerja.
Dia, sudah terbiasa dengan hal ini. Namun sampai hari ini, Luhan tidak pernah tidur sebelum Sehun sampai di rumah dengan selamat. Ia akan selalu menjadi orang pertama yang menyambut kepulangan lelaki itu dengan senyuman juga pelukan hangat.
Seorang maid datang dengan langkah ringan menuju ke arah Luhan. Luhan menghentikan permainan pianonya dan menoleh ke arah maid wanita yang langsung membungkuk hormat padanya.
"Nona Lulu, makan malam Anda sudah siap." Ujar maid itu sembari mengangkat kepalanya.
Luhan tersenyum kecil dan mengangguk. Merapikan sedikit gaunnya agar tetap terlihat menawan dan keluar dari kukungan kursi mungilnya dengan langkah anggun.
Sang maid hanya tersenyum, Ia tidak akan pernah bisa mengalihkan perhatiannya dari apa saja yang Luhan kerjakan. Termasuk caranya yang merapikan gaun dan menyisir sedikit anak rambut keemasan yang menghiasi di sekitaran wajahnya.
Itu adalah pemandangan menakjubkan bagai melihat seorang dewi baginya.
Luhan adalah jenis kecantikan yang mutlak dan tak terelakkan. Sang maid selalu bersyukur dalam hatinya karena bisa melihat gadis secantik itu.
"Apa kakak ku sudah pulang?." Tanya Luhan pelan.
Jemarinya yang ranting memeluk pegangan tangga yang berlapis warna keemasan itu. Tungkai panjangnya melangkah dengan pelan, menuruni setiap anak tangga dengan ketukan sepatu heelsnya.
"Belum, Nona. Saya mendapatkan informasi jika tuan muda Sehun masih terjebak dalam macet."
Dengusan pelan Luhan terdengar. Ia mengangguk lesu dan berhenti dalam melangkah. Memandangi pintu utama yang tertutup dengan tatapan kecewa. Itu artinya, Ia akan makan malam seorang diri lagi malam ini.
Luhan duduk di kursi yang biasa di tempatinya ketika makan. Para maid hanya berbaris dengan rapi di sisinya dan melayani Luhan jika wanita itu menginginkan hal lain.
Tapi tidak sepenuhnya begitu, Luhan adalah sosok gadis yang tidak suka merepotkan orang lain. Ia lebih suka melakukan sesuatu dengan tangannya sendiri.
Karena itulah, Ia hanya akan membalikkan sendiri piringnya, mengisinya dengan sedikit nasi dan lauk yang luar biasa lezat, memakannya dengan khidmat dan perlahan, kemudian menghabiskan jus orange dengan beberapa tegukan lalu melabuhkan tissue di bibirnya.
Para maid tidak akan pernah absen jika memperhatikan Luhan. Termasuk bagaimana cantiknya wanita itu ketika makan. Gerakannya pelan, dan Ia selalu tak lupa untuk melayangkan pujian juga rasa terimakasih kepada para maid dan koki ketika Ia selesai menikmati hidangannya.
Dengan senyuman yang tulus, dan gestur tubuh membungkuk rendah. Ia bangkit kemudian meminta izin untuk kembali ke atas, ke kamarnya yang cantik.
Semua maid hanya bisa tersenyum dan menatap penuh kagum pada Luhan.
Luhan lebih baik dari wanita manapun. Dia seperti menggambarkan bagaimana baiknya seorang Ratu kerjaan. Hatinya tulus, dan dengan visualnya yang semeknakjubkan itu mustahil tidak akan ada lelaki yang tidak jatuh cinta padanya. Bahkan hanya jika mereka memandang punggung Luhan dari belakang dan melihat caranya berjalan.
Gadis itu memiliki kata yang semua orang pasti akan menyetujuinya untuk mewakili bagaimana sosok Luhan.
Kesempurnaan yang mutlak.
Luhan membuka pintu kamarnya dengan perlahan, Ia masuk dan kemudian menutupnya pelan. Matanya yang sejernih air telaga itu hanya bisa menerawang jauh.
Mengapa rasanya bisa sesepi ini? Bahkan aroma mawar yang Ia sukai tak bisa membuatnya tenang seperti biasanya.
Kemudian, Luhan berjalan dengan pelan menuju jendela putihnya yang besar. Kaca jendelanya berembun karena hujan, namun jemari lentik itu akan terus menghapusnya hanya untuk bisa memandang genangan-genangan kecil di bawah sana.
Dia seperti mengingat masa lalu, dimana hobynya yang menyukai hujan tidak pernah menghilang. Walau jelas, fakta kelamnya adalah hujan pula yang membuat dirinya kehilangan kedua orangtuanya. Tapi, Ia tidak bisa menyalahkan hujan sepenuhnya, kerena sekeras apapun Ia menolak, Ia akan tetap mengadahkan kedua tangannya di jendela yang terbuka ketika hujan turun.
Aku masih sama seperti yang dulu. Hujan adalah kegemaranku.
Suara hatinya berbisik, membuat senyuman kecil tersungging apik di wajahnya. Surai kecoklatannya yang panjang dan sedikit bergelombang tergerai dalam diam. Bibirnya yang berwarna secerah buah cherry meniup hangat kedua telapak tangannya.
Gadis itu membuka kaca jendela kamarnya. Percikan tetesan hujan yang awalnya hanya membasahi kaca jendelanya tadi langsung membasahi wajahnya. Ia mengangkat kedua telapak tangannya di udara dan meletakkannya di tempat yang mana di lewati oleh tetesan hujan. Matanya terpejam, merasakan sensasi yang begitu di sukainya dalam keheningan. Dingin menyergapi tubuhnya, namun Ia tak peduli.
Ia hanya ingin menikmati waktu kesendiriannya dengan tenang. Tanpa ada siapapun yang bisa membuatnya berhenti melakukan itu. Walau jelas saja, dalam balutan dress tipis berwarna putih itu tidak memungkinkan jika Ia akan terkena demam setelah ini.
Sesungguhnya ada yang bisa membuatnya berhenti, hanya seseorang. Tapi itu tidak mungkin Ia temui dalam waktu sekarang, karena seseorang itu mempunyai jadwal perkerjaan yang sangat sibuk. Terkadang, seseorang itu bahkan tak punya waktu yang cukup untuk Luhan.
"Aku sudah mengatakannya berulang kali padamu, Luhan. Tolong berhenti bermain hujan dengan gaun setipis ini." Satu mantel hangat dan kebesaran membalut tubuh mungilnya yang kedinginan.
Luhan membeliak terkejut dan mematung. Ada satu alasan mengapa hatinya tiba-tiba berdebar penuh dengan rasa hangat kemudian menjalar cepat hingga menjadikan pipinya merona tipis. Suara baritone dan aroma maskulin yang khas itu, tidak bisa Ia temui dimanapun selain di sosok ini.
Jadi, Ia pasti tidak salah orang.
Tubuhnya membalik dengan ringan.
Oh, kenapa harus secengeng ini? Ketika bahkan air mata saja tidak bisa Ia tahan lagi untuk tak terjatuh dari kedua sudut mata rusanya. Luhan tidak menangis karena patah hati, Ia hanya menjelaskan betapa Ia sangat merindukan sosok ini sampai Ia sendiri bingung bagaimana caranya untuk mengungkapkannya. Walau air matanya jatuh, tetapi Ia tidak malu untuk menunjukkan semua itu pada sosok yang berdiri di hadapannya.
Usapan ibu jari yang lembut Luhan dapatkan di pipinya, menghapus air matanya dan kemudian Luhan mendapatkan apa yang Ia inginkan sejak berhari-hari lamanya.
Ciuman di puncuk kepala dan satu pelukan hangat yang erat.
"Kapan pulang? Kenapa tidak memberitahu lebih dulu, Sehun?" Luhan melesakkan kepalanya jauh terjatuh dalam dada bidangnya. Ia meraup rakus aroma yang begitu di rindukannya itu dalam diam.
Sehun berderai tawa, kemudian meremas lembut kedua bahu sempit Luhan yang terbalut mantelnya dan menatap mata rusa itu dalam-dalam. Sensasi yang sama kembali Ia rasakan setiap kali Luhan membalas tatapan itu dengan sorot penuh keteduhan.
Sensasi yang bahkan belum Sehun mengerti sampai sekarang.
"Aku ingin memberimu kejutan. Apa kau terkejut? Dan, kenapa harus selalu menangis setiap kali aku pulang kerja? Aku tidak menyakiti apapun kan, Luhan?"
Luhan memberengut manja dan meremas tangannya yang bergelayut di sisi pinggang Sehun. Dan, tanpa sadar kelakuannya itu membuat Sehun berdesir.
"Aku, hanya merindukanmu. Itu saja."
Sehun menatap Luhan lebih dekat dan mengusap pipi kanannya. Luhan harus terpejam sesaat ketika merasakan sensasi halus itu di kulitnya, membuatnya benar-benar terbuai. Sehun mencium dahinya dan berujar pelan.
"Bukankah ada beberapa maid yang selalu ada untukmu. Dan, Kyungsoo sahabatmu juga sering berkunjungkan? Kenapa harus selalu merasa kesepian ketika Oppa-mu ini pergi, Hm?"
"Apa aku harus memanggilmu Oppa lagi agar kau tidak terlalu lama pergi berkerja? Dan, tidak bisakah Oppa disini bersamaku ketika makan malam?" rengek Luhan dengan bibirnya yang mengerucut, "Kau tahu, bahwa melelahkan untuk makan tanpa ada satupun orang bisa menemanimu di meja makan. Tidak bisakah kau mempersingkat perkerjaanmu dan lebih banyak waktu di rumah? Bersamaku?" Tanya Luhan ketus dengan gurat sendunya.
Sehun menggeleng dan menepuk-nepuk puncuk kepala Luhan.
"Kau sudah besar, usiamu sudah menginjak dua puluh tiga tahun, Luhan. Dan, aku sudah mengatakan ini padamu sejak umurmu dua puluh tahun. Jangan lagi memanggilku dengan sebutan Oppa. Kau sudah bukan anak kecil lagi." Sehun tersenyum getir, "Dan, maaf karena selalu meninggalkanmu sendirian di rumah. Aku tidak bisa mengabaikan perkerjaanku." Lagi, Sehun mengecup dahi Luhan untuk menenangkannya.
Luhan melepaskan pelukan itu. Ia menjatuhkan mantel tebal milik Sehun dan berbalik memunggunginya. Luhan berjalan kembali menuju jendela, Ia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya sebelumnya.
Mengadahkan kedua tangannya di udara demi menampung tetesan hujan yang membasahi kulit putihnya. Matanya terpejam erat, mencoba untuk merilekskan sendiri hatinya yang sedang di landa gunda. Bukan pertama kalinya Sehun selalu mengabaikan permintaannya.
Mungkin Luhan memang di takdirkan untuk selalu merasa kesepian di rumah sebesar dan semegah ini.
Sehun menghela nafasnya pelan. Adik kecilnya memang tidak bisa menerima penolakan. Jika Luhan marah atau sedang dalam masa merajuk, Ia hanya akan berdiam diri dan mengabaikan keberadaan Sehun.
"Sudah kukatan padamu, Lu. Jangan terlalu sering bermain hujan, aku tidak ingin kau sakit kemudian demam." Sehun memeluk Luhan dari belakang dan melesakkan kepalanya jatuh di bahu sempit itu.
Sehun suka aroma tubuh Luhan yang memabukkan. Gadis ini seperti candu yang membuatnya selalu terjerat. Ia seperti mawar pagi yang mengguarkan aroma harum yang segar, namun Ia juga seperti madu yang mengguarkan aroma manis menenangkan.
Hingga terkadang, Sehun bahkan tidak sadar jika Ia akan menciumi leher jenjang Luhan dengan kecupan ringan. Dan, Luhan tidak pernah menolak hal itu.
Meski hal ini selalu terlintas di pikirannya, bolehkah jika kakak dan adik berada dalam hubungan sedekat ini? Apa itu masih bisa di toleransi atau sudah memiliki arti lain? Walau Luhan tahu, faktanya adalah Ia dan Sehun bukanlah saudara sedarah.
"Jangan mendiamkanku seperti ini, Luhan. Bukankah kau mengatakan jika kau merindukanku?" Sehun meletakkan dagunya di puncuk kepala Luhan, "Lusa Ayah dan Ibu akan pulang, kau tidak akan merasa kesepian lagi."
Sehun bisa mendengar Luhan yang mendecih pelan. Gadis itu masih tak bergeming, Ia seolah menulikan pendengarannya dan masih fokus pada dunianya sendiri.
Sehun mengambil sepasang tangan mungil Luhan, dan terkejut ketika merasakan kulitnya yang begitu dingin dan mulai memucat.
"Astaga, Sudah sedingin ini, Luhan! Kau bisa demam jika setiap hari selalu seperti ini. Biar aku hangatkan tanganmu," Sehun membalikkan tubuh Luhan untuk menghadap ke arahnya dan menghangatkan kedua telapak tangan Luhan yang terbuka dengan nafas hangat yang berhembus dari bibirnya, "Sebentar lagi akan turun salju. Kau harus mulai memakai pakaian hangat, dan mengurangi aktivitasmu di luar rumah." Sehun tersenyum puas ketika tangan Luhan telah kembali hangat, Ia menatap wajah Luhan yang murung kemudian membawa adik kecilnya itu dalam pelukannya, "Jika kau merindukanku. Hubungi saja aku dengan ponselmu. Aku akan mengangkat panggilannya jika sedang dalam masa tidak terlalu sibuk, Lu." Sehun mengelus lembut surai Luhan yang sangat halus. Aroma wanginya membuat Sehun betah untuk terus berada dalam dekapan kecil ini.
"Kau selalu sibuk, kau pasti tidak akan mengangkat panggilanku jika pun aku melakukannya." Gumamnya dengan nada ketus yang kentara.
"Hei," Sehun menatap Luhan lekat-lekat, "Aku akan berusaha meluangkan waktuku untukmu, Luhan. Aku berjanji akan menerima panggilanmu jika aku memang tidak sangat terdesak dengan perkerjaanku. Hubungi saja Oppa-mu ini, Oppa tidak akan marah." Satu senyuman manis Sehun berikan khusus hanya kepada Luhan, matanya yang memiliki tatapan tajam namun meneduhkan itu pun terangkat hingga membentuk lekukan bulan sabit yang manis.
Senyuman itu, senyuman yang paling Luhan sukai. Dan, Luhan tahu jika hanya kepadanya Sehun memberikan senyuman seindah itu. Melihatnya, membuat Luhan yang seolah merajuk perlahan ikut menyunggingkan senyumnya pula.
Sehun tertawa gemas, dan mencubit pipi Luhan perlahan. Ia pun juga suka melihat Luhan yang leluasa tersenyum. Gadis itu memiliki senyuman yang cantik, yang bahkan mungkin bisa membuat semua orang akan menaruh hati padanya.
Mungkin Sehun juga termasuk di dalam itu.
"Kau benar tidak akan marah jika aku mengganggumu ketika berkerja?"
"Kau tahu jika aku tidak bisa marah padamu, Luhan."
Luhan merona tipis dan memeluk Sehun erat-erat.
"Aku sayang padamu, Sehun-ah" ujarnya dengan nada suara yang manja.
Sehun tertawa dan mengangguk, "Aku lebih menyayangimu, dan sekarang pergilah tidur."
Luhan mengangguk dan ikut mengiring Sehun menuju ranjangnya. Sehun selalu memperhatikan Luhan ketika mereka punya waktu untuk bertemu. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari apapun yang Luhan lakukan.
Luhan masuk ke dalam selimutnya, masih dengan senyumnya yang membuat Sehun seolah tersihir.
"Sehun,"
"Hm?"
Luhan menatapnya dengan tatapan memohon.
"Maukah kau menemaniku sampai aku pergi tidur? Atau kau bisa nyanyikan satu lagu pengantar tidur untukku."
Sehun menggeleng dan mengusap puncuk kepala Luhan.
"Kau tahu? Ketika beberapa jam lalu aku pulang kerja, aku bahkan belum mengganti pakaianku dan pergi mandi, Sayang. Maaf, aku tidak bisa menemanimu."
"Hmm. Bagaimana jika selesai mandi dan berganti pakaian, kau kembali kesini dan menemaniku tidur? Itu bisakan?" Tanya Luhan lagi.
Namun, jawaban Sehun tetap sama. Ia menggeleng dan meringis dengan senyuman menyesal.
"Setelah itu, aku akan melanjutkan beberapa perkerjaan yang belum sempat ku selesaikan di kantor. Maafkan aku, hm" Sehun mengecup puncuk kepala Luhan dan menaikkan selimut tebalnya hingga tubuh Luhan tertutupi dengan hangat sebatas bahunya.
"Kapan-kapan aku akan menemanimu tidur."
Luhan hanya mengangguk pasrah, "Pergilah mandi, dan jangan terlalu memaksakan dirimu untuk terus berkerja. Kau juga harus banyak istirahat, Sehun."
"Aku mengerti."
Sehun berpamitan pada Luhan setelah Ia selesai mematikan lampu utama dan menghidupkan lampu tidur Luhan di sebelah ranjangnya. Kemudian berjalan meninggalkannya kembali dalam kesendirian. Ketika pintu itu sudah tertutup rapat, Luhan bahkan tak langsung memejamkan matanya untuk jatuh tertidur.
Ia kembali bangkit. Ada ritual khusus yang harus Ia lakukan setiap malam sebelum tertidur. Kamarnya tidak hanya berisikan dengan piano sebagai teman setianya ketika Ia merasa kesepian. Luhan punya meja kecil khusus dengan di hiasi beberapa vas bunga serta mawar putih di sudut ruangan, letaknya tak jauh dari piano kesayangannya.
Meja kecil ini sebenarnya adalah tempat yang paling Ia sukai dari apapun. Tempat yang bisa menenangkan hati dan pikirannya sebaik hujan yang begitu Ia gemari. Luhan duduk di sebuah kursi mungil. Ia mengambil lilin pilar dengan diameter yang cukup besar dari atas mejanya. Kemudian, menyalakan pematik api untuk menyalakan cahaya kecil lilin tersebut.
Cahaya kecilnya yang begitu tenang, seolah membuat Luhan hanyut dalam kedamaian. Ia menemukan hatinya dalam keadaan rileks. Lilin adalah sesuatu yang sederhana, tapi Ia dapat menerangi kegelapan yang bahkan bisa menggelapi hati manusia.
Dengan jemari lentiknya, Luhan mengambil penutup kaca yang menyerupai gelas tabung di dekat vas bunga mawar putihnya. Wadah itu Ia gunakan untuk menutupi cahaya lilinnya. Ia tidak akan membiarkan cahaya lilinnya mati dalam jahatnya angin malam yang cukup berhembus dari ventilasi jendelanya.
Bukan hanya satu lilin utama, tetapi Ia juga menyalakan beberapa lilin kecil aromaterapi yang akan membuat nuansa temaram kamarnya semakin mengguarkan aroma menenangkan di iringi nyanyian dari rintikan deras hujan di luar sana.
Luhan menatap lilinnya dalam diam. Ia duduk dengan tenang di atas kursi sambil kesepuluh jarinya yang saling tertaut erat. Kepalanya sedikit merunduk, Luhan mulai memejamkan kedua matanya dengan senyuman kecil yang terpatri di wajahnya yang bercahaya kuning keemasan.
Hatinya yang berbisik, mulai merapalkan beberapa doa-doa abadi untuk sang Ayah dan Ibu kandungnya yang telah tiada, yang telah meninggalkannya dan memilih tinggal di tempat yang lebih baik di atas surganya Maha Kuasa. Luhan juga merapalkan doa kebaikan untuk Minkyung dan Jaehun. Dan, yang paling membuatnya berdesir adalah merapakalkan doa untuk kakak laki-lakinya, Oh Sehun.
Sehun itu khusus, entah mengapa Luhan menempatkan posisi lelaki itu sebagai yang paling berarti untuknya. Padahal jika di telusuri lebih dalam lagi, Minkyung lah orang yang paling berarti bagi hidupnya.
Luhan tahu, hanya saja Ia seolah sengaja untuk mengesampingkan kenyataan itu.
Tuhan, Aku sangat menyayangi kakak laki-laki ku Oh Sehun. Dia adalah sosok yang paling berarti bagiku. Tuhan, tolong jaga Oh Sehun-ku dengan baik, sebaik caramu mengatur kekejaman dunia untuk menuju kedamaian. Berikan dia kebahagian, dan berikan kami kebahagian yang abadi.
Satu hal lagi, Terimakasih untuk keberkahan hujan yang telah kau turunkan, Tuhan. Aku damai, dan menemukan ketenanganku dalam hujanmu. Kumohon, turunkan lah kembali hujanmu nanti ketika aku merasa aku sangat membutuhkannya.
Luhan membuka matanya ketika Ia selesai dalam berdoa. Sebanyak apapun doa yang Ia sampaikan melalui hatinya, Luhan berharap Tuhan akan mengabulkannya dan tak pernah merasa bosan mendengar keluh-kesahnya.
Hatinya tersenyum, dan bibirnya pun tersenyum. Ketentraman memenuhi jiwanya yang tulus. Dan, Ia yakin Ia akan mendapatkan mimpi indah dalam tidurnya setelah ini. Akan lebih membahagiakan lagi jika Ia bisa melepas rindunya pada kedua orangtuanya di dunia mimpi.
Semoga saja, Luhan bisa bertemu dengan mereka dalam tidurnya.
Selamat malam dan selamat tidur, Papa dan Mama. Tunggu aku, suatu saat nanti.
.
.
Crestfallen
.
.
Hujan telah berhenti setelah dalam semalam puas mengguyuri bumi dan menjadikannya penuh dengan banyak genangan-genangan air. Embun pagi menempel dengan menyeluruh di jendela kamar Luhan. Matahari yang masih terlihat malu-malu bahkan baru menunjukkan cahayanya sedikit di ufuk timur.
Namun, gadis cantik ini telah bangun dari tidurnya sejak beberapa menit yang lalu. Luhan baru saja menyelesaikan mandi paginya dengan air hangat. Aroma mawar halus mengguar dari tubuhnya yang masih terbalut bathrobe itu.
Luhan duduk di atas kursi meja riasnya yang memiliki cermin besar. Ada banyak tube-tube kecantikan disana. Luhan mulai menjalankan rutinitas paginya dengan skincare yang biasa Ia kenakan setiap hari. Ia juga mengeringkan rambut coklat madunya dengan hairdryer ringan.
Jam bahkan masih menunjukkan pukul 05.30 pagi, tapi Luhan sudah sesibuk ini dalam memilih pakaian apa yang akan Ia kenakan. Dengan masih berbalut bathrobe, Luhan membuka lemari besarnya yang memiliki banyak pintu berjejer rapi.
Ia mengambil sepasang bikini yang menarik minatnya pagi ini. Berwarna putih gading dengan renda-renda yang manis. Sampul tali bathrobenya Luhan lepas. Menjadikan jubah mandi itu jatuh dengan perlahan dari tubuh mulusnya yang telanjang.
Cahaya lampu utama yang di hidupkan seolah membuat tubuhnya bersinar terang. Kulitnya yang sangat halus berwarna putih kekuningan terlihat jelas di bayangan cermin tinggi yang berada di lemarinya.
Luhan menatap refleksi dirinya sendiri di cermin. Ia punya wajah yang sangat cantik sekaligus menggemaskan secara bersamaan. Bahunya sempit, lengan dan kakinya begitu ramping dan jenjang. Payudara sintal mengatup rapat menggantung begitu menggairahkan di tubuhnya. Ia juga memiliki putting mungil merah muda yang bersembunyi malu-malu disana. Perutnya rata, pinggangnya kecil. Luhan juga punya pantat kencang terangkat yang sama mengatupnya seperti payudaranya. Satu hal lagi yang menggambarkan betapa indahnya seorang Luhan adalah kewanitannya.
Ia adalah seorang gadis perawan yang sangat indah. Dengan bulu-bulu halus samar di selangkahannya dan kulit putih bening tanpa noda sedikit pun di seluruh tubuhnya. Menjadikan Ia sebuah pemandangan surgawi yang penuh dengan tarikan menggoda sensual yang panas.
Luhan tersenyum kecil, Ia mulai mengenakan pakaian dalamnya dengan perlahan. Ia ingin selalu terlihat cantik dan berseri seperti bunga di pagi hari yang baru mekar.
Luhan sudah memilih dress cantiknya yang akan Ia kenakan hari ini. Satu dress halus sepanjang bawah lututnya dengan motif floral berwarna ungu kecil. Ia memakai dress itu untuk menutupi tubuh cantiknya dari pandangan lapar birahi dunia.
Rambutnya Ia biarkan tergerai bebas. Make-up tipis semakin mempercantik penampilannya. Dan, Luhan juga sudah siap untuk memulai harinya yang baru.
Kepalanya bergerak mencari jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 06.10 pagi. Itu artinya, sekarang adalah waktunya untuk turun ke meja makan dan menyapa Sehun yang pastinya sudah berada disana menungguinya untuk sarapan bersama.
.
.
"Selamat pagi, Sehun."
Luhan datang penuh senyuman. Sehun sudah tahu kapan Luhan akan datang menghampirinya. Bahkan ketika pintu kamar gadis itu terbuka sekalipun, aroma mawar halus akan langsung mengguar penuh hingga memenuhi pernafasan Sehun yang duduk di meja makan. Dan ketukan heels mungilnya yang terdengar sangat manis itu bisa Sehun ketahui dengan baik.
"Selamat pagi juga, Luhan. Pagi ini mau sarapan apa? Biar aku yang mengambilkannya untukmu." tawar Sehun.
Luhan duduk di samping lelaki itu dengan anggun. Pesonanya yang sangat cantik kembali menghipnotis Sehun sehingga lelaki itu tanpa sadar memandangnya penuh dengan kekaguman, tanpa Sehun harus memujinya secara langsung juga Luhan mengenal baik arti dari tatapan itu. Hingga membuatnya merunduk kikuk dan menyampirkan helai rambutnya di belakang cuping telinga dengan pipi yang merona samar.
"Aku, ingin sarapan roti panggang dengan selai nuttela," Luhan tersenyum ketika Sehun benar-benar membuktikan omongannya. Lelaki itu mengambil dua roti gandum yang sudah di panggang sebelumnya, juga mengolesi roti itu dengan selai nuttela kesukaan Luhan, "Dan, segelas susu strawberry hangat" tambah Luhan lagi dan Sehun memberikan semua keinginannya itu.
"Ini, Sayangku."
"Terimakasih, Sehun-ah."
Sehun mengangguk, Ia bangkit dari kursi dan merapikan kemeja formalnya. Lelaki itu juga mengenakan jam tangan rolex berwarna metallic yang mewah di lengan kirinya yang kekar berurat tegas. Kemudian, Ia menyampirkan jas hitamnya untuk menyempurnakan penampilan tampan dan maskulinnya sebagai seorang petinggi perusahaan besar.
Luhan yang sudah menghabiskan rotinya perlahan ikut berdiri tepat di hadapan Sehun. Dahinya mengkerut samar ketika melihat ada sesuatu yang kurang sempurna dari penampilan gagah kakaknya ini.
"Tunggu, Sehun." Luhan berjalan satu langkah lebih dekat dengan Sehun. Menjadikan jarak di antara mereka semakin tipis, hingga aroma mawar menggodanya semakin membuat Sehun tak karuan menahan debaran yang tiba-tiba menjadikan tubuhnya terasa berdesir panas.
"Kau seharusnya menyimpulnya seperti ini agar terlihat senantiasa rapi, Sehun." Luhan menggunakan jemari lentiknya untuk menyimpul ulang simpulan dasi yang Sehun kenakan. Mata Sehun tak teralih pada apa yang Luhan kerjakan, melainkan hanya terfokus pada wajah cantiknya yang di hiasi senyuman manis, satu hal yang membuat Sehun seolah begitu tersihir adalah bibir ranum Luhan. Ia membayangkan bagaimana rasa manis yang di ciptakan jika Ia mencium bibir mungil itu. Bagaimana kenyal dan candunya jika Ia mengulum bibir itu dengan bibirnya.
Tanpa sadar Sehun hampir memiringkan kepalanya dan mengikis jarak semakin dekat untuk mencium Luhan jika saja wanita itu tidak memanggilnya dan mengembalikannya pada kenyataan.
"Sehun?."
"Iya?." Tanya Sehun masih setengah sadar, Ia menggeleng kepalanya dengan cepat demi menghalau perasaan aneh yang membuatnya pusing pagi ini.
Sehun menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan, mencium kilat dahi Luhan kemudian berpamitan padanya, "Aku pergi dulu, Luhan. Jika kau ingin keluar rumah, biarkanlah supir mengantarmu dan pakailah mantel hangat. Jangan lupa hubungi aku jika terjadi sesuatu." Katanya dengan hanya menatap Luhan sekilas dan mengusak puncuk kepalanya.
Luhan mengangguk mengerti dan mengiring di belakang Sehun sampai ke pintu utama, "Hati-hati di jalan, Sehun-ah." Katanya sambil melambaikan tangannya dengan setengah hati.
Mobil Sehun perlahan menjauh. Menciptakan sensasi menyedihkan yang kembali memenuhi rongga hatinya, yang Luhan sebut dengan kata hampa. Sejujurnya Luhan tidak suka sendiri, walau saat kecil Ia tahu betul jika dirinya pernah berada dalam dunianya sendiri ketika trauma kecelakaan orangtuanya membuat Ia di rawat di panti asuhan.
Tidak, Luhan sangat bahagia bisa menjadi bagian dari anak-anak disana dulu. Hanya saja, semenjak dirinya di angkat menjadi seorang anak di keluaga Oh, membuat Luhan yang sangat haus dengan kasih sayang akhirnya mendapatkan kembali apa yang Ia inginkan. Ia sudah di penuhi dengan cinta sejak kecil dari orangtuanya, dan kehangatan yang Ia dapatkan dari keluarga Oh sama halnya dengan yang di berikan orangtuanya dahulu.
Oleh karena itu, Luhan cukup merasa menyesal telah beranjak dewasa. Sehun yang dulu selalu ada untuknya perlahan membatasi waktu di antara mereka. Luhan bahkan pernah berpisah setahun penuh dengan lelaki itu ketika Ia harus benar-benar menyelesaikan kuliahnya di jepang. Dan, sekarang lelaki itu sudah sangat tak punya waktu apapun untuknya. Sejak Ia menggantikan sang Ayah untuk menjadi penerus utama petinggi perusahaan keluarga Oh.
Luhan mendesah, Ia kembali masuk ke dalam dengan langkah malas dan wajah yang murung. Luhan masuk ke dalam kamarnya hanya untuk membuka lemari, dan mengambil salah satu coat tebal miliknya yang berwarna mocca. Menyampirkan coat itu untuk menyelimuti tubuhnya, dan kembali turun kemudian menghampiri supir pribadinya.
"Paman Jang, tolong antarkan aku ke tempat biasa. Café milik Kyungsoo."
.
.
Crestfallen
.
.
Banyak hal sederhana yang sesungguhnya bisa menjadi satu alasan Luhan untuk terus melabuhkan senyumnya yang cantik. Ia hanya perlu memandang ke arah jalanan dari balik kaca etalase di café milik Kyungsoo. Untuk sekedar mengisi waktu menunggunya dengan memandangi berbagai hal di luar sana.
Luhan memperhatikan dengan senyuman kecil. Orang-orang yang berlalu lalang memperlihatkan jelas wajah ceria mereka untuk menyambut musim dingin yang sebentar lagi tiba. Beberapa pasangan yang lewat menarik perhatian Luhan lebih jauh hingga ke dalam hatinya, selama ini Ia bahkan belum ingin mengenal jauh satu lelaki manapun selain kakak laki-lakinya Oh Sehun.
Bukan Luhan menutup hati, hanya saja belum ada satu pun lelaki yang bisa membuatnya bergetar dan berdebar tak karuan seperti apa yang biasanya Sehun efekkan kepadanya.
Luhan, jauh dari lubuk hatinya Ia ingin mencoba untuk berkencan. Mungkin menyenangkan pikirnya, jika ada seseorang yang benar-benar mencintainya dan tulus memperhatikannya. Selalu meluangkan waktu untuknya, dan yang terpenting lelaki itu juga teramat Ia cintai.
Bukankah Ia hanya perlu menunggu waktu? Untuk menunggu sosok yang bisa membuatnya jatuh cinta? Mungkin sebenarnya Luhan sudah pernah jatuh cinta sebelumnya, tapi tak masuk akal jika di pikir alasan Ia jatuh cinta adalah Oh Sehun.
Luhan tersenyum getir dan membuang nafas. Benar, pasti perasaannya selama ini hanya sekedar rasa kagumnya yang berlebihan. Bukan cinta namanya jika sosok yang Ia inginkan itu dari keluarganya sendiri.
"Maaf sudah membuatmu lama menunggu, Hannie. Aku ada sedikit urusan tadi." Kyungsoo duduk di kursi yang berada di hadapan Luhan, meletakkan pesanan Luhan seperti biasanya.
Mochaccino hangat dan sepotong cake strawberry.
Luhan tersenyum curiga, dan meremas tangan Kyungsoo pelan yang berada di atas meja.
"Urusan apa sampai membuatku harus menunggu hampir setengah jam? Apa kau sedang merahasiakan hubungan spesial dariku, Kyung?"
Kyungsoo menggeleng, Ia hanya menatap Luhan dengan penuh arti.
"Tidak ada. Aku hanya ingin memperkenalkan seseorang dalam pertemuan kita kali ini," Kyungsoo bisa melihat Luhan yang mulai terjekut, "Bukan siapa-siapa! Jangan berspekulasi sendiri, Luhan. Dia temanku, seorang dokter, dan tampan." Cecar Kyungsoo ketika Luhan siap menyela dengan segudang pertanyaannya.
"Apalagi jika bukan seorang yang spesial? Kau bahkan memujinya tampan. Katakan saja padaku, Kyung. Dia pacarmu kan?." Goda Luhan dengan mengerling matanya nakal.
"Berhenti, Luhan. Dia hanya temanku. Dan, sebenarnya dirimu lah yang ingin ku kenalkan padanya." Kyungsoo berujar gemas karena Luhan seolah mendesaknya untuk berkata jujur.
"Aku? Kenapa?" Tanya Luhan terkejut.
TING!
Kyungsoo langsung mengalihkan pandangannya menuju pintu café yang baru saja terbuka tanpa menjawab pertanyaan Luhan lebih dulu. Bibirnya yang berbentuk hati tersenyum dengan penuh arti, Ia kembali menatap Luhan lekat-lekat dan meremas tangan sahabatnya itu.
"Dia datang, Luhan!"
"Siapa?" Tanya Luhan semakin bingung.
"Temanku."
Kyungsoo melambaikan tangannya dengan ceria, senyumnya terukir dengan begitu cantik hingga menarik perhatian Luhan untuk ikut menolehkan pandangannya. Dari beberapa langkah di depan, Luhan bisa melihat sosok jangkung berjalan ke arah meja mereka.
Bukan, bukan hanya satu, melainkan dua orang.
Jika Luhan mengerutkan dahinya untuk sosok dua lelaki yang sama sekali tak Ia kenal, lain pula dengan Kyungsoo yang juga mengerutkan dahinya bingung untuk satu sosok laki-laki lain yang berjalan paling belakang.
"Hai, Kyungsoo. Lama tidak bertemu."
Kyungsoo berdiri, menyambut uluran hangat salam persahabatan itu dengan senyum penuh. Dan memeluk lelaki itu sekilas.
"Chanyeol, akhirnya kau datang. Dan, kau tak sendiri? Siapa dia?" Kyungsoo bertanya spontan, melirik sekilas lelaki yang berdiri tegap di samping Chanyeol. Tepatnya berhadapan langsung dengan Kyungsoo.
Lelaki itu memiliki postur tubuh yang tinggi, walau Chanyeol sedikit lebih tinggi darinya. Ia memiliki bahu dan dada yang terlihat bidang, rambutnya tertata rapi ke belakang dengan warna hitam yang elegan. Kulitnya berwarna putih kecoklatan, atau bisa disebut dengan tan. Ia juga memiliki bibir seksi dan tatapan tajam menusuk yang melirik Kyungsoo penuh dengan arti yang tak bisa di mengerti secara langsung.
"Ah, ini sahabat ku. Namanya, Kim Jongin. Dia seorang wakil direktur di perusahaan ternama milik Ayahnya" Jelas Chanyeol.
"Kim Jongin, panggil saja aku Jongin atau orang biasa memanggilku dengan Kai. Sejenis panggilan akrab," Kai mengulurkan tangannya gantle dan Kyungsoo langsung menyambut hangat uluran tangan besar itu.
Kyungsoo tersenyum, "Do Kyungsoo, panggil saja Kyungsoo. Aku pemilik café disini." Balas Kyungsoo ramah.
Menarik –pikir Kai dengan smirk yang tersembunyi di balik senyumnya.
Luhan sejak awal hanya memperhatikan dalam diam. Ia memandang dua lelaki di hadapannya itu dengan tatapan hangat seperti biasanya, walau kebingungan lebih mendominasi pikirannya. Jika Luhan boleh menilai, ternyata teman lelaki Kyungsoo tidak cukup buruk. Mereka berdua sama-sama memiliki paras tampan rupawan, walau yang bernama Kai itu memiliki kulit sedikit kecoklatan.
"Kau, Luhan? Benar?"
Luhan tersenyum, kemudian mengangguk.
"Ah, sampai lupa! Chanyeol-ah, ini sahabatku yang selalu aku bicarakan lewat telepon. Dia, Luhan." Kyungsoo merangkul punggung tangan Luhan sembari memperkenalkannya dengan bangga, "Dia sangat cantik kan?."
"Kyungsoo!" Luhan menepuk bahu Kyungsoo pelan dengan pipi yang merona tipis. Membuat si jahil itu hanya tertawa geli.
"Iya, Kyungsoo benar Luhan, kau sangat cantik." Tambah Chanyeol yang melayangkan pujian menebarkan untuk Luhan. Membuat pipinya semakin memanas dan tingkahnya yang menjadi gugup.
"Namaku Park Chanyeol. Kau bisa memanggilku Chanyeol." Ia mengulurkan tangannya.
"Aku, Luhan." Luhan hanya bisa menjawab sekenanya saja karena rasa kikuk yang membuatnya jadi sulit untuk berbicara. Ia menerima uluran tangan Chanyeol.
Tangannya hangat, dan genggamannya terasa pas.
Chanyeol juga merasakan hal yang sama seperti apa yang Luhan rasakan. Gadis ini bahkan memiliki kulit yang sangat halus dan lembut. Membuat Chanyeol tidak sadar dengan sedikit meremasnya.
"Ini, aku membawa sedikit hadiah untukmu. Semoga kau menyukainya." Chanyeol memberikannya sebuket bunga dan satu kado rahasia yang di bungkus dalam box sedang. Box itu memiliki warna putih tulang dengan lilitan pita merah muda yang manis di atasnya.
"Untukku?." Tanya Luhan terkejut, Ia menerima setengah ragu hadiah pemberian Chanyeol.
Chanyeol mengangguk, Ia bisa melihat mata cantiknya itu terkejut. Hatinya tiba-tiba merasa bangga telah memberikan apa yang gadis itu sukai. Luhan menerimanya dengan senyuman manis yang mana membuat Chanyeol merasa tersihir. Desiran aneh merambat cepat di tubuhnya, menjadikan kehangatan mendominasi jiwanya yang kesepian.
Luhan bukan hanya sekedar cantik seperti apa yang Kyungsoo katakan padanya. Dia bahkan lebih dari itu. Sesuatu yang teramat spesial menggambarkan jelas kepribadiannya. Dan, sekarang Chanyeol percaya apa yang Kyungsoo katakan sebelumnya di perbincangan mereka lewat telepon beberapa hari silam.
Maka, tidak ada yang tidak akan jatuh cinta pada Luhan bahkan sejak di pertemuan pertama. Dan, Mungkin Chanyeol bisa bilang bahwa Ia adalah salah satunya.
'Luhan, kurasa aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi' -batinnya berkata demikian.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Countinue
..
..
15 Maret 2018
A/N :
Alhamdulillah, bisa di update. Setelah hampir satu tahun ini story gak di lanjutin maaf ya buat yang udah nunggu dari lama banget. Alasan utama yang membuat aku gak bisa lanjutkan FF ini dulunya adalah karena konfliknya yang belum benar-benar klimaks. Aku sampai memikirkan hal itu berbulan-bulan, dan akhirnya aku mencoba buat lanjut lagi dengan konflik yang Insyaallah lebih berbobot(?) ehehehe.
Gak usah nebak-nebak dulu Angstnya entar dimana, yang penting baca dulu habis itu jangan lupa review ya cantik. Kalo suka, Favorit dan Follow juga! /kedipmatagenit.
Ada Chanyeol, Luhan, dan Sehun. Ada Kyungsoo dan Kai. Duh, kira-kira mereka mau ngapain ya? Main petak-umpet bareng kali sampai END /recehTT
See you next time :*
Big Love, Thanks.
